March 2012


Ada satu hal yang sudah jelas ketika memulai libur musim semi ini, kota terakhir yang akan dikunjungi adalah Stockholm karena saat itu saya sudah membeli tiket Stockholm – Belanda. Selama 4 bulan sebelum berangkat liburan musim semi, itinerary diatur dan kami pun mengunjungi kota-kota yang sudah disebut di chapter sebelumnya. Di Stockholm inilah kami menginap di rumah kenalannya Rahmadi yang bernama Om Tom. Di backpack Rahmadi pun terselip “Bika Ambon” yang dibungkus dalam kantong plastik khusus sehingga masih segar meskipun sudah 10 hari berdiam di backpack-nya Rahmadi. Bika Ambon ini titipan dari teman-teman Om Tom yang berada di Belanda dan Rahmadi pun menjadi kurir Bika Ambon.

Dari tempatnya Om Tom, kami menuju stasiun Gamla Stan untuk menuju ke Royal Palace-nya Swedia untuk melihat pergantian penjaga di istana ini. Di perjalanan menuju Royal Palace inilah saya melihat orang-orang Tamil sedang berdemo dan memajang foto-foto yang benar-benar merusak selera makan karena foto-foto ini mengumbar darah dan organ-organ tubuh manusia. Ada juga beberapa kasur digelar di jalan untuk orang-orang yang mogok makan.

Dari melihat orang yang mogok makan ini, kami berpindah melihat pergantian penjaga (changing guard) di Royal Palace-nya Swedia. Seragam mereka pun didominasi warna biru, seperti warna bendera Swedia. Helm-nya pun agak berbeda karena di bagian atasnya ada mata tombak. Royal Palace ini merupakan kediaman resmi Raja Swedia yang dirancang oleh Nicodemus Tessin. Istana ini mengambil gaya Italian Baroque dan diselesaikan di tahun 1754 dan terdiri dari beberapa bagian: The Royal Apartments, The Royal Order of Chivalry, The Treasury, The Royal Chapel, The Hall of State, The Tre Kronor Museum, Gustav III’s Museum of Antiquities, dan The Royal Armoury. Sayangnya kami tidak sempat melihat semua bagian ini dan berhubung pergantian penjaga masih agak lamaan, kami masih sempat ngiderin daerah seputar Royal Palace ini dan mengetahui beberapa museum di daerah ini seperti Museum Nobel tutup karena hari itu adalah hari Senin. Biasanya hari Senin museum-museum di Eropa tutup, tak terkecuali di Stockholm. Untunglah masih ada acara pergantian penjaga yang hari Senin pun tetap ada. Ada 19 prajurit yang berpartisipasi di acara pergantian penjaga ini dan sekumpulan turis yang mengabadikan pergantian penjaga ini. Pergantian penjaga kenapa ada acara lari-lari ya, memang Swedia beda sendiri deh. Saat melangkah keluar dari daerah Royal Palace ini, ada orang-orang Kurdi lagi menggelar protes. Swedia rasanya lumayan permisif untuk acara-acara demo seperti ini. Pantas saja dulu beberapa petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berdiam di Swedia.

Berhubung hari itu Senin dan semua museum tutup, kami pun mengarah ke KTH (Kungliga Tekniska Hogskolan), perguruan tinggi teknik ternama dari Swedia. Saya masih ingat jika setahun sebelumnya saya keterima di salah satu program Erasmus Mundus, semester tiga saya pasti akan kuliah di perguruan tinggi ini. Anak Om Tom (host kami) pun lulusan KTH. KTH memainkan posisi yang penting dalam hal perkembangan teknologi di Swedia dan saat ini merupakan perguruan tinggi teknik terbesar di daerah Eropa Utara dengan 2500 karyawan dan 9000 mahasiswa. KTH pindah ke lokasi ini tahun 1917. Arsiteknya, Professor Eril Lallerstedt, memenangkan kompetisi untuk mendesain gedung KTH ini. Seniman-seniman terkemuka pada masa itu pun berkontribusi membangun patung dan mural untuk mendekorasi bangunan ini. Setelah KTH, kami masih sempat melihat Stockholms Stadion, Svenska Television, Svenska Radio dan ngiderin daerah di seputar Skansen sebelum kembali ke rumah Om Tom.

Keesokan harinya adalah hari untuk mengunjungi museum-museum yang hari Senin tutup, sayangnya kami meninggalkan rumah Om Tom agak siang jadi waktu jalan-jalan hari itu tidak maksimal. Tujuan utama kami adalah menuju Vasa Museum untuk melihat kapal perang Viking yang berhasil diangkat setelah terbenam di dasar laut selama 333 tahun. Kerennya lagi, meskipun sudah terbenam ratusan tahun, kayunya masih bagus dan belum lapuk dan berhasil diangkat ke permukaan untuk kemudian dipajang dan menjadi salah satu atraksi wisata favorit di Stockholm. Tujuan berikutnya adalah Museum Nobel yang tentu saja isinya tentang kisah Alfred Nobel yang namanya diabadikan di Nobel Prize. Untungnya masuk sini gratisan, padahal biasanya bayar 40 Kronor untuk mahasiswa. Hari pun berakhir dan kami kembali ke rumah Om Tom.

Hari kepulangan ke Belanda dari Stockholm adalah hari bolos saya. Kuliah dimulai hari ini, tapi saya berhasil membujuk salah satu teman sekelas untuk merekam kuliah dengan voice recorder, jadi meskipun tidak datang kuliah asalkan mendengarkan materi kuliah. Faktor harga tiket ini benar-benar mempengaruhi keputusan saya mengapa baliknya hari ini. Kalau mau balik kemarin harga tiket pesawatnya dua kali lipat dibandingkan hari ini. Bolos sehari nggak apa-apa lah.

Bisa dibilang seharian habis di jalan, bermula berangkat dari rumah Om Tom ke Stockholm, lalu disambung naik bus ke Skavsta Airport untuk mengejar pesawat Ryan Air yg berangkat jam 14.10. Lalu naik pesawat Ryan Air yang lucunya begitu mendarat ada bunyi terompet dan sales pitch yang berkata sekian persen pesawat RyanAir mendarat on time. Disambung bus dari Eindhoven Airport ke Eindhoven Station. Di Eindhoven inilah saya janjian ketemu Desiree, teman sejurusan ketika kuliah di Bandung dulu yang mengundang makan malam bersama dia dan suaminya, Mas Zalfany. Lama juga tidak bertemu dengan Desiree, rasanya sudah 4 tahun. Selesai makan malam di tempat Desiree dan ngobrol-ngobrol, saya pun meninggalkan Eindhoven dan kembali ke Delft.

Akhirnya scandinavia trip selama libur musim semi ini selesai juga. Salah satu trip yang berkesan untuk saya, terutama untuk pemandangan alam di deket Bergen. Top banget, tempat yang pasti akan saya datangi kembali suatu saat nanti. Semua moda transportasi yang ada dipakai, dari bus (termasuk bus malam dan bus dalam kota), subway, metro, trem, kereta (termasuk scenic train dan kereta dengan kemiringan 26 derajat), ferry lintas negara, nebeng mobil host dan ditutup dengan maskapai murah meriah yang saat mendarat ada suara terompet serasa tahun baruan. Perjalanan dengan jenis-jenis transportasi paling lengkap selama ini. Lupa naik becak aja kali ya. Tak sabar rasanya untuk menunggu libur musim panas.

Advertisements

“Skip Oslo saja kalau kalian waktunya terbatas” saran Ardhy yang sangat condong ke Bergen dan tour fjord yang dimulai dari kota ini. Saran dia mengenai men-skip Oslo tidak kami lakukan karena waktu kami masih cukup untuk mengunjungi Oslo selama trip kali ini. Oslo pun dikunjungi dua kali, sebelum ke Bergen (hari ke-6) dan sesudah ke Bergen (hari ke-9 dan ke-10).

Setelah dua setengah hari di Kopenhagen, Rahmadi dan saya meninggalkan kota tersebut untuk menuju Oslo melewati Malmo, Lund, Helsingborg-Helsingor. Sebuah bus malam membawa kami dari Helsingborg menuju Oslo dan Oslo pun dicapai di pagi hari ke-6 perjalanan kami. Di stasiun kereta Oslo (Oslo Sentralstasjon), yang bersebelahan sama terminal bus Oslo, kami sudah disambut dua orang “suspected criminal”, tepatnya ketika kami berada di WC. Tampang mereka sangat mencurigakan dan gerak-gerik-nya pun mencurigakan sehingga saya memberi kode ke Rahmadi agar kami berdua berhati-hati. Untunglah kami berdua, kalau sendirian besar kemungkinan sudah kena palak.

Di Oslo ini kami punya waktu seharian karena malamnya kami akan mengambil kereta malam ke Bergen. Berhubung kami malas membawa backpack selama seharian itu, coin locker menjadi tujuan berikut. Coin lockernya pun termasuk keren karena ada follow in screen instruction. Setelah bayar dan masukin barang, kami pun bebas dari backpack selama sehari ini. Oslo Pass menjadi tiket berikut yang kami cari dan sebagai mahasiswa kami pun mendapat diskon, tapi kami harus menunjukkan bukti registrasi bahwa kami terdaftar di tahun ajaran tersebut. Norway dan Belanda tampaknya mempunyai sistem yang sama untuk kartu kemahasiswaan, ada dua jenis: kartu mahasiswa dan kartu registrasi. Kartu mahasiswa tidak mempunyai jangka waktu dan ada foto, sedangkan kartu registrasi menerangkan kami terdaftar di jurusan apa dan tertera masa berlaku kartu tersebut.

Tujuan utama kami hari itu adalah mengunjungi museum-museum yang terletak di Bygdoy: Viking Ship Museum, Open Air Museum, Kon-Tiki Museum, Norwegian Maritime Museum dan Nobel Peace Center. Museum pertama yang dikunjungi adalah Vikingskiphuset (Viking Ship Museum) yang merupakan salah satu kulturhistorisk museum Universitetet i Oslo (Museum of Cultural History University of Oslo). Museum ini bisa dikategorikan kecil dan bisa dikunjungi hanya dalam setengah jam dengan feature utama-nya adalah kapal viking yang besar dan menempati mayoritas space di museum ini. Di dekat museum ini ada Friluftmuseum Stavkirken (Open-air museum – The Stave Church) yang salah satu isinya folk dress exhibition, alias ekshibisi baju daerah-nya Norwegia. Berhubung ini adalah open-air museum, kebanyakan isinya berada di alam terbuka, seperti rumah-rumah adat dan tenda-nya suku Sami. Satu hal yang masih misteri buat saya sampai saat ini, mengapa di atap tiap rumah di open air museum ini selalu ada tanah dan rumput. Ada yang bisa jawab? Selesai mengunjungi open-air museum ini, Kon-Tiki Museum sudah menunggu. Nama museum ini diambil dari nama dewa matahari jaman pre-Inca yang menurut legenda berlayar menuju ke arah Barat dan digunakan menjadi nama sebuah raft yang digunakan dalam ekspedisi menuju ke Barat. Rakit (raft) yang dipajang di museum ini digunakan oleh 4 orang Norwegia dan 1 orang Swedia yang pada perang dunia ke-2 terlibat di dalam gerakan resistance melawan Jerman. Perjalanan dengan rakit ini menjadi petualangan untuk mereka dan juga generasi di Eropa yang baru saja recover dari perang dunia ke-2. Saat keberangkatan ekspedisi ini di 28 April 1947, Ekspedisi Kon-Tiki ini menjadi worldwide event. Film dokumenter tentang ekspedisi Kon-Tiki memenangkan Oscar di tahun 1951 untuk kategori Film Dokumenter terbaik dan piala Oscar ini dipajang di museum ini. Sebelahan sama Kon-Tiki Museum ada Norsksjofart Museum (Norwegian Maritime Museum) yang berisi replika kapal berbagai jenis dan juga pinguin, beruang salju dan yak yang diawetkan. Ada juga kisah Admusen dan orang-orang Eskimo yang terlibat dalam ekspedisi kutub Admusen ini. Setelah dari Norwegian Maritime Museum ini, Nobel Peace Center menjadi tujuan berikut. Di dalam musuem ini ada kisah tentang perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia yang difasilitasi oleh Martti Ahsitaari yang benar-benar nyangkut tentang Indonesia. Ruangan di dalam Nobel Peace Center ini terkesan sangat futuristik dengan banyaknya perlengkapan elektronik mutakhir di setiap ruangan.

Sorenya, setelah museum-museum ini tutup, kami survey tempat tinggal calon host kami di Oslo dulu, dan setelah itu baru ke Vigeland Sculpture Park. Di taman ini banyak sekali patung telanjang dari cowok dan cewek; dari bayi sampe kakek-nenek semuanya lengkap. Di taman ini juga ada Vigeland Museet dan Oslo by museum yang tidak sempat dikunjungi karena keduanya sudah tutup.

Di Oslo inilah saya benar-benar menghayati arti kelaparan. Pagi-nya ketika sampai Oslo kami hanya sarapan roti 4 potong peninggalan dari Helsingborg dan ketika sampai Bygdoy ternyata tidak ada restoran disana. Jadilah kami tidak makan dan jam 19.00 itu saya sudah mulai merasa kelaparan. Kelaparan mengakibatkan sakit kepala dan semakin pening lagi melihat harga makanan di Norway yang nggak kira-kira dan bikin kantong sakit. Masa harga paket Burger di sebuah restoran cepat saji itu sekitar 81 NOK (Norwegian Kronor), atau setara 12 Euro? Harga paket di restoran burger saingannya pun kurang lebih setara. Itu harga take away, kalau mau makan di dalam restoran masih kena tambahan biaya 5 NOK. Kalau ada yang bilang Jepang Negara termahal di dunia, pasti dia belum pernah ke Norwegia.

Di kota inilah saya melihat dengan mata kepala sendiri ke-hemat-an Rahmadi yang sangat legendaris di Delft. Ketika saya sudah dalam keadaan “oke, gue laper banget, beda berapa NOK cincai lah” Rahmadi masih sempat memikirkan perbedaan harga yang hanya beberapa NOK. Ketika kami sampai di BK dan melihat harga sambil berpikir itu kemahalan, Rahmadi pun bilang, “lihat harga di McD dulu” dan kami pun berjalan mencari restoran itu. Sesampainya di McD dengan harga yang hanya beberapa Kronor lebih mahal dan saya sudah tidak perduli dengan harga ini, Rahmadi malah bilang “ini lebih mahal beberapa Kronor, mendingan balik lagi ke BK”. Mau pingsan nggak tuh? Selepas dari tempat ini pun kami menuju ke Oslo Central Station untuk mengambil kereta malam ke Bergen.

Kembali ke Oslo

“Velkommen on bord i toget til Oslo S” tertulis di sebuah papan elektronik di dalam kereta Bergen menuju Oslo. Setelah menghabiskan dua hari di Bergen, kami kembali ke Oslo dan sampai disana sekitar jam 5 sore dan langsung menuju ke rumah host kami dan beramah-tamah dengan dia sambil beristirahat seharian. Anjing-nya host kelewat ramah dan selalu berusaha menjilat kami dan selalu nempel terus sama tamu.

Keesokan harinya kami diantar host ke city center dan diturunkan deket National Museum. Di dekat daerah ini rupanya ada festival mahasiswa-mahasiswa Universitas Oslo yang mengakibatkan kerumunan massa di daerah ini. Tujuan kami berikutnya adalah Royal Palace-nya Oslo yang syukur-syukur kalau ada change guard. Seragam guard-nya pun terkesan gelap, celana panjang hitam dan kemeja biru tua disertai topi yang ada jambulnya. Seragam guard Swedia pun terkesan lebih berwarna dan keren dibanding seragam guard Norwegia.

Dari sini kami masih jalan dan menemukan National Theatre yang di dekatnya sedang ada sekumpulan orang Tamil yang berdemonstrasi. Negara-negara Skandinavia tampaknya menjadi surga orang-orang yang mencari suaka dan mereka ini sering kali berdemonstrasi di pusat kota. Pusat kota itu pun yang menjadi tujuan utama kami, termasuk mengunjungi Oslo Domkirke Kirkeristen (Oslo Cathedral). Saya jadi bertanya-tanya apakah kata “Kristen” berasal dari bahasa Norwegia. Daerah Aker Byrgge dan kumpulan yacht di pelabuhan ini masih ramai oleh pengunjung, turis dan warga local. Di dekat Aker Brygge ini ada sebuah benteng, Akershus Fortress yang dibuka untuk public dari jam 6 pagi sampai 9 malam. Benteng ini menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi hari itu sebelum mengarah ke Oslo Central Station untuk mengambil trem ke rumah host kami. Malam ini kami akan menuju Stockholm dengan sebuah bus malam. Hari-hari di Norwegia telah berakhir, dan saya akan kembali lagi ke Negara ini saat libur musim panas.

Nald, mending nggak usah ke Norway aja kalau nggak ke Bergen, buat ikutan Norway in a nutshell, pemandangannya fjord disana keren banget, kalau waktunya kurang skip Oslo aja” demikian promosi Ardhy mengenai tour Norway in a Nutshell ini ketika saya menyinggung rencana spring break Scandinavia ke dia.

Ardhy, teman kuliah di Bandung dulu yang sekarang bekerja di Kopenhagen ini waktu itu saya tanyakan sarannya mengenai scandinavia trip saya berhubung dia sudah tinggal 4 tahun di Denmark dan pastinya sudah berpengalaman mengeliling Negara-negara Scandinavia. Rencana awal liburan musim semi ini hanya 11 hari saja untuk mengunjungi kota-kota utama di Scandinavia: Kopenhagen, Oslo dan Stockholm, Kalau sempat sekalian mengunjungi kota-kota kecil di sekitar Kopenhagen. Rencana pun berubah karena adanya informasi dari Ardhy ini. Itulah pertama kalinya saya mendengar sebuah kota yang bernama Bergen di Norwegia dan Norway in a Nutshell ini. Rencana awal saya sama sekali tidak memasukkan Bergen ke dalam itinerary dan setelah diyakinkan oleh Ardhy dan melihat sneak peak Norway in a nutshell ini di website, jadilah Bergen masuk ke dalam rencana spring break dan akhirnya menjadi highlight trip kali ini.

Pada mulanya saya berpikir Norway in a Nutshell ini semacam tourist bureau. Ternyata Norway in a Nutshell ini merupakan tour tapi tanpa pemandu wisata. Menurut Ardhy, trip ini yang dilihat lebih ke arah perjalanannya, bukannya kota-kota yang dikunjungi. Di Kopenhagen, ketika kami menginap di tempat Ardhy, dia pun menunjukkan foto-foto trip Norway in a Nutshell dia beberapa tahun yang lalu. Foto ini bener-bener bikin ngiler. Pemandangannya bagus banget, apalagi kamera yang digunakan untuk mengambil foto ini adalah kamera SLR.

Kereta ini sampai di Bergen menjelang jam 7 pagi. Pemandangan ketika bangun tidur benar-benar sangat bagus dan di kereta pun kami mendapat sleeping kit yang terdiri dari selimut, bantal, penutup mata dan ear plug. Servis dari NSB (perusahaan kereta-nya Norwegia) ini bagus juga ya. Stasiun Bergen jika dibandingkan Stasiun Oslo benar-benar nge-jomplang. Di Oslo ada sekitar 20 track kereta sedangkan di Bergen hanya ada tiga, padahal Bergen adalah kota terbesar ke-2 di Norwegia. Sepanjang menunggu dijemput Hans, kami bertanya-tanya mengenai tour Norway in a Nutshell di sebuah loket yang buka. Hans baru nongol 40 menit setelah kami tiba dan membawa kami ke rumah dia yang terletak di jalan Professor Hansteen Gate. Berhubung kami tepar setelah dua malam berturut-turut tidur di bus dan di kereta, kami pun beristirahat begitu sampai di tempat-nya Hans.

Informasi bahwa Hans ada di Bergen pun diperoleh secara tidak sengaja dari Facebook. Saat Ardhy menyinggung tentang kota Bergen ini, saya tidak ngeh kalau Hans tinggal di Bergen dan ketika secara tidak sengaja melihat profile dia dan lokasi dia yang berada di Bergen. Langsung deh menghubungi Hans dan nanya-nanya tentang Norway in a nutshell sekaligus boleh nebeng atau tidak. Hans merupakan teman sejak jaman kuliah di Bandung dan kami satu angkatan meskipun beda jurusan, saya mengambil Teknik Elektro dan Hans mengambil Teknik Kelautan. Setelah lulus dia bekerja setahun dan di tahun 2006 berangkat ke Norwegia untuk belajar di NTNU Trondheim, salah satu Universitas Teknik di Norwegia. Di tahun 2009 itu rupanya dia pindah ke Bergen setelah keterima bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang migas. Rahmadi dan saya dapat kepastian tinggal di Bergen pun dua hari sebelum kami sampai di kota itu. Hans yang dihubungi via email tidak menjawab, pesan di Facebook juga tidak dijawab, dan akhirnya baru dijawab setelah posting pesan ke wall dia. Setelah tidak sengaja melihat layar monitor dia, wajar aja tidak dijawab, wong unread message-nya di email dia banyak banget. Di tempat Hans inilah kami akan menginap selama di Bergen dan berhubung hari kami tiba dia ngantor, jadilah kami dikasih kunci rumah dia dan nanti janjian akan jalan bareng setelah dia pulang kantor.

Setelah berisitirahat setengah hari, jam 13.00 kami pun meninggalkan tempat Hans menuju pusat kota. Bergen Kunstmuseum merupakan tujuan awal kami. Museum yang berisi lukisan-lukisan ini mengutip bayaran 40 NOK untuk mahasiswa dan disinilah saya bertemu dengan seorang wanita Finlandia yang mengajak ngobrol. Awal-awal masih OK, tapi lama kelamaan pembicaraan si wanita kok ngelantur ya, baru saya sadar ternyata wanita ini sakit jiwa dan tak berapa lama kemudian sudah ada petugas yang menjaga wanita ini dan membawanya keluar. Apes deh. Di luar museum ini kami bisa melihat sebuah danau buatan besar dan pohon-pohon yang mulai menampakkan bahwa sekarang adalah musim semi. Di salah satu pohon ada satu pasangan sedang sibuk pacaran di atas pohon. Ciuman aja mesti naik-naik pohon, romantis kali ciuman di atas pohon yang daun-daunnya berwarna merah muda. Untunglah adegan ini berhasil diabadikan dengan kamera saya, sebuah hal untuk membuktikan tidak hanya di India saja adegan pacaran yang melibatkan pohon di dalamnya.

Dari daerah seputar danau buatan ini kami menuju shopping street-nya dan melihat dua siswi yang sedang merangkak di jalan dan ditemani oleh empat orang siswa lainnya. Berhubung penasaran saya bertanya kepada mereka ada apa di balik aktivitas merangkak ini. Ternyata sekarang ini adalah masa-masa kelulusan SMU dan ditandai dengan merangkak di jalan utama di kota Bergen. Atasan mereka berbeda-beda tapi celana panjang yang mereka kenakan berwarna merah dan dihiasi oleh bendera Norwegia. Untunglah dua siswi yang merangkak ini mau difoto dan foto ini menjadi photo of the day.

Dari sini kami menuju ke Bryggen, daerah pasar ikan-nya Bergen. Tapi tidak ada aktivitas yang berarti ketika kami berada disana. Bryggen (atau Wharf dalam bahasa Inggris) didirikan tahun 1702 dan ditetapkan menjadi warisan budaya UNESCO di tahun 1980. Rumah warna-warni Bryggen ini benar-benar mengingatkan saya dengan bangunan serupa di Copenhagen yang baru kami kunjungi beberapa hari sebelumnya.

Petang itu kami berjanji ketemu Hans yang membawa kami ke Floinbanen, sebuah kereta yang unik karena kereta ini berjalan pada lintasan yang menanjak 26 derajat. Titik akhir kereta ini adalah Floien Stasjon yang terletak di 320 meter diatas permukaan laut. Dari Floien ini kami dapat melihat pemandangan kota Bergen sambil menunggu matahari terbenam. Di Floien ini pun ada miniature kereta Floibanen dan stasiun-stasiun dari Bergen ke Floien dan kereta mini ini posisinya bersesuaian dengan kereta floibanen asli-nya.

Setelah melihat Bergen hari itu, saya cenderung setuju dengan Ardhy bahwa Bergen ini lebih cantik dari Oslo. Sekilas Bergen ini mirip dengan Bandung karena dikelilingi oleh gunung. Bedanya Bergen dibatasi oleh laut sedangkan Bandung jauh dari laut.

Keesokan hari-nya, alias hari ke-8 perjalanan kami adalah Hari “Norway in a Nutshell” yang menjadi highlight trip Scandinavia kami. Promosi Ardhy yang kenceng banget mengenai kota Bergen ini dan didukung website Norway in a Nutshell yang sangat menjual membuat kami merubah itinerary dan memasukkan Bergen dan Norway in a Nutshell ke dalam rencana kami. Biayanya cukup mahal juga, 935 NOK (Norwegian Kronor) atau sekitar 120 Euro, tapi setelah mengikuti trip ini, harganya sesuai dengan kepuasan pelanggan. Meskipun kamera saya hanya kamera saku biasa, berhubung objek foto-nya bagus, foto-foto yang diambil hari ini pun benar-benar keren.

Norway in a Nutshell ini semacam tour, tapi kami hanya diberikan tiket transportasi saja dengan rute Bergen – Voss – Gudvangen – Flam – Myrdal – Voss – Bergen. Tiket ini valid dalam dua hari atau kalau mau bisa dijadikan juga dalam 1 hari. Perjalanan dalam trip inilah yang berkesan, bukan kota-kota yang dikunjungi di trip ini, menurut Ardhy. Setelah menempuh trip ini, saya pun setuju dengan dia, karena perjalanan di Norway in a Nutshell inilah yang paling berkesan buat saya.

Kami berangkat dari Bergen jam 8.40 dengan tujuan utama Voss. Kami akan sampai menjelang pukul 10 pagi di Voss. Saran Hans: ambil tempat duduk di jendela sebelah kiri karena pemandangannya lebih bagus. Di kereta ini ada satu hal yang agak lucu, toilet-toilet akan ditutup di rute-rute tertentu dengan tujuan untuk melestarikan alam.

Begitu kami sampai di Voss langsung deh nyari bus yang akan membawa kami dari Voss ke Gudvangen.Pertama-tama hanya ada 1 bus yang penuh banget, untungya tidak lama kemudian datang bus kedua dan ketiga. Di bagian atas kaca depan bus ada LED bertuliskan Norway in a Nutshell. Meskipun saat itu berada di Eropa, suasana saat mau masuk bus ini mengingatkan saya dengan bus-bus ketika masa mudik, benar-benar tidak ada aturan dan main sikut-sikutan, termasuk kakek-nenek yang suka sikut-sikutan. Berhubung duit lagi habis, Rahmadi ngambil duit di ATM dulu, siapa tahu kami nanti perlu uang untuk beli souvenir.

Kalau soal sikut-sikutan merupakan sesuatu yang sama seperti bus-bus di Indonesia, soal ketepatan waktu merupakan hal yang berbeda. Bus disini benar-benar tepat waktu. Di tiket kami disebut bus akan berangkat pukul 10.12 dan benar saja, jam 10.12 bus berangkat. Highlight utama rute Voss ke Gudvangen ini adalah dua air terjun (Stalheimsfossen dan Sivlefossen) dan 13 kelokan Stalheimskeliva. Berhubung sudah kebiasaan naik sepeda di Belanda, saya kepikiran pasti lebih enak sepedaan buat menjalani rute ini dibandingkan naik bus, tapi nyewa sepeda dimana ya? Tiga puluh menit setelah berangkat kami pun mulai meninggalkan jalan utama dan masuk ke jalan kampung. Kata Pak Supir akan ada 2 air terjun dan 13 kelokan. Air terjun pertama sudah dilewati sebelum masuk jalan kampung ini, berarti tinggal 13 kelokan dan 1 air terjun lagi. Begitu melihat 13 kelokan yang menurun ini nyali sempet ciut juga, karena bener-bener curam dan berkelok-kelol. Kalau kenapa-napa bisa nggak selamat nih. Untunglah supirnya benar-benar meyakinkan kami dengan pengalaman dia selama 30 tahun di rute ini. Gile deh… 30 tahun nggak bosen ya? Kelokannya pun hanya cukup untuk satu bus, jadi kalau ada bus kedua yang muncul salah satu harus mengalah. Begitu mulai masuk turunan dan kelokan ini, penumpang pun mendadak rusuh, bukan ketakutan, tapi excited karena pemandangan di kanan kiri bus yang benar-benar bagus. Foto-foto disini hasilnya pasti dijamin bagus, meskipun hanya pakai kamera saku. Akibatnya bus menjadi rusuh sepanjang kelokan-kelokan ini karena penumpangnya berpindah-pindah tempat duduk untuk mengambil posisi agar mendapatkan gambar yang bagus. Untunglah rusuh-rusuh ini hanya sekitar 15 menit dan penumpang pun kembali tenang, mungkin karena sudah puas foto-foto. Orang normal kalau melihat tikungan turunan itu pasti nyalinya ciut, tapi rasa ciut ini bisa dibilang dikalahkan sama rasa excited sama pemandangan di samping bus yang benar-benar bagus. Ada satu pelajaran yang bisa dipetik disini, lain kali kalau traveling bawa handycam karena kamera kurang bisa menangkap pemandangan indah di samping bus dengan sempurna. Begitu sampai di bawah, hampir semua penumpang bertepuk tangan kepada Pak Supir. Setelah 13 kelokan ini kami pun menemukan air terjun kedua yang dihiasi oleh pelangi. Ternyata untuk melihat pelangi tak perlu menunggu selesai hujan, cari aja ke deket-deket air terjun – pasti ada pelangi. Perjalanan bus ini berakhir di Gudvangen.

Bagian berikut dari Norway in a nutshell ini adalah perjalanan dengan Ferry dari Gudvangen menuju ke Flam, sebuah village yang picturesque dan cocok untuk jadi gambar di postcard. Ferry ini akan melalui Naeroyfjord yang termasuk dalam World Heritage List-nya UNESCO. Naerofjord ini merupakan salah satu fjord tersempit di Eropa dan perjalanan ini akan berakhir di Aurlansfjord. Fjord yang merupakan bagian dari Sognefjord ini sudah terkenal keindahannya. Ingin tahu rasanya? Bayangkan saja anda sedang naik ferry melalui sebuah sungai yang kanan-kirinya diapit oleh pegunungan berketinggian 1000an meter sambil ditemani camar-camar yang yang terbang mengiringi ferry. Kalau beruntung, katanya kami bisa melihat kambing-kambing liar sedang merumput di samping fjord dan anjing laut sedang berjemur di atas batu-batu. Marketing-nya keren banget yak? Rasanya melihat kambing merumput itu hal yang biasa, kalau anjing laut berjemur rasanya baru luar biasa. Dalalm perjalanan ferry Gudvangen – Flam melintasi fjord ini kami ditemani burung-burung camar yang terbang di sekitar ferry kami. Di 15 menit pertama perjalan ferry ini, pengunjung pun rusuh sibuk foto-foto kanan kiri dan ngasih makan burung camar yang mengikuti perjalanan kami. Setelah itu mereka pun tenang dan menikmati keindahan fjord di kanan kiri kami. Disinilah saya menyesal kenapa tidak mempunyai kamera SLR. Kalau ada kamera SLR pastinya foto-foto burung camar dan fjord ini jauh lebih tajam, setajam foto yang Ardhy perlihatkan ketika kami berada di Kopenhagen. Dua jam setelah ferry berangkat, kami pun tiba di Flam.

Flam Railway yang akan membawa kami dari Flam menuju Myrdal, sebuah stasiun di atas gunung adalah bagian berikut perjalanan kami. Perjalanan yang memakan waktu hampir sejam ini untuk menempuh jarak 20 km adalah salah satu highlight tour ini. Interior kereta ini pun terkesan mewah bernuansa kayu. Kereta berjalan pelan dan bahkan sempat berhenti selama beberapa menit di air terjun Kjosfossen untuk membiarkan penumpang turun dan berfoto-foto di sekitar air terjun ini. Dari Kjosfossen ini pemandangan di kanan kiri kami sudah didominasi warna putih-nya salju yang menyelimuti gunung-gunugn di sekitar kami. Kereta pun sempat berhenti di stasiun Vatnahalsen yang berketinggian 811 meter di atas permukaan laut untuk memberikan kesempatan kami keluar dan mengambil foto-foto lagi. Perjalanan Flambana pun berakhir di Myrdal dan kami pun menikmati salah satu pemandangan pegunungan yang dipromosikan sebagai salah satu yang terindah di Norwegia.

Ada Flam Railway, ada pula Bergen Railway yang rutenya dari Myrdal ke arah Oslo dan Bergen. Kami mengambil yang ke arah Bergen dan saatnya menikmati pengalaman unik melintasi rute kereta di highest-altitude line di Eropa bagian utara. Sekedar informasi, Bergen Railway yang menghubungkan Oslo dan Bergen ini merupakan salah satu dari top 20 rute kereta terbaik di dunia. Membuat rute ini tetap ada membutuhkan upaya yang besar dan keahlian teknik yang mumpumi karena di rute ini ada cuaca yang keras dan berubah-ubah seperti adanya angin kencang dan badai salju untuk beberapa saat di dalam setahun. Pegawai kereta berdedikasi, peralatan yang efektif, terowongan dan terowogan salju adalah alas an di balik salah satu cara teraman dan ternyaman untuk menempuh perjalanan antara Oslo dan Bergen.

Di Bergen kami masih menemui siswa-siswi yang merangkak di jalan ketika kami menuju fish market untuk bertemu Hans jam 18.30. Hari ini rupanya adalah hari terakhir dari perayaan kelulusan yang berlangsung selama satu minggu, sebuah informasi yang saya dapat dari Hans. Hans ingin membawa kami ke Akvariet i Bergen (Akuarium Bergen) yang salah satu isinya adalah pinguin dan anjing laut. Katanya sih juga ada monyet, ular dan buaya, tapi tampaknya mereka lagi bersembunyi di dalam kandang. Mungkin karena sudah di luar jam buka, pintu dibuka dan orang bebas keluar masuk, padahal kalau di jam buka setiap orang dikenakan biaya masuk 150 NOK, mahal amat yak? Dari sini kami masih sempat dibawa ke daerah tepi laut dan pusat kota sebelum kembali ke tempat Hans.

Keesokan harinya kami meninggalkan Bergen menuju Oslo dengan kereta jam setengah sebelas. Pagi itu Bergen diselimuti kabut, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang cuacanya sangat cerah. Rute yang kemarin kami lewati pun akan dilewati kembali hari ini, setidaknya dari Bergen sampai Myrdal. Rute kereta Oslo – Bergen ini, menurut LP Scandinavia pinjeman temen saya adalah salah satu dari three scenic route di Norwegia. Saya setuju karena memang pemandangan sepanjang perjalanan kereta ini bagus banget. Pemandangann pegunungan yang tertutup oleh salju dan sekali-kali ada rumah kecil di hamparan salju ini. Saya benar-benar membutuhkan kamera yang lebih bagus karena gambar yang diambil dari dalam kereta sering berbayang. Handycam pun rasanya benar-benar dibutuhkan untuk trip kali ini. Bergen selesai, saatnya kembali menjelajahi Oslo.

“Gue udah mulai nggak bisa bedain yang mana model, yang mana warga biasa” kata Rahmadi ke saya sambil melihat ke para wanita yang berlalu lalang di shopping street terpanjang di Copenhagen. Kami saat itu sedang makan siang di restoran rekomendasi Ardhy “Restoran Butterfly” yang katanya lumayan murah buat makan buffet di pusat kota Kopenhagen dan mendapatkan lovely distraction dari orang-orang yang berlalu lalang di shopping street itu. Beruntung sekali Ardhy yang tingal di Copenhagen yang dapat cuci mata setiap hari. Hari itu kami seolah mendapat teaser mengenai cewek-cewek Scandinavia yang isyunya potongan barbie-like, pirang keemasan, mata biru dan body bagus sampai-sampai Rahmadi banyak mengambil foto candid cewek-cewek Copenhagen dengan kamera semi-SLR pinjeman Ardhy. Saya yang juga punya pikiran yang sama harus mengelus dada karena kemampuan zoom out kamera saku saya sangat kurang untuk mengambil foto-foto candid ini. Benar-benar kamera SLR dibutuhkan disini.

Ardhy pun bercerita mengenai rahasia di balik “blonde”-nya orang-orang Scandinavia. Ternyata mereka itu sejak kecil sudah memakai cat rambut untuk mendapatkan warna pirang keemasan ini. Warna asli rambut mereka sebenarnya pirang pucat. “Kalau pengen liat warna rambut yang asli, coba liat anak-anak yang masih kecil, warna rambutnya masih asli” tutur Ardhy. Isyunya sih sejak umur 5 tahun mereka sudah mengenal yang namanya cat rambut ini. Ternyata cat rambut adalah rahasia di balik ke-pirang-an cewek-cewek Kopenhagen.

Di hari terakhir kami di Kopenhagen saat berada di dalam kereta meninggalkan kost-an Ardhy, kami berpapasan dengan serombongan siswi-siswi sekolah menengah yang “cantik-cantik, saking banyaknya jadi tidak unik lagi” kata Rahmadi. Benar juga, saking seringnya melihat blonde-blonde cantik ini, seolah-olah ada kalibrasi kata cantik.

Dengan semangat empat puluh lima kami pun menuju ke Swedia, dimulai dari Malmo ke Lund dan bermalam di Helsingborg untuk membuktikan bahwa gadis-gadis Swedia adalah yang tercantik di Scandinavia memanfaatkan sebuah tiket yang bernama Oresund Ticket. Tiket ini membuat kami bisa ngiderin Kopenhagen dan daerah Skone, tempat Malmo, Lund dan Helsingborg berada. Tiket ini berlaku searah, terserah mau dipilih jalur Kopenhangen – Malmo – Lund – Helsingborg – Helsingor – Kopenhagen ataupun arah sebaliknya. Berhubung kami akan mengambil bus malam dari Helsingborg menuju Oslo, kami pun tidak benar-benar menggunakan tiket ini secara maksimal. Perhentian pertama tiket ini adalah Malmo.

Di Malmo inilah kami mengetahui bahwa gadis blonde cantik pun bisa jadi tukang sapu jalanan, tukang sampah dan tukang kebun, lokasi persisnya ketika kami sedang berada di dekat Malmo Fortress. Sebelumnya saya pernah membaca bahwa Swedia dan negara-negara Scandinavia adalah tempat yang posisi antara pria dan wanita-nya benar-benar sejajar. Hari itu saya melihat contoh nyatanya. Kemana para pria tukang sapu jalanan, tukang sampah dan tukang kebun? Kalau saja ada pencari bakat dari agency model di Jakarta pasti gadis-gadis blonde yang kami lihat sedang mengerjakan pekerjaan “blue-collar” ini ditawari kontrak buat jadi model.

Meskipun Malmo kurang begitu terkenal di Indonesia, kota ini adalah kota terbesar kedua di Swedia. Malmo terkenal dengan sebuah bangunan mahakarya arsitek Spanyol bernama Santiago Calavatra. Santiago who? Kecuali anda kuliah arsitek, nama ini pasti jarang didengar, termasuk oleh saya yang tahu nama arsitek ini dari teman yang kuliah arsitektur. Kesan pribadi saya sih, iseng amat ya orang yang bikin bangunan ini, masa gedung seolah-olah di-twist. Silahkan google kalau mau lihat bangunan ini seperti apa.

Kami hanya mengalokasikan waktu setengah hari di Malmo. Lund, sebuah university town di sebelah utara Malmo pun menjadi perhentian berikut. Disini kami akan di-guide oleh Rika, yang baru kami kenal via email setelah sebelumnya saya email-email-an dengan ketua PPI Swedia untuk meminta tolong siapa yang bisa meng-guide kami berdua ketika kami berada di Swedia (Malmo, Lund, Helsingborg dan Stockholm). Kami mendapat 3 nama, dan dari tiga nama ini hanya Rika yang berbaik hati membalas email kami dan bersedia meng-guide kami ketika kami berada di Lund.

Kalau ada pepatah bahwa dunia itu selebar daun kelor, tampaknya hari itu pepatah itu benar, Rika ini ternyata temannya Ardhy dan kakak-nya Rika adalah senior saya dan Ardhy ketika kuliah di Bandung dulu. Memang dunia itu sempit. Rika pun sudah menunggu di stasiun Lund untuk menemani kami mengelilingi Lund, dimulai dari city center yang ada Dom (gereja) dan astronomical clock sebelum dibawa menuju kampus Lund University. Lund University merupakan universitas tertua di Swedia dan tempat Rika menuntut ilmu. Ada University Building yang dibangun tahun 1878-1882 yang berfungsi sebagai kantor rektorat. Kota Lund sekilas mirip dengan Delft, benar-benar terasa itu adalah university town. Rika masih membawa kami ke bagian lain dari Lund untuk melihat Botanical Garden dan kuburan Swedia sebelum perjalanan kami berakhir di stasiun untuk mengambil kereta menuju Helsingor.

Hari sudah gelap ketika kami tiba di Helsingborg dan host kami sudah menjemput di stasiun. Kami berencana untuk menginap malam ini di Helsingborg dan keesokan harinya mengunjungi Helsingor untuk melihat kastil Kronborg atau yang lebih dikenal sebagai kastil Hamlet karena kisah Hamlet-nya William Shakespeare mengambil setting di kastil ini.

Helsingor dan Helsingborg adalah kota kembar, bedanya yang satu berada di sisi Denmark dan yang lain berada di sisi Swedia. Helsingborg terlihat dari Helsingor dan begitupun sebaliknya karena kedua kota ini hanya dipisahkan laut sejauh 20 kilometer. Jadi urat nadi utama transportasi antara kedua kota ini adalah Ferry.

Di Ferry Helsingborg – Helsingor inilah saya belajar bedanya budaya Swedia dan Indonesia. Berhubung kami orang Indonesia di Ferry ada makanan buffet, kami benar-benar mengisi piring kami sepenuh-penuhnya sampai-sampai host kami bingung dan mengatakan “Do you know you can come back again and take another round?” Kami tahu, tapi ada dorongan dari dalam untuk mengambil sebanyak-banyaknya di piring pertama. Jika membandingkan piring host dan piring kami terasa sekali beda-nya, piring kami benar-benar penuh dan piring host kami hanya berisi makanan secukupnya. Perbedaan budaya? Mungkin saja.

Sesampainya di Helsingor, kami pun bergegas menuju ke Kronborg Castle. Rupanya sedang ada program Culture Harbour Kronborg yang merupakan renovasi besar-besaran di dearah sekitar Kronborg Castle. Kronborg Castle ini dinominasikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Keluarga kerajaan Denmark masih sering menggunakan Kronborg Castle untuk acara-acara kenegaraan dan saat royal flag days, meriam-meriam ditembakkan dari castle ini. Di dalam kastil ini ada sebuah tulisan “Once upon a time, a thousand years ago, there was a king of Denmark named Gorm the Old. All though the years his family has ruled the oldest kingdom of the world, and the present Queen Margrethe II is a descendant of the old king Gorm.” Kastil ini terdiri dari beberapa bagian: Royal Apartments – Ballroom, Casemates – Castle Chapel dan Danish Maritime Museum, tapi yang paling keren dari semuanya adalah dungeon alias penjara bawah tanahnya.

Selesai mengunjungi kastil ini, kami bertiga ngiderin city center dulu sebelum menuju pelabuhan Ferry dan kembali ke Helsingborg. Di tempat penukaran uang di pelabuhan ferry Helsingborg inilah Rahmadi mengalami pelecehan. Setelah kami menukar uang Denmark Kronor kami yang tersisa, kami dihampiri tiga orang yang mengajak kenalan. Satu bertampang bule dan dua orang bertampang Asia (yang ternyata dari China dan Srilanka). Setelah ngobrol-ngobrol sebentar bersama mereka, tiba-tiba host kami tersenyum dan melihat ke Rahmadi. Ternyata si bule ngomong ke dia dalam bahasa Swedia yang kurang lebih isinya “Is he (Rahmadi) gay? I want to take him home and eat him”. Awalnya kami tidak tahu apa yang dibicarakan oleh host kami dan si bule karena mereka berbahasa Swedia, dan alarm tanda bahaya pun mulai bermunculan ketika mereka bilang “We are homosexual” yang langsung dijawab oleh kami “We are straight” alias orientasi kami masih normal ke wanita bukan ke pria. Bule ini pun ngasih sinyal-sinyal positif ke Rahmadi sebelum berpisah berupa kedipan mata yang dibalas dengan tatapan mata bengong dan jijay dari kami. Bukannya Barbie Girl yang kami temui di Helsingborg, tapi Barbie Gay. Ketika Rahmadi tahu isi pembicaraan dalam bahasa Swedia antara host kami dan si bule pun tampang dia bete banget. Kejadian ini ada hikmahnya karena sejak saat itu Rahmadi tidak pernah mengungkit kejadian 20 kronor saya dan gadis-gadis Vivaldi. Sebelumnya saya selalu diingatkan kejadian gadis Vivaldi itu dan sejak kejadian ini begitu dia menyinggung gadis Vivaldi, saya sudah punya jawaban “masih mending gadis Vivaldi, setidaknya kan gue nggak digodain homo Swedia kaya elu Mad…..” yang sangat ampuh. Barbie gay ini menjadi penutup perjalanan kami di Negeri para Barbie yang untuk sementara berakhir di Helsingborg. Dari Helsingborg kami berencana mengambil bus malam menuju Oslo dan menghabiskan beberapa hari di Norwegia, terutama untuk mengikut highlight trip ini: Norway in a Nutshell sebelum ke Stockholm.

Pertama kali sampai di Kopenhagen, saya teringat iklan butter cookies khas Denmark. Di Kopenhagen selama dua setengah hari ini kami melakukan semua hal yang turis lakukan: mengunjungi Tivoli, canal tour Copenhagen, National Museum yang gratis, shopping street Storget , Rosenborg Castle di Royal Park dan yang paling terkenal patung Little Mermaid. Di deket tempat little mermaid inilah kami diwawancarai sama wartawan mengenai pendapat kami sebagai turis tentang rencana pemindahan patung ke China dalam rangka World Expo selama 6 bulan. Di kemudian hari, seorang teman kami yang ke Kopenhagen menggerutu karena dia tiba beberapa hari setelah patung ini dipindah ke China untuk World Expo. Tapi dari semua tempat di Kopenhagen itu, ada empat kejadian yang berkaitan dengan 20 kronor yang mengingatkan saya tentang kota ini.

Kisah #1 – Gadis-gadis Vivaldi

Pemusik jalanan merupakan pemandangan yang biasa di Stroget, sebuah shopping street yang isyunya merupakan shopping street terpanjang di Eropa. Saat hari pertama tiba di Kopenhagen, saya sudah melihat performance dari 5 anak muda dengan alat musiknya yang berupa botol yang diisi air dengan tinggi berbeda-beda. Salah satu pemain musik yang main drum mirip banget sama Harry Potter. Saya video-in pertunjukan mereka, tapi sayangnya ada orang-orang yang dengan seenak jidatnya sering lewat di depan saya sehingga di video tersebut sering terlihat kepala orang yang mondar-mandir. Hal yang membedakan mereka dengan pengamen jalanan di Indonesia adalah mereka lebih profesional. Memang sih mereka menaruh topi buat pengunjung ngasih recehan, tapi sebenarnya ini lebih merupakan publikasi mereka supaya masyarakat tahu eksistensi mereka. Para pemusik-pemusik botol ini bahkan punya website untuk group mereka. Saya jadi berpikir apakah ada pengamen jalanan di Indonesia yang mempunyai website.

Pemusik botol ini saya lihat dalam perjalanan menuju Royal Park. Ketika pulang dari Royal Park menuju ke Copenhagen station, kami melewati shopping street ini lagi. Rahmadi mendengar lagu Vivaldi dimainkan di ujung jalan, suaranya kencang, sound systemnya OK punya, dan ketika mendengarkan musik yang mereka mainkan sudah seperti mendengarkan CD aja. Mereka benar-benar berbakat. Tiga gadis dengan instrument musim mereka memainkan komposisi music-nya Vivaldi.

Kagum dengan permainan mereka, Rahmadi bilang, “Nald, kasih 10 kronor aja”. Saya yang habis memfoto mereka, tidak ngeh dengan nilai 10 kronor ini, karena masih transisi dari mikir mengkonversi Euro ke Kronor. Dalam hati saya mikir “Rahmadi pelit amat, masa dikasih 10 kronor (masih mikir2 10 kronor itu < 50 Eurocent)”. Debat sedikit sama Rahmadi, “20 kronor aja”, karena saya masih menyangka 20 kronor itu masih kurang dari 1 Euro. Rahmadi tidak terima dan berdebat, “10 kronor aja”. Berhubung saya yang megang recehan, saya cuek aja, dan langsung ngasih 20 kronor ke gadis-gadis Vivaldi ini. Setelah itu Rahmadi langsung sewot, “20 Kronor??!!!!!” dan langsung memberikan angka konversi 20 Kronor dalam Euro. Saya yang masih tidak percaya, membuka Lonely Planet Scandinavia, di bagian currency.

Oh my God, 7.44 kronor setara 1 Euro jadi saya tadi memberikan sekitar 2.6an Euro ke mereka. Jumlah yang lumayan gede, tidak sesuai dengan misi kami untuk berhemat ria dalam trip kali ini. Ya udahlah, hitung-hitung beramal sama pemusik berbakat. Meskipun rasanya Rahmadi nggak terima dan kadang–kadang mengungkit kejadian ini dan menyangka saya memberikan 20 Kronor karena tersihir sama kecantikan mereka. Alasan sebenarnya sih salah mengkonversi dari Kronor ke Euro. Kejadian ungkit-mengungkit ini akhirnya berakhir ketika beberapa hari kemudian saya punya kartu as kejadian Rahmadi digodain homo Swedish-Japanese yang tertarik sama dia. Pelajaran berharga: harus hati-hati kalau konversi dari mata uang satu ke mata uang lainnya, biasanya otak lumayan lemot dalam hal ini, ditambah lagi faktor yang main musik cakep. Saya belajar dari pengalaman, ketika hari ketiga di Copenhagen melihat pengamen solo yang kami lewati pun dikasih 2 (bukan 20) Kronor. Belajar dari pengalaman sebelumnya.

Kisah #2 – Akuarium di Tivoli

Marketing bisa menipu. Saat membaca tentang Tivoli Akuarium di brosurnya Tivoli, kesannya bagus banget ya, akuarium dengan panjang 30 meter berisi ikan-ikan dan terumbu karang. Berdasarkan informasi di brosur itu, akhirnya Ardhy (host kami di Kopenhagen), Rahmadi dan saya emutuskan untuk masuk dan melihat-lihat ikan-ikan tersebut. Kami perlu menambah 20 kronor per orang untuk masuk ke akuarium ini. Hampir 10% dari biaya masuk ke Tivoli, yang merupakan amusement park tertua di dunia.

Di akuarium Tivoli, saat melihat ruangannya untuk pertama kali “jangan bilang cuman segini ruangannya”. Penonton pun kecewa, Tivoli akuarium ternyata bener-bener kecil. Tiga puluh meter itu ternyata bisa dibilang pendek banget, bayangkan aja tiga rumah lebar masing-masing 10 meter dijejerin. Seaworld di Ancol pun jauh lebih bagus. Terumbu karangnya kayanya mati gitu, warnanya kusam. Bener-bener deh 20 kronor itu bisa dibilang sia-sia, meskipun nggak sepenuhnya terbuang karena kami bertiga bisa tidur sebentar di bantal besar yang empuk sambil melihat akuarium ini. Tiduran bentaran sambil melihat ikan-ikan yang kayanya berenangnya aja udah tidak semangat.

Kisah #3 – Sepeda Mr. Smile

Hari ketiga di Copenhagen, setelah secara tidak sengaja melihat guard change di Amelieborg Palace, rencananya kami mau ke tempat Little Mermaid, yang jadi simbol kota Kopenhagen. Awalnya kami mau jalan kaki dari Amelienborg Palace ke tempat Little Mermaid ini. Sambil jalan, kami melihat sepeda lucu yang bergambar Mr. Smile dan tanpa jari-jari. Lucu juga selera humor dinas pariwisata Kopenhagen. Selidik punya selidik, ternyata sepeda ini gratis, tapi pemakai sepeda harus ngasih deposit 20 Kronor yang akan balik kalo sepeda ini dikembalikan ke tempat-tempat tertentu di Copenhangen. Kerennya, di stangnya ada peta copenhagen dengan ukuran kecil. Peta kecil ini bener-bener membantu dalam hal orientasi arah di Kopenhagen.

Singkat cerita, bersepedalah kami menuju ke tempat Little Mermaid ini. Ada jalur khusus sepeda di jalan raya, yang mirip-mirip sama jalur sepeda di Belanda. Bedanya kalau di Belanda jalur sepeda berwarna merah, sedangkan di Kopenhagen jalur sepeda tidak diwarnai, kecuali di persimpangan jalan yang diberi warna biru.

Ketika sampai di tempat Little Mermaid ini, saya sempat berpikir untuk nge-take sepeda ini buat kami pakai seharian. Tapi bagaimana caranya? Ketika berangkat liburan kan tidak kepikiran bawa-bawa gembok sepeda. Pelajaran kalau selanjutnya ke Kopenhagen jangan lupa bawa gembok sepeda. Ketika baru sampai di tempat Little Mermaid saja sudah ada orang yang ngeliatin kami dengan tatapan mata “sudah selesai makai sepedanya? Saya juga mau pakai sepeda nih”. Kalau kami parkir dan mengambil 20 kronor deposit di sepeda ini, sudah pasti dalam beberapa menit sepeda ini akan dipakai turis lainnya. Ya sudahlah, relakan saja sepeda ini dipakai turis lain. Kami pun memarkir sepeda di tempat khusus sepeda ini dan ingin mengambil deposit 20 kronor di sepeda. Deposit Rahmadi kembali dengan lancarnya sedangkan 20 Kronor saya nyangkut, sampai diperlukan langkah-langkah yang agak berbau kekerasan untuk mengeluarkan 20 kronor itu. Untunglah bisa dikeluarkan, kan lumayan 20 kronor.

Story #4 – Copenhagen Post

Tourist information justru kami kunjungi di hari terakhir kami di Kopenhagen padahal biasanya tourist information saya adalah tempat yang pertama kali saya kunjungi ketika tiba di satu kota. Alasan dibalik hal itu adalah kami tak berhasil menemukan Tourist Information berdasarkan informasi Lonely Planet (LP) Scandinavia yang ternyata tidak up to date, maklum buku pinjaman dan dapatnya pun 2 hari sebelum berangkat liburan. Letak tourist information ini justru diperoleh dari Ardhy, dan ternyata letaknya sangat dekat dengan Copenhagen Central Station. Kalau anda berdiri di depan Copenhagen Central Station dan menghadap ke Tivoli, di arah jam 10 ada gedung lokasi tourist information ini, benar-benar deket dan palingan kalau jalan hanya butuh 5 menit. Ketika masuk ke dalam tourist informatio ini, wuihhh bagus banget. Ini tourist information terbaik yang pernah saya masuki selama traveling. Di dalam pun untuk dilayani harus mengambil nomor antrian di mesin. Sambil menunggu dipanggil, saya mengambil brosur-brosur pariwisata Denmark dan daerah Oresund Swedia yang dipajan. Kelihatannya sih gratisan.

Setelah nomor antrian kami dipanggil, nanya-nanya dan tiket Oresund pun berhasil kami dapatkan. Tiket yang bikin puyeng selama dua hari di Kopenhagen saking tidak jelasnya informasi tentang tiket ini. Saya sempat memuji ke petugasnya “Until now, this is the best tourist information I have ever seen” yang membuat petugasnya jadi bercerita betapa senangnya dia bekerja di tempat ini. Tampaknya saya membuat kesan yang bagus ke petugas tersebut.

Ketika keluar dari touris information inilah saya melihat sebuah tabloid berbahasa inggris yang langsung saya ambil. Lumayan lah untuk bahan bacaan. Ketika berada di dalam kereta menuju ke Malmo (Swedia) dibacalah tabloid ini. Halaman utama isinya tentang sosialita di Denmark yang ketangkap basah karena menjadi germo. Halaman demi halaman dibuka dan kenapa isinya seperti bagian Internasional di Kompas ya? Ada berita tentang pembajakan di Somalia. Feeling mendadak sudah jelek saja. Ketika membuka halaman selanjutnya, kenapa ada bagian olah raga. Sejak kapan tourist information memberikan tabloid yang isinya bukan tentang traveling?

Saat membuka halaman depan, kenapa nama tabloid ini Copenhagen Post ya? Saya mendadak jadi inget Jakarta Post. Kalau Jakarta Post kan mesti bayar dan ternyata, oh my god, tabloid ini ternyata tidak gratisan, ada tulisan kecil harga tabloid ini 20 Kronor. Dodol dodol… Saya mengambil tabloid yang dijual dan tidak membayar. Ketika berusaha mengingat-ingat lagi rasanya di sebelah tourist information ada café, ada kemungkinan tabloid ini punya kafe itu. Dan dengan santainya saya saat itu mengambil tabloid ini dan tidak membayar karena menyangka tabloid ini gratisan. Hati merasa berdosa, tapi masa kembali lagi ke Copenhagen lagi hanya untuk mengembalikan tabloid ini. Pengen ngaku dosa aja di tourist information Helsingor saja keesokan harinya sambil mengembalikan “barang bukti” berupa tabloid dan ngasih duit 20 kronor.

Semoga CCTV di dalam tourist information tidak bekerja. Kan nggak lucu kalau tampang saya masuk ke wanted list karena ngembat tabloid secara tidak sengaja. Untung saja saya waktu itu pkai topi. Tapi rasanya backpack saya yang bagian belakangnya ada simbol TNI-AU yang paling kelihatan di rekaman CCTV (kalau ada). Saya benar-benar membawa nama TNI-AU sampai ke Kopenhagen dengan backpack saya ini. Backpack yang saya peroleh dari adik saya yang beli di Pasar Senen.

Setelah perjalanan di Copenhagen ini, saya selalu berpikir, “ada apa dengan 20 Kronor?” Selalu aja ada cerita tentang 20 Kronor, kenapa tidak 10 kronor aja? Yah udah lah, yang lalu biarkanlah berlalu. Saatnya mencari pastur, mengaku dosa.

« Previous Page