Jawabannya “it depends”. Tergantung ditanyakan ke siapa. Kalau ditanyakan ke orang Muslim dan Yahudi, jawabannya pasti “100% haram”. Kalau ditanyakan ke orang Batak di Lapo, pasti jawabannya “Masa haram sih?” sambil menghabiskan babi panggang di piring dia. Kalau ditanyakan ke Victor, teman saya yg anak pendeta pasti dia ngutip Alkitab “bukan yang masuk ke mulut itu yang haram, tapi yang keluar dari mulut”. Jadi intinya menurut dia babi itu nggak haram. Kalau ditanya ke creator “Komunitas Pemakan Babi dan Antek-anteknya”, salah satu page di Facebook yang mengklaim berkantor di Chinese Restaurant, Lapo, dan Rumah Makan Manado, pasti dia akan menjawab seperti puisi ini.

SEMUA BABI MENTAH ADALAH HARAM
TETAPI JIKA DIPANGGANG AKAN MENJADI HARUM
TAK ADA BABI YANG TAK KAMI KABAR-KABARI
“BHINEKA TUNGGAL IBAB”

Ketika dulu kuliah di Bandung, yang mayoritas di kampus banyak non-pemakan babi, kami menggunakan istilah-istilah untuk menyamarkan kata “babi” ini seperti “daging dewa”, “panggang” dan yang paling sering dipakai adalah “B2”. Kenapa ada B2? tentu saja karena B1 sudah ada. Coba lihat kata BABI, ada berapa B disitu, ada 2 kan, di BaBi.
Istilah B2 ini tampaknya bermula dari tanah Batak, tempat dimana babi-babi tidak bisa hidup dengan tenang karena tempat paling baik bagi babi2 ini adalah di atas piring (menurut beberapa teman yg dari Tanah Batak).  Mereka juga punya istilah B1 untuk anjing, yang juga dimakan oleh mereka (coba aja pesan B1 di Lapo). B1 ini ternyata dari kata Biang, yang berarti anjing di tanah Batak. Dodolnya saya baru tahu sejarah B1 ini setelah saya di Belanda, chatting sama Eky yang emang dari daerah Sumatra Utara, padahal di Bandung dulu banyak banget bergaul sama orang Batak.
Efek samping bergaul dengan orang Batak adalah mengetahui lokasi-lokasi Lapo di Bandung, dari yang tersembunyi sampai yg di tepi jalan besar. Restoran favorit kami tentu saja L*** S******* yang terletak di tepi jalan besar di Bandung Utara. (Nama sengaja disamarkan,siapa tahu ada orang FPI yang baca blog ini dan berniat merusak restoran favorit tsb). Lucunya di restoran ini sama sekali tidak ada kesan bahwa restoran ini menjual babi sebagai menu utamanya. Kalau liat menunya, tulisannya “Panggang”, “Panggang Jumbo”, etc. yang tidak secara eksplisit ada kata babi-nya.
Kadangkala ketika masuk ke restoran-restoran seperti ini, kami dikejutkan oleh pembelinya, kok bisa ada yang jilbab-an, yang notabene pasti nggak makan dong. Ya sudah lah, kata teman yg muslim, sepanjang nggak tahu yang dimakan itu haram sih gpp.
“Nald ke klenteng yuk”, salah satu ajakan yang bisa ditafsirkan berbeda. Ngapain saya ke klenteng, biasanya jg ke gereja (Abis kebaktian, biasanya ada engko2 yg jual nasi babi seporsi cuman 12.000). Buat anak-anak Bandung yang tahu, di sebelah klenteng ada chinese restaurant yg babi-nya salah satu yang ter-enak di Bandung. Lokasi-lokasi favorit, tentu saja di L*** S*******, Klenteng, Sudirman, etc. Jadi kangen kesana.
Salah seorang teman saya yang boleh makan babi diajak makan oleh temannya yang tak boleh makan babi. Katanya menunya di warung di deket BIP itu enak banget. Ketika sampai di “warung” itu, teman saya ini kaget, dan langsung ngasih tahu, “semua makanan disini kan pake minyak babi”. Reaksi temannya itu “yah Vic, kenapa loe kasih tahu, kalo gw nggak tahu kan gw masih bisa makan disini lagi, sekarang nggak bisa lagi deh”. Dilema kan?
Dilema yg sama pernah saya alami ketika salah seorang teman makan stroopwafel disini. Ketika itu dia sudah memasukkan stroopwafel itu di mulut dia, dan saya yg iseng membaca komposisi makanan itu menemukan “E471” alias something yg mengandung babi. W***, teman saya yang lagi makan stroopwafel ini pernah bilang “kalau gw ga sengaja makan babi, tunggu sampai gw selesai makan dulu, baru kasih tahu itu mengandung babi”. W*** yang melihat tampang saya agak berubah abis membaca komposisi makanan nanya “ada apa Nald”. Berhubung masih ingat kata2 dia, saya jawab “ga papa kok”. Barulah selesai dia makan saya kasih tahu stroopwafel itu mengandung babi dan reaksi dia “untung lu kasih tahu abis gw selesai makan, kan dosanya ditanggung elu”. Sialan.
Teman yang sama pernah dengan bete-nya complain “kenapa u kasih tahu sih” ke seorang teman yang lain. Ketika itu TBM faculty lagi ada food fair. W*** sudah antri lama-lama dan dapat spagheti hanya untuk dibilangin “dagingnya haram”. Benar-benar bisa ngeliat tampang orang yang berbahagia karena perjuangan antrian dia membuahkan hasil berubah ke bete abis.
Soal E471 ini pernah bikin senewen Devi, ketika teman saya yang kuliah di Prancis ini main-main ke Belanda pas libur paskah 2009. Ketika mencari roti di supermarket C1000, saya bilang, liat dulu ingredientnya, jangan yang ada E471. Walhasil, pilihan makanan jadi semakin sedikit, karena semua roti disitu mengandung E471. Sampai Devi akhirnya bilang “Nald, mendingan u ga kasih tahu, jadi lebih gampang”. Nah, gimana tuh?
Kadar resistansi orang-orang yang tak boleh makan babi pun berbeda2. Salah seorang anak baru yang berlatar belakang Yahudi cuek-cuek aja soal makanan yg dia makan mengandung babi or not, kosher or not. Demikian pula yang muslim.
Uwak yang punya kost-an saya di Cikapayang dulu sering banget nitip Bakmi dari salah satu toko di daerah Bandung tengah, kalau tahu saya mau kesana. Padahal dia tahu itu mengandung minyak babi. Sutra lah….
Ketika di Jerman dulu, saya agak kaget mendengar jawaban A**** ketika Diana bertanya, “yang ini mengandung babi apa nggak” berkali-kali. Jawabannya “Neng…. disini kalo u pilih-pilih, ga hidup lu”. Keduanya muslim dan A**** ketika barbeque (sosis babi) cuek-cuek aja makan. Termasuk dua orang peserta summer school dari Turki ketika itu. A**** memang benar sih, banyak banget daging babi di Jerman, sampe bosen.
Ketika di Jepang, beberapa teman yang muslim (anak Titech), berkata disini yang halal di McDonald dan bbrp tempat (yg saya lupa). Kalau ke Yoshinoya atau Matsuya, dagingnya belum tentu dipotong dengan halal. Tentang halal haram ini emang kadang-kadang ribet. Udah gitu orang-orang Islam harus hafal kanji buat babi, biar nggak salah milih. Kalau kecanduan kan berabe.
Kenapa babi ini haram pernah jadi diskusi yang menarik antara Dmitri (Estonia) dan Wadheh (Oman). Wadheh yang muslim berdebat dengan Dmitri (yang tampaknya Atheis) tentang kenapa babi itu haram di Nagano ketika universitas kami lagi bikin ski trip. Kami semua tertarik mengamati karena Dmitri memang suka berdebat tentang apapun, terutama dengan Jullietta. Entah kenapa debat ini bisa melenceng dari babi ke kenapa 4 itu angka yang bagus buat jumlah istri.
“Istri anak saya tidak makan babi” kata om Tom, host saya di Swedia. “Tapi juga jarang sholat, saya bingung sama dia”. Om Tom ini ternyata cuek bebek makan babi, meskipun dia itu dilarang agamanya makan babi. Ketika sampai di rumah dia, salah satu pertanyaan awal “Kamu makan babi nggak?”, pertanyaan yg membuat saya menyangka om Tom ini
Kristen/Katolik (ternyata salah).
Ketika summer kemarin ikutan summer school. Zoltan, teman dari Hungaria, menjelaskan ke saya scientific explanation kenapa babi itu dianggap haram. Buat orang Yahudi dan Muslim yang tinggal di gurun2, daging babi itu cepat sekali membusuknya dibandingkan daging sapi atau ayam. Mungkin karena ini-lah di-haram-kan di kitab suci mereka. Ketika itu, saya mengikuti TransIBERIAn Jamon Express, dimana Jamon (Ham-nya spanyol) menjadi makanan pokok kita sehari-hari. Udah gitu ngeliat daging babi segede gaban digantung2 lagi. Bener-bener deh, bikin laper.
Saya saat ini masih bertanya-tanya, kenapa teman2 saya tetap saja suka ke chinese restaurant di Den Haag yg berakhiran Kee. Rule of thumb, hampir semua chinese restaurant itu pake minyak babi, isunya yang bikin enak itu sih (selain MSG tentunya). Salah satu menu favorit saya di “Kee” ini adalah babi merah di Fat Kee yang ternyata enak banget, mirip-mirip sama babi merah di Kota, sedikit banyak mengobati kerinduan makan babi yang bercita rasa Indonesia. Lucunya lagi di Belanda ini, “Babi Panggang” ini termasuk salah satu kosa-kata yang akan sering dilihat di restaurant. Termasuk “Sate Babi” yang dijual bebas di supermarket. Banyak juga babi disini.
Jadi, haram-kah babi?
*blog ini ditulis dalam keadaan stress dan laper karena kebanyakan tugas*