Senin, 23 Mei 2005. Room Z4.
Prof. Sebastian Engell memberikan briefing kepada peserta Summer School tentang sejarah daerah Ruhr, dan juga sejarah Universitaet Dortmund. Selanjutnya diteruskan dengan tour on campus dan foto bareng (Foto ini muncul di majalah universitas).  Pertama kali melihat kampus univ. dortmund, pikiran aku langsung membayangkan dengan kampus ITB. Disini bisa dibilang lebih besar dan lebih modern (ada H-Bahn – mirip2 monorail).  Satu hal lagi, disini banyak kelinci yang hanya nongol saat weekend(kok bisa ya?) Jawabannya kalo weekend mahasiswanya dikit, kampus sepi, jadi kelinci2 ini jadi berani keluar (sifat kelinci itu rada pemalu) :D.  kalo ITB banyak kucing liar dan belakangan ini udah ada gejala muncul anjing liar.😦
Belum semua peserta summer school datang pada saat briefing itu. Peserta dari Indonesia sudah lengkap Diana (Binus), Feli (Univ. Indonesia), Anisa (Univ. Indonesia), dan Andreas (ITB). selain itu ada Alejandro (Kuba), Jelena (Serbia), Alexandra (Belanda), Tracy, Kirstin, Lauren, dan Ryan (USA). Participant dari Hongkong baru 3 yang datang (Renee, Angel, dan Winky). Masih 5 orang Hongkong lagi yang belum dateng (Phoebe, Andy, Kaho, Javier, Alan) dan 2 dari Turki (Berk dan Ceren)
Hari ini juga hari pertama dimulainya 2 minggu kelas intensif bahasa Jerman, lalu dilanjutkan 6 minggu kuliah, 2 minggu UAS dan 2 minggu compact course. Level bahasa Jerman gua? tentu saja Basic 1 alias yang paling rendah🙂 orang baru belajar bahasa jerman di pesawat ke Dueseldorf. Umumnya semua masuk kelas Basic, kecuali Feli, Ryan, Lauren, Kirstin, Tracy, Jelena yang masuk ke intermediate (tambahan lagi nanti dari Javier)
Perbedaan utama Jerman sama indonesia? Disini air mineral yang dijual di supermarket itu pake soda, gelo, rasanya jadi aneh gitu. Air keran bisa diminum, rasanya kaya Aqua botol lagi. Udah gitu tiap student dapet semester ticket (valid untuk daerah VRR). Jadi naik ke kereta tinggal bawa ID (passport) dan semester ticket itu. Jadwal kereta bener2 teratur, jarang telat. Jangan dibandingin sama kereta di Indonesia deh, jauh banget bedanya. Selain itu, orang Jerman suka minum Beer, jadi kata Anisa, tiap weekend setengah populasi orang Jerman pada mabok😀 kayanya dia terlalu melebih2kan.
Hal-hal yang aneh, di supermarket sini, contoh kasus ALDI, trolley mesti nyewa (1 euro) buat satu kali pemakaian, udah gitu kantong plastik mesti beli (sekitar 0.1 euro). Ada deposit buat botol (0.25 euro), jadi kita mesti bayar biaya deposit sama harga isi botol tersebut. Pertama2 mikir Jerman lebih mahal dibanding Indonesia, tapi beberapa item ternyata lebih murah atau sama, misalnya aja kentang goreng,  sama river cola (mirip2 coca cola)
Transportasi di Jerman dibagi jadi beberapa jenis U-bahn, S-bahn, Regional Bahn, Regional Express, Inter City, dan ICE (Inter City Express) temennya shinkansen Jepang. U-Bahn melayani dalam kota, misalnya aja di Bochum, U-bahn itu dari Herne schlossstrunkede sampai ke hustadt. I miss the announcement on train. S-bahn dari kota ke kota, tapi berhenti hampir di semua stasiun (semacam kereta lokal). RB dan RE agak sulit dibedakan, mereka hanya berhenti di stasiun2 gede2 aja, pokoknya yang ada Hbf (hauptbahnhof – central station). Biasanya tiap satu kota hanya punya 1 hauptbahnhof. Comparison, pake S-bahn dari Bochum Hbf – Dortmund Hbf makan waktu 30 menit sedangkan pake RE hanya butuh 10 menit, udah pindah ke lain kota :p
Ritual tiap pagi sama. Dari papagaienhaus harus keluar at least jam 7.45am buat ngejar kereta jam 7.51 dari Markstrasse (stasiun terdekat). Jam 7.59am sampai di Bochum Hbf, lalu ke Gleis Nr. 3 untuk ngambil S-Bahn ke univ. dortmund jam 8.04am. Sampai di univ dortmund jam 8.24am. Jalan ke kelas lalu sampai di kelas pas jam 8.30am. Every day :p
Banyak hal yang untuk pertama kalinya aku alami di jerman, seperti melihat lesbian ciuman di Duesseldorf (later di dalam kereta di Paris, ketemu 2 lesbian lagi ciuman dengan hot, dan mereka hanya 1 meter dari gua), ketemu first atheis (Sandro), selantai dengan orang yang kumpul kebo (Daniel dan pacarnya), selantai dengan orang Neo Nazi (the guy next door)