Kalau ada iklan, “kesan pertama begitu menggoda”, kesan pertama di Delft jauh dari menggoda. Pertama kali tiba di Delft, driver *) saya nyasar, tidak bisa menemukan sebuah jalan yang bernama “Feldmannweg”, tempat saya akan tinggal selama setahun pertama kuliah S2 di Technische Universiteit Delft atau yang lebih dikenal dengan nama TU Delft. Ketika jalan Feldmannweg berhasil ditemukan, di hadapan saya banyak sekali kotak berwarna-warni. Sebutannya sih lumayan keren: “Spacebox” yang kalau diterjemahkan ke bahasa indonesia berarti kotak (box) ruang angkasa (space). Warnanya nggak banget deh, pink, jingga, etc.Istilah dari Ivonne: “sangkar burung warna warni” rasanya lumayan tepat. Note: burung-burungnya adalah mahasiswa asing di Delft. Kunci kamar yang diambil dari welcome package saya ternyata gagal untuk membuka pintu kamar Feldmannweg 158. Sekali…. dua kali… tiga kali… sampai berkali-kali dicoba, pintu kamar 158 itu tak terbuka. Rasa-rasanya saya memperoleh kunci yang salah. Diantara ratusan welcome package untuk mahasiswa international TU Delft, pasti ada saja yang error, dan saya termasuk yg “beruntung” mendapatkan “paket error” itu.

255137_10150630765605720_657430719_18816152_7609793_n.jpg
Spacebox

*) Setiap mahasiswa asing yang datang dalam jangka waktu yg ditetapkan TU Delft dijemput di Schiphol airport dengan minibus yang mengantar mahasiswa asing tsb ke dormitory-nya

251229_10150630766755720_657430719_18816163_2668974_n.jpg
Spacebox – Inside

Setelah kontak kanan kiri, saya dibawa ke Sport Center TU Delft, headquarter sementara untuk penyambutan mahasiswa baru. Solusinya: saya diberi kunci hostel oleh orang international office dan malam itu saya diinapkan di hostel di Kanaalweg, di dekat kantor DUWO. Jadilah malam pertama saya di Belanda dihabiskan di DUWO student Hostel. Hiks…..Awal mula dari “hate-and-hate” relationship dengan DUWO (housing agency yang mengurus akomodasi mahasiswa TU Delft).

Ngomongin soal DUWO (DUVEL alias setan, nama samaran – siapa tahu saya bisa kena tuntut gara2 nulis ini hehe)…. terutama DUVEL Short Stay, pasti nama2 tempat ini tidak asing di telinga: Spacebox, container, roland hostlaan dan poptahoff – asrama2 mahasiswa di Delft. Sekilas mengenai DUVEL Short Stay, ini adalah perusahaan lintah darat yang memanfaatkan posisi tawar dia yang tinggi untuk menekan mahasiswa dengan harga sewa yang semena-mena dan aturan yang kaku. Lalu mahasiswa harus memutuskan apakah akan ikut tahun kedua dengan DUWO atau tidak 4 bulan sebelum kontrak berakhir. Dosa lainnya adalah membuat banyak mahasiswa tahun ke-2 homeless setelah tanggal 31 July (tanggal berakhirnya kontrak) ketika thesis lagi hectic-hecticnya. Saya rasa banyak mahasiswa yang punya pengalaman buruk sama DUVEL Short Stay sampai2 sempat ada Page di FB “say no to DUVEL” (atau judul yang mirip2).

Di kalangan mahasiswa Indonesia di Delft, spacebox dan container adalah satu kelurahan. Setiap kelurahan dikepalai oleh Lurah yang untuk wilayah Spacebox/Container dijabat oleh Mela. Buat yang nggak tahu container itu apa, container itu adalah salah satu dormitory mahasiswa yang berupa container yang ditumpuk-tumpuk. Tiap kontainer dikasih kamar mandi, ranjang, kasur, lemari, simsalabim jadilah kamar. Buat yang mau tahu pengalaman tinggal di kontainer bisa tanya ke Ivonne atau anak2 PLN

248842_10150630791710720_657430719_18816424_1393246_n.jpg
Container

Selain itu ada juga kelurahan “Roland Holstlaad” dan “poptahoff”. Roland hostlaan sih dari segi kamar lumayan gede, jauh lebih bagus dibandingkan spacebox. Tapi, keamanan disitu kurang begitu bagus, terutama di tahun ajaran 2009/2010 yang diwarnai dengan beberapa kejadian pencurian di dorm ini. Poptahof sih agak aman, meskipun Enny pernah kecurian laptop (dan dia sempat ngeliat orang item gede keluar dari jendela nenteng laptop dia). Daerah Poptahof kurang lebih Bronx-nya Delft, keren kan?

248971_10150630774595720_657430719_18816252_4558007_n.jpg
Suasana rapat PPI Delft

Se-Bronx-Bronx-nya poptahof, sekretariat PPI Delft (Perhimpunan Pelajar Indonesia Delft) terletak disini, di Popta 405. Kenapa disini? karena living room-nya lumayan gede buat rapat dan penghuninya (Hanim-Winnie) suka masak. Jadilah kalo ada rapat PPI Deft, pasti disini yang dilanjutkan dengan acara makan2. Tempat favorit juga kalo lagi pengen makan masakan indonesia dan males masak, tinggal telpon “Nim, masak apa malam ini?” sebelum meluncur ke Popta.

Kalau tinggal di Poptahoff dan Roland Hostlaan, butuh waktu 10 menit bersepeda mencapai kampus TU Delft, salah satu poin minus tinggal di dua kelurahan ini. Poin plusnya: dekat dengan mall terbesar dan satu-satunya di Delft: “de Hoven Passage” yang kalau ditunjukin ke orang Indo yang baru pertama kali ke Delft pasti langsung dikomentarin “Ini mall???” sambil dahinya berkerut. Begini-begini, de Hoven Passage ini punya satu tempat yang paling OK buat belanja: supermarket C1000.

Di seberang jalan ada saingan C1000, Albert Heijn, atau yang lebih dikenal dengan nama AH (baca: A Ha). Oom Albert Heijn ini adalah salah satu wiraswasta terkenal di Belanda, jika Amerika punya Sam Walton (pendiri Walmart) maka Belanda punya Albert Heijn. Jika C1000 warnanya Dutch banget – oranye. Warna kebanggaan AH adalah biru agak muda. Satu hal lagi yang menbedakan AH dengan C1000 adalah AH mempunyai discount card. Keliatannya sih baik, ngasih diskon untuk barang-barang tertentu. Tapi sebenarnya AH pengen ngeliat pola belanja konsumennya untuk dibuat pemetaan buat marketing mereka (kata Prof. Kleinknect sih gitu).

Di deket de Hoven ini ada Polat, yang menyediakan daging halal untuk teman2 yang muslim. Saya ke polat bisa dihitung sama jari, palingan kesana cuman buat beli santan, wong daging selalu beli di C1000. Kecuali pas ada potluck party anak2 MOT, dagingnya pasti mesti beli disini. Toko ini pulalah yang pernah menolak Lucky (anjing-nya Kim) masuk. Gimana ya perasaan mereka? *langsung simpati sama Lucky*

Mau ke bank? di sebelah AH ini ada ABN AMRO, yang ada kerjasama dengan TU Delft sehingga semua mahasiswa asing otomatis terdaftar di bank ini. Selain ABN AMRO Martinus Nijhoflaan ini masih ada ABN AMRO di centrum. Tempat saya dan salah satu coach yang lain duduk-duduk dan nongkrong sambil nunggu mahasiswa angkatan 2009 melewati tempat yang kami “jaga”. Seinget saya sih ABN hanya ada dua di Delft.

Basically, semua kebutuhan hidup bisa didapatkan di tempat berjarak radius 10 menit bersepeda, kecuali IKEA dan Oriental Xotus yang mesti naik sepeda 20-an menit. IKEA rasanya hampir semua orang sudah tahu dan beberapa teman yang balik ke Indonesia rasanya kangen main2 ke IKEA. Oriental Xotus itu salah satu toko Asia di Delft. Basically kita bisa menemukan banyak bumbu masak indonesia, meskipun saya kesana hanya untuk beli Sambal ABC, Indomie, bumbu instan dan tempe titipan temen (seumur2 belum pernah beli tempe buat dikonsumsi sendiri disini ;p). Kalo kurang lengkap, tinggal ke Oriental Den Haag, gampang kan? Intinya soal makanan Indonesia, di Belanda pasti hampir semua ada. Seorang teman pernah berkata “kalau sampai di Den Haag nggak ada bumbu masak etc nggak ada, bisa dijamin u nggak akan nemu barang itu di Eropa”.

Ngomongin soal makanan: masih ada beberapa toko kebab: Vatan yang di depan de Hoven, Vatan yang di deket library, dan satu kebab lagi yang di deket Nieuwe Kerk, di sebelahnya Daily Wok. Ada satu tempat kebab lagi di deket kanal yang penjualnya pernah marahin Ramanda gara2 minum coca-cola yang dibawa dari luar. (ada tempat kebab lagi nggak ya?).

Kalau kebab bisa dijamin kehalalannya, mau yang dijamin keharamannya juga ada. Pom Lai di Rotterdamsweg punya beraneka macam masakan dengan bahan dasar babi. Mau babi dimasak cara apapun, rasanya ada di Pom Lai, tempat favorit si Fredy (flatmate) abis kebaktian gereja hari minggu. Sampai2 tante Pom Lai hafal jam berapa Fredy akan nongol, menurut pengakuan Fredy. Fredy inilah yang berhasil membuat Julian (flatmate jg) dan saya akhirnya belanja makanan jg ke Pom Lai, meskipun tidak sesering Fredy. Saking cintanya sama Pom Lai, “The Last Supper”nya Fredy sebelum dia ke Univ of Michican (buat nyelesaikan thesis) dirayakan di Pom Lai.

Sebelum mengunjungi Pom Lai, penghuni balpol 462 pasti lagi kebaktian di ISC. International Student Chaplaincy/Church ini salah satu gereja di Delft. Masih banyak gereja lainnya sih: Levendwater, Oude Kerk, Nieuwe Kerk, DCF alias FMC, dkk. Pertama-tama tinggal di Delft, gereja ke Levendwater, alias air hidup bareng2 Benaya, Rahmadi dan Ronald Halim. Sama kadang2 juga sering ngeliat Boim. Gereja ini bi-lingual: Belanda dan Inggris, tapi sayangnya terlalu pagi buat hari minggu, jam 10.00. Akhirnya sering telat dan memutuskan untuk ke ISC, yang mulainya jam 11.45. Selain ISC masih ada lagi Oude Kerk, dulu pernah kebaktian sama anak2 PLN disini, sekali. Gerejanya sih gede, tapi ruangan kebaktiannya kecil banget. Satu gereja lagi Fullgospel Mission Church – DCF (nggak tau singkatan apa, D rasanya buat Delft) yang terletak di deket Wilhelmina Park. Artinya cuman satu: relatif lebih jauh dibandingkan ISC atau Levenwater. Akhirnya jarang kesini deh, kecuali pas ada acara penting. Lagian dari semua gereja2 ini ISC lebih klop dari segi khotbah yang damai (zzz) dan lagu2. Plus deket stasiun, kalo pengen ke Den Haag atau Rotterdam kan tinggal ngesot😀.

246994_10150630778790720_657430719_18816291_2580056_n.jpg
Levend Water

Sekali waktu Rev. Waltraut ngomong bahwa imam mesjid Turki (apa moroko ya?) mengundang jemaat ISC untuk buka puasa bersama. Nanti kumpul jam berapa gitu di Voorstrat 60 atau langsung ngumpul mesjid. Berhubung dari Balpol lebih deket ke mesjid, saya langsung dateng dong ke mesjid. Eh, disana ternyata nggak ada pendeta. Nunggu2, masih nggak datang lagi, sama penyambut tamu diminta ke ruangan khusus non-muslim. Mana tamu-tamu nonmuslim yang dateng itu orang2 partai politik dan cuman ada satu mahasiswa Erasmus Mundus yang kira2 umurnya ga beda jauh. Crap, sampai akhir ternyata Waltraut nggak dateng dan terpaksa berbasa-basi sama orang2 partai politik lokal paruh baya ini (ada Partai Hijau, etc, yang jelas partainya Geert Wilder nggak ada).

Mesjid Turki dan Mesjid Maroko merupakan tempat nongkrong favorit ketika buka puasa dari semua agama, tidak hanya islam. Yang jelas ada teman yang American-Israeli (sudah jelas Yahudi) sering nyari makanan gratisan disini. Makanan (gratis) rasa-rasanya bisa menjadi awal buat relasi yang lebih baik antara WN Israel dengan Turki/Maroko ;p. Kapan ya ada Mesjid Palestina?😀

Ini kedua kalinya ke mesjid ini. Pertama kali buat potong rambut. Oh ya, pas masuk pertama kali ke ruangan potong rambut, udah kaya gudang senjata, di dinding dipajang koleksi senapan laras panjang si tukang cukur. Yang jelas di mesjid ini ada barber murah (lucu jg ya ada tukang potong rambut di dalam mesjid). Tapi yang nggak habis pikir mesjid di deket stasiun Holland HS, sebelahan sama sex shop. Intermezzo: saya pernah melihat sekelompok biarawati katolik lagi jalan-jalan di red light district.

At the end, meskipun Delft kota kecil, tapi barang2 disini lumayan lengkap, dan lokasi2nya lumayan dekat. Pas ngebandingin Delft dengan Jakarta, seolah-olah David versus Goliath gitu. Pas di Jakarta Desember kemarin mau nyari barang2 berkaitan dengan komputer, mesti ke Mangga dua, mana macet lagi :(…. di Delft tinggal sepedaan 10 menit ke Centrum, abis itu cari BCC (toko elektronik). Kalo nggak ada di BCC, bisa ke Den Haag, nyari ke media markt, dari Delft palingan cuman setengah jam buat ke centrum Den Haag. Mau belanja souvenir tinggal ke square di depan nieuwe kerk dan stadhuis. Tak jauh dari situ pun ada beestenmarkt, tempat kafe-kafe di Delft. Pas summer jadi tempat kongkow-kongkow dan pas winter jadi tempat ice skating. Dulu sih katanya beestenmarkt ini tempat penjagalan sapi, makanya ada patung sapi di tengah-tengah square ini. *info nggak penting*

Apa lagi ya yg belum ditulis tentang Delft?

*ditulis setelah 4 bulan meninggalkan Delft*