Vatican, 24 December 2009

“Kalian sampai mana? Saya sudah di St. Peter Square. Antrian sudah panjang. Kalau belum masuk antrian, saya ikut antri, kalian nanti langsung ke tempat saya antri. Ok?”, SMS dari Romo Widya jam 19.25 malam itu membuat kami mempercepat langkah dan berusaha menghubungi Romo Widya.

18550_390166700719_657430719_10424430_1930616_n.jpg
Vatican – St. Peter Basilica – Nantri bareng Romo Widya

Sehari sebelumnya ketika bertemu di Romo Widya KBRI Vatican, kami janjian buat ikutan misa malam natal di Vatican bareng2. Tawaran yg menarik, kapan lagi ikutan misa natal ditemani seorang Romo? Tuker2an nomor telepon, dan berakhir dengan ngantri bareng di St. Peter Square.

Antrian

Sepuluh menit setelah SMS diterima kami berhasil menemukan Romo Widya di dekat pohon natal raksasa di tengah2 St. Peter Square, di bagian antrian bagian belakang. Di belakangnya tampat sekelompok suster2 juga lagi ngantri. Antriannya gila2an, terpanjang yg pernah saya lihat. Kayanya kalo ditarik garis lurus, bisa 500-an meter. Ketika saya jalan dari ujung depan antrian ke ujung belakang antrian butuh sekitar 6-7 menit. Kerasa kan panjangnya? Meskipun misa malam natal baru akan dimulai jam 10 PM, orang2 yang di barisan depan rasanya sudah antri dari jam 4PM. Demi mendapatkan spot bagus di dalam St. Peter Basilika.

Spot bagus = tempat duduk deket lorong (aisle). Mereka yg di depan itu bela2in untuk dapat tempat di aisle, karena Paus akan lewat aisle ketika menuju ke altar utama, demikian penjelasan Romo Widya mengenai tempat strategis di dalam gereja. Artinya mereka dan Paus hanya akan berjarak sekitar 2 meter ketika Paus lewat aisle. Kami yg ngantri sekitar jam 19.30 kemungkinan akan dapat tempat di bagian belakang. Antrian akan statik karena pintu masuk gereja baru akan dibuka jam 20.30 dan misa akan dimulai jam 22.00.

38672_10150228194765720_657430719_13914811_7308558_n.jpg
Vatican – Antrian Panjang

Antrian yg panjang membuat kami membayangkan andai ini di Indonesia, pasti udah ada orang yg jualan kerak telor, mie tek-tek atau sekoteng. Sayangnya ini di Italia, dan nggak ada tukang jualan makanan buat menghilangkan rasa bosan ngantri. *Sambil ngebayaning siapa tahu ada yg bawa gerobak jualan pizza*.

Sambil ngantri banyak informasi yg di-share Romo Widya tentang Vatican, seperti pohon natal di tengah2 St. Peter Square yg sejak 1984 selalu aja ada yg nyumbang, tahun ini dari Belgia. Lalu tentang titik api St. Peter Square, tempat dimana kita bisa ngeliat pilar-pilar itu seolah2 hanya satu pilar (instead of 4 pilar), karena pilar2 itu dibuat dalam jalur elips. Plus titik tempat Pope John Paul II ditembak di tahun 1980an.

Antrian mulai bergerak maju jam 20.30, sambil sesekali terdengar teriakan “huuuu” ketika ada orang yg ketahuan nyelak antrian. Sebagai orang Indonesia, kami berusaha menyelak antrian bagian depan. Dua orang bikin feasibility study buat nyelak antrian, yang sayangnya susah sekali, karena kami berlima. “Kalau sendiri gampang tuh nyelak antrian” kata Romo Widya. Tidak hanya antrian bagian depan yg diserobot, suster2 ketika awal mengantri ada di belakang kami sudah lebih jauh dibelakang, sekarang ada 2 wanita prancis (ibu-anak) yg dilihat lagak dan gaya berpakaiannya tampaknya berasal dari golongan elite dan pasangan paruh baya dari Amerika. Suster2 ini tampaknya terlalu baik dan membiarkan orang lain nyelak antrian. Wanita prancis ini ketika melihat tiket hijau kami, malah bertanya dimana membeli-nya. Mereka ngantri tanpa tiket rupanya, berani bener. Hokinya buat mereka, pasangan USA ini punya 2 tiket extra yang akhirnya diberikan kepada dua wanita Prancis ini.

Pemeriksaan Tiket

Jam 21.20, akhirnya kami sampai di ujung depan antrian. Ada pemeriksaan tiket dan body search dengan sistem buka tutup plus ketemu 1 keluarga Amrik yg ngajak foto bareng. Lucunya, begitu selesai body search, semua langsung lari masuk ke gereja, sambil ngeliat orang2 tanpa tiket di balik “pagar” berteriak “please…. please….. give me your ticket”, kasihan, tp sebelum bener2 masuk ke dalam gereja, tiket itu sangat penting buat kami karena ada berlapis2 pemeriksaan tiket hijau ini.

18550_390166645719_657430719_10424425_4634408_n.jpg
Tiket Hijau penuh perjuangan

Pemeriksaan tiket-nya pun hanya dilihat sekilas. Tangan menggenggam tiket sambil lari dan diperlihatkan sekilas ke petugas. “Tiket ini disimpan saja, tahun dpn rasanya masih bisa dipakai” guyon Romo Widya. Haha asal warnanya sama2 hijau, rasanya tahun nggak akan dilihat. Alangkah enaknya kalau punya tiket merah, tiket untuk kalangan diplomatik dan rohaniawan. Mereka mempunyai jalur khusus yang bisa dibilang tanpa antrian (dan belakangan kami tahu kursi2 di barisan depan direserve buat tiket ini). Tiket kami hanya tiket hijau, untuk kalangan awam. Romo Widya jg dapat tiket hijau karena telat mesan tiket merah. Hanya frater gabriel dengan “jubah kebesaran” bisa masuk dengan mudah. Sumpah deh, jadi pengen jadi nyamar jadi Frater dengan jubah dari Ordo Serikat Yesus misalnya hehehe….. tanpa antrian 😉

Di Dalam St. Peter Basilika

Begitu masuk ke dalam gereja, pintu masuk utama sudah ditutup, dan kami pun diarahkan ke bagian kanan. Sekilas ngeliat Swiss Guards (Pasukan Pengawal Paus) dengan jubah warna-warninya. Pengen difoto, tapi berhubung lagi buru2, ditunda dulu. Jadi kita akan masuk dari sayap kanan St. Peter Basilika. Suasananya sudah mirip orang2 rebutan masuk stadion konser. Halah….. mau liat misa malam natal serasa mau ngeliat konser. Pas masuk ke bagian dalam St. Peter Basilika, altar utama begitu dekatnya. Jam 9.35 PM, akhirnya dapet tempat juga di dalam Basilika. Pheewwww….

18550_390166715719_657430719_10424432_3110366_n.jpg
Vatican – St. Peter Basilica

“Kita beruntung dapat tempat di dekat tahta Paus”, kata2 Romo Widya ada benarnya, 30an meter di depan kami berdiri altar utama di St. Peter Basilika, tempat Paus akan memimpin misa malam natal. “Emang rencana Tuhan itu ada deh, kalo kita ngambil di depan, belum tentu kita ada disini” kata2 Ramanda menyinggung tentang rencana kami yg gagal buat nyelak antrian. “Itu hikmahnya nggak nyelak antrian ya?” timpal saya. Kalau kami benar2 nyelak antrian, belum tentu kami dapat posisi strategis ini.

18550_390166755719_657430719_10424435_3327057_n.jpg
Vatican – St. Peter Basilica – Christmas Eve Mass

Lalu sambil duduk, kami masih mencari posisi yg lebih depan lagi, ternyata masih ada hahaha…. akhirnya setelah pindah sekitar 2-3 kali, kami dapat tempat yg jauh lebih dekat lagi ke Altar Utama, hanya sekitar 20-an meter. Hoki… hoki…. Pakai kamera saku Ronald Halim, muka Paus kelihatan dengan jelas. Nice…

18550_390166665719_657430719_10424427_1583115_n.jpg
Vatican – St. Peter Basilica – Ketika Paus begitu dekat

Kalau mau bayangkan misa malam natal seperti yg ditayangkan di TV -> khidmat, anda akan kecewa. Suasana di dalam Basilika ramai banget. Semua orang di dalam sibuk foto2 + video-in. “Isi basilika ini turis semua, orang Roma sendiri jarang yg ikutan ini” ujar Romo Widya. “Nanti kalau kamu di bagian belakang, liat deh orang2 pada naik bangku pas Paus lewat di lorong, biar bisa ngeliat Paus”. Saat itu saya merasa, menjadi Paus seolah menjadi superstar. Ketika beberapa jam sebelumnya kami mampir ke Museum Vatican, banyak souvenir bergambarkan Paus.

Misa Malam Natal

Meskipun misa dimulai jam 22.00, lagu2 sudah diperdengarkan sejak kami masuk. Sempat riuh sebentar ketika Paus masuk (ternyata itu gara2 ada cewek yg loncat ke arah Paus, kami tahunya belakangan). Misa ini adalah misa paling beda dari puluhan misa yang pernah saya ikuti. Pakai bahasa Latin dan Italia, kedua bahasa yang tidak kami mengerti sama sekali (well, kecuali Romo Widya). Sehingga pertanyaan standard selama kebaktian “sekarang halaman berapa?” hahaha….

40445_10150228193615720_657430719_13914757_199531_n.jpg
Vatican – Misa Malam Natal – Isinya Turis semua

Baru kali itu saya melihat misa yang dihadiri oleh orang2 yang (hampir) semua membawa kamera. Ini misa atau press conference ya? Bener juga isi basilika turis semua. Diantara kami berlima, hanya Romo Widya yang kalem, tidak foto2. Kukuh dan Ronald Halim sibuk foto2, Ramanda jarang foto karena untuk trip italia ini dia hanya bawa memori card 256 MB (gileee), sedangkan saya sibuk memvideo-kan ketika awal2 Paus masuk. Untungnya, orang2 hanya berisik dan foto2 ketika Paus masuk, ketika misa sudah dimulai, umat mulai tenang. Posisi Paus pun kadang2 susah dicari. “Itu yang ada lilin2 gerak2” kata Ronald Halim ketika saya menanyakan dimana posisi Paus.

18550_390166785719_657430719_10424438_909100_n.jpg
Vatican – St. Peter Basilica – Swiss Guards

Ternyata di misa pun ada yang bisa pingsan. Satu orang India pingsan dan dirawat sama Swiss Guard. Kakinya nempel di dinding dan tiduran. Udah itu ada dua cewek yang mondar-mandir nggak jelas, sampai diamankan sama guard.

18550_390166670719_657430719_10424428_2345514_n.jpg
Vatican – St. Peter Basilica – Christmas Eve Mass

Pengirim Paus umumnya memakai atasan putih dan bawahan antara hitam atau merah. Entah apa maksudnya. Menjelang akhir misa ada komuni. Ikutan nggak? ikutan aja deh, kapan lagi komuni misa malam natal di Vatican? Dan yang jaga komuni galak dan curigaan melulu sama orang2. Waktu itu nggak tahu kenapa (kami tahunya belakangan bahwa Paus diserang di awal misa). Ketika misa berakhir menjelang tengah malam, umat langsung bubar, dan kamipun melangkah ke tahta paus untuk…. Foto2…. hehehe…. Sambil berjalan ke luar, kami melewati kursi VIP. Rupanya Ibu Lucy dan rekan2 KBRI Vatican duduk di kursi VIP ini. Enak juga ya jadi diplomat :D.

18550_390166780719_657430719_10424437_2267926_n.jpg
Vatican – St. Peter Basilica

Ketika Paus Diserang

Dalam perjalanan keluar kami bertemu Frater Gabriel yang bilang “Kalian tahu tadi ada cewek umur 20 tahun nyerang Paus?”. Informasi yang baru dan mungkin menjelaskan kenapa para guard bawaannya curigaan melulu ke orang2. Kayanya tadi pas suara ribut2, itu gara2 Paus jatuh. Salutnya sama Paus, meskipun udah tua dan jatuh, masih bisa memimpin misa, kardinal yg jatuh barengan terpaksa dirumah-sakitkan karena patah tulang. Udah tua, patah tulang lagi… nasib kardinal itu emang lagi apes.

Keluar Basilika

Buat keluar Basilika pun rame banget, serasa di PRJ. Kami sempat2 ngobrol2 dulu di pintu keluar sama Frater Gabriel membahas kejadian sepanjang misa ini. Lalu selesai ngobrol baru beneran keluar Basilika. Sampai di luar hujan rintik2. Udah gitu ada sekelompok suster yang nyanyi lagu “Gloria in Excelsis Deo” + lagu2 lain. “Wah caper ini” kata Kukuh. Ketika ada dua orang berjubah jalan, Frater Gabriel bergurau, “Mereka itu kardinal dari gereja Orthodox, emasnya lumayan tuh kalau dikiloin”. Aksesoris mereka lumayan juga tampaknya hehehe. Di luar Kukuh sibuk nyari spot bagus buat foto bareng, untuk kenang2an hari ini. Jam sudah menunjukkan 00.30, tgl 25 Desember. Merry Christmas 🙂

38519_10150228192335720_657430719_13914713_5020861_n.jpg
Vatican – Foto bareng di akhir misa

Pulang ke Termini

Untunglah malam itu masih ada bus malam untuk melayani para jemaat yang baru pulang dari Misa. Kami berpisah dengan Romo Widya (atau Frater Gabriel ya?). Yang jelas salah satu dari mereka menemani kami menunggu bus yang ke arah Roma Termini. Di Fermata Via Porta Cavalleggeri itu masih ada tiga bus malam yang beroperasi, n5, n15 atau n20. Salah satu bus itulah yang akan membawa kami ke stasiun Roma Termini. Bus datang jam 1.00, dan dalam sekejab jadi lumayan penuh, say goodbye to Romo Widya (atau Frater Gabriel?) yang menemani kami menunggu bus, dan mungkin akan bertemu di lain waktu karena tgl 25 Desember siang kami akan berangkat ke Florence.

Vatican dan Roma termini berjarak 5 KM, dan ditempuh bis ini dalam 25 menit karena bus mengambil jalan memutar. Di Roma Termini, ketika kami turun benar2 hujan lebat. Nggak kebayang gimana kalo tidak ada bus malam. Ketika merencanakan ikut misa malam natal, kami sudah siap2 pulang jalan kaki, estimasi waktu 1 jam dari Vatican (5 KM kurang lebih 1 jam jalan kaki). Ada bus malam, bless in disguise.

Pas jalan ke Christina Hotel (tempat kami menginap) di tengah hujan deras, toko pizza langganan kami masih buka. Langsung masuk daripada kehujanan di luar. Rupanya kami pelanggan terakhir, karena setelah melayani kami, toko pun tutup. Rajin juga toko pizza ini, buka sampai jam 1.45 AM di hari natal. Finally jam 1.50 AM sampai ke hotel, basah kuyup dan sudah “sarapan”.