October 2011


Bratislava, 7-8 August 2009

“Jakarta 10,491 kilometer”….. ahhh why home is so far away. Di sebuah lingkaran berwarna keemasan, Jakarta bersanding dengan kota-kota lainnya di dunia beserta tulisan jarak kota-kota tersebut dari Bratislava. Jakarta berjarak 10,491 kilometer dari Bratislava, jauh bukan?

Bratislava Castle

Bratislava mulai terdengar di telinga saya kurang lebih empat tahun sebelumnya ketika ikutan summer school, ketika nonton film Eurotrip. Feli yang sangat tergila-gila sama film ini membuat acara nonton Eurotrip bareng Anisa, Ryan dan Jelena di Papagaienhaus. Sepanjang acara nonton bareng, penonton merasa “terganggu” karena Feli yang udah hafal setiap dialog di dalam film selalu bikin spoiler dan mengucapkan dialog2 yang akan muncul sampai-sampai kita-kita kepikiran ngasih lakban ke mulutnya Feli.

Jakarta

Setelah nonton film itu entah mengapa terbersit keinginan untuk mengunjungi kota-kota yang disebut di dalam film komedi tersebut: London, Paris, Amsterdam, Bratislava, Berlin. Roma dan Vatican. Tiga kota: Amsterdam, Paris dan Berlin berhasil dikunjungi sebelum summer school berakhir, menyisakan Bratislava, Roma, Vatican dan London di to visit list jika kembali ke Eropa suatu saat nanti. *)

*)Roma dan Vatican akhirnya dikunjungi Dec 2009 dan London November 2010 & (hampir) tiap weekend sejak Feb 2011. #ngasih tick mark di bagian napak tilas film Eurotrip#

Bratislava akhirnya dikunjungi ketika summer holiday 2009 **), bagian central Europe setelah mengikuti summer university di Spanyol. Dari Barcelona membutuhkan tiga jam untuk sampai ke Vienna Airport dan disambung lagi dengan bus Vienna Airport – Bratislava Airport selama 1.5 jam dan disambung lagi pake bus #61 ke Clementi Sova, tempat Karol, host saya di Bratislava tinggal. Bus yang terakhir ini gratis karena adanya miskomunikasi yang parah. Dia tak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa bahasa Slovakia. Jadinya supir tsb membiarkan saya naik dengan gratis, padahal saya berusaha membayar tiket bus. Ketika sampai di halte bus Clementi Sova, Karol sudah menunggu dan sebagai ucapan selamat datang, saya ditraktir minum di pub yang dekat rumah dia.

**) ketika itu saya traveling 45 hari keliling Eropa yang bisa dibagi menjadi tiga bagian besar: (1) Scandinavia road trip, (2) traveling summer university di Spanyol dan (3) Central Europe.

Seperti saya yang menjadi anggota Couchsurfing, Karol juga anggota komunitas ini. Sudah beberapa akhir pekan ini Karol nge-host para couchsurfer yang mampir di Bratislava. Para host ini menyediakan rumahnya untung ditinggali para traveler tanpa mengutip bayaran dan ini benar-benar blessing buat saya yang traveling dengan modal terbatas (maklum student).

Sesampainya di rumah Karol, hal pertama yang saya lakukan adalah meminjam computer untuk ngecek status tebengan di Vienna. Untunglah ada jawaban positif dari Clara bahwa tempatnya bisa ditebengin dua hari lagi, deket westbahnhof Vienna lagi. Nice…..

Satu hal yang tak habis saya pikir, kadang-kadang host-host ini terlalu baik. Normalnya kan tamu yang tidur di sofa/ruang tamu. Host yang pernah saya tebengi sebelumnya malah mempersilahkan tamunya tidur di ruang tidur utama dan si host pindah ke ruang tamu atau sofa. Karol adalah host kedua yang seperti itu. Kalo nerima rasanya nggak enak, kalau nolak ntar disangka nggak sopan. Dilema deh.

Keesokan paginya ada dua pilihan yang ditawarkan Karol. Seharian di Bratislava atau mau setengah hari ke Piestany, sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 80 kilometer North East of Bratislava lalu setengah hari di Bratislava. Saya memilih pilihan yang kedua meskipun nggak tau Piestany itu kota macam apa (dan jg baru denger ada nama kota ini).

Piestany

Berangkat dari tempatnya Karol jam 7 pagi dan saya dikomentari sebagai tamu dia yang bangunnya paling pagi, padahal cuman bangun jam 6 aja. Dari tempat Karol ke Hlavna Stanica (Hlavna = central; Stanica = station) ternyata cuman butuh 25 menit aja, termasuk satu kali transfer bis. Emang Bratislava kecil banget deh, padahal tempatnya dia itu termasuk di pinggiran kota, nggak sampe setengah jam udah sampai di central station.

Satu hal yang bikin seneng di negara eks-komunis ini: murah. Tiket Bratislava – Piestany pulang pergi kena EUR 8.3. Padahal kalau di Belanda, kalau beli tiket pulang pergi dengan jarak yg sama (misalnya Delft – Amsterdam itu aja EUR 13.8 kalo pake discount card, kalau nggak pakai discount card EUR 23.00, kebayang kan bedanya). Bratislava – Piestany itu sekitar satu jam, sedangkan Delft – Amsterdam itu kurang lebih 45 menit. Emang deh, negara2 eks-Eropa Timur lebih traveler-friendly dalam urusan biaya.

Emang sih dari segi kualitas kereta masih kalah dibanding Belanda, but who cares? Kursinya pun saling hadap-hadapan tiga-tiga dan ada lorognya itu bukannya di tengah-tengah tapi di salah satu sisi aja. Mirip-mirip kereta di film Euro trip lah. Setengah jam pertama kami masih duduk meskipun seharusnya kami tidak boleh duduk karena disini duduknya ditentukan dan tidak bebas spt di kereta-kereta Belanda. Pas yang empunya kursi datang mau tak mau kami harus keluar dari kursi tersebut dan berdiri di lorong.

Untuk orang Slovakia, Piestany dikenal sebagai tempat spa, karena disini ada mata air panas yang baunya seperti telur rebus – mengandung sulfur. Pokoknya ada gerbang yang bertuliskan “Salluberimae Pistinienses Thermae” yang kalau sotoy-sotoyan rasanya berarti Thermal di Pistineinses (ini kayanya nama lain Piestany). Entah Salluberimae itu artinya apa, ada yg tau nggak? Masuk ke dalam gerbang ini ada tulisan Ostrov Spa Island, Welcome to the spa island. Entah beneran ini pulau apa nggak. Yang jelas di daerah Thermae Piestany ini udah mirip seperti taman atraksi untuk spa aja, bahkan ada thermae Palace yang di tempat parkirannya banyak banget mobil mewah. Menurut Karol, pengunjung Thermal Palace ini kebanyakan orang-orang Arab yg kaya dari Timur Tengah. Jarang orang local yang main ke Thermal Palace ini. Busyet deh, nggak nyangka orang Arab mainnya ke Piestany.

Cucoriedky

Anyway, berhubung laper, kita menuju restoran kepunyaan tante-nya Karol dong. Pas perjalanan ke resto ini ngelewatin pasar rakyat dan salah satu stand-nya ngejual “cucoriedky”, alias “berry” dalam bahasa Inggris. Susah amat ya bahasanya. Well, enaknya makan di tempat tante-nya Karol, yah lunch gratisan lagi.

Saatnya kembali ke Bratislava, tapi perjalanan pulang-nya kenapa jadi 1.5 jam ya? Aneh, padahal pas berangkat cumin butuh 1 jam. Rutenya beda kali ya? Yang jelas jam 3-an kami sudah sampai di Bratislava dan lumayan juga di-guide sama orang local. Rute: Presidential Palace – Michalska Brana (Michael’s Gate) – Stefan’s Dom – Bibiana – Patung Man of Work – Hlavne Namestie (Main Square).

Megawati

Presidential palacenya tertutup buat public, tapi taman presidential palacenya boleh diakses. Rupanya ada tradisi setiap Presiden Negara sahabat yang berkunjung, pasti disuruh menanam pohon dan ada prasasti di dekat pohon ini yang bertuliskan nama Negara dan nama presiden Negara sahabat itu. Sebagai orang Indonesia, nyari-nyari dong siapa tahu ada Presiden Indonesia. Ternyata ada. Ada plakat bertuliskan “Strom Zasadila Prezidentka Indonezskej Republiky – JEJ Excelencia Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri – 19 Juni 2002” Tujuh tahun lalu rupanya Presiden Indonesia pernah kesini. Di sepanjang taman saya masih melihat nama-nama Presiden Negara-negara sahabat: Ukrajiny, Malty, Rakuskej Republicy (namanya lucu, ternyata ini Austria), Slovenskej Republiky, dan Ceskej Republiki. Di bagian lain tama nada sebuah plakat yang memperingati 125 tahun sejak listrik pertama kali menyala di Slovakia. “On Sunday, 25th August 1878, electric light sparkled in the Garden of Crassalkovich Palace for the first time in our country and later it spread to the windows of houses and factories, to the streets and parks in our town …. Let there be light”. Setelah baca plakat ini malah jadi penasaran, kapan listrik pertama kali masuk ke Indonesia ya?

Tak jauh dari Presidential Palace ini, di dekat Crowne Plaza ada sebuah musical instrument yang agak beda yang cara mainnya harus diinjak-injak, Sembilan bujursangkar kecil yang digabung menjadi satu bujursangkar yang besar. Tiap bujursangkar menghasilkan nada yang berbeda, jadi ada sembilan kombinasi nada yg dihasilkan. Terlihat tiga cewek lagi main main diatas instrument music ini sambil lompat-lompat. Mesti ngantri tampaknya.

Michalska Brana, atau Michael’s Gate merupakan gerbang pertahanan dengan menara dan pintu utama yang dibangun sejak abad ke-13. Tapi gerbang yang kami lihat ini merupakan jembatan untuk melewati moat (ini semacam parit yang melindungi sebuah kota) yang merupakan bikinan sejak abad ke-17. Di gate inilah ada lingkaran emas yang bertuliskan nama kota-kota besar di dunia (termasuk Jakarta) beserta jaraknya jika diukur dari Bratislava.

Man at Work

Satu hal yang membuat Bratislava berbeda adalah patung-patung metalnya. Salah satu patung yang agak unik adalah “the watcher”. Jadi ada manhole (ini lubang gorong-gorong kalo bahasa Indo-nya) dan di lubang ini ada patung seorang pria sedang mengamati jalanan dari dalam manhole ini. Lokasinya di pojokan jalan Panska dan Raybarska brana dan di dekat patung ini ada marka jalan “man on work” karena kepala si patung rupanya udah dua kali hilang ditabrak mobil. Kasian amat. Tak jauh dari patung manhole ini ada juga patung Schoener Naci, yang bentuknya seorang pria lagi mau ngasih topi (hat) ke orang. Menurut legenda sih pria ini menjadi gila karena cinta dan selama 40 tahun sisa hidupnya selalu berkeliaran di jalan dengan pakaian rapih dan sering memberikan bunga kepada wanita yang lewat. Untuk mengenang orang gila karena cinta ini, pemkot Bratislava membuat patung dia yang akhirnya jadi salah satu symbol kota ini.

Beberapa menit dari patung ini, tibalah kita di Hlavne Namestie alias Main Square-nya Bratislava. Lumayan bagus juga. Di sisi jalan ada kedutaan Amerika Serikat yang gampang sekali dikenali karena pengamanannya yang super-ketat, meskipun nggak seperti kedutaan Amrik yang di Jakarta.

Tempat berikut di list kami adalah Bratislava Castle. Lokasi castle ini katanya sih sudah didiami sejak akhir jaman batu dengan informasi pertama tentang lokasi ini bertanggal tahun 907. Castle ini sempat mengalami rekonstruksi gaya gothic dalam era Sigismund of Luxembourg. Salah satu kekaisaran terkenal pada abad pertengahan di Eropa, Hungaria pernah memindahkan pusat pemerintahannya ke castle ini selama pemerintahan Maria Theresa (1740-1780). Castle ini sempat juga dibakar tahun 1811 dan direkonstruksi kembali di tahun 1953. Apesknya, ketika saya kesana, castle ini mengalami proses rekonstruksi lagi. Anyway, sekarang castle ini jadi museum sejarah dan music Slovakia yang merupakan bagian dari Slovak National Museum.

Slovak National Theatre

Dari castle kami kembali lagi ke main square, karena Karol janjian ketemuan sama beberapa anggota couchsurfing Bratislava di depan Slovenske Narodne Divaldo (Slovak National Theatre). Acaranya hanya kenalan, ngobrol-ngobrol tentang couchsurfing dan setelah itu ke pantai buatan di tepi sungai. Ada pasir segala. Kasihan banget ya orang-orang Bratislava, pantai aja nggak punya, jadi ngebandingin sama Indonesia yang pantainya kebanyakan. Duduk-duduk di pantai buatan ini, foto Bratislava castle dari jauh, beli tiga postcard buat ditulis dan dikirim ke Indo (Fel, elu lupa ngasih alamat, padahal pengen dikirim buat nyirik-nyirikin elu :P).

Artificial Beach

Ternyata Bratislava tidak seperti di film Eurotrip, dan tidak pula seperti di film Hostel yang sempet bikin parno Ardhy yang sempat ditanya-tanyain tentang kota ini berhubung dia pernah main-main kesini.

“btw, ngemeng2x soal Bratislava gw sempet parno abis lihat film hostel 1 dan hostel 2 search di google) hehehe.. :p cek aja sendiri ya.. di bratislava, yg mesti dilihat: castle, menara ufo di jembatan sungai danube, dan city center transport udah gratis, makanan relatif murah, tapi souvenir teteup mahal :)”

Bratislava checked, Vienna next.

Udah 6 tahun menemani gw.. banyak memory sama kamera ini 🙂

Source: http://www.ah.nl/ns

All day unlimited rail travel in Netherlands

Your e-ticket Day ticket takes you one day unlimited train of NS throughout the Netherlands. The e-ticket Day ticket NS can be used in the second class of August 8 t / m 30 October 2011. Travel is permitted on Monday / Friday from 9.00 pm, on Saturday and all day Sunday.

Activate Online Day card

Your receipt is not a valid e-ticket Day ticket. Your e-ticket Day ticket printing is necessary that you first activate your receipt code.
Activate your e-ticket

Our FAQ

Terms and Conditions

  • E-ticket Day ticket: 1 day free train travel for one person in second class throughout the Netherlands.
  • Sales Period NS vouchers: 8 t / m 21 August 2011.
  • Your receipt of code is not a valid ticket. This code can be online at http://www.ah.nl / ns cashing August 8 t / m 30 October 2011. After redemption, you own the print and e-ticket Day ticket.
  • There is an e-ticket Day ticket to travel on Saturday and all day Sunday and Monday / Friday from 9.00 pm.
  • The product is not available from AH to go stores and the AH store messages.
  • You can use these special Albert Heijn offer while stocks last.
  • Up to 20 purchase coupon codes at once.
  • An e-ticket Day ticket is valid in all NS trains and trains of Arriva, Connexxion, Syntus and Veolia.
  • Not valid in Thalys and only valid ICE and Fyra surcharge.
  • The scheme “Refunds for delays” applies to this Day card.
  • A printed e-ticket Day ticket is personal and not transferable. For control, a valid identity document with photograph will be displayed: passport, identity card, driving license.
  • The e-ticket Day ticket is valid only if it is printed – in color or black and white on plain A4 paper in portrait format (vertically) without changing the print size on a laser or inkjet printer. He can in no case be offered to another medium (electronic, screen etc.).
  • A good print is required. E-tickets that are poorly printed, damaged, illegible or only partly visible, and be rejected as invalid.
  • Your e-tickets, the following conditions apply: The Terms of Railways (NS AVR), Product Terms and Conditions One Way, Return and day tickets (PVR NS) and the E-ticket conditions (EVR-NS) which are available at www.ns.nl .
  • Albert Heijn reserves the right to change the terms and conditions interim and / or terminate.
  • It is forbidden to train tickets to sell to third parties or to work for commercial purposes.
  • In case of loss or abuse of the receipt with coupon code or e-ticket can unfortunately not be entitled to compensation.
  • It is not possible to use the purchased coupon code or e-ticket Day ticket exchange or cancel.
  • This promotion is not valid in combination with other actions at Albert Heijn.
  • Air Miles are not refundable.
  • Refund for customers is not possible.

Next Page »