Setelah beberapa bulan kuliah di Delft, tibalah saat yang ditunggu-tunggu mahasiswa: libur natal 2008 selama dua minggu. Pada awalnya saya berencana backpacking selama 10 hari di libur Natal dan tahun baru ini dengan rute Delft – Frankfurt – Munchen – Salzburg – Vienna – Praha – Dresden – Berlin – Enschede – Delft. Persiapan yang kurang membuat saya membatalkan rencana awal saya. Rute ini pun diubah Plan B: Delft – Amesfoort – Deventer – Enschede – Jerman – Enschede – Maastricht – Delft dengan highlight trip ini adalah natalan di Katedral Koln.

Rencana ini berawal dari tawaran Hanim, teman sejurusan di Delft, untuk jalan-jalan ke Enschede dan Maastricht bersama Chris dan Winnie dalam rangka menemani Chris jalan-jalan keliling Belanda. Chris yang sedang kuliah di Prancis saat itu sedang menikmati liburan Natal sambil mengunjungi Hanim, teman dia ketika kuliah di Surabaya. Sayangnya rencana jalan berempat ke Enschede ini tidak terlaksana karena Winnie sakit sehari menjelang berangkat. Berhubung tiket yang kami gunakan hanya efektif kalau pemakainya berjumlah genap, Hanim memilih untuk tinggal di Delft menemani Winnie dan saya akan menuju ke Enschede bersama Chris, yang waktu itu belum saya kenal bahkan belum tahu tampangnya seperti apa. Ini agak-agak susah karena Hanim hanya bilang “tampangnya Chinese, pasti nanti ketemu deh” ketika saya menanyakan bagaimana cara mengenali dia. Nah kalo di Stasiun Delft waktu itu muncul mahasiswa China, Korea, Jepang atau Taiwan, bagaimana saya tahu dia Chris atau bukan? Untunglah dibilangin sama Hanim bahwa Chris akan menelepon ketika sampai di Stasiun Delft.

Ternyata tidak susah bertemu dengan Chris di Stasiun Delft. Perjalanan menuju Enschede dengan Tiket Blokker ini pun dimulai. Blokker, salah satu jaringan supermarket di Belanda, mempunyai penawaran tiket akhir pekan yang valid untuk dua orang seharga 25 Euro. Harga ini lebih murah dibandingkan beli tiket Delft – Enschede yang harganya bisa 1.5 kali-nya untuk dua orang. Berhubung dengan tiket Blokker ini kami dapat menggunakan semua kereta Nederlandse Spoorwegen (perusahaan kereta api Belanda), kami memaksimalkan kota-kota yang bisa dikunjungi selama sehari ini. Dua kota yang berada di jalur ke Enschede pun dipilih: Amersfoort dan Deventer dan mencapai Enschede malamnya.

Di perjalanan ke Enschede kami menghubungi Irma, temannya Chris dan Hanim dari jaman mereka kuliah di Surabaya. Kami berdua akan nebeng di tempat Irma selama dua malam dan jalan ke rumah dia diberikan via SMS kepada kami. “Naik nomer 2 jurusan Deppenbroek terus nanti turun di P.A van Deldenstraat. Kalo kamu udah disitu, jalan kaki sampai ketemu lampu merah, lalu belok kiri. Atau miscall aku aja deh, nanti aku jemput di Halte.” Tempatnya Irma pun cukup untuk ditebengi oleh Chris dan saya. Irma bercerita bahwa tempat dia pernah ditebengi oleh 7 orang, sebuah rekor untuk dia.

Irma pula-lah yang keesokan paginya membantu kami untuk membeli tiket North Rhein Westphalia yang valid untuk provinsi North Rhein Westphalia dari Enschede. Berhubung Enshcede terletak di dekat perbatasan Belanda-Jerman, jalur kereta dari Enschede ke kota-kota di Jerman pun diatur oleh DB (Deutsche Bahn – Perusahaan Kereta Api-nya Jerman) meskipun masih berada di wilayah Belanda. Hari yang masih gelap ditambah mesin penjual tiket yang hanya ada dalam Bahasa Jerman turut berperan dalam kekacauan pembelian tiket pagi itu.

Seorang petugas kereta api di Munster-lah yang memberitahu saya dan Chris bahwa kami salah membeli tiket. “You cannot use this ticket to Koln, this is Munsterland ticket and this ticket is not valid to go to Koln” kata petugas DB (Deutsche Bahn) Jerman kepada kami. Rencana mengikuti misa Natal di Koln Kathedral pun hancur berantakan dan kami stuck di sebuah daerah yang namanya Munster.

Rencana pun terpaksa diubah. Koln harus dicoret karena menurut petugas tersebut kalau kami mau ke Koln, kami harus membeli tiket lagi dan harganya yang sekitar 30 Euro untuk berdua berada di luar budget kami. Munster pun yang awalnya tidak ada di daftar kota yang akan dikunjungi, terpaksa dikunjungi. Untuk saya sendiri, Munster bukanlah nama kota yang asing lagi. Empat tahun sebelumnya ketika mengikuti summer school di Dortmund, Munster ini menjadi salah satu tempat yang diatur kampus untuk dikunjungi ketika weekend. Sayangnya, karena peserta yang sedikit, kunjungan ke Munster ini dibatalkan. Empat tahun kemudian, saya mengunjungi kota ini karena factor “kecelakaan salah beli tiket”.

Di hari Natal itu, Munster seperti kota mati. Tidak ada orang di jalanan. Karena ini adalah hari Natal kami mencari gereja terdekat untuk mengikuti kebaktian Natal. Di Sankt Paulus Dom atau Katedral Santo Paulus sedang berlangsung kebaktian Natal dan kami pun pede saja masuk untuk ikutan kebaktian yang bahasanya tidak terlalu kami mengerti. Kata-kata yang kami ketahui pun hanyalah haleluya dan amin dan kami pun beda sendiri karena di dalam katedral isinya orang bule semua.

“The city hall and the Hall of Peace are closed on Dec 24th and 25th. We are open again on 26th from 10.00 – 16.00. We wish you happy holidays.” Jalan-jalan di hari Natal mempunyai satu kelemahan, semua tempat tutup. Jadilah kami ngider-ngider di seputaran city center yang semuanya tutup. Menjauh dari city center, ada sebuah istana yang sekarang menjadi kampus Westfälische Wilhelms-Universität Münster. Untunglah Botanical Garden di belakang istana ini buka dan inilah saatnya belajar lebih banyak tentang tanaman. Entah siapa yang awalnya punya ide nyeleneh untuk bikin foto-foto kami sedang mengisi air minum di sebuah air terjun mini 10 centimeter dan tidur di bangku taman. Tujuannya untuk bikin kesan seolah-olah kami benar-benar merana dan nge-gembel di trip kali ini. Tampaknya foto-foto ini cukup meyakinkan, sampai-sampai ketika di-upload di Facebook, teman-teman ada yang menanyakan trip kami sampai segitu-nya yah?

Di Munster pun kami tidak menghabiskan waktu lama. Ternyata di kota tua ini ada juga Museum Grafis Pablo Picasso yang kami lewati ketika dalam perjalan menuju Munster Hbf (Haupbahnhof). Jam setengah tiga kami pun menaiki kereta menuju Rheine, sebuah kota yang baru saya dengar dan tidak ada keterangannya sama sekali di Lonely Planet Eropa yang saya bawa saat itu. Di kota ini kami langsung disambut dengan klakson mobil dan sapaan “Ni Hao” yang dengan isengnya saya balas dengan sapaan “konnichiwa” ke bule Jerman itu. Dalam suasana Natal seperti ini, setelah di-“Ni Hao”-kan, kami langsung mencari gereja dan kami pun menemukan Pearrkirche St. Dyonisius yang benar-benar kosong tanpa jemaat sama sekali. Dari sini di kejauhan tampak sebuah menara yang menjadi tujuan kami selanjutnya. Menara ini ternyata adalah bagian dari Antonius Basilika yang bentuknya dikomentarin salah satu temen saya seperti menara-nya Rapunzel. Hanya dua jam yang kami habiskan di kota ini.

Berhubung musim dingin, siang pun lebih pendek dan jam 5 sore pun sudah mulai gelap. Di saat seperti ini, kami hanya bisa mengunjungi satu kota lagi dan Osnabr ck pun dipilih karena kota itu searah dalam perjalanan pulang ke Enschede. Di depan stasiun pun kami sudah bertemu satu bule mabuk yang meminta uang kepada kami. Tentu saja tidak kami berikan sambil berjalan menjauhi bule tersebut. Saya tidak tahu apa yang menjadi keistimewaan kota ini, setelah berada dikota ini selama dua jam yang kebanyakan dilalui dengan jalan tanpa tujuan dikarenakan kami tidak punya peta. Malam yang dinginnya mencapai 0 °C pun cukup menambah penderitaan kami. Tahu dari mana temperatur-nya 0 °C? kebetulan di salah satu toko ada layar yang menunjukkan temperature pada saat itu. Pantesan aja dingin banget. Di saat dingin dan berada di bawah jembatan inilah terlintas ide di kepala kami untuk mengambil foto dengan adegan duduk di bawah jembatan menirukan pengemis dan adegan mencari tebengan mobil, pura-pura jadi hitchhiker. Emang deh kalo udah kedinginan dan capek, otak kami jadi error. Satu hari Natal di Jerman pun berakhir malam itu dan kami kembali menuju Enschede.

Natal di Jerman itu merupakan hari ke-2 dari trip tiga hari saya bersama Christian yang rutenya setelah diubah sedikit menjadi Delft – Amesfoort – Deventer – Enschede – Munster – Rheine – Osnabruck – Enschede – Maastricht – Delft.