“Skip Oslo saja kalau kalian waktunya terbatas” saran Ardhy yang sangat condong ke Bergen dan tour fjord yang dimulai dari kota ini. Saran dia mengenai men-skip Oslo tidak kami lakukan karena waktu kami masih cukup untuk mengunjungi Oslo selama trip kali ini. Oslo pun dikunjungi dua kali, sebelum ke Bergen (hari ke-6) dan sesudah ke Bergen (hari ke-9 dan ke-10).

Setelah dua setengah hari di Kopenhagen, Rahmadi dan saya meninggalkan kota tersebut untuk menuju Oslo melewati Malmo, Lund, Helsingborg-Helsingor. Sebuah bus malam membawa kami dari Helsingborg menuju Oslo dan Oslo pun dicapai di pagi hari ke-6 perjalanan kami. Di stasiun kereta Oslo (Oslo Sentralstasjon), yang bersebelahan sama terminal bus Oslo, kami sudah disambut dua orang “suspected criminal”, tepatnya ketika kami berada di WC. Tampang mereka sangat mencurigakan dan gerak-gerik-nya pun mencurigakan sehingga saya memberi kode ke Rahmadi agar kami berdua berhati-hati. Untunglah kami berdua, kalau sendirian besar kemungkinan sudah kena palak.

Di Oslo ini kami punya waktu seharian karena malamnya kami akan mengambil kereta malam ke Bergen. Berhubung kami malas membawa backpack selama seharian itu, coin locker menjadi tujuan berikut. Coin lockernya pun termasuk keren karena ada follow in screen instruction. Setelah bayar dan masukin barang, kami pun bebas dari backpack selama sehari ini. Oslo Pass menjadi tiket berikut yang kami cari dan sebagai mahasiswa kami pun mendapat diskon, tapi kami harus menunjukkan bukti registrasi bahwa kami terdaftar di tahun ajaran tersebut. Norway dan Belanda tampaknya mempunyai sistem yang sama untuk kartu kemahasiswaan, ada dua jenis: kartu mahasiswa dan kartu registrasi. Kartu mahasiswa tidak mempunyai jangka waktu dan ada foto, sedangkan kartu registrasi menerangkan kami terdaftar di jurusan apa dan tertera masa berlaku kartu tersebut.

Tujuan utama kami hari itu adalah mengunjungi museum-museum yang terletak di Bygdoy: Viking Ship Museum, Open Air Museum, Kon-Tiki Museum, Norwegian Maritime Museum dan Nobel Peace Center. Museum pertama yang dikunjungi adalah Vikingskiphuset (Viking Ship Museum) yang merupakan salah satu kulturhistorisk museum Universitetet i Oslo (Museum of Cultural History University of Oslo). Museum ini bisa dikategorikan kecil dan bisa dikunjungi hanya dalam setengah jam dengan feature utama-nya adalah kapal viking yang besar dan menempati mayoritas space di museum ini. Di dekat museum ini ada Friluftmuseum Stavkirken (Open-air museum – The Stave Church) yang salah satu isinya folk dress exhibition, alias ekshibisi baju daerah-nya Norwegia. Berhubung ini adalah open-air museum, kebanyakan isinya berada di alam terbuka, seperti rumah-rumah adat dan tenda-nya suku Sami. Satu hal yang masih misteri buat saya sampai saat ini, mengapa di atap tiap rumah di open air museum ini selalu ada tanah dan rumput. Ada yang bisa jawab? Selesai mengunjungi open-air museum ini, Kon-Tiki Museum sudah menunggu. Nama museum ini diambil dari nama dewa matahari jaman pre-Inca yang menurut legenda berlayar menuju ke arah Barat dan digunakan menjadi nama sebuah raft yang digunakan dalam ekspedisi menuju ke Barat. Rakit (raft) yang dipajang di museum ini digunakan oleh 4 orang Norwegia dan 1 orang Swedia yang pada perang dunia ke-2 terlibat di dalam gerakan resistance melawan Jerman. Perjalanan dengan rakit ini menjadi petualangan untuk mereka dan juga generasi di Eropa yang baru saja recover dari perang dunia ke-2. Saat keberangkatan ekspedisi ini di 28 April 1947, Ekspedisi Kon-Tiki ini menjadi worldwide event. Film dokumenter tentang ekspedisi Kon-Tiki memenangkan Oscar di tahun 1951 untuk kategori Film Dokumenter terbaik dan piala Oscar ini dipajang di museum ini. Sebelahan sama Kon-Tiki Museum ada Norsksjofart Museum (Norwegian Maritime Museum) yang berisi replika kapal berbagai jenis dan juga pinguin, beruang salju dan yak yang diawetkan. Ada juga kisah Admusen dan orang-orang Eskimo yang terlibat dalam ekspedisi kutub Admusen ini. Setelah dari Norwegian Maritime Museum ini, Nobel Peace Center menjadi tujuan berikut. Di dalam musuem ini ada kisah tentang perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia yang difasilitasi oleh Martti Ahsitaari yang benar-benar nyangkut tentang Indonesia. Ruangan di dalam Nobel Peace Center ini terkesan sangat futuristik dengan banyaknya perlengkapan elektronik mutakhir di setiap ruangan.

Sorenya, setelah museum-museum ini tutup, kami survey tempat tinggal calon host kami di Oslo dulu, dan setelah itu baru ke Vigeland Sculpture Park. Di taman ini banyak sekali patung telanjang dari cowok dan cewek; dari bayi sampe kakek-nenek semuanya lengkap. Di taman ini juga ada Vigeland Museet dan Oslo by museum yang tidak sempat dikunjungi karena keduanya sudah tutup.

Di Oslo inilah saya benar-benar menghayati arti kelaparan. Pagi-nya ketika sampai Oslo kami hanya sarapan roti 4 potong peninggalan dari Helsingborg dan ketika sampai Bygdoy ternyata tidak ada restoran disana. Jadilah kami tidak makan dan jam 19.00 itu saya sudah mulai merasa kelaparan. Kelaparan mengakibatkan sakit kepala dan semakin pening lagi melihat harga makanan di Norway yang nggak kira-kira dan bikin kantong sakit. Masa harga paket Burger di sebuah restoran cepat saji itu sekitar 81 NOK (Norwegian Kronor), atau setara 12 Euro? Harga paket di restoran burger saingannya pun kurang lebih setara. Itu harga take away, kalau mau makan di dalam restoran masih kena tambahan biaya 5 NOK. Kalau ada yang bilang Jepang Negara termahal di dunia, pasti dia belum pernah ke Norwegia.

Di kota inilah saya melihat dengan mata kepala sendiri ke-hemat-an Rahmadi yang sangat legendaris di Delft. Ketika saya sudah dalam keadaan “oke, gue laper banget, beda berapa NOK cincai lah” Rahmadi masih sempat memikirkan perbedaan harga yang hanya beberapa NOK. Ketika kami sampai di BK dan melihat harga sambil berpikir itu kemahalan, Rahmadi pun bilang, “lihat harga di McD dulu” dan kami pun berjalan mencari restoran itu. Sesampainya di McD dengan harga yang hanya beberapa Kronor lebih mahal dan saya sudah tidak perduli dengan harga ini, Rahmadi malah bilang “ini lebih mahal beberapa Kronor, mendingan balik lagi ke BK”. Mau pingsan nggak tuh? Selepas dari tempat ini pun kami menuju ke Oslo Central Station untuk mengambil kereta malam ke Bergen.

Kembali ke Oslo

“Velkommen on bord i toget til Oslo S” tertulis di sebuah papan elektronik di dalam kereta Bergen menuju Oslo. Setelah menghabiskan dua hari di Bergen, kami kembali ke Oslo dan sampai disana sekitar jam 5 sore dan langsung menuju ke rumah host kami dan beramah-tamah dengan dia sambil beristirahat seharian. Anjing-nya host kelewat ramah dan selalu berusaha menjilat kami dan selalu nempel terus sama tamu.

Keesokan harinya kami diantar host ke city center dan diturunkan deket National Museum. Di dekat daerah ini rupanya ada festival mahasiswa-mahasiswa Universitas Oslo yang mengakibatkan kerumunan massa di daerah ini. Tujuan kami berikutnya adalah Royal Palace-nya Oslo yang syukur-syukur kalau ada change guard. Seragam guard-nya pun terkesan gelap, celana panjang hitam dan kemeja biru tua disertai topi yang ada jambulnya. Seragam guard Swedia pun terkesan lebih berwarna dan keren dibanding seragam guard Norwegia.

Dari sini kami masih jalan dan menemukan National Theatre yang di dekatnya sedang ada sekumpulan orang Tamil yang berdemonstrasi. Negara-negara Skandinavia tampaknya menjadi surga orang-orang yang mencari suaka dan mereka ini sering kali berdemonstrasi di pusat kota. Pusat kota itu pun yang menjadi tujuan utama kami, termasuk mengunjungi Oslo Domkirke Kirkeristen (Oslo Cathedral). Saya jadi bertanya-tanya apakah kata “Kristen” berasal dari bahasa Norwegia. Daerah Aker Byrgge dan kumpulan yacht di pelabuhan ini masih ramai oleh pengunjung, turis dan warga local. Di dekat Aker Brygge ini ada sebuah benteng, Akershus Fortress yang dibuka untuk public dari jam 6 pagi sampai 9 malam. Benteng ini menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi hari itu sebelum mengarah ke Oslo Central Station untuk mengambil trem ke rumah host kami. Malam ini kami akan menuju Stockholm dengan sebuah bus malam. Hari-hari di Norwegia telah berakhir, dan saya akan kembali lagi ke Negara ini saat libur musim panas.