“Waaaahhhh…. negeri di awan…..”. Kata-kata Ramanda di pagi itu benar-benar tepat menggambarkan pemandangan yang ada di hadapan kami bertiga. Gereja San Giorgio Maggiore terlihat seperti mengambang di awan, efek dari kabut pagi Venice, ditambah deretan gondola yg tertutup salju. Picturesque.

Kami sejenak melupakan dinginnya udara di pagi itu (minus berapa tebak?) + rasa capai karena semalaman bisa dibilang tidak tidur. Sibuk dengan kamera masing2. Foto2 yang banyak. Hal yang pantang dilakukan di tengah dinginnya udara Venice, karena memfoto membuat kami harus melepas sarung tangan dan membiarkan tangan ter-ekspos udara dingin. Bisa dibilang one of the best pictures from trip Italia kami diambil pada saat ini.

Foto2 ini bisa dibilang kompensasi atas “kesialan berturut2” kami beberapa jam sebelumnya. Bisa dibilang kami dapat “paket super kombo apes”, antara lain:

kereta di Belanda delay,
RyanAir delay,
kereta Bergamo – Venice delay,
Nomor telpon hostel salah
Hostel tak bertanggung jawab melempar kami ke hotel lain
Hotel lain tsb ketika kami datangi tak ada resepsionis
Ditolak menginap di Carabinieri (Polisi Italia) 2x
Ketemu 3 cowok mabok
Hokinya ditampung di lobby hotel +/- 1jam-an, sblm diusir sama petugas lain saat pergantian shift
Night walk di daerah San Marco pake backpack di punggung semaleman
Masuk ke semua pintu yg terbuka demi kehangatan
Istirahat di tangga restoran
Terselamatkan oleh “Roxi Bar” berlogo Donald Bebek
Semua poin di atas yg nyangkut2 sama Venice pada suhu -6 s/d -11 C.

NS.NL

Adanya miskomunikasi yang parah antara Ramanda dan Shuai membuat rencana awal mengambil kereta jam 9.03 AM gagal total. Shuai nunggu di Delft station, sedangkan Ramanda menunggu di bawah gedung Roland Hostlaan. Keadaan diperparah lagi dengan nomor HP kami yg sementara berubah u/ trip kali ini, pake nomor prabayar, sedangkan nomor2 penting ada di HP pascabayar yg ditinggal.

Berhubung Shua nggak nongol, Kukuh, Ramanda dan saya memutuskan langsung ke stasiun. Naik kereta jam 9.38, ganti di Dordrecht, sampai Eindhoven 12.15. Perjalanan yg normalnya memakan waktu 1 jam 15 menit, jadi 2 jam 37 menit, dua kali waktu tempuh normal. Aneh bin ajaib, Shuai + Jia yang ambil kereta jam 9.03 sampainya berbarengan dengan kita, berarti dia lebih dari 3 jam di kereta (somehow di dalam perjalanan Nir SMS nomor HP Shuai ke kami).

RyanAir

Cuaca yang biasanya tak bersahabat di kala musim dingin membuat pesawat kami delay 30 menit. Mestinya berangkat 14.20, diundur jadi 14.50, delay 30 menit. Tapi masih hoki karena pesawat tujuan Pisa yg seharusnya berangkat jam 8 pagi, berangkatnya hampir bersamaan dengan kami. Mereka padahal pagi-nya sudah boarding, masuk pesawat, lalu disuruh keluar, karena di bandara Pisa ada badai salju.

Kalo dibilang RyanAir sama dengan Air Asia mungkin ada benarnya. Sama-sama menjual makanan (instead menyajikan). Bedanya pramugari RyanAir juga menjual tiket bus, mungkin bentar lagi nge-bantuin booking-in hotel/jual tiket subway? who knows…. Tiket bus return u/ Bergamo Airport – Milano Centrale 16 EUR. Kayanya dulu pas AirAsia mereka jg ada bus, tapi tiketnya dijual di bandara, bukan di dalam pesawat. Bisnis model yg baru :p.

Bergamo

Berhubung rencana kami langsung ke Venice, bukan Milano (yg lebih dekat ke Bergamo), kami memilih kereta. Begitu sampai jam 16.20 kami secepatnya ke Bergamo station. Di tempat inilah kami pisah jalan sama Shuai + Jia, mereka ke Milano, kami ke Venice.

Ada dua pilihan beli tiket, mesin atau orang. Berhubung antrian lumayan panjang, Ramanda ngantri, Kukuh dan saya mencoba menaklukkan mesin penjual tiket, untungnya ada bahasa inggris, kalo nggak kan challenging tuh. Apesnya, tiket ke Venice habis menurut mesin. Jadilah harapan satu2nya sama petugas di loket. Bagusnya lagi, doi nggak bisa bahasa Inggris. Melalui sedikit perjuangan memakai bahasa isyarat + tulisan + inggris + italia, kami akhirnya tahu tiket langsung ke Venice sudah habis, yang ada mesti ke Brescia dulu, lalu transfer disitu. Bungkus Pak. EUR 38.25 untuk tiket Bergamo – Venice buat 3 orang pun berpindah tangan. Lalu untuk jadwal, bahasa isyarat + tunjuk2 monitor komputer membuat kami memperoleh itenary berikut:
Bergamo – Brescia: 20.07 – 21.05
Brescia – Venice: 21.35 -23.51

Wrong Number?

Berhubung masih 2 jam lebih sebelum keberangkatan, kami makan malam dulu di McD sambil berusaha menghubungi Hostel CasaLinger, based on telp yg ada di konfirmasi pemesanan dari HostelWorld. Telp berkali2 nggak diangkat, yang ada orang ngomong pake bahasa Italia yg kayanya berarti “Nomor yg anda hubungi tidak terdaftar bla bla bla”. SMS Ronald Halim yg masih di Belanda buat email hostel CasaLinger tidak ada reply. Aduh….

TrenItalia

Kereta Italia ternyata sama seperti orang Italia: Telat. Mestinya berangkat 20.07, baru berangkat jam 20.15. Kereta yang kami naiki tampaknya tipe2 stoptrein, berhenti di hampir semua stasiun, yang parahnya banyak yg tidak punya plang, u/ menandakan nama stasiun itu. Di dalam kereta pun kadang mati lampu, serasa di Indo aja. Hal ini ditambah 1 orang yg tampangnya mirip orang turki mesum (di film Eurotrip) membuat kami berhati2, terutama sama tas. Udah gitu keretanya nggak smooth lagi jalannya. Lengkap deh.

Sekitar 1 jam kemudian kereta berhenti lama. Penasaran kenapa berhenti lama, kami mencari petugas TrenItalia dan bertanya. Si petugas tak bisa berbahasa Inggris. Bagus. Tunggu bentar, abis itu tanya si mirip-Turki. “Kereta ini ke Brescia”. Tapi kok lama bener ya berangkatnya. Pas petugasnya lewat, berbekal Lonely Planet (LP) Italia pinjeman Dira, nanya lagi. Kali ini pake peta Italia di halaman depan LP dan bahasa isyarat. Tunjuk-tunjuk peta, kereta, etc, akhirnya kami tahu kereta ini berhentinya disini. Dodol bener.

Disini = Rovato. Kota yang sama sekali namanya tidak pernah kami dengar dan berlokasi sebelum Brescia. Tunjuk2 peta lagi tanya “Venice” nggak ngerti….. tunjukin lokasi Venice di peta “ahhh VeneZIA”, parah nih petugas. Untung dia ada alat pencari jadwal kereta (handheld) yg kaya petugas NS punya. Ngeliat layar kecil alat itu, kereta ke Venice dari platform 2, dan berangkat jam 21.38. Gratzi Pak!

Lucunya, kereta yg kami naiki jam 21.38 dari Rovato ini adalah kereta yg seharusnya kami naiki dari Brescia jam 21.35, tapi kereta ini telat, dan kami pun beruntung. Kota besar berikut yg kami lewati dalam perjalanan
ke Venice adalah Verona, (setting Romeo – Juliet). Akhirnya sampai di Venice Santa Lucia(di pulau-nya) jam 00.55. Telat 1 jam dari jadwal.

Waterbus

Jika kota2 di Eropa, transportasi utamanya adalah subway atau bus, Venice beda sendiri. Urat nadi transportasi di Venice adalah waterbus, mirip2 sama bus, cuma jalurnya aja di sungai, bukan di jalan raya.

Dari stasiun harus ke CasaLinger Hostel. Menurut print-out google map, butuh waktu 40an menit kalo jalan. Berhubung ada water bus di dpn stasiun, tanya2 ke petugasnya (yg tentu saja tidak bisa berbahasa Inggris), kami diberi isyarat u/ masuk ke waterbus dulu (tipical Night Water Bus). Bayar mungkin belakangan.

Sambil membawa alamat, Kukuh masuk ke kabin kapten kapal yg nyetir + ngeliat alamat kami + ngomong2 pake bahasa Italia. Kayanya kapten ngomong kita mesti turun di suatu tempat (tp pake bahasa Italia). Kondekturnya sami mawon, pas kita ngomong inggris + kasih isyarat mau beli tiket 48 jam waterbus, dia ga ngerti. Sampe pas waterbus berhenti mesti diajak ke board yg ada tulisan harga, tetap aja ga ngerti. Untung ada penumpang yg bisa bahasa Inggris dan ngejelasin ga bisa beli tiket 48 jam di waterbus, cuman bisa beli single ticket. Ya udah lah, stress jg sama bahasa Italia. Somehow kita diturunkan di dekat jembatan (bbrp jam kemudian kita tahu itu Ponte di Rialto – jembatan venice yg terkenal).

Ponte di Rialto

CasaLinger Hostel: The Worst Ever

Tugas berikut, nyari Hostel CasaLinger. Payahnya print-out peta itu ternyata tidak lengkap. Dari Ponte di Rialto kami berusaha mencari Piazza San Marco (land mark Venice). Rencananya itu titik awal kami nyari Hostel yg katanya deket situ. Lucunya tengah malam kaya gitu masih ada aja bbrp turis spt kami yg baru sampai. Ada yg telpon ke hotel “Yes, now we are ….., which way to go …..”. Kami tidak seberuntung itu, telpon hostel kami “tidak aktif”. Modal tebel muka (terutama Ramanda) bertanya ke tiap mahluk hidup yg kami temui. Finally ketemu Piazza San Marco, bagus banget, tak ada turis.

Dari sini udah dapet gambaran yg agak jelas u/ ke hostel CasaLinger. Meskipun agak nyasar2, tapi akhirnya ketemu hostel ini jam 2 AM. Butuh waktu 30 menit nyari hostel (normal tanpa nyasar ternyata hanya 10 menit) ini hanya untuk dikecewakan dengan tutupnya hostel (ternyata tidak buka 24 jam) dan selembar announcement berukuran A4 bahwa kita disuruh check in di Hotel Astoria disertai no telp. Unfortunately, telpon Hotel Astoria ga diangkat.

Mengikuti petunjuk lembar A4 itu, Piazza San Marco jadi tujuan berikut. Di belakang Pizza ini ada Hotel Astoria. Lebih gampang menemukannya u/ menerima kenyataan bahwa hotel ini sudah TUTUP!!! Kayanya bbrp dari kita emosi, kalo ada bata mungkin ada kaca yg pecah. Ramanda sempat mengusulkan untuk foto hotel ini sebagai bukti kalau kami kemari dan tak ada resepsionis. Buat komplain besok paginya. Foto bentar dengan Ramanda sebagai modelnya + foto jam yg menunjukkan jam 2.25 AM

Hotel Astoria, 2.25 AM, no one in reception desk.

Carabinieri

Terinspirasi dari cerita 2 teman yg pernah sukses nginep di kantor polisi (di Indo), kami mencari kantor polisi terdekat. (*Thanks Fit for the inspiration)

(+/-) dua tahun yg lalu, dua orang traveler cewek yg kemaleman sampai di suatu tempat kebingungan nyari tempat bermalam, dan somehow menemukan kantor polisi).
Ceritanya kurang lebih
Mawar: Pak, udah kemaleman dan kami ga dapat penginapan.
Polisi: Wah dek, kita ga ada kamar, kalo di sel mau?
Melati: (tampaknya ga ada pilihan) boleh deh Pak
Polisi: Ini sekalian sama kuncinya, nanti kunci dari dalem ya.
Quiz: siapakah Mawar dan Melati? carilah petunjuknya di FaceBook gw :))

Bukan ide yg bagus tidur di luar di cuaca sedingin itu (-6 s/d -11 C -> kami tahunya belakangan). Beruntunglah dari LP, kami tahu carabinieri (mirip2 Polisi) terdekat di Piazza San Marco. Pertama kali ketemu, dari luar sekilas tutup, ternyata tidak (tahu dari resepsionis hotel mahal yg kita masuki). Pas masuk, hangat, at least lebih enak dibanding di luar. Kukuh dan saya lebih banyak diam dan membiarkan Ramanda bernegosiasi.

Ramanda and Carabinieri :))

Carabinierinya kayanya kasihan melihat kami. Dia bantu telepon nomor telp CasaLinger dan Hotel Astoria, tapi tanpa hasil. Nego2 buat tinggal disitu, at least sampe pagi gagal juga. Dua Carabinieri lain yg datang ga bisa bahasa Inggris, dan mereka kayanya mau tugas patroli. Tugas utama carabinieri adalah patroli di Venice di subuh2, membantu turis yg tersesat dan menikmati Venice di saat nggak ada turis. Kerjaannya enak jg, tp bosen kali ya.

*) bbrp jam kemudian, kami menemukan kantor Carabinieri yg lain, tapi tutup. Cuma ada interkom dan pas dijawab, cerita tentang nasib kita. NO…. gagal lagi hahaha… ditolak carabinieri 2x.

Drunken Navy-wish-to-be

Gagal di Carabinieri. Kami melangkah menuju satu hotel yg kelihatannya buka ketika kami mencari Hostel CasaLinger. Sialnya kami ketemu 3 cowok + 1 cewek, yg salah satu cowoknya keliatan mabuk berat. Udah mabok, deketin kita, ngajak kenalan. Dikacangin makin marah aja (siapa jg yg mau ladenin). “Show me your ID, show me your ID. I am Italian Navy”. Orang mabok yg ngaku anggota AL. Bagus…. 5 menit bersama orang2 ini serasa berabad2. Untung aja ada teman cewek mereka yg menenangkan. Udah gitu mata mereka semua merah lagi. Jalan licin + backpack di punggung bukan kondisi yg ideal kalo ga ada kejadian tak menyenangkan.

Lobby

Hotel yg dituju butuh melewati bbrp jembatan. Seperti biasa, Ramanda yg terdepan u/ urusan nanya2 ini. Modal: Muka tebel + kemampuan negosiasi yg mulai terasah. Awal2 nanya harga kamar, akhirnya nanya boleh tinggal sementara nggak di lobby hotel. Jam menunjukkan 3.10 AM, masih sekitar 4 jam lagi sebelum hotel Astoria kami asumsikan buka. Diskusi bentar + harga hotel menurut kami kemahalan + tinggal 4 jam lagi kami harus bertahan = stay di lobby, at least sampai diusir.

Saya dan Ramanda dapat kursi, sedangkan Kukuh dapat tangga. Dua kursi yg lain tak bisa digunakan karena ada sensor gerak, pintu buka tutup melulu kalo ada orang disitu. Saya sempat tidur sebentar, Kukuh + Ramanda tak bisa tidur dan tampaknya ngiri melihat saya bisa tidur di kondisi spt itu.

Hal yg ditakutkan pun tiba: ada pergantian shift dan si bapak baik hati harus digantikan orang lain. Kami pun “terusir” jam 4.20 AM, masih 3 jam lagi sebelum ke Hostel Astoria. Tapi sebelumnya si bapak sempat bilang, ada cafe yg buka pagi2, sekitar jam 5 AM.

Night Walk + Backpack

Misi berikut: mencari cafe ini. Ternyata tidak mudah, tempat pertama yg kami masuki di tikungan ternyata bukanya bukan jam 5. Dikasih arah, kita nyasar. Sempet jalan ke Hotel Astoria, kali2 aja udah ada resepsionisnya, ternyata nggak ada.

Ada lagi hotel yang lain. Kita langsung masuk aja, pura2 tanya restoran buka jam berapa. Ramanda udah desperate, “Pokoknya sarapan 15 EUR jg gw jabanin”, well rasanya sih kelas hotel yg baru saja kami masuki lebih dari itu. Benar saja, sarapan u/ non-tamu hotel EUR 50. Sinting bener, tp rasanya wajar melihat kemewahan hotel itu. Out of our budget sir. Terusirlah lagi.

Night walk, atau mungkin lebih tepatnya jalan2 subuh ternyata seru juga. Tidak ada turis, jadi malam itu daerah San Marco serasa milik kami. Sempet foto2 juga, pake tripod, terutama di St. Marco Square. Venice seperti kota mati, tidak ada penghuninya (kalo ada pasti pintunya sudah kami ketuk, nebeng kehangatannya aja).

Salah satu efek positif dari ke-apes-an kami “kamu bisa dapat foto2 bagus di Venice tanpa dikotori kehadiran turis” kata Romo Widya. Wajar aja lah haha, turis mana yg mau jalan saat subuh2 di Venice di cuaca minus?

San Marco Square ketika subuh (Kukuh, Ramanda, Ronald)

Ramanda sampai ngomong, “gw udah ga butuh peta Venice, malam ini daerah San Marco udah hafal di keluar kepala”. Tampaknya benar sekali, hari2 berikutnya peta tidak terlalu dibutuhkan, jalan di Venice sudah kaya wilayah sendiri saja karena kejadian di malam ini.

Tangga Restoran

Kami belum berhasil menemukan cafe yg dituju, tapi kami menemukan restoran yg pintunya terbuka. Masuk, lantai satu gelap gulita, hanya tangga ke lt. 2 aja yg ada lampu. Jam 5.30, kurang lebih 2 jam lagi penantian kita.Capek jalan, kami memutuskan untuk tinggal sementara di tangga. Sayup2 suara dengkuran orang terdengar dari lantai 2. Mungkin pemiliknya. Bisik2 bentar, nanti aja tanya restoran ini buka jam berapa pas pemiliknya bangun. Daripada di luar kedinginan.

Taktik ini berhasil selama 15 menit. Pemiliknya menunjukkan gejala bangun, dan Kukuh tanya2 bentar lalu ngasih kode buat keluar, tapi dia masih sempet2nya foto kondisi kami disini.

“Terusir” dari Tangga Restoran

Terpaksalah kami hidup di jalan lagi. Misi tetap mencari cafe yg buka jam 5 AM itu, tapi masih nggak ketemu. Sambil ngelewatin Hotel Astoria lg, siapa tahu udah buka, muter2 lagi di daerah San Marco.

Roxi Bar

Misi berhasil jam 6.20. Ternyata cafe yg dimaksud adalah Roxy Bar. Padahal tempat ini deket banget sama tangga restoran kenangan itu. Penjualnya adalah seorang kakek tua, dan di dalamnya ada bbrp orang, tp mereka tampaknya penduduk Venice.

Ingatkah gambar ini?😉

Sambil duduk, croissant + coffee + hangat = enak. Kadang2 ada bbrp jenis makanan yg terasa enak banget, dan ini . Di TV ada bbrp berita dan ketika melihat prakiraan cuaca, -6 C. Duh, selama di luar itu ternyata cuaca -6 C. (pas nge-cek di internet bbrp jam kemudian, ternyata coldestnya -11 C). Pantesan tangan beku banget di luar. Diantara kami bertiga, Ramanda yg paling sakti, karena celana-nya cuman satu lapis saja, tanpa long john. Saya yg pake dua lapis (long john + jeans) masih merasa perlu satu layer lagi. Hebat bener lulusan Atma Jaya ini (Ramanda).

Kalo ada spot bagus, prosedurnya, liat kanan kiri, lepas sarung tangan cepet2, foto2, pasang sarung tangan lagi. Benar2 nggak efisien saking dinginnya. Duduk disini sambil ngobrol rencana berikutnya mau ngapain aja.

Negeri di Awan

Sejam-an di Roxy bar sudah cukup u/ refreshing. Tugas berikut: Hotel Astoria. Tapi dalam perjalanan ke Hotel Astoria, kami menemukan objek foto bagus, Gereja San Giorgio Maggiore yg terlihat seperti mengambang di awan, efek dari kabut pagi Venice, ditambah deretan gondola yg tertutup salju. Negeri di Awan, dan sekilas teringat sama film2 Hayao Miyazaki.

Ketika melihat2 foto2 di spot ini, hasilnya oke punya. Kata Velly foto2 ketika ini adalah foto2 terbaik dari Italian Trip saya. Tapi diantara kami bertiga (Ramanda, Kukuh dan saya), rasanya tak ada yg mau mengulangi pengalaman ini lagi. hehe. cukup sekali saja. Mungkin ketika orang melihat, hanya melihat bagus-nya saja, tanpa mengetahui “bagaimana ceritanya” sehingga ada foto ini.

Hotel Astoria

Sekitar jam 8AM, 7 jam setelah kami sampai di Venice, kami akhirnya masuk ke Hotel Astoria. Resepsionisnya geleng2 denger cerita kami, kalo ga salah sampai nunjukin foto yg kita kesitu jam 2.35 AM. Negosiasi bentar soal malam pertama, akhirnya kami tidak perlu bayar malam pertama, karena kami tidak tidur disitu. Lalu, kamar kami di-upgrade. Finally, setelah semalaman tidak tidur, jam 8.15 AM kami menemukan ranjang yg nyaman.

Bbrp hari kemudian, ketika Ronald Halim bergabung di Roma dan diceritain soal kejadian di Venice, komentar dia “Kalian beruntung itu, itu kan pas lagi hebat2nya badai salju, banyak gelandangan yg mati kedinginan”. Damn, rasanya pengen nabok orang pas denger komentar spt ini. Tapi kami beruntung ada lobby hotel + tangga. Tanpa adanya kedua hal ini, malam itu pasti akan lebih sengsara. Sama Ramanda singgung2 soal hipotermia lagi (istilah kesehatan yg maknanya jelek).

Well, at least we learn something. Jadi gelandangan itu nggak enak, merasakan yg namanya terusir dari tempat satu ke tempat lain. Plus, gelandangan di Eropa kayanya lebih tahan banding dibanding gelandangan Indo, faktor musim dingin. Untung aja disana nggak ada trantib😉