“Tre Fontane – Three Fountains, Menurut legenda, di tempat ini St. Paul dipenggal atas perintah Nero, setelah dipenggal kepala St. Paul memantul tiga kali di bumi, lalu muncullah tiga mata air di tiga tempat tersebut, Tre Fontane” demikian penjelasan Frater Gabriel mengenai sejarah dari nama Tre Fontane.

18550_390135925719_657430719_10423768_273397_n.jpg
Tre Fontane – One of the fountains

Di tempat inilah berdiri Chiesa del Martirio di San Paolo, sebuah gereja yang jauh dari jangkauan para turis. Di dalam gereja hanya ada kami berlima dan seorang suster yang sedang berdoa. Suasana sangat hening sehingga kami dapat mendengar suara gemericik air dari three fountains ini. Sungguh tempat yang cocok untuk mencari kedamaian dan berdoa. Melongok ke pojok, disini ada sebuah ruang pengakuan dosa, dalam tiga bahasa: Italiano, English, and Espanol. Sakti jg pastur disini, bisa tiga bahasa. Pengakuan dosa ini pula yang menyebabkan Frater Gabriel bercerita bahwa yg Pastor yg menerima pengakuan dosa itu berat sekali bebannya, karena apapun yg diaku dosa sama pendosa tersebut harus tersimpan rapat2. Even kalaupun tentara menginterogasi mereka, mereka harus tutup mulut. Berat juga buat pastor Italia yang punya jemaat mafia.

Undangan makan siang di Seminari

Ketika itu, kami dibawa oleh Frater Gabriel keliling sekitar daerah Laurentina. Siang itu kami ber-empat dijamu makan siang di seminari tempat Frater Gabriel belajar, Seraphicum Pontificia Facolta Teologia San Bonaventura yang terletak di via del Serafico.

Hari itu, setelah sepagian keliling St. Peter Square dan museum Vatican, kami menuju seminari tempat Frater Gabriel belajar. Undangan makan siang dari frater malam sebelumnya kami terima dengan antusias, kapan lagi makan di seminari? jarang2 kan…. Jam 12.30 pun kami telah sampai di stasiun Laurentina, perhentian terakhir Metro Line B-nya Roma. Sepanjang perjalanan ke seminari, ada sisi lain kota Roma yg kami lihat, banyak pengemis, ibu2 dan anak kecil, kadang team kadang sendiri. Plus payung Garuda Indonesia-nya Ronald Halim rusak di daerah ini *berita tidak penting haha*.

Lima belas menit. 12.45, kemudian kami tiba di seminari tsb. Janji makan siang-nya jam 13.00, berarti kami lebih awal 15 menit. Bagus-lah, nggak telat. Frater Gabriel tak lama kemudian keluar untuk membawa kami ke Mensa-Aule, alias kantin seminari. Sudah sekitar 25 orang rohaniawan katolik duduk rapih di meja panjang. Kami sempat duduk bersama mereka, sebelum dipindahkan ke meja khusus untuk kami.

18550_390135795719_657430719_10423759_2013924_n.jpg
Rome – Undangan makan siang di Seminari

Makan siang ala seminari lumayan juga, dua ronde. Ronde pertama pasta + salad. Ronde kedua ikan + smashed potato + bayam. Plus di meja terhidang 1 botol anggur putih, 1 botol anggur merah, 1 botol air mineral dan buah2an. Pantes aja para rohaniawan katolik umurnya panjang2 dan jarang ada yg kena stroke atau serangan jantung di usia 40 atau 50an tahun. Mereka banyak yang mencapai usia 80an tahun dan masih sehat. Usia 60 tahun masih dianggap muda untuk golongan ini. Terang aja, makanannya aja teratur dan bergizi seperti ini. Jadi pengen ngerasain tinggal di seminari seminggu, pengen tahu aja gaya hidup mereka seperti apa.

18550_390135820719_657430719_10423762_5675352_n.jpg
Foto Bareng Frater Thomas

Selesai makan siang, kami ngobrol2 dengan Frater Thomas. Beliau berasal dari USA dan sudah beberapa tahun terakhir ini menetap di Italia. Sementara di dapur Frater Gabriel sibuk membuat cappucino buat kami di gelas kecil khas Italia. Tampaknya ditambah beberapa tetes alkohol biar enak. Setelah itu, kami dikasih oleh2 berupa Lemoncello, minuman beralkohol khas Italia. Bahkan botolnya pun berbentuk orang yang lagi main cello.

18550_390135840719_657430719_10423763_3989134_n.jpg
Frater Gabriel and Cappuccino

Gombal Muchio

Selesai ngapuccino, kami pun melangkah keluar sekitar 2.20, menuju Fermata Laurentina (Serrafico). Sambil menunggu bus, Frater Gabriel membagi informasi tentang…. orang Italia. “Entar kalo udah mulai teyeng teyeng muncul kata2 “Ti Viglio Bene” maksudnya I love you… itu gombal muchio semua itu. Iya, abis I love you dibawa ke kebun… makanya gombal muchio” kata Frater Gabriel tentang gombal-annya cowok2 Italia, terutama ke cewek2 Indonesia.”Kalo ada laki2 Italia keliatan baik, terus tiba2 ngomong ‘Ti Viglio Bene’ anggap aja itu kentut, karena bau sekali, kalo udah angin lewat kan lewat gitu” tambah Frater Gabriel.”Cara mereka untuk ngerayu2 itu ya, flirting2″ timpal Ramanda. Dari Frater Gabriel pula-lah kami mengetahui kalau cewek italia udah suka sama cowok, main hantam saja, ga peduli cowok itu
pastur atau frater atau romo, tampaknya pengalaman pribadi hahaha…. Busyet deh.

Tre Fontane

Karena bus tak kunjung datang, kami akhirnya jalan menuju ke Abbazia delle tre fontane. Sepanjang jalan suasana natal dan tahun baru sangat terasa, banyak tulisan “Buon Natale e Felice Anno Nuove”. Disini, tempat yg pertama kali kami kunjungi adalah sebuah bangunan, tempat Priogione di San Paolo, alias penjara-nya St. Paul.

18550_390135880719_657430719_10423765_2060337_n.jpg
Rome – Prison of St. Paul

Di ruang bawah tanah inilah salah satu tokoh penting penyebaran agama kristen di Roma dipenjara. Ruangannya termasuk kecil, tempat St. Paul menghabiskan hari2 terakhirnya sebelum dipenggal atas perintah kaisar Nero. Di masa2 awal kekristenan, sudah wajar untuk mati dengan cara yg tidak wajar, dipenggal, disalib, diajak bertarung sama singa. Berat juga ya jaman itu. Ada altar kecil di atas penjara ini, seperti biasa, colorful seperti gereja2 italia lainnya.

Selesai kunjungan ke penjara, kami menuju Chiesa del Martirio di San Paolo. Ada papan kecil bertuliskan “This path leads to the Church of St. Paul’s martyrdom. In this place, according to tradition, Paul of Tarsus gave his life for Jesus Christ in the year 67 a.C. Silence Please”. Di ujung path inilah tre fontane ini berada. Tempat yg menurut pendapat pribadi saya lebih bagus dari Sistine Chapel sekalipun.

Gua Maria Hijau

Dari Tre Fontane, Frater Gabriel membawa kami ke “Grotta Della Madonna Delle Tre Fontane” alias Gua Maria yang terletak di seberang jalan raya. Masi di via Laurentina, hanya saja yg ini bernomor 400. Hal yg membuat Gua Maria ini berbeda adalah warnanya hijau, kan normalnya Gua Maria berwarna biru. Tiga wanita sedang berlutut, berdoa di depan Gua Maria ini. Di atas Gua Maria ada tulisan “Sono la vergine, della revilazione”, artinya “Saya adalah perawan dari pewahyuan”. Ceritanya, Bunda Maria menampakkan diri tahun 1947 di tempat ini di hadapan seorang bapak pemain bola (???), saat2 ketika Paus ditentang.

18550_390135945719_657430719_10423769_4312507_n.jpg
Rome – Green Ave Maria

Frater Gabriel kemudian membawa kami ke sebuah lorong yang penuh ditempel ucapan terima kasih dari para umat yg doa-nya terkabul. Ada yg kasih potongan rambut panjang disertai foto2, pernak pernik kecil, ubin, pokoknya lorong ini dari atas sampai bawah tidak ada yg luput dari tempelan2 ini, bahkan ada yg dari tahun 1970, sudah 39 tahun disitu, gile. Gua Maria hijau itulah tempat terakhir yg ditunjukkan Frater Gabriel. Jam 15.40 kami sudah menunggu bus di Fermata Laurentina – Tre Fontane. Tiga jam lebih sudah berlalu sejak kami tiba di stasiun Metro Laurentina, lalu makan siang, ke penjara St. Paul, ke tempat St. Paul dipenggal dan tiga mata air muncul, ditutup dengan Gua Maria berwarna hijau. Sama Frater Gabriel kami mengucapkan sampai jumpa malam nanti, sehabis misa malam natal. Lima menit setelah menunggu, bus 761 datang, transfer sekali di Fermata Laurentina (Dourhet) buat ngambi bus yg menuju stasiun EUR Fermi. Balik menuju Christina Hotel di dekat stasiun Roma Termini, siap2 untuk ikutan misa malam natal beberapa jam lagi.