“Gue udah mulai nggak bisa bedain yang mana model, yang mana warga biasa” kata Rahmadi ke saya sambil melihat ke para wanita yang berlalu lalang di shopping street terpanjang di Copenhagen. Kami saat itu sedang makan siang di restoran rekomendasi Ardhy “Restoran Butterfly” yang katanya lumayan murah buat makan buffet di pusat kota Kopenhagen dan mendapatkan lovely distraction dari orang-orang yang berlalu lalang di shopping street itu. Beruntung sekali Ardhy yang tingal di Copenhagen yang dapat cuci mata setiap hari. Hari itu kami seolah mendapat teaser mengenai cewek-cewek Scandinavia yang isyunya potongan barbie-like, pirang keemasan, mata biru dan body bagus sampai-sampai Rahmadi banyak mengambil foto candid cewek-cewek Copenhagen dengan kamera semi-SLR pinjeman Ardhy. Saya yang juga punya pikiran yang sama harus mengelus dada karena kemampuan zoom out kamera saku saya sangat kurang untuk mengambil foto-foto candid ini. Benar-benar kamera SLR dibutuhkan disini.

Ardhy pun bercerita mengenai rahasia di balik “blonde”-nya orang-orang Scandinavia. Ternyata mereka itu sejak kecil sudah memakai cat rambut untuk mendapatkan warna pirang keemasan ini. Warna asli rambut mereka sebenarnya pirang pucat. “Kalau pengen liat warna rambut yang asli, coba liat anak-anak yang masih kecil, warna rambutnya masih asli” tutur Ardhy. Isyunya sih sejak umur 5 tahun mereka sudah mengenal yang namanya cat rambut ini. Ternyata cat rambut adalah rahasia di balik ke-pirang-an cewek-cewek Kopenhagen.

Di hari terakhir kami di Kopenhagen saat berada di dalam kereta meninggalkan kost-an Ardhy, kami berpapasan dengan serombongan siswi-siswi sekolah menengah yang “cantik-cantik, saking banyaknya jadi tidak unik lagi” kata Rahmadi. Benar juga, saking seringnya melihat blonde-blonde cantik ini, seolah-olah ada kalibrasi kata cantik.

Dengan semangat empat puluh lima kami pun menuju ke Swedia, dimulai dari Malmo ke Lund dan bermalam di Helsingborg untuk membuktikan bahwa gadis-gadis Swedia adalah yang tercantik di Scandinavia memanfaatkan sebuah tiket yang bernama Oresund Ticket. Tiket ini membuat kami bisa ngiderin Kopenhagen dan daerah Skone, tempat Malmo, Lund dan Helsingborg berada. Tiket ini berlaku searah, terserah mau dipilih jalur Kopenhangen – Malmo – Lund – Helsingborg – Helsingor – Kopenhagen ataupun arah sebaliknya. Berhubung kami akan mengambil bus malam dari Helsingborg menuju Oslo, kami pun tidak benar-benar menggunakan tiket ini secara maksimal. Perhentian pertama tiket ini adalah Malmo.

Di Malmo inilah kami mengetahui bahwa gadis blonde cantik pun bisa jadi tukang sapu jalanan, tukang sampah dan tukang kebun, lokasi persisnya ketika kami sedang berada di dekat Malmo Fortress. Sebelumnya saya pernah membaca bahwa Swedia dan negara-negara Scandinavia adalah tempat yang posisi antara pria dan wanita-nya benar-benar sejajar. Hari itu saya melihat contoh nyatanya. Kemana para pria tukang sapu jalanan, tukang sampah dan tukang kebun? Kalau saja ada pencari bakat dari agency model di Jakarta pasti gadis-gadis blonde yang kami lihat sedang mengerjakan pekerjaan “blue-collar” ini ditawari kontrak buat jadi model.

Meskipun Malmo kurang begitu terkenal di Indonesia, kota ini adalah kota terbesar kedua di Swedia. Malmo terkenal dengan sebuah bangunan mahakarya arsitek Spanyol bernama Santiago Calavatra. Santiago who? Kecuali anda kuliah arsitek, nama ini pasti jarang didengar, termasuk oleh saya yang tahu nama arsitek ini dari teman yang kuliah arsitektur. Kesan pribadi saya sih, iseng amat ya orang yang bikin bangunan ini, masa gedung seolah-olah di-twist. Silahkan google kalau mau lihat bangunan ini seperti apa.

Kami hanya mengalokasikan waktu setengah hari di Malmo. Lund, sebuah university town di sebelah utara Malmo pun menjadi perhentian berikut. Disini kami akan di-guide oleh Rika, yang baru kami kenal via email setelah sebelumnya saya email-email-an dengan ketua PPI Swedia untuk meminta tolong siapa yang bisa meng-guide kami berdua ketika kami berada di Swedia (Malmo, Lund, Helsingborg dan Stockholm). Kami mendapat 3 nama, dan dari tiga nama ini hanya Rika yang berbaik hati membalas email kami dan bersedia meng-guide kami ketika kami berada di Lund.

Kalau ada pepatah bahwa dunia itu selebar daun kelor, tampaknya hari itu pepatah itu benar, Rika ini ternyata temannya Ardhy dan kakak-nya Rika adalah senior saya dan Ardhy ketika kuliah di Bandung dulu. Memang dunia itu sempit. Rika pun sudah menunggu di stasiun Lund untuk menemani kami mengelilingi Lund, dimulai dari city center yang ada Dom (gereja) dan astronomical clock sebelum dibawa menuju kampus Lund University. Lund University merupakan universitas tertua di Swedia dan tempat Rika menuntut ilmu. Ada University Building yang dibangun tahun 1878-1882 yang berfungsi sebagai kantor rektorat. Kota Lund sekilas mirip dengan Delft, benar-benar terasa itu adalah university town. Rika masih membawa kami ke bagian lain dari Lund untuk melihat Botanical Garden dan kuburan Swedia sebelum perjalanan kami berakhir di stasiun untuk mengambil kereta menuju Helsingor.

Hari sudah gelap ketika kami tiba di Helsingborg dan host kami sudah menjemput di stasiun. Kami berencana untuk menginap malam ini di Helsingborg dan keesokan harinya mengunjungi Helsingor untuk melihat kastil Kronborg atau yang lebih dikenal sebagai kastil Hamlet karena kisah Hamlet-nya William Shakespeare mengambil setting di kastil ini.

Helsingor dan Helsingborg adalah kota kembar, bedanya yang satu berada di sisi Denmark dan yang lain berada di sisi Swedia. Helsingborg terlihat dari Helsingor dan begitupun sebaliknya karena kedua kota ini hanya dipisahkan laut sejauh 20 kilometer. Jadi urat nadi utama transportasi antara kedua kota ini adalah Ferry.

Di Ferry Helsingborg – Helsingor inilah saya belajar bedanya budaya Swedia dan Indonesia. Berhubung kami orang Indonesia di Ferry ada makanan buffet, kami benar-benar mengisi piring kami sepenuh-penuhnya sampai-sampai host kami bingung dan mengatakan “Do you know you can come back again and take another round?” Kami tahu, tapi ada dorongan dari dalam untuk mengambil sebanyak-banyaknya di piring pertama. Jika membandingkan piring host dan piring kami terasa sekali beda-nya, piring kami benar-benar penuh dan piring host kami hanya berisi makanan secukupnya. Perbedaan budaya? Mungkin saja.

Sesampainya di Helsingor, kami pun bergegas menuju ke Kronborg Castle. Rupanya sedang ada program Culture Harbour Kronborg yang merupakan renovasi besar-besaran di dearah sekitar Kronborg Castle. Kronborg Castle ini dinominasikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia. Keluarga kerajaan Denmark masih sering menggunakan Kronborg Castle untuk acara-acara kenegaraan dan saat royal flag days, meriam-meriam ditembakkan dari castle ini. Di dalam kastil ini ada sebuah tulisan “Once upon a time, a thousand years ago, there was a king of Denmark named Gorm the Old. All though the years his family has ruled the oldest kingdom of the world, and the present Queen Margrethe II is a descendant of the old king Gorm.” Kastil ini terdiri dari beberapa bagian: Royal Apartments – Ballroom, Casemates – Castle Chapel dan Danish Maritime Museum, tapi yang paling keren dari semuanya adalah dungeon alias penjara bawah tanahnya.

Selesai mengunjungi kastil ini, kami bertiga ngiderin city center dulu sebelum menuju pelabuhan Ferry dan kembali ke Helsingborg. Di tempat penukaran uang di pelabuhan ferry Helsingborg inilah Rahmadi mengalami pelecehan. Setelah kami menukar uang Denmark Kronor kami yang tersisa, kami dihampiri tiga orang yang mengajak kenalan. Satu bertampang bule dan dua orang bertampang Asia (yang ternyata dari China dan Srilanka). Setelah ngobrol-ngobrol sebentar bersama mereka, tiba-tiba host kami tersenyum dan melihat ke Rahmadi. Ternyata si bule ngomong ke dia dalam bahasa Swedia yang kurang lebih isinya “Is he (Rahmadi) gay? I want to take him home and eat him”. Awalnya kami tidak tahu apa yang dibicarakan oleh host kami dan si bule karena mereka berbahasa Swedia, dan alarm tanda bahaya pun mulai bermunculan ketika mereka bilang “We are homosexual” yang langsung dijawab oleh kami “We are straight” alias orientasi kami masih normal ke wanita bukan ke pria. Bule ini pun ngasih sinyal-sinyal positif ke Rahmadi sebelum berpisah berupa kedipan mata yang dibalas dengan tatapan mata bengong dan jijay dari kami. Bukannya Barbie Girl yang kami temui di Helsingborg, tapi Barbie Gay. Ketika Rahmadi tahu isi pembicaraan dalam bahasa Swedia antara host kami dan si bule pun tampang dia bete banget. Kejadian ini ada hikmahnya karena sejak saat itu Rahmadi tidak pernah mengungkit kejadian 20 kronor saya dan gadis-gadis Vivaldi. Sebelumnya saya selalu diingatkan kejadian gadis Vivaldi itu dan sejak kejadian ini begitu dia menyinggung gadis Vivaldi, saya sudah punya jawaban “masih mending gadis Vivaldi, setidaknya kan gue nggak digodain homo Swedia kaya elu Mad…..” yang sangat ampuh. Barbie gay ini menjadi penutup perjalanan kami di Negeri para Barbie yang untuk sementara berakhir di Helsingborg. Dari Helsingborg kami berencana mengambil bus malam menuju Oslo dan menghabiskan beberapa hari di Norwegia, terutama untuk mengikut highlight trip ini: Norway in a Nutshell sebelum ke Stockholm.

Advertisements