Nald, mending nggak usah ke Norway aja kalau nggak ke Bergen, buat ikutan Norway in a nutshell, pemandangannya fjord disana keren banget, kalau waktunya kurang skip Oslo aja” demikian promosi Ardhy mengenai tour Norway in a Nutshell ini ketika saya menyinggung rencana spring break Scandinavia ke dia.

Ardhy, teman kuliah di Bandung dulu yang sekarang bekerja di Kopenhagen ini waktu itu saya tanyakan sarannya mengenai scandinavia trip saya berhubung dia sudah tinggal 4 tahun di Denmark dan pastinya sudah berpengalaman mengeliling Negara-negara Scandinavia. Rencana awal liburan musim semi ini hanya 11 hari saja untuk mengunjungi kota-kota utama di Scandinavia: Kopenhagen, Oslo dan Stockholm, Kalau sempat sekalian mengunjungi kota-kota kecil di sekitar Kopenhagen. Rencana pun berubah karena adanya informasi dari Ardhy ini. Itulah pertama kalinya saya mendengar sebuah kota yang bernama Bergen di Norwegia dan Norway in a Nutshell ini. Rencana awal saya sama sekali tidak memasukkan Bergen ke dalam itinerary dan setelah diyakinkan oleh Ardhy dan melihat sneak peak Norway in a nutshell ini di website, jadilah Bergen masuk ke dalam rencana spring break dan akhirnya menjadi highlight trip kali ini.

Pada mulanya saya berpikir Norway in a Nutshell ini semacam tourist bureau. Ternyata Norway in a Nutshell ini merupakan tour tapi tanpa pemandu wisata. Menurut Ardhy, trip ini yang dilihat lebih ke arah perjalanannya, bukannya kota-kota yang dikunjungi. Di Kopenhagen, ketika kami menginap di tempat Ardhy, dia pun menunjukkan foto-foto trip Norway in a Nutshell dia beberapa tahun yang lalu. Foto ini bener-bener bikin ngiler. Pemandangannya bagus banget, apalagi kamera yang digunakan untuk mengambil foto ini adalah kamera SLR.

Kereta ini sampai di Bergen menjelang jam 7 pagi. Pemandangan ketika bangun tidur benar-benar sangat bagus dan di kereta pun kami mendapat sleeping kit yang terdiri dari selimut, bantal, penutup mata dan ear plug. Servis dari NSB (perusahaan kereta-nya Norwegia) ini bagus juga ya. Stasiun Bergen jika dibandingkan Stasiun Oslo benar-benar nge-jomplang. Di Oslo ada sekitar 20 track kereta sedangkan di Bergen hanya ada tiga, padahal Bergen adalah kota terbesar ke-2 di Norwegia. Sepanjang menunggu dijemput Hans, kami bertanya-tanya mengenai tour Norway in a Nutshell di sebuah loket yang buka. Hans baru nongol 40 menit setelah kami tiba dan membawa kami ke rumah dia yang terletak di jalan Professor Hansteen Gate. Berhubung kami tepar setelah dua malam berturut-turut tidur di bus dan di kereta, kami pun beristirahat begitu sampai di tempat-nya Hans.

Informasi bahwa Hans ada di Bergen pun diperoleh secara tidak sengaja dari Facebook. Saat Ardhy menyinggung tentang kota Bergen ini, saya tidak ngeh kalau Hans tinggal di Bergen dan ketika secara tidak sengaja melihat profile dia dan lokasi dia yang berada di Bergen. Langsung deh menghubungi Hans dan nanya-nanya tentang Norway in a nutshell sekaligus boleh nebeng atau tidak. Hans merupakan teman sejak jaman kuliah di Bandung dan kami satu angkatan meskipun beda jurusan, saya mengambil Teknik Elektro dan Hans mengambil Teknik Kelautan. Setelah lulus dia bekerja setahun dan di tahun 2006 berangkat ke Norwegia untuk belajar di NTNU Trondheim, salah satu Universitas Teknik di Norwegia. Di tahun 2009 itu rupanya dia pindah ke Bergen setelah keterima bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang migas. Rahmadi dan saya dapat kepastian tinggal di Bergen pun dua hari sebelum kami sampai di kota itu. Hans yang dihubungi via email tidak menjawab, pesan di Facebook juga tidak dijawab, dan akhirnya baru dijawab setelah posting pesan ke wall dia. Setelah tidak sengaja melihat layar monitor dia, wajar aja tidak dijawab, wong unread message-nya di email dia banyak banget. Di tempat Hans inilah kami akan menginap selama di Bergen dan berhubung hari kami tiba dia ngantor, jadilah kami dikasih kunci rumah dia dan nanti janjian akan jalan bareng setelah dia pulang kantor.

Setelah berisitirahat setengah hari, jam 13.00 kami pun meninggalkan tempat Hans menuju pusat kota. Bergen Kunstmuseum merupakan tujuan awal kami. Museum yang berisi lukisan-lukisan ini mengutip bayaran 40 NOK untuk mahasiswa dan disinilah saya bertemu dengan seorang wanita Finlandia yang mengajak ngobrol. Awal-awal masih OK, tapi lama kelamaan pembicaraan si wanita kok ngelantur ya, baru saya sadar ternyata wanita ini sakit jiwa dan tak berapa lama kemudian sudah ada petugas yang menjaga wanita ini dan membawanya keluar. Apes deh. Di luar museum ini kami bisa melihat sebuah danau buatan besar dan pohon-pohon yang mulai menampakkan bahwa sekarang adalah musim semi. Di salah satu pohon ada satu pasangan sedang sibuk pacaran di atas pohon. Ciuman aja mesti naik-naik pohon, romantis kali ciuman di atas pohon yang daun-daunnya berwarna merah muda. Untunglah adegan ini berhasil diabadikan dengan kamera saya, sebuah hal untuk membuktikan tidak hanya di India saja adegan pacaran yang melibatkan pohon di dalamnya.

Dari daerah seputar danau buatan ini kami menuju shopping street-nya dan melihat dua siswi yang sedang merangkak di jalan dan ditemani oleh empat orang siswa lainnya. Berhubung penasaran saya bertanya kepada mereka ada apa di balik aktivitas merangkak ini. Ternyata sekarang ini adalah masa-masa kelulusan SMU dan ditandai dengan merangkak di jalan utama di kota Bergen. Atasan mereka berbeda-beda tapi celana panjang yang mereka kenakan berwarna merah dan dihiasi oleh bendera Norwegia. Untunglah dua siswi yang merangkak ini mau difoto dan foto ini menjadi photo of the day.

Dari sini kami menuju ke Bryggen, daerah pasar ikan-nya Bergen. Tapi tidak ada aktivitas yang berarti ketika kami berada disana. Bryggen (atau Wharf dalam bahasa Inggris) didirikan tahun 1702 dan ditetapkan menjadi warisan budaya UNESCO di tahun 1980. Rumah warna-warni Bryggen ini benar-benar mengingatkan saya dengan bangunan serupa di Copenhagen yang baru kami kunjungi beberapa hari sebelumnya.

Petang itu kami berjanji ketemu Hans yang membawa kami ke Floinbanen, sebuah kereta yang unik karena kereta ini berjalan pada lintasan yang menanjak 26 derajat. Titik akhir kereta ini adalah Floien Stasjon yang terletak di 320 meter diatas permukaan laut. Dari Floien ini kami dapat melihat pemandangan kota Bergen sambil menunggu matahari terbenam. Di Floien ini pun ada miniature kereta Floibanen dan stasiun-stasiun dari Bergen ke Floien dan kereta mini ini posisinya bersesuaian dengan kereta floibanen asli-nya.

Setelah melihat Bergen hari itu, saya cenderung setuju dengan Ardhy bahwa Bergen ini lebih cantik dari Oslo. Sekilas Bergen ini mirip dengan Bandung karena dikelilingi oleh gunung. Bedanya Bergen dibatasi oleh laut sedangkan Bandung jauh dari laut.

Keesokan hari-nya, alias hari ke-8 perjalanan kami adalah Hari “Norway in a Nutshell” yang menjadi highlight trip Scandinavia kami. Promosi Ardhy yang kenceng banget mengenai kota Bergen ini dan didukung website Norway in a Nutshell yang sangat menjual membuat kami merubah itinerary dan memasukkan Bergen dan Norway in a Nutshell ke dalam rencana kami. Biayanya cukup mahal juga, 935 NOK (Norwegian Kronor) atau sekitar 120 Euro, tapi setelah mengikuti trip ini, harganya sesuai dengan kepuasan pelanggan. Meskipun kamera saya hanya kamera saku biasa, berhubung objek foto-nya bagus, foto-foto yang diambil hari ini pun benar-benar keren.

Norway in a Nutshell ini semacam tour, tapi kami hanya diberikan tiket transportasi saja dengan rute Bergen – Voss – Gudvangen – Flam – Myrdal – Voss – Bergen. Tiket ini valid dalam dua hari atau kalau mau bisa dijadikan juga dalam 1 hari. Perjalanan dalam trip inilah yang berkesan, bukan kota-kota yang dikunjungi di trip ini, menurut Ardhy. Setelah menempuh trip ini, saya pun setuju dengan dia, karena perjalanan di Norway in a Nutshell inilah yang paling berkesan buat saya.

Kami berangkat dari Bergen jam 8.40 dengan tujuan utama Voss. Kami akan sampai menjelang pukul 10 pagi di Voss. Saran Hans: ambil tempat duduk di jendela sebelah kiri karena pemandangannya lebih bagus. Di kereta ini ada satu hal yang agak lucu, toilet-toilet akan ditutup di rute-rute tertentu dengan tujuan untuk melestarikan alam.

Begitu kami sampai di Voss langsung deh nyari bus yang akan membawa kami dari Voss ke Gudvangen.Pertama-tama hanya ada 1 bus yang penuh banget, untungya tidak lama kemudian datang bus kedua dan ketiga. Di bagian atas kaca depan bus ada LED bertuliskan Norway in a Nutshell. Meskipun saat itu berada di Eropa, suasana saat mau masuk bus ini mengingatkan saya dengan bus-bus ketika masa mudik, benar-benar tidak ada aturan dan main sikut-sikutan, termasuk kakek-nenek yang suka sikut-sikutan. Berhubung duit lagi habis, Rahmadi ngambil duit di ATM dulu, siapa tahu kami nanti perlu uang untuk beli souvenir.

Kalau soal sikut-sikutan merupakan sesuatu yang sama seperti bus-bus di Indonesia, soal ketepatan waktu merupakan hal yang berbeda. Bus disini benar-benar tepat waktu. Di tiket kami disebut bus akan berangkat pukul 10.12 dan benar saja, jam 10.12 bus berangkat. Highlight utama rute Voss ke Gudvangen ini adalah dua air terjun (Stalheimsfossen dan Sivlefossen) dan 13 kelokan Stalheimskeliva. Berhubung sudah kebiasaan naik sepeda di Belanda, saya kepikiran pasti lebih enak sepedaan buat menjalani rute ini dibandingkan naik bus, tapi nyewa sepeda dimana ya? Tiga puluh menit setelah berangkat kami pun mulai meninggalkan jalan utama dan masuk ke jalan kampung. Kata Pak Supir akan ada 2 air terjun dan 13 kelokan. Air terjun pertama sudah dilewati sebelum masuk jalan kampung ini, berarti tinggal 13 kelokan dan 1 air terjun lagi. Begitu melihat 13 kelokan yang menurun ini nyali sempet ciut juga, karena bener-bener curam dan berkelok-kelol. Kalau kenapa-napa bisa nggak selamat nih. Untunglah supirnya benar-benar meyakinkan kami dengan pengalaman dia selama 30 tahun di rute ini. Gile deh… 30 tahun nggak bosen ya? Kelokannya pun hanya cukup untuk satu bus, jadi kalau ada bus kedua yang muncul salah satu harus mengalah. Begitu mulai masuk turunan dan kelokan ini, penumpang pun mendadak rusuh, bukan ketakutan, tapi excited karena pemandangan di kanan kiri bus yang benar-benar bagus. Foto-foto disini hasilnya pasti dijamin bagus, meskipun hanya pakai kamera saku. Akibatnya bus menjadi rusuh sepanjang kelokan-kelokan ini karena penumpangnya berpindah-pindah tempat duduk untuk mengambil posisi agar mendapatkan gambar yang bagus. Untunglah rusuh-rusuh ini hanya sekitar 15 menit dan penumpang pun kembali tenang, mungkin karena sudah puas foto-foto. Orang normal kalau melihat tikungan turunan itu pasti nyalinya ciut, tapi rasa ciut ini bisa dibilang dikalahkan sama rasa excited sama pemandangan di samping bus yang benar-benar bagus. Ada satu pelajaran yang bisa dipetik disini, lain kali kalau traveling bawa handycam karena kamera kurang bisa menangkap pemandangan indah di samping bus dengan sempurna. Begitu sampai di bawah, hampir semua penumpang bertepuk tangan kepada Pak Supir. Setelah 13 kelokan ini kami pun menemukan air terjun kedua yang dihiasi oleh pelangi. Ternyata untuk melihat pelangi tak perlu menunggu selesai hujan, cari aja ke deket-deket air terjun – pasti ada pelangi. Perjalanan bus ini berakhir di Gudvangen.

Bagian berikut dari Norway in a nutshell ini adalah perjalanan dengan Ferry dari Gudvangen menuju ke Flam, sebuah village yang picturesque dan cocok untuk jadi gambar di postcard. Ferry ini akan melalui Naeroyfjord yang termasuk dalam World Heritage List-nya UNESCO. Naerofjord ini merupakan salah satu fjord tersempit di Eropa dan perjalanan ini akan berakhir di Aurlansfjord. Fjord yang merupakan bagian dari Sognefjord ini sudah terkenal keindahannya. Ingin tahu rasanya? Bayangkan saja anda sedang naik ferry melalui sebuah sungai yang kanan-kirinya diapit oleh pegunungan berketinggian 1000an meter sambil ditemani camar-camar yang yang terbang mengiringi ferry. Kalau beruntung, katanya kami bisa melihat kambing-kambing liar sedang merumput di samping fjord dan anjing laut sedang berjemur di atas batu-batu. Marketing-nya keren banget yak? Rasanya melihat kambing merumput itu hal yang biasa, kalau anjing laut berjemur rasanya baru luar biasa. Dalalm perjalanan ferry Gudvangen – Flam melintasi fjord ini kami ditemani burung-burung camar yang terbang di sekitar ferry kami. Di 15 menit pertama perjalan ferry ini, pengunjung pun rusuh sibuk foto-foto kanan kiri dan ngasih makan burung camar yang mengikuti perjalanan kami. Setelah itu mereka pun tenang dan menikmati keindahan fjord di kanan kiri kami. Disinilah saya menyesal kenapa tidak mempunyai kamera SLR. Kalau ada kamera SLR pastinya foto-foto burung camar dan fjord ini jauh lebih tajam, setajam foto yang Ardhy perlihatkan ketika kami berada di Kopenhagen. Dua jam setelah ferry berangkat, kami pun tiba di Flam.

Flam Railway yang akan membawa kami dari Flam menuju Myrdal, sebuah stasiun di atas gunung adalah bagian berikut perjalanan kami. Perjalanan yang memakan waktu hampir sejam ini untuk menempuh jarak 20 km adalah salah satu highlight tour ini. Interior kereta ini pun terkesan mewah bernuansa kayu. Kereta berjalan pelan dan bahkan sempat berhenti selama beberapa menit di air terjun Kjosfossen untuk membiarkan penumpang turun dan berfoto-foto di sekitar air terjun ini. Dari Kjosfossen ini pemandangan di kanan kiri kami sudah didominasi warna putih-nya salju yang menyelimuti gunung-gunugn di sekitar kami. Kereta pun sempat berhenti di stasiun Vatnahalsen yang berketinggian 811 meter di atas permukaan laut untuk memberikan kesempatan kami keluar dan mengambil foto-foto lagi. Perjalanan Flambana pun berakhir di Myrdal dan kami pun menikmati salah satu pemandangan pegunungan yang dipromosikan sebagai salah satu yang terindah di Norwegia.

Ada Flam Railway, ada pula Bergen Railway yang rutenya dari Myrdal ke arah Oslo dan Bergen. Kami mengambil yang ke arah Bergen dan saatnya menikmati pengalaman unik melintasi rute kereta di highest-altitude line di Eropa bagian utara. Sekedar informasi, Bergen Railway yang menghubungkan Oslo dan Bergen ini merupakan salah satu dari top 20 rute kereta terbaik di dunia. Membuat rute ini tetap ada membutuhkan upaya yang besar dan keahlian teknik yang mumpumi karena di rute ini ada cuaca yang keras dan berubah-ubah seperti adanya angin kencang dan badai salju untuk beberapa saat di dalam setahun. Pegawai kereta berdedikasi, peralatan yang efektif, terowongan dan terowogan salju adalah alas an di balik salah satu cara teraman dan ternyaman untuk menempuh perjalanan antara Oslo dan Bergen.

Di Bergen kami masih menemui siswa-siswi yang merangkak di jalan ketika kami menuju fish market untuk bertemu Hans jam 18.30. Hari ini rupanya adalah hari terakhir dari perayaan kelulusan yang berlangsung selama satu minggu, sebuah informasi yang saya dapat dari Hans. Hans ingin membawa kami ke Akvariet i Bergen (Akuarium Bergen) yang salah satu isinya adalah pinguin dan anjing laut. Katanya sih juga ada monyet, ular dan buaya, tapi tampaknya mereka lagi bersembunyi di dalam kandang. Mungkin karena sudah di luar jam buka, pintu dibuka dan orang bebas keluar masuk, padahal kalau di jam buka setiap orang dikenakan biaya masuk 150 NOK, mahal amat yak? Dari sini kami masih sempat dibawa ke daerah tepi laut dan pusat kota sebelum kembali ke tempat Hans.

Keesokan harinya kami meninggalkan Bergen menuju Oslo dengan kereta jam setengah sebelas. Pagi itu Bergen diselimuti kabut, berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang cuacanya sangat cerah. Rute yang kemarin kami lewati pun akan dilewati kembali hari ini, setidaknya dari Bergen sampai Myrdal. Rute kereta Oslo – Bergen ini, menurut LP Scandinavia pinjeman temen saya adalah salah satu dari three scenic route di Norwegia. Saya setuju karena memang pemandangan sepanjang perjalanan kereta ini bagus banget. Pemandangann pegunungan yang tertutup oleh salju dan sekali-kali ada rumah kecil di hamparan salju ini. Saya benar-benar membutuhkan kamera yang lebih bagus karena gambar yang diambil dari dalam kereta sering berbayang. Handycam pun rasanya benar-benar dibutuhkan untuk trip kali ini. Bergen selesai, saatnya kembali menjelajahi Oslo.