Di dalam hidup, kadang ada dua pilihan yang sama-sama sulitnya. Ketika itu saya dihadapkan pilihan sulit itu. (1) tiga hari di Paris (Sabtu – Minggu – Senin) di weekend antara exam week 1 dan exam week 2 bareng sepertiga peserta summer school yang bedol kelas ke Paris atau (2) belajar buat ujian control design di hari Selasa pagi (tujuan ikut summer school kan buat belajar). Kalau ikut ke Paris, sudah pasti tidak akan sempat belajar untuk ujian control design. Sedangkan kalau mau belajar buat ujian control design, Paris harus dicoret.

Sekilas mengenai mata kuliah control design ini: ini mata kuliah tahun kedua buat master course di Universität Dortmund. Ketika memilih mata kuliah ini berdasarkan silabus yang disediakan panitia summer school, saya benar-benar tidak sadar bahwa ini mata kuliah buat master student. Udah gitu ada dua pre-requisites lagi: introduction to control theory dan process control I. Di silabus juga jelas-jelas disebut bahwa nama lama control design ini “process control II”. Berhubung cukup yakin bisa mengikuti mata kuliah ini dengan lancar, control design masuk dalam mata kuliah pilihan yang dikirim ke koordinator program sebelum summer school dimulai.

Evolusi dalam mata kuliah control design:

Minggu pertama ikutan control design ini masih ngerti,

Minggu kedua masih ngerti, tapi kenapa dosen mengajarnya cepet ya? materi dua semester di kampus Bandung dibabat dalam dua minggu awal ini

Minggu ketiga mulai merasa kuliahnya kecepetan banget

Minggu keempat masih berusaha mengejar materi dan ada ajakan “Paris yukkk” yang langsung ditolak mentah-mentah dengan alasan “Selasanya abis balik dari Paris ada ujian Control Design”. Rencana mereka emang berangkat dari Dortmund hari Jumat malam, sampai Paris Sabtu pagi, lalu Senin malam meninggalkan Paris dan sampai ke Dortmund hari Selasa pagi. Nah, hari selasa ini ada ujian control design.

Minggu kelima udah nge-blank sama kuliah, bengong dosen ngomong apa di ruang kelas, salut sama orang India di duduk di sebelah yang super duper pinter, dan mulai mempertanyakan kenapa mengambil mata kuliah control design. Pelajaran: jangan sekali-sekali ngambil mata kuliah master tahun kedua jika masih duduk di tingkat akhir sarjana. Akhirnya saya mulai mempertimbangkan ajakan Feli dan Diana buat ke Paris sambil menghitung kredit kuliah yang diperlukan untuk dapat sertifikat summer school ini. Setiap peserta summer school hanya butuh 11 ECTS (European Credit Transfer System) sebagai syarat minimal, dan saya waktu itu mengambil 14 ECTS, tiga ECTS diatas batas minimal. Mikir-mikir: ke Paris atau belajar mati-matian buat ujian Control Design ya? Setelah ditimbang-timbang, dapet bisikan setan, jadilah email sakti dikirim ke koordinator summer school yang kurang lebih isinya “Pak, saya nge-drop course Control Design ya”. Koordinator sih nyantai-nyantai aja, yang penting syarat minimal 11 ECTS masih terpenuhi. Memang ngambil ECTS lebih itu selalu ada hikmahnya.

Minggu keenam alias minggu terakhir kuliah sebelum minggu ujian saya berkonsentrasi mempersiapkan trip ke Paris, sedangkan Andreas masih bertahan mengikuti kuliah control design yang materinya mulai mengawang-awang.

Berhubung telat dalam memutuskan ke Paris, Feli, Diana dan saya harus booking kamar hotel sendiri. Mahasiswa-mahasiswi dari Amerika Serikat udah booking kamar mereka dari jauh-jauh hari, salah satunya bahkan memilih nginep di tempat ceweknya. Ternyata di Eropa booking hotel mesti pake kartu kredit, terpaksalah minta nomor kartu kredit orang tua. Hotelnya pun terletak jauh dari pusat kota. Tanggal pilihan kami adalah hari terakhir Tour de France dan akibatnya banyak hotel-hotel di pusat kota yang penuh dan kalaupun ada kamar kosong harganya lumayan mahal.

Sekedar informasi, anak-anak Amerika ini ke Paris hanya untuk bela-belain nonton Lance Armstrong di Tour de France. Salah satu diantara mereka, yang dari awal merencanakan trip ini pengen fotoin Lance Armstrong buat dikasih ke cowok dia yang seorang atlit sepeda. Idola sang pacar ini adalah Lance Armstrong. Rencana mereka, satu hari mereka akan ngambil tempat di rute balapan pagi-pagi biar dapat posisi yang bagus untuk melihat Lance Armstrong balapan. Kami yang dari Indonesia ogah dong, ngapain ke Paris ngeliatin Lance Armstrong?

Beli tiket ke Paris pun masih aja ada masalah. Dengan PD-nya saya bilang ke Feli, “kenapa beli tiket dari Dortmund? Kan lebih murah dari Duesseldorf, teman-teman kan pasti berangkat dari Duesseldorf, karena itu kota paling barat di wilayah VRR dan harganya lebih murah dibandingkan beli dari Dortmund”. Inilah yang membuat Feli meminta salah satu teman kami untuk mengubah kota keberangkatan dari Dortmund ke Duesseldorf. Setelah diganti, sambil berharap dapet selisih duit kembali, eh kami tahu ternyata teman-teman yang lain berangkat dari Duesseldorf. Feli jadi makin sewot aja, ditambah lagi selisih uang yang kami terima ternyata habis untuk membayar ongkos pindah kota keberangkatan ini.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Paris we are coming. Ujian optimization Jumat itu yang bikin kepala puyeng semakin menjustifikasi keputusan kami untuk ke Paris. Bus akan berangkat dari Duesseldorf jam 23.45 jumat malam itu. Kami harus tiba 15 menit sebelumnya untuk check in. Sampai di Paris diperkirakan Sabtu pagi sekitar jam 7. Benar saja, pagi-pagi kami sudah sampai Paris dan diturunkan di depan Notre Dame Cathedral, yang terkenal karena cerita haunchback of Notredame-nya. Berhubung waktu itu kami masih membawa luggage, digilir siapa yang jaga luggage dan siapa yang masuk ke dalam gereja, bener-bener nggak fleksibel. Setelah puas keliling dan foto-foto di Notre Dame, kami semua menuju ke hotel yang terletak di daerah Juvisy Sur Orge buat check in hotel, taruh barang, mandi beberes, etc. yang bikin waktu hilang. Begitu beres balik lagi ke pusat kota untuk melihat Eiffel Tower, yang di Indonesia rasanya terkenal karena adanya film Eiffel I’m in Love. Eng ing eng, dibawah Eiffel tower ini ketemu dong sama salah satu anak Hongkong yang punya global pass 2 months continuous. Disini saya mulai memahami peribahasa “dunia selebar daun kelor”, apalagi buat peserta yang punya global pass ini. Eiffel udah dikasih tick mark. Hasil akhir hari pertama lumayan lah, kami berhasil meng-cover Notre Dame Cathedral dan Menara Eiffel.

Hari kedua lanjut ke Plaza Concorde, menyusuri sungai Seine sebelum naik Metro (kereta bawah tanah-nya Paris) ke daerah Arc de Triomphe yang ternyata banyak sekali spanduk-spanduk Tour de France. Teman-teman dari Amerika pasti berada di sekitar sini, berdiri sambil menunggu Lance Armstrong melewati mereka di Tour de France terakhirnya. Selesai dari sini naik Metro lagi ke Trocadero yang menurut tante-nya Diana adalah tempat paling bagus untuk berfoto dengan background menara Eiffel. Setelah sampai disana, ternyata informasi itu benar adanya, lebih bagus daripada foto di bawah menara Eiffel. Sorenya dialokasikan untuk museum Louvre selama setengah hari yang ternyata tidak cukup. Kami hanya bisa mengcover satu bagian yang ada patung-patung, segala hal yang berbau Mesir dan apartemen Napoleon III. Pilihan yang salah, karena lebih bagus ke bagian museum yang lain yang lebih banyak lukisan dan ada salah satu lukisan terkenal di dunia: Monalisa. Anyway, hari itu kami tidak berhasil melihat Monalisa dan hanya cukup puas untuk berfoto-foto di pyramid kaca di depan Louvre. Hari kedua berjalan sesuai dengan rencana.

Sayangnya rencana hari ketiga tidak berjalan sesuai dengan rencana awal. Versailles mesti dibatalkan karena hari Senin itu Versailles tutup. Ini benar-benar menyebalkan karena ketika di Louvre, petugasnya dengan bersemangat memberikan 1001 alasan kenapa kami harus mengunjungi Versailles dan akan rugi kalau ke Paris tapi tidak mengunjungi istana ini. Setelah dikasih banyak informasi ini pun kami sepakat hari terakhir harus ke Versailles. Tapi tak lama kemudian petugas yang sama memanggil kami dan memberitahukan bahwa Versailles hari Senin itu (hari ketiga kami di Paris) tutup sambil meminta maaf. Feli yang awalnya benar-benar kena bujukan petugas ini langsung berubah mukanya dari berseri-seri ke bete abis ketika diberi tahu hal ini. Tahu gitu nggak usahlah promosi Versailles sampai segitu-nya, bikin kecewa orang aja. Sebagai pelipur lara, mereka berdua memutuskan hari ketiga adalah setengah hari shopping. Paginya rencana diubah ke Moulin Rouge dan Sacre Coeur. Bakalan ketemu Nicole Kidman nggak ya di Moulin Rouge? Menurut teman daerah ini adalah daerah lampu merah-nya Paris, jadi mesti agak hati-hati. Bener juga, disini orang-orangnya agresif untuk menawarkan show di dalam. Sampai sok kenal sok dekat dan salah menebak saya dari Portugal, wong edan. Katanya lagi sih disini banyak dijual kaos buat oleh-oleh dengan harga miring, boleh lah buat dicari tempatnya. Kios-kios penjual kaos ini ternyata terletak diantara Moulin Rouge dan Sacre Coeur. Lumayan deh menghemat waktu, sambil bisa foto-foto di daerah Sacre Coeur ini.

Sebenarnya pada hari ketiga ini kami mempunyai satu pertanyaan, dimana menaruh luggage yang seabrek-abrek itu? Paris menjadi tidak bersahabat untuk pengguna koin locker karena dua minggu sebelumnya (7 July 2005) ada London bombing yang menyebabkan security di beberapa kota penting Eropa menjadi lebih ketat. Akibatnya sangat sulit menemukan coin locker di Paris sejak London bombing. Setengah hari pertama kami ke Moulin Rouge dan Sacre Coeur masih dengan luggage itu, lalu baru inget, rasanya di Louvre kemarin ada tempat penitipan luggage deh. Ternyata bener, Louvre menyediakan penitipan luggage untuk pengunjungnya. Akhirnya kami ke Louvre dan membeli satu tiket masuk hanya untuk nitip luggage. Tiket masuk ini diperlihatkan ke petugas untuk menitip tas. Berhubung Feli dan Diana ingin shopping dan saya lebih tertarik melihat lukisan Monalisa, kami pisah jalan dan janjian ketemu di Louvre dua jam kemudian.

Langsung deh buru-buru masuk ke dalam buat nyari lukisan Monalisa. Setelah tanya kanan kiri, ketemu juga ruangan tempat Monalisa ini dipajang. Ada beberapa petugas penjaga, banyak turis yang berkerumun dan lukisan Monalisa ini punya frame kaca transparan. Beda sekali perlakuan antara lukisan Monalisa dengan lukisan-lukisan lainnya di Louvre ini.

Selesai melihat lukisan Monalisa, langsung deh melihat-lihat lukisan di bagian ini sambil nunggu waktu ketemuan sama mereka. Ketika ketemu, ternyata masih ada shopping tahap dua, ada yang mau ke Zara, yang ketika itu belum buka cabang di Indonesia. Karena daerah tempat shopping berikut ini searah ke terminal bus Paris Gallieni, titipan tas di Louvre pun diambil. Ketika ketemu Zara, pembagian tugasnya pun cukup jelas, mereka belanja dan saya nungguin luggage, kadang nunggunya di luar toko karena tidak boleh bawa masuk luggage ke dalam toko. Untunglah ini hanya beberapa jam saja, karena kami sudah harus tiba di Paris Gallienni jam 22.45, lima belas menit sebelum bus pukul 23.00 kami berangkat ke Duesseldorf dan disambung dengan kereta keesokan paginya ke Bochum.

Ketika kami sampai ke Papagaienhaus (dormitory di Bochum), di atas langsung disambut seorang teman dari Hongkong yang menanyakan? “How’s Paris?” dan setelah cerita sebentar dia cerita baru aja email ke coordinator summer school bahwa dia nge-drop mata kuliah control design. Dia lebih hebat lagi, ngedrop mata kuliah dua jam sebelum ujian, kalau saya masih dua minggu sebelum ujian. Tak lama kemudian Andreas keluar untuk ke kampus dan langsung bete ketika tahu soal fakta ada teman sekelas dia yang nge-drop mata kuliah lagi.

Sorenya ketika ketemu Andreas: “Dre, ujian gimana? Sukses?” yang langsung dijawab “@#$%^, lu tahu nggak? Cuma gue mahasiswa summer school di kelas yang ikut ujian control design, yang lainnya mahasiswa S2 reguler. Dua mahasiswa Turki itu rupanya udah nge-drop mata kuliah ini dari minggu ke-6.” Tanpa sepengetahuan kami, rupanya dua teman dari Turki itu sudah nge-drop dan Andreas benar-benar jadi single fighter-nya peserta summer school di ujian control design ini, yang lain adalah mahasiswa master-nya Universität Dortmund