Beberapa hari yang lalu, pas lagi ke tempat temen di Spacebox buat belajar ngotak ngatik HP baru, mampir bentar ke kost-an yg lama.Christine, penghuni baru begitu ngeliat saya langsung balik ke kamarnya dan bilang “I have one letter for you”. Hehe dia sering saya repotin buat ngasih tau saya kalo ada surat yg masih masuk ke alamat yg lama (yg kebetulan sekarang ditempatin dia). Tapi surat kali ini berbeda, kop suratnya bertuliskan “Politie“. Abis ngeliet, langsung dalam hati mikir2 “D*mn salah saya apa, kenapa bisa dapet surat dari polisi?”
Pada saat itu langsung tahu bagaimana jadi orang yg nerima surat denga logo polisi, padahal surat-surat yg saya terima biasanya logo universitas, NS (perusahan kereta), insurance atau advertisement ga jelas y g nawarin barang. Udah gitu surat polisi ini bahasa Belanda lagi “Gw salah apa ya?”. Langsung diketik di google translation di kamarnya temen, translate dan ternyata inti surat itu cuma diminta ngisi kuisioner via internet. Asem…. bikin ketar ketir aja.
Kejadian itu mengingatkan saya pada beberapa kejadian dengan polisi yang pernah saya alami. Dulu di Essen, saya dan Andreas pernah dalam sehari kena dua kali pemeriksaan sama polisi, nanyain paspor. Pemeriksaan pertama dan kedua hanya berselang beberapa menit.
Di Jepang pernah beberapa kali berinteraksi sama polisi. Sekali di deket Chofu station. Waktu itu lagi ngeliatin foto wanted list alias buronan di Jepang yang di tiap fotonya dikasih hadiah uang kalau bisa ngasih informasi yg mengarah ke penangkapan tersangka. Iseng2 saya bilang ke Beer, “Hey, that one is look like you” sambil nunjuk satu foto dan ngeliat muka dia. Rupanya tingkah laku kita mencurigakan polisi di dalam kantor polisi yang out of sudden keluar dan “mengundang” kami berdua masuk. Berhubung waktu itu saya masih belum bisa bahasa Jepang, masih bulan2 awal di Jepang, Beer yang nge-jawab pertanyaan Pak Polisi. Keluar2 dari kantor polisi Beer tampangnya bete gitu dan bilang “Next time hati2 kalo nunjuk foto kriminal”. Duh, jadi ga enak :D….
Udah gitu di Aomori central station. Lagi winter holiday dan waktu itu saya mau mengunjungi teman saya di Hokkaido. Berhubung waktu transit lumayan lama, buat nunggu kereta malam “express Hamanasu” Aomori – Sapporo, daripada bengong di dalam, saya keluar stasiun buat foto2. Pake backpack gede, bawa tripod, malem2 berkeliaran di sekitar stasiun foto2 rupanya mencurigakan. Dua polisi suddenly menghampiri saya dan menanyakan identitas. Bahasa Jepang saya masih kacau dan dua polisi muda ini nggak bisa bahasa Inggris, kombinasi yg bagus buat bahasa tarzan.
Di-“interogasi” selama 15an menit di luar stasiun, mana cuacanya dingin banget lagi (winter). Sambil interogasi mereka ngisi-ngisi formulir bahasa Jepang dan ngomong2 diantara mereka. Saya tak sengaja menangkap kata “onnanohito” yang artinya wanita di percakapan mereka. Berhubung bete di-“interogasi” saya akhirnya minta foto bareng mereka dan rupanya itu efektif buat ngusir dua polisi kurang kerjaan ini. Mereka akhirnya balikin “alien card” saya dan nyari orang lain buat diinterogasi. Ketika saya cerita ke Suwandi, dia ketawa2 dan bilang “Nald, lu disangka pervert tuh, kayanya ada orang (wanita) yang lapor ngeliat orang mencurigakan berkeliaran di sekitar stasiun”. Sialan. Rupanya di Jepang banyak pervert berkeliaran pake kamera, dan apesnya saya disangka salah satu dari mereka. Padahal kamera saya kamera saku. Parah.
Tapi pengalaman paling seru dengan polisi ketika kelas “Japanese Human Relations” kami ada acara Tokyo Excursion yang ditutup dengan acara makan2 di salah satu restoran di Asakusa. Feeling saya ketika masuk lumayan jelek karena orang yang duduk di sebelah meja kita mabuk. Satu orang bahkan mengangkat kursi dengan satu tangan dan ngomong2 nggak jelas. Sepanjang makan malam, kami terganggu dengan meja sebelah kami yang dihuni oleh orang mabuk, yang sudah dikomplain berkali-kali oleh Profesor ke pihak restoran, tetapi tidak ditanggapi dengan serius. Sekali waktu si cewek mabuk udah telentang di atas meja makan dan salah satu cowok yang mabuk tangannya masuk ke dalam rok. Si cewek terang aja nggak mau. Akhirnya si cowok bete dan memperlihatkan barang dia ke si Cewek.
Kebetulan dua teman saya (cewek) pas lagi ngeliat ke arah situ dan teriak. Batas kesabaran Profesor sudah habis dan membentak mereka. Mereka menyerbu meja kami untuk memukul Profesor kami (yang baru saja membentak mereka) dan tampaknya bentrokan fisik sudah tidak bisa dihindarkan kalau pelayan toko tidak menahan laju kedua pria mabuk tersebut. Pokoknya udah ribut banget. Dia sempat menendang meja kami sehingga salah satu teman tanganya terjepit meja. Hugo di barisan terdepan, saya di belakang dia dan semua siap2 buat tawuran. Sempat ada insiden yg berkaitan dengan pisau. Situasi sempat panas, Hugo juga mesti ditenangkan sama kita2 (ternyata orang Meksiko panasan). Polisi Jepang rupanya lambat banget datangnya. Kita sampe udah bete nungguin mereka dateng. Udah gitu pas dateng mereka bener-bener nggak ada wibawa sama sekali. Si cewek mabuk bahkan bergelayut di dada salah satu polisi setengah baya sambil ngambil topi si polisi. Udah gitu polisi2 ini cenderung persuasif, nggak ada acara borgol2an. Beda kaya polisi di Indo yang kayanya kalo kejadian kaya gini udah main hantam aja. Kesan yang kami dapatkan. Polisi Jepang lembek2. Btw foto yang pertama kali dilihat itu foto pas kejadian ini.
Lain di Jepang, lain pula pengalaman di China. Di Xian ada polisi yang memeriksa paspor setiap orang yang mau masuk ke dalam Xian Central Station. Entah apa maksudnya. Beberapa hari kemudian saya menghabiskan waktu hampir sejam di kantor polisi Shanghai. Ketika itu saya baru sampai di Shanghai setelah perjalanan 16 jam naik kereta dari Xian. Masih teler. Sambil teler karena kecapekan inilah saya mencari tourist information Shanghai, yang susah banget ditemui. Lagi capek2 gitu, saya ditabrak sama orang, dan refleks saya langsung megang kantong. Sialan, HP nggak ada di kantong. Akhirnya nyarilah kantor polisi terdekat yg kebetulan sekali ada di stasiun. Pengen bikin surat kehilangan, biar diganti sama insurance di Jepang.
Di dalam kantor polisi, untung banget ada yg bisa bahasa Inggris, tapi disuruh nunggu dulu. Pas dipanggil, duduk, ngasih liat paspor, dkk, kenapa di paha kiri ada yg ngeganjel ya. Diraba2, ternyata “lho HP gw kok bisa disitu.” Rupanya gara2 kecapean, abis telepon, saya masukin HP bukan ke kantong jeans, tapi justru diantara jeans dan long john. Dan HP itu ketahan di atas paha karena ada tas paha (yg buat jalan2). Berhubung ngerasa udah ketemu dan polisi2 ini ga tau, saya berusaha “OK sir, I’ll let it go” dan membatalkan bikin surat kehilangan HP. Polisi Shanghai rupanya kelewat ramah, “Tinggal dikit lagi, diselesaikan saja”. Dan saya langsung pengen ngeloyor pergi. Tiba2 di pintu masuk kantor polisi, HP jatuh dari balik celana jeans. Di background “You don’t loose your phone”. Aduh, tengsin banget, ngelapor hilang HP padahal HP nyelip di antara jeans dan long john. Langsung jalan tanpa ngeliat ke belakang lagi. Benar2 kehilangan muka. Udah gitu pas chatting sama Juanda di MSN, dia ngakak lagi. Apes, pas balik ke Jepang bbrp teman tahu kejadian ini. Duh…..
Lalu di Busan, Korea Selatan, saya pernah disamperin polisi pantai sambil bilang “dame, dame” yang dalam bahasa Jepang artinya “tidak boleh, tidak boleh”. Waktu itu saya lagi foto-foto di Hyeundae Beach sambil bawa tripod dan kamera. Sialnya, di Korsel, orang Jepang disangka pervert semua dan saya disangka sebagai orang Jepang. Udah gitu polisi pantai ini ngomong pake bahasa Jepang dan saya tanpa sadar reply pake bahasa Jepang juga. Nggak bener, kan ga semua orang Jepang pervert, dan saya bukan orang Jepang.
Masih di korea juga. Di DMZ alias DeMiliterized Zone, daerah perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan. Tentara berfungsi jadi tukang “ngusir” orang keluar dari kereta. Dari Seoul kami hanya bisa naik kereta ke Imjingang, lalu dari situ semua turis mesti ke semacam pos buat dapet kartu identitas yang kalo ga salah dituker sama paspor. Di satu bus, cuman saya yang satu-satunya orang non-Korea, bengong ga ngerti apa2 pas ada orang yg ngomong di depan bus. Di daerah ini entah kenapa banyak bener tentara, mungkin gara2 Korsel dan Korut statusnya masih perang kali ya.
Sebulan setelah di Korea, saya dan teman2 JUSST berlibur ke Thailand. Dalam perjalanan dari Chiang Mai ke Pai (Thailand Utara), bus kecil kami sempat dihentikan polisi/tentara yang memeriksa identitas semua penumpang. Aun sempat bilang “Disini banyak orang Myanmar yang ilegal Nald, makanya banyak pemeriksaan”. Kejadian yang sama kami alami ketika pulang dari Pai ke Chiangmai, minibus kami berkali-kali dihentikan buat diperiksa. Ternyata ketika itu ada kudeta di Thailand (19 Sept 2006) dan militer berkuasa. Sepanjang perjalanan ke Chiangmai saya melihat beberapa tank berkeliaran. Udah gitu di Chiangmai station banyak banget tentara bersenapan di dalam stasiun. Hal yang sama kami liat beberapa hari kemudian di jalan-jalan di kota Bangkok, banyak tentara. Sementara di Indo nyokap udah panik karena saya di Thailand pas kudeta (katanya sempet turun 5 kilo).
Soal tentara di stasiun ini rupanya tidak hanya di Thailand. Di Paris, ketika diadakan Paris Air Show, banyak sekali tentara berkeliaran di stasiun-stasiun di Paris. Saya sampai nanya2 ke Arryn kenapa banyak banget tentara di stasiun. Dia jg nggak tau kenapa. “Biasanya nggak kaya gini Nald”. Udah gitu pas di La Defense, pas nemenin Arryn dan Mbak Wahyu belanja, kami melihat tentara bersenapan di dalem shopping mall. Gile, ada apa ya?
Baru-baru ini, saya berurusan dengan polisi lagi ketika ikutan Traveling Summer University di Spanyol. Polisi beneran dan polisi gadungan. Di Madrid, ada orang sedeng dari Guinea Equator yg nyangka saya ngambil foto dia (padahal saya ngambil foto stasiun Madrid Atocha). Orang item, gede dan resek. Teriak-teriak di jalan. Berhubung saya nyangka di kriminal, saya teriak “policia” berusaha biar kamera saya tidak jatuh ke tangan dia dan orang2 biar ga diem aja (orang2 malah diem). Berhubung ada mobil polisi terdekat, saya kesana bareng dia, lebih aman kan daripada ngasih kamera ke orang nggak jelas. Si hitam tak bisa bahasa inggris dan saya tak bisa spanish. Jadilah ribut2 pake bahasa ga jelas sepanjang jalan ke mobil polisi itu. “I’m gonna hit you” kata dia, asem… asem…. kapan liburan saya bisa damai. Singkat cerita sampailah ke mobil polisi dan saya dan dia menceritakan versi kami sama Pak Polisi. Saya bisa membuktikan di kamera bahwa saya tidak foto dia, melainkan foto stasiun, dan tu orang bilang maaf. “African people are strange people, just stay away from them” kata Pak Polisi. Bener banget, nyebelin banget tu orang.
Beberapa hari kemudian, saya dan Lukas, sesama peserta Summer University dihentikan sama polisi gadungan di Albarracin. Tiba2 aja ada “turis” tersesat yang nanya jalan. Tak lama kemudian ada “polisi” setengah baya meminta saya, Lukas dan “turis” itu menunjukkan identitas dan uang kami. Uang? masa ada polisi yg minta kita nunjukin uang. Untungnya waktu itu di dompet saya duitnya < 10 EUR, dan “polisi” gadungan ini tak tertarik. Yang bikin curiga, ada 1 orang lagi, kayanya komplotan dia yang ikut2an meriksa kita. Mereka berdua tak berseragam. Kayanya bareng “turis” itu mereka komplotan penjahat. Untung kita
 nggak diapa-apain, padahal itu jalan yg kecil dan sempit dan jauh dari jalan raya. Hoki deh. Lalu di Barcelona, Albert nge-joke ketika di salah satu shopping street terkenal di Barcelona, dia bilang “tempat ini adalah the second most touristic place in Barcelona, after the police office”. hehe emang bener tampaknya. Spanyol lumayan banyak petty crimes, alias copet2 ini. Saya bahkan pernah ngeliat dua copet wanita mudah beraksi di dalam metro Madrid. Tapi sebagai orang Indonesia, mungkin insting bahaya kita sudah terasah kali ya, bisa merasakah aura jelek dari copet :p.
Huhhhh, moga2 nggak berurusan sama polisi lagi di masa yang akan datang.