October 2010


“I’m here for traveling, not for studying”, kata-kata Andy tersebut membuat beberapa peserta summer school dari Indonesia terdiam. Melihat Andy, sudah layak dan sepantasnya kami iri (meskipun iri itu tidak baik). Bayangkan saja ketika kami mengikuti summer school di Dortmund, Andy punya 2 bulan Eurail Global Pass continous di tangan, valid untuk 21 negara di Eropa. Artinya kalau mau naik kereta ke seluruh penjuru Eropa sudah seenak jidat, tinggal naik dan bayar reservasi. Cerita paling ga habis dipikir, Andy dan Kaho (anak HK yg jg punya Eurail Global Pass 1 bulan continuous) subuh2 meninggalkan Dortmund ke Paris cuman buat ambil peta dan informasi wisata, malamnya udah balik lagi ke Dortmund. Aje gile, ke Paris sehari cuman buat ngambil brosur wisata, pake ICE lagi. Note: Dortmund – Paris jaraknya 550 KM.

Andy dan peserta summer school dari HongKong lainnya membuat saya bertanya-tanya, mereka kesini (baca: Dortmund) itu buat kuliah atau jalan-jalan? Melihat kelakuan mereka, tujuan utama mereka tampaknya jalan2 seperti yang dikonfirmasi oleh Andy. Dari 8 peserta summer school dari HK, 7 diantaranya punya Eurail Pass: Andy punya Global Pass 2 months continuous, Kaho punya Global Pass 1 month continous dan 5 orang sisanya punya 3/4 countries Passes. Efek samping punya Pass ini? kami jarang melihat anak HongKong (terutama Andy dan Kaho) di kelas karena mereka sering bolos kuliah demi jalan2. Saya boro-boro punya Eurail Pass, baru denger jenis Pass ini aja dari mereka.

Dari Andy pula saya pertama kali mendengar kata backpacking. Rupanya anak2 HK ini sudah merencanakan trip Eropa ini dari tanah air mereka. Kebanyakan dari mereka dapet scholarship EUR 600. Biaya summer school EUR 850, jadinya mereka cuman perlu bayar EUR 250 buat ikutan summer school selama 3 bulan. A good offer kan? Pinternya lagi, Dortmund dijadikan semacam base camp, kalau mereka capek backpacking, kembali ke Dortmund untuk istirahat dan ikut kuliah. Dari mereka inilah saya mendapat inspirasi untuk menciptakan konsep base camp dan safe zone dalam setiap trip saya. (Safe Zone: lokasi berjarak max 12 jam perjalanan darat yang ada teman/saudara yang bisa dimintain tolong dalam keadaan darurat).

“Semua course yg ditawarkan disini gw bisa ambil di HK, kualitasnya sama sedangkan jalan-jalan di Eropa kan kesempatannya kan jarang-jarang” kurang lebih itulah ucapan Andy ketika saya tanya tentang trip dia dan kenapa dia bolos. Plus, home university mereka di HK lumayan bergengsi, jauh diatas ITB dan UI. Kecuali Andy dan Kaho, anak-anak HK yg lain lumayan ringan bolosnya, palingan cuman seminggu aja bolosnya.

Bagaimana dengan mahasiswa Indonesia? selain Anisa yg pernah ikutan AFS selama setahun di Brussel, yang lain baru pertama kali ke Eropa dan awalnya tidak (atau mungkin kata yg lebih tepat belum) suka jalan2. Andreas dan saya bahkan baru pertama kali ke luar negeri. Feli dan Diana kayanya baru pertama kali ke Eropa. Dari keempat orang ini, andreas sudah saya kenal sejak lama karena sama-sama kuliah di Elektro ITB, Diana kenal via email karena “email lu .itb.ac.id, pasti orang Indonesia, ya gw email deh”, Feli dan Anisa baru kenalan di Jerman meskipun kami naik pesawat yg sama.

Diantara kami berlima hanya Diana yg mobilitasnya paling tinggi, tiap weeend kalo nggak ada kerjaan main2 ke tantenya di Hannover, memanfaatkan kartu diskon 50% Die Bahn. Yang lain palingan di bulan2 awal summer school rute jalannya hanya dari Bochum – Dortmund. Dari dormitory kami ke tempat summer school kami. Barulah di bulan kedua dan ketiga kami sibuk meng-explore negara2 sekitar Dortmund.

Papagaienhaus

“Moga2 lu nggak di tempatkan di Papagaienhaus” kata Kevin ke Feli sebelum Feli dan Anisa berangkat ke Jerman. Guess what, kami semua ditempatkan di Papagaienhaus, dormitory yg kayanya masuk last option buat ditinggali di Bochum. Setelah tiga bulan disitu, saya mengerti alasan di belakang reputasi papagaienhaus. Alasan #1: ada orang bergaya NeoNazi tinggal di lantai kami. Tersangka utama yang nyobek-in jeans-nya Kaho pakai pisau, meskipun kami nggak ada bukti. Kayanya dia sebel anak2 HK kalo mandi itu sambil nyanyi. Alan cerita ketika dia nyanyi di kamar mandi, ada orang teriak “Shut up” dan marah2, tampaknya si Neo Nazi. Alasan #2: pakaian dalam salah satu peserta hilang di mesin cuci di tengah malam. Korban ketika itu melihat landlord berkeliaran di sekitar mesin cuci saat kejadian. Alasan #3: Landlord kepergok di salah satu kamar peserta cewek. Bikin kami2 waspada sama landlord sableng ini.

Excursion, VRR and TagesFahrt

Berhubung masih cupu dalam dunia jalan2*) dan kemampuan berbicara bahasa inggris (apalagi Jerman ya?) yang masih minim, sebulan pertama saya hanya ikutan excursion summer school dan jalan2 di daerah VRR **) aja memanfaatkan semester ticket. Tempat di luar VRR yang kami kunjungi pun hanya Koln, itupun gara2 salah sangka Koln masih masuk wilayah VRR (meskipun bukan). Untung ga ada pemeriksaan, kalo nggak kan bisa kena denda.

*) di Bandung jalan yang saya tahu hanya seputar kampus, kost, BIP dan Istana Plaza.

**)VRR: Verkehrsverbund Rhein-Ruhr, meliputi wilayah Bochum, Dortmund, Essen, Dusseldorf, Wuppertal. Setiap peserta summerschool dapet semester ticket yang valid untuk daerah ini. Jadi perjalanan kami di wilayah ini gratis.

Dari wilayah VRR naik tingkat ke TagesFahrt ke “luar negeri”. Berhubung Dortmund terletak di bagian barat Jerman, dari situ lebih dekat ke Amsterdam/Brussel/Luxembourg dibandingkan ke Berlin. Konsep Tagesfahrt ini, pagi2 dijemput sama bus di Bochum Hbf, lalu naik bus ke kota tujuan (e.g Amsterdam), perjalanan sekitar 4 jam. Ditinggal di kota tujuan sampai jam 6 sore, abis itu dijemput dan pulang ke Bochum Hbf. Lumayan murah, sekitar 20an Euro. Pertama kali ikutan Tagesfahrt berdua sama Feli, dia pengen mengunjungi Anne Frank House, sedangkan saya cuman pengen ke Amsterdam aja (ga penting banget ya hehe). Nggak jadi masuk ke Anne Frank House karena antriannya panjang pisan, jadinya kami hanya muter2 di kanal + ke madame Tussaud. Tagesfahrt kedua bareng2 sama anak2 Amrik: Kristen, Tracy dan Lauren ke Brussel, cuman ngeliat manneken pis + grand palace. Tagesfahrt ketiga perjalanan perdana saya ke “luar negeri” sendirian, ke Luxembourg, tanpa peta dan tanpa ngerti bahasanya. Untunglah Luxembourg kecil, jadi nggak nyasar.

(To be continued)

Katanya ada 1450 mahasiswa indonesia intake 2008, yg daftar diri ke KBRI 1100an

hari yg kurang lebih efektif
12.00 – 14.00 Carrierbeurs Utrecht sama Mia, ketemu sama Enny pas mau masuk, pas keluar ketemu Sandra dan Pan
14.00 – 16.30 ke museum sneelklok dan aboriginal art museum
16.30 – 17.00 ke tiga museum, tapi ga sempet masuk, st catharinakerk, university museum dan central museum utrecht. next time akan kesini lagi
17.29 – 18.03 kereta utrecht – Den Haag
18.30 – 18.50 ketemu Feli, Leon + anak2 Deplu angkatan Feli di restoran Itali deket Pathe Binnenhof
19.00 – 21.30 nonton RED di Pathe Spuimarkt, pake acara ada alarm kebakaran lagi jam 20.30, evakuasi sampai 20.50, abis itu masuk bioskop lagi.
21.30 – 23.30 hang out bareng anak2 MOT di Den Haag, Irish Bar, ada Suprapto, Ikram, Kara, David, Hoai, Trung, Ting Ting, Tarak, Luc

sampe delft 00.40….. time to sleep

Masuknya EUR 9 Kalo pake museumkaart gratis

Preparation: Cook rice or noodles as directed on the package. Cut the meat and shred vegetables. Put forward 50 ml of water ready.

1. Put 2 tablespoons oil with a spice mix (small thing) in a non-stick pan. Verhithet mixture. Once the smell of the herbal mixture starts to smell, add the meat and fry it to. Then voegdt the greens and the vertebrate them.
2. Add the water and stir it spice 2 (large bag) through it. Leave it in a closed pan in 6 minuted until done. Stir occasionally.
Add rice or noodles and roast it at high temperature to crisp.

Bereidingswijze: Kook de rijst of de mie zoals aangegeven op de verpakking. Snijd het vlees en de groente in reepje. Zet alvast 50 ml water klaar.

1. Doe 2 eetlepels olie met kruidenmix 1 (kleine zaakje) in een pan met antiaanbaklaag. Verhithet mengsel. Zodra u de geur van het kruidenmengsel begint te ruiken, voegt u het vlees toe en braadt dit aan. Daarna voegdt u de groente toe en braat deze mee.
2. Voeg de water toe en roer daar kruidenmix 2 (grote zakje) doorheen. Laat het geheel in een afgesloten pan in 6 minuted gaar worden. Af en toe roeren.
Voeg de rijst of de mie toe en braadt deze bij hoge temperatuur knapperig aan.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.