May 2009


From: RAI
To: lombafotoneso@gmail.com
Sent: Saturday, May 30, 2009 11:24:41
Subject: Kompetisi Foto NUFFIC – IKANED 2009 (Ronald A. Indra – TU Delft)

Dear Panitia Lomba Foto NESO

Berikut ini ter-attach foto2 yang akan diikutkan di kompetisi foto NESO-IKANED bertema “Student Life in Holland”. Semua gambar berikut ini diambil oleh saya sendiri, dengan kamera saku Nikon Coolpix S3.

Nama: RAI
Universitas: TU Delft angkatan 2008
Program Studi : Management of Technology
Kamera: Nikon Coolpix S3
Phone : + 31-644-18****
email: *******@yahoo.com

***

Picture 1 – Sepatu Kayu Raksasa
Lokasi: Keukenhof
Tanggal: 16 Mei 2009

International Office TU Delft mengadakan ekskursi ke Keukenhof untuk mahasiswa international pada 16 Mei 2009. Di Keukenhof, Andi Credo Sibuea, (TU Delft, Depkominfo Scholar 2007) begitu melihat sepatu besar ini “Nald, tolong fotoin aku di dalam sini dong”. Inilah hasilnya. Photo by RAI (TU Delft)

Picture 2 – Diantara buku-buku
Lokasi: Perpustakaan TU Delft
Tanggal: 15 April 2009

Suasana di dalam perpustakaan TU Delft. Dari luar Perpustakaan TU Delft ini bisa dibilang semacam landmark TU Delft karena bentuk kerucutnya. Mahasiswi di foto adalah Deviana Octavira (Ketua PPI Nice – EDHEC Business School, Nice) yang sedang berkunjung ke Delft. Photo by RAI (TU Delft)

Picture 3 – Informasi keberangkatan kereta
Lokasi: Rotterdam Central Station
Tanggal: 15 April 2009

Kereta merupakan salah satu urat nadi transportasi di Belanda. Anda akan terbiasa dengan membaca informasi tentang keberangkatan kereta berwarna kuning ini. Mahasiswi di foto adalah Deviana Octavira (Ketua PPI Nice – EDHEC Business School, Nice) yang sedang berkunjung ke Delft. Photo by RAI (TU Delft)

Picture 4 – Menambal ban
Lokasi: EWI Building, lantai paling bawah, TU Delft
Tanggal: 13 Desember 2008

Berhubung sepeda merupakan salah satu hal yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari2 mahasiswa di Belanda, salah satu keahlian yang direkomendasikan untuk dimiliki mahasiswa yang studi di Belanda adalah menambal ban sepeda. Tampak di gambar, Ondy Dharma (TU Delft 2008) sedang menambal dua sepeda. Photo by RAI (TU Delft)

Picture 5 – Huygens Certificate Ceremony
Lokasi: Madurodam
Tanggal: 28 Maret 2009

Penerima beasiswa HSP Huygens dari berbagai negara berkumpul bersama di Madurodam untuk mengikuti acara penyerahan sertifikat tgl 28 Maret 2009. Saya dan 7 penerima beasiswa HSP Huygens 2008 dari Indonesia lainnya menghadiri acara penyerahan sertifikat ini. Tampak salah satu peserta dari Indonesia (Rio Putra Juni – Universitas Maastricht 2008) sedang menerima sertifikat Huygens Scholarship. Photo by RAI (TU Delft)

Advertisements

Story #1 – Vivaldi Girls


Pemusik jalanan merupakan pemandangan yang biasa di Stroget, shopping street (yg katanya terpanjang di Eropa) di Copenhagen. Hari pertama tiba saja, saya sudah melihat performance dari 5 anak muda dengan alat musiknya berupa botol yang diisi air dengan tinggi berbeda-beda. Salah satunya, yang main drum mirip banget sama Harry Potter. Salah satu yang membedakan dengan pengamen jalanan di Indonesia adalah mereka lebih profesional. Emang sih mereka naruh topi buat pengunjung ngasih recehan, tapi sebenarnya ini lebih merupakan publikasi mereka biar masyarakat tahu eksistensi mereka. Si pemusik2 botol ini bahkan punya website untuk group mereka. *mikir2 ada ga ya pengamen jalanan Indo punya website?*

Nah, pemusik botol ini saya lihat dalam perjalanan menuju Royal Park. Ketika pulang dari Royal Park menuju ke Copenhagen station, Rahmadi mendengar lagu Vivaldi dimainkan di ujung jalan. Suaranya kencang, sound systemnya kayanya OK punya, plus pas dengerin musik mereka udah kaya dengerin CD aja. Benar-benar berbakat. Three girls with their own instruments playing the composition.
Rahmadi  bilang, “Nald, kasih 10 kronor aja”. Saya yang abis foto-in mereka, nggak ngeh dengan nilai 10 kronor ini, masih transisi dari mikir dalam Euro ke Kronor. Dalam hati mikir Rahmadi pelit amat, masa dikasih 10 kronor (masih mikir2 10 kronor itu < 50 Eurocent). Debat dikit, “20 kronor aja”, masih ngirain 20 kronor itu masih < 1 Euro. Rahmadi ga terima, dan debat, “10 kronor aja”. Berhubung saya yang megang recehan, saya cuek aja, dan langsung ngasih 20 kronor. Pas udah ngasih, Rahmadi langsung bilang, “20 Kronor??!!!!!” dan langsung convert itu ke Euro. Saya yang masih ga percaya, ngebuka Lonely Planet Scandinavia, bagian currency thingy.
OMG, 7,44DKK = 1 EUR, jadi saya tadi ngasih 20/7.44 = 2.6an Euro ke mereka. Jumlah yang lumayan gede, tidak sesuai dengan misi kita untuk berhemat ria dalam trip kali ini. Ya udahlah, hitung2 beramal sama pemusik berbakat. Meskipun rasanya Rahmadi ga terima dan kadang2 ngungkit kejadian ini dan menyangka saya ngasih karena tersihir sama kecantikan mereka (alasan sebenarnya sih salah convert DKK ke Euro). (Akhirnya berhenti sejak saya punya kartu as kejadian dia dan homo Swedish-Japanese yang tertarik sama dia). Lesson learned, hati2 kalo switching currency dari mata uang satu ke mata uang lainnya, biasanya otak lumayan lemot dalam hal ini.

Well, hari ketiga di Copenhagen, jalanan ini masih dilewati, dan pengamen solo (cowok) yang kita lihat pun dikasih 2 (bukan 20) Kronor. Belajar dari pengalaman.

Story #2 – Tivoli’s Aquarium
Marketing bisa menipu. Saat ngebaca tentang Tivoli Akuarium di brosurnya Tivoli, kesannya bagus banget ya, akuarium dengan panjang 30 meter berisi ikan2 dan terumbu karang. Based on that, akhirnya kami bertiga (saya, Rahmadi dan Ardhy) memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat ikan2 tersebut. Tambah 20 kronor per orang untuk masuk ke akuarium ini (entrance fee Tivoli = 285 DKK).
Di akuarium Tivoli, pas ngeliat ruangannya “jangan bilang cuman segini”. Penonton kecewa, Tivoli akuarium ternyata bener-bener kecil. 30 meter itu ternyata bisa dibilang pendek banget, kaya tiga rumah lebar 10 meter dijejerin. Jauh lebih bagus seaworld malah. Udah gitu terumbu karangnya kayanya mati gitu, warnanya kusam, bener-bener deh 20 kronor itu bisa dibilang sia-sia, meskipun ga sepenuhnya terbuang karena kami bertiga bisa tidur sebentar di bantal besar yang empuk. Tiduran sambil liatin ikan-ikan yang kayanya berenangnya aja udah nggak semangat. Kurang lincah.
Story #3 – The Bike
Hari ketiga di Copenhagen, abis secara tidak sengaja ngeliat guard change (lagi), rencananya ke tempat Little Mermaid, yang jadi simbol kota copenhagen. Awalnya mau jalan kaki dari Amelienborg Palace ke tempat mermaid ini. Sambil jalan, kami ngeliat sepeda lucu yang rodanya itu tanpa jari2, dan bergambar Mr. Smile. Lucu juga selera humor dinas pariwisata disini. Selidik punya selidik, ternyata sepeda ini gratis, tapi harus ngasih deposit 20 Kronor yang akan balik kalo sepeda ini dikembalikan ke tempat2 tertentu di Copenhangen. Kerennya, di stangnya ada peta copenhagen kecil lagi. Bener-bener ngebantu banget.
Singkat cerita, bersepedalah kami menuju Little Mermaid ini. Mirip di Belanda, ada jalur khusus sepeda di jalan raya. Bedanya kalo di Belanda jalurnya jelas2 berwarna merah. Di Denmark, jalur2 sepeda nggak diwarnain, kecuali di persimpangan diwarnain pake warna biru.
Pas nyampe, kepikiran buat nge-take sepeda ini buat kita seharian. Tapi gimana caranya? mana kepikiran pas liburan bawa2 gembok sepeda (Advise: kalo ke kopenhagen bawa gembok sepeda). Pas baru nyampe deket tempat mermaid aja udah ada orang yg ngeliatin sepeda kita dan nanya “udah selesai makenya?”. Jadi, kalo kita parkir, dan dapet 20 Kronor kita kembali, udah pasti 10 menit kemudian sepeda itu dipake turis lainnya. Abis dipikir2, ya udahlah, relain aja sepeda ini. Parkir, ambil deposit kembali. 20 Kronor Rahmadi kembali dengan lancarnya, sedangkan 20 Kronor saya nyangkut. Bener2 nyangkut, sampe perlu langkah2 agak berbau kekerasan demi mengeluarkan 20 kronor itu, phew, untunglah bisa dikeluarin. Kalau ada yg tertarik mencoba cara itu, hubungi saya.
Story #4 – Copenhagen Post
Tourist information justru kami kunjungi di hari terakhir kami di Copenhagen. Dodol banget ya. Alasan dibalik hal itu adalah kami tak berhasil menemukan Tourist Information berdasarkan informasi Lonely Planet (LP) kami yang ternyata tidak up to date, maklum pinjeman, dan dapatnya pun 2 hari sebelum berangkat ke Scandinavia. Sudah tiga kali LP mengecewakan saya soal informasi, pertama di Shanghai, kedua di Busan, dan ketiga di Copenhagen ini.
Ardhy yg justru ngasih tau letak tourist information, yang deket
banget sama Copenhagen Central Station. Kalo ngadep Tivoli, itu ada di gedung arah jam 10. Deket banget, 5 menit aja nyampe. Masuk ke dalam Tourist Information, wuihhh bagus banget. Ini tourist information terbaik yang pernah saya kunjungi selama saya traveling. Ada acara pake ambil nomor antrian lagi. Sambil nunggu antrian, saya ngambil brosur2 pariwisata Denmark + Oresund yang dipajang, kelihatannya sih gratis.
Abis nomor kita dipanggil, tiket Oresund berhasil diperoleh. Tiket yg bikin puyeng selama dua hari ini saking nggak jelasnya informasi tentang tiket ini. Cerita nyusul. Sempat memuji soal Tourist Information ini ke ibu tsb “Until now, this is the best tourist information I have seen” yang gara2 itu jadi banyak bercerita banyak tentang senangnya dia kerja di tempat ini. Kayanya saya membuat kesan yg bagus. Nice impression.
Nah, pas balik ini saya ngeliat satu tabloid (English) di Tourist Information yang langsung saya ambil. Lumayan buat bahan bacaan. Pas di kereta ke Malmo mulailah membaca tabloid ini. Halaman utama isinya tentang sosialita di Denmark yg ketangkap basah jadi germo. Buka halaman demi halaman, kenapa isinya kaya bagian international di Kompas ya, ada tentang pembajakan di Somalia? Feeling udah jelek aja, buka halaman selanjutnya, Sport. Sejak kapan Tourist Information ngasih tabloid yang isinya bukan tentang traveling.
Pas ngeliat halaman depan, kenapa nama tabloid ini Copenhagen Post, mendadak inget Jakarta Post. Kalo Jakarta Post kan mesti bayar, dan ternyata, OMG, tabloid ini TIDAK gratisan, ada tulisan kecil harganya 20 DKK. Dodol dodol…. saya ngambil koran yang rupanya dijual dan tidak membayar. Pas nginget2 lagi, di sebelah Tourist Information itu ada Cafe, kayanya tabloid ini punya Cafe itu, dan dengan santainya saya ngambil dan tidak membayar (soalnya nyangka gratisan). Hati merasa berdosa, tapi masa kembali ke Copenhagen lagi cuman buat balikin tabloid ini. Pengen ngaku dosa aja di Helsingor (Denmark) Tourist Information aja keesokan harinya, sambil balikin “barang bukti” plus ngasih 20 DKK.

Moga2 CCTV-nya tidak bekerja, kan ga lucu kalo tampang saya (untung pake topi), masuk ke wanted list gara2 ngembat koran (secara tidak sengaja). Tapi rasanya backpack saya yg bagian belakangnya ada simbol TNI-AU yg paling visible di rekaman. Saya benar2 membawa nama TNI-AU sampai ke Copenhagen, nice. Anyway, saya bukan anggota TNI-AU, tas itu dapet dari adek, yang dapet dari pasar senen (kalo ga salah).
Setelah perjalanan di Copenhagen ini, saya selalu berpikir, “ada apa dengan 20 Kronor?” Kayanya selalu ada cerita tentang 20 Kronor, kenapa nggak 10 kronor aja? Yah udah lah, yang lalu biarkanlah berlalu. Nyari pastur, ngaku dosa hehehe ;p

Akhirnya scandinavia trip selesai juga. Salah satu trip yang berkesan untuk saya, terutama untuk pemandangan alam di deket Bergen. Top banget, tempat yg pasti akan saya datangi kembali suatu saat nanti.
Semua moda transportasi yang ada dipakai, dari bus (termasuk bus malam,sama dalam kota), subway, metro, trem, kereta (termasuk scenic train dan kereta dengan kemiringan 26 derajat), ferry lintas negara, nebeng mobil host dan ditutup dengan maskapai murah meriah yang pas mendarat ada suara terompet (kaya tahun baruan aja) alias RyanAir. Perjalanan dengan jenis2 transportasi paling lengkap selama ini. Lupa naik becak aja kali ya ;p
The Beginning
Awalnya bisa di-trace back ke bulan Desember 2008. Pas lagi chatting sama Widita, dia nanya, spring break mau kemana. Berhubung masih anak baru dan belum begitu familiar dengan libur2 yg ada di TU Delft, saya buka blackboard, dan ternyata, liburnya lumayan juga ya, 11 hari. Langsung deh searching2 tiket murah. Tiket yg pertama dibeli justru RyanAir Stockholm – Eindhoven. Bener2 impulsif saat stress nggak kemana2 winter holiday kemarin. Soal cara ke Stockholm, waktu itu pikirannya, masih ada tiga bulan-an buat mikirin.
Rencana awal, jalannya sendirian. Tapi setelah mencari umat, Christian, anak Total Scholarship Prancis mau bergabung, dan Rahmadi, anak TUD jg interested. Sayangnya Christian batal di saat2 terakhir karena bokek abis liburan ke Yunani (kadang2 saya pengen jadi anak Total, kerjanya jalan2 melulu, bikin mupeng aja)

Copenhagen – Day 1 – 3

Akhirnya dibuat perjalanan via darat. Copenhagen jadi tujuan pertama kami. Ada Ardhy yang dengan baik hatinya menampung kami selama di Copenhagen. Plus kasih2 advice cara menghemat uang, terutama di bagian transportasi.
kesan mengenai copenhagen
  • cewek-cewek copenhagen bener2 cantik2. Potongan barbie-like, blonde, mata biru, dan bodi bagus. Sampai2 Rahmadi banyak foto candid cewek2 Copenhagen, saya yang mau ngambil candid mesti mengelus dada dengan kemampuan kamera yg seadanya. Bener2 SLR dibutuhkan disini. Komentar Rahmadi yg saya ingat “Nald, gw udah mulai ga bisa bedain yang mana warga biasa, yang mana model”. Beruntungnya Ardhy. Komentar2 lain “Gila Nald, tukang sampah aja cantik”. gw “Setuju, semoga yg di Stockholm lebih cantik -> tapi kecewa pas di Stockholm”.
  • Bule Copenhagen suka berjemur di jembatan istana. Kami menspot tiga bule cantik dengan celana jeans + bra sedang berjemur.
  • Orang denmark suka kencing di semak2, kalo ga percaya dateng aja ke Royal Park. Ga cowok ga cewek, sering masuk semak2 dan menghilang, abis itu nongol lagi.
  • 20 Kronors story (detail nanti)
  • Keretanya bagus banget, interior kereta terbaik yang pernah saya lihat, meskipun bikin sakit kantong. Kereta mereka sangat peduli lingkungan, abis itu kita bisa ngeliat stasiun awal – akhir dalam bentuk LED display. Bener2 keren.
  • Diwawancara sama wartawan di deket patung Little Mermaid, tentang rencana pemindahan patung ke China dalam rangka World Expo selama 6 bulan.
Malmo – Day 4
Kota swedia yang paling deket Copenhagen ini, turning torso-nya yang terkenal. Bangunan yang dibuat oleh arsitek yg kesannya, iseng amat ini orang. Tapi sama Mas Sigit dibela dengan “hehe ini bukan iseng… but really great construction… designed by genious Spanish Architect, Santiago Calatrava”. Informasi yg berguna, karena saya awalnya tak tahu apa2 tentang bangunan ini.
Lund – Day 4
Kota ini sekilas mirip banget sama Delft, university town. Terlintas mengunjungi tempat ini setelah ngeliat foto2nya Bang John yg sempet kesini juga. Di-guide sama Rika, yang baru kenal, abis saya email-in ketua PPI Swedia, minta tolong siapa tahu ada yg bisa guide kami berdua pas di Swedia (Malmo, Lund, Helsingborg, dan Stockholm). Dapet 3 nama, 1 di Lund (Rika) dan 2 di Stockholm. Cuma Rika doang yg ada waktu buat nge-guide kita2.
Salah satu tempat unik yg dikunjungi disini adalah kuburan Swedia. Pas lewat kuburan, Rahmadi memperoleh dorongan untuk melihat nisan2 orang Swedia. Itu kuburan biasa, sambil jalan Rahmadi sibuk mengomentarin tahun kematian orang2 itu.
Helsingborg – Helsingor – Day 5
Helsingborg, tujuannya transit doang sebelum ke Oslo dan Helsingor. Helsingborg – Helsingor itu bener2 kota kembar, tapi yg satu punya Swedia, yang satu punyanya Denmark. Jaraknya cuman dipisahkan 20 KM sama laut. Bisa ngeliat dari kota tetangga dari tepi pantai, padahal udah beda negara. Tinggal di tempat Christian, host Couchsurfing kami. Tujuan utama kesini sih ke Hamlet Castle (yup, Hamlet-nya Shakespeare). Kastilnya sih biasa, tapi dungeonnya bagus.


Di kota ini Rahmadi mengalami “pelecehan”, pake tanda kutip. Abis nuker duit Denmark Kronor di Forex, tiga orang menghampiri kami (saya, Rahmadi dan Christian). 1 tampang bule dan 2 tampang asia. Ngobrol2 bentar, sambil praktekin Mandarin dan Jepang, kirain mereka emang ramah (biasa kan orang asia
ramah2). Ternyata Christian senyum2 pas si Bule (yg ternyata blasteran Jepang – Swedish) ngomong ke dia dalam swedish yg isinya kurang lebih: “Is he (maksudnya Rahmadi) gay? I want to take him home and eat  him”. Awalnya kita ga tau dia ngomong apa sama Christian, tiba2 mereka bertiga ngomong “We are homosexual” dan kayanya si bule blasteran ini ngasih sinyal2 positif ke Rahmadi. Huahahahaha….. apalagi pas mereka udah pergi dan Christian ngasih tahu ke Rahmadi apa yg dibicarakan oleh mereka :)) Seharian tampang dia bete abis.
Oslo – Day 6
Pertama kali nyampe Oslo, udah disambut dua orang “suspected” criminal di WC. “Orang-orang Unta”, demikianlah sebutan Echa buat mereka. Tampang mencurigakan, gerak gerik mencurigakan. Untung kami berdua. Kalo sendirian kayanya udah habis dipalak tuh.
Seharian habis di museum2 di daerah Bigdoy. Beli Oslo pass buat sehari. Lumayan hemat juga pake Pass2 kaya gini. Malemnya (meskipun masih terang) ke Vigeland Sculpture Park. Pokoknya taman ini isiny
a patung telanjang semua, cowok, cewek, dari bayi sampe kakek-nenek.Lengkap. Hans malah ga inget namanya. Comment dia, “Udah ke taman patung telanjang belum pas di Olso”, pas kami ketemuan di Bergen.
Di Oslo ini bener2 arti kelaparan bisa dihayati. Berhubung berhemat karena scandinavia mahal banget, kita cuman makan roti. Jam 7 PM sudah mulai kerasa efek hanya makan roti 4 potong sebagai brunch. Sakit kepala – gara2 kurang makan + sakit kantong pas ngeliat makanan harganya ga kira2. Masa paket McD atau Burger King itu 81 NOK (kira2 12 Euro-an). Udah gitu kalo makan di dalam restorannya kena extra 5 NOK. Sedeng….Orang yg bilang Jepang negara termahal di dunia pasti belum pernah ke Norway.
Bergen Day 7-8
Pas pagi hari nyampe di Bergen ini bener2 kami tepar. Kemarin paginya baru nyampe di Oslo pake bus malam, seharian jalan, malamnya udah mesti naik kereta malam ke Bergen.
Dapet kepastian tempat tinggal di Bergen pun dua hari sebelum sampai di Bergen. Hans yang dihubungi via email, ga ngejawab. Via email facebook ga ngejawab. Akhirnya ngejawabanya setelah send wall post ke dia. Habis ngeliat komputer Hans, terang aja ga dibales, email dia bejibun gitu, banyak unread massagenya. Untung ada facebook hehe. Anyway, Hans sama saya satu almamater dan satu angkatan dulu pas di institut cap gajah duduk. Hans ambil Kelautan, saya ambil Elektro. Anyway, selama trip ini saya ketemu sama tiga rekan satu almamater, Hans (Kelautan), Ardhy (Elektro) dan Desiree (Elektro) yang dulu seangkatan. Banyak pertukaran cerita pas ketemu :).
Bergen rupanya lagi masa-masa graduasi SMU. Tradisinya, merangkak sepanjang jalan utama di Bergen. Awalnya saya nggak tau tradisi ini, tapi berhubung pengen tahu, tanya2 sama dua orang yg lagi menemani 2 cewek merangkak. Interogasi berhasil dan mereka cerita banyak soal tradisi ini. Plus dua orang yg merangkak mau difoto. Photo of the day.
Intinya bergen itu the most beautiful city in Norway. Mirip2 Bandung, dikelilingi gunung2. Bedanya ini jg dibatasi oleh laut. Pemandangan dari Floibahnenya bagus, apalagi menjelang senja.
Norway in a Nutshell – Day 8
Ini bener2 highlight trip kali ini. Awalnya Bergen ini ga masuk dalam hitungan buat dikunjungi buat spring break kali ini. Tapi Ardhy promosinya kenceng banget soal Bergen + Norway in a nutshell ini (thanks Dhy), sampe2 saya akhirnya merubah travel plan.
Trip ini dijual 935 NOK (120an Euro). Mahal, tapi it’s worth it. Foto2 saya yang bagus diperoleh dari satu hari ini. Meskipun kameranya, kamera saku biasa, tapi berhubung objeknya emang bagus banget, jadilah foto2 yang bagus.
Intinya ini tour yg diorganized, tapi kita dapet tiket transportasi doang. Rutenya Bergen – Voss – Gudvangen – Flam – Myrdal – Voss – Bergen. Kata Ardhy, ikutan tour ini, bukan tujuannya yg penting, tapi perjalanannya yang berkesan. He’s totally right.
Gudvangen – Flam naik ferry di sekeliling fjord ditemani camar2  yang terbang di sekitar ferry kami. Bener-bener indah banget. Ini videonya link. Ini trigger kedua yang membuat saya mau beli SLR. Apalagi pas ngeliat foto-foto dari SLR-nya Bayu  yang ada di laptop Ardhy, keren banget foto camar2 ini (beneran namanya camar ga ya?)
Nanti-lah khusus cerita tentang ini. Link ke Foto
Scenic Train Bergen – Oslo PLUS Oslo – Day 9 – 10
Rute kereta Oslo – Bergen ini, menurut LP Scandinavia pinjeman temen saya, salah satu dari three scenic route in Norway. Bagus banget pemandangan sepanjang perjalanan. Bener-bener butuh kamera yang bagusan dikit, soalnya ngambil gambar sering banget berbayang. Satu lagi, lupa bawa handycam buat ngerekam perjalananan ini. Worthwhile buat direkam soalnya.
Sampe jam 5 sorean. Nginep di rumah Bjorn, salah satu host Couchsurfing kami. Ada kesepakatan saya dan Rahmadi, akomodasi Copenhagen – Helsingor – Bergen – Oslo itu responsibility saya, akomodasi Stockholm itu responsibility dia. Bjorn ini atheist yang punya satu anjing kelewat ramah. Nempel melulu sama tamu. Tinggal di tempat Bjorn sekilas tinggal di tempatnya dukun heavy metal. Berasap + motor gede + Jaket preman + loud music.
Stockholm – Day 11 – 12
Di Stockholm nginep di rumah om Tom Ilyas, kenalannya Rahmadi. Sepanjang perjalanan, di backpack Rahmadi terseliplah “Bika Ambon” yang terbungkus dalam kantong plastik khusus. Inilah titipan temen2 om Ilyas yang di Belanda. Rahmadi jadi semacam kurir gitu.
Berhubung hari senin nyampe di Stockholm, semua museum tutup. Kita hanya bisa ke kawasan istana, ngeliat guard changing. Ada orang Tamil lagi demo deket istana. Foto2 horror dipasang. Ada kasur disitu buat orang yg mogok makan (kurang kerjaan amat sih). Pas bengong2 gitu, akhirnya kita ke KTH (ITB-nya Swedia), iseng2 aja, ga tau mau kemana lagi.
Sama Om Ilyas (mantan ketua PPI China tahun 1960an), dia lebih banyak cerita kejadian 1965, sampai harus kehilangan kewarganegaraan karena “at the wrong place at the wrong time”. Saya jadi mikir2, berat juga ya nasib mereka, benar2 terlunta2. Gimana kalo sekarang di Indonesia muncul Partai Anti Belanda, dan semua lulusan belanda dicabut paspornya. Males deh.
Hari selasa-nya ke Vasa Museum, ngeliat kapal perang viking yg berhasil diangkat setelah terbenam di laut selama 333 tahun. Lama bener ya, dan kayunya nggak lapuk lagi. Abis itu ke Nobel Musem, yg hokinya lagi gratisan. Hari  yang bisa dibilang tidak efektif.
Stockholm – Eindhoven – Delft – Day 13
Yup, ini hari bolos saya. Kuliah dimulai hari ini, tapi berhasil ngebujuk temen buat nge-rekamin kuliah. Jadinya aman. Faktor U (uang) bener2 mempengaruhi kenapa baliknya tanggal ini. Tgl 5 harga tiketnya 2x dibanding Tgl 6. Bolos sehari gpp lah.
Seharian habis di jalan Berangkat dari rumah om Ilyas, buat ke stockholm, abis itu naik bus ke Svasta Airport. Di Skavsta, tas Rahmadi kegedean buat masuk bagasi, makanya dia kena extra charge buat bagasi. Untung dapet petugas yg baik, ga seresek yg disebelah.
di Eindhoven ketemuan sama Desiree + Mas Zalfany (suaminya). Temen kuliah dulu yg udah ga ketemu sejak tahun 2005, sama kaya Ardhy, yg lama ga ketemu juga. Dibuatin makan malem (thank Des, perlu belajar bikin tahu spt itu ;p). Balik ke Delft udah jam 11an malem. Tak sabar menunggu summer holiday.
Rute Scandinavia Trip

Contoh pembelian voucher online Lebara di Belanda

***
From:
To:
Sent: Friday, May 22, 2009 22:10:17
Subject: Voucher Lebara

Dutch call credit voucher

Your payment was sucessfully authorised.
To use the voucher, call 1244 free of charge, choose option 2 and follow the instructions.

Order reference : F01400188193
Payment reference : F014000000171752
Type of voucher : Reload voucher for 10 euro = 20 euro
Voucher number : 75861110970720

Please make a note of the voucher number above just in case you don’t receive the email we have just sent you.

From: R
To: W
Sent: Thursday, May 21, 2009 13:55:53
Subject: Transfer Tiket

W,

Udah gw transfer ya, pengirimnya R

Detailsnya

59.40 Euro – Norwegian Air 18 July 2009 (Oslo – Prague)
26.54 Euro – Wizz Air 18 July 2009 (Prague – Madrid)
48.50 Euro – Click Air 7 Aug 2009 (Barcelona – Vienna)
21.03 Euro – Wizz Air 16 Aug 2009 (Prague – Eindhoven)

Kalo ada yg nanti berbeda (misalnya kurang gara2 beda currency gitu), tolong kasih tau gw ya Wie, oh ya, sama yg Click Air, jaga2 aja tadi ada transaksi error (hehe bisa2 gw luntang lantung di barcelona ;p)

Btw, gw attach jg rekening ABN Amro gw

Thanks banget lho 🙂
R

From: R
To: F
Sent: Tuesday, May 19, 2009 10:58:32
Subject: Yatta, Spain here I come

sebagai teman traveling gw yg baik, elu mendapat kehormatan pertama buat dapet kabar ini. Gw keterima ikutan summer university di Madrid 2 minggu. Yatta…. 18 July sampe 4 August.

Kurang lebih gw bakalan ikutan seperti di link ini 04.gif
http://www.karl.aegee.org/su.nsf/dba49d8d74141778c1256fac005c1023/57b40e1b2ce926d9c1257540007e04d7?OpenDocument

Nyari2 ticket stockholm madrid nih skrg…. soalnya gw planning scandinavia lagi tgl 6-20 July (jadi mesti di-pendekin jadi 18 July) bareng temen2 dr Jepang dulu. Start dari helsinki, ke north pole, abis itu turun ke selatan di norway, ends up in stockholm 🙂

Anyway, summer plan yg telah tersusun rapi jali buat eropa timur, kayanya dikalahkan oleh AEGEE ini :). Jangan comment di Facebook ya, baru dikit yg tahu hehehe ;p

R

***
From:
Date: Mon, 18 May 2009 23:03:07 +0200
Subject: Trans-IBERIAN Jamon Express 2009 Final Selection!!!
To:
Hi everybody, good news are coming!

If you are able to read this email that means…. you have been SELECTED!!!!

Now I need you to confirm your attendance as soon as possible, if you can’t come to our TSU because exams, work, illness, wedding, martian attack, etc please tell me right now to let other participants to be selected. If you need a VISA invitation please tell me as well.

Once you confirm we will invite you to a mailing list to let you know each other and we will put our program and helpful info at our website www.aegee-zaragoza.org

see you soon!

## AEGEE – Zaragoza
## Travel Summer University Coordinator 09
## Internet & Tecnologies Responsible
## Tf: +34-620-519-184 (orange)
## www.aegee-zaragoza.org
## itaegee

Masa-masa indah di Jepang May 18, ’09 7:26 PM
for everyone

Kalau ada satu masa di hidup saya yang ingin saya ulangi kembali, definitely saat2 ikutan exchange program di Jepang dulu. Program JUSST – Japanese University Studies in Science and Technology di Tokyo dari 1 October 2005 – 30 September 2006. Pas ngeliatin foto2 di masa itu, saya berpikir, indahnya hidup ini. Seperti yang salah satu senior saya di JUSST program katakan “Welcome to one year holiday in Japan”. Ketika itu, saat welcome party anak2 batch October 2005, saya belum ngeh dengan kata2 dia. Setahun kemudian, saya baru mengerti apa yang dia maksud. Inilah masa2 ketika kuliah, researchdan traveling berjalan seirama. Bisa tersenyum saat melihat hasilnya, ada juga yang bisa dibanggakan. Kuliah. Saya justru pernah merasakan IP 4 pas di Jepang ini, semester terakhir hehehe. Research. Sering banget makan malam lewat jam 12 tengah malam, gara2 keseringan bergadang di Lab, ngerjain riset yang hasilnya dipresentasikan berkali2 di Lab dan dua kali di hadapan tetua2 universitas. Traveling. Ini bener2 masa keemasan buat jalan2. Sampe bingung pas ngeliat foto2 pada masa setahun ini. Saya kesana ngapain ya?
Sebenarnya harapan saya ke Jepang ini sudah agak pupus, karena berdasarkan hasil seleksi wawancara, saya ranking 2 dari 5 orang yang lewat. Ranking nomor 1 anak elektro pula (ada semacam tradisi UEC, anak yg dapet tiap tahun pasti at least ada 1 anak elektro). Plus saat itu exchange itu buat jatah anak angkatan satu tahun lebih muda dibanding angkatan saya. Gara2 faktor hopeless inilah saya daftar International Summer School di Univ Dortmund, dengan harapan, pengen nyoba “kuliah” ke luar negeri sebelum lulus dan diwisuda. Summer School keterima. Dan ternyata baru seminggu (atau dua minggu? lupa) di Jerman saya dapat kabar keterima exchange di Jepang. Nice.
Sanja Matsuri dan Yakuza
Singkat cerita, mendaratlah saya di Narita di suatu hari yang dingin di awal bulan Oktober 2005, terbang menggunakan JAL (the best airlines ever). Dijemput di bandara. Kenalan sama Jullietta, Ta dan Beer di bandara. Teman2 yang akan mewarnai satu tahun bersama saya. Dijemput sama 8 senior (angkatan April 2005) di Chofu Station. Seminggu pertama benar2 mengurus segala hal yg berkaitan dengan paperworks. Dapet beasiswa bulan pertama cash + uang selamat datang 25.000 yen hehe. Pokoknya bener2 diurus deh. Thanks International Office UEC dan tentu saja sponsor utama JASSO 🙂
JUSST October 2005
Disini pula saya bertemu teman2 seangkatan dari berbagai nationality, Australia, China,
Taiwan, Estonia, Mexico, dan Thailand. Ketika program berakhir, kami membuat yearbook khusus untuk angkatan kami. Ada Hugo, Jullietta, Nayeli, Ramon, Colin, Ta, Dmitri, Xiaoxin, Yu Ling, Maggie, Depp, Yo dan Jack yang ber-status MIA (Missing in Action) dan kenangan2 didalamnya. Belum lagi senior dan junior. Ada pula tambahan nationality dari Bulgaria yg biasa datang di bulan April. Saran saya, punyailah teman mexico di masa hidup anda. They will light up your life. *Sambil mengenang teman2 mexico saya yang psycho, sinting, cheerful, friendly dan kadang2 nggak punya otak*. Faktor teman ini penting, belajar budaya, dan diguide jalan2 di negara dia (e.g. pengalaman 3-4 mingguan backpack di Thai rame2 dan di-guide salah satu junior yg dari Thailand).
Kuliah.
Bisa dibilang santai. Kecuali bahasa Jepang yang banyak tugasnya, kuliah lainnya itu benar-benar santai. Tugas jarang, dan nilai hanya ditentukan pas ujian. Akhirnya pernah juga merasakan yang namanya dapet IP 4 di spring semester, sayangnya tidak di fall semester. Padahal di kampus gajah tak pernah dapet IP 4, paling mentok ya nyaris aja di semester 4. Oh ya, paling nyebelinnya, satu-satunya nilai B yang saya dapatkan justru dari mata kuliah favorit saya. “Japanese Human Relations”. Dongkol, otherwise kan bisa A semua buat dua semester. Biarkanlah.
Sakura di West Campus
Research.
Topik research saya tentang micro hopping robot di Aoyama Laboratory (suhunya = Aoyama sensei). Robot micro yang prinsip lokomosinya hopping. Pas ngeliat mesin buat bikin frame robotnya, dibilangin “hati2 ya pake ini, harganya jutaan dollar”. Mikir2, duitnya dari mana. Pas ngobrol sama Andhi, anak S3 dari Indonesia, dibilangin “Aoyama sensei itu kaya, banyak proyeknya, fundingnya juga kuat”. Pas iseng2 browsing siapa yg ngasih funding. Busyet, US Air Force. Pantesan duit mengalir dengan lancar. Believe me, kalo militer di belakang suatu riset, dana itu seolah2 tak terbatas.
Aoyama Laboratory
Satu lagi yang saya suka dari Aoyama Sensei ini adalah hobbynya, traveling, sama seperti saya. Di Lab banyak banget buku2 traveling dia, mostly tentang luar negeri, semacam Lonely Planet versi Jepang gitu. Nyari sensei pun seringkali susah, karena beliau sering banget conference di luar negeri. Sekali waktu dalam sebulan dia tiga minggu di Jerman, abis itu ke USA (Miami, tempatnya Air Force gitu lah), meninggalkan saya sendiri (halah). Jadilah saya diserahkan sama mahasiswa S2 dia buat dibimbing. Suzuki-san. Okay jangan heran, merk2 mobil itu dari nama keluarga foundernya.
Snowboarding in Japanese Alps
Kegiatan Aoyama Lab apa aja ya? yang saya ingat Bounenkai (Forget-the-year party) di Shinjuku yang malamnya dilanjutkan dengan karaokean. Abis itu February 2006 ada snowboarding di Joetsu, Niigata, pertama kali mencoba winter sport. Selain itu ada graduation party, dan tentu saja farewell party buat saya. Tampaknya di Jepang kebanyakan party, apalagi party2 dari International House dan organisasi tanpa bentuk lainnya. Selain itu ada juga acara-acara kampus yang berkaitan dengan research. Awal maret angkatan saya harus mempresentasikan riset dalam bentuk poster presentation. Pas lagi ngejelasin soal micro-robot ini, Suzuki sensei dateng sambil bawa kameraman TV. Diwawancara, untung masih pake Inggris, kayanya masuk TV, tapi saya tak pernah nonton. Di Jepang kayanya 3-4 kali masuk TV deh, tapi ga pernah nonton semuanya. Hiks… Awal Aug presentasi naik level, ke presentasi power point. Sama aja sih, kecuali lebih tegang, karena ini mirip2 sidang sarjana dan ditonton semua orang. Semua research paper kita dimasukin ke International Mini-Conference XVI, UEC Tokyo, at least pernah masuk ke conference lah hehehe.
Research Presentation – Spring 2006
Traveling
Salah satu alasan saya mengatakan masa2 terindah adalah tentang traveling. Bagaimana tidak, sepanjang periode setahun itu, saya (entah sendiri atau bersama teman2 exchange) berhasil menjejakkan kaki di berbagai tempat di Jepang, China, Korea Selatan, Singapore, Malaysia dan Thailand. Liburnya banyak. Autumn break (5 harian), winter holiday (2 minggu-an), Spring holiday (1 month), Golden Week (1 week) dan paling afdol tentu saja natsu yasumi, alias summer holiday (2 months). Untunglah quarter 4 kali ini banyak libur hehehe ;p…. sedikit mengobati setelah quarter 2 dan 3 di TU Delft dibikin sesak nafas.
Himeji Castle
November 2005. Ingatan kembali ke pertengahan November. Weekend kedua, Colin, Beer dan saya berkunjung+nginep ke tempatnya Natsuko di Mishima, perjalanan pertama keluar Tokyo dan naik shinkansen. Minggu depannya kami sudah dibawa ke daerah kansai oleh senior kami. Kira2 ada belasan orang yg ikutan trip 4 hari ini. Kota-kota yg dikunjungi Kyoto, Nara, Kobe, Osaka, dan Himeji.

Geisha in Gion, Kyoto
Early-Desember 2005. Awal Desember, pas UEC birthday, kampus diliburkan, dan kami ramai-ramai ke Disneyland. Ngomong2 soal amusement park, di Jepang ada Disney Land, Disney Sea, Universal Studio Japan (Osaka), Fujikyuu Highland, Hello Kitty World, etc etc. Disney Sea dijabanin beberapa bulan kemudian, kali ini pake acara bolos kuliah. Universal Studio Japan sudah dikunjungi saat Kansai trip pertengahan bulan November. Plus the best of all, Fujikyuu highland, dikunjungi sebelum balik ke Indonesia. Benar2 tempat ideal buat yang suka amusement park. Yang saya sesali, tidak ke Ghibli Museum, studionya Hayao Miyazaki, salah satu animator favorit saya. Temen ada yg ke Hello Kitty Land (ternyata ada amusement park ini). Denger2 aja juga amusement park buat Doraemon. Benar2 deh….
Tokyo Disneyland
Mid-Desember 2005. Di Jepang ada yang namanya “Seishun Juuhachi Kippu“, tiket murah seharga 11.500 yen yang bisa digunakan selama periode tertentu dan punya 5 hari buat digunakan (unconsecutive). Berhubung blm pernah gunain, Nagoya dijadikan kelinci percobaan. Abis natalan KMKI di SRIT Meguro, Tokyo (ada Delon Mike dari Indonesian Idolmanggung, sempet foto bareng pula), saya mencoba moonlight nagara buat ke Nagoya. Ambil kota yang deket dulu, 6 jam pake kereta lokal. Berhasil dengan jarak dekat, saya mencoba untuk jarak yg lebih jauh lagi. Hokkaido.

Shiraoi (Ainu Village), Hokkaido
End-December 2005 – Hokkaido Trip 1. Seishun 18 Kippu saya kombinasikan dengan “Higashi Nihon to Hokkaido Passu” alias “East Japan and Hokkaido Pass” seharga 10.000 yen buat 5 hari berturut2. Tokyo – Sapporo ditemput dalam waktu 25 jam. Benar2 tua di jalan. Inilah yang terjadi selama winter holiday, Desember 2005. Saya jalan2 ke Hokkaido + Tohoku, mengunjungi teman dengan tiket2 murah ini. Menambah Sapporo, Otaru, Shiraoi, Tomakomai, Aomori, Hirosaki, Sendai dan Matsushima dalam daftar kota2 yang pernah dikunjungi. Anyway, pemandangan dari dalam kereta di daerah Tohoku ketika winter, bagus banget, hanya bisa dikalahkan sama scenic train Oslo – Bergen.
Snowing in Odori Park, Sapporo
End-December 2005 – Tokyo Balik-balik dari hokkaido, ternyata masih ada libur seminggu lagi. Kecapean, ga pengen jalan yang jauh-jauh. Nakajima sensei ngundang anak2 yg ngambil Japanese Human Relations ke rumah dia, ikutan tea ceremony (kedua buat kami, karena yg pertama diadakan oleh MIFO di awal Desember). Pas New Year, janjian ketemu sama anak-anak kampus gajah yg lagi exchange di Titech. Rian, Hansky dan Ivan. Ber-tahun baruanlah kita di Tokyo Tower, ditutup nonton memoirs of Geisha di Roppongi.
New Year 2006, Tokyo Tower
Januari 2006. diisi dengan “ketemu” kaisar Jepang, ikutan ke Meijijingu buat merasakan tahun baruan ala Jepang (kunjungan kuil), ke Nikko, Yokohama. Then libur berakhir. Kalo weekendnya. Weekend pertama ke Nagoya + Inuyama. Weekend kedua ke Kyoto. Weekend ketiga nemenin Andry (temen SMU yg transit 4 hari di Tokyo, abis pulang dari kuliah dia di Amrik) jalan2 di Tokyo. Weekend keempat ada Chinese New Year di Yokohama. Balik ke Kaisar Akihito, tiap tgl 2 Januari (dan jg 26 Desember), kaisar Akihito + Japanese Royal family akan berdiri di balkon imperial palace Tokyo untuk ngasih greeting ke rakyat Jepang. Kesempatan langka, dan saya datang buat ngeliat kaisar yg ngasih pidato (pake bahasa Jepang – ngerti dikit2lah *beneran dikit* hehe) dari balik balkon kaca antipeluru. At least pernah melihat secara langsung seorang kaisar sekaligus Kepala Negara hehehe. Padahal sampe sekarang saya blm pernah ketemuan sama Presiden Indonesia. Nanti lah.
Japanese Royal Family
(kanan ke kiri: entah siapa, Kaisar Akihito, Permaisuri, Putra Mahkota, Putri Michiko)
February 2006. benar2 masa tenang. Bisa dibilang ngendon di Tokyo, kecuali pas ikutan Snowboarding sama Aoyama Lab di Joetsu, Niigata. Kegiatan lainnya cuma “nyusup” kelas intermediate kunjungan ke Tsukiji Fish Market (the biggest fish market in the world), belajar origami di hari terakhir kelas bahasa Jepang, eksursi one day di Tokyo bareng “Japanese Human Relation” class (sempet berinteraksi sama polisi Tokyo), kunjungan elementary schoolnya Jepang, yang udah jadi tradisi buat anak2 JUSST (setahun sampe 3 kali). Oh ya, ke Chinese Embassy, ngurus visa buat ke China.
JUSST students and Tokyo’s Police 🙂

March 2006 – Spring holiday 2006, liburan 1 bulan di bulan Maret lebih afdol lagi. Di awal bulan, UEC mengatur UEC ski trip 3 hari di Nagano (tempat Winter Olympic 1998). Abis itu backpacking 2 minggu di China (Beijing, Xian, Mt. Hua Shan dan Shanghai). Pulang2 dari China, ikutan Hajime Graduation, dinner bareng Pak Suhono, salah satu dosen kampus gajah yg mempelopori exchange dengan UEC (intinya beliau adalah orang penting), sama jalan2 menikmati sakura di beberapa taman di Tokyo (Shinjuku Gyoen, Ueno Park, Inokashihara, dan Chidogarifuchi).
Great Wall (Jinshaling to Simatai), deket Beijing, China
April 2006. Pulang2 istirahat beberapa hari kemudian, di awal April, backpacking 1 minggu ke western Japan (Iga Ueno -> ini Ninja City kalo blm pernah denger, Fukuoka, Nagasaki, Hiroshima, Miyajima, Kyoto, Osaka, Mt. Yoshino). Lagi2 dengan Seishun 18 Kippu. Tua di jalan? ya, tapi saya berhasil menemukan rute2 efektif dan kereta2 malam untuk mengakali hal ini. Pulang2 minggu malam, dan senin paginya hari pertama spring semester. Benar2 liburan yang efektif.
Miyajima
May 2006. Tidak sampai sebulan, ada liburan yang namanya golden week, seminggu di awal Mei, mirip2 lebaran kalo di Indonesia. Tama Zoo, Hakone Trip dan piknik di Tamagawa mengisi liburan kali ini. Hakone trip sendiri cukup berkesan, karena saya dan beberapa teman yg hobby camping (teman, bukan saya yg hobby camping) memutuskan untuk ke Hakone dan camping 2 malam disana. Camping ternyata ilegal, dan kami benar2 sembunyi2 dalam mendirikan tenda. Lumayan buat melatih adrenalin dan punggung (backpack berat euy). *sampai saat ini blm
menemukan tipe teman yg seperti ini*, memang unik mereka itu.

Owakudani, Hakone
Juni 2006. adalah masa tenang, saya “menghilang” selama seminggu-an dari kampus untuk kembali ke Indonesia. Sidang sarjana sebenarnya bisa abis program exchange selesai, tapi ada resiko, karena faktor bulan puasa, wisuda Oktober bisa ditunda atau dimajukan (ini gawat). Kalau ditunda bagus, kalau dimajukan berarti saya harus cepat2 pulang dari Jepang dan siap2 sidang dan melupakan traveling selama summer holiday. Setelah kalkulasi matang, diputuskanlah ikutan sidang di bulan Juni, jadi at least apapun yg terjadi sama wisuda Oktober, entah dimajuin, entah dimundurin, tak berpengaruh buat saya dan waktu liburan saya tak terganggu. Bener2 blessed in disguise, andaikata saya tidak kembali untuk sidang di bulan Juni ini, status cumi laut saya bisa melayang. Benar2 hal yang tak disangka.
Mid-July 2006. Ada festival terkenal yang namanya Gion Matsuri. Saya dan seorang teman pergi ke Kyoto khusus untuk acara ini (setelah dihitung2 saya pernah ke Kyoto 5 kali). Selain kyoto, kami juga mengunjungi Amanohashidate (salah satu dari Nihon Sankei – Three Scenic Places of Japan, yang lainnya Miyajima dan Matsushima). Di bulan yang sama ada Cozplay di Tokyo Big Sight, malamnya ada Hanabi (fireworks) di Tamagawa (UEC international office take tempat buat kita).
Sailor Moon’s Friends, Cozplay, Tokyo Big Sight
End-July 2006. Masa2 yang stressful buat anak2 angkatan saya, ada beberapa hal yg bikin stress. Alasan pertama, kita mesti presentasi dalam bahasa Jepang buat kelas Jepang kita + masa2 ujian. Alasan kedua yang lebih ngeri, di awal august, kami akan mempresentasikan riset kami setahun di hadapan para profesor dan orang2 penting lainnya dari universitas. Robot saya mendadak ngambek. Untunglah di saat2 menjelang deadline robot itu beres, berhasil di-videokan dan mendadak muncul wangsit2 dari langit dalam menulis research paper.
Lavender Field, Furano, Hokkaido
End-July 2006 to Early Aug 2006. Disaat stress inilah, ada yang menarik hati saya untuk kembali ke Hokkaido. Copy paste rencana winter holiday kemarin. Berkeretalah saya ke Hokkaido. Dari Tokyo jam 5.30-an AM, sampai ke tempat tujuan Furano sudah hampir jam 11-an AM keesokan harinya. Kurang lebih 30 jam. Kayanya pernah iseng2 ngitung itu sekitar 1400 KM, 2x jarak Jakarta – Surabaya. Sampai disana, it’s really worth it. Lavender Field di Furano dan sepedaan di Biei Hills. Benar2 pemandangan yang sempurna. Anyway, sepedaan di Biei jadi favorit beberapa JUSST couples. Datang kesana pas banget lavender2 lagi bagus2nya. Karena Lavender tidak berbunga setiap saat. Trip ini bisa dibilang waktu efektifnya cuman dari hari kedua jam 11 AM, sampai hari ketiga jam 4 PM. Selain itu dipakai buat perjalanan. It was tired, but it’s worth it. Intermezzo, profile picture FB saya diambil dari trip ini.

Biei Hills, Hokkaido
Early-Aug 2006. Recharged, kembali ke Tokyo dengan hati yang gembira (ya iya lah), siap menghadapi presentasi. Sampai ke Tokyo tgl 1 Aug malam, padahal research presentation tgl 3 Aug. Langsung saya culik Beer buat bantuin ngerjain presentasi yang udah 80% kelar. Tinggal finishing aja. Giri-giri banget hahaha. Karakteristik saya yang susah hilang ;p. Hari presentasi tiba, dan yes, presentasi berjalan lancar pheewwwww. Aoyama sensei seneng. Keesokan harinya (4 Aug) closing ceremony. Artinya liburan musim panas telah tiba.
Research Presentation

Summer Holiday benar-benar bikin puas. 2 bulan. August 2006. Ada kanazawa trip 3 hari, manjat gunung fuji 2 hari, Korean and Western Japan trip 12 hari. Disambung Hokkaido Trip 4 hari.Kanazawa trip ternyata biasa saja, kecuali saya “terusir” dari woman’s only car (gerbong kereta khusus wanita) pas mau ke Kanazawa. Mt. Fuji benar2 ugly. Tidak sebagus di postcard, terutama setelah kita lihat dari dekat. Ulang tahun paling berkesan untuk saya selama ini, terutama karena adanya pesta kejutan dan hadiah kejutan plus dirayakan bersama teman2 di puncak gunung Fuji, rasanya akan sulit menghapuskan kenangan itu. Kejutan yang menyenangkan, apalagi ditambah kami semua +/- 20 orang berhasil mencapai puncak, meskipun hanya saya, Aun dan Poli yg mencapai titik 3776 M.
Mt. Fuji Summit, 3776 M
Mid-Aug 2006 – Korea Trip sebenarnya mau pakai pesawat terbang. Tapi harga tiket gila2an, akhirnya ditempuh jalan darat + ferry dari Fukuoka ke Busan. Jadilah Western Japan masuk rute. Di Fukuoka, saya ditolak naik ferry gara2 pede ke Korsel tanpa visa (lesson learned: jangan percaya temen yang bilang bisa ke Korsel tanpa visa, apalagi paspor Indonesia). Terpaksa apply visa kilat di konsulat Korsel di Fukuoka. Pertama kalinya menggunakan Rail Pass (Korean Rail Pass buat youth). Naik KTX (semacam shinkansennya Korea) udah seenak jidat dengan adanya rail pass ini. Nebeng di temen yang kuliah di Korea University, alumni kampus gajah juga. Kota2 yg dikunjungi Seoul, Gyeongju, Gongju, Busan dan tentu saja DMZ (perbatasan Korsel – Korut). Beli oleh2 Soju (semacam sake) buat Sensei (yang menyangka saya ke Korut, gara2 ada tulisan Made in North Korea di soju ini hehe).
Royal Palace, Seoul, South Korea
End-Aug 2006. Kalo ferry perginya pake Camelia Line, pulangnya pake JR Kyushu Freight, jauh lebih oke punya. Menyusuri Sanyo Line dan Tokaido Line (jalur kereta di Jepang) buat kembali ke Tokyo. Sore sampe Tokyo, tidur semalem di dorm, besok paginya udah jalan lagi ke Hakodate (Hokkaido) bareng temen. I love Hokkaido. Hokkaido trip ketiga ini khusus buat night view, kan bagus ngeliat kota2 di malam hari. Hakodate dan Sapporo night view dijabanin. Ada dua alasan sebenarnya untuk Hokkaido trip ini, night view dan musical box (di Otaru ada satu toko gede banget yg khusus jual musical box)
September dibuka dengan ke fujikyuu bareng anak Todai, packing, balik ke Indonesia, dua hari di Indonesia, langsung terbang ke Thailand buat join rombongan anak2 JUSST yg lagi leyeh leyeh di Phi Phi Island. Benar2 liburan summer itu ditutup dengan travel pamungkas, Thailand-Malaysia-Singapore trip 3 minggu buat saya yg join belakangan, buat yg lain 4 minggu. Alasan liburan ini klise, gara2 anak2 JUSST (angkatan saya) tak tahu lagi buat scholarship bulan terakhir mau diapain. Trip yang sangat berkesan, apalagi ketika itu ada kudeta militer (19 September 2006) dan pembom-an di Hat Yai, beberapa hari setelah teman2 JUSST keluar dari Hat Yai. Tak ada pesta yang tak berakhir. Tiba juga saatnya mengucapkan salam perpisahan. Ketika kami berpisah di Changi Airport, kami tahu, suatu saat akan berjumpa lagi di masa depan. Watachitachi tomodachi.
JUSST Farewell Trip, Thailand-Malaysia-Singapore (Minus one person)

Next Page »