“siapa yang memilih mencari makan?” tanya Prang kepada kami. Mayoritas tangan terangkat. Saat itu di Haarlem Centraal Station, kami sudah putus asa karena selama sejam-an lebih kami stuck di daerah itu. Adanya gangguan antara stasiun Amsterdam Sloterdijk dan Amsterdam Centraal membuat kereta kami yang seharusnya tujuan akhirnya di Amsterdam Centraal harus berhenti di Haarlem central.

28518_10150167566440720_657430719_12199108_6281584_n.jpg
The blowing result

Awalnya kami tidak tahu kenapa kereta berhenti. Bersama kami, banyak Londo-londo berpakaian serba oranye memenuhi stasiun Haarlem Centraal. Kemampuan bahasa Belanda yang pas-pas-an membuat kami selama setengah jam pertama tidak mengetahui penyebab kereta berhenti. Sambil menunggu kereta berikut (karena tidak tahu ada masalah di Amsterdam Sloterdijk), aksesoris2 buat menyambut Queen’s day dikeluarkan Heidi. Ada topi balon yang lumayan gede, kacamata super aneh (satu bergambar beer dan satu lagi berwarna bendera Belanda dikeluarkan. Plus topi kerucut warna oranye yang mirip2 topi penyihir, dan satu selempang bertuliskan Queen, membuat yg make serasa ikutan kontes miss-miss-an. Sambil menunggu, dua tim (Marinda-Hugo) dan (Ryan-Heidi) berlomba menjadi “blower” terbaik dalam hal meniup topi balon oranye ini dan the Oscar goes to ….. Marinda-Hugo….

28518_10150167549570720_657430719_12198650_6800641_n.jpg
Best Blower: Marinda – Hugo

Suasana Queen’s day merupakan suasana karnaval serba oranye. Perayaan biasanya dipusatkan di Amsterdam sehingga orang-orang Belanda berbondong-bondong ke Amsterdam. Ini mungkin mirip suasana lebaran, bedanya ketika lebaran orang2 meninggalkan Jakarta dan stasiun2 dan terminal ramai sekali, ketika Queen’s Day orang-orang belanda banyak banget yg mengarah ke Amsterdam. Menciptakan suasana chaotic yang (agak) terkendali di sekitar stasiun2 di Belanda, makin chaotic mendekati Amsterdam.

28518_10150167551730720_657430719_12198713_2972938_n.jpg
No Train to Amsterdam Centraal

Sekian lama kereta yang ditunggu-tunggu tidak datang, kami ke bawah untuk melihat situasi. Dari electronic board ada kata-kata “Let op: vertreekspoor is gewijzigdt” yang kurang lebih artinya “masalah di jalur kereta). Satu-satunya yang tidak bermasalah Intercity ke Amsterdam Centraal jam 13.02 di Spoor 3A. Akhirnya kami naik lagi ke atas untuk menunggu kereta ini. Kereta tidak datang-datang, kami mencari petugas yang ada disekitar situ. “No train from here to Amsterdam, something happened between Amsterdam Sloterdijk and Amsterdam Centraal” kata petugas polisi yang kami tanyai. Caranya ke Amsterdam? “Go down, turn right and take the bus” kata petugas itu lagi. Pergilah kami semua dari atas peron ke bawah mencari bus.

28518_10150167554125720_657430719_12198808_7576474_a.jpg
Dutch Costume at Haarlem Centraal

Suasana terminal bus lumayan ramai. Semuanya tampaknya pengen ke Amsterdam, bus yang mengarah ke daerah lain ternyata lengang sekali. Bus conexxion nomor 176 tujuan Amsterdam Station Zuid penuh sekali. Penumpang berdesak-desakan di dalam bus, tapi tidak ada supir. Pak supir ternyata mogok jalan karena penumpang terlalu banyak, standar safety tidak boleh diabaikan, mungkin begitu prinsip dia. “This is normal in Mexico” kata Hugo merujuk ke penuh-nya bus. “Same in India” timpal Ganesh. “Di Indonesia bahkan bus sampai miring dan orang-orang bergelantungan di pintu bus” tambah saya. Tapi ini di Belanda, keselamatan penumpang lebih penting buat mereka daripada jalan dengan isi super penuh.

Ada yang tinggal di halte, melihat orang Belanda kalau lagi Queen’s day bisa “rusuh terkendali” juga, ada yang nyari petugas nanya2 gimana ke Amsterdam lewat jalur lain. Selama mencari itulah ada bus gandeng berwarna merah dengan tujuan Amsterdam Zo Biljmer Arena dan (agak) penuh penumpang lewat. Beberapa pemuda memblokir bus itu dan menggedor-gedor bus pengen masuk. Saat itulah tampaknya saya mendapat pencerahan darimana budaya bonek berasal.

28518_10150167550015720_657430719_12198653_131208_n.jpg
Bonek Belanda

Pas ketemu petugas, ternyata kami menunggu di bagian terminal yang salah. Bus-bus itu berasal dari halte yang tepat di depan pintu masuk Haarlem station. Kami-pun menuju kesana dan kerumunan orang disana lebih banyak.

Berita bagusnya, bus tiap 10 menit. Ketika kami sampai, berdasarkan info electronic board akan ada bus dalam waktu kurang dari 10 menit. Baguslah ada kepastian. Di tempat ini Rian mojok dan berhasil menemukan tempat yang tepat untuk tidur. Sekilas tampak seperti penyihir oranye yang kelelahan.

28518_10150167568570720_657430719_12199128_3099345_n.jpg
Sleep

Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya tidak datang. Payah bener, bus berikut yang ditunggu juga tidak datang. Tampaknya ikutan Queen’s Day di Amsterdam bukan rejeki kami. Beberapa orang juga mulai hopeless dan mikirin kota lain untuk melihat keramaian. Saat itulah Prang bertanya “Who choose to find food?”. Majoritas dari kami mengacungkan tangan dan beranjak menjauhi terminal, mencari makan siang kami, melewati restoran Indonesia, nggak jadi masuk dan menemukan bis tujuan Amsterdam yang lagi berhenti. Tampaknya itu perhentian pertama bus yang menuju ke Amsterdam, sayangnya bus sudah penuh dan Pak Supir tak mau membukakan pintu (kalau dibukain jg gimana masukin 11 orang ke bus yang udah penuh?). sekitar 30 meter di belakang bus tsb ada bus yang lagi parkir, tulisannya “geen dienst”. Sial, ga beroperasi, padahal kosong.

Berhubung tumbuhnya harapan ke Amsterdam, kami memutuskan menunggu di halte tersebut. Siapa tahu ada bus ke Amsterdam lewat situ lagi. Hokinya beberapa menit kemudian, bus yang bertuliskan Geen Dienst tersebut mendadak electronic boardnya berubah dari “geen dienst” ke “Amsterdam”, ke arah Amsterdam. Kosong lagi. Dari bagian depan bus, orang2 Asia + Mexico (kami) berlari menuju ke bus, dari belakang bus bule2 oranye lari ke arah bus yang sama juga. Finally, dapet bus ke arah Amsterdam setelah sekitar 1.5 jam terlantar di Haarlem.

28518_10150167550630720_657430719_12198696_5501415_n.jpg
Schiphol: Tertipu oleh Bus

Ternyata kami tertipu, setelah setengah jam jalan kami mulai berpikir, kenapa amsterdam lama sekali ya. Dari jendela bus terlihat pesawat yang take-off. Sejak kapan Amsterdam ada bandara? bandara terdekat dari Amsterdam kan Schiphol. Kalau bus ini ke arah Amsterdam, seharusnya menuju ke arah timur dari Haarlem, bukannya ke Selatan. Ngeliat google map di iPhone, lho ini kenapa daerah Hoofdorp? itu kan satu stasiun sebelum Schiphol kalau mau ke Amsterdam. Semua jadi jelas ketika kami melihat tulisan Schiphol. Nggak sopan, tulisan di electronic board bus sama arah-nya nggak sesuai. Tapi at least kami sudah keluar dari Haarlem, mungkin bisa lewat jalur lain ke Amsterdam daripada stuck di Haarlem.

28518_10150167550975720_657430719_12198699_289021_n.jpg
Burger King serba oranye

Di Schiphol, recharge di Burger King. Semua pegawai burger king memakai baju oranye demi Queen’s Day. Efeknya di harga. Paket yg dibeli Rian seharga EUR 6 di Haarlem, di Schiphol naik jadi 8 EUR. Jadilah kami makan siang (meskipun sudah jam 3) di Schiphol. Baru dari sini dipikirkan mau ke Amsterdam Centraal-nya gimana. Selesai makan, semua turun ke bawah bandara.

28518_10150167569355720_657430719_12199182_1269440_n.jpg
Burger King

Ada Fyra lagi berhenti. Tujuan ke Amsterdam Zuid. Berhubung kereta lagi kacau, saya tanya ke petugas “Can we take this train to Amsterdam?” Jawabannya oke. Jadilah kami semua naik dan ketika gerbong kereta tertutup, salah satu petugas wanita berteriak dari bawah “but you need an extra supplement for Fyra*)”. Sial, udah ga bisa keluar dari kereta, kalau di-denda nanti moga2 aja petugasnya mau toleransi nasib kita yang seolah2 di-pingpong demi ke Amsterdam. Jadilah kami dengan berbagai aksesoris serba oranye masuk ke kereta yg isinya biasanya kalangan bisnis. Ngejomplang.

*) Fyra: kereta khusus yang hanya beroperasi dari Schiphol ke kota-kota besar. Harganya lebih mahal dibanding kereta normal.

Kereta Fyra tidak ke Amsterdam Centraal, tapi ke Amsterdam Zuid, tempat kebanyakan perusahaan multinasional berkantor. Sepanjang perjalanan saya berharap tidak ada pemeriksaan tiket. Lumayan juga kalau kena. Denda ditempat EUR 25, sedangkan kalau denda di-belakang (alias tagihan dikirim ke rumah) EUR 37.5. Fadly yang pernah kena rasanya ga bisa duduk dengan tenang kalau tahu hal ini. Schiphol ke Amsterdam Zuid hanya sekitar 10 menit, semoga nggak ada pemeriksaan. Kalau adapun mau dikomplain habis soal kejadian di Haarlem.

Sampai di Amsterdam Zuid jam 15.40. Rekor perjalanan dari Delft ke Amsterdam 4 jam 14 menit (kami berangkat naik kereta jam 11.24 – normalnya sekitar 1 jam), dan ini baru di Amsterdam Zuid, bukan di Amsterdam Centraal. Dari sini kami masuk ke stasiun Metro, nyari metro ke Amsterdam Centraal. Sama aja sintingnya. Mau naik Metro tujuan Amsterdam Centraal sudah serasa di stasiun senin kalau lagi mudik lebaran. Bedanya saya dulu hanya melihat via televisi, sekarang di negeri kompeni saya mengalami sendiri kejadian ini. Kepadatan naik kereta terakhir di Jepang aja serasa nggak akan separah situasi di Amsterdam Zuid’s Metro. Rapat sebentar bareng teman-teman, diputuskan jalan kaki saja. Tujuan: Museumplein, tempat yang biasa jadi pusat keramaian kalau ada acara seperti ini.

28518_10150167551335720_657430719_12198702_3756079_n.jpg
Orange Guy

Suasana di Amsterdam Zuid station sendiri sudah seperti “situasi chaotic yang terkendali”. Orang-orang pada teriak dan bernyanyi2 dimana2. Mirip kalau ada pertandingan bola dan banyak banget aksesoris serba oranye disini. Jadi semacam festival fashion mendadak karena ada beberapa orang berpakaian oranye aneh.

28518_10150167555975720_657430719_12198837_7450064_n.jpg
Pasar Kaget

Keluar dari stasiun Amsterdam Zuid, kiri kanan banyak street vendor di sepanjang zuidplein. Memang di Queen’s day ini orang2 diperbolehkan menggelar barang dagangannya di jalan. Umumnya barang-barang second hand dan harganya lumayan miring. Ketika berada di persimpangan zuidplein dan princesirenestraat, ada panggung kecil dengan tulisan “konningenendag 518 dan ada layar super gede, Prang menarik saya “Let’s go to the front of the stage”, ngapain? ternyata biar masuk ke layar gede itu, capek deh :)). Ketika berjalan kesitu tiga bule yang lagi ditengah mengajak kami masuk, nggak deh daripada ketinggalan rombongan.

Menurut Google Map, dari Amsterdam Zuid ke Museumplein hanya butuh 31 menit jalan kaki, 2.5 KM. Tapi kenyataannya lebih dari itu karena foto-foto. Dari Prinses Irenestraat, kami hanya mengikuti plang bertuliskan “Museumplein”, menyusuri Beethovenstraat, melewati jembatan, lalu Coenenstraat, mentok dan belok kiri menyusuri van Baerlestraat. Google Map di iPhone mati hidup di situasi seperti itu, jadi peta Koeningenendag gratisan di Schiphol jadi petunjuk jalan kami disamping tanda panah raksasa.

28518_10150167564290720_657430719_12199093_2032199_n.jpg
The Street

Sama seperti kereta, sinyal HP pun sering kacau. Nelepon orang selalu “call failed”. Mungkin serasa ngirim/nelepon orang di malam tahun baru kali ya. Jalanan yang kami lewati kosong. Jarang ada mobil tapi banyak orang di jalan. Saya jadi ingat kejadian Mei 1998, bedanya di Belanda nggak ada bakar-bakaran, tidak terlalu anarkis dibandingkan saat itu, tidak ada tank, tidak ada penjarahan dan rasanya juga tidak ada copet. Polisi dimana-mana dan lautan sampah, terutama kaleng bir juga ada di sepanjang jalan. Kasihan petugas kebersihannya.

Akhirnya sampai di Museumplein juga sekitar jam 16.30. Disini ada satu hal yang aneh, kenapa ada TukTuk di tengah jalan ya? Bukannya TukTuk (di Belanda ditulis ToekToek) mestinya adanya di Bangkok? Orang Thailand kreatif juga ngekspor tuktuk ke Eropa. Lalu ada tram yang masih jalan, tapi bedanya di depan tram tersebut ada mobil polisi. Mungkin buat buka jalan kali ya.

28518_10150167556735720_657430719_12198873_2492710_n.jpg
Body Painting

Di Museumplein ramainya udah nggak ketulungan. Ada orang yang dengerin musik, ada juga yang jadi media body painting, live. Topi balon oranye Heidi pun jadi semacam “tanda” dikerumunan orang. SOP (standard operating procedure)-nya kalau kepisah dari rombongan, cari aja topi balon itu yang lumayan visible dikerumunan orang-orang. Lumayan membantu ketika rombongan kami terpecah jadi dua kelompok di museumplein. Karena mau mendekati panggung lumayan sulit, kami pun keluar, menuju ke bagian samping museumplein. Istirahat sambil dengerin musik. Sempat ada insiden kecil ketika jari Hugo agak sobek karena insiden dengan kaleng bir.

28518_10150167556965720_657430719_12198876_7366036_n.jpg
Follow the Hat

Sejam berada di Museumplein, kami beranjak pergi. Tujuan berikut Waterlooplein. Rian jadi pembaca peta dan penunjuk jalan. Di Potterstraat Fadli dengan kamera lensa panjangnya disamperin satu cowok yang minta foto yang baru diambil Fadli dikirim ke dia. Pas tahu kami dari Indonesia, dia juga bilang, “I’m from Indonesia too, my mother is from Medan, cant you see?” sambil nunjuk2 hidungnya. Fadli bengong dan kamipun bengong. Tampang-nya jelas2 bule, apa maksudnya nunjuk2 hidung? kayanya mau nunjukin hidung dia nggak mancung2 amat. Tapi gen Indonesia dia rupanya kalah jauh sama gen bule. Sebodo lah.

28518_10150167560600720_657430719_12198914_1665355_n.jpg
Celebration on the Canal

Sebagai pembaca peta, Rian lumayan juga, kecuali ketika dia salah belok sehingga kami melewati Hard Rock Cafe Amsterdam. Untungnya tidak ada yang tahu. Dari atas jembatan di deket Hard Rock Cafe kami melihat perayaan Queen’s day ini tidak hanya di darat saja, tapi juga di atas sungai. Banyak kapal berseliweran, dan isinya orang2 berbaju oranye. Too much orange in a day.

28518_10150167557965720_657430719_12198885_4284444_n.jpg
0 Euro Toilet – Only in Holland

Sepanjang jalan ini pula-lah saya menyadari bedanya menjadi cowok dan cewek adalah 1 EUR. Ini nge-refer ke WC. Ada WC terbuka buat para pria, sedangkan tidak ada WC terbuka untuk para wanita. Kondisi WC tersebut juga bagai langit dan bumi “1 EUR tapi bersih lho” promosi Heidi. Kondisi WC terbuka? ada beberapa yang mampet dan pijakan kaki-nya basah, jadi mesti milih2 kalau mau pakai. Pas teman2 dan saya menunggu di depan WC 1 EUR inilah saya ketemu Syafri, sesama anak HSP Huygens dari Enshcede. What a small world.

28518_10150167557685720_657430719_12198882_6347581_n.jpg
Balcony

Rupanya semakin ke arah waterlooplein, manusia makin banyak. Kelakuannya juga ada beberapa yang makin unik. Nyanyi2 di Balkon rumah, ngegendong cewek di punggung, naik ke atas halte bus, etc. Kami sempat juga melewati perempatan yang cross-nya parah. Satu arah utara-selatan, yang satu barat-timur. Jauh lebih padat dibanding Shibuya crossing. Di kerumunan orang ini, topi balon gede kami biasanya menarik perhatian orang. Ada yang tiba-tiba ngeliat dan merasakan impuls untuk nabok topi ini,
kayanya dia sangka ini semacam alat buat latihan tinju. Ada yang tiba-tiba lari ke pemakai topi ini sambil pengen megang atau topi. Ada yang mau nyundut topi ini pakai rokok. Inilah beban yang harus ditanggung pemakai topi balon gede ini.

28518_10150167561000720_657430719_12198916_2488910_a.jpg
Aksi #1

Sampai di Waterlooplein sudah jam 19.00. Matahari masih bersinar (spring siang hari mulai lebih panjang). Ada crane yang berubah fungsi jadi tempat bungeejumping di daerah sini. Ada barikade, ada mobil polisi, dan ada juga tuktuk yang sedang menurunkan penumpang di sebelah mobil polisi. Nanya2 sebentar ke polisi bagaimana caranya ke Amsterdam Centraal, ternyata mesti pakai metro. SUdah pada capek semua, pengen balik ke Delft saja. Pas kami mau pulang, sempet juga ada turis cewek naik
ke van polisi dan minta foto bareng. Dasar. Cukup setengah jam saja di Waterlooplein ini.

28518_10150167561100720_657430719_12198917_4315813_n.jpg
Aksi #2

Di metro Waterlooplein pun antrian untuk beli OV Chipkaart juga panjang. Desi dan beberapa anak yang tak punya OVkaart pun ngantre. Tanya-tanya petugas, ternyata kami tidak perlu membayar untuk ke Amsterdam Centraal, karena kami punya tiket kereta untuk ke Amsterdam Centraal, antrian pun ditinggalkan. Seperti dalam perjalanan menuju Amsterdam, perjalanan keluar dari Amsterdam pun butuh perjuangan.

28518_10150167565280720_657430719_12199100_5468430_a.jpg
Orange Orange

Kami tiba di amsterdam centraal sekitar 19.40 dan situasi benar2 padat. Serasa berlebaran di Amsterdam. Ketika jam 20.00 berhasil masuk kereta, duduk 10an menit, ada pengumuman disuruh meninggalkan kereta. Berhubung di luar padat, kami berjalan di dalam kereta menuju tangga terdekat. Memang lebih cepat, tapi efek sampingnya ketika sebagian dari kami berhasil keluar kereta, Marinda, Prang, Tofan, Ganesh dan Hugo terkunci di dalam kereta. Duh, cobaan tidak habis2nya. Sementara itu Rian ke bawah, nyari jadwal kereta, yang lain di atas, nunggu teman-teman yang terkunci di dalam kereta ini keluar.

28518_10150167565585720_657430719_12199103_301200_n.jpg
Serasa Lebaran

Ketika akhirnya kami berkumpul bersama lagi, rencana diubah dari ke Delft via Leiden dan Den Haag ke Delft via Rotterdam. Alasannya karena yang jalur Den Haag pasti banyak orang, jadi lebih susah dapetnya. Saat itu yang paling penting keluar dari Amsterdam secepat mungkin. Akhirnya dapet juga kereta, stoptrein (kereta paling lambat) menuju Rotterdam. Cuek lah, yang penting bisa keluar dari Amsterdam. Sebagai kompensasi atas kacaunya kereta, kami duduk di Kelas 1 meskipun tiket kami di kelas 2. Butuh 1 jam 20 menit dari sampai ke Amsterdam Centraal dan masuk ke dalam kereta. Emang edan situasi di QUeen’s day ini.

Sesampainya di Delft sekitar 22.45, +/- 12 jam sejak pertama kali meninggalkan Delft. Ditutup dengan ritual cium stasiun oleh Rian, (mungkin mau niru Paus John Paul II yang suka cium tanah di tempat yg beliau kunjungi – tapi lebih cocok sebagai model foto untuk menutup Queen’s Day kami :p) sujud syukur karena berhasil kembali ke Delft meskipun perjuangannya lumayan bikin puyeng.

28518_10150167553580720_657430719_12198775_7455642_n.jpg
Delft, I’m back

Status Heidi di Facebook tampaknya cocok buat menggambarkan hari itu “no more queensday @ amsterdam…!!!!!!!!!!!!!!”. Fredy (flatmate) pun secara tersirat bilang, Queen’s Day di Amsterdam cukup sekali saja. Tapi buat pengalaman, boleh lah, sekali saja, no more.