Thailand


Beberapa hari yang lalu, pas lagi ke tempat temen di Spacebox buat belajar ngotak ngatik HP baru, mampir bentar ke kost-an yg lama.Christine, penghuni baru begitu ngeliat saya langsung balik ke kamarnya dan bilang “I have one letter for you”. Hehe dia sering saya repotin buat ngasih tau saya kalo ada surat yg masih masuk ke alamat yg lama (yg kebetulan sekarang ditempatin dia). Tapi surat kali ini berbeda, kop suratnya bertuliskan “Politie“. Abis ngeliet, langsung dalam hati mikir2 “D*mn salah saya apa, kenapa bisa dapet surat dari polisi?”
Pada saat itu langsung tahu bagaimana jadi orang yg nerima surat denga logo polisi, padahal surat-surat yg saya terima biasanya logo universitas, NS (perusahan kereta), insurance atau advertisement ga jelas y g nawarin barang. Udah gitu surat polisi ini bahasa Belanda lagi “Gw salah apa ya?”. Langsung diketik di google translation di kamarnya temen, translate dan ternyata inti surat itu cuma diminta ngisi kuisioner via internet. Asem…. bikin ketar ketir aja.
Kejadian itu mengingatkan saya pada beberapa kejadian dengan polisi yang pernah saya alami. Dulu di Essen, saya dan Andreas pernah dalam sehari kena dua kali pemeriksaan sama polisi, nanyain paspor. Pemeriksaan pertama dan kedua hanya berselang beberapa menit.
Di Jepang pernah beberapa kali berinteraksi sama polisi. Sekali di deket Chofu station. Waktu itu lagi ngeliatin foto wanted list alias buronan di Jepang yang di tiap fotonya dikasih hadiah uang kalau bisa ngasih informasi yg mengarah ke penangkapan tersangka. Iseng2 saya bilang ke Beer, “Hey, that one is look like you” sambil nunjuk satu foto dan ngeliat muka dia. Rupanya tingkah laku kita mencurigakan polisi di dalam kantor polisi yang out of sudden keluar dan “mengundang” kami berdua masuk. Berhubung waktu itu saya masih belum bisa bahasa Jepang, masih bulan2 awal di Jepang, Beer yang nge-jawab pertanyaan Pak Polisi. Keluar2 dari kantor polisi Beer tampangnya bete gitu dan bilang “Next time hati2 kalo nunjuk foto kriminal”. Duh, jadi ga enak :D….
Udah gitu di Aomori central station. Lagi winter holiday dan waktu itu saya mau mengunjungi teman saya di Hokkaido. Berhubung waktu transit lumayan lama, buat nunggu kereta malam “express Hamanasu” Aomori – Sapporo, daripada bengong di dalam, saya keluar stasiun buat foto2. Pake backpack gede, bawa tripod, malem2 berkeliaran di sekitar stasiun foto2 rupanya mencurigakan. Dua polisi suddenly menghampiri saya dan menanyakan identitas. Bahasa Jepang saya masih kacau dan dua polisi muda ini nggak bisa bahasa Inggris, kombinasi yg bagus buat bahasa tarzan.
Di-“interogasi” selama 15an menit di luar stasiun, mana cuacanya dingin banget lagi (winter). Sambil interogasi mereka ngisi-ngisi formulir bahasa Jepang dan ngomong2 diantara mereka. Saya tak sengaja menangkap kata “onnanohito” yang artinya wanita di percakapan mereka. Berhubung bete di-“interogasi” saya akhirnya minta foto bareng mereka dan rupanya itu efektif buat ngusir dua polisi kurang kerjaan ini. Mereka akhirnya balikin “alien card” saya dan nyari orang lain buat diinterogasi. Ketika saya cerita ke Suwandi, dia ketawa2 dan bilang “Nald, lu disangka pervert tuh, kayanya ada orang (wanita) yang lapor ngeliat orang mencurigakan berkeliaran di sekitar stasiun”. Sialan. Rupanya di Jepang banyak pervert berkeliaran pake kamera, dan apesnya saya disangka salah satu dari mereka. Padahal kamera saya kamera saku. Parah.
Tapi pengalaman paling seru dengan polisi ketika kelas “Japanese Human Relations” kami ada acara Tokyo Excursion yang ditutup dengan acara makan2 di salah satu restoran di Asakusa. Feeling saya ketika masuk lumayan jelek karena orang yang duduk di sebelah meja kita mabuk. Satu orang bahkan mengangkat kursi dengan satu tangan dan ngomong2 nggak jelas. Sepanjang makan malam, kami terganggu dengan meja sebelah kami yang dihuni oleh orang mabuk, yang sudah dikomplain berkali-kali oleh Profesor ke pihak restoran, tetapi tidak ditanggapi dengan serius. Sekali waktu si cewek mabuk udah telentang di atas meja makan dan salah satu cowok yang mabuk tangannya masuk ke dalam rok. Si cewek terang aja nggak mau. Akhirnya si cowok bete dan memperlihatkan barang dia ke si Cewek.
Kebetulan dua teman saya (cewek) pas lagi ngeliat ke arah situ dan teriak. Batas kesabaran Profesor sudah habis dan membentak mereka. Mereka menyerbu meja kami untuk memukul Profesor kami (yang baru saja membentak mereka) dan tampaknya bentrokan fisik sudah tidak bisa dihindarkan kalau pelayan toko tidak menahan laju kedua pria mabuk tersebut. Pokoknya udah ribut banget. Dia sempat menendang meja kami sehingga salah satu teman tanganya terjepit meja. Hugo di barisan terdepan, saya di belakang dia dan semua siap2 buat tawuran. Sempat ada insiden yg berkaitan dengan pisau. Situasi sempat panas, Hugo juga mesti ditenangkan sama kita2 (ternyata orang Meksiko panasan). Polisi Jepang rupanya lambat banget datangnya. Kita sampe udah bete nungguin mereka dateng. Udah gitu pas dateng mereka bener-bener nggak ada wibawa sama sekali. Si cewek mabuk bahkan bergelayut di dada salah satu polisi setengah baya sambil ngambil topi si polisi. Udah gitu polisi2 ini cenderung persuasif, nggak ada acara borgol2an. Beda kaya polisi di Indo yang kayanya kalo kejadian kaya gini udah main hantam aja. Kesan yang kami dapatkan. Polisi Jepang lembek2. Btw foto yang pertama kali dilihat itu foto pas kejadian ini.
Lain di Jepang, lain pula pengalaman di China. Di Xian ada polisi yang memeriksa paspor setiap orang yang mau masuk ke dalam Xian Central Station. Entah apa maksudnya. Beberapa hari kemudian saya menghabiskan waktu hampir sejam di kantor polisi Shanghai. Ketika itu saya baru sampai di Shanghai setelah perjalanan 16 jam naik kereta dari Xian. Masih teler. Sambil teler karena kecapekan inilah saya mencari tourist information Shanghai, yang susah banget ditemui. Lagi capek2 gitu, saya ditabrak sama orang, dan refleks saya langsung megang kantong. Sialan, HP nggak ada di kantong. Akhirnya nyarilah kantor polisi terdekat yg kebetulan sekali ada di stasiun. Pengen bikin surat kehilangan, biar diganti sama insurance di Jepang.
Di dalam kantor polisi, untung banget ada yg bisa bahasa Inggris, tapi disuruh nunggu dulu. Pas dipanggil, duduk, ngasih liat paspor, dkk, kenapa di paha kiri ada yg ngeganjel ya. Diraba2, ternyata “lho HP gw kok bisa disitu.” Rupanya gara2 kecapean, abis telepon, saya masukin HP bukan ke kantong jeans, tapi justru diantara jeans dan long john. Dan HP itu ketahan di atas paha karena ada tas paha (yg buat jalan2). Berhubung ngerasa udah ketemu dan polisi2 ini ga tau, saya berusaha “OK sir, I’ll let it go” dan membatalkan bikin surat kehilangan HP. Polisi Shanghai rupanya kelewat ramah, “Tinggal dikit lagi, diselesaikan saja”. Dan saya langsung pengen ngeloyor pergi. Tiba2 di pintu masuk kantor polisi, HP jatuh dari balik celana jeans. Di background “You don’t loose your phone”. Aduh, tengsin banget, ngelapor hilang HP padahal HP nyelip di antara jeans dan long john. Langsung jalan tanpa ngeliat ke belakang lagi. Benar2 kehilangan muka. Udah gitu pas chatting sama Juanda di MSN, dia ngakak lagi. Apes, pas balik ke Jepang bbrp teman tahu kejadian ini. Duh…..
Lalu di Busan, Korea Selatan, saya pernah disamperin polisi pantai sambil bilang “dame, dame” yang dalam bahasa Jepang artinya “tidak boleh, tidak boleh”. Waktu itu saya lagi foto-foto di Hyeundae Beach sambil bawa tripod dan kamera. Sialnya, di Korsel, orang Jepang disangka pervert semua dan saya disangka sebagai orang Jepang. Udah gitu polisi pantai ini ngomong pake bahasa Jepang dan saya tanpa sadar reply pake bahasa Jepang juga. Nggak bener, kan ga semua orang Jepang pervert, dan saya bukan orang Jepang.
Masih di korea juga. Di DMZ alias DeMiliterized Zone, daerah perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Tentara berfungsi jadi tukang “ngusir” orang keluar dari kereta. Dari Seoul kami hanya bisa naik kereta ke Imjingang, lalu dari situ semua turis mesti ke semacam pos buat dapet kartu identitas yang kalo ga salah dituker sama paspor. Di satu bus, cuman saya yang satu-satunya orang non-Korea, bengong ga ngerti apa2 pas ada orang yg ngomong di depan bus. Di daerah ini entah kenapa banyak bener tentara, mungkin gara2 Korsel dan Korut statusnya masih perang kali ya.
Sebulan setelah di Korea, saya dan teman2 JUSST berlibur ke Thailand. Dalam perjalanan dari Chiang Mai ke Pai (Thailand Utara), bus kecil kami sempat dihentikan polisi/tentara yang memeriksa identitas semua penumpang. Aun sempat bilang “Disini banyak orang Myanmar yang ilegal Nald, makanya banyak pemeriksaan”. Kejadian yang sama kami alami ketika pulang dari Pai ke Chiangmai, minibus kami berkali-kali dihentikan buat diperiksa. Ternyata ketika itu ada kudeta di Thailand (19 Sept 2006) dan militer berkuasa. Sepanjang perjalanan ke Chiangmai saya melihat beberapa tank berkeliaran. Udah gitu di Chiangmai station banyak banget tentara bersenapan di dalam stasiun. Hal yang sama kami liat beberapa hari kemudian di jalan-jalan di kota Bangkok, banyak tentara. Sementara di Indo nyokap udah panik karena saya di Thailand pas kudeta (katanya sempet turun 5 kilo).
Soal tentara di stasiun ini rupanya tidak hanya di Thailand. Di Paris, ketika diadakan Paris Air Show, banyak sekali tentara berkeliaran di stasiun-stasiun di Paris. Saya sampai nanya2 ke Arryn kenapa banyak banget tentara di stasiun. Dia jg nggak tau kenapa. “Biasanya nggak kaya gini Nald”. Udah gitu pas di La Defense, pas nemenin Arryn dan Mbak Wahyu belanja, kami melihat tentara bersenapan di dalem shopping mall. Gile, ada apa ya?
Baru-baru ini, saya berurusan dengan polisi lagi ketika ikutan Traveling Summer University di Spanyol. Polisi beneran dan polisi gadungan. Di Madrid, ada orang sedeng dari Guinea Equator yg nyangka saya ngambil foto dia (padahal saya ngambil foto stasiun Madrid Atocha). Orang item, gede dan resek. Teriak-teriak di jalan. Berhubung saya nyangka di kriminal, saya teriak “policia” berusaha biar kamera saya tidak jatuh ke tangan dia dan orang2 biar ga diem aja (orang2 malah diem). Berhubung ada mobil polisi terdekat, saya kesana bareng dia, lebih aman kan daripada ngasih kamera ke orang nggak jelas. Si hitam tak bisa bahasa inggris dan saya tak bisa spanish. Jadilah ribut2 pake bahasa ga jelas sepanjang jalan ke mobil polisi itu. “I’m gonna hit you” kata dia, asem… asem…. kapan liburan saya bisa damai. Singkat cerita sampailah ke mobil polisi dan saya dan dia menceritakan versi kami sama Pak Polisi. Saya bisa membuktikan di kamera bahwa saya tidak foto dia, melainkan foto stasiun, dan tu orang bilang maaf. “African people are strange people, just stay away from them” kata Pak Polisi. Bener banget, nyebelin banget tu orang.
Beberapa hari kemudian, saya dan Lukas, sesama peserta Summer University dihentikan sama polisi gadungan di Albarracin. Tiba2 aja ada “turis” tersesat yang nanya jalan. Tak lama kemudian ada “polisi” setengah baya meminta saya, Lukas dan “turis” itu menunjukkan identitas dan uang kami. Uang? masa ada polisi yg minta kita nunjukin uang. Untungnya waktu itu di dompet saya duitnya < 10 EUR, dan “polisi” gadungan ini tak tertarik. Yang bikin curiga, ada 1 orang lagi, kayanya komplotan dia yang ikut2an meriksa kita. Mereka berdua tak berseragam. Kayanya bareng “turis” itu mereka komplotan penjahat. Untung kita
 nggak diapa-apain, padahal itu jalan yg kecil dan sempit dan jauh dari jalan raya. Hoki deh. Lalu di Barcelona, Albert nge-joke ketika di salah satu shopping street terkenal di Barcelona, dia bilang “tempat ini adalah the second most touristic place in Barcelona, after the police office”. hehe emang bener tampaknya. Spanyol lumayan banyak petty crimes, alias copet2 ini. Saya bahkan pernah ngeliat dua copet wanita mudah beraksi di dalam metro Madrid. Tapi sebagai orang Indonesia, mungkin insting bahaya kita sudah terasah kali ya, bisa merasakah aura jelek dari copet :p.
Huhhhh, moga2 nggak berurusan sama polisi lagi di masa yang akan datang.
Advertisements
Rencana (masih rough plan), mau balik ke Indonesia pakai jalan darat (mostly kereta). Jadi rutenya kurang lebih
Part 1: To Russia. Delft – Frankfurt – Stuttgart (Bastian) – Muenchen (Kathi) – Dresden – Krakow – Warsaw – Vilnius – Riga – Talinn (Dmitri, Vassily) – Helsinki
Part 2: Trans-Siberia Railway. St Petersburg (Lucy) – Moscow – Suzdal – Nizhny Novgorod – Kazan – Yekaterinburg – Tobolsk – Tomsk – Krasnoyarsk – Irkutsk (Lake Baikal – Olkhon Island) – Circumbaical Railway – Khabarovsk – Vladivostok
Part 3: China. Harbin (Yu Ling, Xiao Fei, Ting Ting) – Shenyang – Tianjin – Zhengzhou – Xian – Chengdu (Xiaoxin) – Chongqing (Maggie) – Guiyang – Kunming
Part 4: Southeast Asia. Hanoi – Vientiane – Da Nang – Ho Chi Minh – Phnom Penh – Angkor Wat – Bangkok (Aun, Nim, Ta, Muna) – Krabi – Kuala Lumpur – Singapore (Albertus, Billy) – Batam – Pekanbaru (Credo) – Lampung – Jakarta.
Durasi +/- 4 bulan.
Duit dari mana ya? ada yg mau sponsorin hehehe 😀
Couchsurfing, banyak banget yg perlu ditebengin……
Still planning and planning….

Copy paste email2 correspondence yang akan berguna.

***

Milis IBP

2010年 3月 11日(木)2:09 am

 
Dear IBPers,
 
Aku mau tanya tentang TransSiberia Railway.
1. Kira2 budget yg diperlukan berapa banyak ya kalau mau dari Moscow ke
Vladivostok, all in?
2. Kalau mau jalannya santai (1 kota stay 3 hari, abis itu lanjut
overnight train), dari Moscow ke Vladivostok butuh brp lama?
3. Musim yang cocok kalau mau mulai dari St. Petersburg musim apa? soalnya
setahu aku winter di Siberia itu ganas, jadi pasti jangan pas winter kan?
4. Kira2 bahasa Rusia wajib tahu karakter2 penting or not? Pengalaman
pribadi, di Jepang pas bulan2 pertama kaya orang buta huruf, karena mereka
tak menggunakan alfabet. Kira2 di Rusia banyak plang yg pake karakter
Alfabet? atau hanya cyrilic saja?
5. Trans-Siberian katanya bercabang tiga, yaitu Trans-Siberia, Trans
Manchuria, dan Trans Mongolia, kira2 yg mana yg paling worth it?
6. Tentang visa, apakah sulit u/ mendapatkan visa Rusia, apakah perlu
invitation letter? bagaimana dengan visa Mongolia?
 
Sekian pertanyaannya, thanks in advance buat yg akan menjawab
 
Ronald

***

Keesokan paginya, supir tuk-tuk yg
kemarin sudah menunggu kami di gerbang hostel. Poli yg emang hobbynya foto,
masih belum puas-puas juga foto tuk-tuk, kali ini si abang tuk-tuk disuruh
bergaya di depan tuk-tuknya. Dari terminal bus yg kemarin kami naik bus kecil
(mirip2 metromini) ke arah Pai. Suasana di dalam bus udah bener2 kaya di Indonesia aja,
ramai dan berisik. Di tengah jalan,
bus kami dihentikan oleh tentara
(atau polisi, pokoknya berseragam). Mereka masuk ke dalam bus dan
memeriksa identitas penumpang satu demi satu. “Many Myanmar people
enter Thai illegally, and this area is near to Myanmar. There will be many
security check like this. Don’t worry
” Aun menjelaskan ketika saya dan Poli
menyakan kenapa ada pemeriksaan di dalam bus. Ada ibu2 tua yg tampaknya protes. Tak berapa
lama kemudian bus disuruh jalan kembali.

Sesampainya di Pai, kami mencari hostel, dan menemukan
tempat yg namanya “golden hut” yang
terletak di tepi sungai Pai (warnanya coklat euy). Hut, seperti pada kata Pizza
Hut, tapi bedanya Hut yg ini berupa rumah kayu. Kami sempat voting karena
dihadapkan pada dua pondok, yg satu lebih kecil (jadi lebih murah) dan yg satu
lebih besar (lebih mahal), dan berdasarkan suara terbanyak (actually semua
milih “hut” yg sama). Pondok (kamar) yg kami tempati lumayan besar, ada satu
king size bed dan kamar mandi di dalam. Selesai beres2, kami keluar dari hostel dan melangkah ke jalan utama kami berpapasan
dengan iring2an perayaan kecil. Lalu kami meng-explore Pai yg bisa
dibilang lumayan kecil untuk ukuran sebuah kota. Hal yg unik disini, banyak banget
bule-nya. Tiap jalan pasti ketemu
bule.

Pai terkenal sama adventure-nya.
Salah satu yg kami coba di hari pertama adalah “elephant safari”, alias safari bersama gajah. Lumayan murah
(seinget saya sekitar 500 bath berdua). Ada
harga ada kualitas, harga murah ini artinya fasilitas duduk di gajah itu bisa
dibilang seadanya. Cuman karung goni
saja yg menutupi punggung gajah. Saya dan Poli tertarik naik gajah, dan Aun
sangat tidak tertarik naik gajah “No Way” kata Aun. “Warmly! Enjoy! Happy!
Welcome to Karen’s elephant camp
”, well at the end of the elephant safari,  I really wanna dispute the word warm (hangat),
karena saya kedinginan.

Akhirnya naiklah kami ke punggung
gajah. Pawang gajah-nya masih muda
(masih belasan tahun) dan sering banget mengajak ngomong gajah itu. Kami berdua naik gajah, dan menembus
“hutan-hutan” Pai sepanjang perjalanan ke arah sungai Pai. Sepanjang perjalanan
temannya pawang gajah ngikutin dari belakang dan saya sibuk mengambil video dan
foto dengan kamera saya. Di deket sungai, ternyata Aun sudah menunggu
dan bilang “hey, give me your camera”. Kami berdua mulai sadar apa yg akan
dilakukan pawang gajah kepada kami berdua. Terlintas di benak kami dua orang
turis sebelum kami bajunya basah kuyup. “pasti mereka diceburin”. Benar saja gajah itu malah mengarah ke sungai dan
kaki2nya mulai masuk ke sungai sambil mengarah ke tengah.

Saya  : Poli, which side we will
fall, right or left?

Poli   : Right, if  left it is too dangerous for us

Saya  : Sh*t (sambil membayangkan
saya terpaksa berenang di air sungai yg berwarna kecoklatan).

Rupanya pikiran orang sama pikiran gajah itu berbeda. Si gajah
menjatuhkan kami ke arah kiri (gajah g*bl*k), yang berarti lebih ke tengah
sungai, dan lebih bahaya.

Sungai yg kami sangka tenang, ternyata
arusnya lumayan deras, dan dalam. Saya berusaha mencari pijakan dan terkaget2
karena kaki saya nggak nyentuh dasar sungai dan kami berdua mulai terseret
arus. Lesson learned here, berenang
di sungai tidak sama dengan
berenang di kolam renang.

Sementara di tepi sungai,
percakapan dalam bahasa Thailand
antara Aun dan temennya pawang gajah

TPG  : Mereka bisa berenang?

Aun   : mmm (sambil ngeliatin
kami yg sedang terseret arus dan berusaha keras untuk mengambang + (masih) tetap
merekam dengan handycam-nya) tampaknya tidak

Suddenly dia nyadar, OMG, temen2
dalam bahaya, (baru saat ini itu dia berhenti merekam). Temen pawang gajah itu
jadi panik dan lari2 di sepanjang tepian sungai berusaha menolong kami yg lagi
terseret arus. Saya jadi inget baywatch,
bedanya ini bukan Pamela Anderson yg lari2 buat nyelamatin kami, tapi
abang-abang Thailand
yg temenan sama gajah yang berusaha nyelamatin kami. Anyhow, saya dan Poli
berhasil berenang ke tepian (usaha sendiri), saya bertahan sama ranting pohon,
Poli berusaha mengambang. Yang
nyebelinnya, pawang gajahnya ketawa2 tanpa menyadari bahwa kami berdua terseret
arus dan bête banget sama dia. Saya jadi pengen nimpuk orang, sayangnya masih
deg-deg-an dan kedinginan (gara2 basah) karena kejadian tadi.

Setelah kejadian tadi, kami masih
tetap kembali naik gajah untuk ke titik keberangkatan. Sampai disana, kaami
ditawarkan, mau ngasih makan gajah nggak?? Tebak makanan gajah apa? Pisang.
Rupanya monyet punya saingan. Tapi gajah2 lebih rakus dibandingkan monyet,
karena mereka makan pisang tanpa mengupas kulit pisang, langsung ditelen
semuanya.

Pulang dari elephant safari, kami
masih menggunakan pick-up Toyota
bak terbuka yg sama. Berhubung basah, saya dan Poli tidak boleh duduk di depan
dan harus berada di bak terbuka itu. Kombinasi yg bisa bikin orang masuk angin.
Dingin (gara2 basah) + Angin. Malamnya kami mencoba makan di satu restoran yg
masuk ke Lonely Planet lalu ke satu restoran lagi yg lumayan cozy.

Di depan P-Building, west campus UEC, Tokyo, Aun dan Raul tampaknya asyik ngobrol tentang sesuatu. Saya yang kebetulan melihat mereka, langsung mendekat dan bergabung. Ternyata mereka sedang membicarakan rencana libur musim panas mereka. Raul yang dari Meksiko tampaknya termakan sama ucapan Dmitri tentang keindahan Thailand. Jadi topic kali itu adalah liburan di Thailand.  Salah satu yang lumayan asyik dari Jepang adalah waktu libur kuliahnya yang lumayan panjang, terutama buat libur musim panas, sekitar 2 bulan, dari Agustus awal sampai end-September. Dmitri, anak Estonia yang seangkatan saya, menghabiskan 2 minggu di Thailand, terutama di Thailand selatan, leyeh2 di pantai dan menyebarkan berita soal liburan dia yg berkesan ke anak2 JUSST. Jadilah September 2006 itu 7 orang anak2 UEC somehow berada di Thailand. Kalau ngitung sama cewek-nya Aun, jadi 8 orang.
Jadilah pembicaraan mereka berdua itu seputar backpacking di Thailand selama summer. Rencana mereka kurang lebih akan sebulan di Thailand. Saya waktu itu lumayan tertarik karena saya belum pernah ke Thailand sama sekali, dan Aun adalah mahasiswa Thailand, lumayan kan kalau ada orang local di group jalan-jalan, at least factor bahasa bisa teratasi. Beberapa minggu ke depan dimulailah perencanaan ke Thailand ini dengan perencana utama Aun, wajar lah dia kan orang Thai. Selain itu Raul dan Poli juga perlu ngurus-ngurus visa buat ke negara2 ini.
Plan awal mereka seperti ini, detailnya ada disini
Tokyo – Singapore
Pesawat (Northwest Airlines)
Singapore – Kuala Lumpur
Kereta Malam
Kuala Lumpur – Hat Yai
Kereta Malam
Hat Yai – Phuket
Bus
Phuket – Bangkok
Pesawat (Air Asia)
Bangkok – Chiangmai
Kereta Malam
Chiang Mai – Ubon Rachatthani
Bus
Ubon Rachatthani – Bangkok
Kereta Malam
Bangkok – Singapore
Pesawat (Air Asia) 1500 baht
Singapore – Tokyo
Pesawat (Northwest Airlines)
Singapore dan Kuala Lumpur hanya akan dapat kunjungan singkat
Phi-Phi jadi basecamp u/ Southern Thailand (Phuket, PhiPhi)
Bangkok jadi basecamp u/ Central Thailand (Bangkok, Ayutthaya, Ancient City, Floating Market)
Pai jadi basecamp u/ Northern Thailand (Chiangmai, Mae Hong Son, Pai)
Ubon Rachatthani u/ Northeastern Thailand (Ubon, perbatasan Laos, etc)
Karena mereka rencananya berangkat dari akhir Agustus selama 28 hari sampai akhir September, dan saya tidak bisa, maka saya skip rencana mereka yang dari Singapore – Phuket dan gabung di Phuket (atau PhiPhi) dan bergabung di hari ke-8 perjalanan mereka. Di Thailand selatan ini, ceweknya Aun dan bbrp anak2 JUSST angkatan saya yang lagi liburan disini janjian ketemu dan jalan2 bareng, untuk kemudian pisah lagi. Jullietta dan Hugo naik bus ke Bangkok, sedangkan saya dan yang lainnya naik Air Asia ke Bangkok.
Di Bangkok, Jullietta dan Hugo langsung ke Chiang Mai, kami yang rencana awal ke Chiang Mai mengubah rencana karena ketika itu di Chiang Mai sedang hujan deras dan ada longsor, tahu dari Aun yang denger berita di radio. Akhirnya yang rencana awal Bangkok – Chiang Mai – Ubon Rachatthani – Bangkok, dimodifikasi ke Bangkok – Ubon Rachatthani – Chiang Mai – Bangkok.
 
Atraksi wisata di tiap kota
Bangkok -> Royal Palace & Emarald buddha
Di website wikitravel cukup banyak info, mungkin bisa dilihat sendiri.
http://wikitravel.org/en/One_day_in_Bangkok
Ayutthaya -> Tempat yg unik dan ciri khas Thai (several hours from Bangkok)
Ancient City -> semacam Taman Mini gitu, tapi di outskirt Bangkok (+/- 1 Jam)
Chiang Mai, mendingan bablas ke Pai dan Mae Hong Son aja…. deket ke Myanmar…
Pai skrg mulai terkenal…. Kota kecil, populasinya 3000an orang, yg dijual wisata adventurenya…. semacam hidden hideaways buat orang2 yg bosen dengan Bangkok – Chiang Mai – Chiang Rai
Phuket -> terlalu ramai (lebih cenderung seperti pantai kuta di bali). Mendingan di Phuket setengah hari aja, lanjut ke Phi Phi Islands
Phi Phi Islands -> pulau yg bagus dikunjungi ada Maya Bay (tempat syuting the Beach – deket Phi Phi)
 
Phi-Phi Islands
Pulau ini pernah dipake shooting lokasi 2 film, lokasi “Maya Bay” buat film the beach, sama ada 1 pulau yg pernah di pakai film James Bond. Pantainya bagus2, (terbagus yg pernah saya kunjungi malah) termasuk lumayan murah jg. Dulu saya pernah ikut 1 day tour, belinya pas di phi-phi itu 500an baht, termasuk snorkeling di bbrp tempat. Film the Beach terlalu “hollywood”. Buat masuk ke pantai tempat shooting mereka itu (Maya Bay) ga seheboh di filmnya.
Satu hal yg harus diingat yg harus diingat soal waktu. Ke phi-phi butuh 2 jam dari dermaga phuket. Blm lagi dari phuket airport ke dermaga (naik minibus kalo ga salah 100 baht, tp ke phuket town bukan ke dermaga). Seingat saya ferry paling akhir itu jam 3 sore (tapi bagusan u cek lagi).

Transportasi
URL ini untuk Rute dari Singapore -> Bangkok.
http://www.seat61.com/Malaysia.htm
Kalau dari bangkok masih mau keliling Thai lagi,
http://www.railway.co.th/English/
 
Akomodasi
Singapore: tidur di Changi airport
Malaysia: Hostel
Hat Yai : ??? entah Aun, Poli dan Raul nginep dimana
Phuket: Hotel. Saya gabung dengan mereka dari Phuket
PhiPhi: nginep di “bungalow” tepi pantai 400 baht buat 2 orang (Twin Plum)
Bangkok: Rumah Aun
Ubon Rachatthani: Rumah ortu Aun
Chiang Mai: Hostel
Pai: Hostel tepi sungai
Mae Hong Son: nginepnya di Pai
Ayutthaya: nggak nginep, dikunjungi dalam arah Chiang Mai – Bangkok

Tidur di changi airport
Begitu keluar dari imigrasi kita bisa cari tempat yg namanya “The Viewing Mall”. Saya dulu pernah tidur disini bareng temen2 nunggu flight yg pagi2 jg. Jangan lupa bawa koran u/ alas tidur. Tapi kalo lupa, bisa aja ke tourist information, ambil peta singapore gratisan yg gede (kurang lebih 3), bisa jadi alas tidur
 
Transit di KL LCCT
Kalau transit 6 jam kayanya nanggung tuh… Tp di LCCT KL nggak ada yg bisa dilihat sih…Tapi kalo anda sempatkan ke KL kayanya anda seolah2 akan dikejar2 waktu selama anda di KL, dan kalo apes, ketinggalan pesawat.
Tp kalo mau dicoba ke KL naik Bus dari Airasia aja, murah meriah, seingat saya sekitar RM 9…
Ada bank yg cukup reliable, buat tempat nuker uang pokoknya yg plang-nya warna ungu, lupa namanya…
 
Bahasa
Nggak ada masalah, karena Singapore dan Malaysia ngerti English dan Melayu. Dulu pas backpacking di thai, salah satu anggota rombongan anak Thai, jadi dia yg jadi leader Soal bahasa mendadak aman.
Kalo ga ada yg bisa Thailand, lebih baik beli pocket book English – Thai yg ada thai characternya. Cukup membantu. (sekitar 100rb-an)..

Estimate biaya di phuket
Hotel 1 malam +/- 700 baht (AC/TV, double bed)
Taxi dari airport ke pusat kota +/- 300 baht
Makan +/- 40 – 80 baht
Tiket Pesawat (coba aja ke website air-asia)
Ferry Phuket – Phi-Phi Island one way 500 baht
Tour 1 day di Phi-phi islands 100 baht (ini termasuk snorkeling, but not diving).

Bank