February 2006


Ada saat untuk jatuh, ada pula saat untuk bangkit dan terus maju.
 
Life might be like snowboarding. You will fall many times, but you have to keep on going ahead. As a beginner, one of the lab member teach me how to snowboard, but the one I learn is how to fall…. Sometimes I moved to fast and it feel good, but the next time I need to think is how to stop, several times I can stop nicely, but mostly I have fall down………….
 
My body was play snowboard in Niigata-ken, but my mind was not there, somewhere…….. 
 
February 26th,  Tokyo, Japan
 
the day I never forget. Thanks to the one who give enough courage to me 😀
NO REGRET IN THE FUTURE 
 
Advertisements

Soal snowboarding, ada 7 orang (termasuk gua) dari lab gua. yang 2 orang (gua dan Mikami) baru pertama kali, tapi yang lain udah expert gitu….. jadilah kita hanya sebentar di tempat beginner, setelah itu ikut mereka……….

Hari pertama, saljunya masih lembut, gua banyak jatuh (baru pertama kali), kalo snowboard, jatuhnya paling banyak pasti ke belakang, so my butt is a little bit hurt, lalu lengan, lalu kaki, dan yang terakhir muka. Gua seumur2 kaga bakalan mau jatuh semacam itu, kalo kaga di salju, pasti masuk rumah sakit, terutama yang mendarat dengan muka. Gua udah nyoba semua posisi jatuh ini :D. Asli pemandangan dari puncak gunung itu bagus banget. jadi gua kalo lagi capek, berhenti dan menikmati pemandangan, kaya di film2 James Bond gitu gunungnya

Hari kedua, gua kepanasan, busyet deh, ternyata baju buat snowboarding itu entah gimana lapisannya, bikin elu hangat, tapi ada faktor lain lagi, cuaca hari itu cerah dan matahari nongol………. konsekuensinya saljunya sebagian jadi icy, kaga enak lagi buat jatuh. Udah gitu temen2 labo gua coba course baru lagi, makin ke atas gunung, wah gua ngeliat kebawah udah ngeri, gimana ya kalo gua nabrak pohon, dicover asuransi kaga?? yang ada justru gua yang hampir nabrak orang 😀

Overall, main snowboard itu enak, loe bisa meluncur dari slope, menikmati beberapa belas detik (wah ternyata gua bisa main snowboard :p) baru setelah kecepatan bertambah tinggi, mulai memikirkan cara berhenti :D, sebagian gua bisa berhenti dengan baik (gua diajarin basic2 snowboard di hari pertama) sebagian lagi harus memilih tempat jatuh yang enak dan aman (tanpa kena orang)…….. tapi lumayan lah dapet pengalaman baru……..

Email ke dua orang teman ^_^
***
Soal snowboarding, ada 7 orang (termasuk gua) dari lab gua. yang 2 orang (gua dan Mikami) baru pertama kali, tapi yang lain udah expert gitu….. jadilah kita hanya sebentar di tempat beginner, setelah itu ikut mereka……….
Hari pertama, saljunya masih lembut, gua banyak jatuh (baru pertama kali), kalo snowboard, jatuhnya paling banyak pasti ke belakang, so my butt is a little bit hurt, lalu lengan, lalu kaki, dan yang terakhir muka. Gua seumur2 kaga bakalan mau jatuh semacam itu, kalo kaga di salju, pasti masuk rumah sakit, terutama yang mendarat dengan muka.  Gua udah nyoba semua posisi jatuh ini :D. Asli pemandangan dari puncak gunung itu bagus banget. jadi gua kalo lagi capek, berhenti dan menikmati pemandangan, kaya di film2 James Bond gitu gunungnya
Hari kedua, gua kepanasan, busyet deh, ternyata baju buat snowboarding itu entah gimana lapisannya, bikin elu hangat, tapi ada faktor lain lagi, cuaca hari itu cerah dan matahari nongol………. konsekuensinya saljunya sebagian jadi icy, kaga enak lagi buat jatuh. Udah gitu temen2 labo gua coba course baru lagi, makin ke atas gunung, wah gua ngeliat kebawah udah ngeri, gimana ya kalo gua nabrak pohon, dicover asuransi kaga?? yang ada justru gua yang hampir nabrak orang 😀
Overall, main snowboard itu enak, loe bisa meluncur dari slope, menikmati beberapa belas detik (wah ternyata gua bisa main snowboard :p) baru setelah kecepatan bertambah tinggi, mulai memikirkan cara berhenti :D, sebagian gua bisa berhenti dengan baik (gua diajarin basic2 snowboard di hari pertama) sebagian lagi harus memilih tempat jatuh yang enak dan aman (tanpa kena orang)…….. tapi lumayan lah dapet pengalaman baru……..
Tanggal 3-5 SKI kampus….. hoho 3 malam 2 hari……. 😉 tampaknya kalian masih harus menunggu beberapa tahun lagi buat main ski, main ski di Jerman :D, btw janjian yuk suatu saat travel ke BRATISLAVA, misalnya 5 tahun lagi :p, atau saat itu kumpulin orang2 buat napak tilas EUROTRIP, (jadi pengen ketemu Pope)
Life………
 
You will never know how your decision can affect your future. Today`s dawn (1.30 am) I called my old friend, Richard. Having a long chat, mainly about how our (Me, Richard, Marcel, and Pauzi) decision few years ago affected our life now. Now, I am in Japan, Richard in Singapore, Pauzi in Australia, and Marcel probably still in Medan.
 
I don’t know what I will become now if I made same decision as him to enrolled at Singapore Polytechnic. I chose Bina Nusantara Univ. – RMIT International Program instead. I only "studied" in Binus for ONE DAY (actually it is only student orientation).  Later that day, I received official letters from ITB that I am accepted as students.
 
The night before, I checked my National Univ. entrance examination result, I was accepted at Electrical Engineering ITB. Informatics was my first choice, and Electrical Eng. was my second choice. Crazy choice, but I am not the only one. Juanda has the same choice like me, but he’s "more crazy", because he choose "Indonesian from mongoloid descents" in race column. It is a discrimination, cause you need higher score than ordinary passing grade if you choose it.
 
I was so confused why I was accepted, mainly because my lack of preparation. I bought the Nat’l Entrance Examination Problem and Solution the last 7 years on friday night, study all day on Saturday, Sunday, and Monday. Take the test on Tuesday and Wednesday. Watched three movies in cinema after tuesday test with my brother. Actually, no hope that I can pass that exam.  
 
But decicion has to be made. I don’t know much about electrical eng, I just don’t want to the second choice field is empty, so I write electrical engineering. If I choose Binus, I can spend my third year and fourth year in RMIT Australia. If I choose ITB, I get the opportunity to study with student from all over Indonesia (and later I know, we can join exchange program abroad). I chose ITB. Actually almost everone in my position will choose ITB mainly because of "cap gajah".
 
Life is still goes on. We won’t know how our small (or big) decicion affected our life in the future. Only God knows.
 
Qua sera sera, what will be, will be