“Gomennasai……. ” demikian permintaan maaf salah satu petugas wanita
di Narita airport, “barang ini tampak seperti pisau di mesin X-ray
kami”  katanya sambil memberikan cover Alkitab kepada saya. Penahan
logam di bagian dalam cover tersebut rupanya mirip sebilah pisau buat
mesin tsb. Saya yang masih bertanya-tanya mengapa saya mendadak
ditanyai oleh beberapa petugas berseragam selama sekitar setengah jam
plus semua isi tas kabin saya dibongkar, semua, bahkan sampai omiyage
(oleh-oleh) dari Jepang bungkus kadonya sampai dibuka buat ngeliat
isinya apa, langsung memperoleh jawaban.

Sialnya, karena
“pisau” itu saya (mungkin) disangka teroris sehingga mendapat perhatian
extra beberapa petugas bandara yang mendadak dengan rajinnya nyamperin
saya dan “menginterogasi” saya. Semua kartu identitas diperiksa,
ditanya-tanya, abis itu ditinggal dan dia entah sama siapa
ngomong-ngomong di HT, disamperin lagi sama petugas lain, dan lagi….
dan lagi….sampe bosen. “Koukan ryuugakusei – foreign exchange
student” kata saya berkali-kali ketika ditanyain ngapain di Jepang.
Kombinasi paspor Indonesia plus baru setahun sebelumnya ada warga
Jepang yang mati di Bom Bali II cukup buat saya lama ditanya-tanya.
Salutnya, mereka sopan banget (bandingin sama pengalaman teman saya di
USA yang harus bersumpah-sumpah segala).

Kejadian saya ini
menambah panjang kisah anak-anak JUSST dengan petugas bandara, satu
setengah tahun sebelumnya Arqui dan Marco diinterogasi di Beijing
selama 5 jam-an, sampai mereka takut banget (wajar lah, mereka tinggal
bareng bandar ganja di youth hostel). Mungkin bau badan mereka udah bau
ganja kali ya.

Sejujurnya saya waktu itu deg-deg-an banget,
karena bawaan kabin saya itu nggak tanggung-tanggung, 33 kilo (16+10+7)
yang tersebar di satu tas punggung dan dua “tas tangan”. Bandingin sama
bawaan bagasi 27 kilo, kayanya mungkin kebalik ya ;p. Buat kamuflase,
seolah-olah tas tangan itu isinya barang-barang yg saya beli di toko
duty free di bandara, padahal isinya buku-buku pelajaran semua
(sekarang jadi kapok beli buku). Kalo tanya kenapa bawaannya banyak,
karena ini back for good.

Saya waktu itu khawatir pemeriksaan
itu ada kaitannya dengan bawaan kabin saya yang melebihi limit yang
diperbolehkan. Anigi setengah tahun sebelumnya mesti bayar banyak
karena overweight. Saya tidak mau overweight karena ini bisa
mempengaruhi duit saya buat ke Thailand bareng anak-anak JUSST. Jadi
sambil pemeriksaan sambil berdoa, “moga-moga nggak kena denda”. Jadi
waktu itu saya justru lega karena hanya disangka bawa pisau hehehe.
Anyway, yang bisa ngelebihin berat bawaan kabin saya hanyalah tetangga
saya dulu pas naik Emirates. Dia bawa ukiran seberat 50 kilo. Gila
bener.

Back to Narita, ini bukan pengalaman pertama dengan
petugas bandara. lima bulan sebelumnya, ketika baru balik dari China,
saya ditegur petugas imigrasi karena memotret (pake kamera HP) suasana
di dalam ruangan pemeriksaan paspor. Berhubung waktu itu masih punya
Alien Card (kaya KTP buat orang asing di Jepang – mirip sama permanent
residence), saya masuk ke antrian orang Jepang (pemegang paspor Jepang
+ Alien Card), begitu sampe di depan petugasnya, tiba-tiba dia bilang
“Kamu tadi motret-motret ya? it’s forbidden”. Walhasil, semua foto yang
nyangkut-nyangkut wilayah itu langsung dihapus.

Anyway, ada
pelajaran yang bisa dipetik dari hal-hal tersebut. Pertama perhatikan
tanda dilarang memotret di bandara, jangan motret-motret sembarangan,
karena bisa dicurigai yang nggak-nggak. Kedua, hati-hati bawa cover
Alkitab, kalo bisa dimasukin di bagasi aja (yang saya lalukan saat
berangkat ke Jepang, tapi tidak saya lakukan saat pulang dari Jepang).
Plus, kalo ke Jepang lagi, saya nggak keberatan ditanya-tanyain sama
petugas wanitanya, cantik sih hehehe sayangnya waktu itu lebih banyak ditanyain sama beberapa petugas pria-nya.

Narita, September 2006