Keesokan paginya, supir tuk-tuk yg
kemarin sudah menunggu kami di gerbang hostel. Poli yg emang hobbynya foto,
masih belum puas-puas juga foto tuk-tuk, kali ini si abang tuk-tuk disuruh
bergaya di depan tuk-tuknya. Dari terminal bus yg kemarin kami naik bus kecil
(mirip2 metromini) ke arah Pai. Suasana di dalam bus udah bener2 kaya di Indonesia aja,
ramai dan berisik. Di tengah jalan,
bus kami dihentikan oleh tentara
(atau polisi, pokoknya berseragam). Mereka masuk ke dalam bus dan
memeriksa identitas penumpang satu demi satu. “Many Myanmar people
enter Thai illegally, and this area is near to Myanmar. There will be many
security check like this. Don’t worry
” Aun menjelaskan ketika saya dan Poli
menyakan kenapa ada pemeriksaan di dalam bus. Ada ibu2 tua yg tampaknya protes. Tak berapa
lama kemudian bus disuruh jalan kembali.

Sesampainya di Pai, kami mencari hostel, dan menemukan
tempat yg namanya “golden hut” yang
terletak di tepi sungai Pai (warnanya coklat euy). Hut, seperti pada kata Pizza
Hut, tapi bedanya Hut yg ini berupa rumah kayu. Kami sempat voting karena
dihadapkan pada dua pondok, yg satu lebih kecil (jadi lebih murah) dan yg satu
lebih besar (lebih mahal), dan berdasarkan suara terbanyak (actually semua
milih “hut” yg sama). Pondok (kamar) yg kami tempati lumayan besar, ada satu
king size bed dan kamar mandi di dalam. Selesai beres2, kami keluar dari hostel dan melangkah ke jalan utama kami berpapasan
dengan iring2an perayaan kecil. Lalu kami meng-explore Pai yg bisa
dibilang lumayan kecil untuk ukuran sebuah kota. Hal yg unik disini, banyak banget
bule-nya. Tiap jalan pasti ketemu
bule.

Pai terkenal sama adventure-nya.
Salah satu yg kami coba di hari pertama adalah “elephant safari”, alias safari bersama gajah. Lumayan murah
(seinget saya sekitar 500 bath berdua). Ada
harga ada kualitas, harga murah ini artinya fasilitas duduk di gajah itu bisa
dibilang seadanya. Cuman karung goni
saja yg menutupi punggung gajah. Saya dan Poli tertarik naik gajah, dan Aun
sangat tidak tertarik naik gajah “No Way” kata Aun. “Warmly! Enjoy! Happy!
Welcome to Karen’s elephant camp
”, well at the end of the elephant safari,  I really wanna dispute the word warm (hangat),
karena saya kedinginan.

Akhirnya naiklah kami ke punggung
gajah. Pawang gajah-nya masih muda
(masih belasan tahun) dan sering banget mengajak ngomong gajah itu. Kami berdua naik gajah, dan menembus
“hutan-hutan” Pai sepanjang perjalanan ke arah sungai Pai. Sepanjang perjalanan
temannya pawang gajah ngikutin dari belakang dan saya sibuk mengambil video dan
foto dengan kamera saya. Di deket sungai, ternyata Aun sudah menunggu
dan bilang “hey, give me your camera”. Kami berdua mulai sadar apa yg akan
dilakukan pawang gajah kepada kami berdua. Terlintas di benak kami dua orang
turis sebelum kami bajunya basah kuyup. “pasti mereka diceburin”. Benar saja gajah itu malah mengarah ke sungai dan
kaki2nya mulai masuk ke sungai sambil mengarah ke tengah.

Saya  : Poli, which side we will
fall, right or left?

Poli   : Right, if  left it is too dangerous for us

Saya  : Sh*t (sambil membayangkan
saya terpaksa berenang di air sungai yg berwarna kecoklatan).

Rupanya pikiran orang sama pikiran gajah itu berbeda. Si gajah
menjatuhkan kami ke arah kiri (gajah g*bl*k), yang berarti lebih ke tengah
sungai, dan lebih bahaya.

Sungai yg kami sangka tenang, ternyata
arusnya lumayan deras, dan dalam. Saya berusaha mencari pijakan dan terkaget2
karena kaki saya nggak nyentuh dasar sungai dan kami berdua mulai terseret
arus. Lesson learned here, berenang
di sungai tidak sama dengan
berenang di kolam renang.

Sementara di tepi sungai,
percakapan dalam bahasa Thailand
antara Aun dan temennya pawang gajah

TPG  : Mereka bisa berenang?

Aun   : mmm (sambil ngeliatin
kami yg sedang terseret arus dan berusaha keras untuk mengambang + (masih) tetap
merekam dengan handycam-nya) tampaknya tidak

Suddenly dia nyadar, OMG, temen2
dalam bahaya, (baru saat ini itu dia berhenti merekam). Temen pawang gajah itu
jadi panik dan lari2 di sepanjang tepian sungai berusaha menolong kami yg lagi
terseret arus. Saya jadi inget baywatch,
bedanya ini bukan Pamela Anderson yg lari2 buat nyelamatin kami, tapi
abang-abang Thailand
yg temenan sama gajah yang berusaha nyelamatin kami. Anyhow, saya dan Poli
berhasil berenang ke tepian (usaha sendiri), saya bertahan sama ranting pohon,
Poli berusaha mengambang. Yang
nyebelinnya, pawang gajahnya ketawa2 tanpa menyadari bahwa kami berdua terseret
arus dan bête banget sama dia. Saya jadi pengen nimpuk orang, sayangnya masih
deg-deg-an dan kedinginan (gara2 basah) karena kejadian tadi.

Setelah kejadian tadi, kami masih
tetap kembali naik gajah untuk ke titik keberangkatan. Sampai disana, kaami
ditawarkan, mau ngasih makan gajah nggak?? Tebak makanan gajah apa? Pisang.
Rupanya monyet punya saingan. Tapi gajah2 lebih rakus dibandingkan monyet,
karena mereka makan pisang tanpa mengupas kulit pisang, langsung ditelen
semuanya.

Pulang dari elephant safari, kami
masih menggunakan pick-up Toyota
bak terbuka yg sama. Berhubung basah, saya dan Poli tidak boleh duduk di depan
dan harus berada di bak terbuka itu. Kombinasi yg bisa bikin orang masuk angin.
Dingin (gara2 basah) + Angin. Malamnya kami mencoba makan di satu restoran yg
masuk ke Lonely Planet lalu ke satu restoran lagi yg lumayan cozy.