March 2012


I lived in a dormitory in TU Delft. In my room only me. The “couch” is not actually a couch. I do not have pet in my room now. I do have pet back in my hometown in Indonesia, seven dogs. Since I have to study here and live abroad, I try not to have any pet. I don’t smoke and I hope that my guest don’t smoke in my room to.

Delft is a student city, but it has various things to do, especially in the centrum. Local landmark here, hmmm let me think, the oude kerk is good, also the nieue kerk. City gate has been the symbol of Delft.

Public transportation to my place can be bus, there is a bus stop about 5 minutes walking and it takes 5 to 10 minutes by bus to the Delft station. I can show people around only in weekend, or if I am not busy with my campus activities.

I usually go to bed late (thus wake up late). Best time to host is weekend. Bring your own sleeping bag. 4 days I think is too many for me.

Advertisements

Swiss Pass

http://www.raileurope.co.uk/Default.aspx?tabid=1346

http://www.swiss-pass.ch/en/swiss-pass

Interrail Pass
http://www.interrailnet.com/interrail-passes/one-country-pass/switzerland

Glacier Express
http://www.glacierexpress.ch/EN/timetable_tickets/Tickets_prices/Pages/default.aspx

http://www.lonelyplanet.com/thorntree/thread.jspa?threadID=1689016

http://www.seat61.com/GlacierExpress.htm

Website Ferry Jerman – Swiss
http://bsb-online.com/

Website Kereta Swiss
http://www.sbb.ch/home.html

Website Kereta Jerman
http://www.bahn.de/p/view/index.shtml

Setelah beberapa bulan kuliah di Delft, tibalah saat yang ditunggu-tunggu mahasiswa: libur natal 2008 selama dua minggu. Pada awalnya saya berencana backpacking selama 10 hari di libur Natal dan tahun baru ini dengan rute Delft – Frankfurt – Munchen – Salzburg – Vienna – Praha – Dresden – Berlin – Enschede – Delft. Persiapan yang kurang membuat saya membatalkan rencana awal saya. Rute ini pun diubah Plan B: Delft – Amesfoort – Deventer – Enschede – Jerman – Enschede – Maastricht – Delft dengan highlight trip ini adalah natalan di Katedral Koln.

Rencana ini berawal dari tawaran Hanim, teman sejurusan di Delft, untuk jalan-jalan ke Enschede dan Maastricht bersama Chris dan Winnie dalam rangka menemani Chris jalan-jalan keliling Belanda. Chris yang sedang kuliah di Prancis saat itu sedang menikmati liburan Natal sambil mengunjungi Hanim, teman dia ketika kuliah di Surabaya. Sayangnya rencana jalan berempat ke Enschede ini tidak terlaksana karena Winnie sakit sehari menjelang berangkat. Berhubung tiket yang kami gunakan hanya efektif kalau pemakainya berjumlah genap, Hanim memilih untuk tinggal di Delft menemani Winnie dan saya akan menuju ke Enschede bersama Chris, yang waktu itu belum saya kenal bahkan belum tahu tampangnya seperti apa. Ini agak-agak susah karena Hanim hanya bilang “tampangnya Chinese, pasti nanti ketemu deh” ketika saya menanyakan bagaimana cara mengenali dia. Nah kalo di Stasiun Delft waktu itu muncul mahasiswa China, Korea, Jepang atau Taiwan, bagaimana saya tahu dia Chris atau bukan? Untunglah dibilangin sama Hanim bahwa Chris akan menelepon ketika sampai di Stasiun Delft.

Ternyata tidak susah bertemu dengan Chris di Stasiun Delft. Perjalanan menuju Enschede dengan Tiket Blokker ini pun dimulai. Blokker, salah satu jaringan supermarket di Belanda, mempunyai penawaran tiket akhir pekan yang valid untuk dua orang seharga 25 Euro. Harga ini lebih murah dibandingkan beli tiket Delft – Enschede yang harganya bisa 1.5 kali-nya untuk dua orang. Berhubung dengan tiket Blokker ini kami dapat menggunakan semua kereta Nederlandse Spoorwegen (perusahaan kereta api Belanda), kami memaksimalkan kota-kota yang bisa dikunjungi selama sehari ini. Dua kota yang berada di jalur ke Enschede pun dipilih: Amersfoort dan Deventer dan mencapai Enschede malamnya.

Di perjalanan ke Enschede kami menghubungi Irma, temannya Chris dan Hanim dari jaman mereka kuliah di Surabaya. Kami berdua akan nebeng di tempat Irma selama dua malam dan jalan ke rumah dia diberikan via SMS kepada kami. “Naik nomer 2 jurusan Deppenbroek terus nanti turun di P.A van Deldenstraat. Kalo kamu udah disitu, jalan kaki sampai ketemu lampu merah, lalu belok kiri. Atau miscall aku aja deh, nanti aku jemput di Halte.” Tempatnya Irma pun cukup untuk ditebengi oleh Chris dan saya. Irma bercerita bahwa tempat dia pernah ditebengi oleh 7 orang, sebuah rekor untuk dia.

Irma pula-lah yang keesokan paginya membantu kami untuk membeli tiket North Rhein Westphalia yang valid untuk provinsi North Rhein Westphalia dari Enschede. Berhubung Enshcede terletak di dekat perbatasan Belanda-Jerman, jalur kereta dari Enschede ke kota-kota di Jerman pun diatur oleh DB (Deutsche Bahn – Perusahaan Kereta Api-nya Jerman) meskipun masih berada di wilayah Belanda. Hari yang masih gelap ditambah mesin penjual tiket yang hanya ada dalam Bahasa Jerman turut berperan dalam kekacauan pembelian tiket pagi itu.

Seorang petugas kereta api di Munster-lah yang memberitahu saya dan Chris bahwa kami salah membeli tiket. “You cannot use this ticket to Koln, this is Munsterland ticket and this ticket is not valid to go to Koln” kata petugas DB (Deutsche Bahn) Jerman kepada kami. Rencana mengikuti misa Natal di Koln Kathedral pun hancur berantakan dan kami stuck di sebuah daerah yang namanya Munster.

Rencana pun terpaksa diubah. Koln harus dicoret karena menurut petugas tersebut kalau kami mau ke Koln, kami harus membeli tiket lagi dan harganya yang sekitar 30 Euro untuk berdua berada di luar budget kami. Munster pun yang awalnya tidak ada di daftar kota yang akan dikunjungi, terpaksa dikunjungi. Untuk saya sendiri, Munster bukanlah nama kota yang asing lagi. Empat tahun sebelumnya ketika mengikuti summer school di Dortmund, Munster ini menjadi salah satu tempat yang diatur kampus untuk dikunjungi ketika weekend. Sayangnya, karena peserta yang sedikit, kunjungan ke Munster ini dibatalkan. Empat tahun kemudian, saya mengunjungi kota ini karena factor “kecelakaan salah beli tiket”.

Di hari Natal itu, Munster seperti kota mati. Tidak ada orang di jalanan. Karena ini adalah hari Natal kami mencari gereja terdekat untuk mengikuti kebaktian Natal. Di Sankt Paulus Dom atau Katedral Santo Paulus sedang berlangsung kebaktian Natal dan kami pun pede saja masuk untuk ikutan kebaktian yang bahasanya tidak terlalu kami mengerti. Kata-kata yang kami ketahui pun hanyalah haleluya dan amin dan kami pun beda sendiri karena di dalam katedral isinya orang bule semua.

“The city hall and the Hall of Peace are closed on Dec 24th and 25th. We are open again on 26th from 10.00 – 16.00. We wish you happy holidays.” Jalan-jalan di hari Natal mempunyai satu kelemahan, semua tempat tutup. Jadilah kami ngider-ngider di seputaran city center yang semuanya tutup. Menjauh dari city center, ada sebuah istana yang sekarang menjadi kampus Westfälische Wilhelms-Universität Münster. Untunglah Botanical Garden di belakang istana ini buka dan inilah saatnya belajar lebih banyak tentang tanaman. Entah siapa yang awalnya punya ide nyeleneh untuk bikin foto-foto kami sedang mengisi air minum di sebuah air terjun mini 10 centimeter dan tidur di bangku taman. Tujuannya untuk bikin kesan seolah-olah kami benar-benar merana dan nge-gembel di trip kali ini. Tampaknya foto-foto ini cukup meyakinkan, sampai-sampai ketika di-upload di Facebook, teman-teman ada yang menanyakan trip kami sampai segitu-nya yah?

Di Munster pun kami tidak menghabiskan waktu lama. Ternyata di kota tua ini ada juga Museum Grafis Pablo Picasso yang kami lewati ketika dalam perjalan menuju Munster Hbf (Haupbahnhof). Jam setengah tiga kami pun menaiki kereta menuju Rheine, sebuah kota yang baru saya dengar dan tidak ada keterangannya sama sekali di Lonely Planet Eropa yang saya bawa saat itu. Di kota ini kami langsung disambut dengan klakson mobil dan sapaan “Ni Hao” yang dengan isengnya saya balas dengan sapaan “konnichiwa” ke bule Jerman itu. Dalam suasana Natal seperti ini, setelah di-“Ni Hao”-kan, kami langsung mencari gereja dan kami pun menemukan Pearrkirche St. Dyonisius yang benar-benar kosong tanpa jemaat sama sekali. Dari sini di kejauhan tampak sebuah menara yang menjadi tujuan kami selanjutnya. Menara ini ternyata adalah bagian dari Antonius Basilika yang bentuknya dikomentarin salah satu temen saya seperti menara-nya Rapunzel. Hanya dua jam yang kami habiskan di kota ini.

Berhubung musim dingin, siang pun lebih pendek dan jam 5 sore pun sudah mulai gelap. Di saat seperti ini, kami hanya bisa mengunjungi satu kota lagi dan Osnabr ck pun dipilih karena kota itu searah dalam perjalanan pulang ke Enschede. Di depan stasiun pun kami sudah bertemu satu bule mabuk yang meminta uang kepada kami. Tentu saja tidak kami berikan sambil berjalan menjauhi bule tersebut. Saya tidak tahu apa yang menjadi keistimewaan kota ini, setelah berada dikota ini selama dua jam yang kebanyakan dilalui dengan jalan tanpa tujuan dikarenakan kami tidak punya peta. Malam yang dinginnya mencapai 0 °C pun cukup menambah penderitaan kami. Tahu dari mana temperatur-nya 0 °C? kebetulan di salah satu toko ada layar yang menunjukkan temperature pada saat itu. Pantesan aja dingin banget. Di saat dingin dan berada di bawah jembatan inilah terlintas ide di kepala kami untuk mengambil foto dengan adegan duduk di bawah jembatan menirukan pengemis dan adegan mencari tebengan mobil, pura-pura jadi hitchhiker. Emang deh kalo udah kedinginan dan capek, otak kami jadi error. Satu hari Natal di Jerman pun berakhir malam itu dan kami kembali menuju Enschede.

Natal di Jerman itu merupakan hari ke-2 dari trip tiga hari saya bersama Christian yang rutenya setelah diubah sedikit menjadi Delft – Amesfoort – Deventer – Enschede – Munster – Rheine – Osnabruck – Enschede – Maastricht – Delft.

Di dalam hidup, kadang ada dua pilihan yang sama-sama sulitnya. Ketika itu saya dihadapkan pilihan sulit itu. (1) tiga hari di Paris (Sabtu – Minggu – Senin) di weekend antara exam week 1 dan exam week 2 bareng sepertiga peserta summer school yang bedol kelas ke Paris atau (2) belajar buat ujian control design di hari Selasa pagi (tujuan ikut summer school kan buat belajar). Kalau ikut ke Paris, sudah pasti tidak akan sempat belajar untuk ujian control design. Sedangkan kalau mau belajar buat ujian control design, Paris harus dicoret.

Sekilas mengenai mata kuliah control design ini: ini mata kuliah tahun kedua buat master course di Universität Dortmund. Ketika memilih mata kuliah ini berdasarkan silabus yang disediakan panitia summer school, saya benar-benar tidak sadar bahwa ini mata kuliah buat master student. Udah gitu ada dua pre-requisites lagi: introduction to control theory dan process control I. Di silabus juga jelas-jelas disebut bahwa nama lama control design ini “process control II”. Berhubung cukup yakin bisa mengikuti mata kuliah ini dengan lancar, control design masuk dalam mata kuliah pilihan yang dikirim ke koordinator program sebelum summer school dimulai.

Evolusi dalam mata kuliah control design:

Minggu pertama ikutan control design ini masih ngerti,

Minggu kedua masih ngerti, tapi kenapa dosen mengajarnya cepet ya? materi dua semester di kampus Bandung dibabat dalam dua minggu awal ini

Minggu ketiga mulai merasa kuliahnya kecepetan banget

Minggu keempat masih berusaha mengejar materi dan ada ajakan “Paris yukkk” yang langsung ditolak mentah-mentah dengan alasan “Selasanya abis balik dari Paris ada ujian Control Design”. Rencana mereka emang berangkat dari Dortmund hari Jumat malam, sampai Paris Sabtu pagi, lalu Senin malam meninggalkan Paris dan sampai ke Dortmund hari Selasa pagi. Nah, hari selasa ini ada ujian control design.

Minggu kelima udah nge-blank sama kuliah, bengong dosen ngomong apa di ruang kelas, salut sama orang India di duduk di sebelah yang super duper pinter, dan mulai mempertanyakan kenapa mengambil mata kuliah control design. Pelajaran: jangan sekali-sekali ngambil mata kuliah master tahun kedua jika masih duduk di tingkat akhir sarjana. Akhirnya saya mulai mempertimbangkan ajakan Feli dan Diana buat ke Paris sambil menghitung kredit kuliah yang diperlukan untuk dapat sertifikat summer school ini. Setiap peserta summer school hanya butuh 11 ECTS (European Credit Transfer System) sebagai syarat minimal, dan saya waktu itu mengambil 14 ECTS, tiga ECTS diatas batas minimal. Mikir-mikir: ke Paris atau belajar mati-matian buat ujian Control Design ya? Setelah ditimbang-timbang, dapet bisikan setan, jadilah email sakti dikirim ke koordinator summer school yang kurang lebih isinya “Pak, saya nge-drop course Control Design ya”. Koordinator sih nyantai-nyantai aja, yang penting syarat minimal 11 ECTS masih terpenuhi. Memang ngambil ECTS lebih itu selalu ada hikmahnya.

Minggu keenam alias minggu terakhir kuliah sebelum minggu ujian saya berkonsentrasi mempersiapkan trip ke Paris, sedangkan Andreas masih bertahan mengikuti kuliah control design yang materinya mulai mengawang-awang.

Berhubung telat dalam memutuskan ke Paris, Feli, Diana dan saya harus booking kamar hotel sendiri. Mahasiswa-mahasiswi dari Amerika Serikat udah booking kamar mereka dari jauh-jauh hari, salah satunya bahkan memilih nginep di tempat ceweknya. Ternyata di Eropa booking hotel mesti pake kartu kredit, terpaksalah minta nomor kartu kredit orang tua. Hotelnya pun terletak jauh dari pusat kota. Tanggal pilihan kami adalah hari terakhir Tour de France dan akibatnya banyak hotel-hotel di pusat kota yang penuh dan kalaupun ada kamar kosong harganya lumayan mahal.

Sekedar informasi, anak-anak Amerika ini ke Paris hanya untuk bela-belain nonton Lance Armstrong di Tour de France. Salah satu diantara mereka, yang dari awal merencanakan trip ini pengen fotoin Lance Armstrong buat dikasih ke cowok dia yang seorang atlit sepeda. Idola sang pacar ini adalah Lance Armstrong. Rencana mereka, satu hari mereka akan ngambil tempat di rute balapan pagi-pagi biar dapat posisi yang bagus untuk melihat Lance Armstrong balapan. Kami yang dari Indonesia ogah dong, ngapain ke Paris ngeliatin Lance Armstrong?

Beli tiket ke Paris pun masih aja ada masalah. Dengan PD-nya saya bilang ke Feli, “kenapa beli tiket dari Dortmund? Kan lebih murah dari Duesseldorf, teman-teman kan pasti berangkat dari Duesseldorf, karena itu kota paling barat di wilayah VRR dan harganya lebih murah dibandingkan beli dari Dortmund”. Inilah yang membuat Feli meminta salah satu teman kami untuk mengubah kota keberangkatan dari Dortmund ke Duesseldorf. Setelah diganti, sambil berharap dapet selisih duit kembali, eh kami tahu ternyata teman-teman yang lain berangkat dari Duesseldorf. Feli jadi makin sewot aja, ditambah lagi selisih uang yang kami terima ternyata habis untuk membayar ongkos pindah kota keberangkatan ini.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Paris we are coming. Ujian optimization Jumat itu yang bikin kepala puyeng semakin menjustifikasi keputusan kami untuk ke Paris. Bus akan berangkat dari Duesseldorf jam 23.45 jumat malam itu. Kami harus tiba 15 menit sebelumnya untuk check in. Sampai di Paris diperkirakan Sabtu pagi sekitar jam 7. Benar saja, pagi-pagi kami sudah sampai Paris dan diturunkan di depan Notre Dame Cathedral, yang terkenal karena cerita haunchback of Notredame-nya. Berhubung waktu itu kami masih membawa luggage, digilir siapa yang jaga luggage dan siapa yang masuk ke dalam gereja, bener-bener nggak fleksibel. Setelah puas keliling dan foto-foto di Notre Dame, kami semua menuju ke hotel yang terletak di daerah Juvisy Sur Orge buat check in hotel, taruh barang, mandi beberes, etc. yang bikin waktu hilang. Begitu beres balik lagi ke pusat kota untuk melihat Eiffel Tower, yang di Indonesia rasanya terkenal karena adanya film Eiffel I’m in Love. Eng ing eng, dibawah Eiffel tower ini ketemu dong sama salah satu anak Hongkong yang punya global pass 2 months continuous. Disini saya mulai memahami peribahasa “dunia selebar daun kelor”, apalagi buat peserta yang punya global pass ini. Eiffel udah dikasih tick mark. Hasil akhir hari pertama lumayan lah, kami berhasil meng-cover Notre Dame Cathedral dan Menara Eiffel.

Hari kedua lanjut ke Plaza Concorde, menyusuri sungai Seine sebelum naik Metro (kereta bawah tanah-nya Paris) ke daerah Arc de Triomphe yang ternyata banyak sekali spanduk-spanduk Tour de France. Teman-teman dari Amerika pasti berada di sekitar sini, berdiri sambil menunggu Lance Armstrong melewati mereka di Tour de France terakhirnya. Selesai dari sini naik Metro lagi ke Trocadero yang menurut tante-nya Diana adalah tempat paling bagus untuk berfoto dengan background menara Eiffel. Setelah sampai disana, ternyata informasi itu benar adanya, lebih bagus daripada foto di bawah menara Eiffel. Sorenya dialokasikan untuk museum Louvre selama setengah hari yang ternyata tidak cukup. Kami hanya bisa mengcover satu bagian yang ada patung-patung, segala hal yang berbau Mesir dan apartemen Napoleon III. Pilihan yang salah, karena lebih bagus ke bagian museum yang lain yang lebih banyak lukisan dan ada salah satu lukisan terkenal di dunia: Monalisa. Anyway, hari itu kami tidak berhasil melihat Monalisa dan hanya cukup puas untuk berfoto-foto di pyramid kaca di depan Louvre. Hari kedua berjalan sesuai dengan rencana.

Sayangnya rencana hari ketiga tidak berjalan sesuai dengan rencana awal. Versailles mesti dibatalkan karena hari Senin itu Versailles tutup. Ini benar-benar menyebalkan karena ketika di Louvre, petugasnya dengan bersemangat memberikan 1001 alasan kenapa kami harus mengunjungi Versailles dan akan rugi kalau ke Paris tapi tidak mengunjungi istana ini. Setelah dikasih banyak informasi ini pun kami sepakat hari terakhir harus ke Versailles. Tapi tak lama kemudian petugas yang sama memanggil kami dan memberitahukan bahwa Versailles hari Senin itu (hari ketiga kami di Paris) tutup sambil meminta maaf. Feli yang awalnya benar-benar kena bujukan petugas ini langsung berubah mukanya dari berseri-seri ke bete abis ketika diberi tahu hal ini. Tahu gitu nggak usahlah promosi Versailles sampai segitu-nya, bikin kecewa orang aja. Sebagai pelipur lara, mereka berdua memutuskan hari ketiga adalah setengah hari shopping. Paginya rencana diubah ke Moulin Rouge dan Sacre Coeur. Bakalan ketemu Nicole Kidman nggak ya di Moulin Rouge? Menurut teman daerah ini adalah daerah lampu merah-nya Paris, jadi mesti agak hati-hati. Bener juga, disini orang-orangnya agresif untuk menawarkan show di dalam. Sampai sok kenal sok dekat dan salah menebak saya dari Portugal, wong edan. Katanya lagi sih disini banyak dijual kaos buat oleh-oleh dengan harga miring, boleh lah buat dicari tempatnya. Kios-kios penjual kaos ini ternyata terletak diantara Moulin Rouge dan Sacre Coeur. Lumayan deh menghemat waktu, sambil bisa foto-foto di daerah Sacre Coeur ini.

Sebenarnya pada hari ketiga ini kami mempunyai satu pertanyaan, dimana menaruh luggage yang seabrek-abrek itu? Paris menjadi tidak bersahabat untuk pengguna koin locker karena dua minggu sebelumnya (7 July 2005) ada London bombing yang menyebabkan security di beberapa kota penting Eropa menjadi lebih ketat. Akibatnya sangat sulit menemukan coin locker di Paris sejak London bombing. Setengah hari pertama kami ke Moulin Rouge dan Sacre Coeur masih dengan luggage itu, lalu baru inget, rasanya di Louvre kemarin ada tempat penitipan luggage deh. Ternyata bener, Louvre menyediakan penitipan luggage untuk pengunjungnya. Akhirnya kami ke Louvre dan membeli satu tiket masuk hanya untuk nitip luggage. Tiket masuk ini diperlihatkan ke petugas untuk menitip tas. Berhubung Feli dan Diana ingin shopping dan saya lebih tertarik melihat lukisan Monalisa, kami pisah jalan dan janjian ketemu di Louvre dua jam kemudian.

Langsung deh buru-buru masuk ke dalam buat nyari lukisan Monalisa. Setelah tanya kanan kiri, ketemu juga ruangan tempat Monalisa ini dipajang. Ada beberapa petugas penjaga, banyak turis yang berkerumun dan lukisan Monalisa ini punya frame kaca transparan. Beda sekali perlakuan antara lukisan Monalisa dengan lukisan-lukisan lainnya di Louvre ini.

Selesai melihat lukisan Monalisa, langsung deh melihat-lihat lukisan di bagian ini sambil nunggu waktu ketemuan sama mereka. Ketika ketemu, ternyata masih ada shopping tahap dua, ada yang mau ke Zara, yang ketika itu belum buka cabang di Indonesia. Karena daerah tempat shopping berikut ini searah ke terminal bus Paris Gallieni, titipan tas di Louvre pun diambil. Ketika ketemu Zara, pembagian tugasnya pun cukup jelas, mereka belanja dan saya nungguin luggage, kadang nunggunya di luar toko karena tidak boleh bawa masuk luggage ke dalam toko. Untunglah ini hanya beberapa jam saja, karena kami sudah harus tiba di Paris Gallienni jam 22.45, lima belas menit sebelum bus pukul 23.00 kami berangkat ke Duesseldorf dan disambung dengan kereta keesokan paginya ke Bochum.

Ketika kami sampai ke Papagaienhaus (dormitory di Bochum), di atas langsung disambut seorang teman dari Hongkong yang menanyakan? “How’s Paris?” dan setelah cerita sebentar dia cerita baru aja email ke coordinator summer school bahwa dia nge-drop mata kuliah control design. Dia lebih hebat lagi, ngedrop mata kuliah dua jam sebelum ujian, kalau saya masih dua minggu sebelum ujian. Tak lama kemudian Andreas keluar untuk ke kampus dan langsung bete ketika tahu soal fakta ada teman sekelas dia yang nge-drop mata kuliah lagi.

Sorenya ketika ketemu Andreas: “Dre, ujian gimana? Sukses?” yang langsung dijawab “@#$%^, lu tahu nggak? Cuma gue mahasiswa summer school di kelas yang ikut ujian control design, yang lainnya mahasiswa S2 reguler. Dua mahasiswa Turki itu rupanya udah nge-drop mata kuliah ini dari minggu ke-6.” Tanpa sepengetahuan kami, rupanya dua teman dari Turki itu sudah nge-drop dan Andreas benar-benar jadi single fighter-nya peserta summer school di ujian control design ini, yang lain adalah mahasiswa master-nya Universität Dortmund

Dre, daripada bete-bete, weekend berikut ke Berlin yuk, kan nggak afdol kalo ke Jerman tapi belum ke Berlin, nanti ajak teman dan pakai Schones Wohnende biar murah” kata saya ke dia berusaha membujuk teman yang selama ini bertahan nggak jalan-jalan keluar area VRR selama summer school di Jerman. Untunglah Andreas mau ke Berlin. Tapi kebanyakan peserta summer school sudah ke Berlin, one way or another. Jadi , kami hanya mendapatkan satu mahasiswa Hongkong yang berminat bergabung. Yo wis lah, lumayan kan tiket Schones Wohnende (yang dulu seharga EUR 28) bisa dipakai buat bertiga (maksimal bisa lima orang).

Sabtu pagi itu kami bertiga pun meninggalkan papagaienhaus menuju ke Berlin. Perjalanan yang kalau menggunakan ICE palingan hanya akan membutuhkan 4 jam, kalau mau pakai Schones Wohnende butuh 9 jam karena kami hanya boleh menggunakan kereta-kereta Regional Express (RE), Regional Bahn (RB) dan S-Bahn. Ketiga jenis kereta ini kecepatannya dibawah Inter City (IC) maupun Inter City Express (ICE) yang tidak boleh digunakan dengan jenis tiket Schones Wohnende ini. Jika memakai ICE palingan kami hanya perlu ganti kereta sekali; kalau pakai Schones Wohnende kami perlu ganti kereta RB/RE sekitar 5 kali dari Bochum ke Berlin.

Di Berlin kami tiba di Postdamer Platz sekitar jam 6 sore yang masih terang benderang. Musim panas memang membuat matahari terbenam lebih malam. Hari ini matahari akan terbenam sekitar jam 9 malam, masih ada tiga jam sebelum benar-benar gelap. Tujuan pertama kami adalah tembok Berlin. Begitu lihat sisa-sisa tembok berlin, langsung kecewa karena ternyata nggak bagus-bagus amat ya? Banyak graffiti dan kotor pula. Di bagian bawah ada tulisan Berliner Mauer (1961-1989) yang berarti Tembok Berlin berdiri sejak tahun 1961 sampai diruntuhkan tahun 1989. Pemerintah Jerman Timur mendirikan tembok ini sejak 13 Agustus 1961 untuk mencegah pembelotan warga-nya ke blok Barat. Tembok ini bertahan puluhan tahun sampai tanggal 9 November 1989 pemerintah Jerman Timur memperbolehkan warganya berkunjung ke Jerman Barat dan tembok Berlin yang menjadi simbol dipecahnya Jerman mulai dihancurkan yang menjadi awal keruntuhan komunis dan blok Timur. Tapi masih ada beberapa sisa-sisa tembok yang dipertahankan sebagai memorial dan yang di Postdamer Platz bener bener bikin penonton kecewa. Sisa tembok berlin ini bahkan dijual sebagai souvenir di beberapa souvenir shop. Nggak penting banget.

Dari sini kami menuju ke Check Point Charlie. Di sepanjang perjalanan menuju Check Point Charlie ternyata masih ada sisa-sisa tembok Berlin yang dipagari dan ada pula pameran gambar “Photographie des terrors” yang menampilkan foto-foto kelam di balik sejarah tembok Berlin ini. Check Point Charlie yang menjadi symbol Cold War antara blok barat dan blok timur dan sekarang menjadi salah satu tourist attraction di Berlin. Disinilah ada sebuah papan yang bertuliskan “You are leaving the American sector” dalam empat bahasa. Sehabis Berlin ditaklukkan sekutu, kota ini dibagi menjadi 4 sektor: sector Amerika Serikat, Sektor Inggris, Sektor Prancis dan sector Uni Sovyet. Charlie berasal dari kata C di NATO phonetic alphabet. Inget kan kalo di telepon orang suka mengeja A sebagai Alpha, B sebagai Beta dan C sebagai Charlie? Buat yang penasaran, ternyata ada juga Check Point Alpha di Helmstedt dan Check Point Bravo di Dreilinden. Dibandingkan check point yang lain, Check Point Charlie yang paling terkenal, karena itu sering jadi setting film atau buku tentang spionase. Di check point ini terletak di tengah jalan, ada satu pos jaga yg diatasnya ada tulisan “Allied Checkpoint – US Army Check Point” yang dibentengi karung pasir sekitar 1 meter. Diatas karung pasir ini banyak sekali bunga dan disamping pos jaga ini ada tiang bendera dengan bendera Amerika Serikat diatasnya. Serasa bukan di Jerman. Di dekat Check Point Charlie ini ada Art Shop yang menjual bermacam-macam barang dengan topic Cold War. Kami bertiga hanya tertarik meminjam topi wool militer untuk dipakai dan berfoto ketika memakai topi topi ini. Check point Charlie beres, kamipun menuju ke Gendarmenmarkt, mau ngeliat dari luar Deutscher Dom, foto-foto dan melanjutkan perjalanan ke arah Bradenburger Tor (Bradenburg Gate). Di jalan menuju ke arah Bradenburger Tor ini ada tulisan “Good girls go to heaven; bad girls go to Berlin”. Kenapa serasa dejavu ya? Di Amsterdam saya juga nemu kaos bertuliskan “Good girls go to heaven, bad girls go to Amsterdam”. Entahlah siapa yg copycat. Matahari mulai tenggelam, dan udara semakin dingin. Saat kami sampai ke Bradenburger Tor pun cahaya lampu sudah menerangi enam pilar penyangga Bradenburger Tor ini. Suasana sunset, lumayan bagus buat foto-foto. Kalau pegang koin Euro keluaran Jerman, di bagian belakang koin 10 sen, 20 sen dan 50 sen ada gambar Bradenburger Tor, salah satu landmark paling terkenal di Berlin dan Jerman. Satu blok dari sini masih ada Holocoust Memorial yang nama resminya adalah “the memorial to the murdered Jews of Europe”. Kalau ngeliat bagian luar memorial ini seperti ngeliat banyak persegi panjang (bahasa inggrisnya Stelae) yang tingginya tidak sama berjejeran. Di dekat Holocoust Memorial ada tulisan besar Berlin Hi-Flyer, ternyata ada juga ya balon udara di Berlin. Berhubung sudah malam, holocaust memorial ini pun menjadi perhentian terakhir kami sebelum ke stasiun Postdamer Platz untuk mengambil U-Bahn menuju Jugendgastehaus Central, hostel tempat kami menginap malam itu.

Keesokan paginya, setelah sarapan di hostel dan check out, kami menuju perhentian pertama kami, Ludwig Erhard haus. Bangunan berbentuk setengah elips berwarna perak ini pilar-pilar penyangganya di bagian samping berbentuk seperti kaki robot yang ada jari-jarinya. Entah kegunaan bangunan ini untuk apa. Dari situ kami menuju Kaiser-wilhelm- gedächtnis-kirche, sebuah gereja kuno yang terletak diantara bangunan-bangunan modern. Gereja ini rasanya dipertahankan disini untuk mengingatkan orang-orang mengenai masa-masa perang dunia kedua. Puas foto-foto di gereja ini, kami melangkah ke Berlin zoologischen garten yang pintu gerbangnya bernuansa China. Di bagian bawah pilar gerbang itu ada dua gajah sedang berlutut di masing-masing pilar. Di depan gerbang ini benar-benar tidak terasa sedang berada di benua Eropa, ngerasanya malah serasa di China. Jalan sedikit, ternyata ada Mercedes lagi parkir di depan hotel Intercontinental Berlin. Berhubung ada yang mau difoto di sebelah Mercedes itu dan background hotel ini, kami berhenti beberapa saat di tempat ini. Tujuan berikutnya adalah sebuah menara yang ada patung wanita emas di atasnya. Dari atas menara ini, kami bisa melihat Bradenburger Tor, yang malam kemarin kami kunjungi. Masih dari menara ini, terlihat Reichstag yang menjadi tujuan kami berikutnya. Reichstag rame banget, antriannya panjang jadi kami pun malas masuk. Sesi foto di lapangan rumput di depan Reichstag pun dimulai sampai akhirnya inget mau mengunjungi Holocoust Memorial yang letaknya berdekatan. Malam sebelumnya kami hanya berfoto-foto di luar holocoust memorial ini, di bagian persegi panjangnya. Siang itu kami memutuskan untuk masuk ke dalam dan belajar lebih jauh mengenai holocoust ini. Ada peta Eropa dengan kotak-kotak oranye yang menandakan tempat orang-orang Yahudi Eropa dikumpulkan sebelum dikirim ke kamp konsentrasi yang kebanyakan terletak di Polandia. Ada nama kamp konsentrasi yg terkenal seperti Auschwitz dan Treblinka maupun nama-nama kamp konsentrasi yang kurang terkenal seperti Kulmhof, Lublin-Madjanek, Belzec, Sobibor, Babij Jar, dan Malyc Trostenez. Di dinding kami bisa melihat timeline pembantaian orang Yahudi di Eropa. Periode 1933-1937 disatukan dan setelah itu tiap-tiap tahun dari 1938 sampai dengan 1945 dipisah dengam tiap tahun ada satu panel tersendiri. Di ruangan berikut ada jumlah orang Yahudi yang diperkirakan terbunuh di tiap negara selama masa pemerintahan Nazi ini. Nama-nama orang Yahudi yang meninggal di kamp konsentrasi ini ditayangkan satu demi satu di layar TV raksasa. Di dekat pintu keluar ada sebuah quote dari Primo levih bahwa “It happened, therefore it can happen again: this is the core of what we have to say”. Rasanya inilah yang menjadi alasan dibangunnya holocaust memorial ini, agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Tak jauh dari sini ada Berlin Cathedral yang akhirnya kami masuki; tidak hanya foto-foto di luar saja. Di dalam sepi, tidak banyak orang dan banyak dipajang artefak-artefak gereja, typical bagian dalam gereja-gereja di Eropa. Berlin Cathedral ini lebih menarik dari luar karena arsitekturnya yang bagus. Satu kubah besar ditengah, diapit dua kubah yang lebih kecil di kanan dan kirinya. Ternyata di deket katedral ini masih ada delman, tapi kedua kudanya ukurannya gede banget yak, jauh lebih gede dibandingkan kuda-kuda di Ganesha. Apakah faktor genetik berpengaruh? Setelah kuda, kami menemukan beruang, berupa sebuah patung plastik dan rupanya beruang ini jadi salah satu simbol kota Berlin. Di dekat sini ada sebuah gedung merah dengan menara yang sangat tinggi, Berlin Rathaus, agak berbeda arsitekturnya dengan rathaus di kota-kota lain. Ada juga synagog Yahudi yang akhirnya tidak kami masuki karena uang masuknya agak mahal untuk kantong mahasiswa dan keterbatasan waktu. Perjalanan pulang yang akan menghabiskan waktu sekitar 9 jam membuat waktu kami di Berlin menjadi terbatas. Untunglah tiket Schones Wohnende itu berlaku sampai Senin dinihari, jadi kami masih bisa dapat extra beberapa jam di Berlin. Coba aja kalo habisnya jam 24.00, kami harus meninggalkan sekitar jam 2 siang.
Perjalan ke Berlin di akhir July ini menutup exam week. Setelah exam week masih ada dua minggu compact course, kuliah intensif setiap hari selama satu minggu untuk memperoleh 2 atau 3 ECTS, tergantung mata kuliahnya. Berhubung Diana dan saya membatalkan compact course kami, kami tidak boleh tinggal sampai masa akhir compact course itu. Andreas lebih beruntung, dia daftar compact course dan compact coursenya dibatalkan. Berhubung pembatalannya dari pihak universitas, Andreas masih boleh tinggal di papagaienhaus sampai masa compact course selesai. Saya dan Diana harus keluar kamar kami tanggal 4 Agustus atau membayar harian kalau mau tinggal di kamar itu (lupa berapa, tapi pokoknya kerasa deh duitnya. Kami memilih keluar. Pulang tanggal 8 Agustus, berarti 4 malam perlu tidur di sofa common room. Diana hanya sekitar dua malam lalu dikasih pinjeman kamar temennya yang lagi ke Paris, sedangkan saya harus menghabiskan 4 malam di common room sebelum pulang ke Jakarta. Nasib oh nasib. Hari akhir room-less dan tidur di sofa pun berakhir, Andreas dan saya kembali ke Indonesia tanggal 8 Agustus 2005 dan siap-siap untuk membereskan tugas akhir yang ditinggal selama mengikuti summer school. Selamat tinggal Eropa, aku kan kembali.

Kondisi tempat mandi yang memprihatinkan selama awal-awal scandinavia road trip inilah yang membuat saya menghubungi Hans, teman kuliah di Bandung dulu sekaligus host di Bergen ketika Spring Break 2 bulan sebelumnya berkunjung ke Bergen. “Hans, lu ada kontak di Trondheim nggak? Gw pengen nebeng, atau kalau nggak bisa nebeng pun kalau boleh mau numpang mandi aja” isi SMS saya ke Hans. Hans pasti masih punya teman di Trondheim karena kuliah master dia di NTNU dan pasti masih punya kontak dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Trondheim. Benar saja, dari Hans saya memperoleh jawaban “Coba hubungi ini bos, Bang Mauritz ketua PPI. Kapan datangnya bos? Sampai tanggal berapa? Aku cabut tanggal 17 July, jadi mau siap-siap juga beres-beres packing sebelum itu”. Setelah menerima SMS ini Bang Mauritz langsung dihubungi dan saya memperoleh jawaban “Jadwal kalian di Trondheim kapan ya? Bisa sih 3 orang menginap, tapi dua orang di sofa. Yang Estonia jujur, bersih dan baik ga? No smoking. Aku tinggal sama owner, tapi dia lagi liburan”. Setelah berhasil meyakinkan bang Mauritz bahwa teman saya ini jujur, dan kami akan bersih ketika menginap, bang Mauritz mengijinkan kami menginap di tempatnya. Ketika dapat kabar bahwa akan ada kamar mandi dan tempat tidur layak di Tronheim, rasanya gimana gitu. Saat itu kami sudah lima hari dijalan, mandi di sungai dan danau yang airnya sedingin es. Mendapat kabar ini serasa melihat cahaya di ujung terowongan yang gelap.

Dua hari kemudian, di hari ke-7 scandinavia road trip kami pun tiba di Trondheim jam 11 malam. Sebelum mencapai Trondheim, kami pun mengirim SMS ke Bang Mauritz menanyakan alamat yang dibalas “kalian pergi ke Tyholt Tower ya. Tempatku dekat situ. Kabari kalo udah sampe disitu. Kita ketemu disana aja. Take care”. Tak lama kemudian kami pun bertemu Bang Mauritz, yang bersedia menampung kami bertiga tanpa kenal dengan kami. Setelah 7 hari hidup di jalan, rasanya benar-benar enak bisa mandi air hangat setelah mengalami yang namanya mandi air super dingin di cuaca dibawah 10 derajat celcius; tidur tiap malam di tenda. Kadang-kadang jam 1 dinihari kami masih berada untuk mencari tempat yg cocok buat camping yg terlindung dari pandangan orang-orang karena camping di sembarang tempat di Norway itu ilegal dan kalau ketangkap bisa kena denda. Malam sebelumnya dari Bodo kami baru menemukan tempat camping yang ideal, dan emosi sudah mulai naik karena semuanya pada kecapekan selain teler karena kurang tidur. Pengen liat tampang kucel dan udah mirip-mirip gelandangan? rasanya kami tinggal mengaca dan sudah melihat tampang-tampang tersebut. Di tempat Bang Mauritz inilah kami bisa membersihkan diri dengan layak, seperti kata Vas “It feels good to be human again”.

Setelah mandi itulah saya bisa mengecek email. Ternyata ada email penting dari panitia summer university yang meminta nomor kontak dan nomor penerbangan ke Madrid. Saya dan satu peserta dari Turki telat memberikan informasi itu dan mendapat email peringatan. Untunglah sempat mengecek email disini, kalau tidakkan bisa berabe. Masih sempat pula transfer file dari memory card kamera ke hard disk external.

Ngobrol-ngobrol sama Bang Mauritz, ternyata dia juga satu jurusan ketika kuliah di kampus Bandung, bedanya dia tiga angkatan diatas saya. Masternya juga diperoleh dari Belanda, tapi beda kota. Saya di Delft dan dia dulu kuliah di Eindhoven dan baru saja pindah ke Trondheim untuk melanjutkan studi ke jenjang PhD dan baru juga menjabat sebagai ketua PPI Trondheim. Sempet pula membandingkan kegiatan-kegiatan PPI Delft dan PPI Trondheim, siapa tahu ada kegiatan yang bisa di-sinergi-kan. Ngobrol ngalor ngidul yang berakhir jam 3 pagi.

Esok siangnya kami bertiga meninggalkan Trondheim. Di perjalanan sempat terjadi perubahan rencana yang mengakibatkan saya akan tiba di Oslo telat sehari dari jadwal penerbangan saya ke Madrid. Karena kami lebih cepat dari jadwal semula, mereka ingin lebih ke selatan, mengunjungi sebuah tempat bernama preikestolen. Jika saya ikut rencana mereka, saya akan telat sehari sampai di Oslo. Akhirnya diambil jalan tengah, saya akan pisah di Bergen dan mereka melanjutkan perjalanan ke selatan. Dari Bergen ke Oslo saya akan naik kereta malam dan kami langsung ke stasiun kereta Trondheim untuk membeli tiket ini, 399 Norwegian Kronor. Komponen biaya tak terduga.
Dari Trondheim, tujuan di-set ke Kristiansund. Ketika sampai di Kristiansund, Dmitri langsung keluar dan berfoto di sebuat playground yang menurut GPS kami adalah city centernya Kristiansund. GPS memang tak bisa selalu diandalkan, sudah berkali-kali di perjalanan itu GPS salah memberikan rute sehingga kami harus menempuh jalan yang lebih jauh. Tak jauh dari Kristiansund, kami akan melewati Atlantic Road yang dulu pernah di pilih The Guardian (korannya Inggris) sebagai tempat terbaik untuk melakukan road trip. Atlantic Road ini menghubungkan Kristiansund dengan Molde dengan beberapa jembatan di pulau-pulau yang terletak diantara kedua kota ini. Rute sepanjang 8 kilometer ini dimasukkan ke dalam National Tourist Route dan merupakan salah satu konstruksi terbaik di Norwegia. Dari Molde kami masih melanjutkan perjalanan ke selatan dan akhirnya polar day berakhir. Matahari hari itu tenggelam setengah dua belas malam. Malam pun tiba, meskipun hanya sebentar saja. Daerah itu bernama Vestnes.
Perjalanan pun dilanjutkan keesokan paginya dari Vestnes dengan tujuan akhir Oppstyrin. Kami tetap mengikuti national tourist route dan highlight perjalanan hari ini adalah Trollstigen dan Geiranger Fjord, dua tempat yang pemandangan alamnya indah banget. Pantes aja masuk ke national tourist route-nya Norway. National tourist road merupakan jalan dengan dibuat dengan tujuan agar pemakainya memiliki pengalaman berkendara yang unik dan bersentuhan dengan alam. Ada 18 rute yang dipilih menjadi national tourist route ini dan diharapkan rute ini menjadi selingan yang bagus dari jalan utama. National route ini ada yang merupakan jalan berkelok-kelok di gunung, berkendara di jalan tepi laut, jalan yang melewati air terjun dan sungai, dari Rogaland di bagian selatan sampai ke Finnmark dan Arctic Ocean di bagian utara Norway. Jika saat itu ada voting mengenai Negara mana di Eropa yang pemandangan alamnya paling bagus, saya pasti akan memilih Norway. Hari itu kami bermalam di Oppstyrin dan matahari terbenam sekitar jam 23.15.
Keesokan paginya ketika bangun, saya melihat salah satu pemandangan paling indah sepanjang hidup saya. Awan begitu rendah dan deretan pegunungan di belakangnya dan terpantul bayangannya di danau yang terletak di depan tenda kami. Pemandangan aslinya dan bayangannya di danau benar-benar simetris. Tipe pemandangan yang difoto pakai kamera jenis apapun pasti hasilnya akan bagus. Ketika perjalanan dilanjutkan, kami melihat sebuah marka Jostedalsbreen Nationalparksenter. Tak lama kemudian kami berhasil menemukan tempat yang agak terlindung di sisi danau untuk mandi dan menyiapkan sarapan, gantian yang satu mandi yang dua menyiapkan sarapan. Baju-baju basah dan alas tenda pun menemukan tempat jemur sementara.
Perjalanan pun dilanjutkan dengan tujuan Briksdal Glacier. Sepanjang perjalanan menuju glacier ini ada pemandangan spektakuler di sekitar Gunung Ramnefjell. Ada sebuah danau berwarna hijau toska dan dua rumah di tepi danau itu dengan later belakang gunung ini. Indah sekali. Tapi di balik keindahan pemandangan ini, gunung ini mempunyai cerita tragis dalam sejarah Norway. Tanah longsor telah terjadi berkali-kali di daerah ini dan longsorannya jatuh ke Danau Lovatn yang terletak di bawahnya. Tanah longsor kategor major di daerah ini pernah terjadi dua kali, di tahun 1905 dan 1936 dan telah menghancurkan dua pemukiman. Longsoran masuk danau yang mengakibatkan gelombang pasang seperti tsunami yang menghancurkan pertanian, ternak, dan rumah yang berada di jalurnya.
Ingatan saya menuju Gunung Merapi di tanah air. Tapi rasanya ada yang berbeda antara Norway dan Indonesia. Perbedaan ini saya temukan di sebuah papan informasi. Norway belajar dari pengalaman mereka dan mengingatkan bahwa pernah terjadi bencana ini. Informasi ini cukup detail. Pada tahun 1905 di pemukiman Nesdal dan Bødal 61 orang kehilangan nyawanya karena tanah longsor ini. Dari 61 orang ini, hanya 9 orang yang jasadnya berhasil ditemukan, sedangkan 51 orang lainnya terkubur di dalam danau. Satu generasi kemudian, tahun 1936, 74 orang kehilangan nyawanya dan 41 dari mereka jasadnya tidak pernah ditemukan. Ada kesamaan antara gunung Ramnefjell dan gunung Merapi. Tanahnya subur sehingga cocok untuk pertanian. Sebelum tanah longsor di 1905 dan 1936, daerah Bødal dan Nesdal dipandang sebagai daerah dengan produktivitas pertainian yang tinggi karena adanya tanah yang subur ini. Setelah tanah longsor tahun 1905, pemukiman di dua daerah ini dipindah ke tempat yang lebih tinggi dan lebih aman. Pada saat itu para penduduk yakin bahwa tanah longsor yang sama tidak akan terulang lagi. Inilah alasan mengapa para penduduk tidak pindah ke daerah lain. Alasan lainnya cukup klise, mereka tidak mempunyai banyak pilihan, sama seperti penduduk di daerah gunung Merapi. Hidup mereka berada di daerah itu. Tapi mereka belajar sejak kejadian tanah longsor di tahun 1936 dan pindah lokasi. Saya hanya melihat dua rumah di tepi danau di kaki gunung Ramnefjell ini. Tapi ada hikmah dari kejadian di 1905 dan 1936, jika ada tanah longsor lagi, hal ini tidak cukup untuk menimbulkan gelombang pasang atau tsunami yang besar seperti yang terjadi sebelumnya karena dasar danau telah terisi 350,000 m3 longsoran di 1905 dan 1,000,000 m3 di tahun 1936.

Di perjalanan dari Gunung Ramnefjell menuju Briksdal Glacier kami melihat beberapa caravan sedang parkir di tepi danau. Daerah Styrn ini memang lumayan bersahabat dengan caravan. Musim panas seperti ini rupanya menjadi saat favorit untuk mengadakan road trip dengan caravan untuk mereka. Pasti fasilitas mereka lebih enak dengan adanya kamar mandi di dalam caravan dan tak perlu mengalami mandi di sungai dan danau seperti kami.

Setelah berhenti sebentar dan menikmati makan siang di tepi danau, kami melanjutkan perjalanan menuju Briksdal Glacier. Glacier ini masih termasuk di Jostelalbreen National Park dan ada plang selamat datang “Velkomen til Jostedalbreen Nasjonalpark”. Seperti tempat wisata lainnya, ada souvenir shop yang menyambut kami di dekat pintu masuk sebelum dilanjutkan ole sekitar 45 menit jalan kaki untuk memegang glacier ini. Dengan pemandangan alam seperti ini, wajar saja jika orang Norway suka hiking.

Menjelang sampai ke glacier, ada sebuah papan pengumuman yang menghimbau “do not cross this fence” dan kalau melewati daerah itu, resiko tanggung sendiri. Beserta beberapa penjelasan mengenai glacier dan bahaya glacier. Tapi papan pengumuman itu tampaknya tidak terlalu diperhatikan oleh para turis, termasuk kami yang masih melangkah untuk ke bagian bawah glacier ini. Tak berapa lama kemudian ada papan peringatan kedua, kali ini sekaligus disertai penjelasan gambar.

Dari papan peringatan inilah saya tahu bahwa meskipun kelihatannya diam, glacier sebenarnya bergerak dan harus berhati-hati kalau berada di dekat glacier. Kalau mau berjalan di atas glacier kami harus memperhatikan “crevasse” yang bisa mencapai kedalaman 30 meter yang merupakan masalah khusus kalau mau melakukan glacier travel. Crevasse ini bisa tertutup salju yang tidak bisa menyokong berat satu orang. Permukaan glacier biasanya rata dan tanpa perlengkapan yang memadai dapat mengakibatkan orang terpeleset dan cidera. Jadi dianjurkan untuk jangan melangkah diatas glacier tanpa glacier guide yang berpengalaman. Dari kejauhan, saya sempat melihat beberapa orang sedang melakukan glacier travel dan tampaknya sudah melakukan setengah perjalanan sebelum sampai ke pucak glacier.
“Snow is white and gracier is blue” demikian kata Vas mengenai glacier. Dari kejauhan memang tampak bahwa warna glacier ini lebih cenderung ke warna biru muda yang agak kehijau-hijauan. “The minerals inside the glacier that give the colour” tambah dia lagi mengenai alasan di balik warna glacier ini. Satu jam telah berlalu sejak kami meninggalkan lapangan parkir dan mulai hiking ke bagian bawah glacier ini. Ketika sampai di bagian ujung bawah dan menyentuh glacier ini, saya merasa sangat kecil, kalau ada avalance (longsoran salju / glacier), kecil kemungkinan kami akan selamat. Makanya sudah diwanti-wanti untuk berhati-hati dengan avalanche es dan runtuhnya bagian depan glacier. Reruntuhan batu dari tempat yang lebih tinggi atau bukit-bukit di sekitar glacier pun harus diwaspadai selain ada kemungkinan banjir tiba-tiba dari glacier ini. Papan peringatan itu rupanya hanya dipandang sebagai pemberi informasi, karena di sekitar kami pun banyak turis yang melewati “daerah aman”.

Ketika kami meninggalkan glacier ini pun, di perjalanan glacier ini masih terlihat. Dari sebuah plang Yri Neset, terlihat glacier ini dan gunung-gunung di sekitarnya. Ketika membalik badan ada belasan air terjun tiga tingkat. Banyak sekali air terjun di Norway ini, tempat paling bagus untuk menemukan pelangi dan me-refill gallon kosong kami dengan air. Tujuan akhir perjalanan hari ini adalah sebuah tempat bernama Lom. Tapi 60 kilometer sebelum Lom, ada sebuah tempat kemping yang bagus yang terletak di antara Highway E15 dan sungai. Kami pun memutuskan bermalam disini. Di dekat sungai sudah ada semacam perapian yang disusun dari batu. Ada batu-batu besar yang disusun dalam bentuk elips di dalam sungai yang menciptakan semacam “jacuzzi” kecil yang terlindung dari derasnya arus sungai. Rupanya tempat ini sering dijadikan tempat camping dan pasti ada orang sebelumnya yang kepikiran membuat “jacuzzi” berbentuk elips ini disini. Berhubung kami semakin mengarah ke selatan, malam pun semakin cepat. Hari ini matahari terbenam sekitar pukul setengah sebelas malam (22.30).
Keesokan paginya, “Jacuzzi” ini dicoba oleh saya. Airnya masih tetap dingin banget. Kalau sungai ini airnya lebih hangat saja, pasti lebih enak mandi di tempat itu. Sambil menyiapkan sarapan kami pun ngobrol dan setuju bahwa tempat ini adalah tempat camping terbaik dalam Scandinavia road trip kami ini. Alasannya banyak: disini tersedia kayu-kayu untuk BBQ, ada tungku batu untuk memasak, deket jalan raya tapi terlindung pepohonan, di sebelah sungai yang ada “Jacuzzi” batu-nya. Pokoknya top deh dari semua criteria penilaian untuk tempat camping ideal. Sayangnya tidak bisa tinggal selamanya di tempat ini, dan kami pun berangkat. Meskipun menuju ke selatan yang harusnya lebih hangat, kami menemukan sebuah tempat bernama Fantesteinen yang masih bersalju. Mobil berhenti beberapa kali di daerah ini karena latar belakang gunung bersalju dan langit yang biru sangat mengundang untuk melalukan sesi foto. Salah satu tempat perhentian kami pun ketebalan saljunya sekitar 2 meter dan temperaturnya 10 derajat Celcius di daerah bernama Turtagrø padahal pertengahan July seharusnya adalah puncak musim panas. Dua setengah jam kemudian, ketika kami hampir sampai ke Sogndal kommune, temperature disitu 25 derajat Celcius. Busyet deh perbedaan temperature hanya dalam jarak 2.5 jam bisa 15 derajat Celcius. Di daerah ini ada sebuah pelabuhan ferry. Awalnya kami ingin mengambil dari Kaupanger ke Gudvangen yang merupakan salah satu world heritage tour. Sayangnya ferry berikut adanya 2.5 jam lagi dan harganya lumayan mahal. Akhirnya rencana naik ferry ini dibatalkan yang mengakibatkan Vas kecewa berat. Tujuan diubah ke Voss karena saya merekomendasikan kota ini berdasarkan pengalaman kesini Spring Break dua bulan sebelumnya. Di perjalanan ke Voss inilah kami menemukan Laerdalstunnelen, yang katanya terowongan terpanjang di dunia (24.5 km) yang terletak di Laerdal Kommune, yang sudah masuk ke daerah pegunungan lagi. Di daerah ini kiri kanan masih ada salju dan ada satu danau yang bahkan bagian tasnya tertutup es. Termometer di mobil menunjukkan temperature diluar 9 derajat Celcius. Hari ini daerah tujuan, Voss, dicapai menjelang setengah sepuluh malam. Saatnya camping di daerah ini. Sampai hari itu, kami sudah menempuh 5500 kilometer.

Keesokan paginya adalah hari terakhir scandinavia road trip saya bersama Dmitri dan Vas. Saya akan di-drop di Bergen dan mereka akan melanjutkan perjalanan ke Preikestolen. Hans pagi-pagi sudah SMS “Halo Nald, pada nyampe jam berapa di Bergen? Alamatku di #deleted#. Aku bakalan ada acara jam 6 atau 7 malam. Pulang sekitar jam 10 malam”. Tidak ada pemandangan yang istimewa dari Voss ke Bergen ini. Kami hanya sempat berhenti sebentar di Gatekjøkken Tourist Information. Kami sampai di Bergen jam 1 siang dan langsung menuju ke fish marketnya. Dua bulan sebelumnya ketika saya mengunjungi Bergen, fish market ini sepi, tapi siang ini sangat ramai. Temperature di luar 18 derajat celcius dan dari tempat camping di Vos ke Bergen, kami sudah menempuh 90 kilometer. Melihat kota Bergen, sudah selayaknya kalau dibilang kota ini adalah kota paling cantik di Norway, sangat bagus kalau mau photo hunting. Hanya 45 menit kami di fish market ini dan langsung menuju rumah Hans. Disinilah segala macam hitung-hitungan biaya perjalanan dilakukan. Berhubung didasarkan asas cost sharing, biaya sejak saya bergabung di Tampere sampai hari ini dibagi tiga. Hitung-hitungan beres, Dmitri ngasih oleh-oleh Vodka Rusia buat Hans dan mereka melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Preikestolen. Hans sampai sekitar jam 5-an dan dari situ kami menuju ke “acara jam 6 atau 7 malam”-nya dia yang ternyata kumpul-kumpul orang Indonesia yang bekerja di Bergen. Orang Indonesia yang bekerja di Bergen pun bisa dihitung dengan jari. Hari itu saya bertemu tiga orang teman Hans yang juga mencari nafkah di sebuah kota yang rasanya sangat asing di telinga orang Indonesia. Benang merah diantara keempat orang ini adalah mereka semua bekerja di dunia migas (minyak dan gas) ada kehadiran beberapa perusahaan migas di Bergen. Makan malam hari itu menjadi istimewa karena hari itulah saya makan nasi setelah dua minggu selama perjalanan tidak menyentuh nasi sekalipun dan puas dengan pasta. Acara selesai jam 11 dan kami pun pulang.
Keesokan paginya disambut dengan SMS dari Jakarta “Ada bom meledak di hotel J.W. Marriott dan hotel Ritz Carlton, 9 orang meninggal dan kira-kira 50 orang luka-luka, kejadian jam 7.45 pagi waktu Jakarta”. Setelah membaca SMSN ini, hari ke-15 di libur musim panas saya sekaligus hari ke-13 di Scandinavia road trip itu pun diisi dengan berisitrahat seharian di Bergen sambil nonton liputan khusus mengenai pemboman di Jakarta di CNN dan ngecek-ngecek email – siapa tahu ada email penting dari panitia university, ataupun dari calon-calon host. “Jakarta Explosions” judul headline di CNN dan ada running text “bombing target international business hotels”. Ada empat berita utama hari itu yang selalu diulang-ulang: Indonesia, Iran, Citigroup dan Pope Injured. Kejadian pemboman sebelumnya di Indonesia pun dibahas, dari pemboman Bali di 2002 dan 2005, pemboman hotel J.W. Marriot di 2003, dan pemboman kedutaan Australia di 2004. Pantas saja ketika beberapa hari sebelumnya saat saya ngobrol-ngobrol dengan Dmitri dan Vas, image mereka tentang Indonesia hanyalah ekstrimisme agama, pemboman, tsunami, gempa bumi dan kecelakaan pesawat terbang. Untunglah mereka masih mengenal Bali meskipun dulu Dmitri lebih memilih Thailand sebagai tujuan wisata. Liputan tentang Indonesia di televisi internasional rupanya memang tentang kejadian-kejadian seperti ini. Sambil nonton saya pun melihat-lihat email dan berberes. Ada email dari calon host di Vienna dan Bratislava bahwa mereka available pada saat saya berada disana. Benar-benar kabar bagus mengenai host ini. Hans seharian ini ngantor dan saya diserahi tanggung jawab menjaga rumah dia, sekaligus beristirahat total karena road trip capek juga yak. Sore harinya saya meninggalkan rumah Hans menuju stasiun Bergen untuk mengambil kereta malam menuju Oslo. “Tog mot Oslo” dalam bahasa Norwegianya. Dalam 24 jam itu benar-benar perjalanan saya yang paling panjang. Jumat malam berangkat dari Bergen naik kereta (7 jam) menuju Oslo. Pagi-nya dari Oslo naik pesawat Norwegian Air ke Praha. Di Praha sempet ketemuan sama sepupu dan tante yang udah lama nggak ketemuan karena mereka berdomisili di Ceko. Lalu sorenya lanjut naik pesawat WizzAir ke Madrid. Perjalanan panjang ini demi satu hal: summer university di Spanyol. “Summer University here I come”.

“Nald, Bos minta gue nyariin hadiah farewell buat elu, daripada nanti gue udah beliin dan elu-nya nggak suka, mendingan lu ngasih tahu mau apa, entar kita beliin lho” kata Mbak Anita ke saya.
“Lonely Planet Eropa aja Mbak, atau Lonely Planet Belanda, yang ada aja deh” jawab saya, sambil berpikir pasti buku-buku ini akan berguna untuk kuliah di Belanda. Kalau dibeliin LP Belanda, pasti bisa digunakan saat weekend sedangkan kalo dibeliin LP Eropa, pasti bisa digunain untuk libur Natal atau libur summer.
Beberapa hari kemudian Mbak Anita menelepon “Nald, buku Lonely Planet Eropa atau Belanda-nya nggak ada, mau yang lain nggak?”.
“Adanya yang mana Mbak?” dan di ujung telepon Mbak Anita menyebut beberapa judul Lonely Planet dan akhirnya “yang Central Europe aja deh Mbak”.
Dan beneran, ketika farewell lunch sama rekan-rekan kantor di salah satu restoran di Jakarta Selatan, buku Lonely Planet Central Europe, foto group kami dan satu album foto selama onshore field trip yang jadi hadiah farewell saya. “Good choice Mbak Anita, it’ll be useful” dan kayanya yg lain waktu itu kagum ke Mbak Anita bisa milih hadiah farewell yg pas, padahal kami sudah kongkalikong di belakang layar.

Buku LP Central Europe itulah yang akan menjadi acuan selama libur musim panas 2009. Kebetulan kampus akan libur 2 bulan dan ketika itu saya berencana buat backpacking keliling Central Europe memanfaatkan buku LP itu. LP Central Europe ini adalah salah satu buku yang saya bawa dari Indonesia ke Belanda, yang lainnya adalah “Keliling Eropa 6 Bulan 1000 Dollar”, Naked Traveler dan Jomblo.

Kalau buku Lonely Planet Central Europe itu adalah hadiah tiga buku lainnya saya beli sendiri. Sekali waktu pas lagi nyetir malam-malan di Jakarta dan mendengarkan radio saya mendengar tentang buku Keliling Eropa 6 Bulan 1000 Dollar. Kebetulan waktu itu pengarangnya sedang di-wawancara. Mengapa dia bisa ya hanya menghabiskan 1000 dollar? langsung deh weekend terdekat hunting buku ini. Pas baca pertama kali: busyet, berani banget yak? Berbulan-bulan lagi. Yang paling nyangkut tentu saja sama budget Marina yang 3.5 Euro per hari (yang awal-awal liburan musim panas itu berusaha saya tiru tapi gagal di toko kebab pertama yang saya jumpai…. “Eh kebab… #masuk, beli dan melayanglah 3.5 Euro saya!!! #”.) Yang 3.5 Euro ini emang bukan tipikal saya. Satu lagi yang nyangkut dan paling berguna adalah tahu adanya Hospitality Club dan Couchsurfing. Pengalaman traveling sebelumnya selalu di hostel dan komponen akomodasi ini yang cukup bikin kantong jebol kalo jangka waktu perjalannya lama. Ada juga tips and tricks pake Eurail Pass yang sampai sekarang blm pernah saya coba. Itinerary-nya Marina sempat saya jadikan panduan kasar buat summer holiday 2009, meskipun akhirnya banyak perubahan.

Kalo Naked Traveler itu dapet informasi dari Fita bahwa itu buku bagus. Pertama kali dikasih tau “Fit, ini buku tentang apa? Traveler yang nggak pakai pakaian terus jalan-jalan? Emang nggak ditangkep polisi?” yang langsung dijawab Fita “cowok itu ya, pikirannya kesitu….. #dan abis itu sibuk ngejelasin tentang buku ini#”. Oke, perlu dibeli, tapi mau beli buku ini udah keburu ditarik dari peredaran karena ada isinya yang agak gimana gitu, jadinya dapet yang versi revisi deh. Pengalaman perjalanan Trinity seru-seru dan banyakan lucunya. Pantesan aja jadi best seller. #masih pengen punya yang edisi pertama yang asli#.

Buku terakhir adalah Jomblo, lumayan buat bacaan ringan saat berat-beratnya kuliah atau disela-sela liburan. Di saat mayoritas mahasiswa yang punya pasangan balik ke Indonesia saat libur musim panas, yang nggak balik ke Indonesia: tinggal di Delft atau jalan-jalan di Eropa. Saya pilih jalan-jalan di Eropa, kan balik ke Indonesia bisa tahun depan, kapan lagi liburan 2 bulan full dan lagi sebagai mahasiswa di Belanda, saya nggak perlu ngurus visa asalkan travelingnya di dalam wilayah Schengen.

Jadi, Jomblo dan Naked Traveler Naked Traveler dan Jomblo bisa buat jadi inspirasi dan bacaan ringan. Sedangkan LP Central Europe dan Keliling Eropa 6 Bulan 1000 Dollar jadi pegangan utama untuk menyusun itinerary. Empat buku terpilih yang dibawa ke Belanda.
Anyway, pas ngeliat lagi planning summer holiday 2009 ini, ternyata ada beberapa option. Tinggal rencananya mau ikutan CouchSurfing atau Hospitality Club, selain di teman dan keluarga buat menghemat biaya. Intinya pengeluaran akomodasi di libur musim panas ini harus nol Euro dan berhasil setelah melalui perjuangan yang berat.

Option 1:

Berhubung Scandinavia spring break berhenti di Stockholm dan gagal ke Helsinki karena keterbatasan waktu, Helsinki dipilih jadi perhentian pertama. Rute awalnya sih pengen dari Helsinki turun ke selatan ke Talinn – Riga – Vilnius (ketiganya ibukota negara2 Baltik), lalu lanjut ke Warsaw, turun ke Krakow di Polandia. Dari sini lanjut ke Budapest – Bratislava – Vienna lalu ke Praha menjenguk sepupu, om dan tante (sekaligus nebeng). Dari sini balik ke Delft melalui beberapa kota di Jerman bagian Selatan sebelum berakhir di Delft. Waktunya dialokasikan selama libur musim panas dari 3 July sampai 30 Agustus, karena tanggal 31 Agustus udah masuk kuliah tahun kedua.

Option 1 akhirnya dibatalkan karena ada ajakan Dmitri untuk ikutan Scandinavia Road Trip barengan Vas. Akhirnya rencana diubah dikit menjadi Option 2

Option 2:

Karena adanya perubahan rencana ini, dan lebih gampang mencari flight ke Finlandia daripada ke Estonia, Helsinki tetap jadi pilihan utama. Sayangnya nggak ada flight langsung ke Helsinki, adanya ke Tampere, sebuah kota kecil 100an kilometer di utara Helsinki. Bungkus mang. Tapi kota terdekat yg ada penerbangan ke Tampere ini adalah Bremen yang terletak di Jerman bagian utara. Jadilah rute berubah menjadi Delft – Bremen – Tampere – Scandinavia Road Trip – Talinn – Riga – Vilnius – Warsawa – Krakow – Budapest – Bratislava – Vienna – Prague – Dresden – Leipzig – Delft.

Sebenarnya disini saya sempat tergoda untuk memasukkan Russia ke rencana. Bagian Talin – Riga – Vilnius mau di-expand menjadi Talinn – St. Petersburg – Moskwa – Riga – Vilnius – Warsaw atau bahkan mengikutkan Minsk (ibukota Belarusia) ke rencana Talinn – St. Petersburg – Moskwa – Riga – Vilnius – Minsk – Warsaw. Tapi pas dipikir-pikir lagi ini bakalan butuh ngurus-ngurus visa lagi, dua visa lagi: Russia dan Belarusia. Males ah, jadinya godaan untuk memasukkan Russia dan Belarusia ke dalam rencana perjalan ini tak diikuti. Durasi perjalanan masih sama dari 3 July sampai 30 Agustus.

Option 2 ini akhirnya diubah lagi karena ada tiga hal: (1) saya melihat informasi di Blackboard (ini sistem komunikasi berbasis web untuk mahasiswa Delft) bahwa AEGEE menawarkan 90-an summer university di seluruh penjuru Eropa dengan harga murah meriah (2) jadwal ujian retake sudah keluar dari 17 Agustus sampai 28 Agustus, dan jadwal retake mata kuliah di quarter 4 paling dekat adalah tanggal 18 Agustus. Daripada liburan nggak tenang mikirin kalo memang perlu mengambil ujian retake ini, tanggal 16 Agustus langsung ditetapkan sebagai hari terakhir jalan-jalan di libur musim panas ini. Jaga-jaga aja kalo tanggal 18 Agustusnya perlu (atau mau) ikutan ujian retake. (3) Saya mendaftar sebagai coach Introduction Week selama masa retake tersebut. Lumayan buat nambah-nambah uang saku dan mempercantik curriculum vitae. Jadilah durasi perjalanan diubah dari 3 July sampai 16 Agustus untuk mengakomodir jadwal retake dan kerjaan menjadi Coach Introduction Week.

Sebenarnya summer university AEGEE ini yang membuat ada tiga option 3: Option 3a, option 3b dan option 3c karena maksimum tiga pilihan summer university yang bisa saya masukkan di application form.

Option 3a

Pilihan ini paling mulus dengan rencana libur musim panas saya, begitu selesai Scandinavia Road Trip, saat Dmitri dan Vas kembali ke Talinn dari Stockholm, saya naik ferry Stockholm – Turku untuk mengikuti FinEst Fairy Tale yang di-organize oleh AEGEE Turku (Finlandia) dan AEGEE Talinn (Estonia). Makanya FinEst menjadi pilihan pertama saya. Setelah summer university selesai, rencana awal bisa di-adjust dan menghapus Bratislava, Vienna Budapest, dan kota-kota di Jerman selatan dari jadwal. Jadilah rute berubah menjadi Delft – Bremen – Tampere – Scandinavia Road Trip – Turku – Summer University FinEst Fairy Tale – Talinn – Riga – Vilnius – Warsawa – Krakow – Prague dan dilanjutkan naik pesawat dari Prague ke Eindhoven dan dilanjutkan naik kereta ke Delft. Durasi perjalanan dari 3 July sampai 16 Agustus.

Option 3b

Pilihan ini adalah kedua yang paling mulus dengan rencana awal saya. Begitu selesai Scandinavia Road Trip, masih sempet ke Negara-negara baltik, tapi rasanya mesti melupakan Warsaw dan Krakow lalu langsung ikutan Summer University Retro Monarchy yang di-organize AEGEE Wien (Austria) dan AEGEE Budapest (Hungary). Jadilah rute berubah menjadi Delft – Bremen – Tampere – Scandinavia Road Trip –Talinn – Riga – Vilnius – Vienna – Summer University Retro Monarchy – Budapest – Prague dan dilanjutkan naik pesawat dari Prague ke Eindhoven dan dilanjutkan naik kereta ke Delft. Durasi perjalanan dari 3 July sampai 16 Agustus.

Option 3c

Sebenernya pilihan ini biar ke-isi aja daripada kosong. Pilihan ketiga jatuh ke Summer University TransIBERIAN Jamon Express yang diadakan oleh AEGEE Zaragoza dan AEGEE Barcelona. Summer university ini akan dimulai di Madrid dan perlahan-lahan bergerak ke Bercelona. Kalau dapet yang ini negara-negara Baltik dan Polandia harus dicoret dari daftar. Jadilah rute berubah menjadi Delft – Bremen – Tampere – Scandinavia Road Trip – Oslo – Madrid – Summer University TransIBERAN Jamon Express – Barcelona – Vienna – Bratislava – Prague dan dilanjutkan naik pesawat dari Prague ke Eindhoven dan dilanjutkan naik kereta ke Delft. Durasi perjalanan dari 3 July sampai 16 Agustus.
Rencana libur musim panas ini di-finalized ketika pertengahan Mei 2009 saya menerima kabar dari panitia summer university bahwa saya keterima di pilihan ketiga saya: TransIBERIAN Jamon Express di Spanyol. Langsung deh tiket-tiket pesawat dibooking. Pertanyaan berikut: pakai kartu kredit siapa ya? Saya sih punya kartu kredit dari orang-tua, tapi perjalanan yg ini akan kerasa banget kalo harga tiketnya mesti dibayar mereka. Jadilah cari pinjaman kartu kredit ke teman-teman di Delft. Awi berbaik hati membiarkan saya memakai kartu kredit dia dan nantinya saya akan mentransfer uang yang saya gunakan untuk beli tiket-tiket pesawat itu. Untung banget ada pertolongan dari dia, karena kalo nggak akan riweh banget tuh.
Tiket Bremen – Tampere sudah dibooking beberapa bulan sebelumnya. Lalu dari Tampere kan bakalan road trip, jadi perjalanan berikut yang perlu pesawat ya dari akhir perjalanan ini ke Madrid. Waktu itu masih belum yakin kira-kira pada akhir perjalanan itu saya akan berada di Oslo atau Stockholm. Kalau mau yang paling aman ya beli tiket dari Oslo. Browsing-browsing di sky-scanner kalau mau yang paling murah ya mesti transit di Praha. Jadi dari Oslo ke Praha naik Norwegian Air dan dilanjutkan dari Praha ke Madrid naik Wizzair. Dari Madrid ke Barcelona katanya akan diurusin panitia., berarti tiket pesawat berikut yang perlu dibeli dari Barcelona ke Viena, dapet harga yang cukup murah dari ClickAir. Nanti soal Vienna – Bratislava – Praha rencananya beli tiket bus atau tiket kereta on the spot aja. Berarti masih butuh pesawat berikut dari Praha ke Belanda. Ada penerbangan sore dari Praha ke Eindhoven tanggal 16 Agustus. Bungkus. Nanti dari Eindhoven beli tiket kereta langsung ke Delft aja, tanggal 17 Agustus ikutan upacara bendera di KBRI Den Haag dan tanggal 18 Agustus-nya jadwal retake.

Next Page »