BAB V

KEGIATAN DI JEPANG

Bab ini berfokus pada kegiatan-kegiatan
yang penulis jalani selama mengikuti exchange program di UEC.

5.1
Kegiatan
yang diorganisir oleh JUSST/International Office

Kegiatan-kegiatan ini diorganisasikan oleh
International Office UEC dan untuk kegiatan seperti Primary School Visit,
mahasiswa JUSST wajib mengikuti kegiatan ini, kecuali ada alasan yang penting.
Kegiatan ini antara lain.

5.1.1 Primary School Visit

Sepanjang satu tahun program exchange
untuk mahasiswa JUSST October 2005 ada tiga kali primary school visit. Dua kali
saat Fall Semester dan satu kali saat Spring Semester.

5.1.1.1 Primary School Visit I (30 November 2005)

Kunjungan ke sekolah dasar ini dilakukan
pada hari kuliah, sehingga kuliah pada hari tersebut untuk mahasiswa JUSST
ditiadakan.  Kegiatan ini seperti biasa
dilakukan di Fuchu Primary School, karena sudah ada kerjasama dengan UEC.

Saya dan seorang mahasiswa Jepang
ditugaskan di kelas yang berisi anak-anak yang menderita cacat mental. Hanya
satu kelas yang berisi anak-anak usia sekolah dasar ini. Tidak seperti di
Indonesia, yang sekolah antara anak-anak ini dipisahkan dengan anak-anak
normal, di Jepang, mereka disatukan di sekolah, hanya kelasnya saja yang
dibedakan.

Setelah kunjungan sekolah dasar ini
selesai, kami diberi dua pilihan, mau kembali ke dormitory atau ikut dengan
tutor ke Pabrik Bir Suntory. Hampir semua mahasiswa JUSST memilih mengikuti
kunjungan ke pabrik bir ini.

5.1.1.2 Primary School Visit II (23 Februari 2006)

Kunjungan ke sekolah dasar ini tidak
terlalu mengganggu jadwal kuliah mahasiswa JUSST karena dilakukan pada saat
liburan setelah ujian akhir semester dan sebelum presentasi poster / presentasi
oral.

Berbeda dengan kunjungan sebelumnya. Kali
ini setiap mahasiswa JUSST dibagi menurut negara masing-masing. Tugas kami
adalah menjelaskan tentang negara kami masing-masing ke anak-anak usia sekolah
dasar ini. Saya berpasangan dengan Felicia, mahasiswa riset dari University of
Adeleide, Australia, yang sudah hampir satu setengah tahun berada di UEC.

Kami agak terkejut karena anak-anak
sekolah dasar ini sudah mempelajari tentang Indonesia sebelumnya. Mereka bahkan
memperlihatkan sebuah video ketika mereka sedang membuat soto, dan
menghadiahkan VCD proses pembuatan soto ala anak sekolah dasar Jepang kepada
kami.

Setelah itu kami mengajarkan sesuatu
tentang Indonesia kepada anak-anak sekolah dasar Jepang ini, dan mereka
tampaknya sangat tertarik ketika saya memperkenalkan tentang mata uang
Indonesia kepada mereka. Uang-uang koin dan uang kertas itu tampaknya baru buat
mereka, sehingga saya memutuskan untuk membagi-bagikan saja koin itu kepada
mereka.

5.1.1.3 Primary School Visit III (22 Juni 2006)

Kunjungan ke sekolah dasar ini hampir sama
bentuknya dengan Primary School Visit I, hal yang berbeda hanyalah, saat ini
mahasiswa JUSST April 2006  yang menjadi
rekan kami dalam mengunjungi sekolah dasar ini.

5.1.2 Home Visiting and Home Staying (26-27 November 2005)

Program
ini diperuntukkan untuk semua mahasiswa internasional yang terdaftar di UEC
agar mereka mengalami pengalaman pertukaran kebudayaan melalui kehidupan
sehari-hari keluarga Jepang dan untuk mempromosikan saling pengertian dan
persahabatan antara mahasiswa internasional dan orang Jepang. Mayoritas
host-family terdaftar pada program home-stay dan home-visit UEC. Tujuan lagi
dari program ini adalah untuk mepromosikan international exchange dengan
lingkungan sekitar.

Home visit UEC ini dilakukan satu kali
setiap semester. Saya mengikuti Home Visit XIII saat fall semester 2005. Saya
melakukan home visit di keluarga Sato yang terdiri dari 4 orang, ayah, ibu, dan
2 putri kembar yang masih berusia sekitar 10 tahun.

5.1.3 Chofu Festival (17 ~ 20 November 2005)

Festival
ini diadakan setiap tahun di UEC pada pertengahan November. Pada festival ini
hal yang paling menarik adalah pemilihan Miss UEC. Menariknya, karena
persyaratan untuk mengikuti kontes miss-miss-an ini peserta harus berjenis
kelamin laki-laki. Jadi bisa ditebak bagaimana rupa Miss UEC ini.

Selain
itu banyak stand-stand yang terdiri dari berbagai macam jenis. Ada stand
makanan, stand unit kegiatan mahasiswa, etc. Mahasiswa Indonesia seringkali
berkolaborasi dengan mahasiswa Malaysia untuk membuat satu stand makanan.
Berhubung ini di Jepang, makanan yang dijual harus memenuhi standard mereka,
jadi panitia stand Indonesia berusaha agar makanan yang dijual bisa memenuhi
syarat.

5.1.4 Lion Club Christmas Party (20 Desember 2005)

Lion
Club Chofu merupakan sebuat organisasi yang berisi orang-orang kaya di daerah
Chofu dan sekitarnya. Pesta natal ini diadakan tanggal 20 Desember 2005 di
lantai paling atas gedung Parco. Syarat untuk mengikuti ini adalah mendaftar di
International Office UEC. Tempat yang tersedia hanya untuk 20 mahasiswa asing.

5.1.5 UEC Ski Trip (3~5 Maret 2006)

Popular
winter off-campus activity in UEC. Students may experience a wide rang e of
skiing opportunities as wel as instruction by profesional ski instructors. It
also provides an opportunity to learn the regional culture and outdoor
environment of North Western Japan. This program takes place in the beginning
of March.

Ski Trip merupakan event tahunan yang
diorganisir oleh UEC. Mahasiswa JUSST mempunyai dua kesempatan untuk traveling
dengan biaya murah (karena disubsidi oleh pihak universitas), yaitu UEC ski
trip ini dan Kansai Trip di pertengahan bulan September) Ski trip kali ini
mengambil lokasi di Nagano (tempat olimpiade musim dingin 1998). Meskipun bulan
Maret sudah memasuki awal musim semi, tetapi di Nagano salju masih tebal,
karena berada di pegunungan.

Daerah
Nagano terkenal sebagai Japanese Alps, karena banyaknya gunung tinggi yang
sangat cocok untuk bermain ski. Gunung yang menjadi tempat latihan kami
merupakan salah satu gunung yang pernah digunakan sebagai lokasi pertandingan
salah satu cabang pada winter olympic 1998.

5.1.6 Etegami (1 Juni 2006)

Etegami merupakan gabungan dari dua kata
yaitu ”e” yang berarti gambar dan ”tegami”
yang berarti surat. Dari makna ini, dapat kita duga etegami ini
merupakan semacam kartu pos Jepang.

Peserta diberi dua kertas seukuran kartu
pos. Di bagian belakang kartu pos itulah akan digambar sebuah obyek yang bisa
berupa apapun. Objek untuk etegami yang pertama disarankan berupa buah, sayur,
ataupun bunga yang sudah disediakan oleh panitia.

5.1.7 Hanabi (23 Juli 2006)

Hanabi
merupakan pertunjukan fireworks yang lazim dilakukan pada musim panas. Hanabi
berasal dari dua kata yaitu hana (bunga) dan bi (api). Banyak orang menggunakan
kimono dan  yukata terbaik mereka untuk
menonton hanabi ini. Kita tidak perlu heran jika banyak wanita berkimono dengan
sendal kayu yang berlalu lalang malam-malam dengan pria yang menggunakan yukata
(juga dengan sendal kayu).

5.1.8 Short Trips – Kobe Trip (20~21 September 2006)

The aim of the short trip is to introduce
the essence of the nature, regional characteristics and recent technological
advances in Japan. The essentioal goal of these trips is to establish a better
relationship between students and staff. These annual events take place in
September.

Ini merupakan salah satu dari dua acara
yang dananya disubsidi oleh universitas sehingga mahasiswa asing di UEC dapat
jalan-jalan dengan biaya murah. Untuk trip selama summer break ini, dilakukan
sistem pengundian, berbeda dengan UEC ski trip yang first sign first get. Jatah
untuk mahasiswa asing sekitar 30 orang. Setiap mahasiswa yang beruntung
terpilih harus membayar sekitar 6000 yen

Kunjungan ke daerah Kansai kali ini ke
kota Kobe (summer break tahun sebelumnya ke Aichi karena ada Aichi World Expo).
Berangkat dari Tokyo di pagi hari dengan Shinkansen selama sekitar 2 jam.
Tempat yang dikunjungi adalah Earthquake Museum yang berisi tentang gempa bumi
dashyat di kobe tahun 1996 yang menelan 6000 korban jiwa. Tempat lainnya yang
dikunjungi adalah sake brewery house, yang lebih banyak berkutat dengan proses
pembuatan sake.

5.2
Kegiatan
yang diorganisir dosen

5.2.1 TV Broadcasting Class

TV
Broadcasting merupakan salah satu kelas yang saya ambil. Profesor Noboru Toyama
dua kali membawa mahasiswanya study trip ke fasilitas broadcasting yang
bersinggungan dengan NHK, tempat Profesor Toyama bekerja selama lebih dari 30
tahun. NHK dapat disamakan seperti TVRI di Indonesia, perbedaannya adalah NHK
merupakan salah satu stasiun TV yang cukup populer di Jepang (stasiun yang
satunya lagi adalah FUJI TV)

5.2.1.1 NHK Research and Technical Laboratory Visit

NHK RESEARCH & TECHNICAL LABORATORY VISIT

On 10th November 2005,
during Japanese Culture Day Holiday, our TV Broadcasting Class had the
opportunity to visit NHK Research Laboratory. NHK (Nippon Hoso Kyokai) or in
English “Japan Broadcasting Corporation” has its own Research and Technical
Laboratory that is located at 1-10-11 Kinuta, Setagaya-ku Tokyo 157-8510,
Japan. As we can see in its homepage they wanted to “make the dream of our viewer come true”. The laboratory priority is
“development of viewer-oriented broadcasting systems, ranging from program
production to broadcast reception”.Some of the exhibitions are:

Super Hi Vision

This is the most interesting
exhibition. The picture in the screen was so real, and it is the clearest image
I have ever seen. The picture makes us as if we were in that broadcasting
place, not in the NHK laboratory. The image of fish was so clear that make the
viewer think (if he just focuses on the screen) they must be near the pool or
inside the sea.

  • Its
    video format uses 7,680×4,320 pixels (16 times the pixels in an HDTV), and
    a 60-Hz frame rate progressive scanning scheme, making it possible to
    present an unparalleled amount of information on a screen.
  • It employs a
    22.2 channel 3D loudspeaker arrangement to realize excellent sound field
    reproduction and a wide listening range.
  • Broadcasting
    satellites in the 21-GHz band have potential as a delivery system for
    broadcasting of Super Hi-Vision to individual homes. we are studying
    special compensation technologies employing a phased array antenna system
    to solve radio attenuation problem caused by rain in 21-GHz band.

Morphovision

In this exhibition, there was a
solid object that shaped like a small house. There are several buttons to be
pressed, each of them had different picture. Some like the spiral, and some are
not. We have to press a button (out of several button) to see if the object
will bend just like the button we touch.

Free Viewpoint Video Representation
Technology – Virtual Puppet

In this exhibition, there is a
square card has “?” or question mark on it. We put it in the range of the camera,
and we can see in the TV screen some puppet appear from the card and said
something in Japanese, which I didn’t get what the puppet said

Speech Recognition

In
this exhibition there is a set of TV news studio. You were the anchor man or
anchor woman. The machine can recognize what you have said and it appear on the
TV screen as subtitle. According to the person who was there, this machine can
identify 60.000 Japanese words. The machine was designed to recognize Japanese
word that is spoken in Tokyo dialect, so if your
accent like Kansai dialect or others dialect outside Tokyo, maybe the machine will not work
properly

Ultra High Speed 3-CCD Camera

The advantage of this camera is that
we can see the “slow motion” of our action. For example, there was a ball and
baseball bat. We can hit the ball with the bat and it is recorded with that
camera. The viewers in front of the television will see the slow motion when
the bat hit the ball. The picture was very sharp and interesting.

On the other section we can see the
record of ‘water balloon’, ‘karate’ (slow motion when the bricks break when hit
by a man), baseball, softball, golf, etc.

Microphone

Bug
microphone.
It is a very sensitive microphone. In the screen we can see the
picture of insect. The interesting thing is we can hear their voices. For
example when the snail is eating, viewers can hear the voices of the snail that
usually cannot be heard by normal people ear if it is not amplified. The
viewers can also heard the voice that is made when an ant is walking.

There are demonstrations about how
sensitive this microphone is. The sound of falling dropping leaves on the
microphone was amplified several times, so if we don’t see the stuff we might
think the stuff that fell is big stuff. There was a button to set how much is
the amplification.

Dummyhead
microphone.
In this exhibition, we have to use the microphone, and the
demonstrator will clap his hand while he is
moving in a circle. We will experienced that we were the mannequin’s
place, because when he clapped in the right, our right ear will hear and a
little sound in left ear.

5.2.1.2 NHK Broadcasting Museum and Tokyo Tower Visit

NHK BROADCASTING MUSEUM AND TOKYO TOWER

This
report made based on January
14th 2006 to NHK
Broadcast Museum
and Tokyo Tower. The first visit was the NHK Broadcast
Museum. The museum was established
in 1956 to commemorate the 30th anniversary the start of
broadcasting by NHK (NHK
Broadcast Museum
brochure).

Inside the museum there are many
items related to the history of broadcasting in Japan. Among them is record of the
Emperor: Hirohito’s that ended the Pacific War, Restoration model of Takayanagi
Television (the test was TV transmission of katakana letter `i`. There are many
types of television from the earliest of 20th century, documentation
about the Tokyo
Olympic 1964.

There are a room too when we can see
how the news announcer (anchorman/anchorwoman) read their line. There is a
camera to catch the picture of the news in front of the news announcer, and
they just read the line that is appeared in the screen in front of them. It
makes the news announcer face see directly to the television’s viewer, as if
they are talking to the viewer. The background of the screen behind the news announcer
is blue. Blue is chosen because it has some advantages. The guide showed us
what is happened if we cover ourselves with blue clothes. The body that is
covered with blue seems to be disappearing in TV.

We can also see how to make sound
effect at movie. If you using your camera, picture is one thing and the other
thing is sound. In this section we can see how to make wind sound, sea sound,
sound that is made from a door or window when it is opened, also how to make
horse sound, and many other sound that we could heard in movie. The most
interesting is this techniques was created more than fifty years ago and still
used until now.

The second visit was the Tokyo Tower.
It is served as TV and radio broadcasting antenna as well as tourist
attraction. It height is 333 meters. It is the tallest self supporting self
tower in the world and also the tallest building in Tokyo. It is painted orange and white to fulfill
the air safety regulations. It broadcasts fourteen broadcasting signals for
nine televisions and five radio (for details look at Picture 1)

The NHK person guides us to several
places inside the tower. At first we enter the main observatory and then take
stairs to a room inside the tower. If you are a regular visitor, you cannot
enter this area. This room consisted of several transmission machines and other
machines. At least there are two transmission machines that is working and one
dummy, just in case if something happened to one of those machines. The machine
in this room is using water as the cooler. The NHK person explains us that the
cooling system is using water because it is not too noisy. We can monitor the
temperature of the water that is coming in and that is coming out. In colder
area like Hokkaido,
this water is used at heating system (not cooling system).

Later we visited the second room
located near the base of the tower (around 4th floor). Unlike the
first room, this one is much noisy because it used fan as it cooling system.
Later our visit ended and we have to go back to Chofu

5.2.2 Japanese Human Relations Class

Japanese Human Relations
merupakan kelas tentang budaya Jepang. Dosennya adalah Profesor Yoshimichi
Nakajima yang merupakan lulusan dari The University of Tokyo dan juga jebolan
Austria. Selama satu semester ini kami dua kali mengadakan pertemuan di luar
kelas, untuk lebih memahami budaya Jepang. Pertemuan pertama adalah upacara
minum teh di kediaman Profesor Nakajima dan pertemuan kedua adalah berkunjung
ke sekeliling Tokyo.

5.2.2.1 Nakajima Sensei Tea Ceremony

Profesor Nakajima mengundang kami untuk mengunjungi
rumahnya pada tanggal 30 Desember 2005 untuk mengikuti tea ceremony. Sekitar
setengah dari peserta kelas Japanese Human Relations datang ke rumah beliau
yang terletak di stasiun roka-koen.

Profesor Nakajima sudah mempersiapkan teh dan sushi
serta cemilan kecil di rumahnya. Kami dipersilahkan menghabiskan sushi yang
tersedia terlebih dahulu. Sebelum itu dibagi-bagi tempat sumpit (saya juga baru
tahu ada semacam tempat untuk menyangga sumpit di meja). Selama makan Nakajima
sensei beberapa kali memberi saran mengenai budaya Jepang yang terkait dengan
etika makan. Saran-saran tersebut seperti posisi kaki, posisi badan, cara
pengambilan sushi yang baik diberikan oleh Profesor Nakajima

Selesai makan malam, Profesor Nakajima memperlihatkan
beberapa lukisan Jepang milik keluarga beliau. Profesor Nakajima mempersiapkan
teh untuk acara tea ceremony dibantu oleh dua mahasiswi JUSST. Beberapa dari
kami sudah mengikuti acara tea ceremony sebelumnya, yaitu acara yang diadakan
oleh MIFO. Hal yang menarik adalah salah satu mahasiswa (Matt dari Australia)
diajar oleh Profesor Nakajima  untuk
menyajikan teh, lengkap dengan tatacara Jepang, dan kami juga diajari cara
berjalan yang benar di atas tatami.

Setelah
acara di rumah Profesor Nakajima selesai, kami kemudian ditraktir makan-makan
di izakaya, rumah makan Jepang, di dekat stasiun.

5.2.2.2 Tokyo Excursion (18 Februari 2006)

Tokyo
excursion merupakan salah satu prasyarat kelulusan kami  Rian (YSEP 2005) dari ITB merupakan
satu-satunya mahasiswa non-JUSST yang ikut pada excursion kali ini. Ada
beberapa tempat yang dipilih oleh Profesor Nakajima untuk kami kunjungi.

Keio
University adalah tujuan pertama kami. Keio University merupakan salah satu
universitas prestisius di Tokyo. Kami kemudian diberi tahu mengenai istilah
”Keio Boys” yang kurang lebih di Jepang diasosiasikan dengan anak pintar, kaya,
dan gaul. Tak lama kemudian Profesor Nakajima menanyakan apakah diantara kami
ada yang membawa uang 10.000 yen yang membangkitkan tanda tanya diantara kami.
Ternyata foto pada uang 10.000 yen itu adalah foto pendiri Keio University yang
patungnya ada di hadapan kami. Perdana Menteri Jepang saat itu (Junichiro
Koizumi) merupakan salah satu alumni Keio University.

Perjalanan
dilanjutkan ke daerah Ginza. Ginza sudah dikenal, baik di Jepang maupun di
dunia, sebagai daerah perbelanjaan yang mahal. Toko-toko dengan brand terkenal
banyak dijumpai di daerah Ginza ini. Di jantung Ginza ini terletak Kabukiza,
sebuah teater kabuki yang sangat terkenal di Jepang. Kami hanya melihat
bangunan teater ini dari luarnya saja, karena tiket masuk pertunjukan cukup
mahal. Harga untuk kelas I adalah 15.000 yen (sekitar Rp. 1.2 juta), kelas II
11.000 yen (sekitar Rp. 900.000), kelas IIIA 4200 yen (sekitarRp. 350.000),
kelas IIIB 2500 yen (sekitar Rp. 200.000). Beberapa toko di daerah Ginza ini
sudah berusia ratusan tahun . Kami ditunjukkan toko tertua di Ginza, yang
sejarahnya dapat ditelusuri kembali hingga ke jaman Edo.

Dari
Ginza, kami berjalan kaki ke Nihonbashi, atau diterjemahkan ke bahasa Indonesia
berarti ”Jembatan Jepang”. Nihonbashi ini mempunyai arti penting bagi orang
Jepang, karena tempat ini merupakan titik referensi Jepang. Semua jarak di
Jepang dihitung dari titik ini. Dalam koordinat Cartesian, nihonbashi dapat
disamakan dengan titik (0.0).

Perhentian
berikutnya adalah Tokyo University.
Tokyo University merupakan universitas paling bergengsi di Jepang.
Profesor Nakajima yang merupakan alumni dari Tokyo University merngatakan
mahasiswa Tokyo University (Tokyo Daigaku) sering disebut dengan ”Todai Boys”
(Todai adalah kependekan dari Tokyo Daigaku) yang mempunyai streotrip ”pintar,
rajin belajar, tidak gaul, tapi mempunyai masa depan yang cerah”. Maka ada
cerita lucu tentang gadis-gadis Jepang, mereka akan pacaran dengan Keio Boys,
tetapi menikah dengan Todai Boys. Kami masuk ke Tokyo University melalui Akamon
atau Red Gate yang kini dilindungi sebagai salah satu ”important cultural
properties” menuju ke Sanshiro Pond, kolam besar yang terletak di tengah-tengah
Hongo Campus Univeristas Tokyo.

Dari
Tokyo University kami bergerak ke Ueno. Ueno merupakan suatu daerah di Tokyo
yang terkenal oleh Ueno Park, Ueno Zoo, dan Museum. Di Ueno Park terdapat danau
kecil yang sering dijadikan tempat wisata air untuk keluarga. Ini mengingatkan
saya akan Lido, tetapi danau di Ueno jauh lebih kecil. Berbagai jenis bebek
berkeliaran dengan bebas di kolam dan tampaknya tdak terganggu dengan kehadiran
manusia. Disini kami mendapat acara bebas selama sekitar setengah jam untuk
mengelilingi daerah ini. Ueno merupakan tempat populer untuk sakura viewing.
Tetapi berhubung saat kami datang masih pertengahan Februari, maka belum ada
sakura yang mekar. Di sepanjang jalan, banyak terdapat artis-artis yang sibuk
mempertontonkan kebolehan mereka. Ada artis akrobatik yang bermain-main dengan
pisau yang dilempar-lempar, ada pengamen jalanan yang sibuk memainkan alat
musik dan menjual CD-nya (sangat berbeda dengan pengamen di Indonesia yang
suaranya pas-pas-an dan hanya tertarik pada uang kita).

Tujuan
berikut adalah ”Sanya”. Sanya merupakan daerah hitam di Tokyo, mirip dengan
Bronx di New York. Ini merupakan faktor terpenting yang membuat Rian (mahasiswa
ITB yang ikut program YSEP TIT) mau mengikuti excursion kami. Sepanjang
perjalanan kami lebih banyak diam, apalagi setelah kami menerima sambutan tidak
menyenangkan di awal-awal kami memasuki daerah Sanya. Ada beberapa orang Jepang
berteriak dengan kata kata yang membuat merah telinga Profesor Nakajima.
Berhubung kami belum terlalu jago bahasa Jepang, kami hanya menduga-duga apa
yang dikatakan oleh orang-orang yang tak bersahabat tersebut. Sanya dapat
dikatakan sebagai daerah terbelakang di Tokyo. Kita masih dapat melihat orang
tidur di tenda-tenda biru, orang-orang homeless ini umumnya sudah tua. Tingkat
kriminalitas di Sanya juga termasuk yang tertinggi di Jepang. Ada aura yang
membuat kami hanya diam dan waspada sepanjang kami melewati daerah ini.
Profesor Nakajima berusaha ”breaking the ice” dengan mengatakan kita aman
karena banyak, tapi jangan sekali-sekali ke daerah Sanya sendirian, apalagi di
malam hari.

Excursion
diakhiri dengan kunjungan ke daerah Asakusa. Asakusa terkenal sebagai tempat
Sensoji Temple. Thunder gate, yang merupakan pintu masuk ke kuil ini menjadi
salah satu ikon kota Tokyo. Foto gerbang ini dapat dipastikan menjadi salah
satu dari foto pada postcard anda jika anda membeli satu set postcard kota
Tokyo. Sepanjang pintu gerbang dan kuil, terdapat deretan toko souvenir.
Setelah kami mengunjungi kompleks kuil Asakusa, kami ditraktir makan malam oleh
Profesor Nakajima di restoran di daerah Asakusa. Sepanjang makan malam, kami
terganggu dengan meja sebelah kami yang dihuni oleh orang mabuk, yang sudah
dikomplain berkali-kali oleh Profesor ke pihak restoran, tetapi tidak
ditanggapi dengan serius. Batas kesabaran Profesor sudah habis dan membentak
mereka ketika salah satu pria yang mabuk melakukan hal yang tidak pantas
sehingga memancing reaksi dari dua mahasiswi JUSST yang sedang makan. Mereka
menyerbu meja kami untuk memukul Profesor kami (yang baru saja membentak
mereka) dan tampaknya bentrokan fisik sudah tidak bisa dihindarkan kalau
pelayan toko tidak menahan laju kedua pria mabuk tersebut. Situasi sempat panas
sampai polisi datang dan menahan kedua pria tersebut dan kami keluar dari restoran
tersebut. Itu merupakan salah satu pengalaman mahasiswa JUSST dengan polisi di
Jepang.

5.2.3 Japanese Languange Class

Kelas
bahasa Jepang diajar oleh tiga staff pengajar. Untuk Elementary 1, staf
pengajarnya terdiri dari Tanaka sensei, Ooki sensei dan Miyoshi Sensei.
Elementary 2 diajar oleh Fukuda sensei, Miyoshi sensei dan Koyama sensei. Kelas
bahasa Jepang ini setiap akhir semester selalu mengadakan kegiatan yang
bertemakan budaya Jepang untuk para mahasiswanya.

5.2.3.1 Origami and Tea Ceremony  (15
Februari 2006)

Origami
merupakan seni melipat kertas yang cukup populer di Jepang. Kertas yang
digunakan pun bervariasi. Variasi ini baik dalam hal bentuk, warna, fitur, dll.
Kertas yang kami gunakan agak unik karena mengandung unsur flourosense,
sehingga hasil origami kami ini yang berbentuk katak dapat berpendar di
kegelapan.

Tea
Ceremony ini merupakan tea ceremony ketiga yang saya ikuti dalam fall semester.
Seperti biasa, kami termasuk orang-orang yang tidak tahan duduk bersimpuh gaya
Jepang, sehingga beberapa mahasiswa tidak dapat duduk dengan tenang.

5.2.3.2 Tsukiji Fish Market  (17 Februari
2006)

Kunjungan
ke Tsukiji Fish Market, sebenarnya merupakan study trip kelas Intermediate
Japanese, tetapi saya diperolehkan ikut. Tsukiji fish market merupakan pasar
ikan terbesar di Tokyo, dan juga di dunia. Waktu terbaik mengunjungi pasar ikan
ini adalah saat subuh, ketika kapal-kapal berlabuh dan melelang hasil
tangkapannya. Semakin siang, keriuahan di Tsukiji ini semakin berkurang.

Kami
tiba di Tsukiji Fish Market sekitar pukul 9 pagi, dan menunggu guide kami.
Setelah ia datang, kami dibawa ke ruang kantor dan diberi beberapa brosur dan
keterangan mengenai Tsukiji Fish Market dan baru kemudian dibawa berkeliling ke
lingkungan pasar. Berbeda dengan di Indonesia pasar berkonotasi dengan kotor
dan becek, situasi di Tsukiji benar-benar bersih, yang membuat saya heran.
Tentu saja ada bau amis ikan, tetapi pengaturan-pengaturan kios dan kolam-kolam
ikan dan lobster benar-benar diperhatikan dengan baik.

Kami
hanya sempat menyaksikan satu proses pelelangan ikan. Di saat menyaksikan
proses tersebut ada kru salah satu stasiun TV bergerak ke arah kami dan
mewawancarai Said (International Student UEC dari Palestina). Pewawancara
kemudian menyebutkan jam berapa hasil wawancara dengannya akan ditayangkan di
TV, sayangnya saya lupa menonton.

5.2.3.3 Kaligrafi  (28 Juli 2006)

Kaligrafi
merupakan salah satu seni menulis Jepang yang berakar dari kebudayaan Cina.
Karakter yang ditulis adalah kanji. Ini dilakukan dalam pertemuan terakhir
kelas Elemetary Japanese IIA. Ada beberapa persiapan yang kami lakukan, yaitu
berlatih menulis dengan kuas, dan berlatih mengingat-ingat urutan strokes dalam
penulisan kanji. Pertama-tama kami harus memilih kanji apa yang akan ditulis
lalu berlatih menulis kanji yang diinginkan di kertas. Kanji yang saya pilih
adalah yang berarti “journey”.  Setelah berlatih di kertas koran, kami harus
menulis di kertas yang disediakan yang berjumlah 3 lembar. Hasil yang terbaik
dari ketiga kertas tersebut itulah yang akan ditempel di papan kaligrafi di
lantai 2 P building.

5.2.4 Aoyama Laboratory

Aoyama
laboratory sering juga mengadakan acara-acara untuk mahasiswanya. Acara-acara
dibawah ini dilaksanakan setiap tahun, dan merupakan acara untuk ”having fun”. Di
Jepang, nama sebuah laboratorium, menyandang nama profesor yang paling senior
yang menghuni laboratorium tsb, berbeda dengan di Indonesia, yang nama
laboratoriumnya merupakan nama disiplin ilmu yang diteliti di laboratory
tersebut.

5.2.4.1 Bounenkai  (2 Desember 2005)

Bounenkai,
atau ”Forget-the-Year Party”, merupakan salah satu budaya Jepang yang biasa
dilaksanakan pada akhir tahun. Bounenkai dilakukan untuk mengucapkan selamat
tinggal pada tahun yang telah lewat. Bounenkai dilewatkan dengan makan-makan
dan minum-minum selama beberapa jam untuk melupakan semua kejadian tidak
menyenangkan di tahun yang telah lewat. Karena tidak adanya formalitas pada
acara bounenkai ini, bounenkai merupakan sarana untuk merperat tali silaturahmi
diantara anggota group.

Hampir
semua anggota laboratorium datang, beserta dengan beberapa rekan dari Aoyama
sensei. Acara makan-makan diadakan di sebuah restoran di Shinjuku, dan setelah
acara makan-makan selesai, beberapa anggota laboratorium pulang dan beberapa
(termasuk saya) melanjutkan dengan karaoke di tempat yang terletak tidak jauh
dari restoran tersebut.

5.2.4.2 Graduation Party  (17 Februari 2006)

Graduation Party ini dilakukan untuk beberapa anggota laboratorium yang
lulus program master dan program bachelor. Untuk mahasiswa yang lulus program
master, mereka langsung bekerja sehingga buat mereka ini juga merupakan pesta
perpisahan dengan anggota laboratorium.

5.2.4.3 Snowboard Trip  (24~25 Februari 2006)

Snowboard
trip merupakan event tahunan yang diadakan oleh Aoyama Laboratory. Untuk kali
ini tidak semua anggota laboratory ikut acara snowboarding yang dilakukan.
Anggota Aoyama Laboratory yang ikut kali ini berjumlah 7 orang (termasuk saya).
Snowboarding kali ini diselenggarakan di Joetsu Kokusai, di daeran Niigata.

Snowboarding
kali ini merupakan yang pertama kali untuk saya, dan juga pertama kali untuk
Hajime, salah satu anggota Aoyama Laboratory sehingga kami diberi briefing
singkat bagaimana cara snowbarding, dan yang terpenting, bagaimana cara
mengerem. Sepanjang hari pertama saya berkali-kali jatuh, dan menggunakan semua
anggota tubuh untuk mendarat. Muka, tangan, lutut, bagian tubuh yang lain
menjadi korban dari usaha pengereman yang gagal

5.3
Kegiatan
yang berkaitan dengan mahasiswa Indonesia

Kegiatan-kegiatan ini merupakan sarana
berkumpul dengan mahasiswa dan orang-orang Indonesia yang lain.

5.3.1 Odaiba (30 Oktober 2005)

Acara di Odaiba ini merupakan acara ulang
tahun salah seorang anggota jemaat GI3 Tokyo (Gereja Interdominasi Injili
Indonesia) yang merupakan gereja Kristen Protestan di Tokyo. GI3 yang terletak
di dekat stasiun Suidobashi (Chuo Line) ini merupakan gereja yang menggunakan
bahasa Indonesia dalam kebaktiannya, meskipun pendetanya adalah orang Jepang.

5.3.2 Natalan KMKI (16 Desember 2005)

Perayaan
natal ini merupakan perayaan natal gabungan dari gereja-gereja Indonesia di
Tokyo. Perayaan natal ini diadakan di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo)
yang terletak di daerah Meguro. Acara natal ini cukup meriah dan mengundang
bintang tamu dari Indonesian Idol, yaitu Delon dan Mike, untuk menyanyi pada acara
Natal ini. Selesai acara, mereka dikerubungi penggemar yang sibuk meminta tanda
tangan dan minta foto bareng.

5.3.3 New Year Celebration (31 Desember 2005 – 1 Januari 2006)

Acara
tahun baru kali ini saya rayakan bersama dengan tiga mahasiswa ITB yang sedang
mengikuti program YSEP di Tokyo Insitute of Technology. Saya, Rian, Hansky, dan
Ivan sepakat bertemu di daerah Shibuya untuk sightseeing dulu sebelum mengikuti
countdown di Tokyo Tower. Countdown di Tokyo Tower cukup meriah, dan cukup
banyak orang yang mengikuti acara countdown ini sehingga kami harus
berdesak-desakan.

Sebelum
ke Tokyo Tower, kami sempat mengunjungi sebuah kuil zensoji yang terletak di
daerah tersebut. Sesuai dugaan, kuil ini sangat ramai karena tradisi masyarakat
Jepang yang melewatkan tahun barunya berdoa di kuil-kuil shinto. Acara terakhir
sebelum berpisah adalah menonton film ”Memoirs of a Geisha” di bioskop di
daerah Roppongi, yang terkenal sebagai kota yang tak pernah tidur.

5.3.4 Hitotsubashi Gathering (4 Februari 2006)

Acara
ini dilaksanakan di asrama Hitotsubashi, yang
ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dari UEC. Tuan rumah acara ini adalah
Juanda Lokman (JUSST October 1999) dan Eric (JUSST October 2000). Beberapa staf
International Office UEC (Mika-san, etc) juga datang selain beberapa mahasiswa
Indonesia yang pernah kuliah atau sedang kuliah di UEC. Acara pertama-tama
adalah olah raga bersama di hall olahraga Hitotsubashi Dormitory, kemudian
setelah itu dilanjutkan dengan makan malam masakan Indonesia.

5.3.5 Pertemuan PPI Jepang (23 April 2006)

Pertemuan
ini sebenarnya merupakan penyambutan mahasiswa baru Indonesia yang baru tiba di
Jepang (harus diketahui bahwa awal tahun ajaran baru di Jepang adalah bulan
April). Acara dini diadakan di Komaba Campus, Tokyo University yang terletak di
dekat Shibuya.

Materi
pertemuan lebih banyak memberikan tips-tips bagi mahasiswa baru agar dapat
beradaptasi dengan kehidupan di Jepang. Selain itu juga ada perkenalan para
pengurus PPI Jepang dan sharing mengenai pengalaman hidup beberapa pembicara
selama hidup di Jepang, mulai dari benturan budaya, sampai istilah-istilah yang
sering disalah artikan (seperti kawaiso).

5.3.6 ASEAN 1st Festival (30 April 2006)

Festival
ASEAN yang diadakan di Komaba Campus, Tokyo University ini merupakan yang
pertama kali diadakan di Jepang. Dalam festival ASEAN ini dapat kita lihat
stand-stand setiap negara anggota ASEAN yang menjual souvenir dan makanan khas
masing-masing negara. Untuk unjuk kebolehan, mahasiswa Indonesia memainkan alat
musik Angklung dengan irama dari lagu ”Furui no tokei”-nya Hirai Ken  yang memang sedang populer di Jepang.

Advertisements