Pertama kali sampai di Kopenhagen, saya teringat iklan butter cookies khas Denmark. Di Kopenhagen selama dua setengah hari ini kami melakukan semua hal yang turis lakukan: mengunjungi Tivoli, canal tour Copenhagen, National Museum yang gratis, shopping street Storget , Rosenborg Castle di Royal Park dan yang paling terkenal patung Little Mermaid. Di deket tempat little mermaid inilah kami diwawancarai sama wartawan mengenai pendapat kami sebagai turis tentang rencana pemindahan patung ke China dalam rangka World Expo selama 6 bulan. Di kemudian hari, seorang teman kami yang ke Kopenhagen menggerutu karena dia tiba beberapa hari setelah patung ini dipindah ke China untuk World Expo. Tapi dari semua tempat di Kopenhagen itu, ada empat kejadian yang berkaitan dengan 20 kronor yang mengingatkan saya tentang kota ini.

Kisah #1 – Gadis-gadis Vivaldi

Pemusik jalanan merupakan pemandangan yang biasa di Stroget, sebuah shopping street yang isyunya merupakan shopping street terpanjang di Eropa. Saat hari pertama tiba di Kopenhagen, saya sudah melihat performance dari 5 anak muda dengan alat musiknya yang berupa botol yang diisi air dengan tinggi berbeda-beda. Salah satu pemain musik yang main drum mirip banget sama Harry Potter. Saya video-in pertunjukan mereka, tapi sayangnya ada orang-orang yang dengan seenak jidatnya sering lewat di depan saya sehingga di video tersebut sering terlihat kepala orang yang mondar-mandir. Hal yang membedakan mereka dengan pengamen jalanan di Indonesia adalah mereka lebih profesional. Memang sih mereka menaruh topi buat pengunjung ngasih recehan, tapi sebenarnya ini lebih merupakan publikasi mereka supaya masyarakat tahu eksistensi mereka. Para pemusik-pemusik botol ini bahkan punya website untuk group mereka. Saya jadi berpikir apakah ada pengamen jalanan di Indonesia yang mempunyai website.

Pemusik botol ini saya lihat dalam perjalanan menuju Royal Park. Ketika pulang dari Royal Park menuju ke Copenhagen station, kami melewati shopping street ini lagi. Rahmadi mendengar lagu Vivaldi dimainkan di ujung jalan, suaranya kencang, sound systemnya OK punya, dan ketika mendengarkan musik yang mereka mainkan sudah seperti mendengarkan CD aja. Mereka benar-benar berbakat. Tiga gadis dengan instrument musim mereka memainkan komposisi music-nya Vivaldi.

Kagum dengan permainan mereka, Rahmadi bilang, “Nald, kasih 10 kronor aja”. Saya yang habis memfoto mereka, tidak ngeh dengan nilai 10 kronor ini, karena masih transisi dari mikir mengkonversi Euro ke Kronor. Dalam hati saya mikir “Rahmadi pelit amat, masa dikasih 10 kronor (masih mikir2 10 kronor itu < 50 Eurocent)”. Debat sedikit sama Rahmadi, “20 kronor aja”, karena saya masih menyangka 20 kronor itu masih kurang dari 1 Euro. Rahmadi tidak terima dan berdebat, “10 kronor aja”. Berhubung saya yang megang recehan, saya cuek aja, dan langsung ngasih 20 kronor ke gadis-gadis Vivaldi ini. Setelah itu Rahmadi langsung sewot, “20 Kronor??!!!!!” dan langsung memberikan angka konversi 20 Kronor dalam Euro. Saya yang masih tidak percaya, membuka Lonely Planet Scandinavia, di bagian currency.

Oh my God, 7.44 kronor setara 1 Euro jadi saya tadi memberikan sekitar 2.6an Euro ke mereka. Jumlah yang lumayan gede, tidak sesuai dengan misi kami untuk berhemat ria dalam trip kali ini. Ya udahlah, hitung-hitung beramal sama pemusik berbakat. Meskipun rasanya Rahmadi nggak terima dan kadang–kadang mengungkit kejadian ini dan menyangka saya memberikan 20 Kronor karena tersihir sama kecantikan mereka. Alasan sebenarnya sih salah mengkonversi dari Kronor ke Euro. Kejadian ungkit-mengungkit ini akhirnya berakhir ketika beberapa hari kemudian saya punya kartu as kejadian Rahmadi digodain homo Swedish-Japanese yang tertarik sama dia. Pelajaran berharga: harus hati-hati kalau konversi dari mata uang satu ke mata uang lainnya, biasanya otak lumayan lemot dalam hal ini, ditambah lagi faktor yang main musik cakep. Saya belajar dari pengalaman, ketika hari ketiga di Copenhagen melihat pengamen solo yang kami lewati pun dikasih 2 (bukan 20) Kronor. Belajar dari pengalaman sebelumnya.

Kisah #2 – Akuarium di Tivoli

Marketing bisa menipu. Saat membaca tentang Tivoli Akuarium di brosurnya Tivoli, kesannya bagus banget ya, akuarium dengan panjang 30 meter berisi ikan-ikan dan terumbu karang. Berdasarkan informasi di brosur itu, akhirnya Ardhy (host kami di Kopenhagen), Rahmadi dan saya emutuskan untuk masuk dan melihat-lihat ikan-ikan tersebut. Kami perlu menambah 20 kronor per orang untuk masuk ke akuarium ini. Hampir 10% dari biaya masuk ke Tivoli, yang merupakan amusement park tertua di dunia.

Di akuarium Tivoli, saat melihat ruangannya untuk pertama kali “jangan bilang cuman segini ruangannya”. Penonton pun kecewa, Tivoli akuarium ternyata bener-bener kecil. Tiga puluh meter itu ternyata bisa dibilang pendek banget, bayangkan aja tiga rumah lebar masing-masing 10 meter dijejerin. Seaworld di Ancol pun jauh lebih bagus. Terumbu karangnya kayanya mati gitu, warnanya kusam. Bener-bener deh 20 kronor itu bisa dibilang sia-sia, meskipun nggak sepenuhnya terbuang karena kami bertiga bisa tidur sebentar di bantal besar yang empuk sambil melihat akuarium ini. Tiduran bentaran sambil melihat ikan-ikan yang kayanya berenangnya aja udah tidak semangat.

Kisah #3 – Sepeda Mr. Smile

Hari ketiga di Copenhagen, setelah secara tidak sengaja melihat guard change di Amelieborg Palace, rencananya kami mau ke tempat Little Mermaid, yang jadi simbol kota Kopenhagen. Awalnya kami mau jalan kaki dari Amelienborg Palace ke tempat Little Mermaid ini. Sambil jalan, kami melihat sepeda lucu yang bergambar Mr. Smile dan tanpa jari-jari. Lucu juga selera humor dinas pariwisata Kopenhagen. Selidik punya selidik, ternyata sepeda ini gratis, tapi pemakai sepeda harus ngasih deposit 20 Kronor yang akan balik kalo sepeda ini dikembalikan ke tempat-tempat tertentu di Copenhangen. Kerennya, di stangnya ada peta copenhagen dengan ukuran kecil. Peta kecil ini bener-bener membantu dalam hal orientasi arah di Kopenhagen.

Singkat cerita, bersepedalah kami menuju ke tempat Little Mermaid ini. Ada jalur khusus sepeda di jalan raya, yang mirip-mirip sama jalur sepeda di Belanda. Bedanya kalau di Belanda jalur sepeda berwarna merah, sedangkan di Kopenhagen jalur sepeda tidak diwarnai, kecuali di persimpangan jalan yang diberi warna biru.

Ketika sampai di tempat Little Mermaid ini, saya sempat berpikir untuk nge-take sepeda ini buat kami pakai seharian. Tapi bagaimana caranya? Ketika berangkat liburan kan tidak kepikiran bawa-bawa gembok sepeda. Pelajaran kalau selanjutnya ke Kopenhagen jangan lupa bawa gembok sepeda. Ketika baru sampai di tempat Little Mermaid saja sudah ada orang yang ngeliatin kami dengan tatapan mata “sudah selesai makai sepedanya? Saya juga mau pakai sepeda nih”. Kalau kami parkir dan mengambil 20 kronor deposit di sepeda ini, sudah pasti dalam beberapa menit sepeda ini akan dipakai turis lainnya. Ya sudahlah, relakan saja sepeda ini dipakai turis lain. Kami pun memarkir sepeda di tempat khusus sepeda ini dan ingin mengambil deposit 20 kronor di sepeda. Deposit Rahmadi kembali dengan lancarnya sedangkan 20 Kronor saya nyangkut, sampai diperlukan langkah-langkah yang agak berbau kekerasan untuk mengeluarkan 20 kronor itu. Untunglah bisa dikeluarkan, kan lumayan 20 kronor.

Story #4 – Copenhagen Post

Tourist information justru kami kunjungi di hari terakhir kami di Kopenhagen padahal biasanya tourist information saya adalah tempat yang pertama kali saya kunjungi ketika tiba di satu kota. Alasan dibalik hal itu adalah kami tak berhasil menemukan Tourist Information berdasarkan informasi Lonely Planet (LP) Scandinavia yang ternyata tidak up to date, maklum buku pinjaman dan dapatnya pun 2 hari sebelum berangkat liburan. Letak tourist information ini justru diperoleh dari Ardhy, dan ternyata letaknya sangat dekat dengan Copenhagen Central Station. Kalau anda berdiri di depan Copenhagen Central Station dan menghadap ke Tivoli, di arah jam 10 ada gedung lokasi tourist information ini, benar-benar deket dan palingan kalau jalan hanya butuh 5 menit. Ketika masuk ke dalam tourist informatio ini, wuihhh bagus banget. Ini tourist information terbaik yang pernah saya masuki selama traveling. Di dalam pun untuk dilayani harus mengambil nomor antrian di mesin. Sambil menunggu dipanggil, saya mengambil brosur-brosur pariwisata Denmark dan daerah Oresund Swedia yang dipajan. Kelihatannya sih gratisan.

Setelah nomor antrian kami dipanggil, nanya-nanya dan tiket Oresund pun berhasil kami dapatkan. Tiket yang bikin puyeng selama dua hari di Kopenhagen saking tidak jelasnya informasi tentang tiket ini. Saya sempat memuji ke petugasnya “Until now, this is the best tourist information I have ever seen” yang membuat petugasnya jadi bercerita betapa senangnya dia bekerja di tempat ini. Tampaknya saya membuat kesan yang bagus ke petugas tersebut.

Ketika keluar dari touris information inilah saya melihat sebuah tabloid berbahasa inggris yang langsung saya ambil. Lumayan lah untuk bahan bacaan. Ketika berada di dalam kereta menuju ke Malmo (Swedia) dibacalah tabloid ini. Halaman utama isinya tentang sosialita di Denmark yang ketangkap basah karena menjadi germo. Halaman demi halaman dibuka dan kenapa isinya seperti bagian Internasional di Kompas ya? Ada berita tentang pembajakan di Somalia. Feeling mendadak sudah jelek saja. Ketika membuka halaman selanjutnya, kenapa ada bagian olah raga. Sejak kapan tourist information memberikan tabloid yang isinya bukan tentang traveling?

Saat membuka halaman depan, kenapa nama tabloid ini Copenhagen Post ya? Saya mendadak jadi inget Jakarta Post. Kalau Jakarta Post kan mesti bayar dan ternyata, oh my god, tabloid ini ternyata tidak gratisan, ada tulisan kecil harga tabloid ini 20 Kronor. Dodol dodol… Saya mengambil tabloid yang dijual dan tidak membayar. Ketika berusaha mengingat-ingat lagi rasanya di sebelah tourist information ada café, ada kemungkinan tabloid ini punya kafe itu. Dan dengan santainya saya saat itu mengambil tabloid ini dan tidak membayar karena menyangka tabloid ini gratisan. Hati merasa berdosa, tapi masa kembali lagi ke Copenhagen lagi hanya untuk mengembalikan tabloid ini. Pengen ngaku dosa aja di tourist information Helsingor saja keesokan harinya sambil mengembalikan “barang bukti” berupa tabloid dan ngasih duit 20 kronor.

Semoga CCTV di dalam tourist information tidak bekerja. Kan nggak lucu kalau tampang saya masuk ke wanted list karena ngembat tabloid secara tidak sengaja. Untung saja saya waktu itu pkai topi. Tapi rasanya backpack saya yang bagian belakangnya ada simbol TNI-AU yang paling kelihatan di rekaman CCTV (kalau ada). Saya benar-benar membawa nama TNI-AU sampai ke Kopenhagen dengan backpack saya ini. Backpack yang saya peroleh dari adik saya yang beli di Pasar Senen.

Setelah perjalanan di Copenhagen ini, saya selalu berpikir, “ada apa dengan 20 Kronor?” Selalu aja ada cerita tentang 20 Kronor, kenapa tidak 10 kronor aja? Yah udah lah, yang lalu biarkanlah berlalu. Saatnya mencari pastur, mengaku dosa.