Dre, daripada bete-bete, weekend berikut ke Berlin yuk, kan nggak afdol kalo ke Jerman tapi belum ke Berlin, nanti ajak teman dan pakai Schones Wohnende biar murah” kata saya ke dia berusaha membujuk teman yang selama ini bertahan nggak jalan-jalan keluar area VRR selama summer school di Jerman. Untunglah Andreas mau ke Berlin. Tapi kebanyakan peserta summer school sudah ke Berlin, one way or another. Jadi , kami hanya mendapatkan satu mahasiswa Hongkong yang berminat bergabung. Yo wis lah, lumayan kan tiket Schones Wohnende (yang dulu seharga EUR 28) bisa dipakai buat bertiga (maksimal bisa lima orang).

Sabtu pagi itu kami bertiga pun meninggalkan papagaienhaus menuju ke Berlin. Perjalanan yang kalau menggunakan ICE palingan hanya akan membutuhkan 4 jam, kalau mau pakai Schones Wohnende butuh 9 jam karena kami hanya boleh menggunakan kereta-kereta Regional Express (RE), Regional Bahn (RB) dan S-Bahn. Ketiga jenis kereta ini kecepatannya dibawah Inter City (IC) maupun Inter City Express (ICE) yang tidak boleh digunakan dengan jenis tiket Schones Wohnende ini. Jika memakai ICE palingan kami hanya perlu ganti kereta sekali; kalau pakai Schones Wohnende kami perlu ganti kereta RB/RE sekitar 5 kali dari Bochum ke Berlin.

Di Berlin kami tiba di Postdamer Platz sekitar jam 6 sore yang masih terang benderang. Musim panas memang membuat matahari terbenam lebih malam. Hari ini matahari akan terbenam sekitar jam 9 malam, masih ada tiga jam sebelum benar-benar gelap. Tujuan pertama kami adalah tembok Berlin. Begitu lihat sisa-sisa tembok berlin, langsung kecewa karena ternyata nggak bagus-bagus amat ya? Banyak graffiti dan kotor pula. Di bagian bawah ada tulisan Berliner Mauer (1961-1989) yang berarti Tembok Berlin berdiri sejak tahun 1961 sampai diruntuhkan tahun 1989. Pemerintah Jerman Timur mendirikan tembok ini sejak 13 Agustus 1961 untuk mencegah pembelotan warga-nya ke blok Barat. Tembok ini bertahan puluhan tahun sampai tanggal 9 November 1989 pemerintah Jerman Timur memperbolehkan warganya berkunjung ke Jerman Barat dan tembok Berlin yang menjadi simbol dipecahnya Jerman mulai dihancurkan yang menjadi awal keruntuhan komunis dan blok Timur. Tapi masih ada beberapa sisa-sisa tembok yang dipertahankan sebagai memorial dan yang di Postdamer Platz bener bener bikin penonton kecewa. Sisa tembok berlin ini bahkan dijual sebagai souvenir di beberapa souvenir shop. Nggak penting banget.

Dari sini kami menuju ke Check Point Charlie. Di sepanjang perjalanan menuju Check Point Charlie ternyata masih ada sisa-sisa tembok Berlin yang dipagari dan ada pula pameran gambar “Photographie des terrors” yang menampilkan foto-foto kelam di balik sejarah tembok Berlin ini. Check Point Charlie yang menjadi symbol Cold War antara blok barat dan blok timur dan sekarang menjadi salah satu tourist attraction di Berlin. Disinilah ada sebuah papan yang bertuliskan “You are leaving the American sector” dalam empat bahasa. Sehabis Berlin ditaklukkan sekutu, kota ini dibagi menjadi 4 sektor: sector Amerika Serikat, Sektor Inggris, Sektor Prancis dan sector Uni Sovyet. Charlie berasal dari kata C di NATO phonetic alphabet. Inget kan kalo di telepon orang suka mengeja A sebagai Alpha, B sebagai Beta dan C sebagai Charlie? Buat yang penasaran, ternyata ada juga Check Point Alpha di Helmstedt dan Check Point Bravo di Dreilinden. Dibandingkan check point yang lain, Check Point Charlie yang paling terkenal, karena itu sering jadi setting film atau buku tentang spionase. Di check point ini terletak di tengah jalan, ada satu pos jaga yg diatasnya ada tulisan “Allied Checkpoint – US Army Check Point” yang dibentengi karung pasir sekitar 1 meter. Diatas karung pasir ini banyak sekali bunga dan disamping pos jaga ini ada tiang bendera dengan bendera Amerika Serikat diatasnya. Serasa bukan di Jerman. Di dekat Check Point Charlie ini ada Art Shop yang menjual bermacam-macam barang dengan topic Cold War. Kami bertiga hanya tertarik meminjam topi wool militer untuk dipakai dan berfoto ketika memakai topi topi ini. Check point Charlie beres, kamipun menuju ke Gendarmenmarkt, mau ngeliat dari luar Deutscher Dom, foto-foto dan melanjutkan perjalanan ke arah Bradenburger Tor (Bradenburg Gate). Di jalan menuju ke arah Bradenburger Tor ini ada tulisan “Good girls go to heaven; bad girls go to Berlin”. Kenapa serasa dejavu ya? Di Amsterdam saya juga nemu kaos bertuliskan “Good girls go to heaven, bad girls go to Amsterdam”. Entahlah siapa yg copycat. Matahari mulai tenggelam, dan udara semakin dingin. Saat kami sampai ke Bradenburger Tor pun cahaya lampu sudah menerangi enam pilar penyangga Bradenburger Tor ini. Suasana sunset, lumayan bagus buat foto-foto. Kalau pegang koin Euro keluaran Jerman, di bagian belakang koin 10 sen, 20 sen dan 50 sen ada gambar Bradenburger Tor, salah satu landmark paling terkenal di Berlin dan Jerman. Satu blok dari sini masih ada Holocoust Memorial yang nama resminya adalah “the memorial to the murdered Jews of Europe”. Kalau ngeliat bagian luar memorial ini seperti ngeliat banyak persegi panjang (bahasa inggrisnya Stelae) yang tingginya tidak sama berjejeran. Di dekat Holocoust Memorial ada tulisan besar Berlin Hi-Flyer, ternyata ada juga ya balon udara di Berlin. Berhubung sudah malam, holocaust memorial ini pun menjadi perhentian terakhir kami sebelum ke stasiun Postdamer Platz untuk mengambil U-Bahn menuju Jugendgastehaus Central, hostel tempat kami menginap malam itu.

Keesokan paginya, setelah sarapan di hostel dan check out, kami menuju perhentian pertama kami, Ludwig Erhard haus. Bangunan berbentuk setengah elips berwarna perak ini pilar-pilar penyangganya di bagian samping berbentuk seperti kaki robot yang ada jari-jarinya. Entah kegunaan bangunan ini untuk apa. Dari situ kami menuju Kaiser-wilhelm- gedächtnis-kirche, sebuah gereja kuno yang terletak diantara bangunan-bangunan modern. Gereja ini rasanya dipertahankan disini untuk mengingatkan orang-orang mengenai masa-masa perang dunia kedua. Puas foto-foto di gereja ini, kami melangkah ke Berlin zoologischen garten yang pintu gerbangnya bernuansa China. Di bagian bawah pilar gerbang itu ada dua gajah sedang berlutut di masing-masing pilar. Di depan gerbang ini benar-benar tidak terasa sedang berada di benua Eropa, ngerasanya malah serasa di China. Jalan sedikit, ternyata ada Mercedes lagi parkir di depan hotel Intercontinental Berlin. Berhubung ada yang mau difoto di sebelah Mercedes itu dan background hotel ini, kami berhenti beberapa saat di tempat ini. Tujuan berikutnya adalah sebuah menara yang ada patung wanita emas di atasnya. Dari atas menara ini, kami bisa melihat Bradenburger Tor, yang malam kemarin kami kunjungi. Masih dari menara ini, terlihat Reichstag yang menjadi tujuan kami berikutnya. Reichstag rame banget, antriannya panjang jadi kami pun malas masuk. Sesi foto di lapangan rumput di depan Reichstag pun dimulai sampai akhirnya inget mau mengunjungi Holocoust Memorial yang letaknya berdekatan. Malam sebelumnya kami hanya berfoto-foto di luar holocoust memorial ini, di bagian persegi panjangnya. Siang itu kami memutuskan untuk masuk ke dalam dan belajar lebih jauh mengenai holocoust ini. Ada peta Eropa dengan kotak-kotak oranye yang menandakan tempat orang-orang Yahudi Eropa dikumpulkan sebelum dikirim ke kamp konsentrasi yang kebanyakan terletak di Polandia. Ada nama kamp konsentrasi yg terkenal seperti Auschwitz dan Treblinka maupun nama-nama kamp konsentrasi yang kurang terkenal seperti Kulmhof, Lublin-Madjanek, Belzec, Sobibor, Babij Jar, dan Malyc Trostenez. Di dinding kami bisa melihat timeline pembantaian orang Yahudi di Eropa. Periode 1933-1937 disatukan dan setelah itu tiap-tiap tahun dari 1938 sampai dengan 1945 dipisah dengam tiap tahun ada satu panel tersendiri. Di ruangan berikut ada jumlah orang Yahudi yang diperkirakan terbunuh di tiap negara selama masa pemerintahan Nazi ini. Nama-nama orang Yahudi yang meninggal di kamp konsentrasi ini ditayangkan satu demi satu di layar TV raksasa. Di dekat pintu keluar ada sebuah quote dari Primo levih bahwa “It happened, therefore it can happen again: this is the core of what we have to say”. Rasanya inilah yang menjadi alasan dibangunnya holocaust memorial ini, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Tak jauh dari sini ada Berlin Cathedral yang akhirnya kami masuki; tidak hanya foto-foto di luar saja. Di dalam sepi, tidak banyak orang dan banyak dipajang artefak-artefak gereja, typical bagian dalam gereja-gereja di Eropa. Berlin Cathedral ini lebih menarik dari luar karena arsitekturnya yang bagus. Satu kubah besar ditengah, diapit dua kubah yang lebih kecil di kanan dan kirinya. Ternyata di deket katedral ini masih ada delman, tapi kedua kudanya ukurannya gede banget yak, jauh lebih gede dibandingkan kuda-kuda di Ganesha. Apakah faktor genetik berpengaruh? Setelah kuda, kami menemukan beruang, berupa sebuah patung plastik dan rupanya beruang ini jadi salah satu simbol kota Berlin. Di dekat sini ada sebuah gedung merah dengan menara yang sangat tinggi, Berlin Rathaus, agak berbeda arsitekturnya dengan rathaus di kota-kota lain. Ada juga synagog Yahudi yang akhirnya tidak kami masuki karena uang masuknya agak mahal untuk kantong mahasiswa dan keterbatasan waktu. Perjalanan pulang yang akan menghabiskan waktu sekitar 9 jam membuat waktu kami di Berlin menjadi terbatas. Untunglah tiket Schones Wohnende itu berlaku sampai Senin dinihari, jadi kami masih bisa dapat extra beberapa jam di Berlin. Coba aja kalo habisnya jam 24.00, kami harus meninggalkan sekitar jam 2 siang.
Perjalan ke Berlin di akhir July ini menutup exam week. Setelah exam week masih ada dua minggu compact course, kuliah intensif setiap hari selama satu minggu untuk memperoleh 2 atau 3 ECTS, tergantung mata kuliahnya. Berhubung Diana dan saya membatalkan compact course kami, kami tidak boleh tinggal sampai masa akhir compact course itu. Andreas lebih beruntung, dia daftar compact course dan compact coursenya dibatalkan. Berhubung pembatalannya dari pihak universitas, Andreas masih boleh tinggal di papagaienhaus sampai masa compact course selesai. Saya dan Diana harus keluar kamar kami tanggal 4 Agustus atau membayar harian kalau mau tinggal di kamar itu (lupa berapa, tapi pokoknya kerasa deh duitnya. Kami memilih keluar. Pulang tanggal 8 Agustus, berarti 4 malam perlu tidur di sofa common room. Diana hanya sekitar dua malam lalu dikasih pinjeman kamar temennya yang lagi ke Paris, sedangkan saya harus menghabiskan 4 malam di common room sebelum pulang ke Jakarta. Nasib oh nasib. Hari akhir room-less dan tidur di sofa pun berakhir, Andreas dan saya kembali ke Indonesia tanggal 8 Agustus 2005 dan siap-siap untuk membereskan tugas akhir yang ditinggal selama mengikuti summer school. Selamat tinggal Eropa, aku kan kembali.