Siang itu saya berada di Vienna, di depan Schloss Schonbrunn, istana musim panasnya dinasti Habsburg yang dulu pernah berjaya di Eropa di abad pertengahan. Istana itu sekarang padat dengan turis yang sibuk mengantri untuk masuk. Lumayan panjang juga dan kalo mau pakai jalur normal rasanya bakalan 2 jam lagi dapet tiket masuk.

Vienna – Schönbrunn Palace

Taktik nyelak antrian seperti yang pernah dipraktekkan di bioskop BIP rasanya kurang manjur secara antriannya panjang bener. Di ujung lain antrian ada tiga pintu. Satu pintu masuk dan dua pintu keluar. Orang-orang yang ngantri ini bermuara di pintu masuk ini. Pintu keluarnya agak sepi dan sesekali orang keluar dari pintu yang ada lambang verboden. Bisa dicoba nih masuk dari pintu keluar ini. Voila….tak lama kemudian saya sudah berada di dalam istana dan berada di barisan terdepan antrian. Meskipun di luar tak bisa dipraktekkan, tapi teknik nyelak antrian di bioskop BIP bisa dipraktekin lagi di bagian dalam istana ini.

Vienna – Schönbrunn Palace

Tak lama kemudian, tiket masuk ke Schoss Schonbrun ini termasuk grand tour di dalam istana plus audio guide, dan tiket-tiket ke Privy garden, maze and labyrin, etc sudah ada di tangan. Nyebelinnya ada tanda dilarang menggunakan kamera dan handycam, tanda yang dibenci orang-orang yg hobby memfoto. Di dalam istananya sendiri tidak semua ruangan dibuka untuk publik, hanya sebagian saja. Pengunjung bener-benar seperti kerbau dicucuk hidung, hanya bisa mengikuti rute sambil mendengarkan audio guide berisi penjelasan mengenai ruangan-ruangan yang dilewati. Bukan pemandangan yang aneh semua orang memakai headphone sambil berjalan di rute yang sama. Sampai saat itu, audio guide di Schloss ini adalah audio guide terbaik yang pernah saya dapatkan. Highlight ruangan yang dibuka untuk public ini adalah ruangan tempat Kennedy dan Khrushchev bertemu di tahun 1960-an yang di langit-langitnya ada karya Gregorio Gulaliemi.

Vienna – Schönbrunn Palace

Sekilas mengenai Schoss Schonbrunn. Schoss Schonbrunn ini ditetapkan menjadi World Heritage List pada sesi ke-20 Komite World Heritage pada tahun 1996. Masuknya Schloss Schonbrunn menegaskan pentingnya istana ini dan tamannya sebagai karya unik seni baroque. Katanya sih tourist attraction paling top di Vienna, makanya masuk ke list pertama yang harus dikunjungi.

Saking luasnya kompleks istana ini, ada kereta khusus: Schonbrunner Panorama Bahn yang ada untuk turis yang malas berjalan. Schonbrunner Panorama Bahn ini mempunyai 9 perhentian: Schloss Schonbrunn, Wagenburg, Hietzinger Tor, Tiergarten Palmenhaus, Tirolergarten, Gloriette, Hohenbergstrasse Tivoli, Obelisk Schonbrunner Bad dan Meidlinger Tor. Mesti bayar 5 Euro kalo mau beli one day pas. Mendingan duitnya buat beli kebab aja dan jalan kaki buat keliling kompleks istana ini pun jadi pilihan utama. Rute jalan: Privy Garden, Gloriette, Maze & Labyrinth. Maze & Labyrinth ini banyak banget permainannya, rasanya dulu jadi tempat bermain putra-putri raja Austria. Satu hari penuh dialokasikan untuk mengeksplore Schloss ini.

Schloss Schonbrunn checked, masih ada dua hari lagi di Vienna. Ngapain ya? First thing first, nge-book tiket bus Vienna – Praha. Dari berbagai sumber, katanya harga tiket Vienna – Praha yang dijual perusahaan bus Student Agency itu lebih murah dibandingkan Eurolines. Hari kedua pun rencananya paginya dialokasikan untuk mencari lokasi keberangkatan bus. Tapi apa daya, saya bangun kesiangan gara-gara malam sebelumnya diajak host nonton konser bareng 5 couchsurfer lainnya yang dilanjutkan pub-crawling sampe subuh. Balik-balik kebanyakan dalam keadaan teler dan akibatnya keesokannya (uhm… lebih cocok hari yg sama) pada bangun siang.

Sebelum mencari halte bus student agency ini, saya masih menyempatkan diri mengirim kartu post ke keluarga di Indonesia sekaligus ke seorang teman yang namanya sama seperti nama kota ini. Nggak tau deh tu kartu post nyampe ke teman tersebut atau tidak. Moga-moga aja sampe. Selesai dari urusan ngepos-ngepos ini langsung nyari halte bus Student Agency. Bus-nya Student Agency ini ternyata berangkat dari daerah Praterstern, Ketika ketemu jalan tempat bus ini akan berangkat (Joseph Roth Gasse/Praterstern di Vienna Center), ternyata supir-nya tak bisa bahasa Inggris dan dari bahasa isyarat yang ada rupanya beli tiketnya harus pada hari keberangkatan. Yo wis lah, besok aja belinya. Dari 4 waktu keberangkatan yang ditawarkan (8.35, 11.35, 18.35 dan 20.55) rasanya yang 18.35 paling afdol, sampai di Praha sebelum tengah malam.

Vienna – Praterstern

Hal yang membuat Praterstern terkenal adalah “Ancol”-nya, alias amusement park yang namanya Wiener Prater. Satu hal yang masih nyangkut di kepala saya sampai sekarang, bukan wahana-wahana yang ditawarkan, tapi sebuah mesin ATM berbentuk babi pink yang lagi megang palu di dekat pintu masuk Wiener Prater. Awalnya nggak ngeh ini ATM sampai ngeliat tulisan “bankomat”. Perbedaan lainnya terletak di biaya masuk, disini biaya masuknya per-wahana, jadi kalau nggak naik wahana karena tidak ada admission fee untuk masuk ke amusement park ini ini. Satu jam-an cukup lah buat ngeliat-ngeliat semua wahana disini (tanpa naik lho – bokek soale).

Vienna – Piggy ATM – Jadi inget lima serangkai ;p

Dari Praterstern, perjalanan dilanjutkan ke Vienna Mitte naik OBB (kereta-nya Austria). Langsung kagum deh sama interior bagian dalem kereta, kapan yak Indonesia punya jaringan kereta dalam kota yg OK seperti ini? Dari Vienna Mitte ini rencananya nyari bus buat ke Hundertwasserhaus, ini bangunan Gaudi-style gitu yang dibikin sama oom Hundertwasser, rasanya Gaudi versi Austria. Seperti biasa, saya butuh bantuan orang untuk menemukan jalan kesini. Setelah dibantu satu kakek, satu anak kecil di bus yang bisa 4 bahasa (edun nih anak, Inggrisnya fasih pula), dan satu orang yang kira-kira berumur 30-an tahun saya tahu satu hal: naik bus 4A lalu dilanjutin trem#1 buat ke Hundertwasserhaus. Pas sampe di Hundertwasserhaus, it’s OK lah, mestinya ke Vienna dulu baru ke Barcelona, setelah beberapa hari sebelumnya di Barcelona dan kenyang sama yang namanya Gaudi, Hundertwasser jadi kehilangan daya tariknya. Satu hal yang kurang dari Hundertwasserhaus, disini susah buat dapet spot seluruh bangunan, benar-benar tidak photographer friendly. Disinilah saya dapet SMS dari Marina yang isinya kurang lebih “Nald, jadi ke tempatku nggak?” abis itu kalo ga salah dikasih alamat dia dan cara kesana-nya gimana. Jadi besok sore akan ke tempat Marina.

Vienna – Hundertwaserhaus

Sejam di Hundertwasser ini rasanya cukup, lanjut ke istana lainnya, Schloss Belvedere yang kurang lebih sekitar 45 menit dari tempat ini. Schloss Belvedere ini terbagi dua: Upper Belvedere dan Lower Belvedere dan ada taman luas diantara kedua bagian ini. Berhubung sampe-nya udah jam 5 sore dan Belvedere udah mau tutup. Untungnya pas disini masih summer jadi siangnya lumayan panjang, jadilah sejam-an muter-muter di taman ada diantara upper and lower Belvedere ini. Kapan yak punya taman segede dan sebagus ini (ngayal dot com). Enak juga ya jadi raja, istananya dimana-mana dan tamannya udah segede gaban dan bagus lagi. Belvedere ini menjadi penutup hari kedua sebelum malamnya kembali ke rumah host.

Vienna – Belvedere Palace

Hari ketiga di Vienna udah dialokasikan setengah hari buat muter-muter di city center ngeliat St. Stephandom, Hofburg, Quartier Museum, Parlemen, dan Rathaus baru dilanjutin ke rumah Marina sorenya baru malamnya naik bus ke Praha. Rasanya tidak salah kalau banyak pemusik terkenal berasal dari Vienna, wong di jalan-jalan menujut St. Stephandom aja salesman tiket pertunjukan musim dimana-mana, pake baju jaman baeula dan wig lagi. “Wiener Mozart Konzert”, tampaknya tema kali ini Mozart, atau mungkin di 2009 itu tahun khusus yang berkaitan dengan Mozart? Lupa…Pas jalan ini sekilas ngeliat tulisan Spanische Hoftreitschule, pantesan aja banyak kereta kuda berlalu lalang. Tapi kenapa sekolah berkudanya berbau Spanyol ya? Ini kan di Austria. Udah gitu banyak bendera merah putih lagi, serasa di Indonesia. Tapi menurut petugas yang saya tanya, itu melambangkan bendera Austria, yo wis lah, meskipun bendera Austria itu kan merah-putih-merah dan ada lambang di tengahnya. Target berikut, Hofburg nggak terlalu jauh dan dilanjutkan ke museum quartier, yang ada patung gajah di daerah itu, tepat di depan Naturhistorches Museum. Jadi curiga jangan-jangan museum ini punya nick-name museum gajah.

Vienna – Museum Gajah?

Masih dua target tempat yg akan dikunjungi lagi lagi sebelum ke rumah Marina: Parlemen dan Rathaus. Di depan Parlemen (atau “Parlament” menurut bahasa German-Austrian) ini ada patung dewi yang kepalanya ada mahkota emas, punya pelindung bahu emas, tangan kiri memegang tombak yang ujungnya emas, dan tangan kanan memegang bola emas yang diatasnya ada malaikat wanita kecil dengan sayap dan tangan kanannya memegang lingkaran emas. Bagian lainnya warna abu-abu dan tidak dihias. Jadi penasaran emas di patung tersebut asli atau tidak. Next: Rathaus yang dari bentuknya serasa ngeliat gereja, bukannya gedung balaikota.

Selesai dari Rathaus ini ke langsung ke U-bahn station “Volktheathre” untuk menuju ke rumah Marina yang berada di luar city center. Butuh dua kali transfer bahn-bahn ini. Pertama naik U2 ke arah Westbahnhof, abis itu ganti naik U6 ke Philadelphiabrucke lalu dilanjutkan naik trem lagi. Sejam-an lah buat ke tempat Marina dari Volktheathre ini. Untunglah dijemput Marina di stasiun tujuan, jalan ke rumah dia dan lunch di tempat Marina dan suaminya.

Meskipun kami seangkatan dan satu fakultas ketika kuliah di Bandung, kenalnya justru di Eropa gara-gara saya comment ke salah satu foto Desiree di Facebook. “Des, ini Marina yg bikin buku keliling eropa 6 bulan 1000 USD? kapan2 gw minta tandatangan author deh ;p” dan saling berbalas comment sama Desiree dan Marina dan tak lama kemudian saya dan Marina sudah temenan di Facebook. Sayangnya waktu itu saya tidak bawa buku ini karena waktu itu belum pasti akan ketemu Marina, jadi ditinggal di Delft deh buku ini. Satu hal yang penting buat saya dari buku-nya Marina adalah disitu pertama kali-nya saya mendengar tentang Hospitality Club dan Couchsurfing. Couchsurfing inilah yang menjadi tulang punggung mencari tebengan gratisan ketika pengen jalan-jalan selama masa kuliah di Delft. Secara akomodasi adalah salah satu komponen terbesar pas jalan-jalan, informasi tentang Couchsurfing ini bener-bener berharga untuk menekan biaya sekaligus menambah pengalaman nebeng.

Sambil nunggu makan siang yang kalo ga salah waktu itu dihidangkan di bagian belakang rumahnya Marina yg ada danau (dan dua angsa – entahlah ini swan atau geese). Rumahnya asri banget ya, jangan-jangan dapet inspirasi menulis dari sini. Anyway, katanya sih disini masih ada rubah (yg suka makan angsa) berkeliaran. Kaget juga sih denger di Vienna masih ada rubah (di Jakarta rasanya ndak akan ada rubah deh). #sorry informasi nggak penting#.

Vienna – Dua Angsa

Highlight kunjungan ke tempat Marina ini adalah kunjungan ke vine yard deket rumahnya. Beruntung kali penduduk Vienna, karena hanya 1 jam-an dari city center ada daerah hijau semacam vine yard ini. Jakarta boro-boro ada tempat-tempat hijau seperti ini, lahan nganggur dikit langsung dijadikan shopping mall. Kapan ya Jakarta ada tempat-tempat seperti ini, kaya vine yard yang nggak jauh-jauh banget. Kan asyik tuh, kalo lagi stress bisa langsung ke vine yard #ngayal dot com#.

Vienna – Vineyard

Berhubung mesti ngejar bus Student Agency jurusan Vienna – Praha yang jam 18.45, di tempat Marina nggak bisa lama-lama. Pamitan ke Marina dan diantar ke stasiun pake mobil karena ngejar kereta ke city center. Balik bentar ke tempat host di deket Westbahnhof buat ngambil tas sambil pamitan dan mengucapkan terima kasih dan sampai bertemu lagi, meskipun nggak tahu kapan lagi akan ke Vienna. Lalu langsung cabut buat ke halte bus Student Agency ini di daerah Praterstern. Bus datang jam 18.30 dan butuh lima jam untuk mencapai Praha. “Prague, I’m coming”.

Catatan perjalanan Vienna, 9-11 August 2009