Melihat teman-teman yang kuliah ke luar negeri dan memilih untuk menetap di luar negeri, baik sementara maupun selamanya, kadangkala saya tertarik mengetahui alasan mengapa mereka belum kembali.

Ternyata alasannya bisa dibagi menjadi beberapa bagian
1. Melanjutkan studi
2. Ingin merasakan kerja di luar negeri
3. Balik modal
4. Pengen nyari bule lokal
5. Ikut pasangan
6. Kualitas hidup (ini termasuk nggak tahan macetnya Jakarta)
7. Kesangkut sama pensiun
8. Takut nggak dapet kerja di Indonesia
9. Traveling

Tipe yang mana-kah anda?🙂

Melanjutkan studi
Alasan ini adalah yang paling sering dipakai, melanjutkan studi ke jenjang S2 atau S3. Untuk yang melanjutkan studi ke S3, ada dua sisi koin yang sangat berbeda: yang pertama memang hobby belajar dan yang kedua agak ngenes adalah karena nggak dapet kerjaan di situasi Eropa yang lagi sulit ini dan belum mau kembali ke negara asal.

Tipe yang pertama ini sudah jelas mahasiswa yang IP-nya setinggi langit, bintang kelas, mahasiswa terbaik di angkatannya, sering dapet beasiswa, suka research (yang nggak suka research pasti ngibrit kalo ditawarin PhD, membayangkan siksaan thesis yang 6 bulan aja udah bikin merinding, apalagi ngebayangin research selama at least 4 tahun non-stop – contoh kasus di Belanda, itu pun kalo PhD-nya lancar sentosa, kalo nggak lancar kan bisa molor jadi 5 tahun atau malah 6 tahun. Kebayang nggak sih?), dan suka nulis paper. Mereka umumnya memilih berkarir di dunia akademisi dan saya yakin sekitar 20-30 tahun lagi udah punya gelar profesor di depan nama mereka dan punya banyak paper di bidangya. Ada juga yang memilih berkarir di dunia industri, jadi researcher (yah emang jadi apa lagi?). Untungnya buat mereka, di Eropa atau Jepang, PhD tidak selalu diharapkan kerja di universitas, beda dengan di Indonesia.

Tipe yang kedua ini sebenarnya tidak tahu mau ngapain. Berdasarkan ngobrol dengan dua orang yang bisa diklasifikasikan ke tipe kedua ini (satu dari Amerika Latin dan satu dari Asia Timur), mereka sebenernya masih mau tinggal di Eropa, belum mau balik ke negara asal mereka, dan skeptis dengan mencari kerja di Eropa sini. Pilihan yang paling aman selama masa krisis ini adalah melanjutkan S3, jadi setidaknya selama 4 tahun ke depan nggak usah mikirin mau ngapain. Meskipun saya rasa ini hanya menunda masalah, abis S3 mau kemana?

Merasakan kerja di luar negeri
Mereka ini ingin merasakan kerja di luar negeri, setelah mengenyam pendidikan di luar negeri atau ditransfer dari kantor di Indonesia ke cabang kantor di luar negeri. Pengalaman bekerja dengan orang asing mungkin akan sangat berbeda dengan pengalaman bekerja dengan orang Indonesia. Ada lagi yang pengen merasakan kerja di perusahaan-perusahaan terkenal di headquarternya (misalnya Airbus, Shell, etc).

Yang kerja disini dan belajar disini pun umumnya memanfaatkan kesempatan “visa mencari kerja” yang umumnya diberikan oleh negara tempat mereka belajar. Misalnya di Belanda ada “Zoekjaar visa” dan di Inggris ada “PSW – Post Study Work” Visa yang oleh UKBA dicabut sejak April 2012.

Mereka ini ada yang ingin mencari pengalaman <5 years lalu mencari-cari cara buat ditempatkan di ASEAN (misalnya di-transfer ke Singapore atau ke Malaysia), ada pula yang ingin menetap selamanya di Luar Negeri. Ngobrol sama temen yang udah kerja kelamaan di LN, mereka umumnya ogak balik, either karena udah dapet permanent resident ataupun green card, atau karena stress sama macetnya Jakarta

Balik modal
Ini umumnya dilakoni oleh teman-teman yang kuliah ke luar negerinya memakai dana pribadi. Prinsip mereka adalah sebelum duit yang dikeluarkan untuk studi ke LN balik modal, mereka kerja dulu di LN. Mereka ini sangat baik untuk Indonesia karena berusaha membuat devisa Indo nggak hilang.

Hitung-hitung-annya seperti ini. Ambillah contoh Mr. X dibiayain beasiswa ADB (Ayah Dan Bunda) untuk kuliah ke Belanda. Taruhlah biaya hidup sebulan EUR 1,000 dan untuk kuliah selama 2 tahun perlu EUR 24,000. Lalu tambah uang kuliah EUR 12,500 per tahun x 2 = EUR 25,000. Jadi selama 2 tahun ini biaya untuk S2 di Belanda sekitar EUR 49,000 (pembulatan aja ke EUR 50,000).

Dengan gaji let say EUR 25,000 per tahun (sebelum pajak, tapi ini pun ngambil yang paling kecil – gaji PhD) dan pajak 40% (contoh di Belanda), setidaknya butuh hampir 4 tahun-an buat balik modal. Biasanya mereka ini dari keluarga yang sangat berkecukupan dan tidak terlalu sulit mencari kerja di Indonesia setelah kembali.

Pengen nyari bule lokal
Ada juga yang yang motivasinya ingin mencari bule, tapi bukan bule hunter, karena mereka ini berbeda dengan bule hunter di kemang. Tipe yang ini berpendidikan dan emang orientasinya ke bule dan berprinsip “dimana bumi di-injak, disitu langit dijunjung” termasuk dalam hal jodoh. Mereka sangat berbeda dengan yang di kemang. Yang di kemang kan biasanya ingin mempunyain anak-anak blasteran Indo yang sangat dicari-cari di dunia per-sinetron-an di Indonesia. Tipe yang ini malah kebanyakan menetap di Eropa dan kaga balik-balik, jadi gimana mau masukin anaknya ke sinetron?

Jika anda berpikir yang pengen nyari bule adalah cewek semua, anda salah, ada juga beberapa cowok. Meskipun dari pengamatan selama lima tahun ini, memang lebih banyak cewek dibanding cowok. Yang cowok biasanya lebih aktif dan satu yang paling “ahli” sampai terbang ke beberapa negara demi clubbing dan latihan mendapatkan bule. Sebutlah Joko dan Jaka (nama samaran)
Saya: “Lu ngapain ke Ireland?”
Joko: “Biasa bro…. latihan”. Dan teman yang ini bisa dibilang yang paling berhasil dalam hal menggaet bule cantik. Teknik-nya pas dia cerita mantep banget deh (angkat topi).

Atau yang lain, ikutan biro jodoh online, meskipun tidak selalu berhasil.
“Nald, kenapa ya yang tertarik sama gw kalo nggak dari Karibia, pasti dari Afrika, yang item-item gitu deh” kata Jaka yang berusaha menggaet cewek lokal tapi tidak memperoleh yang di-harapkan. “Beda sama [nama cewek], dia gampang banget dapet date cowok bule” tambahnya lagi. Melihat tampang Jaka ini, saya berkesimpulan cewek-cewek dari Karibia dan Afrika seneng sama yang berwajah oriental. Meskipun perjuangan dia akhirnya “agak” berhasil, mendapatkan date yang setengah bule, bukan 100% bule.

Kalo soal yang cewek asia dapet cowok bule, sudah banyak cerita berhasil lah, silahkan tanya mereka tips dan trick-nya. Tapi cuma ada dua teman yang berkesan dalam perjuangan mereka, sebutlah mawar dan rose.
Mawar (yang saat itu lagi di Indonesia): “Nald, kenalin dong sama temen elu yang bule. Gw pengen dapet cowok bule, dia harus perhatian, memperbolehkan gw nanti berkarir, memperbolehkan gw berkerudung, dan Islam”.
Saya: [sambil scanning semua temen bule, siapa tahu ada yang masuk kriteria temen ini]: “Bule dan Islam kayanya jarang deh, kalo lu mau bule ada banyak, kalo Islam itu bukan bule, tapi dari Turki dan Moroko, paling banter juga yang blasteran bule Tunisia, mau?”
Mawar: “Yang bule aja deh, tapi nanti mau masuk Islam ya….”
Saya: *garuk-garuk kepala*

Dengan Rose beda lagi ceritanya. Saat chatting mengenai dunia kerja di Eropa, cerita mengenai temen-temen kerja dan dia pun membuka website kantor saya ngeliat profile temen-temen kerja, sambil mencari tahu siapa yang masih available dan siapa yang tidak, sampai pada dua kandidat shortlisted: Alfa dan Beta [nama samaran]. Rose: “Kalo Alfa gimana?”
Saya: “baru aja kerja, lulusan Cambridge dan berdarah India”
Rose “*menanyakan lebih jauh mengenai Alfa*,…. lalu Beta?”
Saya:”kemaren pas acara kantor di rumah dia, gede banget sih, di countryside, kayanya dari abad ke-15 gitu deh, ada kolam renang juga. Dia dulu sekolah di Eton, tahu kan sekolah Prince William and Harry, lalu kuliah Cambridge, lalu ikutan militer di Sandhurst (mirip2 West Point Amrik), keluar lalu masuk ke kantor. Baru putus tuh sama ceweknya”.
Dan Alfa pun di-coret dan gw diminta kenalin Rose ke Beta. Sampai saya dapet kesan bahwa Beta hanya satu-satunya cowok di dunia ini dan manusia sedang memasuki ambang kepunahan. Rasanya prinsip Jawa, bibit, bebet dan bobot juga berpengaruh dalam pencarian bule.

Ikut pasangan
Tipe yang ini memang belum kembali karena pasangannya ada di luar negeri. Bisa dikelompokkan dengan yang pasangannya emang bule, atau yang pasangannya orang Indonesia yang sudah lebih dulu berangkat ke luar negeri. Setelah agak settle, barulah pasangan (dan anak-anak jika ada) dibawa serta.

Berhubung ikut pasangan, mereka umumnya tergantung kepada pasangan pula kapan mereka akan kembali ke Indonesia. Ada yang balik karena emang harus balik (misalnya saja pasangannya ditugaskan kantor dalam jangka waktu 6 bulan atau 1 tahun), ada pula yang akan menetap dalam jangka waktu lama di luar negeri.

Kualitas hidup
Sekali waktu saya chatting sama teman yang baru kembali ke Indonesia. Satu hal yang dia keluhkan adalah kualitas hidup di Indonesia yang lebih rendah dibanding di Eropa, terutama mengenai macetnya Jakarta. Macetnya Jakarta adalah salah satu hal yang paling penting kenapa beberapa teman memutuskan untuk tidak balik.

Menurut teman tersebut, kalo di Jakarta, level stress itu banyak: macet, panas, kerjaan, kriminalitas, demo, etc. Kalo di luar negeri sebenernya sama juga, tapi level stress-nya kebanyakan satu dimensi: kerjaan. Soal macet, panas, demo dan kriminalitas bisa dibilang jauh berkurang dibanding di Indonesia.

Belum lagi soal polusi. Kalo di Jakarta polusi sudah dianggap biasa, sampai-sampai satu menteri di Jakarta bilang “Singapore seperti anak kecil” pas Singapore complain soal asap dari Indo yan gudah sampe hazardous level, di negara maju, polusi lebih berkurang dibanding Indo. Tampaknya Pak Menteri terbiasa sama polusi di Jakarta dan perlu dikirim ke Singapore untuk merasakan polusi karena kebakaran hutan.

Kalaupun ada yang kembali ke Indonesia pun, itu kebanyakan karena dua hal: makanan dan keluarga. Soal makanan, kebanyakan agak sengsara jika anda di luar negeri dan suka masakan Indonesia, dengan perkecualian anda hidup di Belanda yang banyak makanan Indonesianya. Makanya banyak banget orang Indonesia di Belanda atau mahasiswa Indonesia yang memutuskan menetap di Belanda setelah lulus. Soal keluarga, temen yang balik itu either karena mau merit atau lebih enak ngurus anak jika berada di Indonesia. Baby sitter dan pembantu, hal yang biasa di keluarga kelas menengah di Jakarta, menjadi sangat luar biasa jika anda punya keluarga di luar negeri, semua-semua diurus sendiri. Jangan heran kalo para bapak di luar negeri juga bisa ngurus-ngurus bayi. Wong jasa pembantu/ baby sitter mahal pisan, kecuali buat orang yang tajir banget.

Kesangkut sama pensiun
Untuk yang memutuskan bekerja di LN, ada yang namanya pensiun. Setiap pekerja kebanyakan ikut dalam dana pensiun. Jadi sebagian gaji itu di-ambil tiap bulan untuk dana pensiun ini dan ada beberapa perusahaan yang berkontribusi menambah pundi-pundi pensiun anda. Jadi misalnya 2.5% gaji before tax dimasukin ke dana pensiun, perusahaan akan memberikan juga uang sejumlah 2.5% ini ke dana pensiun anda, jadi anda akan dapet nilai total 5% (dan tak kena pajak).

Kelemahan dana pensiun ini adalah dana ini hanya bisa ditarik pada umur tertentu, let say di Inggris bisa ditarik saat berumur 67 tahun. Jika usia pensiun di Indonesia 55 tahun, di Eropa umumnya usia pensiun itu di atas 60 tahun. Makanya sering ada demo jika usia pensiun dinaikkan. Jadi jangan heran kakek-kakek dan nenek-nenek pun masih bekerja di Eropa sini, lha wong umur pensiun 67 tahun.

Makanya yang ikutan dana pensiun ini pun bisa dibilang “terikat” untuk tinggal di negara X, atau pensiun itu bisa dibilang hilang dan baru bisa diambil pas dia umurnya mencapai usia pensiun. Nah kalo mau balik Indo, silahkan bye-bye deh sama dana pensiun. Untunglah saat ini saya tidak ikutan dana pensiun, jadi nggak bisa ke-sangkut hehe.

Takut nggak dapet kerja di Indonesia
Ketakutan ini kebanyakan dirasakan oleh para lulusan PhD yang ilmunya belum begitu berkembang di Indonesia. Pilihan mereka cuman dua, balik ke Indonesia dan siap-siap risetnya banyak menemui halangan dana atau infrastruktur, atau menetap di luar negeri dimana kemampuan mereka lebih dihargai. Soal gaji-pun jadi masalah, kalau di Indonesia, tahu sendiri lah gaji dosen itu berapa? bandingkan dengan bekerja di LN, either di universitas ataupun lembaga riset, ngejomplang abis. Saya tidak akan nge-judge teman teman yang memilih pilihan balik ke Indonesia atau menetap di LN, karena anda-lah yang tahu what’s the best for you. Just go for it. Meskipun di Indonesia ada yang menganggap orang-orang yang tak kembali ini tak nasionalis. Mereka tahu apa?

Kasus lainnya adalah seorang teman yang sudah lama bekerja di LN dan lebih terbiasa dengan pola kerja di LN. Dia pun agak khawatir jika balik ke Indonesia nggak akan bisa beradaptasi dengan pola kerja di Indonesia. Apalagi kalo nyangkut-nyangkut dengan korupsi atau mark-up, disini bisa dipenjara, disono dibiarin aja.

Traveling
Last but not least adalah traveling. Marilah kita ambil contoh Eropa. Jika anda tinggal di Eropa, kebanyakan kota-kota besar di Eropa bisa ditempuh dalam jangka waktu < 3 hours flight kalau mau pakai bus atau kereta jangka waktunya lebih lamaan dikit dan zona waktu hanya berbeda maksimal 2 jam. Meskipun jika ada pilihan saya pasti memilih tinggal dekat bandara yang ada maskapai Ryan Air atau Easy Jet. Jadi kalau ada libur seminggu, bisa liburan satu negara dan waktu yang terbuang oleh flight bisa dibilang dikit jika dibandingkan dengan flight dari Indonesia. Contoh aja dari London St. Pancras – Paris Nord palingan cuman butuh 2.5 jam naik Eurostar (dan seminggu untuk ngurus visa + setengah hari buat siapin dokumen).

Nah, kalo tinggal di Indonesia, misalnya Jakarta. Coba mau liburan ke Eropa, flight aja udah sekitar 20 jam, belum lagi tambah efek jet-lag dan biaya beli tiket pesawat yang lumayan nendang. Ditambah lagi jatah cuti yang biasanya 12 hari selama setahun, itu pun dipotong sama cuti bersama. Oh noooo….

Jadi teringat percakapan Yanto dan Alex [nama samaran]:
Yanto: “elu nggak balik dan nyari kerja di Indo aja?”
Alex: “nggak dulu deh, traveling Eropa gw belum selesai”
Yanto:”Kan di Indonesia lu juga bisa jalan-jalan ke Eropa”
Alex: “Iya, tapi nabung berapa tahun dulu bos? itu pun kalo jatah cuti elu mencukupi, tahu sendiri cuti di Indo kan pelit, belum lagi soal biaya, kalo lu kerja di Eropa, libur seminggu, lu cukup butuh 600-an Euro buat backpacking seminggu-an. Kalo lu kerja di Indo, 600-an Euro itu cuman tiket pesawat doang, belum lagi waktu yang hilang dari flight ke Eropa dan jet lag”.
Yanto:”……. ”

Epilogue
Demikianlah hasil pengamatan saya setelah bergaul dengan teman-teman yang memutuskan untuk belum kembali ke Indonesia. Jika dulu saya termasuk di posisi yang tidak akan pernah mendengar alasan-alasan ini, sekarang setelah banyak bergaul dengan tipe-tipe yang belum kembali ini, ternyata ini toh alasannya. Kebanyakan dari mereka ini jika sudah dapet permanent resident, lalu beli rumah dan berkeluarga di LN, bisa dibilang sudah akan sulit bagi mereka untuk kembali ke Indonesia. But, itu pilihan yang mereka ambil, dan mereka tahu apa yg terbaik untuk diri mereka.