Menjelang tengah malam di Terschelling (satu dari Frisien Islands, semacam pulau seribu buat Belanda), teman2 HUTAC (Huygens Talent Circle) mengelilingi “api unggun” ala Belanda. Saya naik ke atas meja dan berusaha mengambil moment ini. Suasana anak2 saat itu ceria sekaligus capai setelah mengikuti acara SKiLLland. Itu hari ke-dua dari tiga hari weekend trip yg di-organized oleh HUTAC. Acara puncaknya adalah hari itu, training mengenai “effective communication” dan hari sebelumnya kami mengikuti Oerol Festival di WesterKeyen.

Ketika itu saya mengambil foto teman2 yang lagi mengelilingi “api unggun” dari atas meja, untuk mendapat helicopter view. Turun dari meja, iPhone saya nyalakan bentar. Ketika itu, karena listrik susah di tempat camping (kami camping di Terschelling, semacam pulau seribu-nya Belanda) iPhone hanya dinyalakan 5 menit u/ cek email – menghemat batere) dan diulangi tiap beberapa jam. Kondisi batere udah kritis, 15%.

Shocking News

Biasanya saya cuman nge-cek email (dan FB) plus ngeliat ada sms/miskol atau nggak. Kali itu saya ngeliat YM, yang belakangan jarang dibuka karena konsen thesis). Ada pesan dari Garry dan Julian (flatmate). Julian nanya “punya coklat ngga?” dan yang dari Garry bikin shock.

Garry: Nal oma dei meninggal
Garry: Telp mami gih,
Garry: Pagi ini jam 1.30
Garry: BUZZ!!!

Di YM, sent-nya 19 Juni 00.57 waktu Belanda, artinya jam 05.57 WIB atau 06.57 WITA. Sebuah pesan yang cukup membuat weekend yang ceria (ditengah2 hectic-nya thesis) menjadi gloomy. Reaksi saya

Ronald: Hah? (19 June 23.59 waktu Belanda).

Ya, saya tahunya setelah 24 jam massage itu dikirim. Waktu itu sempet nyesel jg kenapa ikutan HUTAC event. Tujuan awal mau refreshing di tengah2 hectic-nya thesis. Mau re-charged. Tapi who would expect this kind of news? kata2 Fani pas chatting ada benarnya juga “ya sudahlah.. kalo tahu sehari sebelumnya kan jadi ngga enjoy campingnya.. mungkin oma lu ngga pengen lu ngga enjoy tuh camping”. Well, she’s right. Nothing I can do from Terschillingen.

Hubungi Tondano & pemakaman

Berhubung lagi kalut, saya masuk ke tenda dan berusaha menghubungi Jakarta. Telpon rumah nggak diangkat, telpon HP mami nggak diangkat, telpon HP Garry dan Papi, sami mawon. HP cadangan yang baterenya 100% nggak ada pulsa (lesson learned: selalu isi pulsa setiap saat), artinya cuma iPhone harapan buat berkomunikasi. Akhirnya kirim massage ke Jakarta via SMS, facebook dan email. Intinya pengen tahu situasi terakhir.

Me: Sms gw gar, atau email. Gw lg ada acara sama pemberi beasiswa. Kemping di pulau. Komunikasi terbatas. Hp gw ada 2, +31644186265. Gw minggu pagi ini buru2 balik ke delft. Sent 20 June 2010 jam 00.15 waktu Belanda.

Rencana awal, besok pagi2 naik ferry paling pagi ke daratan Belanda, ke Delft (Terschelling – Delft butuh waktu 6 jam in total) dan hubungi Tondano. Menunggu langkah selanjutnya, apakah perlu ke Tondano atau tidak (mau telpon Indo dulu, nanya baiknya bagaimana). Saya berpikir Tante Esthy masih di Ceko, jadi mungkin Oma dikubur nggak cepet2 (ternyata salah, Tante Esthy kayanya lagi di Indonesia).

Berhubung pas KungKung dan Popo (kakek-nenek dari pihak bokap) meninggal, saya dateng, masa Oma Dei meninggal nggak dateng? karena itulah saya sms Mami “Mami, oma Dei kata garry meninggal? Aku terima kabarnya hari minggu jam 05.00 WIB. Rencana ke manado kapan? Aku cari pesawat balik ke Indonesia dulu ya.” sent 20 June 2010, jam 00.13. [Pemikiran awal: mungkin seminggu setelah meninggal baru dikubur, tunggu Tante Esthy yg (maybe) lagi di Ceko]

Berhubung tahu iPhone akan kolaps batere-nya bentar lagi, kirim SMS lagi “Tadi nelepon jakarta nggak diangkat2 mi, tolong telepon ke +31644186265.. Batere ini hampir habis. Aku pas yerima kabar lagi di luar Ada acara sama pemberi beasiswa. Minggu pagi aku langsung pulang ke Delft.” sent 20 June 2010 jam 00.46. Ternyata ada salah ketik. No telpon salah, sms berikut “No telponnya +31644186265, yang tadi salah ketik”. Selesai kirim SMS, saya ngomong ke Yenni, salah satu board HUTAC bahwa saya bsk akan balik pagi2, nggak siang seperti jadwal (akhirnya pulang siang karena ada berita dari SMS mami).

Jawaban dari mami datang jam 02.47 AM (20 June 2010). “Nal, ga usah pulang, soalnya dikubur hari ini, oma sangat bangga kalo ronald telp or kirim postcard, ditunjukkin ke temennya, nanti aja kalo pulang jkt mampir ke tondano kuburan oma”. Oma akan dikubur hari itu? cepat sekali, kirain akan seminggu lagi dikubur. Jawaban dari Essa via FaceBook keesokan harinya cukup menjelaskan hal tsb.

“Hi Nal,, acara penguburannya udah kemaren, oma mang di formalin, tapi karena anak2 udah ada semua, keputusannya langsung dikubur kemaren aja… ntar nanti ada video n foto2 mungkin mo di bawa Gerry, udah gitu acaranya bagus banget…. ”

Telepon dan firasat

Beberapa tahun terakhir ini, saya tahu kondisi Oma Dei menurun. Sering sekali saya dapat kabar bahwa Oma Dei dilarikan ke Rumah Sakit. Pas nelepon Oma Dei, sering kelihatan bahwa kondisinya menurun. Telepon2 terakhir, saya ngomong A, oma Dei jawab B, udah nggak nyambung. Dan yang bikin khawatir, di salah satu percakapan telepon, oma menyinggung “lulus kapan? belajar yang rajin ya, mungkin Ronald udah nggak akan bisa ngelihat oma lagi”. Firasat? maybe, tapi saya dulu nggak berani ngomong soal percakapan ini ke mami + papi. Beberapa hari sebelum camping, saya mimpi tentang kematian, tampaknya keluarga dekat, tapi ketika bangun lupa siapa. Ternyata itu Oma Dei.

Chatting

Firasat akan nggak bisa ngeliat Oma lagi sempat jadi bahan diskusi ketika chatting sama Fani. Kakak-nya sempat masuk rumah sakit ketika dia lagi tugas di Mexico, dan ketika itu saya sempat menyinggung soal Oma dilarikan ke rumah sakit (untuk kesekian kalinya). Chatting tentang suka duka berada di luar negeri.

Actually I feel bad coudn’t come to Oma Dei funeral, karena ketika kungkung dan popo meninggal, saya dateng. Ketika pagi ini chatting sama dia, kata2 Fani ada benarnya juga “yah loe kan waktu itu cukup dekat posisinya sekarang kan hampir 2/3 dunia. gw rasa yang meninggal gakan keberatan kok. yang penting kan care pas hidup, bukan setelah meninggal”. She’s right. Kirain oma akan dimakamkan 1 minggu dari waktu meninggalnya (ternyata cukup cepat dikuburnya).

Pemakaman yang lumayan cepat rasanya ada benarnya. Anak-anak oma Dei sudah lengkap di Tondano. Cucu-cucunya? dari total 9 orang. 4 memang tinggal di Tondano (Essa dan adik2nya), yang lain? William terakhir saya denger ada di Afrika Selatan. Alexandra di Prague. Hannah terakhir saya dengar di Valencia (dan mau pindah ke singapore buat kerja), plus saya di Belanda, Garry di Surabaya. Garry dan Hannah akhirnya sampai ke Tondano. Cucu: 6 of 9 di Tondano (67%), Anak: 3 of 3 di Tondano (100%).

William, Alexandra dan saya berada di benua yang lain. Hannah ternyata sudah ke singapore tgl 15 Juni. Transit di Praha (kayanya dari Valencia). Hannah kayanya kecapek-an, terlihat dari status FB dia “no more drama!!! 7 flights in 2 weeks😦 ….Saturday at 7:52pm.” It must be hard for her, both physically and mentally. Belum lagi jet-lat karena flight lintas benua.

Koleksi Prangko

Ketika suatu saat menelepon ke Tondano, oma sempet menyinggung bahwa prangko di kartu pos yang saya kirim sering diminta teman-temannya, tapi nggak dikasih. Sayang kalau dikasih ke orang lain katanya. *sigh* kalo dilihat ke belakang, sebenarnya secara tidak langsung Oma termasuk yg meng-inspirasi saya buat traveling dan mengirim kartu pos. Pas kecil saya koleksi perangko, dan sering tuker-tukeran prangko sama sepupu saya, Esa. Salah satu sumbernya tentu saja Oma Dei karena tampaknya Oma sering jalan-jalan ke luar negeri di tahun 80an dan 90an. Saya masih ingat ada prangko-prangko Espana (dulu pas masih kecil nggak tahu ini Spanyol), Ceska republika (ini Ceko) dan negara-negara lainnya, yg kebanyakan berlokasi di Eropa.

Tentang Kartu Pos

Sudah menjadi tradisi setiap kali saya traveling, saya pasti mengirimkan kartu pos ke dua tempat (at least) ke mami + papi di Jakarta dan ke Oma Dei di Tondano. Setiap sampai di kota yg baru pastilah saya pertama kali mencari tourist information lalu kantor pos untuk beli prangko lalu nyari kartu pos. Tradisi yg tetap berjalan sampai sekarang. Di Terschelling, hari Jumat saya mampir ke Tourist Information, dan waktu itu mikir, nanti aja beli hari minggu, sekalian kirim ke Jakarta dan Tondano. Ternyata oma sudah meninggal hari Sabtu WITA. (Note: hari minggu kartu pos tetap dikirim meskipun dengan beberapa penyesuaian).

Sampai sekian lama, mengirimkan kartu pos sudah menjadi hal yang biasa, tujuannya supaya oma dan mami+papi juga bisa “traveling maya” melalui foto-foto di kartu pos itu. Oma Dei rupanya termasuk yang “mendukung” traveling ketika saya ikutan exchange di Jepang, suatu waktu ketika oma lagi di Jakarta dan entah ada angin apa, ngirim duit ke Tokyo, katanya buat jalan2 (dan ini lumayan cukup buat 2 minggu backpacking ke China). Bukan cuma ke saya, Oma juga sering ngasih duit ke sepupu-sepupu yg lain (yg menggunakannya buat shopping hehe). Note: mami juga sering ngirim duit pas di Jepang.

Saya tidak tahu Oma Dei termasuk senang dikirimin kartu pos sampai suatu saat pas nelepon ke Jakarta, mami ngomong “Oma Dei seneng lho kamu kirimin kartu pos, nggak apa2 kalau kamu nggak kirim kesini, tp yang penting jangan lupa kirim ke Oma”. Hmmmm mikir2, kenapa Oma Dei bisa seneng ya? nanya ke nyokap, jawabannya “Oma sering kasih liat kartu pos kamu pas lagi arisan oma-oma, ngasih tahu cucunya udah ke tempat2 ini”.

Koleksi Koin

Selain prangko, dulu pas masih kecil saya juga ada koleksi koin-koin negara lain, dan sumbernya hehe, Oma lagi. Entah kemana koin-koin itu sekarang. Oma tampaknya termasuk orang yang suka jalan (makanya banyak koin) ketika kondisinya masih benar-benar sehat. Sejak kesehatannya menurun, jarang jalan keluar. Mungkin inilah faktor lain yang membuat oma senang mendapat kartu pos, bisa “jalan-jalan maya”.

Oleh-oleh: Payung

Ketika saya mengikut summer school di Jerman, saya mendapatkan permintaan dari Oma Dei buat membelikan “Payung”. Benar sekali, payung….. Saya sempat mikir2, kenapa payung? nggak yang lain aja, gantungan kunci, kaos, tas kecil atau apapun, tapi payung? Ini permintaan yang gampang-gampang susah, karena payung dimana-mana bentuknya sama dan biasanya made-in-china. Mau beli payung yang biasa, itu jg bisa dibeli di Jakarta. Akhirnya, sekali waktu di Bonn (Beethoven House), ada payung hitam yang bertuliskan not balok-not balok lagu-nya Beethoven di sekeliling payung. Oleh2 yang cocok, dan setelah melalui perjuangan panjang (payung bukan barang yg mudah masuk koper), payung itu sampai juga di Tondano. Jadi kalau ada yang ngeliat payung itu, inilah cerita di baliknya.

Tahi Lalat di Kaki?

Ketika saya kecil, saya sering mikir2, kapan bisa jalan-jalan ke luar negeri seperti Oma Dei dan Tante Esthy. Kata nyokap tante Esthy punya tahi lalat di kaki, jadinya nggak bisa diam dan hidupnya sering pindah-pindah. Saya dulu termasuk yg nggak percaya soal isyu tahi lalat ini, soalnya saya ada tahi lalat di kaki dan sampai tahun 2005 belum pernah menginjakkan kaki ke luar negeri sekalipun (even Singapore), bahkan ketika sepupu-sepupu saya sudah melanglang buana kemana-mana.

Oma punya tahi lalat di kaki? wah nggak tahu, tapi penasaran juga. Tampaknya tiap generasi keluarga nyokap ada yg suka jalan-jalan, Oma, Tante Esthy dan William (sepupu saya yg keberadaannya susah dilacak, kadang di Afrika, kadang di Eropa, kadang di Asia). Saya masih dalam tahap belajar ;p.

Hampir di-deportasi?

Satu cerita tentang Oma yg hampir di-deportasi (sehingga harus meninggalkan Malaysia dengan terburu2, seinget saya malam2) karena visanya hampir habis. Dulu pas Oma cerita tentang itu rasanya gimana ya? pengen ketawa tapi nggak enak, but that story was hillarious.

Surprise Surprise

Satu lagi kejutan tentang Oma Dei, ternyata orangtuanya berasal dari Philliphines. Saya kaget diceritain tante Esthy ketika saya berkunjung ke rumah-nya di Most. Keluarga pedagang dari Philliphines yang akhirnya menetap di Minahasa. Why I never knew that? rasanya karena saya tak pernah bertanya. Kurang lebih seminggu sebelum ketemu tante Esthy di Ceko, orang di Tourist Office Andorra bertanya kepada saya “Where do you come from? Philliphines?” Hmmmmmmm……

Epilogue

Ketika 31 Maret 2010 saya menulis di blog tentang “Oma Dei dan Kartu Pos”, saya menulis “Oma Dei, you’re one of my inspirators in traveling. Cepat sembuh ya =)…..”. Ketika itu Diana (Tondano) memberitahukan via Facebook Chat, Oma dilarikan ke Rumah Sakit lagi. Oma has never read that. But I think she already knew about the content without reading that blog.http://el01173.multiply.com/journal/item/108/Kartu_Pos_dan_Oma_Dei

Finally, status Essa di FaceBook sangat tepat untuk mengakhiri tulisan ini.

To my Beloved Grandma :

“Sebab siapa yang telah mati ia telah bebas dari dosa, Jadi jikalau kita telah mati dengan Kristus,kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan DIA”

(Roma 6:7-8)

Selamat jalan Oma Dei…..