China


Nemu email lama,
pengalaman sedeng teman exchange …..
anak2 exchange emang the best deh ūüėõ


From: *deleted*
To: *deleted*
Sent: *deleted*, March 1, 200* 7:00:49
Subject: *deleted*

Hi everyone,

Just wanted to say hi to you all because I’m happy to be alive after my little adventure in China and NOrth Korea. Here’s the story and you’ll understand why. This is just the short version I’m planning to write a longer one some day.
I went to China with a friend who is studying in China as an exchange student from as an exchange student, *deleted*.

K and I were held at gun point by North Koreans when we went to Dandong (the place which shares a border with China). We were playing on the frozen river which acts as a natural border.
I decided to climb up the banks onto the other side to have a closer look because everything looked so peaceful. There was a tiny hut about 20 metres away but it looked dead.
As we were walking back to go back to China, *deleted* screamed “there’s a man climbing the fence”.
I turned around and sure enough there was an army officer clibing the fence.
Next thing I know there are 3 guys with rifles grabbing us and telling us to climb the fence to North Korea.

After wasting a lot of time ( I didn’t want to get over the fence) they were screaming yelling pointing the rifle at us .
One took my bag and threw it over.
We finally decided to go over.
They held us for about 5 hours acking questions about our family (checking that we weren’t spies) but they were very nice to us. They actually seemed to be very curious about us.
Anyway they eventually let us go back over the fence to China.

*deleted* safe in South Korea

Beberapa hari yang lalu, pas lagi ke tempat temen di Spacebox buat belajar ngotak ngatik HP baru, mampir bentar ke kost-an yg lama.Christine, penghuni baru begitu ngeliat saya langsung balik ke kamarnya dan bilang “I have one letter for you”. Hehe dia sering saya repotin buat ngasih tau saya kalo ada surat yg masih masuk ke alamat yg lama (yg kebetulan sekarang ditempatin dia). Tapi surat kali ini berbeda, kop suratnya bertuliskan “Politie“. Abis ngeliet, langsung dalam hati mikir2 “D*mn salah saya apa, kenapa bisa dapet surat dari polisi?”
Pada saat itu langsung tahu bagaimana jadi orang yg nerima surat denga logo polisi, padahal surat-surat yg saya terima biasanya logo universitas, NS (perusahan kereta), insurance atau advertisement ga jelas y g nawarin barang. Udah gitu surat polisi ini bahasa Belanda lagi “Gw salah apa ya?”. Langsung diketik di google translation di kamarnya temen, translate dan ternyata inti surat itu cuma diminta ngisi kuisioner via internet. Asem…. bikin ketar ketir aja.
Kejadian itu mengingatkan saya pada beberapa kejadian dengan polisi yang pernah saya alami. Dulu di Essen, saya dan Andreas pernah dalam sehari kena dua kali pemeriksaan sama polisi, nanyain paspor. Pemeriksaan pertama dan kedua hanya berselang beberapa menit.
Di Jepang pernah beberapa kali berinteraksi sama polisi. Sekali di deket Chofu station. Waktu itu lagi ngeliatin foto wanted list alias buronan di Jepang yang di tiap fotonya dikasih hadiah uang kalau bisa ngasih informasi yg mengarah ke penangkapan tersangka. Iseng2 saya bilang ke Beer, “Hey, that one is look like you” sambil nunjuk satu foto dan ngeliat muka dia. Rupanya tingkah laku kita mencurigakan polisi di dalam kantor polisi yang out of sudden keluar dan “mengundang” kami berdua masuk. Berhubung waktu itu saya masih belum bisa bahasa Jepang, masih bulan2 awal di Jepang, Beer yang nge-jawab pertanyaan Pak Polisi. Keluar2 dari kantor polisi Beer tampangnya bete gitu dan bilang “Next time hati2 kalo nunjuk foto kriminal”. Duh, jadi ga enak :D….
Udah gitu di Aomori central station. Lagi winter holiday dan waktu itu saya mau mengunjungi teman saya di Hokkaido. Berhubung waktu transit lumayan lama, buat nunggu kereta malam “express Hamanasu” Aomori – Sapporo, daripada bengong di dalam, saya keluar stasiun buat foto2. Pake backpack gede, bawa tripod, malem2 berkeliaran di sekitar stasiun foto2 rupanya mencurigakan. Dua polisi suddenly menghampiri saya dan menanyakan identitas. Bahasa Jepang saya masih kacau dan dua polisi muda ini nggak bisa bahasa Inggris, kombinasi yg bagus buat bahasa tarzan.
Di-“interogasi” selama 15an menit di luar stasiun, mana cuacanya dingin banget lagi (winter). Sambil interogasi mereka ngisi-ngisi formulir bahasa Jepang dan ngomong2 diantara mereka. Saya tak sengaja menangkap kata “onnanohito” yang artinya wanita di percakapan mereka. Berhubung bete di-“interogasi” saya akhirnya minta foto bareng mereka dan rupanya itu efektif buat ngusir dua polisi kurang kerjaan ini. Mereka akhirnya balikin “alien card” saya dan nyari orang lain buat diinterogasi. Ketika saya cerita ke Suwandi, dia ketawa2 dan bilang “Nald, lu disangka pervert tuh, kayanya ada orang (wanita) yang lapor ngeliat orang mencurigakan berkeliaran di sekitar stasiun”. Sialan. Rupanya di Jepang banyak pervert berkeliaran pake kamera, dan apesnya saya disangka salah satu dari mereka. Padahal kamera saya kamera saku. Parah.
Tapi pengalaman paling seru dengan polisi ketika kelas “Japanese Human Relations” kami ada acara Tokyo Excursion yang ditutup dengan acara makan2 di salah satu restoran di Asakusa. Feeling saya ketika masuk lumayan jelek karena orang yang duduk di sebelah meja kita mabuk. Satu orang bahkan mengangkat kursi dengan satu tangan dan ngomong2 nggak jelas.¬†Sepanjang makan malam, kami terganggu dengan meja sebelah kami yang dihuni oleh orang mabuk, yang sudah dikomplain berkali-kali oleh Profesor ke pihak restoran, tetapi tidak ditanggapi dengan serius. Sekali waktu si cewek mabuk udah telentang di atas meja makan dan salah satu cowok yang mabuk tangannya masuk ke dalam rok. Si cewek terang aja nggak mau. Akhirnya si cowok bete dan memperlihatkan barang dia ke si Cewek.
Kebetulan dua teman saya (cewek) pas lagi ngeliat ke arah situ dan teriak. Batas kesabaran Profesor sudah habis dan membentak mereka. Mereka menyerbu meja kami untuk memukul Profesor kami (yang baru saja membentak mereka) dan tampaknya bentrokan fisik sudah tidak bisa dihindarkan kalau pelayan toko tidak menahan laju kedua pria mabuk tersebut. Pokoknya udah ribut banget. Dia sempat menendang meja kami sehingga salah satu teman tanganya terjepit meja. Hugo di barisan terdepan, saya di belakang dia dan semua siap2 buat tawuran. Sempat ada insiden yg berkaitan dengan pisau. Situasi sempat panas, Hugo juga mesti ditenangkan sama kita2 (ternyata orang Meksiko panasan). Polisi Jepang rupanya lambat banget datangnya. Kita sampe udah bete nungguin mereka dateng. Udah gitu pas dateng mereka bener-bener nggak ada wibawa sama sekali. Si cewek mabuk bahkan bergelayut di dada salah satu polisi setengah baya sambil ngambil topi si polisi. Udah gitu polisi2 ini cenderung persuasif, nggak ada acara borgol2an. Beda kaya polisi di Indo yang kayanya kalo kejadian kaya gini udah main hantam aja. Kesan yang kami dapatkan. Polisi Jepang lembek2. Btw foto yang pertama kali dilihat itu foto pas kejadian ini.
Lain di Jepang, lain pula pengalaman di China. Di Xian ada polisi yang memeriksa paspor setiap orang yang mau masuk ke dalam Xian Central Station. Entah apa maksudnya. Beberapa hari kemudian saya menghabiskan waktu hampir sejam di kantor polisi Shanghai. Ketika itu saya baru sampai di Shanghai setelah perjalanan 16 jam naik kereta dari Xian. Masih teler. Sambil teler karena kecapekan inilah saya mencari tourist information Shanghai, yang susah banget ditemui. Lagi capek2 gitu, saya ditabrak sama orang, dan refleks saya langsung megang kantong. Sialan, HP nggak ada di kantong. Akhirnya nyarilah kantor polisi terdekat yg kebetulan sekali ada di stasiun. Pengen bikin surat kehilangan, biar diganti sama insurance di Jepang.
Di dalam kantor polisi, untung banget ada yg bisa bahasa Inggris, tapi disuruh nunggu dulu. Pas dipanggil, duduk, ngasih liat paspor, dkk, kenapa di paha kiri ada yg ngeganjel ya. Diraba2, ternyata “lho HP gw kok bisa disitu.” Rupanya gara2 kecapean, abis telepon, saya masukin HP bukan ke kantong jeans, tapi justru diantara jeans dan long john. Dan HP itu ketahan di atas paha karena ada tas paha (yg buat jalan2). Berhubung ngerasa udah ketemu dan polisi2 ini ga tau, saya berusaha “OK sir, I’ll let it go” dan membatalkan bikin surat kehilangan HP. Polisi Shanghai rupanya kelewat ramah, “Tinggal dikit lagi, diselesaikan saja”. Dan saya langsung pengen ngeloyor pergi. Tiba2 di pintu masuk kantor polisi, HP jatuh dari balik celana jeans. Di background “You don’t loose your phone”.¬†Aduh, tengsin banget, ngelapor hilang HP padahal HP nyelip di antara jeans dan long john. Langsung jalan tanpa ngeliat ke belakang lagi. Benar2 kehilangan muka. Udah gitu pas chatting sama Juanda di MSN, dia ngakak lagi. Apes, pas balik ke Jepang bbrp teman tahu kejadian ini. Duh…..
Lalu di Busan, Korea Selatan, saya pernah disamperin polisi pantai sambil bilang “dame, dame” yang dalam bahasa Jepang artinya “tidak boleh, tidak boleh”. Waktu itu saya lagi foto-foto di Hyeundae Beach sambil bawa tripod dan kamera. Sialnya, di Korsel, orang Jepang disangka pervert semua dan saya disangka sebagai orang Jepang. Udah gitu polisi pantai ini ngomong pake bahasa Jepang dan saya tanpa sadar reply pake bahasa Jepang juga. Nggak bener, kan ga semua orang Jepang pervert, dan saya bukan orang Jepang.
Masih di korea juga. Di DMZ alias DeMiliterized Zone, daerah perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Tentara berfungsi jadi tukang “ngusir” orang keluar dari kereta. Dari Seoul kami hanya bisa naik kereta ke Imjingang, lalu dari situ semua turis mesti ke semacam pos buat dapet kartu identitas yang kalo ga salah dituker sama paspor. Di satu bus, cuman saya yang satu-satunya orang non-Korea, bengong ga ngerti apa2 pas ada orang yg ngomong di depan bus. Di daerah ini entah kenapa banyak bener tentara, mungkin gara2 Korsel dan Korut statusnya masih perang kali ya.
Sebulan setelah di Korea, saya dan teman2 JUSST berlibur ke Thailand. Dalam perjalanan dari Chiang Mai ke Pai (Thailand Utara), bus kecil kami sempat dihentikan polisi/tentara yang memeriksa identitas semua penumpang. Aun sempat bilang “Disini banyak orang Myanmar yang ilegal Nald, makanya banyak pemeriksaan”. Kejadian yang sama kami alami ketika pulang dari Pai ke Chiangmai, minibus kami berkali-kali dihentikan buat diperiksa. Ternyata ketika itu ada kudeta di Thailand (19 Sept 2006) dan militer berkuasa. Sepanjang perjalanan ke Chiangmai saya melihat beberapa tank berkeliaran. Udah gitu di Chiangmai station banyak banget tentara bersenapan di dalam stasiun. Hal yang sama kami liat beberapa hari kemudian di jalan-jalan di kota Bangkok, banyak tentara. Sementara di Indo nyokap udah panik karena saya di Thailand pas kudeta (katanya sempet turun 5 kilo).
Soal tentara di stasiun ini rupanya tidak hanya di Thailand. Di Paris, ketika diadakan Paris Air Show, banyak sekali tentara berkeliaran di stasiun-stasiun di Paris. Saya sampai nanya2 ke Arryn kenapa banyak banget tentara di stasiun. Dia jg nggak tau kenapa. “Biasanya nggak kaya gini Nald”. Udah gitu pas di La Defense, pas nemenin Arryn dan Mbak Wahyu belanja, kami melihat tentara bersenapan di dalem shopping mall. Gile, ada apa ya?
Baru-baru ini, saya berurusan dengan polisi lagi ketika ikutan Traveling Summer University di Spanyol. Polisi beneran dan polisi gadungan. Di Madrid, ada orang sedeng dari Guinea Equator yg nyangka saya ngambil foto dia (padahal saya ngambil foto stasiun Madrid Atocha). Orang item, gede dan resek. Teriak-teriak di jalan. Berhubung saya nyangka di kriminal, saya teriak “policia” berusaha biar kamera saya tidak jatuh ke tangan dia dan orang2 biar ga diem aja (orang2 malah diem). Berhubung ada mobil polisi terdekat, saya kesana bareng dia, lebih aman kan daripada ngasih kamera ke orang nggak jelas. Si hitam tak bisa bahasa inggris dan saya tak bisa spanish. Jadilah ribut2 pake bahasa ga jelas sepanjang jalan ke mobil polisi itu. “I’m gonna hit you” kata dia, asem… asem…. kapan liburan saya bisa damai. Singkat cerita sampailah ke mobil polisi dan saya dan dia menceritakan versi kami sama Pak Polisi. Saya bisa membuktikan di kamera bahwa saya tidak foto dia, melainkan foto stasiun, dan tu orang bilang maaf. “African people are strange people, just stay away from them” kata Pak Polisi. Bener banget, nyebelin banget tu orang.
Beberapa hari kemudian, saya dan Lukas, sesama peserta Summer University dihentikan sama polisi gadungan di Albarracin. Tiba2 aja ada “turis” tersesat yang nanya jalan. Tak lama kemudian ada “polisi” setengah baya meminta saya, Lukas dan “turis” itu menunjukkan identitas dan uang kami. Uang? masa ada polisi yg minta kita nunjukin uang. Untungnya waktu itu di dompet saya duitnya < 10 EUR, dan “polisi” gadungan ini tak tertarik. Yang bikin curiga, ada 1 orang lagi, kayanya komplotan dia yang ikut2an meriksa kita. Mereka berdua tak berseragam. Kayanya bareng “turis” itu mereka komplotan penjahat. Untung kita
¬†nggak diapa-apain, padahal itu jalan yg kecil dan sempit dan jauh dari jalan raya. Hoki deh. Lalu di Barcelona, Albert nge-joke ketika di salah satu shopping street terkenal di Barcelona, dia bilang “tempat ini adalah the second most touristic place in Barcelona, after the police office”. hehe emang bener tampaknya. Spanyol lumayan banyak petty crimes, alias copet2 ini. Saya bahkan pernah ngeliat dua copet wanita mudah beraksi di dalam metro Madrid. Tapi sebagai orang Indonesia, mungkin insting bahaya kita sudah terasah kali ya, bisa merasakah aura jelek dari copet :p.
Huhhhh, moga2 nggak berurusan sama polisi lagi di masa yang akan datang.
Rencana (masih rough plan), mau balik ke Indonesia pakai jalan darat (mostly kereta). Jadi rutenya kurang lebih
Part 1: To Russia. Delft РFrankfurt РStuttgart (Bastian) РMuenchen (Kathi) РDresden РKrakow РWarsaw РVilnius РRiga РTalinn (Dmitri, Vassily) РHelsinki
Part 2: Trans-Siberia Railway. St Petersburg (Lucy) РMoscow РSuzdal РNizhny Novgorod РKazan РYekaterinburg РTobolsk РTomsk РKrasnoyarsk РIrkutsk (Lake Baikal РOlkhon Island) РCircumbaical Railway РKhabarovsk РVladivostok
Part 3: China. Harbin (Yu Ling, Xiao Fei, Ting Ting) РShenyang РTianjin РZhengzhou РXian РChengdu (Xiaoxin) РChongqing (Maggie) РGuiyang РKunming
Part 4: Southeast Asia. Hanoi РVientiane РDa Nang РHo Chi Minh РPhnom Penh РAngkor Wat РBangkok (Aun, Nim, Ta, Muna) РKrabi РKuala Lumpur РSingapore (Albertus, Billy) РBatam РPekanbaru (Credo) РLampung РJakarta.
Durasi +/- 4 bulan.
Duit dari mana ya? ada yg mau sponsorin hehehe ūüėÄ
Couchsurfing, banyak banget yg perlu ditebengin……
Still planning and planning….

Copy paste email2 correspondence yang akan berguna.

***

Milis IBP

2010ŚĻī 3śúą 11śó•Ôľąśú®ÔľČ2:09 am

 
Dear IBPers,
 
Aku mau tanya tentang TransSiberia Railway.
1. Kira2 budget yg diperlukan berapa banyak ya kalau mau dari Moscow ke
Vladivostok, all in?
2. Kalau mau jalannya santai (1 kota stay 3 hari, abis itu lanjut
overnight train), dari Moscow ke Vladivostok butuh brp lama?
3. Musim yang cocok kalau mau mulai dari St. Petersburg musim apa? soalnya
setahu aku winter di Siberia itu ganas, jadi pasti jangan pas winter kan?
4. Kira2 bahasa Rusia wajib tahu karakter2 penting or not? Pengalaman
pribadi, di Jepang pas bulan2 pertama kaya orang buta huruf, karena mereka
tak menggunakan alfabet. Kira2 di Rusia banyak plang yg pake karakter
Alfabet? atau hanya cyrilic saja?
5. Trans-Siberian katanya bercabang tiga, yaitu Trans-Siberia, Trans
Manchuria, dan Trans Mongolia, kira2 yg mana yg paling worth it?
6. Tentang visa, apakah sulit u/ mendapatkan visa Rusia, apakah perlu
invitation letter? bagaimana dengan visa Mongolia?
 
Sekian pertanyaannya, thanks in advance buat yg akan menjawab
 
Ronald

***

Minggu pagi ini, sambil ngantuk-ngantuk saya melihat inbox saya di
Yahoo, ada satu email dari M (nama disamarkan karena email dia isinya
sensitif). Dia ditodong senapan(gun point) sama tentara Korut yang
memaksa dia dan teman dia, inisial C, untuk memanjat pagar ke Korut.

Saya
terakhir kontak dengan M bulan lalu. Terus terang saja saya pagi ini
kaget terima email dia (ke saya dan teman-teman yang lain) dan cerita
bahwa dia baru aja trip dari China dan sempat diinterogasi (questioned)
selama lima jam oleh tentara Korut. Kok iso?

/*mencoba translate dari Inggris ke Indonesia isi email dia*/

Ceritanya
mereka berdua lagi liburan ke daerah perbatasan di China, dari daerah
perbatasan ini ke Korut hanya dipisahkan dengan sebuah sungai yang
merupakan batas alam antara China dan Korut. Berhubung tampaknya disana
masih musim dingin, mereka main-main di atas sungai yang sedang membeku
ini (frozen river) dan M yang melihat di seberang sungai tampak damai,
memutuskan untuk ke tempat itu.

Entah lagi dimana rasio
mereka, mereka ke bagian lain dari sungai tersebut. Mereka melihat
pagar, dan sebuah pondok (bener ga ya terjemahan Hut =  Pondok) yang
tampaknya tak berpenghuni. Ketika mereka memutuskan balik ke sungai
beku itu, tiba-tiba C teriak “ada yang manjat pagar”. Ternyata dari
pondok tersebut keluar seorang perwira (officer) yang kemudian memanjat
pagar lalu berjalan ke arah mereka.

Kelanjutannya, sudah ada
tiga tentara dengan senapannya yang mengambil (grab) mereka dan memaksa
mereka memanjat pagar. M dan C ini rupanya tidak mau memanjat pagar,
dan sempat terjadi adu mulut antara mereka dan tentara itu sampai
akhirnya tiga tentara berteriak-teriak dan menodongkan senjata ke arah
mereka berdua. Terus terang saya berminat melihat bagaimana adu mulut
ini karena M ini terkenal sebagai wanita yang galak (dan ceria).

Dibawah
todongan senjata, terpaksa mereka memanjat pagar dan berakhir selama
lima jam ditanya-tanya sama tentara Korut itu. Pertanyaan tentang
keluarga dan mengecek mereka bukan mata-mata. (M ini warga negara salah
satu musuhnya Korut, kewarganegaraan C saya tak tahu, tampaknya sama
seperti M). Kata M tentara-tentara ini sangat curious tentang mereka
dan mereka diperlakukan dengan baik. Untungnya mereka diperbolehkan
memanjat pagar lagi ke arah China dan M sekarang sudah di Korsel.

/*selesai menerjemahkan*/
Disclaimer: saya menganggap email dia beneran.

Setelah
baca email M, saya yang setengah tidak percaya langsung comment di
Facebook dia yang profile picturenya udah diganti foto dia sama
presiden Korut (hasil Photoshop), comment di foto tersebut yang dalam
bahasa Indonesia kira-kira “Istri Presiden Korut yang berikutnya
ahahahaha”. Dia (dan cowoknya ketika itu) termasuk teman dekat saya
ketika kami kuliah di negeri sakura dan dia termasuk orang yang suka
saya becandain (and/or godain).

Tak lama kemudian dia emai
dengan judul “Not Fun”. Isinya, dia tidak merekomendasikan hal ini
untuk orang lain. Dia bahagia masih hidup. Dia menulis email ini untuk
memperingatkan orang lain untuk tidak bertindak gila seperti dia.

Saya
yang awalnya mengira dia bercanda, langsung berpikir “omg, this is
real”. Langsung online di MSN (yang biasanya sangat jarang saya buka)
buat chatting sama M. Langsung saya hapus comment di FB, gara-gara dia
tampaknya agak bete.

Sepanjang chatting dia bilang, sangat
beruntung bisa keluar dari Korut. Nasib mereka bisa saja berbeda, dan
mungkin menjadi kasus orang hilang.

Kami berdua yang pernah
bareng-bareng menuntut ilmu di Jepang mahfum separah apa Korut itu. Di
Jepang, Korut merupakan negara yang ditakuti karena Presidennya yang
sakit jiwa, dan mereka punya nuklir. Ditambah lagi adanya warga Jepang
yang diculik agen-agen rahasia Korea Utara di tahun 1970-an dan
1980-an. Selain itu ketika kami disana, Korut sempat menguji rudal Tae
Po Dong yang jatuh di teritori Jepang. Dengan kata lain, kalau setan
punya negara, mereka pasti berdiam di Korut. Tak heran Bush sampai
menjuluki Korut sebagai salah satu anggota “axis of evil”.

Saya
sendiri hanya pernah melihat Korut dari daerah perbatasan Korsel. Dari
daerah yang beken dikenal sebagai DMZ, saya bisa melihat pegunungan di
Korut. Sebatas itu, hanya melihat. Tapi saya salut sama orang Korsel,
bisa bikin De-Militerized Zone mereka jadi atraksi wisata. Padahal kan
bahaya, kalo pecah perang (mereka sampai saat ini secara de jure
statusnya masih perang, meskipun secara de facto tidak ada perang
beneran)

Disini pula saya pernah buat foto yang sempet bikin
heboh teman-teman. Unifikasi korea merupakan hal yang sangat
di-idam-idamkan Korsel, sehingga di daerah perbatasan (Dora-san
Station), mereka bahkan bikin peron yang tulisannya “To Pyongyang”.
Saya foto di bawah plang ini dan mengirimkan ke teman saya, Beer, yang
dengan bocornya menganggap saya ke Korea Utara. Walhasil waktu itu ada
kehebohan di kalangan teman-teman saya.

Pas di DMZ ini banyak
banget produk-produk Korut, dan saya beli satu botol Soju (semacam
sake-nya Korea), made in North Korea. Soju ini pula yang saya berikan
buat sensei saya dan ketika melihat Soju ini dibuat dimana kaget
beneran. Tampaknya beliau mikir liburan musim panas itu saya beneran ke
Korut, padahal bukan hehehe :).

Balik ke M, yang masih
emosional, saya bilang, tak tahu kamu itu beruntung atau irasional.
Tapi yang jelas, kamu beruntung bisa kembali ke China dengan selamat
dari Korut, dan kamu tahu tidak, sangat sulit mendapatkan visa ke
Korut, dan u masuk tanpa visa.

Soal susahnya visa ke Korut ini
saya ketahui dari salah satu roommate saya ketika menginap di sebuah
Youth Hostel di Beijing. Dia orang Jepang dan berhubung dia punya
tujuan yang eksotis, Pyongyang, (eksotis bagi saya dan Arqui), saya
minta dia menceritakan perjuangan dia mendapatkan visa ke Korut.

Visa
ke Korut ini katanya gampang-gampang susah dapatnya, tergantung mood
pemerintah Korut. Sudah gitu, visa ini tak akan ditempelkan di paspor
anda. Apply visa, lalu paspor ditahan, dan diganti selembar surat masuk
ke Korut. Sudah gitu, harus ikutan travel biro yang disetujui
pemerintah Korut plus tidak boleh foto-foto sembarangan, hanya boleh di
tempat-tempat yang ditentukan. Paranoid banget orang-orang Korut ini.
Begitu balik ke perbatasan China, kertas diambil, paspor dikembalikan,
sama sekali tak ada bukti di paspor anda bahwa anda pernah ke Korut,
demikian penjelasan backpacker Jepang ini.

Soal Korut ini,
saya pernah diajak Arqui, teman Mexico saya yang benar-benar petualang,
untuk traveling kesitu. Berhubung Arqui saat itu lagi mabok, saya
mengiyakan ajakan dia, sambil berpikir, gila aja, nanti aja kalau udah
unifikasi ke Korut. Saya masih sayang nyawa. Tempat berikut yang dia
propose adalah Tibet, yang ini saya setuju, meskipun akhirnya liburan
summer itu tidak jadi kesana dan ends up backpacking di Thailand bareng
anak2 JUSST, termasuk M ini.

Terus terang, saya benar-benar
grateful, teman saya ini kembali dengan selamat. Saya tidak tahu apakah
ini akan jadi insiden diplomatik atau tidak, secara dia ini warga
negara musuhnya korea utara.

Saya kadang-kadang berpikir,
teman-teman saya ini pengalamannya yang langka-langka. Satu teman saya
yang lain, F, bahkan pernah ke Timor Timur secara ilegal, meskipun cuma
sehari. Seperti biasa, daerah perbatasan.

Summer 2005, tante
saya yang tinggal di Ceko, ketika tahu saya gagal mendapatkan visa Ceko
(waktu itu Ceko masih belum bagian Schengen), bilang “tante tahu rute
yang tidak dijaga dari Jerman. Rencananya waktu itu saya ke Dresden
(yang hanya 1 jam dari perbatasan Jerman – Ceko, dijemput mereka, dan
jalan-jalan ke Ceko sebelum balik ke Indonesia. Artinya, masuk ke Ceko
secara ilegal (tanpa visa).

Hahaha, saya termasuk orang yang
sesuai prosedur dan rasional. Kan tidak lucu kalo sampe di deportasi
(hampir kejadian sama saya di Korsel). Lucunya, semuanya ini wanita,
apakah wanita irasional? Peace kaum wanita :).

 
Spring Holiday 2006
Route: Beijing – Xian – Huashan Mountain – Xian – Shanghai – Beijing

*** 
This email is the trigger of my trip to China

***
Ronald, I’m glad I can help you with little information I have.

> 1. Have you made itenary plan before coming to China? i.e. You book
> hostel and train ticket from japan?

I made no itinerary at all. I was lucky to be with a wild friend so we could dynamically go to wherever we wanted. The original itinerary, that we knew we could change at any time as we liked was the following:

– arrive to Beijing and the morning after take train to Shanghai
– 3 days in Shanghai and go to Shaolin Temple
– 1 day in Shaolin and continue to Xian
– 4 days in Xian and train to Beijing back
– 2 days in Beijing to see the main attractions and go to Harbin
– 2 days in harbin and go back to Beijing for the last preparations to go back
– 5 days in Beijing

Finally we did not go to harbin. We were sick of those trains.

We did not know anything about hostels, hotels, or anything. We were ready to sleep in the streets or wherever we could. Actually we had in mind to sleep during nightover trains to save money of the accomodation.

> 2. How much does it cost for the plane? and total cost?

I paid, included all taxes 43,000 yen round trip 20 days fixed. Northwest airlines. Take a look to Number-One travel. There are other cheap places for sure.

Total cost, 43,000 yen + 50,000 yen = 93,000 yen
included price for entrance for main attractions, transportation (4-th class, standing in the trains), A LOT OF BEER.

> 3. Is there many coin lockers in china

I did not see anything. I recommend you to bring a backpack with the minimum. You can always buy there undies or tshirts. Take a good coat, it may be very cold.

> 4. Do you need to apply visa?

I am, mexicans we need visa. The visa took 2 weekdays and it cost me 3,000 yen single entry. The embassy is in roppongi.

> 5. How about transportation in china, is it good enough (or acceptable)?

Depends on the price you want to pay. They say local airlines are cheap. But I took 4th-class train. Night train, no seat at all, sometimes if there was available we could take. But I recommend you to pay a little extra and get a bed, shared bed.

> 6. Is there any tourist information in (or near) the main station?

There are all this services. In every major city we went we had detailed maps for tourists.

Get ready to walk, and WALK, AND WALK. I never took a local train/bus or anything. We were walking probably around 20kms every day. Those chinese cities are big.

I can bring you next wednesday information of the BEST hostel in Beijing. I’ll give you the details in person. I recommend you taht hostel, I would come back there forever. I spend the most memorable times of my trip there, drinking cheap beer.

I think I can get you also Xian hostel information.

Regards

r-Q

***

Gua tgl 9 maret 2006 – 23 maret 2006 kemarin ke china…. pas weekend temen gua yang di beijing temenin gua jalan2….. Selama di china gua ke beijing dulu 3 hari 2 malam, abis itu ke Xian (13 jam naik kereta malam dari beijing), di xian 3 hari 2 malam (sempet ke Terakota Warriors dan Gunung Huashan 2160 dpl), abis itu ke
shanghai (16 jam dari kereta dari xian) -> tua di jalan…. disitu 3 hari 2 malam… abis itu balik lagi ke beijing naik kereta malem (13 jam) menghabiskan sisa
hari2 gua di china di beijing…. udah gitu tgl 23 gua dapet morning flight, jadi gua bermalam di bandara, tidur di bandara deh (tidur2an gitu) capek abis…… makanya kemarin malem gua tidurnya 12 jam gitu…. balas dendam…..

Kita jadi reunian kecil2an gitu di Beijing, temen SMU gua ada 4 orang lagi kuliah bahasa disana… tapi cuman ketemu 3 dari mereka. setelah bertahun2 tidak ketemu, malah ketemuan di china, bukannya di jakarta,¬†

***

Ok. tempat yang gua suka di China itu SHANGHAI, terutama daerah THE BUND, di sepanjang sungai yang membelah kota shanghai. Bangunan2 di sepanjang tepi sungai itu dikasih night illumination, jadinya bagus banget deh.
biasanya jadi tempat pacaran gitu, kalo enggak pasangan ya turis yang di situ. gelo rame banget, terutama di daerah tepi timur dari sungai, soalnya di situ banyak bangunan kuno, dan lebih lama exsistnya, lucunya di kursi2 taman, gua
biasanya liat co-ce, tapi di satu bangku, gua liat co-co, haha jadi mikir yang aneh2

Day 1 – March 9th – Narita Airport -> Beijing

Today afternoon is my flight to go to China, at 6 o‚Äôclock in the morning me, Juanda, Xiao Fei, and Thomas took the train from Chofu station. Juanda will go to Kyoto, and we will go to Narita Airport. Liu Jia has left earlier in the morning (05.30). I think for them it is difficult to say goodbye after nearly 1 year together in Tokyo. Boys cry too‚Ķ Xiao Fei left and then we were waiting for our flight when we meet Anigi and Aaron. Later Anigi left, and then Thomas, and then me, Aaron had the last flight. IR801 Narita -> Beijing -> Teheran. I’d better not sleep in the plane, otherwise I could ended up in Teheran without Iran visa, and probably will have to call Suzuki Sensei emergency number. Arriving at Beijing in the night and directly going to Beijing Railway station using Airport Shuttle Bus (in yen, about 200 yen -> compare with 3200 yen from narita to chofu)

Day 2 – March 10th – Beijing
Today’s schedule is Tiannamen Square, Forbidden City, Beihai Park in the day, and Chinese Acrobats in the night. Linda, my classmate in High School will be my tour guide for today. I get my cell phone¬†number in China today¬†:p, good tomodachi. I tried to contact Doyot, but I can’t, maybe next week. Tiananmen is some kind of Beijing symbol, and I just know it because of what was happened in 1989. Lot of tourists, from all over China, and also from all over world. There was a count down for Beijing 2008 olympic at the eastern side of the square (in front of a Museum). Many chinese soldier there and also many china’s flag. You can find china flag everywhere. Forbidden city is big, and a little bit tired to see all of its building, so we just see the main buildings. Chinese loves red, you can see many red color everywhere. After that, we went to Beihai Park, a park north of Forbidden City. It has Beihai Lake and a “small island” that has white pagoda. At this time, I begin to realize, every tourist place has “chinese dog statue” male and female. Should ask the chinese what is it meaning.
Day 3 РMarch 11th РBeijing
Today’s schedule are buy ticket to Xian, Temple of Heaven, and Pearl Market, and go for night train at 6 o’clock.¬†Buying train ticket is more difficult than I thought. That¬†train ticket seller didn’t give me ticket to Xian, but to Cian or some city that pronounciation like Xian. DAMN. It took hours and 70 yuan “fine” to change the ticket¬†and get the correct ticket. After that we went to TEMPLE OF HEAVEN, quite big place, in the map, it looks like that it is bigger than Forbidden Palace. Mainly it is a park with several halls, contradicts to Forbidden City that has many buildings. Well, it has Echo Wall, like what Depp said, I tried, but still don’t know the difference, maybe because too many tourists. It’s Circular Mound Altar somehow reminded me about Borobudur Temple. NEXT is PEARL MARKET, something like Mangga Dua in Jakarta. Many stuff there, electronics, bags, shoes, souvenirs, etc. I try to find chinese chess that Ramon ask for, but cannot find it. :-(. After that catching train to Xian, I almost miss the train, luckily I still can get into the train. Always giri-giri. Hard sleeper is quite nice. T41 Beijing¬†->¬†Xian for 12hour 23 minutes (18.27 ~ 06.50). Untungnya kereta malam, kalo enggak bisa tua di jalan.
Day¬†4 – March 12th –¬†Xian Terakota Warriors
Today’s schedule is Terakota, Drum Tower, Bell Tower. Arriving few minutes late than the schedule, I tried to find Hostelling International sign around the people outside the station. Free pick up to the hostel. :p. Met with two German traveller from Berlin who use the same train as me. After arrived at the hostel we were heading to Terakota Warriors site, about 45 km outside Xian center. A lot of souvenir booths outside the place, and it is COLDER than Beijing. I don’t know why, it should be warmer in that region, because it more south. Whatever. Inside there is a museum, and three pits. At first we went to Pit #2, and then pit #2. Pit #2 is only a hole, with¬† many unreconstructed terakota, you can see half of horse body there, not full. Pit # 3 has more reconstructed soldiers than Pit#2, but it was smaller. Pit #1 was amazing. This is the biggest pit, and also has the biggest collection of terakota warriors. This one surely the best among the other pit. This is also the only reason I want to visit Xian. Mission accomplished, the other attraction is only bonus for me. Later that day, I bought my train ticket to Shanghai at a Bank (true, at a BANK, not at train station – Industrial and Commercial Bank of China). This time I get the correct ticket. After that go to Bell Tower (It has a big bell inside it, that’s why the name is like that), and Drum Tower (The Tower has a lot of drums inside it). Drum tower is quite beautiful at night, especially with the illumination.
Day¬†5 – March 13th –¬†Hua Shan Mountain
This day was the most tired since I come to China.¬†Going to¬†Huashan in the morning and back in the night, 160 km outside¬†Xian. Hua shan¬†is one of seven sacred mountain in China. I know this mountain from¬†movies “To Liong¬†To”, In the movies it has a famous kung fu school (like¬†Shaolin) in the mountain. It was like trekking along the mountain. I was lucky in the same bus with a chinese guy¬†from Nanning that can speak¬†English. He explained to me¬†several information about the mountain. Arrived around 11 o’clock, we have to be in the bus again at 5pm. This mountain¬†is cold.¬†Bad news for me, it has no¬†English¬†sign (and there are¬†not Indonesian sign for sure). About Indonesian, I met three chinese girl who want to have picture with me because I am Indonesian…. :p They might think I am endangered species…..The one make me curious is there are many red ribbons and locks in several parts.¬†He explains it is for something, but not in details. Trekking for almost 6 hours is tired too, we can only reach north peak, south peak, and west peak. There is no time for east peak. The only map that is available only in chinese, so I have no idea about what it said. Have to find chinese translator back in Japan. Back to Xian, I just back to hostel and sleep. It was tired day.
Day¬†6 – March 14th –¬†Xian City
Today’s schedule is Big Goose Pagoda, Shaanxi Provinsional Museum, Little Goose Pagoda, Moslem’s Quarter, and Great Mosque.¬†First thing first. I have to find¬†Xian¬†City Map in English, cannot find it,¬†so I buy the chinese version.¬†I just need the bus route. BIG GOOSE PAGODA, I still wonder why the name is like that. The scripture inside the pagoda is “Kill the goose, built the pagoda” which is still not understandable for me. I hope I can see goose statue, but I did not find one. Near this place is SHAANXI PROVINSIONAL MUSEUM. I cannot use my ISIC card here, because the price for students is only for chinese students…. Discrimination agains non-china student…. This museum is quite good actually. It “tells” story from the prehistoric period in China, until the periods of dynasty, Song -> Yuan -> Ming -> Ching. What surprises me, is there is soldiers inside the museum, and somethimes several soldiers march inside the museum. What are they doing here? And also there is 120 YUAN POSTCARD (usual price only 10~12 Yuan). Crazy…. After this taking bus to LITTLE GOOSE PAGODA. The shape is like big goose pagoda, only it might be smaller (and cheaper admission fee). After that go to MOSLEMS QUARTER to find GREAT MOSQUE. It was remotely located inside small alleys. I was wrongfully enter Prayer Hall (I thought that was the entrance), which is forbidden for nonmoslems, and find myself surrounded by several hostile white suits men¬†with long beard (like Osama) that make me sure I was in wrong place. Langsung deh pasang tampang seperti turis tersesat (emang beneran tersesat) dengan buku Lonely Planet di tangan.¬†Fortunately I can get out of that place, and find the correct entrance. The mosque is differs from the one in Indonesia. It looks like Chinese temple, without any dome (like ordinary mosque). Inside, many birds, and many birds shit. After this, coming back to hostel, get the stuff, and catch train to Shanghai.
Day¬†7 – March 15th –¬†Shanghai
After 16 hours train from Xian, finally arrived in Shanghai, spent the first hours in Shanghai finding tourist information (damn difficult) and police station inside Shanghai station. They are more friendlier than Indonesian police :p. Finding hostel at Caoyanglu, nice place and near the subway, the roommate was a Frenchman who was looking for a job in Shanghai.
Route: Jade Buddha Temple -> People’s Square -> Nanjing Lu -> The Bund Sightseeing Tunnel -> The Bund. The price for transportation is more expensive than Beijing or Xian, but the more people speak English in Shanghai.
Outside Jade Budha Temple I found interesting and also creative “wheelchair” that is used by the bums. They cannot afford to buy a wheelchair, so they create from wheels and add a place to sit made from wood. Near people’s park is Nanjing Lu, a pedestrian street with many shop on it. It is like shopping street for me, maybe similar to Pasar Baru in Jakarta. At the end of the Nanjing Lu, you’ll find a way to the Bund.
One word for the bund, it is beautiful. In fact I like it, I visited it in three nights in a row. It is better to see it in the night, because of the illumination. It has a nice building (probably Shanghai Pudong Development Bank). For me, it is better to see The Bund from Pudong’s side, coz the you can¬†see the illumination on¬†the other side of the river. It also have a TV tower, ¬†Oriental Pearl Tower, that is more beautiful than Tokyo Tower at night (in my opinion). If I came back to China, I’ll definitely visit Shanghai again.
Day¬†8 – March 16th –¬†Shanghai
Route: Mao Tse Tung former residence -> Sun Yat Sen former residence -> Chou En Lai former residence -> Chinese Communist Party 1st National Congress’s Site -> French Town -> Huaihai Lu -> Old Shanghai -> Yu Gardens Bazaar -> The¬†Bund¬†again
Day¬†9 – March 17th –¬†Shanghai
Route: Shanghai Science and Technology Museum -> Museum of Chinese Sex Culture -> Deep Sea Exhibition -> The Bund -> Catch train to Beijing
Day¬†10 – March 18th –¬†Beijing
Route: Wang Fu Jing (Street food stalls and shopping centre) -> St. Joseph Church.
Day¬†11 – March 19th –¬†Beijing
Route: Summer Palace all day
Day¬†12 – March 20th –¬†Great Wall
Route: Hiking from Jinshaling Great Wall to Simatai Great Wall
Day¬†13 – March 21th –¬†Beijing
Route: Flag Raising Ceremony at Tiananmen -> Beijing Hutong -> Drum Tower -> Bell Tower -> Tsing Hua Univ -> Beijing Univ. -> Dinner Beijing Duck with JQ, Linda, Shierly, and JQ’s friends
Today have to get up very early, because I want to see flag raising ceremony at Tiananmen Square. Most of them who is watching are tourists. So many tourists in Tiananmen Square, even in the morning.
Beijing Hutong was the highlight in Lonely Planet’s Beijing section. It looked like traditional houses, with small alleys, like “gang – gang kecil” in Jakarta. Linda was right, it is the same like in Indonesia. In Hutong area, there is Bell Tower and Drum Tower. I am wondering, why the towers always nearby, like in Xian. For these towers, I prefer the Drum and Bell Tower of Xian.
Next destinations are Beijing’s most prestigious univ. Tsinghua Univ. and Beijing Univ. Some of the area in Tsinghua Univ. has nice architectural building. I don’t know what style it is but it was beautiful building. I saw many people taking picture in front of a gate (which I don’t know what is it at that time), so I took my picture in front of that gate. It is Tsinghua Univ. symbol or something. Lucky. The same situation also happened in Beijing Univ’s West Gate, which is the symbol of Beijing Univ.
Because I spent too much time in Beijing Univ, I was late for the dinner. Linda (or Shierly) called me and at that time, I was still in Beijing Univ. So I rush going back to my hostel to meet them and going together to the Beijing Duck Restaurant. Unfortunately Doyot couldn’t join us. JQ and her friends already finished one duck while we arrived. Those 4 (JQ, Doyot, Linda, Marjus) was still in Beijing, while my other High School classmates were already came back to Indonesia, after learning Chinese in China.
Day¬†14 – March 22th –¬†Beijing
Route: Around Tiananmen Square -> Mao Tse Tung Mouloseum -> Qian Men -> Beijing Station -> Beijing Int’l Airport
Day¬†15 – March 23rd –¬†Beijing Airport -> Narita Airport
Route:¬† Try to sleep in Beijing Airport (IMPORTANT NOTE : Never taking early morning flights) Have to check in at 6.15 am, too early, so I decided to spend the night in the airport. Many people did the same like me too. I’ve tried to sleep, but not a good sleep, so just killing the time by watching television, a soccer game and a comedy “Just for Laugh”. Neverthelss, it feels good back to Japan again.