Kondisi tempat mandi yang memprihatinkan selama awal-awal scandinavia road trip inilah yang membuat saya menghubungi Hans, teman kuliah di Bandung dulu sekaligus host di Bergen ketika Spring Break 2 bulan sebelumnya berkunjung ke Bergen. “Hans, lu ada kontak di Trondheim nggak? Gw pengen nebeng, atau kalau nggak bisa nebeng pun kalau boleh mau numpang mandi aja” isi SMS saya ke Hans. Hans pasti masih punya teman di Trondheim karena kuliah master dia di NTNU dan pasti masih punya kontak dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Trondheim. Benar saja, dari Hans saya memperoleh jawaban “Coba hubungi ini bos, Bang Mauritz ketua PPI. Kapan datangnya bos? Sampai tanggal berapa? Aku cabut tanggal 17 July, jadi mau siap-siap juga beres-beres packing sebelum itu”. Setelah menerima SMS ini Bang Mauritz langsung dihubungi dan saya memperoleh jawaban “Jadwal kalian di Trondheim kapan ya? Bisa sih 3 orang menginap, tapi dua orang di sofa. Yang Estonia jujur, bersih dan baik ga? No smoking. Aku tinggal sama owner, tapi dia lagi liburan”. Setelah berhasil meyakinkan bang Mauritz bahwa teman saya ini jujur, dan kami akan bersih ketika menginap, bang Mauritz mengijinkan kami menginap di tempatnya. Ketika dapat kabar bahwa akan ada kamar mandi dan tempat tidur layak di Tronheim, rasanya gimana gitu. Saat itu kami sudah lima hari dijalan, mandi di sungai dan danau yang airnya sedingin es. Mendapat kabar ini serasa melihat cahaya di ujung terowongan yang gelap.

Dua hari kemudian, di hari ke-7 scandinavia road trip kami pun tiba di Trondheim jam 11 malam. Sebelum mencapai Trondheim, kami pun mengirim SMS ke Bang Mauritz menanyakan alamat yang dibalas “kalian pergi ke Tyholt Tower ya. Tempatku dekat situ. Kabari kalo udah sampe disitu. Kita ketemu disana aja. Take care”. Tak lama kemudian kami pun bertemu Bang Mauritz, yang bersedia menampung kami bertiga tanpa kenal dengan kami. Setelah 7 hari hidup di jalan, rasanya benar-benar enak bisa mandi air hangat setelah mengalami yang namanya mandi air super dingin di cuaca dibawah 10 derajat celcius; tidur tiap malam di tenda. Kadang-kadang jam 1 dinihari kami masih berada untuk mencari tempat yg cocok buat camping yg terlindung dari pandangan orang-orang karena camping di sembarang tempat di Norway itu ilegal dan kalau ketangkap bisa kena denda. Malam sebelumnya dari Bodo kami baru menemukan tempat camping yang ideal, dan emosi sudah mulai naik karena semuanya pada kecapekan selain teler karena kurang tidur. Pengen liat tampang kucel dan udah mirip-mirip gelandangan? rasanya kami tinggal mengaca dan sudah melihat tampang-tampang tersebut. Di tempat Bang Mauritz inilah kami bisa membersihkan diri dengan layak, seperti kata Vas “It feels good to be human again”.

Setelah mandi itulah saya bisa mengecek email. Ternyata ada email penting dari panitia summer university yang meminta nomor kontak dan nomor penerbangan ke Madrid. Saya dan satu peserta dari Turki telat memberikan informasi itu dan mendapat email peringatan. Untunglah sempat mengecek email disini, kalau tidakkan bisa berabe. Masih sempat pula transfer file dari memory card kamera ke hard disk external.

Ngobrol-ngobrol sama Bang Mauritz, ternyata dia juga satu jurusan ketika kuliah di kampus Bandung, bedanya dia tiga angkatan diatas saya. Masternya juga diperoleh dari Belanda, tapi beda kota. Saya di Delft dan dia dulu kuliah di Eindhoven dan baru saja pindah ke Trondheim untuk melanjutkan studi ke jenjang PhD dan baru juga menjabat sebagai ketua PPI Trondheim. Sempet pula membandingkan kegiatan-kegiatan PPI Delft dan PPI Trondheim, siapa tahu ada kegiatan yang bisa di-sinergi-kan. Ngobrol ngalor ngidul yang berakhir jam 3 pagi.

Esok siangnya kami bertiga meninggalkan Trondheim. Di perjalanan sempat terjadi perubahan rencana yang mengakibatkan saya akan tiba di Oslo telat sehari dari jadwal penerbangan saya ke Madrid. Karena kami lebih cepat dari jadwal semula, mereka ingin lebih ke selatan, mengunjungi sebuah tempat bernama preikestolen. Jika saya ikut rencana mereka, saya akan telat sehari sampai di Oslo. Akhirnya diambil jalan tengah, saya akan pisah di Bergen dan mereka melanjutkan perjalanan ke selatan. Dari Bergen ke Oslo saya akan naik kereta malam dan kami langsung ke stasiun kereta Trondheim untuk membeli tiket ini, 399 Norwegian Kronor. Komponen biaya tak terduga.
Dari Trondheim, tujuan di-set ke Kristiansund. Ketika sampai di Kristiansund, Dmitri langsung keluar dan berfoto di sebuat playground yang menurut GPS kami adalah city centernya Kristiansund. GPS memang tak bisa selalu diandalkan, sudah berkali-kali di perjalanan itu GPS salah memberikan rute sehingga kami harus menempuh jalan yang lebih jauh. Tak jauh dari Kristiansund, kami akan melewati Atlantic Road yang dulu pernah di pilih The Guardian (korannya Inggris) sebagai tempat terbaik untuk melakukan road trip. Atlantic Road ini menghubungkan Kristiansund dengan Molde dengan beberapa jembatan di pulau-pulau yang terletak diantara kedua kota ini. Rute sepanjang 8 kilometer ini dimasukkan ke dalam National Tourist Route dan merupakan salah satu konstruksi terbaik di Norwegia. Dari Molde kami masih melanjutkan perjalanan ke selatan dan akhirnya polar day berakhir. Matahari hari itu tenggelam setengah dua belas malam. Malam pun tiba, meskipun hanya sebentar saja. Daerah itu bernama Vestnes.
Perjalanan pun dilanjutkan keesokan paginya dari Vestnes dengan tujuan akhir Oppstyrin. Kami tetap mengikuti national tourist route dan highlight perjalanan hari ini adalah Trollstigen dan Geiranger Fjord, dua tempat yang pemandangan alamnya indah banget. Pantes aja masuk ke national tourist route-nya Norway. National tourist road merupakan jalan dengan dibuat dengan tujuan agar pemakainya memiliki pengalaman berkendara yang unik dan bersentuhan dengan alam. Ada 18 rute yang dipilih menjadi national tourist route ini dan diharapkan rute ini menjadi selingan yang bagus dari jalan utama. National route ini ada yang merupakan jalan berkelok-kelok di gunung, berkendara di jalan tepi laut, jalan yang melewati air terjun dan sungai, dari Rogaland di bagian selatan sampai ke Finnmark dan Arctic Ocean di bagian utara Norway. Jika saat itu ada voting mengenai Negara mana di Eropa yang pemandangan alamnya paling bagus, saya pasti akan memilih Norway. Hari itu kami bermalam di Oppstyrin dan matahari terbenam sekitar jam 23.15.
Keesokan paginya ketika bangun, saya melihat salah satu pemandangan paling indah sepanjang hidup saya. Awan begitu rendah dan deretan pegunungan di belakangnya dan terpantul bayangannya di danau yang terletak di depan tenda kami. Pemandangan aslinya dan bayangannya di danau benar-benar simetris. Tipe pemandangan yang difoto pakai kamera jenis apapun pasti hasilnya akan bagus. Ketika perjalanan dilanjutkan, kami melihat sebuah marka Jostedalsbreen Nationalparksenter. Tak lama kemudian kami berhasil menemukan tempat yang agak terlindung di sisi danau untuk mandi dan menyiapkan sarapan, gantian yang satu mandi yang dua menyiapkan sarapan. Baju-baju basah dan alas tenda pun menemukan tempat jemur sementara.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan tujuan Briksdal Glacier. Sepanjang perjalanan menuju glacier ini ada pemandangan spektakuler di sekitar Gunung Ramnefjell. Ada sebuah danau berwarna hijau toska dan dua rumah di tepi danau itu dengan later belakang gunung ini. Indah sekali. Tapi di balik keindahan pemandangan ini, gunung ini mempunyai cerita tragis dalam sejarah Norway. Tanah longsor telah terjadi berkali-kali di daerah ini dan longsorannya jatuh ke Danau Lovatn yang terletak di bawahnya. Tanah longsor kategor major di daerah ini pernah terjadi dua kali, di tahun 1905 dan 1936 dan telah menghancurkan dua pemukiman. Longsoran masuk danau yang mengakibatkan gelombang pasang seperti tsunami yang menghancurkan pertanian, ternak, dan rumah yang berada di jalurnya.
Ingatan saya menuju Gunung Merapi di tanah air. Tapi rasanya ada yang berbeda antara Norway dan Indonesia. Perbedaan ini saya temukan di sebuah papan informasi. Norway belajar dari pengalaman mereka dan mengingatkan bahwa pernah terjadi bencana ini. Informasi ini cukup detail. Pada tahun 1905 di pemukiman Nesdal dan Bødal 61 orang kehilangan nyawanya karena tanah longsor ini. Dari 61 orang ini, hanya 9 orang yang jasadnya berhasil ditemukan, sedangkan 51 orang lainnya terkubur di dalam danau. Satu generasi kemudian, tahun 1936, 74 orang kehilangan nyawanya dan 41 dari mereka jasadnya tidak pernah ditemukan. Ada kesamaan antara gunung Ramnefjell dan gunung Merapi. Tanahnya subur sehingga cocok untuk pertanian. Sebelum tanah longsor di 1905 dan 1936, daerah Bødal dan Nesdal dipandang sebagai daerah dengan produktivitas pertainian yang tinggi karena adanya tanah yang subur ini. Setelah tanah longsor tahun 1905, pemukiman di dua daerah ini dipindah ke tempat yang lebih tinggi dan lebih aman. Pada saat itu para penduduk yakin bahwa tanah longsor yang sama tidak akan terulang lagi. Inilah alasan mengapa para penduduk tidak pindah ke daerah lain. Alasan lainnya cukup klise, mereka tidak mempunyai banyak pilihan, sama seperti penduduk di daerah gunung Merapi. Hidup mereka berada di daerah itu. Tapi mereka belajar sejak kejadian tanah longsor di tahun 1936 dan pindah lokasi. Saya hanya melihat dua rumah di tepi danau di kaki gunung Ramnefjell ini. Tapi ada hikmah dari kejadian di 1905 dan 1936, jika ada tanah longsor lagi, hal ini tidak cukup untuk menimbulkan gelombang pasang atau tsunami yang besar seperti yang terjadi sebelumnya karena dasar danau telah terisi 350,000 m3 longsoran di 1905 dan 1,000,000 m3 di tahun 1936.

Di perjalanan dari Gunung Ramnefjell menuju Briksdal Glacier kami melihat beberapa caravan sedang parkir di tepi danau. Daerah Styrn ini memang lumayan bersahabat dengan caravan. Musim panas seperti ini rupanya menjadi saat favorit untuk mengadakan road trip dengan caravan untuk mereka. Pasti fasilitas mereka lebih enak dengan adanya kamar mandi di dalam caravan dan tak perlu mengalami mandi di sungai dan danau seperti kami.

Setelah berhenti sebentar dan menikmati makan siang di tepi danau, kami melanjutkan perjalanan menuju Briksdal Glacier. Glacier ini masih termasuk di Jostelalbreen National Park dan ada plang selamat datang “Velkomen til Jostedalbreen Nasjonalpark”. Seperti tempat wisata lainnya, ada souvenir shop yang menyambut kami di dekat pintu masuk sebelum dilanjutkan ole sekitar 45 menit jalan kaki untuk memegang glacier ini. Dengan pemandangan alam seperti ini, wajar saja jika orang Norway suka hiking.

Menjelang sampai ke glacier, ada sebuah papan pengumuman yang menghimbau “do not cross this fence” dan kalau melewati daerah itu, resiko tanggung sendiri. Beserta beberapa penjelasan mengenai glacier dan bahaya glacier. Tapi papan pengumuman itu tampaknya tidak terlalu diperhatikan oleh para turis, termasuk kami yang masih melangkah untuk ke bagian bawah glacier ini. Tak berapa lama kemudian ada papan peringatan kedua, kali ini sekaligus disertai penjelasan gambar.

Dari papan peringatan inilah saya tahu bahwa meskipun kelihatannya diam, glacier sebenarnya bergerak dan harus berhati-hati kalau berada di dekat glacier. Kalau mau berjalan di atas glacier kami harus memperhatikan “crevasse” yang bisa mencapai kedalaman 30 meter yang merupakan masalah khusus kalau mau melakukan glacier travel. Crevasse ini bisa tertutup salju yang tidak bisa menyokong berat satu orang. Permukaan glacier biasanya rata dan tanpa perlengkapan yang memadai dapat mengakibatkan orang terpeleset dan cidera. Jadi dianjurkan untuk jangan melangkah diatas glacier tanpa glacier guide yang berpengalaman. Dari kejauhan, saya sempat melihat beberapa orang sedang melakukan glacier travel dan tampaknya sudah melakukan setengah perjalanan sebelum sampai ke pucak glacier.
“Snow is white and gracier is blue” demikian kata Vas mengenai glacier. Dari kejauhan memang tampak bahwa warna glacier ini lebih cenderung ke warna biru muda yang agak kehijau-hijauan. “The minerals inside the glacier that give the colour” tambah dia lagi mengenai alasan di balik warna glacier ini. Satu jam telah berlalu sejak kami meninggalkan lapangan parkir dan mulai hiking ke bagian bawah glacier ini. Ketika sampai di bagian ujung bawah dan menyentuh glacier ini, saya merasa sangat kecil, kalau ada avalance (longsoran salju / glacier), kecil kemungkinan kami akan selamat. Makanya sudah diwanti-wanti untuk berhati-hati dengan avalanche es dan runtuhnya bagian depan glacier. Reruntuhan batu dari tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit di sekitar glacier pun harus diwaspadai selain ada kemungkinan banjir tiba-tiba dari glacier ini. Papan peringatan itu rupanya hanya dipandang sebagai pemberi informasi, karena di sekitar kami pun banyak turis yang melewati “daerah aman”.

Ketika kami meninggalkan glacier ini pun, di perjalanan glacier ini masih terlihat. Dari sebuah plang Yri Neset, terlihat glacier ini dan gunung-gunung di sekitarnya. Ketika membalik badan ada belasan air terjun tiga tingkat. Banyak sekali air terjun di Norway ini, tempat paling bagus untuk menemukan pelangi dan me-refill gallon kosong kami dengan air. Tujuan akhir perjalanan hari ini adalah sebuah tempat bernama Lom. Tapi 60 kilometer sebelum Lom, ada sebuah tempat kemping yang bagus yang terletak di antara Highway E15 dan sungai. Kami pun memutuskan bermalam disini. Di dekat sungai sudah ada semacam perapian yang disusun dari batu. Ada batu-batu besar yang disusun dalam bentuk elips di dalam sungai yang menciptakan semacam “jacuzzi” kecil yang terlindung dari derasnya arus sungai. Rupanya tempat ini sering dijadikan tempat camping dan pasti ada orang sebelumnya yang kepikiran membuat “jacuzzi” berbentuk elips ini disini. Berhubung kami semakin mengarah ke selatan, malam pun semakin cepat. Hari ini matahari terbenam sekitar pukul setengah sebelas malam (22.30).
Keesokan paginya, “Jacuzzi” ini dicoba oleh saya. Airnya masih tetap dingin banget. Kalau sungai ini airnya lebih hangat saja, pasti lebih enak mandi di tempat itu. Sambil menyiapkan sarapan kami pun ngobrol dan setuju bahwa tempat ini adalah tempat camping terbaik dalam Scandinavia road trip kami ini. Alasannya banyak: disini tersedia kayu-kayu untuk BBQ, ada tungku batu untuk memasak, deket jalan raya tapi terlindung pepohonan, di sebelah sungai yang ada “Jacuzzi” batu-nya. Pokoknya top deh dari semua criteria penilaian untuk tempat camping ideal. Sayangnya tidak bisa tinggal selamanya di tempat ini, dan kami pun berangkat. Meskipun menuju ke selatan yang harusnya lebih hangat, kami menemukan sebuah tempat bernama Fantesteinen yang masih bersalju. Mobil berhenti beberapa kali di daerah ini karena latar belakang gunung bersalju dan langit yang biru sangat mengundang untuk melalukan sesi foto. Salah satu tempat perhentian kami pun ketebalan saljunya sekitar 2 meter dan temperaturnya 10 derajat Celcius di daerah bernama Turtagrø padahal pertengahan July seharusnya adalah puncak musim panas. Dua setengah jam kemudian, ketika kami hampir sampai ke Sogndal kommune, temperature disitu 25 derajat Celcius. Busyet deh perbedaan temperature hanya dalam jarak 2.5 jam bisa 15 derajat Celcius. Di daerah ini ada sebuah pelabuhan ferry. Awalnya kami ingin mengambil dari Kaupanger ke Gudvangen yang merupakan salah satu world heritage tour. Sayangnya ferry berikut adanya 2.5 jam lagi dan harganya lumayan mahal. Akhirnya rencana naik ferry ini dibatalkan yang mengakibatkan Vas kecewa berat. Tujuan diubah ke Voss karena saya merekomendasikan kota ini berdasarkan pengalaman kesini Spring Break dua bulan sebelumnya. Di perjalanan ke Voss inilah kami menemukan Laerdalstunnelen, yang katanya terowongan terpanjang di dunia (24.5 km) yang terletak di Laerdal Kommune, yang sudah masuk ke daerah pegunungan lagi. Di daerah ini kiri kanan masih ada salju dan ada satu danau yang bahkan bagian tasnya tertutup es. Termometer di mobil menunjukkan temperature diluar 9 derajat Celcius. Hari ini daerah tujuan, Voss, dicapai menjelang setengah sepuluh malam. Saatnya camping di daerah ini. Sampai hari itu, kami sudah menempuh 5500 kilometer.

Keesokan paginya adalah hari terakhir scandinavia road trip saya bersama Dmitri dan Vas. Saya akan di-drop di Bergen dan mereka akan melanjutkan perjalanan ke Preikestolen. Hans pagi-pagi sudah SMS “Halo Nald, pada nyampe jam berapa di Bergen? Alamatku di #deleted#. Aku bakalan ada acara jam 6 atau 7 malam. Pulang sekitar jam 10 malam”. Tidak ada pemandangan yang istimewa dari Voss ke Bergen ini. Kami hanya sempat berhenti sebentar di Gatekjøkken Tourist Information. Kami sampai di Bergen jam 1 siang dan langsung menuju ke fish marketnya. Dua bulan sebelumnya ketika saya mengunjungi Bergen, fish market ini sepi, tapi siang ini sangat ramai. Temperature di luar 18 derajat celcius dan dari tempat camping di Vos ke Bergen, kami sudah menempuh 90 kilometer. Melihat kota Bergen, sudah selayaknya kalau dibilang kota ini adalah kota paling cantik di Norway, sangat bagus kalau mau photo hunting. Hanya 45 menit kami di fish market ini dan langsung menuju rumah Hans. Disinilah segala macam hitung-hitungan biaya perjalanan dilakukan. Berhubung didasarkan asas cost sharing, biaya sejak saya bergabung di Tampere sampai hari ini dibagi tiga. Hitung-hitungan beres, Dmitri ngasih oleh-oleh Vodka Rusia buat Hans dan mereka melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Preikestolen. Hans sampai sekitar jam 5-an dan dari situ kami menuju ke “acara jam 6 atau 7 malam”-nya dia yang ternyata kumpul-kumpul orang Indonesia yang bekerja di Bergen. Orang Indonesia yang bekerja di Bergen pun bisa dihitung dengan jari. Hari itu saya bertemu tiga orang teman Hans yang juga mencari nafkah di sebuah kota yang rasanya sangat asing di telinga orang Indonesia. Benang merah diantara keempat orang ini adalah mereka semua bekerja di dunia migas (minyak dan gas) ada kehadiran beberapa perusahaan migas di Bergen. Makan malam hari itu menjadi istimewa karena hari itulah saya makan nasi setelah dua minggu selama perjalanan tidak menyentuh nasi sekalipun dan puas dengan pasta. Acara selesai jam 11 dan kami pun pulang.
Keesokan paginya disambut dengan SMS dari Jakarta “Ada bom meledak di hotel J.W. Marriott dan hotel Ritz Carlton, 9 orang meninggal dan kira-kira 50 orang luka-luka, kejadian jam 7.45 pagi waktu Jakarta”. Setelah membaca SMSN ini, hari ke-15 di libur musim panas saya sekaligus hari ke-13 di Scandinavia road trip itu pun diisi dengan berisitrahat seharian di Bergen sambil nonton liputan khusus mengenai pemboman di Jakarta di CNN dan ngecek-ngecek email – siapa tahu ada email penting dari panitia university, ataupun dari calon-calon host. “Jakarta Explosions” judul headline di CNN dan ada running text “bombing target international business hotels”. Ada empat berita utama hari itu yang selalu diulang-ulang: Indonesia, Iran, Citigroup dan Pope Injured. Kejadian pemboman sebelumnya di Indonesia pun dibahas, dari pemboman Bali di 2002 dan 2005, pemboman hotel J.W. Marriot di 2003, dan pemboman kedutaan Australia di 2004. Pantas saja ketika beberapa hari sebelumnya saat saya ngobrol-ngobrol dengan Dmitri dan Vas, image mereka tentang Indonesia hanyalah ekstrimisme agama, pemboman, tsunami, gempa bumi dan kecelakaan pesawat terbang. Untunglah mereka masih mengenal Bali meskipun dulu Dmitri lebih memilih Thailand sebagai tujuan wisata. Liputan tentang Indonesia di televisi internasional rupanya memang tentang kejadian-kejadian seperti ini. Sambil nonton saya pun melihat-lihat email dan berberes. Ada email dari calon host di Vienna dan Bratislava bahwa mereka available pada saat saya berada disana. Benar-benar kabar bagus mengenai host ini. Hans seharian ini ngantor dan saya diserahi tanggung jawab menjaga rumah dia, sekaligus beristirahat total karena road trip capek juga yak. Sore harinya saya meninggalkan rumah Hans menuju stasiun Bergen untuk mengambil kereta malam menuju Oslo. “Tog mot Oslo” dalam bahasa Norwegianya. Dalam 24 jam itu benar-benar perjalanan saya yang paling panjang. Jumat malam berangkat dari Bergen naik kereta (7 jam) menuju Oslo. Pagi-nya dari Oslo naik pesawat Norwegian Air ke Praha. Di Praha sempet ketemuan sama sepupu dan tante yang udah lama nggak ketemuan karena mereka berdomisili di Ceko. Lalu sorenya lanjut naik pesawat WizzAir ke Madrid. Perjalanan panjang ini demi satu hal: summer university di Spanyol. “Summer University here I come”.