December 2009


“kalau mau ikut misa (dilapangan) bs datang langsung sebelum jam 10 mlm biar dapat transpor. misa cuma bisa di lapangan, krn kalau masuk ke dalam harus ada undangan dari vatikan…”
Vatican – St. Peter Basilica

itulah reply dari Mas Hengky (ketua PPI Italia) ketika saya menanyakan tentang booking ticket untuk mengikuti misa malam Natal di dalam St. Peter Basilika, Vatican. winter 2009 kemarin. “Undangan” dari Vatican, gimana dapetinnya? Awalnya saya tanya2 soal Italia (dan undangan ini) ke Devi dan Sisca yang ke Italia winter tahun lalu, entah gimana saya dikasih FB-nya Mas Hengky buat dikontak2 nanya2 tentang Roma dan Vatican.

“Undangan” dari Vatican inilah yang kami cari2 ketika akan memulai Trip Italia kami. Awalnya kami ber-4 benar2 buta mengenai undangan ini. Searching2 di google malah dapatnya ke tour agency. Akhirnya semua jalan yang bisa dicoba, kami coba, demi memperoleh tiket ini.

Jalur Julian

Julian yang tahun lalu ke Italia dan sempat ditawarin tiket ini sama temannya, ternyata tidak bisa membantu banyak, temannya udah nggak di Roma lagi. Tahun lalu mereka sempat ditawari 4 tiket, tapi karena mereka totalnya 5 orang, akhirnya tawaran itu tidak diambil.

Jalur Mia

Dari Mia, seolah2 ada titik terang. “nald, tmn gw ada kenalan yg sodaranya pastur lagi sekolah di roma, jadi pastur itu bantuin tiket kita…” Sayangnya beberapa hari kemudian massage dari Mia “bwahahah…lupakan tiket natal vatikan nald, gw ternyata juga kaga kebagian, ternyata tiketnya udah abis 8 bulan yg lalu. cape dee…terpaksa kt ntar dluar aja…”. Aje gile, masa dari 8 bulan yang lalu udah habis?…..Sesulit itukah mendapatkan undangan ini? Padahal highlight Trip Italia kami adalah menghadiri misa malam natal di St. Peter Basilika.

Jalur Persahabatan

Email Mia tentang Pastur di Roma-lah yang membuat saya sempat berpikir “Andai punya kenalan pastur di Vatican” dan somehow saya post di FaceBook.

Status FaceBook membuka jalan

Ada kalanya Facebook berguna juga, dan untuk memperoleh “undangan” ini salah satunya. Feli, teman ketika ikutan summer school di Jerman dulu, comment “”si Irud baru jadi LO kardinal Vatikan pas kunjungan ke Jakarta minggu lalu. Sampe diberkatin segala. Mungkin lo bisa tanya dia, hahaha..” (note: Irud = cowok Feli, LO = Liaison Officer).

Setelah mendapat pencerahan dari Feli dari comment-nya, langkah berikut: email Irud, yang diperkirakan saat itu berada di Jakarta (ternyata lagi di Bali).

“Gw rencana menghabiskan malam natal ngikutin misa di Vatican bareng 3 temen (kita ber-4), nah…. kata temen gw, kalo u mau ikutan misa di dalem gerejanya, kita mesti beli tiket online/ ada hubungannya sama tiket2an gitu.

Pengen nanya aja, u ada kenalan Pastur di Vatican nggak? buat nanya2 cara dapet tiket ini. Gw udah google tiket online buat misa malam natal, tp kayanya hasilnya malah tour agency gitu. Gw post di status FB and Feli comment di bawah ini. Siapa tahu u kenal salah satu pengiring kardinal ini :D”

seminggu belum dibales (ternyata karena dia lg tugas di Bali dan nggak sempet buka email) ternyata jawabannya bener2 membawa titik cerah.

“gw memang ada kenalan Vatikaqn secara gw handle kunjungan Kardinal ****** (wakil Pope) ke Indonesia. pas kunjungan gitu, Kardinal cuma bawa 1 staff, tapi jabatannya cukup tinggi di pemerintahan (Direktur urusan ****). namanya Father ****** ****.. tapi gw gak punya no kontaknya di Vatikan. mungkin loe bisa cross-check ke salah satu ********* **** Vatikan a/n ibu ****(+39**********). atau mungkin loe bisa juga minta bantuan ibu ****.. bilang aja temennya ********* Diplik ***** yg handle kunjungan ****** kemaren bareng pak ****.”

Berhubung penasaran siapakah Kardinal ******* ini, saya googling2 bentar dan terkesima melihat hasilnya. Hasil search pertama (ada 34.000 search results), adalah profile dia di Wikipedia, ada di 10 bahasa lagi. Busyet…. kapan ya saya masuk ke Wikipedia? hahaha… Nama berikut: Father ****** ****, lumayan hebat juga profilenya. Duh, buat dapet tiket ini perjuangannya berat juga.

Strateginya, telpon Ibu **** dulu, kalau blm berhasil baru frater ****** ****, kalau masih blm berhasil jg coba kardinal ******. Kalau semuanya gagal, go show di Vatican dan nyoba peruntungan disana langsung.

Jalur KBRI Roma

Di saat yg sama, Kukuh masih meng-usahakan menanyakan ke Adhi, teman SMA dia yg pernah bekerja di KBRI Roma tentang tiket ini. “Nald, si Adhi pas gw tanyain nggak tahu soal tiket2 ini, kan dia Muslim, jadi kurang tahu banyak mengenai ini”. Jalur KBRI Roma tertutup sudah, satu2nya harapan kami untuk memperoleh tiket adalah dengan menghubungi ibu ****.

Ibu ****

Di sela2 mengerjakan tugas Special Research Method bareng Tarak dan Velly, saya menelepon ke Vatican. Percakapannya kurang lebih:

Saya : Selamat sore Ibu ****, saya Ronald, temannya ******** Diplik ***** yg handle kunjungan ****** kemaren bareng pak ****
Ibu ****: Sore Ronald, ada yang bisa saya bantu?
Saya : ngggg, begini Bu, saya mau tanya soal tiket buat misa malam natal di Vatican, sekalian mau tanya nomor kontak Father ****** ****.
Ibu ****: Ronald ada berapa orang? kapan sampai di Italia?
Saya : empat orang Bu, sampainya rencananya tanggal 19 December di Venice.
Ibu **** : Begini saja, nanti kalau sudah sampai di Italia, Ronald bisa kontak saya lagi, empat orang ya…..

Respon dari Ibu **** lumayan positif, saya disuruh menelepon lagi ketika sudah sampai di Italia untuk undangan ini. Belum 100% pasti, tapi at least ada secercah harapan untuk mendapatkan undangan ini. Sebelum kami berangkat ke Italia, berarti hanya ini satu2nya jalan2 untuk mendapatkan “undangan dari Vatican” ini.

Venice, H-4

Hari kedua di Italia, Venice, setelah tidur se-pagi-an sehabis mengalami sleepless in Venice, siangnya kami menghubungi Ibu ****, yang menyangka kami tiba di Italia dari Indonesia (dan kami ralat asumsi beliau bahwa pesawat kami langsung dari Indonesia)*). “Undangannya belum ada di saya, nanti kalian ketika sudah sampai di Roma, kalian bisa menghubungi saya lagi”. Jawaban yang diplomatis, ciri khas orang2 yang bergaul di lingkungan diplomatik.

*)Rasanya asumsi itu karena saya menelepon pertama kali via POIVY -VOIP (shg kelihatannya nomor Indonesia)

Roma, H-2

Saking pentingnya nomor telepon Ibu ****, nomor ini disimpan di beberapa tempat. Jaga-jaga kalau HP saya kecopetan di Italia (Italia hanya bisa ditandingi Spanyol untuk urusan copet mencopet ini). Ketika sampai di Roma, setelah check in hotel, kami telepon ibu ****. “Ronald sudah sampai di Roma? tiketnya besok sore mungkin sudah bisa diambil di **** Vatican, tapi sebelum berangkat kamu telepon dulu ya, sekitar jam 2 PM”.

Kepastian ini agak membuat kami lega. Kami akhirnya mengatur hari kedua di Roma (23 December) agar hanya setengah hari jalan2, after lunch kita siap2 ke **** Vatican.

Tapi malamnya Ramanda mengangkat satu isyu. “Harganya berapa ya?”. Ketidaktahuan kami mengenai tiket/undangan ini membuat kami menyangka tiket/undangan ini semacam tiket konser. Apalagi kata Mia tiket ini sudah habis 8 bulan sebelumnya. Dari Julian, tidak terlalu jelas apakah kita perlu membayar untuk memperoleh tiket ini. Benar2 nge-blank dan rasanya nggak etis kalau kita telpon Ibu **** yang telah membantu kita tentang harga tiket ini (masih berpikir ini mirip2 tiket konser). (ternyata kami keesokan harinya tahu tiket ini gratis)

Satu isyu lagi tentang Mia dkk. “Informasikan aja ke Mia, kita mungkin berhasil dapat tiketnya, mungkin dia bisa coba juga”. Unfortunately buat Mia dkk, karena HP yang kami bawa bukan HP primary kami, tidak ada satupun yg punya nomor dia.

Keputusan kami malam itu: lihat besok aja.

Roma, H-1

Setelah setengah harian muter2 koloseum, forum romano dan Palatino kami kembali ke hotel. Menunggu kabar dari Ibu **** mengenai undangan ini. Mengikuti petuah Ibu **** untuk menelepon setelah jam 14.00, sambil makan pizza di stasiun Roma Termini, saya menelepon Ibu **** jam 14.50. “Ronald, saat ini undangannya belum ada di saya. Undangannya sedang diambil kurir di Vatican, kamu bisa telepon lagi sekitar jam 4PM?”.

Dari Roma Termini, kami jalan kaki kembali ke hotel, yang hanya sekitar 15 menit. Menunggu sampai jam 4PM di hotel sambil mencari obat untuk Ronald Halim yang lagi sakit gigi (hati2 kalau sakit gigi pas lagi traveling, ga enak). Jam 4.15 PM telpon Ibu ****, nggak diangkat.Lima belas menit kemudian, saya menelpon lagi dan diangkat.

Ibu ****: Ronald, tiketnya sudah ada, kalian sudah bisa ambil di **** Vatican.
Ronald : Alamatnya yg di via Marocco kan Bu? ngeliat dari google-map, kami harus turun di stasiun metro EUR ya Bu?
Ibu **** : Stasiun EUR ada 3, kamu tahu turun di yang mana?
Ronald : (dalam hati: tiga stasiun EUR? duhhh) yang paling deket yg mana Bu?
Ibu **** : EUR Palasport. Tapi lebih baik naik bus No ### dari Roma Termini, nanti turun di dekat Hotel ShangriLa Corvetti, di via Christoforo Colombo.
Ronald : Oke Bu ****, kami skrg langsung kesana.

Menuju **** Vatican

Selesai percakapan di telpon, Kukuh dan Ramanda yg lagi tidur2an langsung dibangunin. Ronald Halim yg lagi sakit gigi dibiarkan beristirahat. 10 menit kemudian kami sudah meninggalkan hotel menuju stasiun metro terdekat, Castro Pretorio.

Di dalam subway, ternyata EUR Palasport itu searah ke stasiun Roma Termini dan kita nggak perlu ganti2 line lagi. Diskusi bentar bareng Kukuh + Ramanda, bablas aja ke EUR Palasport. Soal dari Palasport ke via Marocco, dipikirkan disana.

Keluar dari EUR Palasport, kami tersesat. Ti
dak ada peta + kemampuan bahasa inggris orang Italia yg pas-pas-an = pusing. Tanya beberapa orang, banyak yang nggak ngerti. Untunglah Kukuh nge-print google map dari Roma Termini ke via Marocco. via Marocco banyak yg nggak tahu, tapi untunglah via Christoforo Colombo ada yg tahu. Naik Bus #777 (bukan boeing 777).

Di dalam bus, nanya supir yg tentu saja nggak ngerti Inggris, tapi untunglah ngerti kata2 via Christoforo Colombo dan Hotel ShangriLa Corvetti. “Si si si”.Lega juga mendengar kata ini. Bus meluncur dan berbelok kanan, menuju satu jalan yang sangat lebar, lebih lebar dari jalan S. Parman di Jakarta, inilah via Christoforo Colombo. Saya berdiri di sebelah supir untuk nanya2 turun di sebelah mana. Benar saja, menjelang hotel ShangriLa Corvetti, supir tsb memberi tanda agar kami turun di halte tsb. Untunglah kami tidak memilih jalan kaki, karena pakai bus aja butuh sekitar 12 menit.

Via Marocco

Dari halte bus ternyata hanya membutuhkan 10 menit ke via Marocco. Petunjuk pertama “Hotel Shangrila Corvetti” mudah terlihat dari halte. Selanjutnya mencari via Marocco. ketemu plang jalan via Algeria, sambil mikir2 Algeria dan Marocco kan dipeta deket, mestinya dua jalan ini juga deketan. Bener juga, beberapa saat kemudian via Marocco ketemu.

Agak lega juga melihat logo burung garuda di dekat kami. Setelah kami sempat memencet bel, seorang pria keluar dari pintu gerbang. Dia keluar dan kami bertiga masuk. Sesampai di dalam, ada beberapa orang yang sibuk ngobrol. Ibu **** menyambut kedatangan kami dan saling memperkenalkan diri dengan orang2 di dalam ruangan. Ada Romo Widya, Frater Gabriel, Ibu ****, etc.

Ramanda dan Kukuh ngobrol bareng Frater Gabriel

“Kamu kenal Irud dimana? kamu anak Diplik ya?” tanya Ibu **** ke saya. Hahaha baru kali itu saya disangka diplomat (diplik = diplomasi publik). “Wah bukan Bu, saya mahasiswa di Belanda, dulu kenal Irud di Jakarta, soalnya dia cowoknya Feli, nah Feli ini teman saya”. Dan yang lain pada tertawa (tampang diplomat dari mana ya hahaha).

Kami ngobrol2 dan Ibu **** pun masuk ke ruangan, mengambil “Undangan dari Vatican”-spt kata Mas Hengky.

Undangan dari Vatican – Tampak Depan

Ketika Ibu **** kembali bersama “undangan” itu, kami berkesempatan melihat untuk pertama kalinya “tiket perjuangan” ini. Ada dua warna, warna merah dan hijau. Merah untuk kaum rohaniawan dan hijau untuk orang awam. Kami dapat yang warnanya hijau dan bertulisan “Solennita Del Natale Del Signore” untuk 24 December 2009 jam 22.00. Yatta….. Finally, perjuangan kami memperoleh tiket ini berakhir manis. Terima kasih Ibu ****, Irud and Feli.

Undangan dari Vatican – Tampak Belakang

Melihat ke belakang, lumayan juga usaha memperoleh tiket ini. Tiket perjuangan…. akhirnya dapat di saat2 terakhir melalui jalur persahabatan. Rute ajaib demi tiket ini: Delft -> Den Haag -> Jakarta -> Roma -> Vatican. Bermula dari email2an sama Devi dan Sisca, dapat kontak Mas Hengky. Dari sini tahu mesti ada undangan buat masuk misa di St. Peter Basilika. Nyari2 via Julian, Mia dan KBRI Roma yg blm berhasil, akhirnya dapat bantuan Feli, Irud dan Ibu ****, efek positif dari Facebook *). Ternyata meskipun banyak jalan menuju Roma, sedikit jalan menuju misa malam natal di Vatican ūüėČ

Tiket Perjuangan…. akhirnya dapat di saat2 terakhir

PS: beberapa nama orang dan tempat dalam blog ini sengaja diberi tanda ****, menjamin kerahasiaan sumber tiket ūüėÄ

*)Berhati2lah dalam berandai2 :p. Ketika saya posting status “Andai punya kenalan pastur di Vatican” saya sama sekali tidak menyangka kurang lebih dua minggu kemudian kami benar2 mempunyai kenalan pastur di Roma, bahkan salah satunya sempat mengundang kami makan siang di seminari tempat dia belajar. Sesuatu hal yang tak disangka2.

From: RAI
To: RAH
Sent: Sunday, December 13, 2009 0:10:42
Subject: Dokter gigi

Ron, mau nanya dong soal dokter gigi. Geraham belakang gw kayanya baru tumbuh tp posisinya jelek gitu. Itu dicover insurance kita ga ya? Pengalaman u bagaimana?

From: RAH
To: RAI
Sent: Sunday, December 13, 2009 14:31:11
Subject: Re: Dokter gigi

hm,,

hm harus diphoto dulu untuk memastikan, kalo memang posisinya jelek, harus dioperasi.
kl g sih blm pernah sampe operasi tapi untuk biaya dokter gigi yang sifatnya bukan perawatan IPS bisa tanggung. Kata temen g yang pernah operasi sih ditanggung biayanya, sekitar 500-600 euro.

From: RAI
To: RAH; KK; RA
Sent: Friday, December 11, 2009 12:35:36
Subject: Italia To Do List

Teammates,

Kita masih perlu mendiskusikan beberapa hal lagi,
– print peta station ke hostel
– print tourist attaraction ditiap kota
– print tiket pesawat/konfirmasi hostel
– kompilasi email2 kita
– ambil buku lonely planet Italia di Dira.
– kompilasi informasi “Transportation inner city” di tiap2 kota. Kalo ga salah ada di email gw deh
– excel file, perkiraan budget berapa (tiket pesawat, hostel, tiket kereta, tiket transportasi dalam kota, admission masuk)
– Plan soal tgl 24 Dec malam di Roma, how to go from Vatican to our hostel
– Check out time di tiap hostel
– etc??? ada yg bisa tambahin

Details
Print peta
Venice Station – Venice Hostel (how to go there, etc)
Rome Termini Station – Rome Hostel (how to go there, etc)
Florence Station – Hostel Florence
Milan Station – Hostel Milan

Print tourist attraction (keyword google: virtual tourist venice)
Venice
Rome – vatican
Florence
Pisa
Milan

gw attach jg traveling list gw pas traveling 11 harian ke Scandinavia Spring tahun ini. Just buat comparison aja apa yg mesti kita bawa.

R

Seminggu terakhir ini, banyak sekali email2 beterbangan di inbox saya dari grup kami buat traveling ke Italia dari transportasi sampai akomodasi. Ketika transportasi sudah beres, akomodasi ternyata masih “ngambang”. Awalnya karena hanya kami bertiga (Ramanda, Kukuh dan saya), saya bilang “couchsurfing aja” ntar kalian bikin profile ya baru kalo nggak dapet kita nyari hostel/hotel.
Ternyata couchsurf di Italia ga segampang yang dibayangkan, buat satu orang aja susah, apalagi buat tiga orang. Pas nanya2 ke milis IBP soal couchsurfing ini, dapat balasan dari Mbak Santi yg bikin jiper juga. Cari CS di Itali susaahh… kebetulan waktu itu dpt karna mungkin gue travelling sendirian… cewe pula! Jadinya lbh gampang, itupun yg respons banyakan cowonya (untung semuanya cowo baik2 siih). Go show kalo peak season pasti mahal gila, tp kalau mau terus gak dpt mending tidur di stasiun aja… (ehh, dingin gak ya?)

Udah gitu jawaban dia didukung dengan 9 email penolakan dalam waktu kurang dari 48 jam!!, Ini jawaban dari hampir 20 request yang dikirim. Kayanya susah jg ya, 3 orang, cowok semua lagi, dan masa2 peak season. Udah gitu dari group CS Roma – SOS Last Minute CouchRequests kayanya di Roma susah banget buat nyari host. Setelah menghubungi salah satu orang yg terdampar di Roma tanpa host, nasib dia yg bbrp jam muter2 di Roma nyari hostel dan ga nemu. Jawaban dia “I ended up staying in a hotel for ‚ā¨50, I walked
around the termini for 3 hours checked out like 50¬†hotels but they were all full. come here now I am¬†staying at this hostel it is pretty cheap and decent¬†‚ā¨10.”
Akhirnya couchsurfing pun dibatalkan, rasanya gila aja kalo mau agak nge-gambling pake CS, ntar bisa2 kami ngemper di stasiun pas musim dingin lagi. Tiba2 hostel/hotel menjadi pilihan pertama, apalagi dengan kehadiran satu orang tambahan, Ronald Halim (sengaja dibedakan karena nama saya jg Ronald). Jadilah team kita skrg jadi 4 orang.
Okay, dari master plan trip kami akhirnya kami memutuskan untuk tidur di 4 kota, Venice, Roma, Florence dan Milan. Dua kota lagi yang kami kunjungi tidak pake acara nginep, Pisa (rencananya day trip dari Florence) dan Bergamo (tempat Ryan Air mendarat, 1 jam dari Milan).
Venice
Informasi soal hostel di Venice diperoleh dari Devi, Sisca, Nir, Julian dan Juliano (yup, itu dua orang). Julian nginep di Venice Mestre. “2 malem lah, soalnya ada dua bagian venice, venice mestre sama venice yg diatas air. Kalo 1 hari ya mending ke Venice yg diatas air. Maksud gw Venice yg berupa pulau. Bukan dalam bagian daratan Italia”. Info dari dia justru bikin saya tahu satu hal, ternyata Venice itu pulau toh… dudul….
Juliano ngasih alamat lengkap
Veneza:
Property Name:          CaSa Linger Hostel
Address:        Castello РSan Antonin 3541, Venice, 30122, Italy
Telephone:      + 39 0415285920
Email:  hotelcasalinger@hotmail.com
Directions:     Come To San Marco square get off at San Zaccaria stop turn right, cross 3 bridges to arrive to Calle del Dose walk all Calle del Dose to arrive to Campa Bandiera e Moro to your right there is a small exit Рgo there you will find Hostel Casa Linger at the door number 3541!
Nir (temen seangkatan Ramanda, sama temen sekelas saya pas di ATHENS Program), juga ngasih link ke website Venere dan HIhostel. Banyak pilihan di link dia.
Salah satu info berguna datang dari Sisca dan Devi. Devi nyaranin tanya ke Sisca¬†“Untuk hotel di Venice..hehehheee.. di sini kebanyakan pada hotel bulan madu semua, alias ga ada yg macem youth hostel… :p kita dulu book hotel bulan madu nih.. tapi oke juga kok.. brsih.. karna venice terakhir, kita habis2an belanja dan dinner romantis di sebelah piazza san marco dengan menu spaghetti carbonara asli italianaaa.. hehehee…¬†nama hotelnya lupa. mungkin sisca masih inget..¬† di venice kalo malem asli sepiiiii banget… karna kita cewek2, takut juga kalo pulangnya kemaleman… “