Il Signore ti ristora

Dio non allontana

Il Signore viene ad incontrarti

Viene ad in contrarti

Alunan lagu diiringi oleh dentingan piano saat evening prayer di Taize rasanya akan membuat orang yang pernah datang ke Taize kangen suasana saat itu. Feeling di evening prayer ini benar-benar berbeda dari kebaktian/misa di semua gereja yang pernah saya ikuti sebelumnya. Begitu syahdu dan romantis (kalo ngeliat desain altarnya + evening prayer di hari sabtu, you will agree with me).

45955_10150246366365720_657430719_14434849_2500676_n.jpg
Evening Prayer @ Taize with Taize’s song

Ketika itu saya berada selama seminggu di Taize, salah satu monastery di daerah Burgundy, Prancis dalam rangka refreshing setelah 6 bulan dibantai sama master thesis. Kebetulan ada tawaran ke Taize, why not? meskipun saat itu nggak tahu dimana Taize, sama siapa kesana dan mau ngapain seminggu disini. Yang penting keluar dari Belanda sebentar.

Ketika kebanyakan monastery berakar dari Katolik, Taize merupakan “one of the world’s first Protestant, ecumenical monastic order” kata Santos, pengarang buku “A community called Taize”. Ada program selama seminggu disini dimana setiap peserta menghadiri tiga kali prayer (ini mirip2 kebaktian atau misa) setiap hari yang mostly diisi dengan nyanyian, seperti kata Yuni : Taize Prayer. Seminggu di Taize membuat saya yang awalnya hanya tahu sangat sedikit tentang Taize jadi tahu lumayan banyak tentang Taize Community ini.

Den Haag Centraal, 22 August 2010, 7.37 AM.

“hey, that train is leaving” kata Julian ketika kami berjalan menuju Platform 5.

“Oh ya (dalam hati: ini kan stasiun, wajar aja kalo kereta pergi), btw kereta ke Amersfoort jam berapa? 7.38 right?” jawab saya.

“I believe that is our train”

“Hah?”

Ketika itu jam di HP saya menunjukkan pukul 7.33, jam julian menunjukkan jam 7.35. Ketika beberapa saat kemudian kami sampai di platform 5, di bawah jam, jarum jam di stasiun menunjukkan tepat pukul 7.38. *masih sempet ngeliat jarum detiknya ke arah angka 12 dan jarum panjang menitnya berubah ke jam 7.38* Yep, we missed the train karena kereta berangkat 15 detik lebih awal. Kejadian bodoh karena kami sudah tiba di Den Haag Centraal dari jam 7.20, berhubung nyangka masih lama saya ngambil duit di ATM bentar, Julian (ini anak Den Haag bukan anak Delft) beli makanan di AH, abis itu kami beli kopi di Kiosk. Ketika di Kiosk, ada missed call dari nomor indonesia ke Julian. Lalu kami sibuk mencari tahu siapa yang menghubungi Julian dengan nomor telpon Indonesia (+62812xxxxx) abis beli kopi dan menyangka jam 7.38 masih 5 menit lagi.

63862_10150259759675720_657430719_14736176_217418_n.jpg

Hal ini berarti satu hal, kami harus memberi tahu Gerda (teman pendeta kami) yang menunggu di Amersfoort bahwa kami akan telat. Janjian ketemu di Amersfoort centraal jam 8.08 molor jadi 9.08. Tugas yang berat karena 1 jam sebelumnya saya baru kirim SMS ke Gerda bahwa kami telat kereta paling pagi ke Amersfort, jadi nggak bisa ketemu jam 8.08 di Amersfoort, tapi jam 8.38. Ngasih tahu bahwa kami akan telat lagi, kali ini ke jam 9.08 akan menjadi tugas yang berat. Nyebelinnya, I was the messanger.

Kombinasi orang Indonesia dan India (Julian dari India) yang janjian dengan orang Belanda (Gerda) merupakan kombinasi yang jelek. Julian tampaknya santai aja dengan keterlambatan ini tapi Gerda marah2 ketika saya menghubungi dia bahwa kami telat 1 jam (instead 30 menit di SMS sebelumnya). Kesan pertama yang begitu berkesan untuk orang yang akan bersama kami menuju sebuah daerah bernama Taize. “I’ve already made a compensation to leave at 8 AM. We should leave at 7 AM, because it’s 850 KM to go to Taize and in the last 1 hour, the road is not good and poor light, now you’re telling me that two of you will be late for one hour?” nada suara Gerda terdengar beberapa desibel diatas normal plus komplain2 yang lainnya. Urgh… I’ll never be a massanger again.

Dua minggu sebelumnya

Dimanakah Taize? ketika itu saya tidak tahu apa2 tentang Taize. Bahkan ketika dua minggu sebelumnya Reverend Waltraut menanyakan ke jemaat adakah yang berminat ke Taize, saya baru tahu bahwa itu adalah nama daerah. Sebelumnya kata “Taize” buat saya berhubungan dengan lagu karena di buku lagu gereja kadangkala ada tulisan Taize di bagian kanan atas deket judul. Jadi, saya mikir bahwa itu semacam terminologi musik seperti Allegro, etc, apakah lagu itu harus dinyanyikan dengan riang gembira atau jenis2 mood dalam menyanyikan suatu lagu. Ternyata bukan.

47255_10150246366210720_657430719_14434829_7607178_n.jpg

Temannya Waltraut rupanya pengen ke Taize tanggal 21/22 August sampai 29 August, seminggu di Taize. Dan dia pengen cari temen jalan buat share cost bensin dan tol. Karena pengen refreshing abis thesis (Defense: 16 Aug, Graduation Ceremony: 19 Aug) saya daftar. Trip panjang (note: lebih dari seminggu) terakhir saya adalah Italia di Desember 2009, dan sudah 8 bulan sejak itu ga pernah trip panjang lagi karena fokus the thesis. Taize tampaknya prospek yang bagus, ga butuh planning, tinggal ikut aja. Nice.

Satu concern tentang verblijf (ID Card) saya tidak berlaku lagi setelah graduation. Dapet encouragement dari temen2 gereja “Udah Nald, kalo pake mobil pribadi peluang diperiksa sama petugas di jalan kecil” (dibandingkan sama bus). Beberapa hari kemudian ketika tanya orang di International Office TU Delft, verblijf masih berlaku 28 hari setelah graduation. Verblijf aman.

62918_10150259753280720_657430719_14735900_6071626_n.jpg

Langkah berikut: nyari tahu tentang Taize, via google map dan wikipedia. Dari google map ternyata buat ke Taize butuh 8.5 jam menempuh 850 KM dan melewati Brussel, Lille, Paris, dan lokasinya dekat Nantes dan La Rochelle (Ternyata ini lokasi Taize yang lain, jadi salah). Temen paling dekat disitu ya di Nantes, Awin yang lagi kuliah di École des mines de Nantes. Awin = teman sejurusan di ITB, dan sekaligus temen sekelas pas TPB (tingkat pertama di ITB). Rencananya 1 hari daytrip ke Nantes, mengunjungi Awin + jalan2 di Nantes. Pas kontak Awin, ternyata dia lagi di Toulouse dan tanggal 24 Aug akan pindah ke London. Nantes dicoret. La Rochelle? Diana udah nggak di La Rochelle lagi, udah pindah ke Paris. La Rochelle dicoret. Tampaknya nggak ada teman di daerah sekitar Taize, ga ada yg bisa dikunjungi buat day trip. Ya udah lah, nanti aja pas balik ke Belanda kalo masih pengen, minta diturunin di Paris dan kasih kunjungan kejutan either ke Diana, Gior atau Chris.

Menuju Taize

Ketika Minggu pagi Gerda membriefing Julian dan saya rute mana yang akan ditempuh untuk ke Taize, saya baru sadar bahwa “Taize” di pikiran saya (info dari Google Map) ternyata tidak sama dengan Taize yang kami tuju. Taize dari google map berlokasi di arah Barat Daya-nya Paris, sedangkan Taize yang kami tuju berada di arah tenggara-nya Paris, di daerah Burgundy dan berlokasi diantara Dijon dan Lyon (dan kedua Taize ini terpisah sejauh 500 KM). Bah, option buat minta diturunin di Paris pas perjalan pulang langsung dicoret karena Paris tidak termasuk di rute ini. Rute baru: Amersfoort – Maastricht – Luxembourg – Metz – Nancy – Dijon – Taize. Sebenarnya bisa lewat Brussel, instead of Maastricht, tapi Gerda lebih familiar dengan Rute yang melalui Maastricht.

Jarak Amersfoort – Taize ini kurang lebih 850 KM. Kalau di Indonesia, kurang lebih sama seperti jarak Jakarta – Surabaya yang hampir 800 KM. Untungnya di Eropa kondisi jalan tol sangat bagus, jadi kecepatan bisa di-maintain di 100 KM per jam. Untuk jalan tol, sebagian besar gratis, sedangkan sebagian kecil perlu membayar “peage” atau pajak jalan tol di Prancis, salah satu komponen yang mau di-cost-sharing. Perjalanan menuju Taize ini tidak selalu lewat highway, karena di Maastricht kami harus melalui kota, dan setelah Tournus, kami harus keluar highway dan menempuh 30 KM terakhir di jalan “desa” yang lumayan bagus dan cuman 1 jalur di tiap arah.

Intermezzo: highway di Eropa umumnya dikasih nama dengan satu huruf ditambah satu atau dua digit angka plus tiap pengemudi disarankan istirahat 10 menit jika telah 2 jam menyetir. Untuk safety.

46022_10150246367360720_657430719_14434902_1086719_n.jpg
Burgundy, France

Kami tiba di Taize sekitar jam 19.00, sepuluh jam setelah kami berangkat dari Amersfoort, tepat di saat makan malam. Gerda tampaknya mengenal banyak orang di Taize, karena ketika kami sampai orang-orang (kebanyakan sudah berambut putih) menuju ke mobil Mazda ungu kami untuk sekedar say Hi ke Gerda. 7 hari kemudian (di perjalanan pulang ke Belanda) kami baru tahu bahwa minggu itu orang2 “permanen” penghuni Taize di tahun 1980an sedang Reuni, bahkan ada dua peserta reuni ini khusus datang dari USA untuk acara reuni ini. Ternyata Gerda adalah salah satu permanen di tahun 1980an, pantes aja kenal banyak orang.

46392_10150246366280720_657430719_14434837_307164_n.jpg
Church of Reconciliation

Registration dan activities

Seperti penghuni baru Taize lainnya, kami harus registrasi dulu. Untuk yang dibawah 30 tahun, registrasi dilakukan di ruang 15. Buat yang diatas 30 tahun, di ruang lain (entah dimana). Banyak anak2 muda disini, kontras sekali dengan tempat makan tadi. Untuk kategori 17 s/d 29 tahun, ada dua pilihan: (1) A week of reflection and sharing atau (2) A week in silence. Jonathan, orang yg bertugas untuk memberikan introduction kepada saya bilang untuk orang yg baru pertama kali datang ke Taize pilihan a week in silence itu berat. Kalau mau bisa pilih paket kombo a week of reflection and sharing, dan ditutup dengan di akhir minggu in silence, mulai dari Kamis petang. Seminggu nggak ngomong? ogah deh. Pas baca buku Jingga-nya Marina, di Thailand dia ikutan silence semacam ini. No, thank you.

Dari Jonathan saya dapat kertas A3 yg berisi peta Taize dan informasi singkat tentang Taize, termasuk aktivitas selama seminggu ke depan. Aktivitasnya:

Senin s/d Sabtu

08.15 Morning prayer then breakfasts

10.00 Meetings

12.00 Midday prayer followed by lunch

14.00 Song practice -> during the afternoon, meetings or work

17.15 Snack

17.45 Workshops (from Tuesday onwards)

20.30 Evening prayer (khusus hari Jumat followed by prayer around the cross, kalo hari sabtu with candles symbolizing the light of easter)

Minggu

08.45 Breakfast

10.00 Eucharist

13.00 Lunch

15.30 Welcoming of new arrivals

19.00 Supper

20.30 Evening prayer

41331_10150246368660720_657430719_14434975_1644617_n.jpg
Food Coupon for one week

Dari Jonathan saya direfer ke meja lain untuk ngurus Akomodasi dan kupon makan plus pembayaran. Untuk pembayaran sekilas ada 4 kelas, kelas pertama Netherlands, France, Germany, etc. Kelas 2 lupa. Kelas 3 negara2 baltik (Estonia, Latvia, Lithuania). Kelas 4, Afrika selatan, china, etc. Tapi disitu tak ada Indonesia. Mereka bingung dan salah satu brother tak berjubah (tahunya dia itu brother belakangan) bilang “OK, saya samakan kamu seperti orang2 dari Afrika selatan”. Jadilah masuk kelas 4 (bayarannya yg paling murah dibandingkan kelas-kelas lainnya”. Akomodasi dan makan selama seminggu minimal mesti bayar EUR 17.5 dan maksimal boleh bayar EUR 28.5. Gila, murah banget *). Abis bayar dikasih kertas kecil bertuliskan alamat akomodasi dan kupon makan oranye buat makan selama seminggu.

*) Belakangan saya tahu dana untuk anak2 muda ini diperoleh dari “Operation Hope” di berbagai negara yang didukung oleh banyak penyandang dana yang tertarik untuk mensupport kebutuhan dana orang2 yang ke Taize.

Akomodasi – tenda versus barak

Di meja registrasi ada dua pilihan, mau tidur di tenda atau di barak. Sebenarnya ketika mendaftar online di website Taize sudah ada pilihan ini, tapi di-recheck lagi di meja registrasi ini. Saya memilih tidur di barak, yang mirip2 kamar tipe dormitory-nya youth hostel. Ada 3 ranjang susun dalam 1 kamar. Total bisa terisi oleh 6 orang. Kamar saya untungnya hanya terisi 5 orang, jadi nggak penuh2 amat. Ada Gabriel yang kerja di McKinsey Paris, John orang Jerman keturunan Vietnam, dan dua orang Prancis lain dari kelompok umur berbeda, Francois dan temannya yg sering banget balik ke kamar pas udah malem banget dan paginya ketika saya keluar mereka masih tidur, jadi jarang ngobrol. Pas ketemu pun sekali saat saya lagi siesta (alias tidur siang) dia lagi dikejar cewek (yang kayanya baru kecebur di kolam renang = basah banget) sampai ke kamar. Tujuan cewek ini jelas: bikin basah si Francois karena doi nenteng satu botol akua yg siap disiram. Otomatis saya lebih sering ngobrol sama Gabriel karena kelompok umur kami sama sehingga jadwal acaranya pun sama.

Buat yang tidur di tenda, Taize ini serasa jambore pramuka saking banyaknya tenda disini. Keunggulan tidur di tenda: rekan2 dalam tenda adalah teman anda dibandingkan di barak yang benar2 orang tak dikenal semua (awalnya).

Volunteer

Salah satu rahasia kenapa Taize bisa bertahan adalah adanya “volunteer” yang bisa berasal dari peserta atau non-peserta. Tipe volunteer yang berasal dari non-peserta biasanya berada sekitar 3 bulan di Taize untuk bantu2. Ada tiga orang Indonesia di kategori ini, dua orang utusan dari KWI (Mita dan Adolf) plus satu orang utusan dari UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana).

Kalau dari para peserta, umumnya yang masih muda bisa membantu di bagian distribusi makanan, nyuci2 piring atau membersihkan toilet. Dari peserta ini pun masih ada dua tipe: yg emang seminggu committed jadi volunteer atau “volunteer tambahan”. Yang terakhir ini biasanya dibutuhkan kalo ada kekurangan volunteer. Akhirnya saya 4 kali jadi volunteer tambahan, sekali buat nge-bagi-in mangkok pas breakfast, sekali jadi tukang nyendokin keju parut, dan dua kali di “tempat basah”, nyuci piring.

45773_10150246368850720_657430719_14435000_2194347_n.jpg
Volunteering Job

Selama nyuci piring ini saya belajar dua hal: Pertama, kenapa mereka menggunakan mangkuk untuk minum, bukannya gelas. Alasannya sederhana, mangkuk lebih mudah dicuci dibandingkan gelas. Bayangkan aja mencuci 2500 mangkuk vs 2500 gelas (biasanya ada 2500 orang setiap hari selama summer). lebih gampang yang pertama. Kedua, hati-hati sama cewek Italia dan Polandia kalau mereka dekat2 air. Intinya bakalan basah. Baskom besar berisi air + mangkok + cewek italia tersenyum sambil bilang “I Love you” = siap2 basah buat siapapun yang berada di sekitar dia. Perang air yang membuat penanggung jawab volunteer bagian cuci piring berang. Apesnya, saya berada di team “baskom 2”, yang diisi oleh anak2 Polandia dan Italia yang hobby perang air. Dari 5 team, team 2 dan team 3 ini yang paling parah. Pelajaran berharga untuk memakai jas hujan kalau ikutan volunteering cuci piring, apalagi kalo ada cewek Italia dan Polandia.

Breakfast, Lunch and Dinner

Dulu setelah kebaktian di ISC, Ivonne sempet bilang “Ke Taize buat perbaikan gizi ya Nald?”. Kata2 yang totally wrong. Dulu di seminari di Roma makanannya termasuk OK punya. Tapi, di Taize makanannya termasuk horror. Pertama harus antri, lalu nunjukin kupon (serasa fakir miskin nggak sih?), lalu dibagikan makanan serasa di panti asuhan / asrama. Makanannya pun dijatah. Apesnya lagi, Taize itu bener2 desa, nggak seperti di Indonesia ada warteg/toko kecil di sekitar tempat retreat -> di Taize nggak ada apa2 di sekitar monastery, yang ada kuda atau sapi yang merumput. Melihat harga yang dibayarkan (EUR 17.5 s/d EUR 28.5 buat seminggu termasuk akomodasi), tidak seharusnya komplain, tapi makanan disana bener2 deh….. tidak akan dirindukan.

47966_10150246368680720_657430719_14434976_7760210_n.jpg
I will not miss the “Taize” food :p

Morning, Midday and Evening Prayer

Seperti makan yang tiga kali sehari, prayer-nya juga tiga kali sehari: Pagi, siang dan malam. Saat2 prayer ini semua orang berkumpul di dalam gereja untuk “bernyanyi”. Karena meskipun arti prayer adalah berdoa, Taize Prayer itu isinya adalah nyanyian lagu2 Taize.

46679_10150246366500720_657430719_14434861_1536106_n.jpg
Evening Prayer

Chants du Taize

Berkisar dari lagu paling gampang “Alleluia” yang isinya adalah kata Alleluia yang dinyanyikan dengan berbagai nada, sampai lagu2 bahasa latin / Italia / Spanyol / Prancis / Jerman / Poland yang agak ribet. Disini pula-lah saya tahu ada 22 versi lagu “Alleluia” dan 21 versi lagu “Kyrie Eleison”, gedubrak.

Di buku lagu ada at least 3 hal: not balok, lirik lagu dalam tulisan bahasa aslinya, dan lirik lagu dengan tulisan alfabet. Untunglah ada tulisan alfabet, terutama jika itu lagu Rusia atau Yunani. Pas ngeliat lirik lagu Yunani, busyet deh, ini dikasih tanda “=” sama dengan atau tanda kuadrat udah bisa jadi rumus fisika.

44323_10150246366240720_657430719_14434833_4070366_n.jpg

Tapi, lagu-lagu inilah yang membuat Taize dikenal. Satu hal yang membuat lagu2 ini gampang diingat adalah kesederhanaan lagu2 ini. Mayoritas lagu hanya terdiri dari dua kalimat dan diulang berkali-kali sehingga gampang diingat. Ketika ngobrol dengan Brother John, saya menanyakan rahasia di balik lagu Taize. Jawabannya, dia tidak tahu. Tapi brother John menceritakan bagaimana proses pembuatan lagu di Taize. Jadi dulu Brother Roger (pendiri komunitas Taize) mendapat either kalimat atau ayat dalam bahasa latin dan menugaskan salah satu brother yang jago bikin aransemen untuk bikin melodi untuk lagu tersebut. Ditest berkali2 dalam kebaktian dan jadilah satu lagu. Dari bahasa latin gampang untuk diadjust ke bahasa Prancis, Italia, atau Spanyol. Pinter juga.

Lagu2 Taize dipengaruhi dari semua aliran gereja, salah satunya dari Gereja Ortodox Yunani. Salah satu lagu Yunani yang dinyanyikan benar2 mengingatkan saya sama film Lord of The Ring (LOTR). Satu lagu ini bener2 mirip bahasa para “elves” (Legolas itu salah satu dari elves). Jangan2 Tolkien dapat inspirasi bahasa elves dari bahasa Yunani? who knows….

Lagu2 favorit dari Taize (bisa dicari di YouTube)

– Nada te Turbe

– Mon âme se repose

– Il Signore ti ristora

– Jesus remember me

– Frieden Frieden

– Exomologisthe to Kyrio

– In manus tuas, Pater

Indonesia -> Indomie-ting

Sebagai orang Indonesia, saya berusaha mencari orang2 Indonesia lain di Taize. Dari “la Morada”, Rafael (permanen dari Filipina) menyuruh saya ke “El Abiodh” untuk mencari 2 orang Indonesia lain: Ruth dan Mita. Dari “El Abiodh” -> ini semacam headquarter buat para permanen, saya dapet 2 tempat untuk mencari Ruth dan Mita – mereka adalah volunteer di Taize. Ruth gampang ditemukan karena dia satu2nya orang bertampang Asia di tenda orang2 > 35 tahun. Mita lebih susah ditemukan, meskipun akhirnya ketemu di depan La Morada karena tas “Universitas Sanata Dharma”. Akhirnya dari mereka dapet informasi bahwa ada 3 orang brother asal Indonesia: Brother Francesco, Brother Andre dan 1 Brother lagi yang ada di Chili. Plus tiga orang volunteer yang akan berada di Taize selama 3 bulan dan dua orang “permanen” yang kurang lebih sudah setahun disana. Dunia itu ternyata kecil, Adolf, salah satu volunteer dari KWI ternyata alumni PL 2003, dan temannya Dadiet (saudara saya) yang alumni PL 2003 juga. Via (salah satu peserta) ternyata temannya Sonny dan Mia, anak2 Delft. Dua orang permanen lainnya Raymon dan Yoseph tampaknya tinggal selangkah lagi menjadi salah satu Brother di Taize karena mereka sudah sekitar 1 tahun berada disana.

45110_10150246370125720_657430719_14435082_3093266_n.jpg
INDOMIE-ting

Ternyata para “permanen” dari Indonesia ada pertemuan rutin setiap Kamis malam. Lima permanen dan dua peserta dari Indonesia (yang lain Via dari Leuven). Pertemuan malam sekaligus makan malam kedua karena Yoseph masak nasi goreng dan saya bawa Indomie goreng. Indomie goreng ternyata bisa menjadi pemersatu orang2 Indonesia di luar negeri (selain sambal ABC). Ngobrol2 bareng anak2 permanen membuka mata terhadap beberapa hal: Taize tidak selalu aman, bbrp minggu sebelumnya ada pencurian (bener juga kata Reverend Waltraut), tips and trick untuk membuat pulsa internet anda tidak berkurang, kenapa mereka ke Taize: ternyata di Taize hanya kerja 4 jam per hari, makanan anak2 permanen lebih enak dibanding para peserta, prasmanan lagi. Pantes aja mereka sanggup bertahan lama.

Brothers of Taize

Dari mereka, dan juga dari ngobrol2 sama Brother Francesco (plus ngobrol sama Gerda), ada jalur yang biasanya ditempuh para brother disini sebelum memutuskan jadi brother. Pertama mereka jadi volunteer dulu selama tiga bulan. Kalo cocok, mereka kembali lagi menjadi permanen selama setahun. Permanen ini bisa cewek bisa cowok. Yang cewek kalo tertarik bisa gabung di kesusteran “Sister of Amugny” dan yang cowok kalo cocok bisa jadi Brother. Lucu juga karena jarang di kalangan Protestan tradisi hidup mem-biara seperti ini. Meskipun berkembang ke arah oikumene (tidak melihat asal gereja), tetap aja agak aneh ngeliat kristen non-katolik ada yg jadi brother.

45955_10150246366355720_657430719_14434847_5472709_n.jpg
Evening Prayer

Brother2 disini jubah-nya putih. Ini mengingatkan saya sama para biksu2 di Thailand yang Jubahnya Oranye. Udah gitu tiap evening prayer biasanya ada “chat” sama para brother ini, terserah mau nanyain apa aja. Ini lagi2 mengingatkan saya sama “Monk Chat” sama foreign monk di salah satu Kuil di Thailand. Sama2 bule, bedanya yang ini Kristen dan jubahnya putih, yang satu Budha dan jubahnya oranye. Sama Brother Taize saya menanyakan soal 1) Kenapa banyak anak muda datang ke Taize, 2) apa rahasia di balik lagu taize, dan 3) salib di evening prayer hari jumat melambangkan apa. Sedangkan sama Foreing monk-nya Thailand saya justru berdiskusi tentang Yesus (huahaha…. mestinya ngomong tentang Budha ya? :P). Dari Brother Taize ga dapet souvenir, dari Foreign Monk-nya Thailand dikasih 1 buku budha + 1 CD Budha (yang saya kasih ke Erwin, temen saya yg beragama Budha ketika balik ke Indo).

Bible Study

Tiap senin s/d sabtu jam 10, peserta berusia 25-35 ada meeting di ruang 10. Isinya: membahas tentang satu pasal per hari dari Injil Yohanes selama 1 jam. Dari sini masih dikasih PR berupa pertanyaan2 yang akan didiskusikan oleh bible study group kami di sore harinya (jam 15.00).

45127_10150246370010720_657430719_14435069_1687343_n.jpg
Bible Study Group

Bible study group isinya biasanya 8 orang. Saya menduga bahwa isinya banyak orang2 seperti Ronald Halim (temen di Delft yg terkenal religius). Bener aja, 4 dari 8 anggota group saya adalah youth leader/aktivis di gereja-nya masing2. Dua anak Oxford, 1 anak Arnhem dan 1 anak Portugal. Anggota lainnya termasuk normal, saya, 2 orang Aachen dan 1 anak Bonn. Lucunya ada kelompok yang isinya lebih banyak Atheis, seperti yang dialami sepupunya Gerhard (anak Arnhem). Seru juga kayanya mendiskusikan isi injil Yohanes sama Atheis. *)

*) Ternyata Taize menerima siapapun, regardless their religous background. Ketika workshop di dalam gereja salah satu peserta memulai dengan “Assalammualaikum”. Mendengar kata2 ini di dalam gereja sama aja seperti mendengar kata shalom di dalam mesjid/wihara/pura hahaha…..

Hope

Satu minggu di Taize pula-lah yang menyadarkan saya bahwa masih ada harapan untuk kekristenan di Eropa. Dari kebaktian gereja-gereja yang pernah saya masuki, kebanyakan hanya berisi kaum2 tua. Kecuali gereja2 yang isinya international students, ini masih banyak anak mudanya. Di Taize inilah saya melihat begitu banyak anak muda yang eager to learn about Christ dan jumlah mereka lebih banyak dibanding kaum tua, suatu hal yang jarang sekali (biasanya yg tua lebih banyak).

Clare, team leader bible group kami mengatakan bahwa di Taize ini dia merasa dikuatkan. Di gereja-nya untuk kelompok umur dia hanya ada beberapa orang (umur 20-an). Disini banyak banget anak2 muda, meskipun yang kelompok umur 16-18 tahun sering bikin kami pusing di Taize saking ributnya dan suka bikin hal2 berbahaya (e.g. manjat tiang utama tenda besar, kaya panjat pinang aja, nyiram2 orang), at least masih ada harapan …..

45988_10150246377725720_657430719_14435209_5260683_n.jpg