Minggu pagi ini, sambil ngantuk-ngantuk saya melihat inbox saya di
Yahoo, ada satu email dari M (nama disamarkan karena email dia isinya
sensitif). Dia ditodong senapan(gun point) sama tentara Korut yang
memaksa dia dan teman dia, inisial C, untuk memanjat pagar ke Korut.

Saya
terakhir kontak dengan M bulan lalu. Terus terang saja saya pagi ini
kaget terima email dia (ke saya dan teman-teman yang lain) dan cerita
bahwa dia baru aja trip dari China dan sempat diinterogasi (questioned)
selama lima jam oleh tentara Korut. Kok iso?

/*mencoba translate dari Inggris ke Indonesia isi email dia*/

Ceritanya
mereka berdua lagi liburan ke daerah perbatasan di China, dari daerah
perbatasan ini ke Korut hanya dipisahkan dengan sebuah sungai yang
merupakan batas alam antara China dan Korut. Berhubung tampaknya disana
masih musim dingin, mereka main-main di atas sungai yang sedang membeku
ini (frozen river) dan M yang melihat di seberang sungai tampak damai,
memutuskan untuk ke tempat itu.

Entah lagi dimana rasio
mereka, mereka ke bagian lain dari sungai tersebut. Mereka melihat
pagar, dan sebuah pondok (bener ga ya terjemahan Hut =  Pondok) yang
tampaknya tak berpenghuni. Ketika mereka memutuskan balik ke sungai
beku itu, tiba-tiba C teriak “ada yang manjat pagar”. Ternyata dari
pondok tersebut keluar seorang perwira (officer) yang kemudian memanjat
pagar lalu berjalan ke arah mereka.

Kelanjutannya, sudah ada
tiga tentara dengan senapannya yang mengambil (grab) mereka dan memaksa
mereka memanjat pagar. M dan C ini rupanya tidak mau memanjat pagar,
dan sempat terjadi adu mulut antara mereka dan tentara itu sampai
akhirnya tiga tentara berteriak-teriak dan menodongkan senjata ke arah
mereka berdua. Terus terang saya berminat melihat bagaimana adu mulut
ini karena M ini terkenal sebagai wanita yang galak (dan ceria).

Dibawah
todongan senjata, terpaksa mereka memanjat pagar dan berakhir selama
lima jam ditanya-tanya sama tentara Korut itu. Pertanyaan tentang
keluarga dan mengecek mereka bukan mata-mata. (M ini warga negara salah
satu musuhnya Korut, kewarganegaraan C saya tak tahu, tampaknya sama
seperti M). Kata M tentara-tentara ini sangat curious tentang mereka
dan mereka diperlakukan dengan baik. Untungnya mereka diperbolehkan
memanjat pagar lagi ke arah China dan M sekarang sudah di Korsel.

/*selesai menerjemahkan*/
Disclaimer: saya menganggap email dia beneran.

Setelah
baca email M, saya yang setengah tidak percaya langsung comment di
Facebook dia yang profile picturenya udah diganti foto dia sama
presiden Korut (hasil Photoshop), comment di foto tersebut yang dalam
bahasa Indonesia kira-kira “Istri Presiden Korut yang berikutnya
ahahahaha”. Dia (dan cowoknya ketika itu) termasuk teman dekat saya
ketika kami kuliah di negeri sakura dan dia termasuk orang yang suka
saya becandain (and/or godain).

Tak lama kemudian dia emai
dengan judul “Not Fun”. Isinya, dia tidak merekomendasikan hal ini
untuk orang lain. Dia bahagia masih hidup. Dia menulis email ini untuk
memperingatkan orang lain untuk tidak bertindak gila seperti dia.

Saya
yang awalnya mengira dia bercanda, langsung berpikir “omg, this is
real”. Langsung online di MSN (yang biasanya sangat jarang saya buka)
buat chatting sama M. Langsung saya hapus comment di FB, gara-gara dia
tampaknya agak bete.

Sepanjang chatting dia bilang, sangat
beruntung bisa keluar dari Korut. Nasib mereka bisa saja berbeda, dan
mungkin menjadi kasus orang hilang.

Kami berdua yang pernah
bareng-bareng menuntut ilmu di Jepang mahfum separah apa Korut itu. Di
Jepang, Korut merupakan negara yang ditakuti karena Presidennya yang
sakit jiwa, dan mereka punya nuklir. Ditambah lagi adanya warga Jepang
yang diculik agen-agen rahasia Korea Utara di tahun 1970-an dan
1980-an. Selain itu ketika kami disana, Korut sempat menguji rudal Tae
Po Dong yang jatuh di teritori Jepang. Dengan kata lain, kalau setan
punya negara, mereka pasti berdiam di Korut. Tak heran Bush sampai
menjuluki Korut sebagai salah satu anggota “axis of evil”.

Saya
sendiri hanya pernah melihat Korut dari daerah perbatasan Korsel. Dari
daerah yang beken dikenal sebagai DMZ, saya bisa melihat pegunungan di
Korut. Sebatas itu, hanya melihat. Tapi saya salut sama orang Korsel,
bisa bikin De-Militerized Zone mereka jadi atraksi wisata. Padahal kan
bahaya, kalo pecah perang (mereka sampai saat ini secara de jure
statusnya masih perang, meskipun secara de facto tidak ada perang
beneran)

Disini pula saya pernah buat foto yang sempet bikin
heboh teman-teman. Unifikasi korea merupakan hal yang sangat
di-idam-idamkan Korsel, sehingga di daerah perbatasan (Dora-san
Station), mereka bahkan bikin peron yang tulisannya “To Pyongyang”.
Saya foto di bawah plang ini dan mengirimkan ke teman saya, Beer, yang
dengan bocornya menganggap saya ke Korea Utara. Walhasil waktu itu ada
kehebohan di kalangan teman-teman saya.

Pas di DMZ ini banyak
banget produk-produk Korut, dan saya beli satu botol Soju (semacam
sake-nya Korea), made in North Korea. Soju ini pula yang saya berikan
buat sensei saya dan ketika melihat Soju ini dibuat dimana kaget
beneran. Tampaknya beliau mikir liburan musim panas itu saya beneran ke
Korut, padahal bukan hehehe :).

Balik ke M, yang masih
emosional, saya bilang, tak tahu kamu itu beruntung atau irasional.
Tapi yang jelas, kamu beruntung bisa kembali ke China dengan selamat
dari Korut, dan kamu tahu tidak, sangat sulit mendapatkan visa ke
Korut, dan u masuk tanpa visa.

Soal susahnya visa ke Korut ini
saya ketahui dari salah satu roommate saya ketika menginap di sebuah
Youth Hostel di Beijing. Dia orang Jepang dan berhubung dia punya
tujuan yang eksotis, Pyongyang, (eksotis bagi saya dan Arqui), saya
minta dia menceritakan perjuangan dia mendapatkan visa ke Korut.

Visa
ke Korut ini katanya gampang-gampang susah dapatnya, tergantung mood
pemerintah Korut. Sudah gitu, visa ini tak akan ditempelkan di paspor
anda. Apply visa, lalu paspor ditahan, dan diganti selembar surat masuk
ke Korut. Sudah gitu, harus ikutan travel biro yang disetujui
pemerintah Korut plus tidak boleh foto-foto sembarangan, hanya boleh di
tempat-tempat yang ditentukan. Paranoid banget orang-orang Korut ini.
Begitu balik ke perbatasan China, kertas diambil, paspor dikembalikan,
sama sekali tak ada bukti di paspor anda bahwa anda pernah ke Korut,
demikian penjelasan backpacker Jepang ini.

Soal Korut ini,
saya pernah diajak Arqui, teman Mexico saya yang benar-benar petualang,
untuk traveling kesitu. Berhubung Arqui saat itu lagi mabok, saya
mengiyakan ajakan dia, sambil berpikir, gila aja, nanti aja kalau udah
unifikasi ke Korut. Saya masih sayang nyawa. Tempat berikut yang dia
propose adalah Tibet, yang ini saya setuju, meskipun akhirnya liburan
summer itu tidak jadi kesana dan ends up backpacking di Thailand bareng
anak2 JUSST, termasuk M ini.

Terus terang, saya benar-benar
grateful, teman saya ini kembali dengan selamat. Saya tidak tahu apakah
ini akan jadi insiden diplomatik atau tidak, secara dia ini warga
negara musuhnya korea utara.

Saya kadang-kadang berpikir,
teman-teman saya ini pengalamannya yang langka-langka. Satu teman saya
yang lain, F, bahkan pernah ke Timor Timur secara ilegal, meskipun cuma
sehari. Seperti biasa, daerah perbatasan.

Summer 2005, tante
saya yang tinggal di Ceko, ketika tahu saya gagal mendapatkan visa Ceko
(waktu itu Ceko masih belum bagian Schengen), bilang “tante tahu rute
yang tidak dijaga dari Jerman. Rencananya waktu itu saya ke Dresden
(yang hanya 1 jam dari perbatasan Jerman – Ceko, dijemput mereka, dan
jalan-jalan ke Ceko sebelum balik ke Indonesia. Artinya, masuk ke Ceko
secara ilegal (tanpa visa).

Hahaha, saya termasuk orang yang
sesuai prosedur dan rasional. Kan tidak lucu kalo sampe di deportasi
(hampir kejadian sama saya di Korsel). Lucunya, semuanya ini wanita,
apakah wanita irasional? Peace kaum wanita :).

Advertisements