Kurang lebih tiga minggu yang lalu, root canal treatment untuk gigi geraham saya gagal. Di tengah2 proses, dokter giginya bilang “I give up, hanya satu kanal dari tiga kanal yang bisa dibersihkan, dua kanal lainnya tidak bisa dibersihkan seratus persen, saran saja gigi anda dicabut”. Shit, di meja dokter itu saya mati-matian berusaha mempertahankan gigi geraham bawah saya, dan akhirnya failed. Singkat cerita, gigi saya dicabut.
Sehabis dicabut, darah banyak keluar, akibatnya saya pusing. Sebagai orang yang tekanan darahnya rendah, setiap kali saya mengalami keluar darah (e.g. diambil test darah atau kejadian cabut gigi), pandangan saya berkunang-kunang dan terpaksa saya beristirahat selama setengah jam di salah satu ruangan di tempat dokter gigi itu sambil menggigit kapas untuk menghentikan pendarahan.
Ternyata cabut gigi bisa mempengaruhi mood seseorang dan akibatnya saya seharian itu bad mood dan banyak melamun, memikirkan apakah keputusan yg diambil untuk mencabut gigi itu benar atau salah. Ketika melihat di cermin di TU Delft library, ada lubang menganga di tempat yg dulunya adalah tempat geraham saya. Ada satu perasaan di dada, perasaan kehilangan.
Ketika chatting di YM dan cerita soal gigi, a friend said “lu kaya lagi putus”, bukan putus, karena tidak pernah ada kata putus……. Perasaan yang sama beberapa tahun lalu kini muncul lagi, few years ago karena seorang gadis, sekarang karena gigi. Perasaan kehilangannya sama, dari ada menjadi tiada. Perasaan dejavu. Kenapa perasaan kehilangan itu muncul lagi? padahal sudah disimpan dan berharap tak akan pernah dibuka lagi.
Ada saatnya ketika admission letter salah satu universitas ternama tidak bernilai….
ada saatnya beasiswa penuh tidak bernilai lagi……
ada saatnya ketika bertahun2 dibutuhkan untuk menjawab satu pertanyaan,
doushite?