Beberapa saat yang lalu, saya baru saja skype-an dengan seorang teman dan sampai ke pengalaman dia yang di-inap-kan kantor ke hotel bulan madu dengan ranjang berbentuk hati berwarna merah, dan dari situ melebar ke satu topik mengenai bermalam di tempat yang tidak biasa. Jika orang berpikir bermalam pastilah di hotel (normal hotel ya karena ada hotel yg agak berbeda) atau hostel atau nebeng di tempat temen, dia belum tentu benar, karena ada tempat-tempat lain yang bisa di-inapi yang agak tidak biasa. Pergaulan dengan teman-teman seperti ini selama delapan tahun terakhir ini, saya memperoleh pencerahan, ternyata ada lho tempat-tempat seperti dibawah ini untuk bermalam.

  • Honeymoon hotel
  • Love hotel
  • Capsule hotel
  • McDonald
  • Sel kantor polisi
  • Stasiun
  • Gerbong kosong/ kereta yang lagi parkir
  • Loby hotel/ hostel
  • Gedung parkir
  • Kasino
  • Night club/ pub
  • Game center/ mangakisa
  • Pemandian umum
  • Bandara
  • Hall olahraga universitas
  • Rumah sakit jiwa

Honeymoon hotel
Teman saya pas skype tadi, sebutlah namanya Adi, beberapa waktu lalu pernah ditugaskan di kantor untuk mengerjakan project di satu kota di benua Eropa. Berhubung ada semacam acara penting di kota tersebut, semua hotel penuh, bahkan sampai radius 20 km. Solusi yang di ambil kantor adalah membooking hotel yang masih available hanya untuk membuat teman saya terkejut. “Nald, masa gw di-inap-kan sama kantor ke hotel bulan madu, ranjangnya aja bentuknya hati warna merah, lokasinya di pegunungan lagi”, kata dia. Saya jadi bingung, pekerjaan dia sebenernya apa ya?

Pengalaman yang serupa tapi tak sama juga dialami dua teman Adi, sebutlah Vira dan Ria. Ketika saya menanyakan mereka mengenai rekomendasi hostel untuk Venice, malah mereka bilang di Venice kebanyakan hotel bulan madu semua, dan dua cewek-cewek ini nggak keberatan tinggal sekamar berdua, pake dinner romantis pula. OK, jangan mikir yang nggak-nggak, mereka masih normal kok hehe.
“Untuk hotel di Venice..hehehheee.. di sini kebanyakan pada hotel bulan madu semua, alias ga ada yang macem youth hostel… :p kita dulu book hotel bulan madu nih.. tapi oke juga kok.. brsih.. karna venice terakhir, kita habis2an belanja dan dinner romantis di sebelah piazza san marco dengan menu spaghetti carbonara asli italianaaa.. hehehee… nama hotelnya lupa. mungkin **** masih inget.. di venice kalo malem asli sepiiiii banget… karna kita cewek2, takut juga kalo pulangnya kemaleman… “

Love hotel
Jika dua cewek diatas, Vira dan Ria, tidak keberatan sekamar berdua di hotel bulan madu, dua teman yang lain, sebutlah Anto dan Iman, agak keberatan sekamar berdua di hotel yang sebelas duabelas dengan hotel bulan madu, berjenis love hotel, tapi terpaksa dijabanin juga gara-gara mereka ketinggalan kereta terakhir dan saat itu kalo nggak salah berstatus mahasiswa dengan keuangan yg terbatas, jadilah ada faktor terpaksa yg berperan penting. Selain mereka, ada dua orang lain, sepasang suami istri. Yang ketinggalan kereta ada 4 anak indo: 3 cowok dan 1 cewek, 1 cowok dan 1 cewek ini suami istri, jadi nggak masalah sekamar, yang dua lagi kayanya masih single. Ketika Iman menceritakan kepada saya, dia bilang “Gue sih gpp, tapi Anto kayanya nggak mau nginep sekamar berdua sama gw, interiornya nggak banget deh, sama banyak DVD lagi”. Ya iya lah, apa pandangan teman-teman mereka kalo dibilang nih dua orang nginep bareng di Love hotel, bisa disangka yang nggak-nggak kan hahaha.

Capsule hotel
Capsule hotel, atau kapuseru hoteru dalam bahasa Jepang, adalah salah satu hotel yang tidak biasa dan kalo nggak salah hanya ada di Jepang. Bentuknya kotak berukuran 1 m x 1.25 m x 2 m. Nah, pengen dapet gambaran, google aja, atau kalo pernah liat coin locker di stasiun, kurang lebih kaya gitu, tapi yang masuk disini bukan backpack/ koper, melainkan orang. Konsepnya sama, tapi lebih panjang aja demi menampung orang supaya bisa tidur. Kasian kalo bule-bule yang tinggi, karena ukuran capsule hotel ini biasanya dibuat untuk standar Jepang. Kalo ke Jepang, jangan lupa coba capsule hotel deh, lumayan buat pengalaman.

McDonald
Sebenernya saya paling pro dengan yang namanya McDonald, bukan karena burger mereka enak, tapi karena McDonald itu banyak fungsinya untuk para traveler, dari nebeng WC (lebih gampang nanya orang dimana McD terdekat vs dimana WC terdekat, kalo nggak percaya coba deh), nyari free wifi, istirahat sebentaran kalo capek, burger 1 euro mereka, charger HP yang baterenya mau habis, planning mau kemana lagi kalo travel rame-rame, sampai yang tak kalah pentingya sebagai tempat menginap murah meriah, beli aja satu burger, lalu makan setengah dan nyari tempat yang enak buat tiduran. Nggak bakalan diusir kalo burgernya sudah habis, kalo mau ekstrim lagi, cari gelas plastic McD kosong lalu taruh di meja, biar aja petugasnya ngira itu masih ada minuman yg belum habis.

Balik ke Adi, ternyata dia dengan Dya pernah nginep di McD entah karena lagi nunggu bus atau nyampe kepagian di salah satu kota di Inggris. Dari mereka pula saya tahu trip untuk tidak diusir dari McD. Kalau tidur duduk dan matanya tidak boleh terpejam lama (gimana ya???). Kata mereka sih kalo rebahan di kursi ataupun di meja pasti kena tegor staff McD dan kalo keseringan diusir. Pernyataan ini diamini seorang teman yang lain, Joko (OK Yun, nama bokap u dipake sebagai nama samaran, as per request), yang dulu sempat menginap di McD dalam rangka pindahan dari sebuah kota di Jerman ke Paris. Keputusan yang bijaksana, karena katanya saat itu di luar cuaca mencapai minus 13 derajat Celsius.

Sel kantor polisi
Sebenernya sel kantor polisi bukan tempat yang ideal buat menginap, tapi kalau tidak ada pilihan lain, ya terpaksa nginep disini juga, seperti yang dialami dua teman, Mawar dan Melati, yang sampai di tempat tujuan pake ferry udah kemaleman. Daripada nginep di tempat yang tidak jelas dan keamanannya diragukan, kedua teman ini mencari kantor polisi deket pelabuhan ferry dan numpang nginep. Mereka sedang beruntung karena polisi-nya baik, dan berhubung kantor polisi nggak ada kamar, mereka dipersilahkan untuk menginap di dalam sel, dan dipinjemin kunci sel lagi, disuruh ngunci dari dalem. Polisi ini adalah bukti bahwa masih ada polisi baik di Indonesia.

Taktik agak serupa pernah Kukuh, Ramanda, dan saya coba di kantor polisi di Venice. Pas malem-malem/ subuh-subuh luntang-lantung nggak jelas karena hostel kami sudah tutup dan kami dioper ke hotel lain yang sudah tutup pula di cuaca minus 11 derajat Celcius, saya teringat cerita mawar dan melati, dan berpikiran untuk menginap di kantor polisi. Cutting the story short, kami bertiga ditolak menginap di dua kantor polisi dan harus bertahan menghadapi dinginnya cuaca Venice.

Ketika ngobrol-ngobrol sama Ramanda mengenai ini beberapa bulan setelah kembali dari Venice dan saya bilang bahwa ide nginep di kantor polisi adalah dari pengalaman Mawar dan Melati yang berhasil nginep di sel kantor polisi, Ramanda bilang “yah elu Nald, kenapa lu dulu nggak bilang mereka nginep di SEL kantor polisi? elu dulu bilangnya nginep di kantor polisi, kan dulu kita bisa bikin onar lalu ditahan di dalam sel, nggak perlu luntang lantung kedinginan nggak jelas di luar.”, sebuah respon yang benar-benar out of the box dan tidak terpikirkan sama sekali saat itu. Salut sama teman yang satu ini.

Stasiun
Ketika saya menuliskan pengalaman di Venice itu dalam sebuah note, seorang teman, sebutlah namanya Bunga, berkomentar “Untung jalan2nya ga bawa gw nal, kalo gw udah kepikiran gelar tiker aja di stasiun, ato cari gerbong kosong, terinspirasi temen gw yang mau jalan ke Venice (juga) tapi tersesat di belantara kereta api di Itali”. Dari sini ada dua ide lain sebagai alternatif untuk menginap: stasiun dan gerbong kosong.

Stasiun merupakan pilihan yang cukup banyak dipilih untuk menginap, meskipun perlu diketahui bahwa menginap di stasiun (tempat terbuka) pada saat musim dingin itu tindakan bunuh diri. Duduk diam atau tiduran dalam posisi diam di cuaca yang mencapai minus 11 derajat Celcius bisa berujung pada hipothermia atau bahkan kematian. Stasiun lebih feasible jika nge-trip-nya saat summer, bukan winter, seperti yang dilakukan oleh seorang teman, sebutlah namanya Tuti yang pada liburan summer keliling Eropa bareng temennya, Elvi, dan karena satu dan lain hal terpaksa menginap di stasiun (dua cewek lho). Meskipun ngeliat ada beberapa teman yang pernah pula nginep di stasiun pas di Jepang, tampaknya stasiun juga pilihan yang murah-meriah untuk menginap. Tempat paling OK di dalam stasiun tentu saja waiting room yang berada di antara peron-peron. Ada atap dan tertutup, tinggal gelar sleeping bag.

Gerbong kosong/ Kereta yang lagi parkir
Bunga juga sempat kepikiran sama gerbong kosong, hal yang tidak kepikiran sama kami saat itu. Jadi keinget kejadian di summer 2005 ketika Andreas, Alan dan saya stuck di satu stasiun dalam perjalanan pulang dari Berlin ke Bochum. Berhubung memanfaatkan Schoenen Wochenende, yang dengan 30 Euro bisa berlima naik kereta kemana saja di Jerman, dengan syarat kereta tersebut hanya boleh S-Bahn, RB (Regionale Bahn), RE (Regionale Express), tanpa boleh naik IC (Inter City), atau ICE (Inter City Express) yang notabene lebih cepat. Di sebuah kota yang namanya saya lupa itu, kombinasi antara ngantuk dan capet berat ditambah kereta berikut mengarah ke Bochum masih beberapa jam lagi, kami bertiga berinisiatif masuk ke gerbong kereta kosong yang masih gelap hanya untuk tidur. Saya bahkan lupa dulu dibangunin sama petugas dan disuruh keluar atau kami bangun sendiri. (Dre, masih inget nggak?)

Lobby hotel/ hostel
Masih dari kejadian Venice, kami belajar pula bahwa lobby hotel pun dapat dijadikan tempat menginap sementara, jika tidak mampu membayar harga satu kamar hotel. Kunci kesuksesan hanya satu, baik-baik-in resepsionis hotel. Kukuh bisa dibilang ahlinya, karena berkat dia-lah kami dapat tidur selama hampir dua jam di lobby sebuah hotel di Venice, gratis. Sebenernya cuma saya sih yang tidur sambil duduk, Kukuh dan Ramanda nggak bisa tidur sambil duduk.

Hokinya mereka berdua, mereka cukup merasakan tinggal di lobby hotel sekali, saya masih sempat merasakan tinggal di lobby hostel dua kali setelah kejadian Venice itu, di Manchester dan Lille, karena jadwal bus yang sangat tidak bersahabat, sampai either jam 4 pagi atau 5 pagi. Sedangkan kalo nginep di hostel yg saya booking waktu itu paling malam jam 23.00 buat check in. Yo wis lah, ilmu negosiasi sama resepsionis hotel ala Kukuh saya praktekkan lagi di Manchester dan Lille, dan kedua-duanya berhasil hehe. Oh ya, di kedua kota ini riset awal saya tidak menemukan McD yang buka 24 jam.

Gedung parkir
Nginep di gedung parkir sebenernya baru saya denger tahun lalu, saat Sony berkunjung ke Inggris buat nonton olympic. Ternyata ada temen-temen dia anak satu kota di Belanda yang bikin trip dengan budget yang super minim dan bahkan tidur di gedung parkir. Setelah dipikir-pikir, mereka pinter juga ya, karena gedung parkir itu udah pasti ada atapnya dan tidak akan kehujanan. Kalo malem-malem kan mobil yang parkir pasti jarang, dan kalo dapet spot yang bagus buat gelar sleeping bag, boleh dicoba tuh hehe

Kasino
Nginep di kasino ini sebenarnya terinsiprasi dari kunjungan ke Holland Kasino di Rotterdam bareng temen-temen kuliah management of technology, dengan tujuan kuliah praktek malem-malem mengenai financial planning dan analysis. Misalnya planning mau taruhan berapa di meja judi dan analisis kemungkinan menang berapa persen. Di kasino ini pula-lah saya melihat uang kertas 500 euro, biasanya kan cuma ngeliat 5, 10, atau mentok-mentok 50 euro. Dari kunjungan ke tempat ini, ada beberapa lokasi yang cukup nyaman buat tidur, tentu saja dengan kamuflase lagi pura-pura mabok.

Night club/ pub
Masih inget percakapan skype yang men-trigger notes ini? Nah, Adi ngasih ide juga bahwa night club/ pub juga bisa jadi tempat buat nginep, karena alasan yang sangat sederhana, diskotik dan night club buka dari malam sampai pagi. Jadi inget pas nginep di Vienna, diajak host dan para couchsurfer lainnya untuk nonton konser yang dilanjutkan dengan pub crawling. Saya yang sudah pasti ngantuk duluan terpaksa ikut karena nggak pegang kunci karena si host pengen pub crawling sampe pagi (lesson learned: kenali typical host couchsurfer anda). Walhasil saya bilang ke mereka: “OK, gw ngantuk, lu lanjutin dulu, gw nyari sofa, kalo mau pindah ke pub lain atau pulang, bangunin gw”. Saya pun mencari sofa dan tidur sementara mereka melanjutkan nyanyi-nyanyi dan minum-minum, untuk kemudian dibangunkan menjelang pagi.

Game center/ mangakisa
Nginep di game center ini hanya berlaku untuk Jepang. Di negara ini tempat-tempat semacam ini bertaburan dan isinya lengkap. Bisa buat akses internet, ada tempat minum yang bisa refill sepuas hati, tempat buat tiduran, sofa, banyak manga/ komik yang bisa dibaca, pokoknya maniak game/ komik bisa tinggal dalam jangka waktu lama disini deh. Perkenalan dengan tempat seperti ini pun via Shin, seorang maniak game yang waktu itu lagi traveling bareng sama Duane. Saya yang join belakangan di Osaka akhirnya pun ikutan masuk ke tempat ini buat nunggu kereta malam dari Osaka ke Hakata yang berangkatnya agak malem banget. Lumayan lah buat pengalaman bayar 500 yen dan bisa istirahat dengan cukup.

Pemandian umum
Pemandian umum ini lebih banyak dijumpai di negara Korea, bahasa koreanya Jjimjilbang. Saya awalnya tidak tahu bahwa Jjimjilbang ini buka 24 jam dan bisa dijadikan tempat menginap sampai diberitahu seorang kawan yang sudah berpengalaman nginep di Jjimjilbang ini, typically karena faktor harga.

Kalau di Jepang sebenernya ada pemandian umum juga, Sento, dan yang outdoor namanya Onsen. Tapi setahu saya Sento dan Onsen ini tidak buka 24 jam, belum pernah nemu sih, alias tak ada onsen 24 jam. Kalo ada kasih tahu gw ya. Oh ya, sento dan onsen ini biasanya dipisahkan antara pria dan wanita, meskipun beberapa onsen, seperti satu di Hakone, tidak dipisah antara pria dan wanita, istilah-nya mixed onsen.

Bandara
Tidur di bandara sebenernya sudah tidak asing lagi untuk pemburu tiket-tiket murah yang biasanya jam-jam-nya ajaib banget, kalo nggak berangkatnya pagi banget, atau pulangnya malam banget. Sebelnya saya sudah beberapa kali mendapat jadwal keberangkatan ajaib ini sehingga perlu menginap di bandara. Pengalaman pertama dimulai dari bandara Beijing pas mau balik ke Tokyo abis backpacking 2 minggu di China. Disini saya tidak bisa tidur semalaman karena khawatir backpack saya dicuri, jadi bela-belain deh melek semaleman sambil nonton bola di TV dan digangguin sama agen hotel yang ngerecokin nawarin hotel buat saya, padahal udah berkali-kali bilang nggak mau. Enam bulan kemudian saya menjajal tidur di bandara Changi bareng teman-teman JUSST. Mereka balik ke Tokyo, sedangkan saya akan melanjutkan perjalanan ke KL. Bandara Changi friendly banget buat nginep, kalo mau cari lokasi kita nge-gelar sleeping bag, coba aja cari viewing mall, dari situ kita bisa ngeliat aktivitas bandara di bawah, termasuk ngeliat pemeriksaan koper oleh petugas pake alat yang diusap-usap ke koper. Setelah vacuum 3 tahun dari tidur di Bandara, saya memperoleh kesempatan untuk tidur di Bandara Bremen demi mengejar pesawat super pagi ke Finland. Sialnya saya tidak tahu bahwa bandara ada jam tutupnya, jadi ketika saya datang malam sebelumnya, bandara telah dikunci. Terpaksa-lah selama beberapa jam saya berada di luar dan kedinginan (meskipun summer temperature bisa turun ke belasan derajat lho), tanpa jaket yang memadai. Setelah berhasil nyari petugas pun, saya berhasil masuk ke bandara dan basically nggak bisa tidur karena khawatir bablas tidurnya dan ketinggalan pesawat. Tiga tahun kemudian saya berkesempatan menjajal bandara London Gatwick buat tidur, gara-gara masalah klasik: pesawat super pagi. Bandara ini lumayan lah buat nginep. Disarankan untuk datang lebih awal (e.g. jam 7PM) buat ngetake tempat, karena kalo datang jam 9-an, tempat-tempat bagus udah di-take sama orang. Oh ya, buat yang tertarik buat nginep di Airport, coba aja google “The Guide to sleeping in Airports” yang mencakup review sleeping-friendliness bandara-bandara di dunia.

Jika saya hanya menjajal dalam kategori semalam, seorang teman, sebutlah namanya Lucky, sempat menjadi penghuni bandara HongKong dalam kategori bulanan kalo nggak salah dalam rangka perjalanan keliling dunia dia. Isengnya lagi dia sempet bikin parodi photoshop the terminal, tapi gambar Tom Hanks-nya diganti sama foto dia. Emang wong edan.

Lalu masih ada Sony dan Mia (nama asli bukan nama samaran) dan dua temen mereka pernah nginep di Bandara Barcelona yang katanya “enak juga tuh buat nginep”, dikarenakan karena pesawat mereka mendarat jam 00.30 malem di bandara Barcelona, berhubung lagi winter, jaket winter yang mereka pakai bisa dipake buat alas tidur, kan tebelnya lumayan.

Lalu masih ada Ati yang bersama teman-temannya pernah mendarat malam-malam di salah satu bandara di Swiss dan tidur disana, kalo nggak salah Geneva airport deh, dan begitu pulang majang hidup mereka yg nelangsa saat tiduran di bandara ini di FB.

Bandara di Inggris, seperti London Stansted juga bisa ditidurin, seperti yang dilakukan Sofie. Mengutip kata dia, “mesti datang awal biar dapet bagus untuk gelar sleeping bag”. Bandara di London lainnya, London Heatrow lumayan jg buat ditidurin, seperti yang dialami beberapa teman kantor saya yang pernah menginap di London Heathrow gara2 jadwal penerbangan kacau pada saat bulan December 2010. Akhir kata mereka berakhir nginep beberapa hari di London Heatrow dan kalo nggak salah waktu itu saya ngeliat di TV banyak penumpang yang dikasih sleeping bag alumunium berwarna perak agar panas tubuh mereka tetap terjaga.

Hal seperti penerbangan kacau saat winter inilah yang membuat saya dan dua teman, sebutlah Abu dan Jerry, ngobrol mengenai hal-hal yang pernah terjadi ketika itu. Jika kebanyakan orang-orang either tidur di bandara atau membatalkan rencana perjalanan christmas mereka, nasib satu teman kami, Nova, jauh lebih baik dibanding mereka, bokap-nya langsung kirimin pesawat jet pribadi agar Nova bisa merayakan natal bersama keluarga dan tidak perlu luntang lantung nggak jelas di bandara, sangat kontras dengan kami bertiga yang levelnya easyJET. Informasi dari Abu ini bikin Jerry dan saya agak nggak percaya, siapa sih Nova ini, kayanya emang tajir sih*), tapi masa bokapnya sampe bisa ngirim pesawat jet buat jemput anaknya. Selidik punya selidik si bokap adalah salah satu pejabat di negara asal si Nova (ehm…. pengen jg punya bokap kaya gini hahaha).

*) suatu waktu Abu lagi nemenin Nova belanja di sebuah shopping center yang lumayan OK. Yang jelas Abu kaget dengan selera belanja Nova, “Masa dia beli bantal (atau perlengkapan ranjang ya?) sampai ratusan pounds/euros”. Bener-bener high cost. Sekali waktu yang lain mereka lagi ngeliatin jam di etalase salah satu daerah perbelanjaan yang katanya sih levelnya diatas Champs-Élysées, coba ke daerah yang namanya Place Vendome di Paris, kami diskusi harga jam yang sekitar 70,000an Euro (mahal banget yak… gaji berapa tahun tuh?), Nova bilang “kalian harus melihat nilai seni dari jam ini, karena “art” yang membuat jam ini berbeda dibanding jam lainnya”. Nova inilah yang suatu saat saya pernah tebengin mobilnya bareng sama Abu. Di awal-awal dia bilang, “I have a small car, I hope it is alright for you”. Eng ing eng, small car dia itu Audi seri terbaru, dan di dalem mobil saya cuma ngeliat-ngeliat feature-feature mobil tersebut yang paling banter cuma bisa saya liat di majalah mobil (yang saya jarang baca tentu saja hehe). Lumayan lah dapet tebengan Audi hahaha.

Tempat ibadah
Dari temennya Lucky, saya tahu bahwa tempat ibadah bisa jadi tempat menginap. Isyunya si Lucky ini sudah beberapa kali mencoba tinggal di bermalam di tempat ibadah supaya murah. Detailnya nggak tahu sih haha.

Biasanya sih pemuka-pemuka agama lumayan baik untuk menampung traveler yang butuh bantuan penginapan. Setidaknya ini dialami seorang teman yang berkunjung ke Brazil dan Argentina demi tugas kuliah dan memutuskan buat extend untuk jalan-jalan. Sebutlah namanya Mia (nama asli bukan nama samaran). Dari pengalaman Mia, Father di Gereja ISC (Father Avin) – Mia, CMIIW ya…. ternyata sangat membantu menghubungkan dia dengan kolega dia yang berada di Brazil atau Argentina, dan lumayan lah udah gratis, dikasih makan, dan dikasih tour keliling kota. Biasanya Gereja Katolik yang jaringan seperti ini sangat kuat.

Jadi inget kebaikan hati Frater Gabriel yang mengundang Kukuh, Ramanda, Ronald Halim dan saya untuk makan di seminari dia ketika kami berada di Roma. Tapi kalau mau nginep nggak gratis hehe, karena seminari ini punya hotel dengan harga yang cukup kompetitif lho. Padahal kami hanya ketemu di KBRI Vatican saat kami ngambil tiket ibadal malam Natal di St. Peter Basilika, berlanjut ke diajak ke seminari dia, dikasih makan sampe kenyang, lalu diajak tour keliling seminari, daerah yang sepi dari turis dan punya satu tempat yang penting dalam sejarah Kristen, gereja tempat St. Peter dipenggal dan kepalanya mantul tiga kali. Dari tiga tempat ini muncul mata air, jadilah namanya Tre Fontane (Three Fountains).

Kalau dengan Gereja Katolik pengalamannya lumayan bagus, seorang teman saya, sebutlah namanya Ramly (nama samaran, nama aslinya R*m*l*) yang sekali waktu bersama temen-temennya nginep di sebuah kuil di India. Ramly ini berada di India dalam rangka intership kuliah kalo nggak salah. Ketika lagi senggang, dia dan teman-temannya backpacking buat ngeliat Taj Mahal dan kuil-kuil lainnya dan memutuskan untuk tidur di kuil. Mereka kalo nggak salah bisa tidur dengan nyenyak sampai dibangunkan dengan cara ditendang dan diguyur air. Tampaknya kenangan yang tak terlupakan untuk mereka ini hehe.

Soal apakah pemeluk agamanya harus sama dengan tempat ibadahnya, ada yang tahu?

Hall olahraga universitas
Sepanjang musim panas, biasanya universitas-universitas di Eropa libur yang menyebabkan hal-hal olahraga ini tidak dipakai. AEGEE Barcelona dengan jeniusnya menjadikan hall olahraga universitas ini sebagai tempat menginap untuk peserta summer university. Bayangin aja 30an peserta plus panitia dijejalin di satu ruangan gede yang bener-bener nggak ada privacy, bahkan bule-bule ini tidak canggung ganti baju di depan rekan-rekan yang lain, yang bukan muhrim dan berbeda jenis kelamin. Suasananya bener-bener serasa ruang pengungsian kalo lagi banjir besar di Jakarta. Tapi menurut panitia, ini murah, karena mereka nggak perlu keluar duit. Dan ternyata AEGEE-AEGEE yang lain juga menerapkan taktik yang sama dalam hal akomodasi summer university.

Rumah sakit jiwa
Seorang teman, sebutlah namanya Rachma* (nama samaran, nama aslinya Yuni atau Unee), punya pengalaman menginap di rumah sakit jiwa terkenal di Jakarta. Alasannya sederhana, temennya Rachma sedang jaga malam di rumah sakit ini, dan sebagai seorang pemula ketakutan buat nginep sendiri di RS ini, jadilah si temen ngajak Rachma. Katanya sih nginep di RSJ itu sangat berkesan, karena pasiennya saat malam-malam hobby teriak dan membuat kegaduhan. Ada yg tahu RSJ manakah ini? yang anak Jakarta pasti tahu hehe… Rachma bisa menambahkan?

*)Pada versi awal, nama samaran yang digunakan adalah Wati, secara pas nulis kepikiran nama ini aja hehe. Ternyata Wati tidak suka nama samarannya jadi Wati dan diminta diganti menjadi Rachma. Oh ya, nama aslinya Yuni dan selalu meminta setiap notes nama bokapnya (Joko) untuk digunakan sebagai salah satu nama samaran.

Masih ada yang kelewat nggak ya?