Ada satu hal yang sudah jelas ketika memulai libur musim semi ini, kota terakhir yang akan dikunjungi adalah Stockholm karena saat itu saya sudah membeli tiket Stockholm – Belanda. Selama 4 bulan sebelum berangkat liburan musim semi, itinerary diatur dan kami pun mengunjungi kota-kota yang sudah disebut di chapter sebelumnya. Di Stockholm inilah kami menginap di rumah kenalannya Rahmadi yang bernama Om Tom. Di backpack Rahmadi pun terselip “Bika Ambon” yang dibungkus dalam kantong plastik khusus sehingga masih segar meskipun sudah 10 hari berdiam di backpack-nya Rahmadi. Bika Ambon ini titipan dari teman-teman Om Tom yang berada di Belanda dan Rahmadi pun menjadi kurir Bika Ambon.

Dari tempatnya Om Tom, kami menuju stasiun Gamla Stan untuk menuju ke Royal Palace-nya Swedia untuk melihat pergantian penjaga di istana ini. Di perjalanan menuju Royal Palace inilah saya melihat orang-orang Tamil sedang berdemo dan memajang foto-foto yang benar-benar merusak selera makan karena foto-foto ini mengumbar darah dan organ-organ tubuh manusia. Ada juga beberapa kasur digelar di jalan untuk orang-orang yang mogok makan.

Dari melihat orang yang mogok makan ini, kami berpindah melihat pergantian penjaga (changing guard) di Royal Palace-nya Swedia. Seragam mereka pun didominasi warna biru, seperti warna bendera Swedia. Helm-nya pun agak berbeda karena di bagian atasnya ada mata tombak. Royal Palace ini merupakan kediaman resmi Raja Swedia yang dirancang oleh Nicodemus Tessin. Istana ini mengambil gaya Italian Baroque dan diselesaikan di tahun 1754 dan terdiri dari beberapa bagian: The Royal Apartments, The Royal Order of Chivalry, The Treasury, The Royal Chapel, The Hall of State, The Tre Kronor Museum, Gustav III’s Museum of Antiquities, dan The Royal Armoury. Sayangnya kami tidak sempat melihat semua bagian ini dan berhubung pergantian penjaga masih agak lamaan, kami masih sempat ngiderin daerah seputar Royal Palace ini dan mengetahui beberapa museum di daerah ini seperti Museum Nobel tutup karena hari itu adalah hari Senin. Biasanya hari Senin museum-museum di Eropa tutup, tak terkecuali di Stockholm. Untunglah masih ada acara pergantian penjaga yang hari Senin pun tetap ada. Ada 19 prajurit yang berpartisipasi di acara pergantian penjaga ini dan sekumpulan turis yang mengabadikan pergantian penjaga ini. Pergantian penjaga kenapa ada acara lari-lari ya, memang Swedia beda sendiri deh. Saat melangkah keluar dari daerah Royal Palace ini, ada orang-orang Kurdi lagi menggelar protes. Swedia rasanya lumayan permisif untuk acara-acara demo seperti ini. Pantas saja dulu beberapa petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berdiam di Swedia.

Berhubung hari itu Senin dan semua museum tutup, kami pun mengarah ke KTH (Kungliga Tekniska Hogskolan), perguruan tinggi teknik ternama dari Swedia. Saya masih ingat jika setahun sebelumnya saya keterima di salah satu program Erasmus Mundus, semester tiga saya pasti akan kuliah di perguruan tinggi ini. Anak Om Tom (host kami) pun lulusan KTH. KTH memainkan posisi yang penting dalam hal perkembangan teknologi di Swedia dan saat ini merupakan perguruan tinggi teknik terbesar di daerah Eropa Utara dengan 2500 karyawan dan 9000 mahasiswa. KTH pindah ke lokasi ini tahun 1917. Arsiteknya, Professor Eril Lallerstedt, memenangkan kompetisi untuk mendesain gedung KTH ini. Seniman-seniman terkemuka pada masa itu pun berkontribusi membangun patung dan mural untuk mendekorasi bangunan ini. Setelah KTH, kami masih sempat melihat Stockholms Stadion, Svenska Television, Svenska Radio dan ngiderin daerah di seputar Skansen sebelum kembali ke rumah Om Tom.

Keesokan harinya adalah hari untuk mengunjungi museum-museum yang hari Senin tutup, sayangnya kami meninggalkan rumah Om Tom agak siang jadi waktu jalan-jalan hari itu tidak maksimal. Tujuan utama kami adalah menuju Vasa Museum untuk melihat kapal perang Viking yang berhasil diangkat setelah terbenam di dasar laut selama 333 tahun. Kerennya lagi, meskipun sudah terbenam ratusan tahun, kayunya masih bagus dan belum lapuk dan berhasil diangkat ke permukaan untuk kemudian dipajang dan menjadi salah satu atraksi wisata favorit di Stockholm. Tujuan berikutnya adalah Museum Nobel yang tentu saja isinya tentang kisah Alfred Nobel yang namanya diabadikan di Nobel Prize. Untungnya masuk sini gratisan, padahal biasanya bayar 40 Kronor untuk mahasiswa. Hari pun berakhir dan kami kembali ke rumah Om Tom.

Hari kepulangan ke Belanda dari Stockholm adalah hari bolos saya. Kuliah dimulai hari ini, tapi saya berhasil membujuk salah satu teman sekelas untuk merekam kuliah dengan voice recorder, jadi meskipun tidak datang kuliah asalkan mendengarkan materi kuliah. Faktor harga tiket ini benar-benar mempengaruhi keputusan saya mengapa baliknya hari ini. Kalau mau balik kemarin harga tiket pesawatnya dua kali lipat dibandingkan hari ini. Bolos sehari nggak apa-apa lah.

Bisa dibilang seharian habis di jalan, bermula berangkat dari rumah Om Tom ke Stockholm, lalu disambung naik bus ke Skavsta Airport untuk mengejar pesawat Ryan Air yg berangkat jam 14.10. Lalu naik pesawat Ryan Air yang lucunya begitu mendarat ada bunyi terompet dan sales pitch yang berkata sekian persen pesawat RyanAir mendarat on time. Disambung bus dari Eindhoven Airport ke Eindhoven Station. Di Eindhoven inilah saya janjian ketemu Desiree, teman sejurusan ketika kuliah di Bandung dulu yang mengundang makan malam bersama dia dan suaminya, Mas Zalfany. Lama juga tidak bertemu dengan Desiree, rasanya sudah 4 tahun. Selesai makan malam di tempat Desiree dan ngobrol-ngobrol, saya pun meninggalkan Eindhoven dan kembali ke Delft.

Akhirnya scandinavia trip selama libur musim semi ini selesai juga. Salah satu trip yang berkesan untuk saya, terutama untuk pemandangan alam di deket Bergen. Top banget, tempat yang pasti akan saya datangi kembali suatu saat nanti. Semua moda transportasi yang ada dipakai, dari bus (termasuk bus malam dan bus dalam kota), subway, metro, trem, kereta (termasuk scenic train dan kereta dengan kemiringan 26 derajat), ferry lintas negara, nebeng mobil host dan ditutup dengan maskapai murah meriah yang saat mendarat ada suara terompet serasa tahun baruan. Perjalanan dengan jenis-jenis transportasi paling lengkap selama ini. Lupa naik becak aja kali ya. Tak sabar rasanya untuk menunggu libur musim panas.

Advertisements