September 2006


Ketika summer 2006 jalan2 bersama anak2 JUSST ke tiga Negara, Singapore, Malaysia dan Thailand selama 22 hari, salah satu pertanyaan yang muncul adalah moda transportasi apa yang akan digunakan dari tempat A ke tempat B, in this case, mau pake apa dari Singapore ke KL?

Pilihan ada dua, either bus or kereta. Berhubung Aun, Polly dan Raul sudah punya pengalaman naik kereta lintas Negara ini, pilihan saya jatuh ke kereta, yang namanya cukup lucu, “Senandung Malam”, kereta ini dioperasikan sama perusahaan Malaysia, meskipun sebagian kecil track-nya ada di wilayah Singapore.

Pas mau masuk kereta di singapore, di peron stasiun, ada pihak imigrasi Malaysia yg meriksa2 paspor kita, entar pas deket perbatasan ada pemeriksaan lagi (jadinya 2x pemeriksaan). di sekitar perbatasan singapore-malaysia, semua penumpang beserta “seluruh barang bawaan” disuruh keluar dari kereta, masuk ke ruang imigrasi lagi (lupa yg ini dr kedua negara atau dari singapore doang), cek2 paspor dan tiket lagi, abis itu masuk ke kereta lagi (dengan posisi (tempat duduk atau tempat tidur)yg sama). Pokoknya kereta harus “steril”Kalau mau dirangkum, ada 4 tipe kelas
1.
Ekonomi (duduk, hard seater)
2. Standard night (sleeper atas, sleeper bawah, sama duduk)
3. Premiere Night (kelas mahal)
4. Premiere Night Deluxe, (kelas lebih mahal lagi) -> mendingan naik airasia
Kalo yg bawah, entar u terganggu sama orang2 yg berlalu lalang. Di kompartemen tidur ini ada tirai kok, jadi buat yg nggak suka tidurnya dilihat orang asing, tirai ini sangat berguna. Standard lah sesuai dng harga yg u bayar. Tp sampe ke KL centralnya itu telat brp jam gitu (ga sesuai dgn waktu tiba di jadwal).

Tiket kereta Singapore – KL itu simpen aja di dalam paspor. Soalnya nanti perlu pas keluar Malaysia (imigrasi malaysia entar nanyain, anda masuk kesini pake apa, kok ga ada cap masuk malaysia di pasport?) => soalnya pas masuk malaysia lewat kereta, paspor kita nggak dicap (pengalaman pribadi akhir september 2006 -> kayanya skrg masih sama deh). Kalo ditanyain itu, tunjukin aja tiket kereta anda.

Nomor makin gede, harga makin mahal.

Dulu pake yg Standard Night, lumayan enak kok. Kompartemen tidur itu ada yg atas dan bawah, harga beda (bedanya sekitar 1-2 SGD doang kalo ga salah).

Kalo mau tidur nggak terganggu pilih aja yg posisi sleepernya di atas, keuntungannya, at least barang kita lebih aman, dibanding dgn di bawah, kekurangannya kalo mau ke toilet, mesti naik turun tangga, sama kalo jatuh (yg kemungkinannya sangat kecil), sakitnya lumayan (+/- 1 meter lah tinggi kompartemen tidur yg diatas dari lantai).

Seinget saya yg agak aneh, misal dari SG -> KL itu 39 SGD, tapi kalo beli arah sebaliknya KL -> SG itu malah 39 ringgit. Pokoknya kalo beli dari malaysia, sama dari singapore, harganya beda deh, lebih murah yg beli dari malaysia. …. Kalo mau pesen, mendingan jangan pas hari H, jaga2 standard night-nya habis. biasanya sih yg tersisa itu soft seater (yg not worth it -> menurut temen saya yg udah nyoba, dia cuman dapet milo doang sbg “bonus” di kereta).

Harga hard sleepeer sama soft seater itu kalo nggak salah ga beda jauh (tp bagusan cek lagi ke URL dibawah). Tp buat saya, kalo tidur sih lebih enak terlentang, bukan duduk.

Kalo bawa bawaan berat, di stasiun keberangkatan kereta SG->KL (nama stasiunnya lupa euy) itu ada penitipan barang, sekitar 4 SGD seinget saya. In case u ga mau balik ke penginapan buat ngambil barang pada sore hari keberangkatan.

Website ttg harganya bisa dilihat di URL ini,
http://www.ktmb.com.my/%5Cimages%5Cdefault%5Cfare040105%5CFareSenandungMalam.pdf

Advertisements
Di depan P-Building, west campus UEC, Tokyo, Aun dan Raul tampaknya asyik ngobrol tentang sesuatu. Saya yang kebetulan melihat mereka, langsung mendekat dan bergabung. Ternyata mereka sedang membicarakan rencana libur musim panas mereka. Raul yang dari Meksiko tampaknya termakan sama ucapan Dmitri tentang keindahan Thailand. Jadi topic kali itu adalah liburan di Thailand.  Salah satu yang lumayan asyik dari Jepang adalah waktu libur kuliahnya yang lumayan panjang, terutama buat libur musim panas, sekitar 2 bulan, dari Agustus awal sampai end-September. Dmitri, anak Estonia yang seangkatan saya, menghabiskan 2 minggu di Thailand, terutama di Thailand selatan, leyeh2 di pantai dan menyebarkan berita soal liburan dia yg berkesan ke anak2 JUSST. Jadilah September 2006 itu 7 orang anak2 UEC somehow berada di Thailand. Kalau ngitung sama cewek-nya Aun, jadi 8 orang.
Jadilah pembicaraan mereka berdua itu seputar backpacking di Thailand selama summer. Rencana mereka kurang lebih akan sebulan di Thailand. Saya waktu itu lumayan tertarik karena saya belum pernah ke Thailand sama sekali, dan Aun adalah mahasiswa Thailand, lumayan kan kalau ada orang local di group jalan-jalan, at least factor bahasa bisa teratasi. Beberapa minggu ke depan dimulailah perencanaan ke Thailand ini dengan perencana utama Aun, wajar lah dia kan orang Thai. Selain itu Raul dan Poli juga perlu ngurus-ngurus visa buat ke negara2 ini.
Plan awal mereka seperti ini, detailnya ada disini
Tokyo – Singapore
Pesawat (Northwest Airlines)
Singapore – Kuala Lumpur
Kereta Malam
Kuala Lumpur – Hat Yai
Kereta Malam
Hat Yai – Phuket
Bus
Phuket – Bangkok
Pesawat (Air Asia)
Bangkok – Chiangmai
Kereta Malam
Chiang Mai – Ubon Rachatthani
Bus
Ubon Rachatthani – Bangkok
Kereta Malam
Bangkok – Singapore
Pesawat (Air Asia) 1500 baht
Singapore – Tokyo
Pesawat (Northwest Airlines)
Singapore dan Kuala Lumpur hanya akan dapat kunjungan singkat
Phi-Phi jadi basecamp u/ Southern Thailand (Phuket, PhiPhi)
Bangkok jadi basecamp u/ Central Thailand (Bangkok, Ayutthaya, Ancient City, Floating Market)
Pai jadi basecamp u/ Northern Thailand (Chiangmai, Mae Hong Son, Pai)
Ubon Rachatthani u/ Northeastern Thailand (Ubon, perbatasan Laos, etc)
Karena mereka rencananya berangkat dari akhir Agustus selama 28 hari sampai akhir September, dan saya tidak bisa, maka saya skip rencana mereka yang dari Singapore – Phuket dan gabung di Phuket (atau PhiPhi) dan bergabung di hari ke-8 perjalanan mereka. Di Thailand selatan ini, ceweknya Aun dan bbrp anak2 JUSST angkatan saya yang lagi liburan disini janjian ketemu dan jalan2 bareng, untuk kemudian pisah lagi. Jullietta dan Hugo naik bus ke Bangkok, sedangkan saya dan yang lainnya naik Air Asia ke Bangkok.
Di Bangkok, Jullietta dan Hugo langsung ke Chiang Mai, kami yang rencana awal ke Chiang Mai mengubah rencana karena ketika itu di Chiang Mai sedang hujan deras dan ada longsor, tahu dari Aun yang denger berita di radio. Akhirnya yang rencana awal Bangkok – Chiang Mai – Ubon Rachatthani – Bangkok, dimodifikasi ke Bangkok – Ubon Rachatthani – Chiang Mai – Bangkok.
 
Atraksi wisata di tiap kota
Bangkok -> Royal Palace & Emarald buddha
Di website wikitravel cukup banyak info, mungkin bisa dilihat sendiri.
http://wikitravel.org/en/One_day_in_Bangkok
Ayutthaya -> Tempat yg unik dan ciri khas Thai (several hours from Bangkok)
Ancient City -> semacam Taman Mini gitu, tapi di outskirt Bangkok (+/- 1 Jam)
Chiang Mai, mendingan bablas ke Pai dan Mae Hong Son aja…. deket ke Myanmar…
Pai skrg mulai terkenal…. Kota kecil, populasinya 3000an orang, yg dijual wisata adventurenya…. semacam hidden hideaways buat orang2 yg bosen dengan Bangkok – Chiang Mai – Chiang Rai
Phuket -> terlalu ramai (lebih cenderung seperti pantai kuta di bali). Mendingan di Phuket setengah hari aja, lanjut ke Phi Phi Islands
Phi Phi Islands -> pulau yg bagus dikunjungi ada Maya Bay (tempat syuting the Beach – deket Phi Phi)
 
Phi-Phi Islands
Pulau ini pernah dipake shooting lokasi 2 film, lokasi “Maya Bay” buat film the beach, sama ada 1 pulau yg pernah di pakai film James Bond. Pantainya bagus2, (terbagus yg pernah saya kunjungi malah) termasuk lumayan murah jg. Dulu saya pernah ikut 1 day tour, belinya pas di phi-phi itu 500an baht, termasuk snorkeling di bbrp tempat. Film the Beach terlalu “hollywood”. Buat masuk ke pantai tempat shooting mereka itu (Maya Bay) ga seheboh di filmnya.
Satu hal yg harus diingat yg harus diingat soal waktu. Ke phi-phi butuh 2 jam dari dermaga phuket. Blm lagi dari phuket airport ke dermaga (naik minibus kalo ga salah 100 baht, tp ke phuket town bukan ke dermaga). Seingat saya ferry paling akhir itu jam 3 sore (tapi bagusan u cek lagi).

Transportasi
URL ini untuk Rute dari Singapore -> Bangkok.
http://www.seat61.com/Malaysia.htm
Kalau dari bangkok masih mau keliling Thai lagi,
http://www.railway.co.th/English/
 
Akomodasi
Singapore: tidur di Changi airport
Malaysia: Hostel
Hat Yai : ??? entah Aun, Poli dan Raul nginep dimana
Phuket: Hotel. Saya gabung dengan mereka dari Phuket
PhiPhi: nginep di “bungalow” tepi pantai 400 baht buat 2 orang (Twin Plum)
Bangkok: Rumah Aun
Ubon Rachatthani: Rumah ortu Aun
Chiang Mai: Hostel
Pai: Hostel tepi sungai
Mae Hong Son: nginepnya di Pai
Ayutthaya: nggak nginep, dikunjungi dalam arah Chiang Mai – Bangkok

Tidur di changi airport
Begitu keluar dari imigrasi kita bisa cari tempat yg namanya “The Viewing Mall”. Saya dulu pernah tidur disini bareng temen2 nunggu flight yg pagi2 jg. Jangan lupa bawa koran u/ alas tidur. Tapi kalo lupa, bisa aja ke tourist information, ambil peta singapore gratisan yg gede (kurang lebih 3), bisa jadi alas tidur
 
Transit di KL LCCT
Kalau transit 6 jam kayanya nanggung tuh… Tp di LCCT KL nggak ada yg bisa dilihat sih…Tapi kalo anda sempatkan ke KL kayanya anda seolah2 akan dikejar2 waktu selama anda di KL, dan kalo apes, ketinggalan pesawat.
Tp kalo mau dicoba ke KL naik Bus dari Airasia aja, murah meriah, seingat saya sekitar RM 9…
Ada bank yg cukup reliable, buat tempat nuker uang pokoknya yg plang-nya warna ungu, lupa namanya…
 
Bahasa
Nggak ada masalah, karena Singapore dan Malaysia ngerti English dan Melayu. Dulu pas backpacking di thai, salah satu anggota rombongan anak Thai, jadi dia yg jadi leader Soal bahasa mendadak aman.
Kalo ga ada yg bisa Thailand, lebih baik beli pocket book English – Thai yg ada thai characternya. Cukup membantu. (sekitar 100rb-an)..

Estimate biaya di phuket
Hotel 1 malam +/- 700 baht (AC/TV, double bed)
Taxi dari airport ke pusat kota +/- 300 baht
Makan +/- 40 – 80 baht
Tiket Pesawat (coba aja ke website air-asia)
Ferry Phuket – Phi-Phi Island one way 500 baht
Tour 1 day di Phi-phi islands 100 baht (ini termasuk snorkeling, but not diving).

Bank

“Gomennasai……. ” demikian permintaan maaf salah satu petugas wanita
di Narita airport, “barang ini tampak seperti pisau di mesin X-ray
kami”  katanya sambil memberikan cover Alkitab kepada saya. Penahan
logam di bagian dalam cover tersebut rupanya mirip sebilah pisau buat
mesin tsb. Saya yang masih bertanya-tanya mengapa saya mendadak
ditanyai oleh beberapa petugas berseragam selama sekitar setengah jam
plus semua isi tas kabin saya dibongkar, semua, bahkan sampai omiyage
(oleh-oleh) dari Jepang bungkus kadonya sampai dibuka buat ngeliat
isinya apa, langsung memperoleh jawaban.

Sialnya, karena
“pisau” itu saya (mungkin) disangka teroris sehingga mendapat perhatian
extra beberapa petugas bandara yang mendadak dengan rajinnya nyamperin
saya dan “menginterogasi” saya. Semua kartu identitas diperiksa,
ditanya-tanya, abis itu ditinggal dan dia entah sama siapa
ngomong-ngomong di HT, disamperin lagi sama petugas lain, dan lagi….
dan lagi….sampe bosen. “Koukan ryuugakusei – foreign exchange
student” kata saya berkali-kali ketika ditanyain ngapain di Jepang.
Kombinasi paspor Indonesia plus baru setahun sebelumnya ada warga
Jepang yang mati di Bom Bali II cukup buat saya lama ditanya-tanya.
Salutnya, mereka sopan banget (bandingin sama pengalaman teman saya di
USA yang harus bersumpah-sumpah segala).

Kejadian saya ini
menambah panjang kisah anak-anak JUSST dengan petugas bandara, satu
setengah tahun sebelumnya Arqui dan Marco diinterogasi di Beijing
selama 5 jam-an, sampai mereka takut banget (wajar lah, mereka tinggal
bareng bandar ganja di youth hostel). Mungkin bau badan mereka udah bau
ganja kali ya.

Sejujurnya saya waktu itu deg-deg-an banget,
karena bawaan kabin saya itu nggak tanggung-tanggung, 33 kilo (16+10+7)
yang tersebar di satu tas punggung dan dua “tas tangan”. Bandingin sama
bawaan bagasi 27 kilo, kayanya mungkin kebalik ya ;p. Buat kamuflase,
seolah-olah tas tangan itu isinya barang-barang yg saya beli di toko
duty free di bandara, padahal isinya buku-buku pelajaran semua
(sekarang jadi kapok beli buku). Kalo tanya kenapa bawaannya banyak,
karena ini back for good.

Saya waktu itu khawatir pemeriksaan
itu ada kaitannya dengan bawaan kabin saya yang melebihi limit yang
diperbolehkan. Anigi setengah tahun sebelumnya mesti bayar banyak
karena overweight. Saya tidak mau overweight karena ini bisa
mempengaruhi duit saya buat ke Thailand bareng anak-anak JUSST. Jadi
sambil pemeriksaan sambil berdoa, “moga-moga nggak kena denda”. Jadi
waktu itu saya justru lega karena hanya disangka bawa pisau hehehe.
Anyway, yang bisa ngelebihin berat bawaan kabin saya hanyalah tetangga
saya dulu pas naik Emirates. Dia bawa ukiran seberat 50 kilo. Gila
bener.

Back to Narita, ini bukan pengalaman pertama dengan
petugas bandara. lima bulan sebelumnya, ketika baru balik dari China,
saya ditegur petugas imigrasi karena memotret (pake kamera HP) suasana
di dalam ruangan pemeriksaan paspor. Berhubung waktu itu masih punya
Alien Card (kaya KTP buat orang asing di Jepang – mirip sama permanent
residence), saya masuk ke antrian orang Jepang (pemegang paspor Jepang
+ Alien Card), begitu sampe di depan petugasnya, tiba-tiba dia bilang
“Kamu tadi motret-motret ya? it’s forbidden”. Walhasil, semua foto yang
nyangkut-nyangkut wilayah itu langsung dihapus.

Anyway, ada
pelajaran yang bisa dipetik dari hal-hal tersebut. Pertama perhatikan
tanda dilarang memotret di bandara, jangan motret-motret sembarangan,
karena bisa dicurigai yang nggak-nggak. Kedua, hati-hati bawa cover
Alkitab, kalo bisa dimasukin di bagasi aja (yang saya lalukan saat
berangkat ke Jepang, tapi tidak saya lakukan saat pulang dari Jepang).
Plus, kalo ke Jepang lagi, saya nggak keberatan ditanya-tanyain sama
petugas wanitanya, cantik sih hehehe sayangnya waktu itu lebih banyak ditanyain sama beberapa petugas pria-nya.

Narita, September 2006

Tokyo
Place to be visited:
Akihabara (electronic city)
Shinjuku (Tokyo Metropolitan Government Building, stasiun tersibuk di
jepang, banyak shopping mall, ada taman shinjuku gyoen, kabukicho red
light district)
Shibuya (Japanese Teenager capital)
Harajuku (kalo weekend banyak Harajuku Girls, Kuil Meijijinggu,
Takeshita-dori -> kalo mau belanja2)
Ginza tempat barang2 branded, ada studio kabuki, kalo bosen bisa ke
Tsukiji Fish Market, pasar ikan terbesar di dunia), deket sini jg.
Disneyland dan Disneysea (nama stasiunnya Maihama)
Tokyo Station -> Imperial Palace, Gedung Parlemen
Odaiba -> Kalo malem bagusan kesini, bagus buat ngeliat Rainbow Bridge pas
malam. Ini waterfront area tokyo.
Tokyo Tower -> kalo mau ngeliat tokyo pas malam dari tempat tinggi (333
meter), tapi bayar sekitar 1400 yen kalo mau sampe tingkat paling tinggi.
Kalo mau gratisan, ke Tokyo Metropolitan Gov’t building aja….
Ueno -> Ueno park terkenal buat sakura blossom (early april), banyak
museum di daerah sini
Asakusa -> ada kuil terkenal, sensoji temple.
Kyoto
Kyoto, ini kaya Jogjakarta, Japan culture capital. Jauh lebih bagus di mid-november buat Momiji (Red Leaves). Biasanya pertengahan sampe akhir November itu di Kyoto
itu bagus banget buat Momiji (daun yg berubah warna jadi merah). Kalo
Agustus masih masuk summer (panas). September / oktober udah musim2
gugur. November itu masih musim gugur, tapi udah mulai dingin
(peralihan ke winter).Soal peak/high season saat itu, aku kurang ngerti.
Info lebih jauh tentang momiji disini
http://www.japan-guide.com/e/e2014.html
Place to be visited:
Kinkakuji (Gold Pavilion)
Ginkakuji (Silver Pavilion)
Gion (Geisha District), satu area sama Yasaka Shrine, Maruyama Park, sama
Kiyomizudera(salah satu kandidat new 7 wonder of the world, tapi kalah)
Sanjusangendo
Arashiyama (bagusan mid-nov sih buat momiji)
Heian Shrine
Imperial Palace Kyoto
Other shrine and temples yg terlalu banyak u/ disebutin satu2.
Akodomodasi
Untuk akomodasi, bisa dicoba melalui Japan Youth Hostel, (bisa di-search
di google), begitu anda masuk ke websitenya ada pilihan daerah tujuan,
(e.g. pilih Kyushu, lalu pilih Fukuoka)
Kalau budget accomodation itu paling murah sekitar 2000-3500 yen. Coba aja
googling “Japan Youth Hostel”. Kalo mau beli bukunya (isi alamat youth
hostel), ke kantor pusatnya aja di daerah Asakusa (Tokyo). Bukunya gratis
yg bahasa Jepang, tp yg bahasa inggris bayar. Gw dulu anggota Japan Youth
Hostel, karena di website dibilang yg non-anggota itu bayar lebih mahal
1000 yen, tp ternyata anggota or enggak anggota sama aja tuh bayarnya….
Kesimpulan -> ga usah jadi anggota, ambil/beli bukunya aja.
Tokyo, coba di daerah Asakusa buat nyari penginapan murah. ke kantor Japan Youth Hostel di daerah asakusabashi (Stasiunnya Asakusabashi JR, di Chuo Line).Tp kalo jalan kaki lumayan jauh plus nyasar2. Ke asakusanya pake Tokyo Metro “Asakkusa Line”. Disitu ada kantor pusat Youth Hostel Japan yg juga merangkap sebagai youth hostel. Disitu ada peta jepang (yg lumayan gede) gratis beserta lokasi2 youth hostel di jepang. Kalo mau yg agak unik bisa coba yg jenisnya “capsul hotel”.
Kyoto coba aja “Hostel K’s House” ini yg jaraknya lumayan deket
(dibanding hostel yg lain) ke stasiun kyoto central.
Osaka saya pernah menginap di Hotel Raizan South, tarif 2000 yen per
malam. 5 menit dari stasiun Shin-Imamiya. Harganya termasuk
murah (2000 yen) tapi waktu mandinya diatur (saya lupa jam-nya). Dengan
harga segini, di tempat lain (e.g Youth Hostel, itu dapatnya dormitory,
bukan single room).
Fukuoka, kalau mau dekat stasiun Hakata (stasiun Utama di Fukuoka)
jika Jalan +/- 10 menit, ada Ryokan (Japanese Traditional Inn) yg lumayan
bagus, 3000 yen per malam. Namanya saya lupa, tp bisa ditanyakan di
tourist information stasiun Hakata.
Kalau mencari hostel, pastikan yg dekat dengan stasiun. Jangan
terlalu mengandalkan hostel yg bisa ditempuh dgn bus. Biasanya jam
beroperasi bus lebih singkat dibanding jam operasional kereta. Misal bus
terakhir jam 7 malam, kereta terakhir jam 11 malam.
Camping
Dulu sama temen2, pernah camping (pake tenda)di Hakone, ini malah gratis
(tendanya jg gratis – minjem kampus). Tempat camping pun kalo bayar
biasanya cuman 500an yen. Sayangnya dulu nyari tempat ini ga ketemu,
akhirnya nyari lahan kosong deh….
Kalo di Tokyo, mungkin bisa dicoba ke daerah Ueno Park , tp cari tempat yg
aman ya ;), biar nggak dikunjungi polisi.
Selain itu, bisa nyoba nginep di McD yg buka 24 Jam. Beli burger aja yg
paling murah, cari tempat istirahat di McD. Kalau “diusir” pura2 aja nggak
bisa bahasa jepang.
Soal mandi kalo pake tenda, jangan khawatir, karena di jepang banyak
tempat pemandian umum (sento / onsen), dan biayanya sekitar 500~1000 yen.
JR Pass
Hanya akan bermanfaat jika kita banyak jalan (kalau anda cuman di Tokyo saja, rugi lho). Put it like this, biaya yg anda keluarkan untuk Tokyo Kyoto PP (dengan shinkansen) itu kurang lebih break even sama anda beli JR Pass 7 hari. Coba ke http://www.japan-guide.com dan searh JR Pass untuk detailnya. (Harga etc). Sayangnya saya blm pernah beli JR Pass blm pernah beli (dulu visa saya visa student -> tidak eligible buat beli)
JR pass hanya berlaku u/ semua kereta yg dioperasikan JR (Japan Railways), di dalam kota Tokyo berlaku. Disini palingan anda akan menggunakan Yamanote Line dan Chuo Line karena main tourist attraction disini (Plus Keiyo Line kalo mau ke Disneyland/DisneySea)
Transportasi dalam kota
Tokyo, lebih efektif kalo gunain one day subway pass, (reduce the hassle), harganya ada yg 700 yen dan 1000 yen (yg 1000 yen linenya lebih banyak).One Day ticket ini hanya berlaku u/ subway (Tokyo Metro atau bahasa Jepangnya chikatetsu). TIDAK berlaku untuk kereta biasa (yg dioperasikan JR, Keio, Odakyu, etc) e.g. Yamanote Line, Keio Line, Inokashira line, etc, . Keterangan lengkap silahkan dilihat URL berikut (ternyata harga tiketnya untuk turis berbeda dari harga non turis -> turis lebih murah)
Hati2 kalau tersesat di stasiun Shinjuku. Shinjuku gate-nya kebanyakan (shinjuku station itu bisa dibilang udah kota kecil sendiri). Orang jepang pun (dan orang asing yg tinggal di tokyo) masih sering salah keluar gate. dulu, saya pun setelah 3 bulan tinggal di Tokyo dan sering menggunakan Shinjuku station masih
sering salah keluar. Jadi……
one/two day ticket untuk turis
http://www.tokyometro.jp/e/open_ticket/index.html
Peta Tokyo Metro
http://www.tokyometro.jp/rosen/rosenzu/pdf/rosen_eng.pdf
Brosur Tokyo Metro -> di setiap stasiun metro ada, gratisan
http://www.tokyometro.jp/e/tmguide/index.html
Tentang Suica bisa dilihat di URL berikut
http://en.wikipedia.org/wiki/Suic
a
Osaka, saya lupa, tapi saya beli tiketnya ketengan, rasanya ada yg “one day ticket”. Biasanya beli cash
Kalau tidak mau subway, bisa gunain semacam kartu prepaid, ada yg bentuknya kaya kartu telepon, ada jg yg kaya kartu magnetic. Coba beli Suica, depotit kartu 500 yen, dan kartunya bisa diisi “uang virtual”.
Tapi saran saya untuk first timer, gunakan saja one day ticket. dan selalu
bertanya ada “package untuk turis” atau tidak, karena umumnya buat turis
mereka ada special offer (contoh tiket tokyo metro ini, saya belinya 700
yen, turis cuma kena 600 yen)
Makanan
Tentang makanan halal/haram, tolong diingat2 “babi” bahasa Jepangnya = Buta.
Dan paling penting anda menghafal mati kanji “babi”. Print dan bawa2 ke
dompet saja.
“Butaniku taberaremasen” = “Saya tidak dapat makan daging Babi” atau
mungkin pake bahasa isyarat saja.
Souvenir
Kyoto, di daerah Gion banyak toko souvenir, tp kategori harganya standard (standard jepang). Tentang yg souvenir murah, samapai saat ini souvenir  termurah yg saya temukan itu 100 yen. Itu berupa pin. Biasanya dekat tempat2 wisata, ada semacam kotak yg isinya bermacam2 pin, anda masukkan 100 yen, lalu putar tombol2 tertentu, kemudian keluar benda bulat berwarna putih yg isinya pin.
Kalau mau coba yg lain, bisa ke 100 yen (hyaku en) store, (mirip one
dollar shop kalo di jkt), hampir semua barang 100 yen (plus ppn jadi 105
yen), banyak jg pilihannya.
Second Hand Shop
Tempat penjualan barang2 second di Kyoto saya kurang tahu (kalo di Tokyo
biasanya di Ajinomoto Stadium). Kalau anda berminat dengan buku second,
coba ke “Book Off”, mirip2 gramedia, cabangnya jg lumayan banyak. tapi
isinya buku bekas semua (mayoritas isinya manga)
Telekomunikasi
Tentang kartu telepon coba beli di convenient store (in Japanese Kombini).
Jepang pake CDMA.
Dari Narita Airport ke Tokyo Downtown
Paling murah itu pake Keisei Line. Paling cepat, ya itu tadi, kereta. Perbandingan harga sama bus bisa 1:2. Airport limousine seinget aku itu 3200 yen.
Aku copy paste dari Japan Guide “Take the Keisei Limited Express from Narita Airport to Nippori Station (about 75 minutes, 1000 Yen) and transfer to the JR Yamanote Line or JR Keihin-Tohoku Line to get to Tokyo Station (10 minutes, 150 Yen). There are connections every 20 minutes. “
Detailnya bisa dilihat disini
http://www.japan-guide.com/e/e2027.html
Kalau mau nyaman, naik airport limousine (ini nama perusahaan bus)
http://www.limousinebus.co.jp/en/
Jangan sekali2 gunain taksi. Mahalnya nggak ketulungan. Kereta paling
murah. Kalo mau simple gunain JR lines di Tokyo, beli SUICA .
Dari Jepang ke Korea
Dari Jepang ada tiga rute (at least) buat ke Korea. Pertama dari Tokyo, kedua dari Kansai (Osaka, Kobe, etc) dan ketiga dari Fukuoka. Dari semua ini yg paling feasible itu dari Fukuoka, kalo dari kota2 yg lain itu bisa 20an jam.
Yang aku jelasin disini dari Fukuoka. Buat ke Ferry port-nya, dari
stasiun Hakata (central station di Fukuoka), keluar stasiun belok
kanan ke arah “central bus station”. Disini bisa nyari bus yg ke arah
Pelabuhan Ferry (220 yen). Setengah jam-an. Aku dulu berangkatnya pagi
naik ferry dari fukuoka, sampai Busan menjelang malam.
Di Pelabuhan ini ada beberapa “lines” atau perusahaan pelayaran. Dulu
aku coba Hakata – Busan naik Camelia Lines (7200 yen) dan pulangnya
Busan – Fukuoka naik JR Kyushu Jet Ferry (10.400 yen). Harganya beda
karena waktu tempuhnya beda. JR Kyushu pake ferry yg lebih cepat.
Hampir 2x lebih cepat seingat saya.
Website Camelia Lines (sorry no English version).
http://www.camellia-line.co.jp/
Website yg agak2 nyangkut ke camelia lines
http://kyushu.com/fukuoka/getting_around/camelia_ferry/1,intl_ferry,0,,1,1,0,,x.\
shtml
Website JR Kyushu
http://www.jrbeetle.co.jp/english/
Dari segi kenyamanan, beda juga. Di Camelia Lines ini kurang nyaman
(ada harga ada kualitas). Disini ada ruangan besar dan ada futon buat
tidur2an. Kalau JR Kyushu, hanya ada kursi2 saja. Kalau mau hemat
waktu, mendingan ambil ferry yg berangkatnya malam, sampainya pagi. Tp
liat jadwal aja kapan tersedia fasilitias ini.
Di pelabuhan sendiri masih ada semacam “pajak” yg harus dibayar. Pajak
pelabuhan itu 400 yen, sedangkan camelia line masih ada biaya extra,
entah apa 300 yen.
In summary soal budget, dari hakata eki,
Hakata – Ferry Port 220 yen
Ferry Fukuoka – Busan 7200 yen (Camelia Lines)
Pajak pelabuhan 400 yen
Pajak Camelia Line 300 yen
Ferry Busan – Fukuoka 10.400 yen
Ferry Port – Hakata Eki 220 yen
*) ini terakhir pas August 2006. Mungkin ada perubahan. Please
re-check again.
Dari Busan port, itu deket banget ke subway station. Jalan kaki
sekitar 10 menit. Dari situ bisa naik subway ke Busan Central.
Kalau mau ke Seoul, masih 3 jam naik KTX (high-speednya train in Korea).
Daerah Hitam
Jepang itu negara yg super aman. Tapi sama di semua tempat, pasti
ada daerah hitamnya. Kalau mau dihindari, daerah Sanya (ini dkt
Asakusa) di Tokyo pas malem (pas siang aja nyeremin).

To all PPI UEC member

Mau pamitan, program exchange student saya selama setahun (Oct 2005 – Sept 2006) sudah berakhir.

Back for good tgl 5 september ini.

Terima kasih banyak atas bantuannya selama di UEC. Tgl 3 Oktober nanti ada anak baru Elektro 2003 ITB yang jadi exchange student disini. Namanya Wesly Simatupang.

Best Regards,

RAI
JUSST Fall 2005
Teknik Elektro ITB