UEC Tokyo


Delft, Thursday 21 January 2009.

AA The naked man in library. wooooo. This exam starts making person insane
Gw jadi inget tadi di YM, Marinda tiba2 ngomong soal orang stress lari2 bugil di perpus. Hahaha musim ujian udah memakan korban rupanya, setuju banget sama statusnya Andika.
Di YM:
Marinda: barusan ada org bugil lari2 di perpus
Marinda: hahaha
el01173: Co or ce?
Marinda: cowo
Marinda: hehehe
el01173: dapet pemandangan gratis dong hehehe
Marinda: hahahaha
Marinda: sayangnya gw lg ga pk kacamata
Marinda: hahahaha

Dari status teman yg lain, Rian,
AB ada cowo victory run di library TUD NAKED + topi santa + superman cape!!
yang direply (teman2 cewek):
MAP cowo stress kebanyakan belajar yan.. sayang si @ heidi ga liat
AS hahahah, ga direkam mad? di leiden uni ada ga ya 😀
MAP ga siap2 td nil.. peristiwanya terjadi begitu cepat… dan kita pun terperangah… sibuk nepokin… :p

Abis chatting sama dia + ngeliat status temen2, baru nyadar, masa-masa exam bisa membawa efek samping yang “ngenes” juga ya hahaha. Jadi inget jg pernah ngeliat orang tiba2 teriak “SHUT UP” di tengah2 library, abis itu dia kembali ke bukunya lagi, seolah2 nggak ada apa2.
Latest update: tersangka melakukan hal ini karena taruhan EUR 500 sama temennya. Menurut teman, udah ada bocoran akan ada kejadian ini di perpus. Tersangka terlihat masuk kamar mandi, ganti baju (atau ganti kostum)?, abis itu lari2 di lantai dasar, naik ke lantai 1, pose2 bentar (gile difoto) di rak2 buku……. benar2 refreshing buat anak2 yg berada di exam week……

Jadi inget beberapa kejadian yg ada hubungannya antara stress dan kuliah. Di Belanda, dosen saya, G, pernah mengalami mentally breakdown ketika di Erasmus University, isunya gitu sih, makanya dia dikeluarin. Pantesan aja orangnya aneh (menurut kami), tadi pas makan malem sama temen2 di centrum ngobrolin soal dia. Kebetulan kami semua (kecuali Ilias) dapet bimbingan pre-thesis sama mahluk langka ini. Dodol, kenapa TU Delft nerima mahluk kaya dia ya?
Pas di Jepang, saya masih ingat, sebulan setelah saya datang, seorang wanita paruh baya lompat dari P-Building, gedung paling tinggi di kampus UEC Tokyo. Sempet masuk berita di TV dan koran2 Tokyo.
Sebulan sebelum saya datang ada orang bunuh diri dari bangunan yg sama. Isyunya karena mahasiswa yg bersangkutan dimarahi professornya. Gila bener sampe terjun bebas. Makanya anak2 JUSST me-refer tempat tsb sebagai suicide building.

Email achieve dari Beer:

Subject: Hey from Suicide floor
Sent: Wednesday, October 11, 2006 6:30 AM
Hey!

There is someone suicide again from the same place 10th floor in front of Elevator. It happened this morning. 55 years old woman jump from the 10th floor at 5.40AM. Unfortunately there was 20 years old girl(Uni student) walk downstair. She was attacked. I just know now cuz Nim sent it to me. And I’m in my lab now. It’s so scare for me to go back cuz I’ve to use that Elevator. I wonder how can I go back.
Busyet deh, kejadian2 kaya gini ada aja. Udah gitu kejadian kaya David di Singapore. Tampaknya mesti ada balance antara studi dan personal life, contohnya dengan jalan2 hahaha…..

Ngeliat status facebook temen:

Ketika membaca lirik lagu ini di salah satu profile teman saya di FB, teringat kembali ketika lagu ini dijadikan salah satu sarana belajar bahasa Jepang dulu. Ngedengerin lagu, ditulis (hiragana+kanji), diulang berkali2. Penyanyinya SMAP, salah satu boyband paling terkenal di Jepang.

Hasilnya, sampai skrg masih inget liriknya =). Lagu ini juga punya kenangan tersendiri dan salah satu lagu favorit saya.

***

Sekai ni hitotsu dake no hana
(One unique flower in the world)

I looked into flowers standing on the shop.
We all have our favorites,
but one thing for sure,
they are all beautiful
Without fighting to each other which one is the most beautiful,
they are standing proud in the buckets.

But, why we human always like to compare?
Why do we always wanting to be the no.1
even we are different?
We all are unique flowers
with different seeds of each.
We just need to do our best to bloom it.

Small flowers, big flowers
We’ll never find the same
Don’t have to be no.1
’Coz you are the only one.

From: R
To: N
Sent: Friday, July 31, 2009 0:12:48
Subject: Re: Hello Ronald!!

Hi ….

When I open email…. there is one from you… .haha what a nice surprise =)….. it is good to hear news from you ….. also it always good to back to home (mexico in your case hehe)…..

Currently I am in Spain, attending Summer University…. studying…. haha joking…. I attend Traveling Summer University, no study at all, just traveling :p….

I went to travel with Dmitri on 5th – 17th July in Finland and Norway, Road trip and camping…. after that I go to spain…..

I will finished my trip on 16 Aug 2009, 45 days in total… probably the longest trip I have ever made (last one was thailand trip, about 22 days), now I am on day 29 in Tarragona, tomorrow I will go to Barcelona……

my email <******@students.ee.itb.ac.id> is already inactive. anyway, do you have facebook? if yes, add me in ***** 😉

what a long email from me hehe…..

Have a nice day

R

Minggu pagi ini, sambil ngantuk-ngantuk saya melihat inbox saya di
Yahoo, ada satu email dari M (nama disamarkan karena email dia isinya
sensitif). Dia ditodong senapan(gun point) sama tentara Korut yang
memaksa dia dan teman dia, inisial C, untuk memanjat pagar ke Korut.

Saya
terakhir kontak dengan M bulan lalu. Terus terang saja saya pagi ini
kaget terima email dia (ke saya dan teman-teman yang lain) dan cerita
bahwa dia baru aja trip dari China dan sempat diinterogasi (questioned)
selama lima jam oleh tentara Korut. Kok iso?

/*mencoba translate dari Inggris ke Indonesia isi email dia*/

Ceritanya
mereka berdua lagi liburan ke daerah perbatasan di China, dari daerah
perbatasan ini ke Korut hanya dipisahkan dengan sebuah sungai yang
merupakan batas alam antara China dan Korut. Berhubung tampaknya disana
masih musim dingin, mereka main-main di atas sungai yang sedang membeku
ini (frozen river) dan M yang melihat di seberang sungai tampak damai,
memutuskan untuk ke tempat itu.

Entah lagi dimana rasio
mereka, mereka ke bagian lain dari sungai tersebut. Mereka melihat
pagar, dan sebuah pondok (bener ga ya terjemahan Hut =  Pondok) yang
tampaknya tak berpenghuni. Ketika mereka memutuskan balik ke sungai
beku itu, tiba-tiba C teriak “ada yang manjat pagar”. Ternyata dari
pondok tersebut keluar seorang perwira (officer) yang kemudian memanjat
pagar lalu berjalan ke arah mereka.

Kelanjutannya, sudah ada
tiga tentara dengan senapannya yang mengambil (grab) mereka dan memaksa
mereka memanjat pagar. M dan C ini rupanya tidak mau memanjat pagar,
dan sempat terjadi adu mulut antara mereka dan tentara itu sampai
akhirnya tiga tentara berteriak-teriak dan menodongkan senjata ke arah
mereka berdua. Terus terang saya berminat melihat bagaimana adu mulut
ini karena M ini terkenal sebagai wanita yang galak (dan ceria).

Dibawah
todongan senjata, terpaksa mereka memanjat pagar dan berakhir selama
lima jam ditanya-tanya sama tentara Korut itu. Pertanyaan tentang
keluarga dan mengecek mereka bukan mata-mata. (M ini warga negara salah
satu musuhnya Korut, kewarganegaraan C saya tak tahu, tampaknya sama
seperti M). Kata M tentara-tentara ini sangat curious tentang mereka
dan mereka diperlakukan dengan baik. Untungnya mereka diperbolehkan
memanjat pagar lagi ke arah China dan M sekarang sudah di Korsel.

/*selesai menerjemahkan*/
Disclaimer: saya menganggap email dia beneran.

Setelah
baca email M, saya yang setengah tidak percaya langsung comment di
Facebook dia yang profile picturenya udah diganti foto dia sama
presiden Korut (hasil Photoshop), comment di foto tersebut yang dalam
bahasa Indonesia kira-kira “Istri Presiden Korut yang berikutnya
ahahahaha”. Dia (dan cowoknya ketika itu) termasuk teman dekat saya
ketika kami kuliah di negeri sakura dan dia termasuk orang yang suka
saya becandain (and/or godain).

Tak lama kemudian dia emai
dengan judul “Not Fun”. Isinya, dia tidak merekomendasikan hal ini
untuk orang lain. Dia bahagia masih hidup. Dia menulis email ini untuk
memperingatkan orang lain untuk tidak bertindak gila seperti dia.

Saya
yang awalnya mengira dia bercanda, langsung berpikir “omg, this is
real”. Langsung online di MSN (yang biasanya sangat jarang saya buka)
buat chatting sama M. Langsung saya hapus comment di FB, gara-gara dia
tampaknya agak bete.

Sepanjang chatting dia bilang, sangat
beruntung bisa keluar dari Korut. Nasib mereka bisa saja berbeda, dan
mungkin menjadi kasus orang hilang.

Kami berdua yang pernah
bareng-bareng menuntut ilmu di Jepang mahfum separah apa Korut itu. Di
Jepang, Korut merupakan negara yang ditakuti karena Presidennya yang
sakit jiwa, dan mereka punya nuklir. Ditambah lagi adanya warga Jepang
yang diculik agen-agen rahasia Korea Utara di tahun 1970-an dan
1980-an. Selain itu ketika kami disana, Korut sempat menguji rudal Tae
Po Dong yang jatuh di teritori Jepang. Dengan kata lain, kalau setan
punya negara, mereka pasti berdiam di Korut. Tak heran Bush sampai
menjuluki Korut sebagai salah satu anggota “axis of evil”.

Saya
sendiri hanya pernah melihat Korut dari daerah perbatasan Korsel. Dari
daerah yang beken dikenal sebagai DMZ, saya bisa melihat pegunungan di
Korut. Sebatas itu, hanya melihat. Tapi saya salut sama orang Korsel,
bisa bikin De-Militerized Zone mereka jadi atraksi wisata. Padahal kan
bahaya, kalo pecah perang (mereka sampai saat ini secara de jure
statusnya masih perang, meskipun secara de facto tidak ada perang
beneran)

Disini pula saya pernah buat foto yang sempet bikin
heboh teman-teman. Unifikasi korea merupakan hal yang sangat
di-idam-idamkan Korsel, sehingga di daerah perbatasan (Dora-san
Station), mereka bahkan bikin peron yang tulisannya “To Pyongyang”.
Saya foto di bawah plang ini dan mengirimkan ke teman saya, Beer, yang
dengan bocornya menganggap saya ke Korea Utara. Walhasil waktu itu ada
kehebohan di kalangan teman-teman saya.

Pas di DMZ ini banyak
banget produk-produk Korut, dan saya beli satu botol Soju (semacam
sake-nya Korea), made in North Korea. Soju ini pula yang saya berikan
buat sensei saya dan ketika melihat Soju ini dibuat dimana kaget
beneran. Tampaknya beliau mikir liburan musim panas itu saya beneran ke
Korut, padahal bukan hehehe :).

Balik ke M, yang masih
emosional, saya bilang, tak tahu kamu itu beruntung atau irasional.
Tapi yang jelas, kamu beruntung bisa kembali ke China dengan selamat
dari Korut, dan kamu tahu tidak, sangat sulit mendapatkan visa ke
Korut, dan u masuk tanpa visa.

Soal susahnya visa ke Korut ini
saya ketahui dari salah satu roommate saya ketika menginap di sebuah
Youth Hostel di Beijing. Dia orang Jepang dan berhubung dia punya
tujuan yang eksotis, Pyongyang, (eksotis bagi saya dan Arqui), saya
minta dia menceritakan perjuangan dia mendapatkan visa ke Korut.

Visa
ke Korut ini katanya gampang-gampang susah dapatnya, tergantung mood
pemerintah Korut. Sudah gitu, visa ini tak akan ditempelkan di paspor
anda. Apply visa, lalu paspor ditahan, dan diganti selembar surat masuk
ke Korut. Sudah gitu, harus ikutan travel biro yang disetujui
pemerintah Korut plus tidak boleh foto-foto sembarangan, hanya boleh di
tempat-tempat yang ditentukan. Paranoid banget orang-orang Korut ini.
Begitu balik ke perbatasan China, kertas diambil, paspor dikembalikan,
sama sekali tak ada bukti di paspor anda bahwa anda pernah ke Korut,
demikian penjelasan backpacker Jepang ini.

Soal Korut ini,
saya pernah diajak Arqui, teman Mexico saya yang benar-benar petualang,
untuk traveling kesitu. Berhubung Arqui saat itu lagi mabok, saya
mengiyakan ajakan dia, sambil berpikir, gila aja, nanti aja kalau udah
unifikasi ke Korut. Saya masih sayang nyawa. Tempat berikut yang dia
propose adalah Tibet, yang ini saya setuju, meskipun akhirnya liburan
summer itu tidak jadi kesana dan ends up backpacking di Thailand bareng
anak2 JUSST, termasuk M ini.

Terus terang, saya benar-benar
grateful, teman saya ini kembali dengan selamat. Saya tidak tahu apakah
ini akan jadi insiden diplomatik atau tidak, secara dia ini warga
negara musuhnya korea utara.

Saya kadang-kadang berpikir,
teman-teman saya ini pengalamannya yang langka-langka. Satu teman saya
yang lain, F, bahkan pernah ke Timor Timur secara ilegal, meskipun cuma
sehari. Seperti biasa, daerah perbatasan.

Summer 2005, tante
saya yang tinggal di Ceko, ketika tahu saya gagal mendapatkan visa Ceko
(waktu itu Ceko masih belum bagian Schengen), bilang “tante tahu rute
yang tidak dijaga dari Jerman. Rencananya waktu itu saya ke Dresden
(yang hanya 1 jam dari perbatasan Jerman – Ceko, dijemput mereka, dan
jalan-jalan ke Ceko sebelum balik ke Indonesia. Artinya, masuk ke Ceko
secara ilegal (tanpa visa).

Hahaha, saya termasuk orang yang
sesuai prosedur dan rasional. Kan tidak lucu kalo sampe di deportasi
(hampir kejadian sama saya di Korsel). Lucunya, semuanya ini wanita,
apakah wanita irasional? Peace kaum wanita :).

Di changi tempat buat tidur di bandara namanya “TheViewing Mall”. Menurut temen2 gw yg udah nyari best spot buat tidur gratis di bandara, tempat ini yg
paling bagus. (Gw sih percaya aja). Fotonya gw attach biar u dapat gambaran. Btw di foto itu temen gw yg anak Thai dan Bulgaria (ga penting :p).

Oh ya, itu harus keluar dari imigrasi lho. Itu masih di lingkungan bandara kok.

Tips buat elu, nanti abis keluar dari imigrasi ke tourist office, ambil peta singapore gratisan yg gede buat alas tidur elu (kita2 make cara ini sih).
Coba liat difoto alas tidur kita apaan?? Itu peta gratisan singapore.

Saran gw mendingan elu tidur di youth hostel/ hotel aja, search aja di google, pasti dapet kok yg budget-friendly. Atau nginep di tempat Tata SI02. Kalo elu kenal, 1 hari doang kok.

Soal kalo transit perlu bayar airport tax lagi or enggak, mendingan elu tanya ke yg ngasih elu tiket, udah include airport tax kaga? Case study pas gw ke jerman pake emirates, gw cuman bayar airport tax di cengkareng doang. Ada 3 transit:

1. singapore (yg mesti keluar pesawat cuman 30 menit) kaga perlu bayar.
2. kolombo (tdk keluar pesawat, ga bayar juga)
3. Dubai (keluar pesawat – ganti pesawat ke pesawat lain) ga perlu bayar, nunggu pesawat sekitar 5 jam-an

Pas ke Jepang, direct flight, bayar airport tax 100.000 cuman di cengkareng doang

Pas ke Indo, bulan juni pake korean airlines, gw di seoul ga perlu bayar airport tax pas ganti pesawat.

Kayanya yg gw mesti bayar airport tax lagi pas gw lagi liburan ke thailand deh, itu di kuala lumpur gara2 gw ganti pesawat. (udah lupa berapa tuh).

Mr Budi’s file, gw ga simpen kayanya…. coba2 aja browse si website budi.insan.co.id, mungkin nyelip kali
Berikut ini adalah detail yg ga penting tentang mexico
 
U bakalan di mexico nih ceritanya? Pas di Jepang temen2 gw ada yg dari
Mexico, dan mereka latino’s gitu lah… Tapi jangan bandingin kaya di
telenovela, tapi secara average mereka good looking sih (baik yg cewek
dan cowok).
 
Tentang bahasa spanyol, ini kalimat2 yg penting
 
te amo – I love you
hola – halo
buenoz diaz – good morning
gracias – thanks
cierra laboca -> shut up -> well, temen gw ngajarin kata2 kasar juga sih :p
tequila – semacam vodka gitu hal
besame mucho – kiss me a lot (gw punya pengalaman “buruk” gara2 nanya kata ini 😦 )
 
Sekarang beralih kemasalah pronounciation
Hugo – Dibaca Ugo (h-nya
hilang)
Alejandro – dibaca alehandro
mexico itu dipronouncednya mehico (Buat lidah kita)
tortilla – makanan gitu deh (pronounced tortiya)
(nama seseorang)+ta = jadi panggilan sayang (biasa buat anak sih)
temen gw nayeli+ta jadi nayelita, nah dijepang malah digosipin gara2 nayeli dan ta(thai) sangat dekat
 
Kultur mereka agak beda dibanding kita. Orang mexico udah biasa sama
“peluk cium” pas baru ketemu, jadi buat kita orang Asia agak beda. Gini
lah, temen gw yg namanya RMN, (setting cerita lagi lihat fireworks/hanabi) lagi
mau difoto, eh dia gendong seorang cewek dengan tiba2, gw juga kaget.
Tu cewek bete-nya setengah mati (bukan pacar, hanya temen biasa).
 
Satu lagi kejadian kocak (angkatan setahun sebelum gw di UEC). Ada anak
Indo ketakutan gitu dikejar2 cowok mexico. Sampe ngumpet di kamar anak
Indo yg satu lagi – yg ini co  (sambil minta kalo Mr. A nyari
bilang gw nggak ada disini). Si cowok bawa bunga gitu sambil menyatakan cintanya. Well the
latest news is mereka akan merit tahun ini/tahun dpn. 
 
Orang2 di Mexico itu suka minum, terutama yg namanya tequila. Kalo
diajak minum (dan biasanya pasti), pandai2lah latihan mengatakan “tidak”.
Gw
sering banget menolak ajakan minum2. Mereka suka banget minum sampai
mabuk, dan melihat orang mabuk itu adalah suatu pengalaman yg lucu.
Berikut ini contohnya:
 
Mr. A yg ngejar ce
Indo ini, pernah mabok berat, dan melakukan hal2 yg aneh2 seperti
menggigit panggangan tempat barbeque, berguling2 di rumput, nyanyi2
nggak jelas, curhat tentang Ms. P (ce dia – orang indo), abis itu
ngajak gua ke North korea atau tibet. Berhubung dia mabok, gw iyakan
aja…. 😀
 
Tp hati2 juga sama orang mabuk. Pas di summerschool Jerman, temen gw –
D
(cewek Indo-nama samaran) – entah gimana bisa nemenin minum 2 cowok
jerman (nemenin doang sih di common room di dormitory kita). Malem2
lagi. Pas pertama gw liat, 2 cowok jerman itu mukanya udah merah,
tangannya mulai grepe2 paha temen gw. Rupanya dia udah “terjebak” di
common room itu dan dia nggak bisa cari cara buat balik ke kamar dia,
takut2 kalo dia bilang mau keluar, tu 2 cowok marah (orang mabok).
Makanya dia merasa terselamatkan banget pas gw ke common room (padahal
gw waktu itu hanya mau ambil minuman ke kulkas)
 
Tempat wisata di Mexico : penting nih, mereka punya semacam pyramid yg
kaya di Mesir. Itu mungkin kaya Borobudur di Indonesia kali ya. Lalu
ada daerah Cancun (They said that it is the best beach in Mexico).
 
Selamat bekerja di Schlumberger,
***

ronal pa kabar? gini, gw dapat profesor namanya aoyama. gw bisa
tau bidangnya dia gmn ya? gw kan pengen cari dosen pembimbing TA di
sini. jadi biar topiknya bisa cocok. barusan ngobrol ama pak Hilwadi.
katanya bagusan cari tau dulu topik yang mau dibahas. gitu….

makasih..

***
From: RAI
To: WS
Sent: Wednesday, September 20, 2006 12:44:11
Subject: Re: ttg profesor

Hi
Aoyama
itu bidangnya Micro Robot sama Nano Robotics. Nah yang nano robotics
ini lebih deket ke biomedical engineering. Micro robot itu kaga ada
yang deket sama bidang kita di elektro, malah lebih deket ke mechanical
engineering gua bilang.
Btw sama professor Aoyama kayanya u tidak boleh bawa topik TA elu ke luar deh.
See u

***
ga
boleh bawa topik TA keluar? hah?? gmn dong?? gw at least mau TA 1 di
sana… biar pas gw balik ke sini lagi, gw tinggal perlu satu semester
lagi buat lulus. jadi gw bakal research ga di sana?

***

From: RAI
To: WS
Sent: Thursday, September 21, 2006 14:39:11
Subject: Re: ttg profesor

Hi
Gua
waktu itu juga mau bawa TA keluar, tapi kaga dibolehin sama sensei.
Dibilang, “You cannot continue whatever you’ve done here in Indonesia”.
Waktu itu gua bilang.
Lu bisa satu semester
lagi lulus setelah balik dari jepang, dengan catatan semua mata kuliah
WAJIB di semester 8 udah u ambil. Waktu itu kejadian temen gua cuman
kurang mata kuliah Kapita Selekta Kendali, dia udah ambil Robotika dan
Instrumentasi Sistem Kendali (mata kuliah wajib di Kendali semester 8).
Jadi mau enggak mau dia ambil mata kuliah kapita selekta di semester 8
dan menunda kelulusan cuman gara2 satu mata kuliah wajib.
Kalo
boleh tahu, jalur pilihan elu apa? Gua nebaknya kendali. Kasih tau
lewat email aja mata kuliah semester 8 apa aja yang udah u ambil.
Take Care
Ronald

***

yah….
gw kendali. robotika ma isk udah
gw ambil. yang jadi kendala sekarang ya kapita selekta itu. ga bisa
diambil di sana ya? satu lagi, gw harus TA 1 di sana biar bisa 1
semester lagi.. jadi pas gw balik tinggal TA 2. bisa ga TA 1 di sana?
jadi gmn nih mnurut lo biar gw bisa satu semester lagi aja?

thanks yah….

***

From: RAI
To: WS
Sent: Saturday, September 23, 2006 5:12:36
Subject: Aoyama Sensei

Hi
Gua
saranin u tanya dosen kapita selekta untuk kendali buat semester 8.
Bagusan u ikut cara Desiree EL01 aja. Ambil kuliah jarak jauh buat
kapita selekta. Kejadian saat itu Desiree semester 8 di Jepang, tapi
kuliah kapita selekta ia melalui internet. Tapi Desiree itu Teknik
Biomedika, nah elu Teknik Kendali. Tapi u harus kontak dosen kapita
selekta kendali, jelasin malasah elu bagaimana kalau u kaga ambil
kuliah jarak jauh kapita selekta u bisa ketunda kelulusannya.
Satu
lagi yang mesti elu inget, di Prof. Aoyama seinget gua pernah ngomong
kaga boleh melanjutkan riset elu di jepang ke Indonesia. Satu lagi,
meskipun dia bilang boleh, u kaga bisa melanjutkan karena alat2 riset
di lab Aoyama sensei kaga ada di Indonesia.
Soal
TA1, u bisa kaya Toman EL00 (JUSST Fall 2003). Dia kasusnya sama juga
kaya elu, kalo nggak salah mata kuliah disini “Independent Research
Project for Undergraduate Students I dan II” bisa diekuivalenkan ke TA1
oleh Toman. Tapi buat lebih jelasnya u mesti tanya Pak Eniman. Beliau
lebih mengetahui aturan semacam itu. Apalagi kejadian Toman itu sebelum
ganti nama jadi STEI. Untuk kasus Toman dia bisa TA1 di Jepang.
Coba kontak Toman deh, kalo enggak salah dia anak Cendana juga.
Mungkin
lebih enak kalo gua nyediain waktu 1 hari buat ngobrol. U berangkat tgl
1 Oktober ya? gua usahain 1 oktober gua ke bandara. Tapi kaga janji. U
di bandara jam berapa berangkatnya?
Kuliah
Pilihan Teknik Elektro I dan Pilihan Teknik Elektro II (total 6 sks)
seinget gua bisa diekivalenkan sama mata kuliah engineering yang u
ambil disini. Abis itu mata kuliah Pilihan Non Teknik (2 sks) u juga
bisa ekivalenkan dengan mata kuliah yg u ambil dari Jepang.
Mata
kuliah wajib seperti Sistem Kendali Digital, Sistem Kendali
Multivariabel, Pemodelan dan Simulasi tidak ada mata kuliah yang bisa
diekivalenkan. Manajemen Industri gua masih bingung bisa diekivalenkan
ke Quality and Reliability Engineering kaga, soalnya isinya agak beda,
tapi kuliah yang paling deket kesitu sih.
Udah pernah ketemu pak Eniman?

***

iya d, gw coba tanya dosennya dulu….
gw berangkat tanggal 1 jam 23.40, tengah malam… susah ya??
kalo pilihan teknik ama manajemen industri gw udah ambil… klo kuliah pilihan,
gw rencananya ambil di sana. gw udah diskusi ama pak eniman. udah dikasih tau prosedur transfer sks.
“Independent
Research Project for Undergraduate Students I dan II” pasti dapet ya??
ini beda ama yang di lab prof. aoyama itu? gw setidaknya bisa dapet TA
1 lah di sana.
nah, kesimpulannya, masalah
gw kapita selekta nih… gada ya yang mirip2 ama kuliah itu di sana?
klo menurut teman gw sih, kuliah ini mirip juga ama manajemen industri.

***
From: RAI
To: WS
Sent: Sunday, September 24, 2006 3:31:51
Subject: Independent Research Project for Undergraduate Students

Hi
Independent
Research Project for Undergraduate Students itu yang ngasih nilai
Aoyama Sensei. Mirip2 TA1 di kita lah. nanti tiap semester u dapet.
Tapi masalahnya disini creditnya ditulis N/A atau not available. Jadi u
mesti diskusi duluan sama sensei elu.
Moga2
kapita selekta u bisa kuliah jarak jauh. Gua kaga tahu disini mata
kuliah apa yang bisa u transfer. Tapi lihat kasus toman sih, dia
ngambil kapita selekta di semester 8 bareng2 gua.
Good Luck

***

From: RAI
To: WS
Sent: Monday, June 26, 2006 13:39:34
Subject: UEC

Hi
Mau
nanya, u sekarang dimana? Bandung or Jakarta or di kampung halaman? Gua
juga dulu keterima sendiri kok. Nyantai aja. Makanya gua bilang les
converstion bahasa inggris, sengsara loe kalo nggak bisa bahasa inggris
di program ini. Ingat, meskipun u tinggal di jepang, pergaulan u sama
english speaking person.
Peserta JUSST dari
Indonesia, cuman dari ITB doang, tapi nyantai kok, dari 5 tutor
research, 3 orang Indonesia alumni JUSST dulu.
Duit
yang dikasih cukup kok, kalo elu nggak terlalu boros. Btw sering
kontak2 sama orang2 ISO? gua bingung lho, loe bisa dapet email gua dari
mana? jangan2 ISO copiin formulir pendaftaran gua buat elu?
Eh,
ada laptop kaga? disini bagusan ada laptop lho, buat hiburan, soalnya
anak2 bakalan pake MSN massanger buat chat, tapi bisa juga sih internet
dari Lab, gratis lho.
Saran gua lu ke www.
skype.com deh, itu buat telepon ke Indo murah, VoIP. tapi mesti beli
pake kartu kredit. Nah, kartu kredit ini u bisa bikin di jepang
(gampang banget) or u bikin sendiri di Indo, (gua sebelum ke jepang
dibuatin kartu kredit).
Kegiatan
selain kuliah, ada home visit (tinggal di keluarga jepang), main ski
bareng UEC (awal maret), sama anak2 Mexico suka bikin party. U bakalan
punya temen dari Australia, China, Taiwan, Mexico, Estonia, Thailand.
Tapi umumnya anak2 indonesia bakalan deket sama thailand. China-taiwan
kompak. Aussie-mexico-estonia-bulgaria biasanya cocok. faktor budaya.
PS : Homepage gua dibuka dari Indonesia cepet atau tidak?

Ronald

***

Ronald, email gw yang terakhir kok nggak dibalas? Yang banyak pertanyaannya juga. 😉

***

From: RAI
To: WS
Sent: Tuesday, July 4, 2006 4:30:40
Subject: Re: UEC

Hi
Email
terakhir? yang pertanyaannya soal laptop kan? wah kaga tahu gua bagusan
beli di Indo or di Jepang, mungkin di jepang kali ya, lebih murah.
Banyak pertanyaan? seinget gua  dikit :p
Btw belakangan
ini gua lagi dikejar2 assignment, jadi agak sibuk. Bulan July itu
bakalan jadi bulan tersibuk elu selama di jepang. soalnya persiapan
abuat presentasi bulan agustus sama banyak UAS.
Udah nyantai aja, nanti juga u bakalan kesini kok.
Bye

***

hai ronald, pa kbr lo?
lo bakal balik ke indo tanggal berapa sih? gw mau nentuin tanggal pesawat gw nih….
oya,
apa2 aja nih yang perlu dibawa dari indo? yang penting2 gt? kalo laptop
penting ga ya? gw blom punya ni. klo mang penting ya bakal dibeli.
hehehe…
bales ya….
thanx

***

From: RAI
To: WS
Sent: Thursday, July 20, 2006 8:04:49
Subject: Re: hai ronald

hi
pokoknya awal oktober gua udah ada di bandung. gua masih belum pasti nih tgl pesawatnya.
yang
penting2? gua juga lupa. yang jelas u bakalan mewarisi TV, rice cooker,
peralatan masak (panci etc). palingan jangan lupa bawa baju musim
dingin aja. nah ini u bisa beli di mangga dua, sekitar 400an ribu. tapi
disini juga ada jaket tebal sih warisan, tapi dulu gua bawa dari indo.
Abis itu pakaian dalam buat musim dingin (namanya LongJohn). bawa 2 or
3 pasang cukup kali.
OK. u perlu bawa pakaian. sama duit yen. udah gitu u juga perlu bawa peralatan mandi (sabun etc) buat kira2 2 minggu pertama.
Laptop
buat gua penting. tapi dulu sebelum ke jepang gua udah punya…. jadi
kaga perlu beli. Umumnya anak2 disini punya laptop, palingna yang kaga
punya kurang dari 5 orang.
Gunting stapler etc, kaga perlu u bawa, disini ada. udah gitu ada
warisan seprei dari gua dan reza. (bagusan u bawa sendiri dulu, soalnya dulu gua perlu 1 minggu buat nyari barang warisan reza)
Bawa
oleh2 dari indo, yang kecil2 aja. kaya gantungan kunci or apa gitu.
bawa yang agak mahalan buat sensei elu + Suzuki sensei, (Dia penanggung
jawab program ini). Anak baru JUSST buat oktober ini ada 16 orang. dan
senior u dari JUSST april itu ada 11 orang. nah, u siapin aja oleh2
buat mereka. yang khas indo gitu. udha gitu ada Fukihara San,
penanggung jawab dorm elu. kasih dia oleh2 juga. ada juga orang2 dari
international office UEC (10an orang). yah itung sendiri lah berapa
banyak oleh2 kecil yang perlu u bawa.
U
perlu bawa juga tas buat travel (kaya backpack gitu). soalnya liburan
disini u bisa travelling. Dari Indo bagusan u tanya2 bu Indah,
bagaimana cara ngurus BEBAS FISKAL. lumayan kan sejuta.
Soal laptop gua kurang tahu bagusan beli dimana.
tapi di jepang, keyboardnya pake keyboard jepang, agak beda kaya di Indo.
Elektronik or barang yang perlu dibawa (or perlu beli disini)
1. Laptop
2. kamera digital
3. Kamus Elektronik Jepang – ENglsih (beli di jepang)
4. Perlengkapan Travel

***

halo, ganggu lagi ni ronald. mo nanya lagi.. uang yen yang perlu
dibawa berapa banyak ya? tau tempat jual yen yang rada murah ga di
indo? hoho… kalo dolar perlu?
mangga dua kan luas tuh, dimana ya jual jaket ama long john nya?
oya, tiap smester lo tetep titip perwalian ya?
oke, makasih lagi. danke schon ( gada umlaut ) auf wiedersehen..

***

From: RAI
To: WS
Sent: Tuesday, July 25, 2006 17:37:35
Subject: Duit Yen

Hi
Soal
Yen, dulu gua bawa 100.000 yen. Oh ya, u sebenarnya dari Indonesia bisa
dikirimin uang, tapi kena administrasi sekitar 400.000 di Indonesia,
dan sampe ke jepang dipotong lagi 4000 yen. Jadi kalo u kirim 100.000
yen dari Indonesia, u terimanya cuman 96.000 yen doang. Dan bokap u
keluarnya 100.000 yen + Rp. 400.000an.
USD kaga perlu, kecuali u transit di singapore or korea, baru kepake tuh. Gua beli yen dulu di BCA.
Nah
soal mangga dua, gua kurang tahu tempat persisnya, soalnya waktu itu
nyokap gua yang tahu…. Kalo nggak salah di FO bandung juga ada, tapi
gua nggak nemu. BTW, beli yang bagian dalem jaket diisi bulu angsa,
soalnya itu menyerap panas.
Tiap semester gua
titip perwalian, sama KTM dan KSM, etc, gua titip ke temen, jangan lupa
bikin surat kuasa buat at least 2 orang.

bye

***

Hai Ronald, pa kabar? Dah mo balik sini blom?
Gw
mo nanya nih. Lo di sana kerja ga sih? Ato mungkin kayak KP gitu? Trus
uang yang dapat dari beasiswa itu cukup nggak untuk biaya hidup n
jalan2 di sana?
Trus, cara ke UEC dari Narita gmn detailnya?
Makasih ya…

***

From: RAI
To: WS
Sent: Thursday, August 31, 2006 17:08:19
Subject: Re: hai ronald!

Gua
disini kaga kerja, udah apply lisence permit buat part time job sih,
tapi akhirnya kaga gua gunain. Pas summer ini, ada kesempatan magang di
research lab NHK, tapi tergantung elu lewat apa enggak. Dikasih uang
saku kayanya.
Uang dari beasiswa cukup kok
buat biaya hidup, yang mahal disini apartemen bisa 45-50rb sebulan,
tapi berhubung elu tinggal di dormitory UEC ON CAMPUS, jadi u cuman
keluar 12.000 sebulan. Jadi sisanya 68.000 buat biaya hidup elu.
Buat
jalan2? tergantung pinter2 elu aja hemat duit. Btw jalan2 di jepang
lumayan mahal. U harus pinter2 cari cara buat optimisasi biaya (in
other word, pintar2 nyari cara transportasi yang murah)
Dari
Narita ke UEC u bisa naik Airport Limousine (3200 yen) ke Chofu
station. Tapi kalo nggak salah kalian dijemput kok sama senior. Cara
lainnya adalah naik kereta. Tapi untuk naik kereta gua kaga recommend
elu, soalnya buat yang pertama kali datang dengan luggage yg banyak,
mendingan naik airport limousine.
Have a nice time
Ronald

***

cara apply license permit buat part time gmn?
lo masak ndiri ga nald?

trus,
kan agustus gt semesteran udah selesai (bener kan?), gw lgsg bisa balik
ke indonesia ga? soalnya gw kan bakal masih ada kuliah di sini.
hehehe…

thx lagi yah…

***

From: RAI
To: WS
Sent: Friday, September 1, 2006 18:31:56
Subject: Re: hai ronald!

Cara apply license permit, ke kantor apaan gitu, nah International Student Office sini punya kertas “how to do it” nya
Gua masak sendiri
Lu
bisa langsung balik ke indo, tapi umumnya anak2 balik september, nunggu
scholarship september keluar, nah pada balik semua abis itu
See u

***

cara apply license permit buat part time gmn?
lo masak ndiri ga nald?

trus,
kan agustus gt semesteran udah selesai (bener kan?), gw lgsg bisa balik
ke indonesia ga? soalnya gw kan bakal masih ada kuliah di sini.
hehehe…

thx lagi yah…

***
From: RAI
To: WS
Sent: Friday, September 1, 2006 20:19:30
Subject: Re: hai ronald!

oh
ada tambahan, kalo elu ngurus transfer kredit, u perlu tambahan waktu
ekstra. temen gua baru dikasih berkas2 buat transfer kredit dia hari
senin tgl 3 september……… jadi, kalo u mau transfer kredit,
sering2 dicek ke Suzuki sensei (penanggung jawab program). kalo bisa
dari awal2 semester udah bilang ke dia, mata kuliah yang mau ditransfer
apa aja, jadi pas closing ceremony u udah dapet semua, kaga perlu
nunggu lagi


***
From: RAI
To: WS
Sent: Friday, September 8, 2006 12:30:49
Subject: Persiapan ke Jepang

Hi Wesly
Persiapan
elu ke jepang udah segimana aja? Disini gua list barang2 yang udah ada
di Jepang (mungkin u kaga perlu bawa lagi – tergantung elu)
– Seprei 2 buah (peninggalan gua dan reza)
– bed cover, selimut, etc, (ada 4 buah kalo nggak salah)
– jaket musim dingin
– gunting, stapler, isi stapler, alat tulis kantor, bolpent etc (lagian u bisa beli di 100 yen shop)
– CD Blank (Dari rheza sekitar 30-an tersisa, ditambah lagi dari gua 20-an)
– TV, radio, setrika, sapu, pengki (sorry, vacuum cleaner dari Petty hilang, ada yang ngembat)
– Piring, gelas, sendok, garpu, pisau, panci, wajan, segala macam alat penggorengan
Sedikit
saran, orang jepang itu suka alkohol, coba aja u bawain sesuatu dari
indonesia yang kira2 mengandung alkohol. Buat sensei elu.
Udah
gitu senior elu disini ada 11 orang (JUSST April 2006), nah angkatan
elu (JUSST Oct 2006) ada sekitar 16 orang, beliin oleh2 kecil aja dari
Indonesia. Sedangkan oleh2 gede, u bawa untuk Suzuki Sensei (Penanggung
Jawab Program JUSST), sama sensei lab elu.
Abis
itu di International Office ada 10 orang anggotanya (Palingan nanti u
hanya berurusan sama Sasaki-san, Mika-san dan satu orang lagi).
Mika-san orangnya lucu dan baik, pasti lu seneng ngobrol bareng dia.
nah
di kantor JUSST itu ada 3 orang (Monica, Hisatsune, sama Yenna-san),
kasih oleh2 kecil aja yang buat cewek. Ada satu lagi di International
House (bakalan jadi rumah elu selama setahun) – Fukihara-san. dia ini
penanggung jawab rumah.
Btw kalo u mikir di
Jepang mahal2, emang bener juga, tapi pinter2 elu aja, soalnya ada 100
yen shop, jadi setiap barang di toko itu 105 yen, atau kalo dirupiahin
sekitar 8rb-an. OK. jangan mikir mahal dulu, u mesti lihat harga
barang2 disini dulu, baru bilang semua di hyaku en shop murah.
Sorry
nanya ini, tapi u kristen kan? (Simatupang – orang batak 🙂 ). Kalo
gereja di Tokyo ada Gereja Indonesia, jadi pake bahasa Indonesia semua.
Udah
gitu, kalo u mau trik2 belanja murah, etc, nanti gua minta Beer (anak
Thailand) ngajarin elu. Juga kalo mau tahu soal travel segala macem,
dia itu orangnya serba tahu.
Kalo mau nyari
elektronik murah di Akihabara, nah yang bisa u tanyain buat daerah ini
Shin (anak Australia). Btw selimut2 elu di dia, nanti ingetin aja kalo
mau ambil.
Ronald
PS :
Oh
ya, gua bisa nitip kaos buat Mika-san kaga? sekitar 2 or 3 potong. bisa
ketemuan setelah 29 september kaga? gua agak sibuk sampe tanggal
segitu. Entar gua kasih elu kaosnya.

***

 

klo masalah barang, gw udah beli baju dingin. mudah2an udah lengkap.eh, rice cooker ada toh?
kalo oleh2, yang kecil gw udah siapin buat 40 orang. kain batik yang bisa dbikin blankon gt d… klo buat sensei, nyokap gw
bilang bawain ulos. hehe… klo alkohol liat ntar d. bisa lolos airport apa?
iya gw kristen. makasi infonya. gw juga sempet bingung ttg gereja.
stelah tggl 29 mksdnya ketemuan di bandung ya? mudah2an bisa. tapi pas tggl 29. 30 gw udah ke jakarta kyny…
oya,
klo pas lagi libur semester, gw tetep tinggal di international house
kan? gw baca, yang jadwal pembersihan asrama itu, gw ga perlu keluar
dulu kan?
btw, lo sekarang masih di jepang??
thank you…

***

From: RAI
To: WS
Sent: Monday, September 11, 2006 21:35:11
Subject: Jakarta

Hi
Tanggal 29 september itu gua nyampe jakarta. Lu berangkat tanggal berapa? Gua mesti ke bandung dulu beli bajunya.
Btw
u sebelum tgl 29 u ke bandung kaga? soalnya kalo u di bdg, gua mau
nitip kaos ITB warna biru yang ada tulisan kanji2 gitu. Ada orang
International House yang nitip ke gua. Gua minta temen gua ambil, dia
cuman nemu satu. entar lah gua kirim contoh ke elu. Nanti duitnya gua
gantiin pas kita ketemuan aja. Gua lagi trip bareng temen2 JUSST, lagi
liburan semester kan.
Selama liburan semester u bisa tinggal di asrama. nyantai aja.\
Oh ya, kalo ada waktu u ke http://www.japan-guide.com
deh, disitu banyak banget informasi tentang jepang yang membantu
banget. Abis itu di search tulis “seishun 18 kippu” itu tiket murah
buat jalan2 pas liburan. Entar gua bisa minta temen gua ngajarin elu
cara makenya.
abis itu di jepang banyak banget pake kereta, nah u buat cek jadwal kereta, ke http://www.hyperdia.com
abis itu klik english. Nah u masukin kota asal elu itu – chofu(tokyo)
dan destination ke mana aja  di jepang. U dapet gambaran harga tiket
berapa. Nah buat “18 kippu” tiket murah, u hanya bisa gunain local
train aja. tapi harganya hemat banget.
Ada pesan dari temen gua, senior u nanti 😀
polY SAYS:SEE U

***

gw brgkt tanggal 1 okto tengah mlm, nyampe di sana tggl 2. gw sekarang
lg di bandung nih. maksudnya mau gw bliin dulu? gmn nih detail kaosnya?
biar ga salah beli.

thnx infonya..

haha, see you juga…

***

Hi
Ini foto kaosnya. Ukurannya M. 2
buah, satu warna biru dan satu warna hitam. Kalo hitam kaga ada, ambil
2 buah ukuran M warna biru aja.
Thanks

Ronald

***
Ronald, kaosnya cuma ada yang warna item. jadinya mau dua2nya warna item aja ato gmn nih?

***
From: RAI
To: WS
Sent: Wednesday, September 20, 2006 12:33:10
Subject: Re: Kaos ITB

ambil yang item aja dulu…. nanti kalo ketemu yg biru tolong ambilin juga ya. entar gua ketemu elu mungkin di bandara

***

Outline of my exchange study in Japan – Final report for UEC.
 
***
 
 I arrived in Narita Airport , Tokyo at October 3rd 2005 to begin a one year exchange program as JUSST student at University of Electro-Communications . In fall semester 2005 I took Japanese Class, UEC Academic Skills I – Computer Literacy, UEC Academic Skills II – Cross Cultural Communications, UEC Academic Skills III – Research and Presentation, Japanese Human Relation, Quality and Reliability Engineering – The Japanese Way, TV Broadcasting, and Independent Studies for Undergraduate. In the spring semester 2006 I took Japanese Languange, Independent Study for Undergraduate, UEC Academic Skills III – Research and Presentation, Information Networks, Introduction to Visual Communications, Introduction to Theory of Computation, and Introduction to MATLAB.
 
UEC Academic Skills I-III is quite fun. We make our own homepage in Computer Literacy Class and also learnt about Latex. Suzuki Sensei’s assistants (Arqui and Eric) help us a lot during this class. UEC Academic Skills II – Cross Cultural Communication is also interesting. This is the class where we can meet many Japanese students and get along with them. During this class we visits UEC studio and use it, try to become newsman or reporter. UEC Academic Skills III – Research and Presentation make us learn how to make a good presentation. We were divided into several small groups consists of 5-6 people and one tutor. Each week we have a meeting to discuss the progress of our research.
 
Japanese Human Relation Class is probably the most interesting class that I took during my exchange period in Japan . We learnt mostly about Japanese Culture. The culture that is first not understandable by us (e.g. Why the Japanese sleeps in the train, etc), but finally we could learn to understand their culture. We were invited to visited Nakajima Sensei house to get an experience having tea ceremony. It was quite fun, although most of us already had tea ceremony experience before. We was taught how to receive the tea, how to sit, how to walk in the tatami. In the last day of class, for one day sensei took us around Tokyo to visit Keio University (famous private university in Japan), Tokyo University (the most prestigious university in Japan), Nihombashi (We just know that every point in Japan is measure from this place), Kabuki theater in Ginza, Sanya (the place like Bronx in New York), and also the most famous temple in Tokyo, Asakusa Temple.
 
The other class is TV Broadcasting. Professor Toyama is quiet an expert in this field. His experience working for NHK for 30 years make him knows everything about TV Broadcasting. He took us visiting NHK Research Laboratory to see the latest technology in broadcasting field. He also took us to Tokyo Tower to see the main function of this tower that is to broadcast TV signals (mainly people see Tokyo Tower as tourist attraction).
 
Quality and Reliability Engineering – The Japanese Way taught us about quality control. We learn much about quality control in this class. How Japanese product that was underestimated in the 1950s become a product that has excellent quality during the 1980s until now.
 
In information network class we are taught by Professor Miki. We learn about computer network here. We have to submit several reports during the class. Another class I took is Introduction to Theory of Computation, where we learnt many things about automaton, finite automaton, and also mathematical stuff. This class is one of the basic classes for computer science student and in application could lead us to cryptography. Introduction to MATLAB deals with MATLAB, one of the software that is quite useful in engineering. We have to make a project during the end of the class. The last class I took is Introduction to Visual Communications, mostly deals with visual communications. Sometimes before the class we watch video about the technology of visual communications in the future.
 
The other class is Independent Study for Undergraduate. In this class I join Aoyama Laboratory, Department of Mechanical Engineering and Intelligent System. All members of this laboratory is Japanese, except me. My research topic is about micro robot. It is called micro robot because it dimension is small, less than 50 milimeters in every dimension. Professor Aoyama and his laboratory member give me a lot of help during this time. Personally I would like to thank to Mr. Yoshiaki Suzuki who help me a lot during my time in this laboratory.
 
Japanese class is the class that has many credits, 6 credits. In first semester, I was entered Elementary 1 that has 5 students in my class. We learnt how to write Hiragana, Katakana, and after that we learnt the grammar and kanji. This is different from English alphabet, that only has 26 letters, and we combine this letters to make words. There are many kanji, and each kanji has different meaning. Tanaka Sensei, Miyoshi Sensei and Ooki Sensei was try to make this class interesting. In the last class we have origami lesson and also tea ceremony. That was the 3rd tea ceremony I had in Japan . Origami was quite fun, try to make animal or anything from a piece of paper. Elementary II is quite hard; with a lot of kanji to learn. At this time, this class has around 15 students. Like elementary one, we also will have a small presentation about one topic in Japanese language.
 
Beside that class I took, I also participated in UEC Ryuugakuseika activities, such as UEC Home Visit Program. In this program we can spent one or two days stays with a Japanese family. This is the first time (and also the last time) I tried Japanese food called natto. Last Christmas, ryuugakuseika also invited us to attend Christmas party that is held by Lion Club Chofu. Last June they also arrange etegami (Japanese traditional prostcard) lessons for us. UEC also arranged several visits to Fuchu Primary School . In this visit, we introduced about UEC and our country to school kids (age around 10-12). Most of them barely speak English, and most of us barely speak Japanese, a combination that could make funny things happened.
 
In Chofu, I joined Chofu International Friendship Association (CIFA) which one of associations where foreign people (usually students) can meet with another foreign people and Japanese people. I also took extra Japanese language class here, once a week, with Tominaga sensei. I also attend some Musashino International Fellowship Association (MIFO) activities, like “tea ceremony and kimono”, and also its welcome party every new semester.
 
During this exchange program, I meet many students from different countries, Thailand , China , Taiwan , Australia , Mexico , Estonia , and Bulgaria . It is nice to have friends from these countries, and learn a little bit about their language, culture or tradition. After one year in Japan as exchange student, I am not only learnt inside class but also from outside class. I also get new international friends who I would never have if I didn’t get opportunity as exchange student in UEC.  

BAB V

KEGIATAN DI JEPANG

Bab ini berfokus pada kegiatan-kegiatan
yang penulis jalani selama mengikuti exchange program di UEC.

5.1
Kegiatan
yang diorganisir oleh JUSST/International Office

Kegiatan-kegiatan ini diorganisasikan oleh
International Office UEC dan untuk kegiatan seperti Primary School Visit,
mahasiswa JUSST wajib mengikuti kegiatan ini, kecuali ada alasan yang penting.
Kegiatan ini antara lain.

5.1.1 Primary School Visit

Sepanjang satu tahun program exchange
untuk mahasiswa JUSST October 2005 ada tiga kali primary school visit. Dua kali
saat Fall Semester dan satu kali saat Spring Semester.

5.1.1.1 Primary School Visit I (30 November 2005)

Kunjungan ke sekolah dasar ini dilakukan
pada hari kuliah, sehingga kuliah pada hari tersebut untuk mahasiswa JUSST
ditiadakan.  Kegiatan ini seperti biasa
dilakukan di Fuchu Primary School, karena sudah ada kerjasama dengan UEC.

Saya dan seorang mahasiswa Jepang
ditugaskan di kelas yang berisi anak-anak yang menderita cacat mental. Hanya
satu kelas yang berisi anak-anak usia sekolah dasar ini. Tidak seperti di
Indonesia, yang sekolah antara anak-anak ini dipisahkan dengan anak-anak
normal, di Jepang, mereka disatukan di sekolah, hanya kelasnya saja yang
dibedakan.

Setelah kunjungan sekolah dasar ini
selesai, kami diberi dua pilihan, mau kembali ke dormitory atau ikut dengan
tutor ke Pabrik Bir Suntory. Hampir semua mahasiswa JUSST memilih mengikuti
kunjungan ke pabrik bir ini.

5.1.1.2 Primary School Visit II (23 Februari 2006)

Kunjungan ke sekolah dasar ini tidak
terlalu mengganggu jadwal kuliah mahasiswa JUSST karena dilakukan pada saat
liburan setelah ujian akhir semester dan sebelum presentasi poster / presentasi
oral.

Berbeda dengan kunjungan sebelumnya. Kali
ini setiap mahasiswa JUSST dibagi menurut negara masing-masing. Tugas kami
adalah menjelaskan tentang negara kami masing-masing ke anak-anak usia sekolah
dasar ini. Saya berpasangan dengan Felicia, mahasiswa riset dari University of
Adeleide, Australia, yang sudah hampir satu setengah tahun berada di UEC.

Kami agak terkejut karena anak-anak
sekolah dasar ini sudah mempelajari tentang Indonesia sebelumnya. Mereka bahkan
memperlihatkan sebuah video ketika mereka sedang membuat soto, dan
menghadiahkan VCD proses pembuatan soto ala anak sekolah dasar Jepang kepada
kami.

Setelah itu kami mengajarkan sesuatu
tentang Indonesia kepada anak-anak sekolah dasar Jepang ini, dan mereka
tampaknya sangat tertarik ketika saya memperkenalkan tentang mata uang
Indonesia kepada mereka. Uang-uang koin dan uang kertas itu tampaknya baru buat
mereka, sehingga saya memutuskan untuk membagi-bagikan saja koin itu kepada
mereka.

5.1.1.3 Primary School Visit III (22 Juni 2006)

Kunjungan ke sekolah dasar ini hampir sama
bentuknya dengan Primary School Visit I, hal yang berbeda hanyalah, saat ini
mahasiswa JUSST April 2006  yang menjadi
rekan kami dalam mengunjungi sekolah dasar ini.

5.1.2 Home Visiting and Home Staying (26-27 November 2005)

Program
ini diperuntukkan untuk semua mahasiswa internasional yang terdaftar di UEC
agar mereka mengalami pengalaman pertukaran kebudayaan melalui kehidupan
sehari-hari keluarga Jepang dan untuk mempromosikan saling pengertian dan
persahabatan antara mahasiswa internasional dan orang Jepang. Mayoritas
host-family terdaftar pada program home-stay dan home-visit UEC. Tujuan lagi
dari program ini adalah untuk mepromosikan international exchange dengan
lingkungan sekitar.

Home visit UEC ini dilakukan satu kali
setiap semester. Saya mengikuti Home Visit XIII saat fall semester 2005. Saya
melakukan home visit di keluarga Sato yang terdiri dari 4 orang, ayah, ibu, dan
2 putri kembar yang masih berusia sekitar 10 tahun.

5.1.3 Chofu Festival (17 ~ 20 November 2005)

Festival
ini diadakan setiap tahun di UEC pada pertengahan November. Pada festival ini
hal yang paling menarik adalah pemilihan Miss UEC. Menariknya, karena
persyaratan untuk mengikuti kontes miss-miss-an ini peserta harus berjenis
kelamin laki-laki. Jadi bisa ditebak bagaimana rupa Miss UEC ini.

Selain
itu banyak stand-stand yang terdiri dari berbagai macam jenis. Ada stand
makanan, stand unit kegiatan mahasiswa, etc. Mahasiswa Indonesia seringkali
berkolaborasi dengan mahasiswa Malaysia untuk membuat satu stand makanan.
Berhubung ini di Jepang, makanan yang dijual harus memenuhi standard mereka,
jadi panitia stand Indonesia berusaha agar makanan yang dijual bisa memenuhi
syarat.

5.1.4 Lion Club Christmas Party (20 Desember 2005)

Lion
Club Chofu merupakan sebuat organisasi yang berisi orang-orang kaya di daerah
Chofu dan sekitarnya. Pesta natal ini diadakan tanggal 20 Desember 2005 di
lantai paling atas gedung Parco. Syarat untuk mengikuti ini adalah mendaftar di
International Office UEC. Tempat yang tersedia hanya untuk 20 mahasiswa asing.

5.1.5 UEC Ski Trip (3~5 Maret 2006)

Popular
winter off-campus activity in UEC. Students may experience a wide rang e of
skiing opportunities as wel as instruction by profesional ski instructors. It
also provides an opportunity to learn the regional culture and outdoor
environment of North Western Japan. This program takes place in the beginning
of March.

Ski Trip merupakan event tahunan yang
diorganisir oleh UEC. Mahasiswa JUSST mempunyai dua kesempatan untuk traveling
dengan biaya murah (karena disubsidi oleh pihak universitas), yaitu UEC ski
trip ini dan Kansai Trip di pertengahan bulan September) Ski trip kali ini
mengambil lokasi di Nagano (tempat olimpiade musim dingin 1998). Meskipun bulan
Maret sudah memasuki awal musim semi, tetapi di Nagano salju masih tebal,
karena berada di pegunungan.

Daerah
Nagano terkenal sebagai Japanese Alps, karena banyaknya gunung tinggi yang
sangat cocok untuk bermain ski. Gunung yang menjadi tempat latihan kami
merupakan salah satu gunung yang pernah digunakan sebagai lokasi pertandingan
salah satu cabang pada winter olympic 1998.

5.1.6 Etegami (1 Juni 2006)

Etegami merupakan gabungan dari dua kata
yaitu ”e” yang berarti gambar dan ”tegami”
yang berarti surat. Dari makna ini, dapat kita duga etegami ini
merupakan semacam kartu pos Jepang.

Peserta diberi dua kertas seukuran kartu
pos. Di bagian belakang kartu pos itulah akan digambar sebuah obyek yang bisa
berupa apapun. Objek untuk etegami yang pertama disarankan berupa buah, sayur,
ataupun bunga yang sudah disediakan oleh panitia.

5.1.7 Hanabi (23 Juli 2006)

Hanabi
merupakan pertunjukan fireworks yang lazim dilakukan pada musim panas. Hanabi
berasal dari dua kata yaitu hana (bunga) dan bi (api). Banyak orang menggunakan
kimono dan  yukata terbaik mereka untuk
menonton hanabi ini. Kita tidak perlu heran jika banyak wanita berkimono dengan
sendal kayu yang berlalu lalang malam-malam dengan pria yang menggunakan yukata
(juga dengan sendal kayu).

5.1.8 Short Trips – Kobe Trip (20~21 September 2006)

The aim of the short trip is to introduce
the essence of the nature, regional characteristics and recent technological
advances in Japan. The essentioal goal of these trips is to establish a better
relationship between students and staff. These annual events take place in
September.

Ini merupakan salah satu dari dua acara
yang dananya disubsidi oleh universitas sehingga mahasiswa asing di UEC dapat
jalan-jalan dengan biaya murah. Untuk trip selama summer break ini, dilakukan
sistem pengundian, berbeda dengan UEC ski trip yang first sign first get. Jatah
untuk mahasiswa asing sekitar 30 orang. Setiap mahasiswa yang beruntung
terpilih harus membayar sekitar 6000 yen

Kunjungan ke daerah Kansai kali ini ke
kota Kobe (summer break tahun sebelumnya ke Aichi karena ada Aichi World Expo).
Berangkat dari Tokyo di pagi hari dengan Shinkansen selama sekitar 2 jam.
Tempat yang dikunjungi adalah Earthquake Museum yang berisi tentang gempa bumi
dashyat di kobe tahun 1996 yang menelan 6000 korban jiwa. Tempat lainnya yang
dikunjungi adalah sake brewery house, yang lebih banyak berkutat dengan proses
pembuatan sake.

5.2
Kegiatan
yang diorganisir dosen

5.2.1 TV Broadcasting Class

TV
Broadcasting merupakan salah satu kelas yang saya ambil. Profesor Noboru Toyama
dua kali membawa mahasiswanya study trip ke fasilitas broadcasting yang
bersinggungan dengan NHK, tempat Profesor Toyama bekerja selama lebih dari 30
tahun. NHK dapat disamakan seperti TVRI di Indonesia, perbedaannya adalah NHK
merupakan salah satu stasiun TV yang cukup populer di Jepang (stasiun yang
satunya lagi adalah FUJI TV)

5.2.1.1 NHK Research and Technical Laboratory Visit

NHK RESEARCH & TECHNICAL LABORATORY VISIT

On 10th November 2005,
during Japanese Culture Day Holiday, our TV Broadcasting Class had the
opportunity to visit NHK Research Laboratory. NHK (Nippon Hoso Kyokai) or in
English “Japan Broadcasting Corporation” has its own Research and Technical
Laboratory that is located at 1-10-11 Kinuta, Setagaya-ku Tokyo 157-8510,
Japan. As we can see in its homepage they wanted to “make the dream of our viewer come true”. The laboratory priority is
“development of viewer-oriented broadcasting systems, ranging from program
production to broadcast reception”.Some of the exhibitions are:

Super Hi Vision

This is the most interesting
exhibition. The picture in the screen was so real, and it is the clearest image
I have ever seen. The picture makes us as if we were in that broadcasting
place, not in the NHK laboratory. The image of fish was so clear that make the
viewer think (if he just focuses on the screen) they must be near the pool or
inside the sea.

  • Its
    video format uses 7,680×4,320 pixels (16 times the pixels in an HDTV), and
    a 60-Hz frame rate progressive scanning scheme, making it possible to
    present an unparalleled amount of information on a screen.
  • It employs a
    22.2 channel 3D loudspeaker arrangement to realize excellent sound field
    reproduction and a wide listening range.
  • Broadcasting
    satellites in the 21-GHz band have potential as a delivery system for
    broadcasting of Super Hi-Vision to individual homes. we are studying
    special compensation technologies employing a phased array antenna system
    to solve radio attenuation problem caused by rain in 21-GHz band.

Morphovision

In this exhibition, there was a
solid object that shaped like a small house. There are several buttons to be
pressed, each of them had different picture. Some like the spiral, and some are
not. We have to press a button (out of several button) to see if the object
will bend just like the button we touch.

Free Viewpoint Video Representation
Technology – Virtual Puppet

In this exhibition, there is a
square card has “?” or question mark on it. We put it in the range of the camera,
and we can see in the TV screen some puppet appear from the card and said
something in Japanese, which I didn’t get what the puppet said

Speech Recognition

In
this exhibition there is a set of TV news studio. You were the anchor man or
anchor woman. The machine can recognize what you have said and it appear on the
TV screen as subtitle. According to the person who was there, this machine can
identify 60.000 Japanese words. The machine was designed to recognize Japanese
word that is spoken in Tokyo dialect, so if your
accent like Kansai dialect or others dialect outside Tokyo, maybe the machine will not work
properly

Ultra High Speed 3-CCD Camera

The advantage of this camera is that
we can see the “slow motion” of our action. For example, there was a ball and
baseball bat. We can hit the ball with the bat and it is recorded with that
camera. The viewers in front of the television will see the slow motion when
the bat hit the ball. The picture was very sharp and interesting.

On the other section we can see the
record of ‘water balloon’, ‘karate’ (slow motion when the bricks break when hit
by a man), baseball, softball, golf, etc.

Microphone

Bug
microphone.
It is a very sensitive microphone. In the screen we can see the
picture of insect. The interesting thing is we can hear their voices. For
example when the snail is eating, viewers can hear the voices of the snail that
usually cannot be heard by normal people ear if it is not amplified. The
viewers can also heard the voice that is made when an ant is walking.

There are demonstrations about how
sensitive this microphone is. The sound of falling dropping leaves on the
microphone was amplified several times, so if we don’t see the stuff we might
think the stuff that fell is big stuff. There was a button to set how much is
the amplification.

Dummyhead
microphone.
In this exhibition, we have to use the microphone, and the
demonstrator will clap his hand while he is
moving in a circle. We will experienced that we were the mannequin’s
place, because when he clapped in the right, our right ear will hear and a
little sound in left ear.

5.2.1.2 NHK Broadcasting Museum and Tokyo Tower Visit

NHK BROADCASTING MUSEUM AND TOKYO TOWER

This
report made based on January
14th 2006 to NHK
Broadcast Museum
and Tokyo Tower. The first visit was the NHK Broadcast
Museum. The museum was established
in 1956 to commemorate the 30th anniversary the start of
broadcasting by NHK (NHK
Broadcast Museum
brochure).

Inside the museum there are many
items related to the history of broadcasting in Japan. Among them is record of the
Emperor: Hirohito’s that ended the Pacific War, Restoration model of Takayanagi
Television (the test was TV transmission of katakana letter `i`. There are many
types of television from the earliest of 20th century, documentation
about the Tokyo
Olympic 1964.

There are a room too when we can see
how the news announcer (anchorman/anchorwoman) read their line. There is a
camera to catch the picture of the news in front of the news announcer, and
they just read the line that is appeared in the screen in front of them. It
makes the news announcer face see directly to the television’s viewer, as if
they are talking to the viewer. The background of the screen behind the news announcer
is blue. Blue is chosen because it has some advantages. The guide showed us
what is happened if we cover ourselves with blue clothes. The body that is
covered with blue seems to be disappearing in TV.

We can also see how to make sound
effect at movie. If you using your camera, picture is one thing and the other
thing is sound. In this section we can see how to make wind sound, sea sound,
sound that is made from a door or window when it is opened, also how to make
horse sound, and many other sound that we could heard in movie. The most
interesting is this techniques was created more than fifty years ago and still
used until now.

The second visit was the Tokyo Tower.
It is served as TV and radio broadcasting antenna as well as tourist
attraction. It height is 333 meters. It is the tallest self supporting self
tower in the world and also the tallest building in Tokyo. It is painted orange and white to fulfill
the air safety regulations. It broadcasts fourteen broadcasting signals for
nine televisions and five radio (for details look at Picture 1)

The NHK person guides us to several
places inside the tower. At first we enter the main observatory and then take
stairs to a room inside the tower. If you are a regular visitor, you cannot
enter this area. This room consisted of several transmission machines and other
machines. At least there are two transmission machines that is working and one
dummy, just in case if something happened to one of those machines. The machine
in this room is using water as the cooler. The NHK person explains us that the
cooling system is using water because it is not too noisy. We can monitor the
temperature of the water that is coming in and that is coming out. In colder
area like Hokkaido,
this water is used at heating system (not cooling system).

Later we visited the second room
located near the base of the tower (around 4th floor). Unlike the
first room, this one is much noisy because it used fan as it cooling system.
Later our visit ended and we have to go back to Chofu

5.2.2 Japanese Human Relations Class

Japanese Human Relations
merupakan kelas tentang budaya Jepang. Dosennya adalah Profesor Yoshimichi
Nakajima yang merupakan lulusan dari The University of Tokyo dan juga jebolan
Austria. Selama satu semester ini kami dua kali mengadakan pertemuan di luar
kelas, untuk lebih memahami budaya Jepang. Pertemuan pertama adalah upacara
minum teh di kediaman Profesor Nakajima dan pertemuan kedua adalah berkunjung
ke sekeliling Tokyo.

5.2.2.1 Nakajima Sensei Tea Ceremony

Profesor Nakajima mengundang kami untuk mengunjungi
rumahnya pada tanggal 30 Desember 2005 untuk mengikuti tea ceremony. Sekitar
setengah dari peserta kelas Japanese Human Relations datang ke rumah beliau
yang terletak di stasiun roka-koen.

Profesor Nakajima sudah mempersiapkan teh dan sushi
serta cemilan kecil di rumahnya. Kami dipersilahkan menghabiskan sushi yang
tersedia terlebih dahulu. Sebelum itu dibagi-bagi tempat sumpit (saya juga baru
tahu ada semacam tempat untuk menyangga sumpit di meja). Selama makan Nakajima
sensei beberapa kali memberi saran mengenai budaya Jepang yang terkait dengan
etika makan. Saran-saran tersebut seperti posisi kaki, posisi badan, cara
pengambilan sushi yang baik diberikan oleh Profesor Nakajima

Selesai makan malam, Profesor Nakajima memperlihatkan
beberapa lukisan Jepang milik keluarga beliau. Profesor Nakajima mempersiapkan
teh untuk acara tea ceremony dibantu oleh dua mahasiswi JUSST. Beberapa dari
kami sudah mengikuti acara tea ceremony sebelumnya, yaitu acara yang diadakan
oleh MIFO. Hal yang menarik adalah salah satu mahasiswa (Matt dari Australia)
diajar oleh Profesor Nakajima  untuk
menyajikan teh, lengkap dengan tatacara Jepang, dan kami juga diajari cara
berjalan yang benar di atas tatami.

Setelah
acara di rumah Profesor Nakajima selesai, kami kemudian ditraktir makan-makan
di izakaya, rumah makan Jepang, di dekat stasiun.

5.2.2.2 Tokyo Excursion (18 Februari 2006)

Tokyo
excursion merupakan salah satu prasyarat kelulusan kami  Rian (YSEP 2005) dari ITB merupakan
satu-satunya mahasiswa non-JUSST yang ikut pada excursion kali ini. Ada
beberapa tempat yang dipilih oleh Profesor Nakajima untuk kami kunjungi.

Keio
University adalah tujuan pertama kami. Keio University merupakan salah satu
universitas prestisius di Tokyo. Kami kemudian diberi tahu mengenai istilah
”Keio Boys” yang kurang lebih di Jepang diasosiasikan dengan anak pintar, kaya,
dan gaul. Tak lama kemudian Profesor Nakajima menanyakan apakah diantara kami
ada yang membawa uang 10.000 yen yang membangkitkan tanda tanya diantara kami.
Ternyata foto pada uang 10.000 yen itu adalah foto pendiri Keio University yang
patungnya ada di hadapan kami. Perdana Menteri Jepang saat itu (Junichiro
Koizumi) merupakan salah satu alumni Keio University.

Perjalanan
dilanjutkan ke daerah Ginza. Ginza sudah dikenal, baik di Jepang maupun di
dunia, sebagai daerah perbelanjaan yang mahal. Toko-toko dengan brand terkenal
banyak dijumpai di daerah Ginza ini. Di jantung Ginza ini terletak Kabukiza,
sebuah teater kabuki yang sangat terkenal di Jepang. Kami hanya melihat
bangunan teater ini dari luarnya saja, karena tiket masuk pertunjukan cukup
mahal. Harga untuk kelas I adalah 15.000 yen (sekitar Rp. 1.2 juta), kelas II
11.000 yen (sekitar Rp. 900.000), kelas IIIA 4200 yen (sekitarRp. 350.000),
kelas IIIB 2500 yen (sekitar Rp. 200.000). Beberapa toko di daerah Ginza ini
sudah berusia ratusan tahun . Kami ditunjukkan toko tertua di Ginza, yang
sejarahnya dapat ditelusuri kembali hingga ke jaman Edo.

Dari
Ginza, kami berjalan kaki ke Nihonbashi, atau diterjemahkan ke bahasa Indonesia
berarti ”Jembatan Jepang”. Nihonbashi ini mempunyai arti penting bagi orang
Jepang, karena tempat ini merupakan titik referensi Jepang. Semua jarak di
Jepang dihitung dari titik ini. Dalam koordinat Cartesian, nihonbashi dapat
disamakan dengan titik (0.0).

Perhentian
berikutnya adalah Tokyo University.
Tokyo University merupakan universitas paling bergengsi di Jepang.
Profesor Nakajima yang merupakan alumni dari Tokyo University merngatakan
mahasiswa Tokyo University (Tokyo Daigaku) sering disebut dengan ”Todai Boys”
(Todai adalah kependekan dari Tokyo Daigaku) yang mempunyai streotrip ”pintar,
rajin belajar, tidak gaul, tapi mempunyai masa depan yang cerah”. Maka ada
cerita lucu tentang gadis-gadis Jepang, mereka akan pacaran dengan Keio Boys,
tetapi menikah dengan Todai Boys. Kami masuk ke Tokyo University melalui Akamon
atau Red Gate yang kini dilindungi sebagai salah satu ”important cultural
properties” menuju ke Sanshiro Pond, kolam besar yang terletak di tengah-tengah
Hongo Campus Univeristas Tokyo.

Dari
Tokyo University kami bergerak ke Ueno. Ueno merupakan suatu daerah di Tokyo
yang terkenal oleh Ueno Park, Ueno Zoo, dan Museum. Di Ueno Park terdapat danau
kecil yang sering dijadikan tempat wisata air untuk keluarga. Ini mengingatkan
saya akan Lido, tetapi danau di Ueno jauh lebih kecil. Berbagai jenis bebek
berkeliaran dengan bebas di kolam dan tampaknya tdak terganggu dengan kehadiran
manusia. Disini kami mendapat acara bebas selama sekitar setengah jam untuk
mengelilingi daerah ini. Ueno merupakan tempat populer untuk sakura viewing.
Tetapi berhubung saat kami datang masih pertengahan Februari, maka belum ada
sakura yang mekar. Di sepanjang jalan, banyak terdapat artis-artis yang sibuk
mempertontonkan kebolehan mereka. Ada artis akrobatik yang bermain-main dengan
pisau yang dilempar-lempar, ada pengamen jalanan yang sibuk memainkan alat
musik dan menjual CD-nya (sangat berbeda dengan pengamen di Indonesia yang
suaranya pas-pas-an dan hanya tertarik pada uang kita).

Tujuan
berikut adalah ”Sanya”. Sanya merupakan daerah hitam di Tokyo, mirip dengan
Bronx di New York. Ini merupakan faktor terpenting yang membuat Rian (mahasiswa
ITB yang ikut program YSEP TIT) mau mengikuti excursion kami. Sepanjang
perjalanan kami lebih banyak diam, apalagi setelah kami menerima sambutan tidak
menyenangkan di awal-awal kami memasuki daerah Sanya. Ada beberapa orang Jepang
berteriak dengan kata kata yang membuat merah telinga Profesor Nakajima.
Berhubung kami belum terlalu jago bahasa Jepang, kami hanya menduga-duga apa
yang dikatakan oleh orang-orang yang tak bersahabat tersebut. Sanya dapat
dikatakan sebagai daerah terbelakang di Tokyo. Kita masih dapat melihat orang
tidur di tenda-tenda biru, orang-orang homeless ini umumnya sudah tua. Tingkat
kriminalitas di Sanya juga termasuk yang tertinggi di Jepang. Ada aura yang
membuat kami hanya diam dan waspada sepanjang kami melewati daerah ini.
Profesor Nakajima berusaha ”breaking the ice” dengan mengatakan kita aman
karena banyak, tapi jangan sekali-sekali ke daerah Sanya sendirian, apalagi di
malam hari.

Excursion
diakhiri dengan kunjungan ke daerah Asakusa. Asakusa terkenal sebagai tempat
Sensoji Temple. Thunder gate, yang merupakan pintu masuk ke kuil ini menjadi
salah satu ikon kota Tokyo. Foto gerbang ini dapat dipastikan menjadi salah
satu dari foto pada postcard anda jika anda membeli satu set postcard kota
Tokyo. Sepanjang pintu gerbang dan kuil, terdapat deretan toko souvenir.
Setelah kami mengunjungi kompleks kuil Asakusa, kami ditraktir makan malam oleh
Profesor Nakajima di restoran di daerah Asakusa. Sepanjang makan malam, kami
terganggu dengan meja sebelah kami yang dihuni oleh orang mabuk, yang sudah
dikomplain berkali-kali oleh Profesor ke pihak restoran, tetapi tidak
ditanggapi dengan serius. Batas kesabaran Profesor sudah habis dan membentak
mereka ketika salah satu pria yang mabuk melakukan hal yang tidak pantas
sehingga memancing reaksi dari dua mahasiswi JUSST yang sedang makan. Mereka
menyerbu meja kami untuk memukul Profesor kami (yang baru saja membentak
mereka) dan tampaknya bentrokan fisik sudah tidak bisa dihindarkan kalau
pelayan toko tidak menahan laju kedua pria mabuk tersebut. Situasi sempat panas
sampai polisi datang dan menahan kedua pria tersebut dan kami keluar dari restoran
tersebut. Itu merupakan salah satu pengalaman mahasiswa JUSST dengan polisi di
Jepang.

5.2.3 Japanese Languange Class

Kelas
bahasa Jepang diajar oleh tiga staff pengajar. Untuk Elementary 1, staf
pengajarnya terdiri dari Tanaka sensei, Ooki sensei dan Miyoshi Sensei.
Elementary 2 diajar oleh Fukuda sensei, Miyoshi sensei dan Koyama sensei. Kelas
bahasa Jepang ini setiap akhir semester selalu mengadakan kegiatan yang
bertemakan budaya Jepang untuk para mahasiswanya.

5.2.3.1 Origami and Tea Ceremony  (15
Februari 2006)

Origami
merupakan seni melipat kertas yang cukup populer di Jepang. Kertas yang
digunakan pun bervariasi. Variasi ini baik dalam hal bentuk, warna, fitur, dll.
Kertas yang kami gunakan agak unik karena mengandung unsur flourosense,
sehingga hasil origami kami ini yang berbentuk katak dapat berpendar di
kegelapan.

Tea
Ceremony ini merupakan tea ceremony ketiga yang saya ikuti dalam fall semester.
Seperti biasa, kami termasuk orang-orang yang tidak tahan duduk bersimpuh gaya
Jepang, sehingga beberapa mahasiswa tidak dapat duduk dengan tenang.

5.2.3.2 Tsukiji Fish Market  (17 Februari
2006)

Kunjungan
ke Tsukiji Fish Market, sebenarnya merupakan study trip kelas Intermediate
Japanese, tetapi saya diperolehkan ikut. Tsukiji fish market merupakan pasar
ikan terbesar di Tokyo, dan juga di dunia. Waktu terbaik mengunjungi pasar ikan
ini adalah saat subuh, ketika kapal-kapal berlabuh dan melelang hasil
tangkapannya. Semakin siang, keriuahan di Tsukiji ini semakin berkurang.

Kami
tiba di Tsukiji Fish Market sekitar pukul 9 pagi, dan menunggu guide kami.
Setelah ia datang, kami dibawa ke ruang kantor dan diberi beberapa brosur dan
keterangan mengenai Tsukiji Fish Market dan baru kemudian dibawa berkeliling ke
lingkungan pasar. Berbeda dengan di Indonesia pasar berkonotasi dengan kotor
dan becek, situasi di Tsukiji benar-benar bersih, yang membuat saya heran.
Tentu saja ada bau amis ikan, tetapi pengaturan-pengaturan kios dan kolam-kolam
ikan dan lobster benar-benar diperhatikan dengan baik.

Kami
hanya sempat menyaksikan satu proses pelelangan ikan. Di saat menyaksikan
proses tersebut ada kru salah satu stasiun TV bergerak ke arah kami dan
mewawancarai Said (International Student UEC dari Palestina). Pewawancara
kemudian menyebutkan jam berapa hasil wawancara dengannya akan ditayangkan di
TV, sayangnya saya lupa menonton.

5.2.3.3 Kaligrafi  (28 Juli 2006)

Kaligrafi
merupakan salah satu seni menulis Jepang yang berakar dari kebudayaan Cina.
Karakter yang ditulis adalah kanji. Ini dilakukan dalam pertemuan terakhir
kelas Elemetary Japanese IIA. Ada beberapa persiapan yang kami lakukan, yaitu
berlatih menulis dengan kuas, dan berlatih mengingat-ingat urutan strokes dalam
penulisan kanji. Pertama-tama kami harus memilih kanji apa yang akan ditulis
lalu berlatih menulis kanji yang diinginkan di kertas. Kanji yang saya pilih
adalah yang berarti “journey”.  Setelah berlatih di kertas koran, kami harus
menulis di kertas yang disediakan yang berjumlah 3 lembar. Hasil yang terbaik
dari ketiga kertas tersebut itulah yang akan ditempel di papan kaligrafi di
lantai 2 P building.

5.2.4 Aoyama Laboratory

Aoyama
laboratory sering juga mengadakan acara-acara untuk mahasiswanya. Acara-acara
dibawah ini dilaksanakan setiap tahun, dan merupakan acara untuk ”having fun”. Di
Jepang, nama sebuah laboratorium, menyandang nama profesor yang paling senior
yang menghuni laboratorium tsb, berbeda dengan di Indonesia, yang nama
laboratoriumnya merupakan nama disiplin ilmu yang diteliti di laboratory
tersebut.

5.2.4.1 Bounenkai  (2 Desember 2005)

Bounenkai,
atau ”Forget-the-Year Party”, merupakan salah satu budaya Jepang yang biasa
dilaksanakan pada akhir tahun. Bounenkai dilakukan untuk mengucapkan selamat
tinggal pada tahun yang telah lewat. Bounenkai dilewatkan dengan makan-makan
dan minum-minum selama beberapa jam untuk melupakan semua kejadian tidak
menyenangkan di tahun yang telah lewat. Karena tidak adanya formalitas pada
acara bounenkai ini, bounenkai merupakan sarana untuk merperat tali silaturahmi
diantara anggota group.

Hampir
semua anggota laboratorium datang, beserta dengan beberapa rekan dari Aoyama
sensei. Acara makan-makan diadakan di sebuah restoran di Shinjuku, dan setelah
acara makan-makan selesai, beberapa anggota laboratorium pulang dan beberapa
(termasuk saya) melanjutkan dengan karaoke di tempat yang terletak tidak jauh
dari restoran tersebut.

5.2.4.2 Graduation Party  (17 Februari 2006)

Graduation Party ini dilakukan untuk beberapa anggota laboratorium yang
lulus program master dan program bachelor. Untuk mahasiswa yang lulus program
master, mereka langsung bekerja sehingga buat mereka ini juga merupakan pesta
perpisahan dengan anggota laboratorium.

5.2.4.3 Snowboard Trip  (24~25 Februari 2006)

Snowboard
trip merupakan event tahunan yang diadakan oleh Aoyama Laboratory. Untuk kali
ini tidak semua anggota laboratory ikut acara snowboarding yang dilakukan.
Anggota Aoyama Laboratory yang ikut kali ini berjumlah 7 orang (termasuk saya).
Snowboarding kali ini diselenggarakan di Joetsu Kokusai, di daeran Niigata.

Snowboarding
kali ini merupakan yang pertama kali untuk saya, dan juga pertama kali untuk
Hajime, salah satu anggota Aoyama Laboratory sehingga kami diberi briefing
singkat bagaimana cara snowbarding, dan yang terpenting, bagaimana cara
mengerem. Sepanjang hari pertama saya berkali-kali jatuh, dan menggunakan semua
anggota tubuh untuk mendarat. Muka, tangan, lutut, bagian tubuh yang lain
menjadi korban dari usaha pengereman yang gagal

5.3
Kegiatan
yang berkaitan dengan mahasiswa Indonesia

Kegiatan-kegiatan ini merupakan sarana
berkumpul dengan mahasiswa dan orang-orang Indonesia yang lain.

5.3.1 Odaiba (30 Oktober 2005)

Acara di Odaiba ini merupakan acara ulang
tahun salah seorang anggota jemaat GI3 Tokyo (Gereja Interdominasi Injili
Indonesia) yang merupakan gereja Kristen Protestan di Tokyo. GI3 yang terletak
di dekat stasiun Suidobashi (Chuo Line) ini merupakan gereja yang menggunakan
bahasa Indonesia dalam kebaktiannya, meskipun pendetanya adalah orang Jepang.

5.3.2 Natalan KMKI (16 Desember 2005)

Perayaan
natal ini merupakan perayaan natal gabungan dari gereja-gereja Indonesia di
Tokyo. Perayaan natal ini diadakan di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo)
yang terletak di daerah Meguro. Acara natal ini cukup meriah dan mengundang
bintang tamu dari Indonesian Idol, yaitu Delon dan Mike, untuk menyanyi pada acara
Natal ini. Selesai acara, mereka dikerubungi penggemar yang sibuk meminta tanda
tangan dan minta foto bareng.

5.3.3 New Year Celebration (31 Desember 2005 – 1 Januari 2006)

Acara
tahun baru kali ini saya rayakan bersama dengan tiga mahasiswa ITB yang sedang
mengikuti program YSEP di Tokyo Insitute of Technology. Saya, Rian, Hansky, dan
Ivan sepakat bertemu di daerah Shibuya untuk sightseeing dulu sebelum mengikuti
countdown di Tokyo Tower. Countdown di Tokyo Tower cukup meriah, dan cukup
banyak orang yang mengikuti acara countdown ini sehingga kami harus
berdesak-desakan.

Sebelum
ke Tokyo Tower, kami sempat mengunjungi sebuah kuil zensoji yang terletak di
daerah tersebut. Sesuai dugaan, kuil ini sangat ramai karena tradisi masyarakat
Jepang yang melewatkan tahun barunya berdoa di kuil-kuil shinto. Acara terakhir
sebelum berpisah adalah menonton film ”Memoirs of a Geisha” di bioskop di
daerah Roppongi, yang terkenal sebagai kota yang tak pernah tidur.

5.3.4 Hitotsubashi Gathering (4 Februari 2006)

Acara
ini dilaksanakan di asrama Hitotsubashi, yang
ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dari UEC. Tuan rumah acara ini adalah
Juanda Lokman (JUSST October 1999) dan Eric (JUSST October 2000). Beberapa staf
International Office UEC (Mika-san, etc) juga datang selain beberapa mahasiswa
Indonesia yang pernah kuliah atau sedang kuliah di UEC. Acara pertama-tama
adalah olah raga bersama di hall olahraga Hitotsubashi Dormitory, kemudian
setelah itu dilanjutkan dengan makan malam masakan Indonesia.

5.3.5 Pertemuan PPI Jepang (23 April 2006)

Pertemuan
ini sebenarnya merupakan penyambutan mahasiswa baru Indonesia yang baru tiba di
Jepang (harus diketahui bahwa awal tahun ajaran baru di Jepang adalah bulan
April). Acara dini diadakan di Komaba Campus, Tokyo University yang terletak di
dekat Shibuya.

Materi
pertemuan lebih banyak memberikan tips-tips bagi mahasiswa baru agar dapat
beradaptasi dengan kehidupan di Jepang. Selain itu juga ada perkenalan para
pengurus PPI Jepang dan sharing mengenai pengalaman hidup beberapa pembicara
selama hidup di Jepang, mulai dari benturan budaya, sampai istilah-istilah yang
sering disalah artikan (seperti kawaiso).

5.3.6 ASEAN 1st Festival (30 April 2006)

Festival
ASEAN yang diadakan di Komaba Campus, Tokyo University ini merupakan yang
pertama kali diadakan di Jepang. Dalam festival ASEAN ini dapat kita lihat
stand-stand setiap negara anggota ASEAN yang menjual souvenir dan makanan khas
masing-masing negara. Untuk unjuk kebolehan, mahasiswa Indonesia memainkan alat
musik Angklung dengan irama dari lagu ”Furui no tokei”-nya Hirai Ken  yang memang sedang populer di Jepang.

Next Page »